Anda di halaman 1dari 56

Case Report Session

SELLULITIS ORBITA
NANA SRI RAHAYU 1210311020
FIRDA RAZAQ

1210313071

PRESEPTOR
Dr. Kemala Sayuti, SpM(K)
ILMU KESEHATAN MATA
RSUP DR. M. DJAMIL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2016

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Selulitis orbita merupakan infeksi pada struktur mata
posterior sampai ke septum orbita (selulitis preseptal)

1. Chaundry IA, Alrashed W, Sheikh OA, Arat YO. The Hot Orbit: Orbital Cellulitis. 2012. Middle East Afr J Ophtalmol, 19(1), 3442.

KLASIFIKASI
1.

Selulitis preseptal

2.

Selulitis orbita

3.

Abses subperiosteal

4.

Abses orbita

5.

Trombosis sinus kavernosus

1. Chaundry IA, Alrashed W, Sheikh OA, Arat YO. The Hot Orbit: Orbital Cellulitis. 2012. Middle East Afr J Ophtalmol, 19(1), 3442.

EPIDEMIOLOGI
Sering pada musin dingin, sinusitis selulitis orbita
Sinusitis etmoidalis >>
Anak>> dewasa
7-12 tahun
LK=PR

2. Harrington JN, Ing E, Philpots BA, Talavera F. Orbital Cellulitis, updated Mar 11th, 2016.
www.emedicine.medscape.com/article/1217858-overview. Diakses pada 23 Mei 2016.

ETIOLOGI DAN
FAKTOR RESIKO
Eksogen (trauma)
Benda asing yang masih tertingga
Membawa mikroorganisme
Endogen
Bakteri
Sekunder
Streptococcus species, Staphylococcus aureus, dan
Haemophilus influenzae type B

2. Harrington JN, Ing E, Philpots BA, Talavera F. Orbital Cellulitis, updated Mar 11th, 2016.
www.emedicine.medscape.com/article/1217858-overview. Diakses pada 23 Mei 2016.
3. American Academy of Ophtalmology. Section 7 Orbits, Eyelids, and Lacrimal System, chapter 4. 2011-2012.

BAKTERI
Sumber:

intraorbita
Sinus paranasa
Wajah dan kelopak mata
Sakus lakrimalis
Infeksi gigi
Bakteremia

JAMUR
Immnunocompromised
Diabetes mellitus

2. Harrington JN, Ing E, Philpots BA, Talavera F. Orbital Cellulitis, updated Mar 11th, 2016.
www.emedicine.medscape.com/article/1217858-overview. Diakses pada 23 Mei 2016.
3. American Academy of Ophtalmology. Section 7 Orbits, Eyelids, and Lacrimal System, chapter 4. 2011-2012.

PATOGENESIS DAN
PATOFISIOLOGI

Penyebaran dari sinus


Struktur : tulang tipis, aliran darah, defek alamiah

Aspek infeksi sellulitis orbita


sistem limfatik tidak ada agen protektif
hanya fagositik
Karena ruang terbatas TIO tingga
virulensi infeksi
Penyebran infeksi sebagai tromboflebitis dari
struktur sekitar

2. Harrington JN, Ing E, Philpots BA, Talavera F. Orbital Cellulitis, updated Mar 11th, 2016.
www.emedicine.medscape.com/article/1217858-overview. Diakses pada 23 Mei 2016.
4.Chaundry IA, Alrashed W, Sheikh OA, Arat YO. Diagnosis and Management of Orbital Cellulitis, chapter 7. 2013. Lisensee
iTech..

MANIFESTASI
KLINIS
udem palpebra
Gangguan pergerakan bola mata
Nyeri
Penurunan visus
Kemosis konjungtiva
Proptosis
Keratopati eksposur karena mata sulit untuk
ditutup
Oftalmoplegia
Demam

2. Harrington JN, Ing E, Philpots BA, Talavera F. Orbital Cellulitis, updated Mar 11th, 2016.
www.emedicine.medscape.com/article/1217858-overview. Diakses pada 23 Mei 2016.
4. Chaundry IA, Alrashed W, Sheikh OA, Arat YO. Diagnosis and Management of Orbital Cellulitis, chapter 7. 2013. Lisensee
iTech..

DIAGNOSIS
Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang
USG orbita
CT scan
MRI

2. Harrington JN, Ing E, Philpots BA, Talavera F. Orbital Cellulitis, updated Mar 11th, 2016.
www.emedicine.medscape.com/article/1217858-overview. Diakses pada 23 Mei 2016.
4. Chaundry IA, Alrashed W, Sheikh OA, Arat YO. Diagnosis and Management of Orbital Cellulitis, chapter 7. 2013. Lisensee
iTech..

TERAPI
Perawatan di RS
Kompres hangat
Farmakologi
Antibiotik IV spektrum luas dini selaa 1-2 minggu, diikuti
antibiotik oral 2-3 minggu
Antifungi
pembedahan

2. Harrington JN, Ing E, Philpots BA, Talavera F. Orbital Cellulitis, updated Mar 11th, 2016.
www.emedicine.medscape.com/article/1217858-overview. Diakses pada 23 Mei 2016.
3. American Academy of Ophtalmology. Section 7 Orbits, Eyelids, and Lacrimal System, chapter 4. 2011-2012.
4.Chaundry IA, Alrashed W, Sheikh OA, Arat YO. Diagnosis and Management of Orbital Cellulitis, chapter 7. 2013. Lisensee
iTech..

Indikasi pembedahan:
1. Peurunan visus
2. Defek pupil aferan
3. Proptosis meskipun sudah diberikan terapi farmakologi
4. Ukuran abses tidak mengecil 48-72 jam setelah
pemberian antibiotik

2. Harrington JN, Ing E, Philpots BA, Talavera F. Orbital Cellulitis, updated Mar 11th, 2016.
www.emedicine.medscape.com/article/1217858-overview. Diakses pada 23 Mei 2016.

KOMPLIKASI
Komp. Okuler
infark nervus optikus, infark sklera, koroid, ataupun
retina.
Uveitis
Glaukoma sekunder
Komp. Orbita
Abses periosteal dan abses orbita
Komp. Lain
Abses parotid, komplikasi intrakranial, septikemia

2. Harrington JN, Ing E, Philpots BA, Talavera F. Orbital Cellulitis, updated Mar 11th, 2016.
www.emedicine.medscape.com/article/1217858-overview. Diakses pada 23 Mei 2016.
3. American Academy of Ophtalmology. Section 7 Orbits, Eyelids, and Lacrimal System, chapter 4. 2011-2012.
5. Khurana AK. Comphrehensive Ophtalmology. 4th ed. New age international, 2007. p.377-378, 384-386.
6. Riyanto H, Desy B, Kaloso HD, Soebagyo. Orbital Cellulitis and Endophthalmitis Associated with Odontogenic Paranasal
Sinusitis. 2009. Jurnal Oftalmologi Indonesia, 7(1).

PROGNOSIS
Morbiditas akibat kebutaan 11%
Peningkatan morbiditas :
Penanganan terlabat sehingga penyebaran terjadi
Resiko tinggi:
1. Usia> 7 tahun
2. Abses subperiosteal
3. Nyeri kepala dan demam menetap meskipun sudah
diberikan antibiotik IV

2. Harrington JN, Ing E, Philpots BA, Talavera F. Orbital Cellulitis, updated Mar 11th, 2016.
www.emedicine.medscape.com/article/1217858-overview. Diakses pada 23 Mei 2016.

LAPORAN KASUS

A NAM N E S I S

IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. M
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 49 tahun
Alamat : Sungai Penuh, Kerinci
Pekerjaan : Petani
Status Perkawinan: Menikah
Agama : Islam
Tanggal masuk : 14 Mei 2016
Tanggal Pemeriksaan: 20 Mei 2016

KELUHAN UTAMA
Nyeri mata kiri sejak 4 hari sebelum masuk
rumah sakit

RIWAYAT PENYAKIT
SEKARANG
Nyeri mata kiri sejak 4 hari sebelum masuk
rumah sakit. Nyeri dirasakan pasien
setelah mata kiri terkena lentingan kayu1
minggu sebelum masuk rumah sakit,
setelah itu mata kiri merah, berair, dan
bengkak. Pasien kemudian berobat ke
klinik spesialis mata dan mendapat terapi 2
obat tetes mata dan 3 obat makan
kemudian di rujuk ke RSUP M Djamil
karena tidak ada perbaikan setelah dua
hari terapi.

Penglihatan mata kiri berkurang sejak 4 hari sebelum


masuk rumah sakit
Bola mata kiri sulit untuk digerakkan
Nyeri kepala hebat disertai mual muntah tidak ada
Rasa mengganjal pada mata tidak ada
Pandangan seperti tertutup tirai tidak ada
Riwayat demam ada selama 2 hari
Riwayat bersin berulang dan nyeri pada wajah disangkal

RIWAYAT PENYAKIT
DAHULU
Pasien tidak pernah menderita penyakit
seperti ini sebelumnya
Riwayat memakai kaca mata sebelumnya
tidak ada
Riwayat hipertensi dan diabetes melitus
tidak ada
Riwayat alergi obat-obatan dan makanan
tidak ada
Riwayat atopi disangkal

RIWAYAT
PENGOBATAN:
Riwayat konsumsi obat dalam jangka waktu lama tidak ada

RIWAYAT PENYAKIT
KELUARGA
Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini

RIWAYAT PEKERJAAN, SOSIAL, EKONOMI,


KEJIWAAN DAN KEBIASAAN
Pasien seorang petani, riwayat merokok (+), riwayat alkohol
(-)

PEMERIKSAAN FISIK
:
Keadaan Umum : Sakit sedang
Kesadaran
: Komposmentis
Gizi
: Cukup
Tekanan darah
: 147/94 mmHg
Frekuensi Nadi
: 78x/menit
Frekuensi Nafas : 20x/menit
Suhu
: 36,5 derajat celcius

STATUS
GENERALISATA :
Kulit
KGB
Kepala

: tidak ada kelainan


: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan

Mata
: Status oftalmologis
Telinga
: tidak ada kelainan
Hidung
: tidak ada kelainan
Tenggorokan : tidak ada kelainan

Gigi dan Mulut


: tidak ada kelainan
Leher
: tidak ada kelainan
Thorax
: tidak ada kelainan
Abdomen
Ekstremitas

: tidak ada kelainan


: tidak ada kelainan

STATUS
OFTALMOLOGI

Oculli Dextra

Oculli Sinistra

5/5

1/~ proyeksi salah

Visus dengan koreksi

Refleks fundus

Tidak bisa dinilai

Visus tanpa koreksi

Silia/supersilia

Bulu mata tumbuh


sejajar, trikiasis
tidak ada,
madarosis tidak ada

Bulu mata tumbuh


sejajar, trikiasis
tidak ada,
madarosis tidak ada

Palpebra superior

Edema (-)
Hiperemis (-)

Edema (+)

Palpebra inferior

Edema (-)

Edema (+)

Apparatus lakrimalis

Konjungtiva Tarsalis

Konjungtiva Forniks

Konjungtiva Bulbi

Sklera

Oculli Dextra

Oculli Sinistra

Dalam batas normal

Dalam batas normal

Hiperemis (-), Papil (-),

Hiperemis (+), Papil

folikel (-), Sikatrik (-)

(-), folikel (-), sikatrik

Hiperemis (-)

(-)
Hiperemis (+)

Hiperemis (-), Injeksi

Injeksi siliar (+)

siliar (-) Injeksi

Injeksi konjunktiva

konjungtiva (-)
Warna putih

(+), kemosis (+)


Tidak bias dinilai

Kornea
COA
Iris

Oculli Dextra

Oculli Sinistra

Bening

Tidak bisa dinilai

Cukup dalam

Tidak bisa dinilai

Coklat, rugae (+)

Tidak bisa dinilai

Bulat, RP (+/-),

Tidak bisa dinilai

diameter 3 mm,
Bening

Tidak bisa dinilai

Relatif bening

Tidak bisa dinilai

Pupil
Lensa
Korpus vitreum

Oculli Dextra
Fundus:
- Media
- Papil
-

Retina

Pembuluh darah
Makula

TIO
Posisi bola mata
Gerakan bola mata

Relatif bening
Bulat, batas tegas, C/D
0,3-0,4
Perdarahan (-), eksudat
(-)
Aa:vv = 2:3
Ref fovea +

Oculli Sinistra
Tidak bisa dinilai
Tidak bisa dinilai
Tidak bisa dinilai
Tidak bisa dinilai
Tidak bisa dinilai

normal (palpasi)

N+1 (p)

Ortho

Tidak bisa dinilai

Bebas ke segala arah

Terbatas ke segala
arah

Pemeriksaan Penunjang
Hb

: 14,4 g/dl

Leukosit

: 15.400 /mm3

Hematokrit

: 41%

Trombosit

: 298.000 /mm3

PT

: 12,2 detik

APTT

: 36,2 detik

GDS

: 136 mg/dl

Ur / Cr

: 31 / 10,7

Na / K / Cl

: 134 / 4,4 / 104

SGOT / SGPT

: 10 / 14

Diagnosis Kerja

: panoftalmitis occuli sinistra

Diagnosis banding: selulitis orbita occuli sinistra

TERAPI
Terapi medikamentosa:
Injeksi Cefoperazone 2x1 gr

Leufloxacin ed tiap jam OS

Asam mefenamat 3x500 mg (PO)

Terapi umum
Jangan memegang atau menggosok-gosok mata yang meradang

Mencegah penyebaran infeksi dengan mencuci tangan, terutama


ketika memegang mata dan wajah, serta mengeringkannya
dengan handuk atau kain yang bersih

Memperbaiki asupan nutrisi dan istirahat yang cukup

Bebat mata

PROGNOSIS :
Quo ad vitam
: dubia ad bonam
Quo ad functionam
: dubia ad malam

FOLLOW UP 15 MEI 2016

HARI RAWATAN KE-2, OSET HARI KE-5

S/ nyeri mata kiri (+)


Status oftalmologis

OD

OD

VIisus

5/5

1/~ P. salah

Palpebra

Edema (-)

Edem (+)

Konjungtiva

Hiperemis (-)

Kemosis (+)

Kornea

Bening

keruh

COA

Cukup dalam

Tidak bisa dinilai

Iris

Coklat, rugae (+)

Tidak bisa dinilai

Pupil

Bulat, RP (+/+) diameter


2-3 mm

Tidak bisa dinilai

Lensa

Bening

Tidak bisa dinilai

TIO

N palpasi

N+1 (P)

Posisi

ortho

Sulit dinilai

Gerakan

bebas

terbatas

A/ Panoftalmitis OS DD/ Selulitis Orbita OS


P/ -Injeksi Cefoperazone 2x1 gr (IV)
-LFX ed tiap jam OS
-Asam mefenamat 3x500 mg (PO)
-Glaucon 4x250 mg (PO)
-Aspar K 2X300 mg (PO)

FOLLOW UP 16 MEI 2016


HARI RAWATAN KE-3, OSET HARI KE-6
S/ nyeri mata kiri (+)
Status oftalmologis

OD

OD

VIisus

5/5

1/~ P. salah

Palpebra

Edema (-)

Edem (+)

Konjungtiva

Hiperemis (-)

Kemosis hebat

Kornea

Bening

Edema (+), opacity (+)

COA

Cukup dalam

Tidak bisa dinilai

Iris

Coklat, rugae (+)

Tidak bisa dinilai

Pupil

Bulat, RP (+/+) diameter


2-3 mm

Tidak bisa dinilai

Lensa

Bening

Tidak bisa dinilai

TIO

N palpasi

N+1 (P)

Posisi

ortho

Sulit dinilai

Gerakan

bebas

terbatas

A/ Panoftalmitis OS DD/ Selulitis Orbita OS


P/ -Injeksi Cefoperazone 2x1 gr (IV)
-LFX ed tiap jam OS
-Asam mefenamat 3x500 mg (PO)
-Glaucon 4x250 mg (PO)
-Aspar K 2X300 mg (PO)
CT Scan orbita
Konsul sub bagian infeksi imunologi dengan hasil:
A/ selulitis orbita OS, Abses orbita OS
P/ Metronidazole 3x500 mg (PO)

FOLLOW UP 17 MEI 2016


HARI RAWATAN KE-4, OSET HARI KE-7
S/ nyeri mata kiri (+)
Status oftalmologis

OD

OD

VIisus

5/5

Palpebra

Edema (-)

Edem (+)

Konjungtiva

Hiperemis (-)

Kemosis (+)

Kornea

Bening

keruh

COA

Cukup dalam

Tidak bisa dinilai

Iris

Coklat, rugae (+)

Tidak bisa dinilai

Pupil

Bulat, RP (+/+) diameter


2-3 mm

Tidak bisa dinilai

Lensa

Bening

Tidak bisa dinilai

TIO

N palpasi

N+1 (P)

Posisi

ortho

Sulit dinilai

Gerakan

bebas

terbatas

A/ Selulitis orbita OS
Abses orbita OS
P/ -Injeksi Cefoperazone 2x1 gr (IV)
-LFX ed tiap jam OS
-Asam mefenamat 3x500 mg (PO)
-Glaucon 4x250 mg (PO)
-Aspar K 2X300 mg (PO)
-Injeksi Metronidazole 3x500 mg (PO)
-Anjuran: Rontgen orbita OS, USG orbita OS, eviserasi OS

FOLLOW UP 18 MEI 2016


HARI RAWATAN KE-5, OSET HARI KE-8
S/ nyeri mata kiri (+)
Status oftalmologis

OD

OD

VIisus

5/5

Palpebra

Edema (-)

Edem (+)

Konjungtiva

Hiperemis (-)

Kemosis (+)

Kornea

Bening

keruh

COA

Cukup dalam

Tidak bisa dinilai

Iris

Coklat, rugae (+)

Tidak bisa dinilai

Pupil

Bulat, RP (+/+) diameter


2-3 mm

Tidak bisa dinilai

Lensa

Bening

Tidak bisa dinilai

TIO

N palpasi

N+1 (P)

Posisi

ortho

Sulit dinilai

Gerakan

bebas

terbatas

A/ Selulitis orbita OS
Abses orbita OS
P/ -Injeksi Cefoperazone 2x1 gr (IV)
-LFX ed tiap jam OS
-Asam mefenamat 3x500 mg (PO)
-Glaucon 4x250 mg (PO)
-Aspar K 2X300 mg (PO)
-Metronidazole 3x500 mg (IV)
-Anjuran: eviserasi OS

FOLLOW UP 19 MEI 2016


HARI RAWATAN KE-6, OSET HARI KE-9
S/ nyeri mata kiri (+)
Status oftalmologis

OD

OD

VIisus

5/5

Palpebra

Edema (-)

Edem (+)

Konjungtiva

Hiperemis (-)

Kemosis (+)

Kornea

Bening

keruh

COA

Cukup dalam

Tidak bisa dinilai

Iris

Coklat, rugae (+)

Tidak bisa dinilai

Pupil

Bulat, RP (+/+) diameter


2-3 mm

Tidak bisa dinilai

Lensa

Bening

Tidak bisa dinilai

TIO

N palpasi

N+1 (P)

Posisi

ortho

Sulit dinilai

Gerakan

bebas

terbatas

A/ Selulitis orbita OS
Abses orbita OS
P/ -Injeksi Cefoperazone 2x1 gr (IV)
-LFX ed tiap jam OS
-Asam mefenamat 3x500 mg (PO)
-Glaucon 4x250 mg (PO)
-Aspar K 2X300 mg (PO)
-Metronidazole 3x500 mg (IV)
-Anjuran: eviserasi OS

FOLLOW UP 20 MEI 2016


HARI RAWATAN KE-7, OSET HARI KE-10
S/ nyeri mata kiri (+)
Status oftalmologis

OD

OD

VIisus

5/5

Palpebra

Edema (-)

Edem (+)

Konjungtiva

Hiperemis (-)

Kemosis (+)

Kornea

Bening

keruh

COA

Cukup dalam

Tidak bisa dinilai

Iris

Coklat, rugae (+)

Tidak bisa dinilai

Pupil

Bulat, RP (+/+) diameter


2-3 mm

Tidak bisa dinilai

Lensa

Bening

Tidak bisa dinilai

TIO

N palpasi

N+1 (P)

Posisi

ortho

Sulit dinilai

Gerakan

bebas

terbatas

A/ Selulitis orbita OS
Abses orbita OS
P/ -Injeksi Cefoperazone 2x1 gr (IV)
-LFX ed tiap jam OS
-Asam mefenamat 3x500 mg (PO)
-Glaucon 4x250 mg (PO)
-Aspar K 2X300 mg (PO)
-Metronidazole 3x500 mg (IV)
-Anjuran: eviserasi OS

DISKUSI
Selulitis orbita infeksi akut pada jaringan lunak orbita di
belakang septum orbita.
Jarang merupakan penyakit primer rongga orbita
kebutaanpengobatan segera.
Diagnosis anamnesis , pemeriksaan fisik, pemeriksaan
oftalmologis dan pemeriksaan penunjang

ANAMNESIS
adanya keluhan mata kiri bengkak dan nyeri. Mata kiri
bengkak dan nyeri pembengkakkan jaringan lunak
sekeliling orbita karena peradangan.
Peradangan pada selulitis orbita berasal dari infeksi
sinus etmoid, gigi dan saluran napas bagian atas atau
karena trauma dan penyebaran secara hematogen.
Pada pasien ini sumber infeksi berasal dari traumaada
serbuk kayu yang masuk ke mata pasien dan kemungkinan
sisa serbuk kayu masih terdapat di mata pasien yang
menyebabkan respon inflamasi pada mata.
Hal ini diperparah jika terdapat mikroorganisme patogen
yang juga masuk bersamaan dengan benda asing tersebut.

PEMERIKSAAN
OFTALMOLOGI
VOD 5/5, konjungtiva hiperemis (-), kornea bening, COA
cukup dalam, iris coklat, pupil bulat, Rf +/+, diameter 3mm.
lensa bening, TIO normal, posisi bola mata ortho, dan
gerak bola mata bebas ke segala arah.
VOS 1/~ proyeksi salah, konjungtiva khemosis hebat,
kornea edem, ada maserasi, dan opacity. COA, iris, pupil,
dan lensa sulit dinilai. TIO agak tinggi, posisi bola mata
sulit dinilai dan gerak bola mata terbatas.

Ketajaman penglihatan mata kiri menurun edema dan


nyeri.
Pergerakan bola mata kiri juga terganggumembedakan
selulitis orbita dengan selulitis preseptal dimana pada
selulitis preseptal tidak terjadi gangguan pada pergerakan
bola mata, sedangkan selulitis orbita terjadi gangguan
pergerakan bola mata.
Infeksi pada penderita ini sudah terlambat ditangangani,
sehingga timbul komplikasi berupa abses orbita

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik pada awal


rawatanpanoftalmitis.
Pada hari ke-3 pasien dikonsulkan ke subbagian infeksi
dan imunologi diagnosis selulitis orbita dan abses
orbita.
Diduga selulitis yang terjadi pada pasien disebakan oleh
penyebaran infeksi secara langsung dari keadaan
panoftalmitis mata kiri pasien.

Prinsip penanganan pemberian antibiotika spektum luas


dan observasi perkembangan penyakit.
Awal rawatan Inj. Cefoperazone 2x1 gram (iv), LFX ed
tiap jam OS, Asam Mefenamat 3x500 mg, Glaucon 4x250
mg, Aspar K 2x300 mg dan Inj. Metronidazol 3x500 mg.
Pasien dianjurkan eviserai mata kiri dengan tujuan
untuk membatasi penyebaran infeksi yang mungkin
terjadi.
Prognosa ad vitam adalah bonam dimana tanda vital
kehidupan penderita baik, prognosis ad fungsionam
adalah malam karena sudah ada komplikasi berupa abses
orbita. Oleh karena itu diperlukan tindakan eviserasi.

TERIMAKASIH