Anda di halaman 1dari 29

Disusun oleh :

Ageng Budiananti
Vanda Sativa Julianti
Antonius Verdy T.

Pembimbing :
dr. Sri Primawati Indraswari, Sp. KK



DEFINISI
Penyakit infeksi yang
kronik, dan
penyebabnya adalah
Mycobacterium leprae
yang bersifat
intraselular obligat
Predileksi :
Saraf perifer
kulit mukosa
traktus
resporatorius
bagian atas
organ-organ lain
KECUALI susunan
saraf pusat

Ditemukan oleh G.A.
Hansen tahun 1874
di Norwegia
Berbentuk basil
Ukuran 3-8 Um x
0,5 Um
Tahan asam &
alkohol
Gram (+)
ETIOLOGI
Mycobacterium leprae
TT (tuberkuloid
polar)
TT (tuberkuloid
polar)
BT (borderline
tuberkuloid)
BB (mid
borderline)
BL (borderline
lepromatous)
Li (lepromatous
indefinite)
LL (lepromatous
polar)
KLASIFIKASI MENURUT RIDLEY DAN
JOPLING
Jika kekebalan tinggi
klasifikasi TT
Makin rendah kekebalan, tipe
yang diderita makin ke arah LL
Borderline
Lepromatosa
Tuberkuloid
KLASIFIKASI MADRID
Tipe
pausibasilar
(PB)
Tipe
multibasilar
(MB)
MENURUT WHO
Pausibasiler (PB) Multibasiler (MB)
1.Lesi kulit (makula datar,
papul yang meninggi,
nodus)

1-5 lesi
hipopigmentasi/eritema
distribusi tidak simetris
hilangnya sensasi jelas
>5 lesi
distribusi lebih
simetris
hilangnya sensasi
kurang jelas
2.Kerusakan saraf (hilang
senses /kelemahan otot
yg dipersarafi)
Hanya satu cabang saraf banyak cabang saraf
3.Sediaan apusan BTA (-) BTA (+)
BAGAN DIAGNOSIS KLINIS MENURUT
WHO
SIFAT TUBERKOLOID(TT) BORDERLINE
TUBERCULOID(BT)
INDETERMINATE (I)
LESI
Bentuk Makula saja;makula dibatasi
infiltrat
Makula dibatasi infiltrat;
Infiltrat saja
Hanya infiltrat
Jumlah Satu,dapat beberapa Beberapa/satu dengan
satelit
Satu/beberapa
Distribusi Asimetris Asimetris Variasi
Permukaan Kering bersisik Kering bersisik Halus,agak berkilat
Batas Jelas Jelas Dapat jelas/dapat tidak
jelas
Anestesia Jelas Jelas Tidak ada sampai tidak
jelas
BTA
Lesi kulit Hampir selalu negatif Negatif/hanya 1+ Biasanya negatif
TES
LEPROMIN
Positif kuat (3+) Positif lemah Dapat positif lemah atau
negatif
KLASIFIKASI KLINIS TIPE
PAUSIBASILER(PB)
SIFAT LEPROMATOSA(LL) BORDERLINE
LEPROMATOSA(BL)
MID BORDERLINE (MB)
LESI
Bentuk Makula,infiltrat difus,papul,nodus Makula .plakat,papul Plakat, Dome-
shaped(kubah),
Punched-out
Jumlah Tidak terhitung,praktis tidak ada
kulit sehat
Sukar dihitung,masih ada kulit
sehat
Dapat dihitung
Distribusi Simetris Hampir simetris Asimetris
Permukaan Halus berkilat Halus berkilat Agak kasar,agak berkilat
Batas Tidak jelas Agak jelas Agak jelas
Anestesia Biasanya tak jelas Tak jelas Lebih jelas
BTA
Lesi kulit Banyak (ada globus) Banyak Agak banyak
Sekret hidung Banyak (ada globus) Biasanya negatif Negatif
TES LEPROMIN Negatif Negatif Biasanya negatif
KLASIFIKASI KLINIS TIPE
MULTIBASILER(MB)
Tanda
Kardinal
Adanya bercak kulit yang mati rasa (hipoestesi/ anestesi), dimana
bercak tersebut bisa hipopigmentasi atau bercak eritematosa,plak
infiltrat (penebalan kulit) atau nodul-nodul
Adanya penebalan saraf tepi (sensorik anestesia, motorik
parese/paralisis, otonomkulit kering)
Dijumpai BTA pada hapusan jaringan kulit
PEMERIKSAAN TAMBAHAN
Pemeriksaan
raba rasa pada
lesi
Pemeriksaan
saraf tepi
Pemeriksaan
bakterioskopik
Pemeriksaan
histopatologik
Pemeriksaan
serologik : uji
MLPA, ELISA, ML
dipstick
Lesi makular
Vitiligo
Pitriasis
versikolor
Pitriasis alba
Lesi meninggi
Granuloma
annulare
Tinea circinata
Psoriasis
Lesi noduler
Penyakit von
Recklinghausen
DIAGNOSIS BANDING
Tabel 1. Obat dan dosi s regi men MDT- PB
PENATALAKSANAAN
OBAT DEWASA
BB<35 kg BB>35 kg
Rifampisin

450 mg/bln (diawasi) 600 mg/bln (diawasi)

Diaminodifenil
sulfon (DDS)
50mg/hari(1-
2mg/kgBB/hari)
100 mg/bln (diawasi)
Di rumah : 100mg/
hari
1 blister = 1 dosis =
28 hari
Jumlah pengobatan = 6 dosis
Jangka waktu pengobatan = 6-9 bulan
Tabel 2. Obat dan dosi s regi men MDT- MB

OBAT DEWASA
BB<35 kg BB>35 kg
Rifampisin 450 mg/bln (diawasi) 600 mg/bln (diawasi)

Klofazimin 300 mg/bln (diawasi)
Di rumah : 50mg/hari

Diaminodifenil sulfon
(DDS)
50mg/hari(1-
2mg/kgBB/hari)
100 mg/bln (diawasi)
Di rumah : 100mg/hari
Jumlah pengobatan = 12 dosis
Jangka waktu pengobatan = 12-18 bulan
Tabel 3. Obat dan dosi s regi men MDT WHO untuk anak


OBAT PB MB
< 10 tahun
BB < 50kg
10

th 14 th < 10 th
BB < 50 kg
10 th -14 th
Rifampisin 300 mg/bln 450 mg/bln 300 mg/bln
100 mg/bln
dilanjutkan
50 mg,
2x/mgg
450 mg/bln
150 mg/bln
dilanjutkan
50 mg/hr

Klofazimin 25 mg/hr 50 mg/hr 25 mg/hr 50 mg/hr
OBAT KUSTA DARI WHO
Lamanya pengobatan kusta tipe PB adalah 6 dosis diselesaikan
dalam 6-9 bulan.
Pengobatan kusta tipe MB adalah sudah sebesar 24 dosis
diselesaikan dalam waktu maksimal 36 bulan.
Minimum 6 bulan untuk PB dan minimum 24 bulan untuk MB maka
dinyatakan RFT (Release From Treatment).
Rifampisin
Sindroma kulit (rasa panas,gatal)
Sindroma perut (nyeri, mual, muntah, diare)
Sindroma flu (demam, menggigil, sakit tulang)
Sindroma pernapasan
Hepatotoksik
Perubahan warna kencing, feses, air mata, ludah, dan keringat menjadi warna
merah
Klofazimin
Rangsangan dan obstruksi sal. cerna
Hiperpigmentasi kulit dan mukosa, dan kulit menjadi kering
Diaminodifenil sulfon (DDS)
Reaksi alergi (dermatitis eksfoliativa, fixed drug eruption)
Hepatitis
Nefritis
Anemia hemolitik
Neuritis perifer
EFEK SAMPING OBAT
Release from treatment (RFT)
Telah selesai pengobatan MDT 6 blister dalam waktu 6-9
bulan untuk PB atau selesai pengobatan MDT 12 blister
dalam waktu 12-18 bulan untuk MB
Default
Penderita PB selama >3 bulan tidak mengambil obat atau
penderita MB selama >6 bulan tidak mengambil obat
Relaps
Telah selesai pengobatan dan muncul lesi baru pada kulit
EVALUASI TERAPI
Ulserasi
Mutilasi
Deformitas
KOMPLIKASI
Reaksi kusta adalah episode dalam perjalanan kronis penyakit kusta yang
merupakan respon seluler atau respon humoral dengan akibat merugikan.
reaksi dapat terjadi saat sebelum, saat dan sesudah terapi. Tapi sering
terjadi pada 6 bulan-12 bulan setelah terapi.
REAKSI KUSTA
Reaksi reversal atau reaksi upgrading (reaksi tipe I)
hipersensitivitas tipe lambat yang faktor pencetusnya belum
diketahui pasti.
ENL, Eritema Nodusum Leprosum (reaksi tipe II)
Karena pengobatan
Secara imunopatologis ENL termasuk respon imun humoral.
Pr edi sposi si :
Kondi si l emah
Kehami l an
Sesudah mendapat vaksi nasi
St r es f i si k dan ment al
I nf eksi
Kur ang gi zi

No. Gejala/tanda Reaksi tipe 1 Reaksi tipe 2
Ringan Berat Ringan Berat
1. Kulit Bercak : merah,
tebal, panas,
nyeri
Bercak : merah,
tebal, panas,
nyeri bertambah
parah sampai
pecah
Nodul : merah,
panas, nyeri
Nodul : merah
panas, nyeri
yang bertambah
parah sampai
pecah
2. Saraf tepi Nyeri perabaan
(-), gangguan
fungsi (-)
Nyeri perabaan
(+), gangguan
fungsi (+)
Nyeri perabaan
(-), gangguan
fungsi (-)

Nyeri perabaan
(+), gangguan
fungsi (+)

3. Keadaan umum Demam (-) Demam (+/-) Demam (+/-)

Demam (+/-)

4. Gangguan pada organ lain - - - + (misalnya
pada mata,
sendi, testis, dll)
KLASIFIKASI REAKSI
CACAT PADA TANGAN DAN KAKI
TINGKAT 0 Tidak ada gangguan sensibilitas, tidak ada kerusakan atau
deformitas yang terlihat
TINGKAT 1 Ada gangguan sensibilitas, tanpa kerusakan atau deformitas yang
terlihat
TINGKAT 2 Terdapat kerusakan atau deformitas
KLASIFIKASI CACAT PADA KUSTA
CACAT PADA MATA
TINGKAT 0 Tidak ada gangguan pada mata akibat kusta; tidak ada gangguan
penglihatan
TINGKAT 1 Ada gangguan pada mata akibat kusta; tidak ada gangguan yang
berat pada penglihatan. Visus 6/60 atau lebih baik (dapat
menghitung jari pada jarak 6 meter)
TINGKAT 2 Gangguan penglihatan berat (visus kurang dari 6/60; tidak dapat
menghitung jari pada jarak 6 meter)
Prinsip pengobatan
Istirahat/ imobilisasi
Pemberian analgesik,
antipiretik, sedatif
Atasi faktor pencetus
Pemberian obat
antireaksi pada reaksi
berat
Jika sedang dlm
pengobatan MDT,
maka MDT diteruskan
dengan dosis tidak
diubah
Reaksi ringan
Berobat jalan,
istirahat di rumah
Pemberian analgetik,
obat penenang bila
perlu
Atasi faktor pencetus
Jika sedang dlm
pengobatan MDT,
maka MDT diteruskan
dengan dosis tidak
diubah

Reaksi berat
Atasi faktor pencetus
Pemberian prednison
Pemberian analgetik
sedatif
Imobilisasi lokal
Bila memungkinkan
pasien dirawat inap di
RS
PENGOBATAN
Di agnosis di ni kusta
Beri kan MDT yang cepat dan tepat
Mengenali tanda dan gej al a reaksi kusta yang di sertai
gangguan saraf
Memulai pengobatan dengan korti kosteroid sesegera mungki n
Ji ka ada gangguan sensi bilitas beri pel indung di ri dan
perawatan kul it
PENCEGAHAN CACAT
Mencegah kerusakan saraf, sehi ngga terhindar pul a dari
gangguan sensori k, Paralisis , dan kontraktur.
Henti kan kerusakan mata untuk mencegah kebutaan.
Kontrol nyeri .
Pengobatan untuk mematikan basi l l epra dan mencegah
perburukan keadaan penyakit

REHABILITASI MEDIK DAN UPAYA
PENCEGAHAN KECACATAN
cuci tangan dan kaki setiap malam sesudah bekerja
dengan sedikit sabun (jangan detergen)
Rendam kaki sekitar 20 menit dengan air dingin
kalau kulit sudah lembut. Gosok kaki dengan karet
busa agar kulit kering terlepas.
kulit digosok dengan minyak.
secara teratur kulit diperiksa (adakah kemerahan, hot
spot, nyeri, luka dan lain-lain)
Pemeliharaan kulit harian
pakai sarung tangan waktu bekerja
stop merokok
jangan sentuh gelas/barang panas secara langsung
lapisi gagang alat-alat rumah tangga dengan bahan
lembut
Proteksi tangan
selalu pakai alas kaki
batasi jalan kaki, sedapatnya jarak dekat dan perlahan
meninggikan kaki bila berbaring
Proteksi
kaki
latihan lingkup gerak sendi : secara pasif meluruskan jari-jari menggunakan
tangan yang sehat atau dengan bantuan orang lain. Pertahankan 10 detik.
lakukan 5 10 kali per hari untuk mencegah kekakuan. Frekuensi dapat
ditingkatkan untuk mencegah kontraktur. Latihan lingkup gerak sendi juga
dikerjakan pada jari-jari ke seluruh arah gerak.
Latihan aktif meluruskan jari-jari tangan dengan tenaga otot sendiri
Untuk tungkai lakukan peregangan otot-otot tungkai bagian belakang
dengan cara berdiri menghadap tembok, ayunkan tubuh mendekati tembok,
sementara kaki tetap berpijak.
Program latihan dapat ditingkatkan secara umum untuk mempertahankan
elastisitas otot, mobilitas, kekuatan otot, dan daya tahan.
Latihan
fisioterapi
Di beri kan dosi s tunggal pagi hari sesudah makan
Seti ap 2 mi nggu harus di peri ksa untuk meni l ai keadaan kl i ni s ti dak ada
perbai kan : dosi s predni son di l anj utkan 3-4 mg atau di ti ngkatkan
Sel ai n dosi s tunggal , bi sa j uga dl m dosi s terbagi
Pemberi an l ampren hanya untuk reaksi ti pe I I (ENL berul ang) dewasa
3x100mg/hr sel ama 2 bul an, l al u 2x100mg/hr sel ama 2 bul an, sel anj utnya
100mg/hr sel ama 2 bul an. Bi l a pasi en masi h dal am pengobatan MDT maka
l ampren di teruskan, j i ka sudah RFT maka l ampren di henti kan
ENL berat yang terj adi setel ah pasi en RFT harus mendapatkan l ampren
Skema pemberian prednison pada
dewasa:
2 minggu I : 40 mg/hr
2 minggu II : 30 mg/hr
2 minggu III : 20 mg/hr
2 minggu IV : 15 mg/hr
2 minggu V : 10 mg/hr
2 minggu VI : 5 mg/hr