Anda di halaman 1dari 17

BAB 5

Disusun oleh :
Eva Titania Maulida
XII MIPA 2
 Secara umum, hubungan
internasional diartikan sebagai
hubungan yang bersifat global yang
meliputi semua hubungan yang
terjadi dengan melampaui batas –
batas ketatanegaraan.
Konsep hubungan internasional oleh para ahli
sering dianggap sama atau dipersamakan dengan
konsepsi :
1. Konsep politik Luar Negeri
2. Konsep Hubungan Luar Negeri
3. Konsep Politik Internasional
Komponen – komponen yang harus ada dalam
hubungan internasional antara lain :
1. Politik internasional (internasional politics)
2. Studi tentang peristiwa internasional (the study of
foreign affair)
3. Hukum internasional (internasional law)
4. Organisasi adminstrasi internasional (internasional
organization of adminstration)
Pola hubungan internasional yang dibangun
oleh bangsa Indonesia dapat dilihat dari
kebijakan politik luar negeri Indonesia.
Bangsa Indonesia dalam membina dengan negara lain
menerapkan prinsip politik luar negeri yang
bebas aktif dan diabadikan bagi kepentingan
nasional, terutama kepentingan pembangunan
di segala bidang serta ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Perlunya kerja sama dalam bentuk hubungan internasional antara lain
karena faktor-faktor berikut :
I. Faktor internal, yaitu adanya kekhawatiran terancam kelangsungan
hidupnya baik melalui kudeta maupun intervensi dari negara lain.
II. Faktor ekternal, yaitu ketentuan hukum alam yang tidak dapat
dipungkiri bahwa suatu negara tidak dapat berdiri sendiri tanpa
bantuan dan kerja sama dengan negara lain. Ketergantungan
tersebut terutama dalam upaya memecahkan masalah-masalah
ekonomi, politik, hukum, sosial budaya, pertahanan dan keamanan.
Manfaat yang dapat diperoleh Indonesia dengan
keterlibatannya dalam berbagai hubungan
internasional antara lain:
a. Menjalin Persahabatan Antarbangsa
b. Mencukupi Kebutuhan bangsa Indonesia
c. Mempercepat Proses Perkembangan Ekonomi
d. Ikut Berperan dalam kancah perekonomian dunia
e. Memperoleh Pengalaman dari Negara-negara lain
f. mengetahui dan memperkuat posisi Indonesia di gelanggang
internasional
g. Memantau perkembangan perekonomian dunia
h. Tidak terisolasi dalam pergaulan bangsa-bangsa
i. Menerima bantuan dari organisasi-organisasi internasional
Hal ini dapat dilihat dari peristiwa-peristiwa di bawah ini yang dengan jelas
Menggambarkan Bentuk kerja sama yang dikembangkan Bangsa Indonesia.
1) Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang ke-
60 pada tanggal 28 September 1950. Meskipun pernah keluar dari
keanggotaan PBB pada tanggal 7 Januari 1965 sebagai bentuk protes
atas diterimanya Malaysia menjadi anggota tidak tetap Dewan
Keamanan PBB, akan tetapi pada tanggal 28 September 1966 Indonesia
masuk kembali menjadi anggota PBB dan tetap sebagai anggota yang
ke-60
2) Memprakarsai penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada
tahun 1955 yang melahirkan semangat dan solidaritas negara-negara
Asia-Afrika yang kemudian melahirkan Dasasila Bandung.
3) Keaktifan Indonesia sebagai salah satu pendiri Gerakan Non-Blok (GNB)
pada tahun 1961, bahkan pada tahun 1992 dalam Konferensi
Negaranegara Non-Blok yang berlangsung di Jakarta, Indonesia
ditunjuk menjadi Ketua GNB. Melalui GNB ini secara langsung Indonesia
telah turut serta meredakan ketegangan perang dingin antara blok
Barat dan blok Timur.
3) Terlibat langsung dalam misi perdamaian Dewan Keamanan PBB
dengan mengirimkan Pasukan Garuda ke negara-negara yang
dilanda konflik seperti Konggo, Vietnam, Kamboja, Bosnia dan
sebagainya. Bahkan, pada tahun 2007, Indonesia ditetapkan
menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Indonesia
menjadi salah satu pendiri ASEAN (Assosiaciation of South-East
Asian Nation) yaitu organisasi negara-negara di kawasan Asia
Tenggara, bahkan Sekretariat Jenderal ASEAN berada di Jakarta.
4) Ikut serta dalam setiap pesta olah raga internasional mulai dari SEA
(South East Asian) Games, Asian Games, Olimpiade, dan
sebagainya.
5) Indonesia aktif juga dalam beberapa organisasi internasional
lainnya. Hal ini dibuktikan dengan tercatatnya Indonesia sebagai
anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI), organisasi negara-
negara pengekspor minyak (OPEC), dan kerja sama ekonomi Asia
Pasifik (APEC).
6) Menyelenggarakan hubungan diplomatik dengan berbagai negara
yang ditandai dengan pertukaran perwakilan diplomatik dengan
negara yang bersangkutan. Sampai saat ini, Indonesia sudah
menjalin kerja sama bilateral dengan 162 negara. Sebagai wujud
dari kerja sama tersebut, di negara kita terdapat kantor kedutaan
besar dan konsulat jenderal negara lain. Begitu juga dengan kantor
kedutaan besar dan konsulat jenderal negara kita yang terdapat di
negara lain.
Menurut Pasal 38 ayat (1) Piagam Mahkamah Internasional, dinyatakan
bahwa perjanjian internasional baik yang bersifat umum maupun
khusus, yang mengandung ketentuan –ketentuan hukum yang diakui
secara tegas oleh negara-negara yang bersangkutan. Berkenaan
dengan pasal tersebut, maka setiap negara yang mengadakan suatu
perjanjian harus menjunjung tinggi dan menaati ketentuan-ketentuan
di dalamnya. Ini disebabkan salah satu asas yang dipakai dalam
perjanjian internasional adalah asas “ pacta sunt serwanda”, yang
menyatakan bahwa setiap perjanjian yang telah dibuat harus ditaati
oleh pihak-pihak yang mengadakan.
Asas –asas perjanjian internasional
1. Pacta Sunt Servada, asas yang menyatakan bahwa setiap
perjanjian yang telah dibuat harus ditaati oleh pihak-pihak yang
mengadakannya
2. Egality Rights, yaitu asas yang menyatakan bahwa pihak yang
saling mengadakan hubungan /perjanjian internasional
mempunyai kedudukan yang sama.
3. Reciprositas, yaitu asas yang menyatakan bahwa tindakan
suatu Negara terhadap Negara lain dapat dibalas setimpal , baik
tindakan yang bersifat positif maupun negative.
4. Bonafides,yaitu asas yang menyatakan bahwa perjanjian yang
dilakukan harus didasari oleh itikad baik dari kedua belah pihak
agar dalam perjanjian tersebut tidak ada yang merasa dirugikan.
5. Courtesy, yaitu asas saling menghormati dan saling
menghormati kehormatan Negara.
6. Rebus Sig Stantibus, yaitu asas yang dapat digunakan
terhadap perubahan yang mendasar dalam keadaan yang
bertalian dengan perjanjian itu.
1. Perundingan (Negotiation)
Perundingan merupakan langkah awal dalam melakuka n suatu
bentuk perjanjian internasional, baik dilakukan oleh dua negara
maupun lebih,tidak dapat diselesaikan hanya dalam sekali
perundingan, tetapi harus melalui beberapa kali perundingan. Pada
tahap ini negera-negara peserta dapat menunjuk organ –organ
yang berkompeten untuk menghadiri perundingan. Menurut
ketentuan hukum internasional seseorang dapat dianggap mewakili
negaranya dengan sah apabila dapat menunjukkan Surat Kuasa
Penuh (full powers atau credentials), kecuali konferensi tidak
menentukan persyaratan itu. Kepala negara, Kepala pemerintaha
(Perdana Menteri) dan Menteri Luar Negeri tidak ada keharusan
untuk menunjukkan surat kuasa penuh, karena jabatannya sudah
dianggap mewakili negaranya, termasuk juga perwakilan
diplomatik.
2. Penandatanganan (Signature)
Tahap penandatanganan naskah perjanjian internasional itu, pada
umumnya dilakukan oleh Menteri Luar Negeri atau Duta Besar yang
telah ditunjuk oleh negaranya untuk mewakili pemerintahannya
masing-masing. Naskah perjanjian internas ional yang
ditandatangani pada tahap itu disebut Memorandum of Understanding
(MoU). Penandatanganan naskah perjanjian multilateral dapat
dilakukan bila telah disetujuiminimal 2/3 (dua pertiga) dari peserta yang hadir.
Penandatanganan dapat dilakukan oleh wakil-wakil bersurat kuasa penuh.
Dapat dinyatakan sambil menunggu ratifikasi dokumen yang sudah
ditandatangani berlaku sementara sejak penandatangan,dengan istilah good
faith, yaitu membebankan kewajiban kepada negara peserta penandatanganan
untuk membatasi tindakan-tindakannya menaati pokok-pokok isi
perjanjian, meskipun belum ada sanksi hukumnya.
3. Pengesahan (Ratification)
Setelah naskah perjanjian internasional ditandatangani, naskah di
bawa ke DPR untuk dipelajari dan dibahas bersama-sama dengan
pemerintah, tujuannya adalah untuk diketahui apakah perjanjian
internasional tersebut menguntungkan, baik dari segi kepentingan
nasional maupun kepentingan internasional. Jika dalam pembahasan
diketahui bahwa perjanjian internasional dapat merugikan kepentingan
nasional, DPR dapat menolak perjanjian internasional.
4.Ratifikasi (ratification)
Ratifikasi atau pengesahan merupakan tahap akhir dalam prosedur
pembuatan perjanjian internasional. Setelah diketahui bahwa naskah
perjanjian dapat menguntungkan kepentingan nasional atau kepentingan
internasional, DPR akan memberikan persetujuannya. Selanjutnya, naskah
perjanjian itu diajukan Kepada Negara atau Kepala Pemerintahan untuk
dirati fikasi. Naskah perjanjian internasional yang telah diratifikasi oleh Kepala
Negara atau Kepala Pemerintahan dapat berbentuk perjanjian bilateral atau
punperjanjian multilateral.
Tujuan ratifikasi yaitu untuk memberikan kesempatan kepada negara peserta guna
mengadakan pengamatan serta peninjauan secara seksama apakah negaranya dapat
diikat oleh perjanjian itu atau tidak.
Dalam praktek sistem ratifikasi ada beberapa macam, yaitu :
a). Sistem ratifikasi lembaga legislatif, artinya perjanjian baru mengikat setelah
disyahkan oleh lembaha legislatif. Contoh : Honduras, Turki, El -Salvador.
b). Sistem ratifikasi badan eksekutif , artinya perjanjian disyahkan secara sepihak
oleh pemerintah (kepala negara atau kepala pemerintahan). Sistem ini
dilaksanakan oleh pemerintahan otoriter.
c). Sistem gabungan, yaitu disyahkan oleh oleh badan legislatif dan eksekutif. Contoh
Amerika Serikat menggunakan sistem campuran, tetapi lebih menonjolkan badan
eksekutifnya. Perancis menggunakan sistem campuran yang menonjolkan badan
eksekutif
1. Duta Besar (Ambassador)
2. Duta (Gerzant)
3. Menteri Residen
4. Kuasa Usaha (Charge d’Affair)
5. Atase
SEKIAN DAN TERIMA KASIH