Anda di halaman 1dari 14

SIKLUS PERKEMBANGAN SUNGAI (2)

Pola pengaliran dasar (Howard, 1967; dalam Van Zuidam, 1983)


Pola pengaliran mendaun (dendritik) Terjadi karena kekerasan batuan relatif homogen dan lereng tidak terlalu curam. Hubungan antar tubuh sungai seperti daun atau pohon dengan cabang-cabangnya. Bila sudut antara tiap-tiap cabang sama dinamakan pinnate .

Pola pengaliran mendaun (dendritik)


Terjadi karena kekerasan batuan relatif homogen dan lereng tidak terlalu curam. Hubungan antar satu sungai dengan sungai

lainnya seperti daun atau pohon dengan


cabang-cabangnya. Bila sudut antara tiap-tiap cabang sama dinamakan pinnate .

Pola pengaliran sejajar (paralel) Terjadi seperti pada pola pengaliran dendritik tetapi lereng agak terjal sehingga air bergerak dengan cepat dan tidak sempat bergabung satu sama lainnya, melainkan berjajar.

Pola pengaliran menangga (trellis)


Terdapat di daerah terlipat. Kekerasan batuan berselangan (lemah-keras) mengakibatkan sungai berbelok-belok. Kadang memotong batuan keras & menyusuri batuan lemah. Sungai subsekuen bila menyusuri bagian lemah yang sejajar dengan jurus lapisan batuan, konsekuen bila memotongnya. Obsekuen: anak sungai yang sejajar dengan sungai konsekuen tetapi bertentangan arah. Resekuen: anak sungai yang sejajar & searah dengan sungai konsekuen. Dapat memberi keterangan tentang daerah terlipat, antiklin, siklin & kubah.

Pola pengaliran membulat (annular)

Terjadi pada batuan yang telipat dan lipatannya membentuk kubah (dome).

Pola pengaliran memancar (radial)

Terjadi pada daerah yang terlipat atau gunungapi. Pada daerah bergunungapi, pola ini sangat sering dijumpai dan merupakan salah satu penciri utama. Sungai-sungai mengalir dari satu pusat ke segala arah, memancar (radial) disebut juga centrifugal . Bila sebaliknya yaitu pola sungai memancar tetapi bearah ke dalam (pusat) disebut centripetal

Pola pengaliran menyudut


Terjadi di daerah yang tersesarkan atau banyak retakan sehingga sungai terpengaruh oleh letak retakan-retakan tersebut. Bila sudut antar sungai runcing, maka pola pengaliran dinamakan angulate. Bila bersudut hampir tegak dinamakan rectangular.

Sangat penting peranannya dalam analisis struktur geologi suatu daerah untuk eksplorasi mineral.

Pola pengaliran deranged / contorted


Aliran sungai tidak menentu serta tepi sungai tidak jelas, bercampur baur dengan rawa. Terdapat di daerah berawa-rawa & dekat muka laut. Di Kalimantan Selatan, sekitar Banjarmasin, pola pengaliran semacam ini sering dijumpai.

Pola pengaliran multi-basinal


Sering dijumpai pada bentuk lahan karst yang didominasi oleh batugamping.
Dicirikan oleh aliran sungai yang tidak menerus karena beralih menjadi sungai bawah tanah akibat adanya proses pelarutan

Pola Pengaliran Modifikasi (van Zuidam, 1985)


SUB DENDRITIK PINNATE ANASTOMATIK MENGANYAM (DIKHOTOMIK) SUB PARALEL KOLINIER SUB TRALLIS DIREKSIONAL TRALLIS TRELLIS BERBELOK TRELLIS SESAR ANGULATE KARST Umumnya struktural Tekstur batuan halus dan mudah tererosi Dataran banjir, delta atau rawa Kipas aluvium dan delta Lereng memanjang atau dikontrol oleh bentuklahan perbukitan memanjang Kelurusan bentuklahan bermaterial halus dan beting pasir Bentuklahan memanjang dan sejajar Homoklin landai seperti beting gisik Perlipatan memanjang Percabangan menyatu atau berpencar, sesar paralel Kekar dan/ atau sesar pada daerah miring Batugamping

Meander
Bila sungai berada jauh di atas permukaan dasar erosi (erosion base level) maka tenaga erosi tegak (vertical erosion) jauh lebih besar dari pada tenaga erosi horisontal.

Akan tetapi segera air mendekati permukaan dasar ini sehingga tenaga tersebut menjadi berimbang dan akhirnya tenaga horisontal akan menjadi lebih besar.
Pengikisan mendatar / ke samping sungai berbelokbelok

Sungai yang berbelok-belok membentuk huruf U dinamakan sungai bermeander. Kadang-kadang suatu meander berbentuk sedemikian rupa sehingga membentuk danau tapal kaki kuda (oxbow lake). Pengendapan terjadi di belakang arus suatu meander yang terlindung, di sini tepi sungai bertambah dan bekas pertumbuhan meander itu (meander scroll) masih terlihat.

Bentuk lahan di sekitar sungai bermeander (Gregory & Walling, 1979; dalam Van Zuidam, 1983)

Endapan sungai terjadi karena daya angkut air berkurang akibat mendekati permukaan dasar erosi ataupun karena perubahan arus.
Pengendapan membentuk endapan sungai nusa ataupun bar. Berdasarkan bentuk nusa dan letaknya dapat ditafsirkan arah aliran sungai.