Anda di halaman 1dari 53

Undang-undang kesehatan

PERATURAN PEMERINTAH TENTANG
PERAPOTEKAN
Oleh
Jayanti Pratiwi (1301042)
SI VII A
Dosen: Erniza Pratiwi, M.Farm,Apt

Latar belakang
• Bahwa untuk meningkatkan mutu pelayanan
kefarmasian di Apotek yang berorientasi kepada
keselamatan pasien, diperlukan suatu standar yang
dapat digunakan sebagai acuan dalam pelayanan
kefarmasian di Apotek
• bahwa Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan
Farmasi di Apotek sudah tidak sesuai dengan
perkembangan dan kebutuhan hukum
• c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a dan huruf b, serta untuk
melaksanakan ketentuan Pasal 21 ayat (4) Peraturan
Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan
Kefarmasian, perlu menetapkan Peraturan Menteri

DEFINISI APOTEK
• Menurut PP No. 26 tahun 1965 tentang
apotek Pasal 1. Yang dimaksud dengan
apotik dalam Peraturan Pemerintah ini ialah
suatu tempat tertentu, dimana dilakukan
usaha-usaha dalam bidang farmasi dan
pekerjaan kefarmasian.
• Menurut UU No. 41 tahun 90 pasal 1 ayat 2,
apotek adalah tempat dilakukannya
pembuatan, pengolahan, peracikan,
pengubahan bentuk, pencampuran,
penyimpanan dan penyerahan sediaan
farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya

DEFINISI APOTEK
• Menurut PERMENKES RI No.
922/MENKES/PER/X/1993, apotek adalah
suatu tempat tertentu, tempat dilakukan
pekerjaan kefarmasian dan penyaluran
perbekalan farmasi kepada masyarakat.
• Menurut KEPMENKES RI No.
1332/MENKES/SK/X/2002, apotek adalah
suatu tempat tertentu, tempat dilakukan
pekerjaan kefarmasian dan penyaluran
sediaan Farmasi, perbekalan Kesehatan
lainnya kepada masyarakat

• Menurut Kepmenkes RI
No.1027/MENKES/SK/IX/2004, apotek adalah
suatu tempat tertentu, tempat dilakukan
pekerjaan kefarmasian dan penyaluran
Sediaan Farmasi, perbekalan Kesehatan
lainnya kpd masyarakat.
• Menurut Peraturan Pemerintah no. 51 tahun
2009 pasal 1 ayat 13 Apotek adalah sarana
pelayanan kefarmasian tempat dilakukan
praktek kefarmasian oleh apoteker.
• Menurut Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor
889/MENKES/PER/V/2011 Tentang Registrasi,
Izin Praktik, Dan Izin Kerja Tenaga
Kefarmasian pasal 1 ayat 3 apoteker adalah
sarjana farmasi yang telah lulus sebagai
apoteker dan telah mengucapkan sumpah

DEFINISI APOTEK

DEFINISI APOTEK Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Apotek Adalah Sarana Pelayanan Kefarmasian Tempat Dilakukan Praktik Kefarmasian Oleh Apoteker. .

dan c. melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan Obat yang tidak rasional dalam rangka keselamatan pasien (patient safety). b. . menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian.Pengaturan Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek Pengaturan Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek bertujuan untuk: a. meningkatkan mutu Pelayanan Kefarmasian.

 25 tahun 1980 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. c.   Sebagai sarana farmasi tempat dilakukannya kegiatan peracikan. bahaya dan mutu obat  . b. d. tugas dan fungsi apotekadalah: a.Tugas dan fungsi apotek Berdasarkan PP RI No. termasuk pengamatan dan pelaporan mengenai khasiat. 26 tahun 1965 tentang Apotek. pengubahan bentuk.    Sebagai sarana penyaluran perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara luas dan merata.   Sebagai sarana pelayanan informasi obat dan perbekalan farmasi lainnya kepada tenaga kesehatan lain dan masyarakat. pencampuran dan penyerahan obat atau bahan obat. keamanan.    Sebagai tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan.

51 Tahun 2009. pengelolaan obat.• Berdasarkan PP No. pengadaan. Sarana pembuatan dan pengendalian mutu Sediaan Farmasi. bahan obat dan obat tradisional. pelayanan obat atas resep dokter. serta pengembangan obat. pengamanan. bahan baku obat. Sarana yang digunakan untuk melakukan Pekerjaan Kefarmasian • c. obat tradisional. dan kosmetika. pelayanan informasi obat. Sarana yang digunakan untuk memproduksi dan distribusi sediaan farmasi antara lain obat. penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan obat. . • d. Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan Apoteker. • b. tugas dan fungsi apotek adalah: • a.

Aspek pendirian apotek Sesuai Keputusan Menteri Kesehatan No. .1332/Menkes/SK/X/20 02 pasal 4 (2) menyatakan bahwa wewenang pemberian izin apotek dilimpahkan oleh Menteri kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

3. 1937 No. Tambahan Lembaran Negara No. 3671 ). Undang-undang Obat Keras ( St. 378 ).Dasar hukum pemberian Izin Pendirian Apotek 1. 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3169). Undang-undang Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika (Lembaran Negara tahun 1997 No. . 4. Tambahan Lembaran Negara No. Undang-undang Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika (Lembaran Negara tahun 1997 No. 5. Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. 67. 10. 541 ). Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 1980 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 1965 tentang Apotik. (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1980 Nomor 40.

7. 922 / Menkes / Per / X / 1993 tentang ketentuan dan tata cara . 9. Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara RI Nomor 49 tahun 1996.Lanjutan… 6. Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 1998 tentang pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan ( Lembaran Negara Nomor 138 tahun 1998 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3781 ). 8. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922 / Menkes / Per / X / 1993 tentang ketentuan dan tata cara pemberian izin Apotik. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1332 / Menkes / SK / X / 2002 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan No. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3637).

perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan lainnya yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain. persyaratan apotek • Persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi dalam mendirikan Apotek. 922/MENKES/PER/X/1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek pada BAB IV Pasal 6 antara lain: • Untuk mendapatkan izin Apotik.Aspek pendirian apotek • A. menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. • Sarana Apotik dapat didirikan pada lokasi yang samadengan kegiatan pelayanan komoditi lainnya . Apoteker atau Apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan tempat.

922/MENKES/Per/X/1993.Persyaratan lain yang harus diperhatikan untuk mendirikan Apotek antara lain: 1. sarana pelayanan kesehatan. jumlah dokter. tetapi tetap mempertimbangkan segi penyebaran dan pemerataan pelayanan kesehatan. jumlah penduduk dan kemampuan daya beli penduduk di sekitar lokasi Apotek. keamanan dan mudah dijangkau masyarakat dengan kendaraan. Lokasi dan Tempat Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. . Selain itu Apotek dapat didirikan di lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan komoditi lainnya diluar sediaan farmasi. lingkungan yang higienis. jarak minimum antara Apotek tidak lagi dipersyaratkan.

Lanjutan. 287/MENKES/SK/V/1981 tentang persyaratan luas Apotek minimal 50 m2. 922/MENKES/Per/X/1993 luas Apotek tidak diatur lagi. Bangunan Apotek harus mempunyai luas yang memadai dan memenuhi persyaratan teknis sehingga dapat menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi Apotek serta memelihara mutu perbekalan kesehatan dibidang farmasi. Bangunan dan Kelengkapannya Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Republik Indonesia No. selanjutnya pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 2. ..

. Persyaratan teknis bangunan Apotek sekurang-kurangnya terdiri dari (Menteri Kesehatan Republik Indonesia.Lanjutan. 2002):  Ruang tunggu pasien  Ruang peracikan dan penyerahan resep  Ruang administrasi dan Ruang Kerja Apoteker  Ruang penyimpanan obat  Ruang pencucian alat  Kamar kecil (WC) .

.Lanjutan. PAM. yang memuat nama Apotek.. 2002):  Sumber air yang memenuhi persyaratan kesehatan yang dapat diperoleh dari sumur. nama APA. sumur pompa dan lain-lain.  Ventilasi dan sanitasi yang baik serta memenuhi persyaratan hygiene lainnya.  Papan nama berukuran minimal dengan panjang 60 cm dan lebar 40 cm.  Alat pemadam kebakaran yang berfungsi dengan baik sekurang-kurangnya dua buah.  Penerangan harus cukup terang sehingga dapat menjamin pelaksanaan tugas dan fungsi Apotek. alamat apotek dan nomor telpon apotek. Selain persyaratan diatas bangunan apotek juga harus dilengkapi dengan (Menteri Kesehatan Republik Indonesia. nomor Surat Izin Apotek (SIA).

Lanjutan. 3. serta perlengkapan lain yang disesuaikan dengan kebutuhan. pengolahan dan peracikan seperti timbangan miligram dan gram minimal 1 set. Perlengkapan dan alat perbekalan farmasi seperti lemari penyimpanan obat. serta lemari untuk penyimpanan narkotika dan psikotropika. lemari pendingin. Perlengkapan Apotek Perlengkapan yang harus tersedia di Apotek menurut Menteri Kesehatan Republik Indonesia (2002) antara lain: Alat pembuatan.. mortar. .

.  Alat administrasi seperti blanko pesanan obat.Lanjutan.   . blanko nota penjualan buku pencatatan dan pesanan obat narkotika serta form laporan obat narkotika yang jumlahnya sesuai dengan kebutuhan. blanko kartu stok obat blanko salinan resep.  Kumpulan peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan Apotek.  Wadah pengemas dan pembungkus seperti etiket dan plastic pengemas.  Buku standar yang diwajibkan seperti Farmakope Indonesia edisi terbaru 1 buah. blanko faktur.

4.. Tenaga kesehatan Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 922/MENKES/PER/X/1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. • Apoteker Pendamping adalah apoteker yang bekerja di Apotek di samping Apoteker Pengelola Apotek dan atau menggantikannya pada jam-jam tertentu pada hari buka Apotek. .Lanjutan. tenaga kesehatan antara lain: • Apoteker Pengelola Apotek (APA) adalah apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek (SIA).

telah memiliki Surat Izin Kerja dan tidak bertindak sebagai Apoteker Pengelola Apotek di Apotek lain.. • Apoteker Pengganti adalah apoteker yang menggantikan Apoteker Pengelola Apotek selama selama Apoteker Pengelola Apotek tersebuttidak berada di tempat lebih dari 3 (tiga) bulan secara terus-menerus.Lanjutan. . • Asisten Apoteker adalah mereka yang berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai asisten apoteker.

Selain diatas terdapat tenaga lainnya yang dapat mendukung kegiatan di Apotek antara lain: • Juru resep adalah petugas yang membantu pekerjaan asisten apoteker. . • Pegawai tata usaha adalah petugas yang melaksanakan administrasi Apotek dan membuat laporan pembelian.Lanjutan. • Kasir adalah orang yang bertugas menerima uang. penjualan. penyimpanan dan keuangan Apotek. mencatat penerimaan dan pengeluaran uang..

1332 tahun 2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Ijin Apotek pasal 4 (2) bahwa wewenang pemberian izin apotek dilimpahkan oleh Menteri kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Tim Dinkes Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambatlambatnya 6 hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala DinKes Kabupaten/Kota melaporkan hasil pemeriksaan kepada DinKes Kabupaten/Kota (Form Apt-3). 3.Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Ijin Apotek Berdasarkan Kepmenkes RI No. Permohonan Ijin Apotek diajukan apoteker kepada Kepala Dinas Kesehatan (DinKes) Kabupaten/Kota setempat (Form Apt1). 2.  Kepala Dinkes Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 hari kerja setelah menerima permohonan (Form Apt-1) dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai POM untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan apotek untuk melakukan kegiatan (Form Apt-2).   Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam nomor . sedangkan pada pasal 7 proses pemberian izin apotek sebagai berikut : 1. 4.

atau pernyataan yang dimaksud nomor 4. 7.5.  Terhadap surat penundaan sebagaimana dimaksud nomor 6. Kepala DinKes Kabupaten/Kota setempat mengeluarkan Surat Ijin Apotek (Form Apt-5). 6. Kepala DinKes Kabupaten/Kota setempat dalam waktu 12 hari kerja mengeluarkan Surat Penundaan (Form Apt-6). apoteker diberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam jangka waktu 1 bulan sejak tanggal .   Dalam hal hasil pemeriksaan tim Dinkes Kabuapaten/Kota atau Kepala Balai POM yang dimaksud nomor 3 masih belum memenuhi persyaratan.  Dalam jangka waktu 12 hari kerja setelah diterima laporan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud nomor 3.

Tata cara pemberian ijin apotek sesuai dengan Kepmenkes RI No. 1332/MenKes/SK/X/2002 .

maka Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 (dua belas) hari kerja wajib mengeluarkan Surat Penolakan disertai dengan alasan-alasannya. . 32/Menkes/SK/X/2002 pasal 9 terhadap permohonan izin apotek yang ternyata tidak memenuhi persyaratan dimaksud pasal 5 dan atau pasal 6.Berdasarkan atas Keputusan Menteri Kesehatan RI No. atau lokasi apotek tidak sesuai dengan permohonan.

Lampiran KepMenKes No. 4. dan nomor surat izin kerja.      Salinan/fotokopi denah bangunan. 5.      Daftar asisten apoteker dengan mencantumkan nama. alamat. .      Salinan/fotokopi KTP.      Salinan/fotokopi Surat Izin Kerja Apoteker 2. 1332/MenKes/SK/X/2002 mencantumkan syarat-syarat administrasi yang harus dilampirkan dalam permohonan izin apotek adalah sebagai berikut : 1. tanggal lulus. 3.      Surat yang menyatakan status bangunan dalam bentuk akta hak milik/ sewa/ kontrak.

10.      Asli dan salinan/fotokopi daftar terperinci alat perlengkapan apotek. 8. dan pegawai instansi pemerintahan lainnya. anggota ABRI. . Surat pernyataan dari apoteker pengelola apotek bahwa tidak bekerja tetap pada perusahaan farmasi dan tidak menjadi apoteker pengelola apotek di apotek lain. 9.    Akte perjanjian kerjasama apoteker pengelola apotek dengan pemilik sarana apotek.Surat pernyataan pemilik sarana tidak terlibat pelanggaran peraturan perundangan di bidang apotek. 7. Asli dan salinan/fotokopi surat izin atasan bagi pemohon pegawai negeri.6.

Terdiri dari : Pengelolaan Sumber Daya Pelayanan Resep .Pelaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek Pelaksanaan praktik profesi dan pelayan kefarmasian di Apotek diatur dalam Kepmenkes RI Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.

STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK .

pelayanan farmasi klinik. .• Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek meliputi standar: • a. dan • b. pengelolaan Sediaan Farmasi. Alat Kesehatan. dan Bahan Medis Habis Pakai.

• f. penerimaan. perencanaan. • c. dan Bahan Medis Habis Pakai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi: • a. • e. pengendalian. pencatatan dan pelaporan • .• Pengelolaan Sediaan Farmasi. Alat Kesehatan. • d. pengadaan. pemusnahan. dan • g. • b. penyimpanan.

c. f. d. Monitoring Efek Samping Obat (MESO) . Pelayanan Informasi Obat (PIO).Pelayanan farmasi klinik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi: a. pengkajian Resep. Pemantauan Terapi Obat (PTO). Pelayanan Kefarmasian di rumah (home pharmacy care). konseling. b. dispensing. e. dan g.

• Penyelenggaraan Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek harus didukung oleh ketersediaan sumber daya kefarmasian yang berorientasi kepada keselamatan pasien. • (2) Sumber daya kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: • a. dan .• Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan Sediaan Farmasi. dan Bahan Medis Habis Pakai dan pelayanan farmasi klinik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Alat Kesehatan. sumber daya manusia.

. • (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai evaluasi mutu Pelayananan Kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. • (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai evaluasi mutu Pelayananan Kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. harus dilakukan evaluasi mutu Pelayananan Kefarmasian. harus dilakukan evaluasi mutu Pelayananan Kefarmasian. • Untuk menjamin mutu Pelayanan Kefarmasian di Apotek.• Untuk menjamin mutu Pelayanan Kefarmasian di Apotek.

• Apotek wajib mengirimkan laporan Pelayanan Kefarmasian secara berjenjang kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dinas Kesehatan Provinsi. . dan Kementerian Kesehatan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

PENGELOLAAN SUMBER DAYA .

Prosedur Tetap Penyimpanan Sediaan Farmasi Dan Perbekalan Kesehatan .

metode dan tempat pemusnahan kepada pihak terkait 4.Menyiapkan tempat pemusnahan 5.d. Nama dan jumlah c.Pemusnahan disesuaikan dengan jenis dan bentuk sediaan. Waktu dan tempat pelaksanaan pemusnahan b. Pemusnahan Prosedur Pemusnahan : 1.Menyiapkan adminstrasi (berupa laporan dan berita acara pemusnahan).Mengkoordinasikan jadwal. 2. Nama apoteker pelaksana pemusnahan . 3.Membuat laporan pemusnahan. yg memuat: a. 6.Melaksanakan inventarisasi terhadap sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan yang akan dimusnahkan.

Penyimpanan bendel resep dilakukan secara berurutan dan teratur sehingga memudahkan untuk penelusuran resep 7.e.Resep yang berisi psikotropika digaris bawah dengan tinta biru. 4. 5. 3.Resep asli dikumpulkan berdasarkan tanggal yang sama dan diurutkan sesuai nomor resep. Pengendalian dan Pelaporan Prosedur Tetap Pengelolaan Resep (Administrasi) : 1.Resep yang telah disimpan selama dari tiga tahun dapat dimusnahkan sesuai tata cara pemusnahan .Resep yang berisi narkotika dipisahkan atau digaris bawah dengan tinta merah.Resep dibendel sesuai dengan kelompoknya. bulan dan tahun yang mudah dibaca dan disimpan di tempat yang telah ditentukan 6.Bendel resep ditulis tanggal. 2.Resep yang diambil dari bendel pada saat penelusuran harus dikembalikan pada bendel semula tanpa merubah urutan 8.

dokter hewan kepada apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan perundangan yang berlaku Prosedur pelayanan resep : 1. Penyerahan farmasi perbekalan . dokter gigi.PELAYANAN RESEP proses pelayanan permintaan tertulis dokter. Penyiapan farmasi perbekalan 3. Skrining resep 2.

Pelayanan Resep Resep Nakotik • Skrining Resep .

Penyiapan Resep Narkotik .

Penyerahan Obat Narkotik .

.

tidak bias. faktual. Prosedur PIO . terkini.Pelayanan Informasi Obat (PIO) Kegiatan pelayanan yang harus dilakukan oleh apoteker untuk memberikan informasi dan konsultasi secara akurat. mudah dimengerti. etis dan bijaksana.

Promosi & Edukasi .

Prosedur Swamedikasi .

seperti : diabetes. Pasien dengan resep polifarmasi 5. Pasien dengan sejarah ketidakpatuhan dalam pengobatan 3. TB. Pasien lansia 6. Pasien yang mengalami Drug Related . dan asma.Konseling Suatu proses yang sistematis untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah pasien yang berkaitan yg perlu mendapatkan konseling : denganPasien pengambilan dan 1. Pasien yang menerima obat dengan indeks terapi sempit yang memerlukan pemantauan. Pasien dengan penyakit kronik penggunaan obat. dll. Pasien pediatrik melalui orang tua atau pengasuhnya 7. 2. 4.

Prosedur Konseling .

Pelayanan Residensial (Home Care) Pelayanan kefarmasian yang diberikan kepada pasien yang dilakukan di rumah khususnya untuk kelompok lanjut usia dan pasien dengan penyakit kronis serta pasien dengan pengobatan paliatif Tujuan : Agar pasien yang karena keadaan fisiknya tidak memungkinkan datang ke apotek masih mendapatkan pelayanan kefarmasian secara optimal .

Prosedur Tetap Home Care .

pelayanan kefarmasian kepada pasien Indikator mutu pelayanan di apotek : • kepuasan pasien. pengelolaan perbekalan sediaan farmasi dan kesehatan. • kepatuhan pasien dan • keberhasilan pengobatan mengetahui mutu pelayanan kefarmasian  dengan mengukur kepuasan pasien dengan cara angket. dan .Evaluasi Mutu Pelayanan Proses penilaian kinerja pelayanan kefarmasian di apotek yang meliputi penilaian terhadap sumber daya manusia (SDM). Tujuan : • mengevaluasi seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian di apotek.