Anda di halaman 1dari 13

TATA KELOLA

PERTAMBANGAN
OLEH
KRISTIAN ZAHLI
RISANTO
PUTRI NOVA
KARMILA LAITUPA

PENTINGNYA TATA KELOLA PERTAMBANGAN

Tata kelola hutan dan lahan di Indonesia terkait


dengan beberapa keberadaan hukum yang
memberikan jaminan legal sebagai landasan
bagi pemerintah dalam menjalankan tugas dan
tanggungjawabnya.

1. Prinsip Internasional
Pentingnya kesadaran tata kelola kehutanan
yang baik dimulai sejak pertemuan
pembangunan berkelanjutan yang merupakan
hasil dari KTT Bumi di Rio de Jainero pada tahun
1992, yang tercantum dalam Forest Principle
19 yang memberikan arahan pembangunan
sumberdaya hutan secara holistik bagi seluruh
elemen ekosistem demi keberlanjutan

2. Peraturan Perundangan di Indonesia


Undang-Undang Nomor 41/1999 tentang
Kehutanan
Undang-Undang ini merupakan pengganti dari
Undang-Undang nomor 5/1967 tentang Pokok-Pokok
Kehutanan. Undang-undang nomor 41/1999
membawa nuansa pengaturan yang memiliki
perbedaan mendasar dengan masukkan peran serta
masyarakat, hak masyarakat atas informasi
kehutanan dan keterlibatan dalam pengelolaan hutan
secara umum. Dalam undang-undang ini terdapat
dua status hutan yaitu hutan negara dan hutan hak.

Undang-Undang Nomor
26/2007 tentang Penataan
Ruang
Undang-Undang Penataan Ruang nomor 26 tahun
2007 yang menggantikan Undang-Undang nomor 24
tahun 1992. Dalam UU 26/2007 penataan ruang
ditujukan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional
yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan.
Dengan tujuan tersebut, penataan ruang pada
akhirnya diharapkan menjadi sebuah titik temu yang
harmonis antara penggunaan sumber daya alam dan
dan pemanfaatan ruang sekaligus mencegah
terjadinya dampak negatif akibat pemanfaatan
ruang.

Undang-Undang Nomor 32/2009


tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup
Undang-undang ini merupakan revisi dari UndangUndang nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup. Dalam hubungannya dengan tata
kelola hutan dan lahan, undang-undang ini menyinggung
perihal kebakaran hutan, dimana lewat perundangan ini
memberikan kewenangan bagi Kementerian Lingkungan
hidup untuk menentukan kriteria baku kerusakan
lingkungannya.
Terkait dengan hak atas informasi, peraturan ini
memberikan jaminan bagi masyarakat untuk
memperoleh informasi dalam proses penyusunanAnalisis
Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

UndangUndang Nomor 4/2009 tentang


Pertambangan Mineral dan Batu Bara
(Minerba)
Undang-Undang ini merupakan pengganti dari Undang-Undang
nomor 11/1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan.
Dalam hubungannya dengan tata kelola hutan dan lahan undangundang ini mengatur kegiatan pertambangan dinyatakan tidak
dapat dilaksanakan di tempat yang dilarang untuk melakukan
kegiatan usaha pertambangan sebelum memperoleh izin dari
instansi pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangan (pasal 134, ayat 2).
Dalam hubungannya dengan nilai tambah di dalam negeri,
undang-undang ini mewajibkan komoditas pertambangan untuk
diolah di dalam negeri sebelum diekspor. Meskipun tidak
berhubungan langsung dengan tata kelola hutan dan lahan,
larangan ini berpengaruh terhadap pemberian izin terhadap usaha
pertambangan dan eksploitasi minerba yang dilakukan serta cukup
berpengaruh terhadap para pelaku usaha dalam menanamkan
investasi dalam bidang pertambangan.

Undang-Undang No 4 Tahun 2009


Undang-Undang No 4 Tahun 2009 tentang
pertambangan umum setidaknya menyatakan
empat maksud penting, sebagaimana diperjelas
dalam PP 23 Tahun 2010 dan PP 24 Tahun 2012.

Maksud pertama
Undang-undang ini hendak memperkuat
desentralisasi kewenangan pertambangan dari pusat
ke daerah yang sebelumnya telah diatur dalam PP
No 75 tahun 2001 seiring dengan proses otonomi
daerah. Sekaligus juga itikad untuk memperbaiki
tatakelola pertambangan yang meliputi pengaturan
tatacara pemberian izin pertambangan dan
pengawasan kegiatan pertambangan di level
Pemerintah Pusat, Propinsi maupun Kabupaten atau
Kota. Perbaikan dalam tatacara perizinan
salahsatunya dengan pemberlakuan proses lelang
terhadap wilayah izin usaha pertambangan mineral
dan batubara (WIUP). Peraturan ini mencoba untuk
menghilangkan konflik kepentingan antara
pemerintah dengan pelaku usaha.

Maksud kedua
Undang-undang hendak mempertegas
perlindungan pemerintah atas kemungkinan
dampak sosial dan lingkungan dari
pertambangan. Undang-undang mewajibkan
perusahaan untuk membuat rencana
pemberdayaan masyarakat, rencana reklamasi
dan kegiatan pasca tambang, sekaligus
meminta bukti kesungguhan perusahaan
dengan kewajiban penempatan dana jaminan
reklamasi dan kegiatan pasca tambang.

Maksud ketiga
Undang-undang ini hendak memperbesar keuntungan
dari sektor pertambangan umum bagi Negara dan
masyarakat. Peningkatan keuntungan sektor
pertambangan bagi Negara dan masyarakat dilakukan
melalui tiga jalan; pertama adalah melalui optimalisasi
pelibatan sumberdaya lokal dalam kegiatan
pertambangan baik sumberdaya manusia, pengadaan
barang dan jasa dari produk lokal dan pelibatan entitas
bisnis lokal dalam rantai bisnis pertambangan, kedua
adalah melalui kewajiban divestasi saham perusahaan
asing minimal 20% sampai dengan 51% kepada entitas
bisnis dalam negeri (BUMN, BUMD atau Swasta), ketiga
adalah dengan mewajibkan perusahaan pertambangan
melakukan pengolahan mineral di dalam negeri untuk
meningkatkan nilai tambah.

Maksud keempat
Undang-undang ini hendak mengarahkan
bangsa Indonesia untuk melakukan strategi
dalam globalisasi bisnis pertambangan melalui
pencadangan wilayah pertambangan negara
(WPN). Tidak semua potensi pertambangan
harus dieksploitasi, produksi harus melihat
kebutuhan pasar untuk pengendalian harga,
harus melihat kepentingan strategis nasional
saat ini dan jangka panjang, juga harus melihat
economy security and sustainability untuk
industri dan generasi dimasa datang.