Anda di halaman 1dari 8

PLATHILMINTES

Disusun Oleh :
KELOMPOK I

Givary Hatamy Wanta Buana


Surya Alam
Alfiandi Putra Pradana
Mukramin
A. Karakteristik

Platyhelminthes berasal dari Bahasa Yunani, dari kata Platy = pipih dan
helminthes = cacing. Jadi berarti cacing bertubuh pipih. Filum Platyhelminthes
terdiri dari sekitar 13,000 species, terbagi menjadi tiga kelas; dua yang bersifat
parasit dan satu hidup bebas. Planaria dan kerabatnya dikelompokkan sebagai
kelas Turbellaria. Cacing hati adalah parasit eksternal atau internal dari Kelas
Trematoda. Cacing pita adalah parasit internal dari kelas Cestoda. Umumnya,
golongan cacing pipih hidup di sungai, danau, laut, atau sebagai parasit di dalam
tubuh organisme lain. Platyhelminthes yang hidup bebas adalah di air tawar, laut,
dan tempat-tempat yang lembab, sedangkan Platyhelminthes yang parasit hidup di
dalam tubuh inangnya (endoparasit) pada siput air, sapi, babi, atau manusia.
Cacing golongan ini sangat sensitif terhadap cahaya. Beberapa contoh
Platyhelminthes adalah Planaria yang sering ditemukan di balik batuan (panjang
2-3 cm), Bipalium yang hidup di balik lumut lembab (panjang mencapai 60 cm),
Clonorchis sinensis, cacing hati, dan cacing pita.
B. Struktur Tubuh

• Platyhelminthes tidak memiliki rongga tubuh (selom) sehingga disebut hewan


aselomata.Tubuh pipih dorsoventral, tidak berbuku-buku, simetri bilateral, serta dapat
dibedakan antara ujung anterior dan posterior. Lapisan tubuh tersusun dari 3 lapis
(triploblastik aselomata) yaitu ektoderm yang akan berkembang menjadi kulit,
mesoderm yang akan berkembang menjadi otot – otot dan beberapa organ tubuh dan
endoderm yang akan berkembang menjadi alat pencernaan makanan.

• Sistem respirasi Platyhelminthes melalui permukaan tubuhnya. Sistem pencernaan terdiri


dari mulut, faring, dan usus (tanpa anus), usus bercabang-cabang ke seluruh tubuhnya.
Platyhelminthes tidak memiliki sistem peredaran darah (sirkulasi) dan alat ekskresinya
berupa sel-sel api. Kelompok Platyhelminthes tertentu memiliki sistem saraf tangga tali.
Sistem saraf tangga tali terdiri dari sepasang simpul saraf (ganglia) dengan sepasang tali
saraf yang memanjang dan bercabang-cabang melintang seperti tangga.Organ reproduksi
jantan (testis) dan organ betina (Ovarium). Cacing pipih dapat bereproduksi secara
aseksual dengan membelah diri dan secara seksual dengan perkawinan silang,
platyhelminthes terdapat dalam satu individu sehingga disebut hewan hermafrodit.
C. Klasifikasi
Filum Platyhelminthes terbagi menjadi tiga kelas, yaitu:
• Ø Turbellaria (berambut getar)
• Contoh: Planaria sp
• Ø Trematoda (cacing hisap)
• Contoh: Fasciola hepatica (cacing hati)
• Ø Cestoda (cacing pita)
• Contoh: Taenia solium, Taenia saginata
D. Peranan Platyhelminthes Dalam
Kehidupan
• Adapun peranan Platyhelminthes dalam kehidupan adalah sebagai
berikut:
• 1. Planaria menjadi salah satu makanan bagi organisme lain.
• 2. Cacing hati maupun cacing pita merupakan parasit pada
manusia
• a. Schistosoma sp, dapat menyebabkan skistosomiasis, penyakit
parasit yang ditularkan melalui siput air tawar pada manusia.
Apabila cacing tersebut berkembang di tubuh manusia, dapat terjadi
kerusakan jaringan dan organ seperti kandung kemih, ureter, hati,
limpa, dan ginjal manusia.Kerusakan tersebut disebabkan
perkembangbiakan cacing Schistosoma di dalam tubuh.
• b. Clonorchis sinensis yang menyebabkan infeksi cacing hati pada
manusia dan hewan mamalia lainnya, spesies ini dapat menghisap
darah manusia.
• c. Paragonimus sp, parasit pada paru-paru manusia. dapat
menyebabkan gejala gangguan pernafasan yaitu sesak bila bernafas,
batuk kronis, dahak/sputum becampur darah yang berwarna coklat
(ada telur cacing).
• d. Fasciolisis sp, parasit di dalam saluran pencernaan. Terjadinya
radang di daerah gigitan, menyebabkan hipersekresi dari lapisan
mukosa usus sehingga menyebabkan hambatan makanan yang
lewat. Sebagai akibatnya adalah ulserasi, haemoragik dan absces
pada dinding usus. Terjadi gejala diaree kronis.
• e. Taeniasis, penyakit yang disebabkan oleh Taenia sp. Cacing ini
menghisap sari-sari makanan di usus manusia.
• f. Fascioliasis, disebabkan oleh Fasciola hepatica. Merupakan
penyakit parasit yang menyerang semua jenis ternak. Hewan
terserang ditandai dengan nafsu makan turun, kurus, selaput lendir
mata pucat dan diare.
Kesimpulan
• 1. Platyhelminthes berasal dari Bahasa Yunani, dari kata Platy =
pipih dan helminthes = cacing. Jadi berarti cacing bertubuh pipih.
• 2. Platyhelminthes terbagi menjadi 3 kelas, yaitu: Turbellaria,
Trematoda (cacing hisap), dan Cestoda (cacing pita).
• 3. Platyhelminthes yang hidup bebas adalah di air tawar, laut, dan
tempat-tempat yang lembab, sedangkan Platyhelminthes yang
parasit hidup di dalam tubuh inangnya (endoparasit) pada siput air,
sapi, babi, atau manusia.
• 4. Platyhelminthes tidak memiliki rongga tubuh (selom) sehingga
disebut hewan aselomata.Tubuh pipih dorsoventral, tidak berbuku-
buku, simetri bilateral, serta dapat dibedakan antara ujung anterior
dan posterior.
• 5. Sistem respirasi Platyhelminthes melalui permukaan
tubuh, alat pencernaan tidak lengkap, alat ekskresi berupa
sel api, sistem saraf dengan ganglion anterior sebagai pusat
sistem saraf, reproduksi umumnya secara generatif.
• 6. Siklus hidup dari Platyhelminthes parasit yang ada
hubungan dengan manusia diantaranya: dari kelas
Trematoda, Clonorchis sp dan Fasciola hepatica. Dan dari
kelas Cestoda, Taenia saginata dan Taenia solium.
• 7. Peranan platyhelminthes dalam kehidupan adalah:
Planaria menjadi salah satu makanan bagi organisme lain,
cacing hati maupun cacing pita merupakan parasit pada
manusia.