Anda di halaman 1dari 75

IMUNISASI

Oleh ;
Hj. Umi Kalsum, M.Kes
Iis Sugiarty, SST

D-III JURUSAN KEPERAWATAN


POLTEKKES KEMENKES KALTIM
2018
KEUNGGULAN PROGRAM IMUNISASI
DI INDONESIA :
- Metode tepat guna dalam menurunkan
morbiditas, kecacatan dan mortalitas
- Eradikasi penyakit
- Ruang lingkup :
1. Imunisasi dasar dan ulangan
2. Imunisasi wajib dan anjuran
3. Imunisasi yang bepergian
4. Imunisasi pasif dan aktif
DASAR PEMIKIRAN

Penyakit Infeksi :
- Masih berkecamuk di negara-negara
berkembang,
- Sebagai penyebab kematian tertinggi,

Di negara maju penyakit infeksi dapat ditekan


PERBAIKAN SOSEK & IMUNISASI PADA ANAK

AS → Terbukti bisa mereduksi hampir 100 % insiden


penyakit2 yg dpt dicegah dgn Imunisasi.
INDONESIA → Dapat menurunkan insiden penyakit yg
dapat di cegah dengan Imunisasi.
MANFAAT IMUNISASI DALAM MEMBERIKAN
KEKEBALAN TERGANTUNG DARI :
 Patogenesis
 Virulensi kuman (agen penyebab)
 Jenis vaksin yang tersedia

Tantangan masa depan 


menyediakan jenis vaksin yang tidak mempunyai efek samping

IMUNISASI → PENEMUAN BESAR DI DUNIA KEDOKTERAN


Saat ini kira-kira 3 juta anak terhindar dari kematian
Kira-kira 750.000 anak terhindar dari kecacatan  Berkat
Imunisasi
Imunisasi wajib pada anak, di dasari :

1. Mengatasi penyakit Endemik


2. Pengendalian KLB
3. Mengebalkan anak resiko tinggi
4. Mengebalkan anak yang akan bepergian
KEBIJAKAN UMUM
Bidang imunisasi
Meningkatkan jangkauan/aksesibilitas pelayanan 
Semua Puskesmas Pembantu memberikan pelayanan
imunisasi,
Screening secara ketat untuk menghindari ”Missed
Opportunity” (hilangnya kesempatan baik di
komponen pelayanan maupun di lapangan),
Efisiensi pelaksanaan program untuk menekan angka
drop out.
Menggunakan 1 jarum & syringe steril untuk tiap
suntikan,
Mengadakan supervisi dengan checklist secara rutin,
Penyuluhan diarahkan untuk menunjang program.
KONSEP ANTIGEN DAN ANTIBODY

 Dalam bidang imunologi → kuman atau racun


kuman (toksin) disebut Antigen.

 Antigen tersebut merupakan bagian protein


kuman atau protein racunnya.

 Bila antigen untuk pertama kalinya masuk ke


dalam tubuh manusia, maka sebagai
reaksinya tubuh akan membentuk Zat anti.
 Bila Antigen itu kuman → Zat anti yang di buat tubuh
disebut Anti Bodi.
Antibodi : Zat anti yang dibuat tubuh terhadap
antigen yang masuk.

 Bila antigen racun kuman → zat anti yang dibuat tubuh


disebut Antitoksin.
Anti toksin : Dapat berupa vaksin yang dapat langsung
menjadi racun terhadap kuman.

Vaksin : Kuman atau racun kuman yang


dimasukkan kedalam tubuh
bayi / anak yang disebut antigen.

”Berhasil tidaknya tubuh anak memusnahkan


Antigen atau kuman → tergantung pada jumlah
zat anti yang terbentuk”
Pada umumnya tubuh antigen yang kuat,
anak tidak mampu jenis kuman ganas/
melawan antigen yang virulen
kuat

tubuh anak baru kenal antigen yang masuk

Anak menjadi sakit bila terjangkit kuman ganas

Pertumbuhan Kecacatan Kematian


terganggu
IMUNISASI
• Asal kata : Imun : Kebal
Imunitas : Kekebalan
Imunisasi : Pengebalan
Imunisasi :
Suatu tindakan dengan cara memasukkan
(suntikan / peroral) zat tertentu kedalam tubuh,
dimana zat tersebut berasal dari kuman penyakit
atau racun kuman atau protein kuman yang telah
dilemahkan ataupun dimatikan, sehingga dapat
memberikan kekebalan tubuh terhadap suatu
penyakit t3, bereaksi terhadap zat tersebut dan
membuat zat anti.
JENIS VAKSIN

Vaksin : produk biologi yang berisi antigen


mikroorganisme / kuman atau racunnya yang
telah dilemahkan atau dimatikan.

Merangsang tubuh membuat antibodi

JENIS VAKSIN
Vaksin berisi, antara lain :
1. Kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan.
2. Zat racun kuman (toksin) yang diubah menjadi toksoid
3. Bagian kuman tertentu yang biasanya berupa protein
khusus (recombinan)
Jenis - jenis Vaksin
Vaksin Bakteri Vaksin Virus

• Campak
• BCG • Parotitis
Vaksin • OPV
• Rubela
Hidup • Yellow
• Varisela
Fever

• Difteria • Meningo • Influenza


Vaksin • Tetanus • Pneumo • IPV
Inaktif • Pertusis • Hib • Rabies
• Kolera • Typhim Vi • Hepatitis B
• Hepatitis A
JENIS VAKSIN YANG DIGUNAKAN DI
INDONESIA :

Vaksin yang terbuat dari kuman yang dimatikan :


1. Bakteri pertusis (batuk rejan) dalam DPT
2. Vaksin polio (jenis salk) dalam dengan cara disuntikkan (IPV)

Vaksin yang terbuat dari kuman hidup yang dilemahkan :


1. Vaksin Campak dari virus campak
2. Vaksin Polio (jenis sabin) dari virus polio OPV (Oral Polio
Vaksin)
3. Vaksin BCG dari kuman TBC

Vaksin yang terbuat dari racun / toksin yang dilemahkan : disebut toxoid
Ex ; Toxoid Tetanus (TT), difteria toxoid dalam DPT

Vaksin yang terbuat dari protein khusus kuman :


Vaksin Hepatitis B
IMUNISASI AKTIF DAN PASIF
IMUNISASI AKTIF
1. Pemberian berbagai jenis vaksin kepada anak.
2. Tubuh anak akan membuat sendiri zat anti setelah
serangkaian serangan Antigen dari luar tubuh 
anak menjadi imun/kebal.
3. Zat anti tsb akan bertahan selama bertahun - tahun.
a. IMMUNITAS AKTIF ALAMI
INFEKSI RINGAN / SUB KLINIS SAKIT RINGAN
SEMBUH SENDIRI TANPA TERAPI KEBAL (IMMUN)

b. IMMUNITAS AKTIF DIDAPAT


TUBUH ANAK SENGAJA DIBERI ANTIGEN (VAKSIN)
REAKSI IMUNOLOGI KEBAL ( IMMUN ).
IMUNISASI PASIF :
1. Imunisasi dilakukan dengan menyuntikan sejumlah zat
anti, sehingga kadarnya dalam darah meningkat.
2. Zat anti pembuatannya diluar tubuh anak.
3. Zat anti berupa serum kuda yang dimurnikan.
4. Zat anti bukan hasil produksi dari tubuh anak .
a. IMMUNITAS PASIF BAWAAN
 JANIN MENDAPATKAN ANTIBODY DALAM KANDUNGAN
MELALUI PLASENTA
 DALAM TUBUH BAYI + 5 BLN
 BERUPA GAMA GLOBULIN
b. IMMUNITAS PASIF DIDAPAT
 ANTIBODY DIDAPAT DARI LUAR TUBUH
 BERLANGSUNG PENDEK ( 2 – 3 MINGGU )
 UMUMNYA SERUM BINATANG
 CONTOH : PEMBERIAN ATS, ADS, SABU
PERBEDAAN TERPENTING
Untuk memperoleh kekebalan yang cukup, jumlah
zat anti dalam tubuh harus meningkat.

1. Pada imunisasi aktif diperlukan waktu yang


agak lebih lama untuk membuat zat anti itu
dibandingkan imunisasi pasif.

2. Kekebalan yang didapatkan pada imunisasi


aktif bertahan lebih lama (bertahun-tahun ),
sedangkan pada imunisasi pasif hanya
berlangsung untuk 1 - 2 bulan saja.
TUJUAN IMUNISASI

TUJUAN UMUM :
Menurunkan angka kesakitan (morbiditas) dan
angka kematian (mortalitas) dari penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi.

TUJUAN KHUSUS :
1. Memberikan kekebalan pada bayi dan anak
2 . Memberikan kekebalan pada ibu hamil agar
bayi yang akan dilahirkan tidak menderita
Tetanus Neonatorum
3. Apabila terjangkit penyakit, tidak akan terlalu
parah dan dapat mencegah gejala yang dapat
menimbulkan kecacatan atau kematian.

4. Tercapainya UCI (Universal Child Immunization)


 cakupan DPT -1 minimal 90% dan Polio -3/
Campak 80%, pada setiap :
 Provinsi pada akhir tahun 1992
 Kabupaten pada akhir tahun 1994
 Kecamatan pada akhir tahun 2000
5. Tercapainya eliminasi Tetanus Neonatorum
(insidens dibawah 1 per 10.000 kelahiran
hidup) di :
 Pulau Jawa dan Bali pada akhir pelita V (1992/1993)
 Di Indonesia (Nasional) pada tahun 2000
6. Tercapainya Eradikasi kasus Poliomyelitis :
 Di Pulau Jawa, Bali dan Sumatera pada akhir tahun
1992
 Eradikasi virus Polio diseluruh Nusantara pada
tahun 2000
7. Membasmi Penyakit yang dapat dicegah
dengan imunisasi
JENIS IMUNISASI
Sesuai Program Kesehatan tentang : Program Penggembangan
Imunisasi (PPI), maka anak diharuskan perlindungan terhadap
7 jenis penyakit utama yaitu :

Penyakit Vaksin
TBC BCG
Polio Polio Jenis Sabin / Salk
Difteri
Pertusis DPT
Tetanus
Campak Campak
Hepatitis B Hepatitis B
SEKIAN
DAN
TERIMA KASIH
Imunisasi yang di anjurkan :

- Tifus & Paratifus A-B-C


- Hepatitis A
- Penyakit MMR / Mumps, Measles, Rubella
- Penyakit Meningitis PCV
- Penyakit Ca. Servic → Virus : HPV
- Varicela
- Penyakit Diare Rotavirus
- Penyakit Influenza Flubio
- Dengue
Imunisasi masa depan :

 * Malaria
 * Penyakit kelamin
 * Penyakit Lepra
KONDISI YANG DAPAT MENIMBULKAN
KERUSAKAN VAKSIN

1. Panas merusak semua jenis vaksin


2. Sinar matahari terutama merusak vaksin
BCG dan Campak
3. Pembekuan dapat merusak vaksin yang
terbuat dari toksoid  DPT, TT & DT
4. Desinfektan / antiseptik  alkohol,
formalin, spiritus & detergen (sabun)
dapat merusak vaksin.
IMUNISASI WAJIB SESUAI PPI
1. VAKSIN BCG (Bacillus Calmette – Guerin)
 Memberi kekebalan aktif buatan terhadap TBC →
mengurangi TB meningitis , TB millier.
 Sangat populer, sulit terdeteksi dan sangat mudah
menular.
 Kandungan vaksin → bakteri hidup yang
dilemahkan dari biakan Bacillus Calmette Guerin
50.000 – 1 juta partikel / dosis.
 Diberikan 1x usia < 2 Bln (Depkes 0 – 12 Bln). Usia
> 2 Bln dianjurkan uji mantoux sebelum imunisasi
BCG.
 Booster pada usia 5 tahun dan 10 tahun.
 Kemasan berupa ampul 80 dosis bayi dengan
pelarut NACL 0,9 %.
 Secara fisik berupa vaksin kering tahan beku.
 Dosis 0,05 ml diberikan Intrakutan deltoid
kanan.
 Vaksin setelah dilarutkan mudah rusak bila kena
panas / sinar matahari.
 Setelah dilarutkan, dlm suhu 2 – 8ºC (bukan
freezer), hanya boleh 3 jam
 Kering : simpan dlm suhu 2 – 8ºC, lebih baik
dalam freezer
 Bila anak belum pernah mendapat BCG tapi ada
kontak TB (BTA+)→ beri INH profilaksis dulu →
sebaiknya rujuk ke dokter.
Kontra Indikasi BCG :

1.Pasien dengan Imunokompromis :


- Pasien leukimia
- Pengobatan steroid (Imunosupressan)
jangka panjang
- Pasien HIV / AIDS
2. Anak dengan gizi buruk.
3. Demam tinggi
4. Infeksi kulit yang luas
5. Pernah sakit Tuberkulosis
6. Wanita hamil
7. Test Tuberkulin > 5mm
Reaksi lokal
 1 – 2 minggu setelah penyuntikan → indurasi /
benjolan → ERITEMA → pustula → ulkus →
sembuh spontan
8 – 12 minggu → jaringan parut 4 – 8 mm.

Regional
 Pembesaran kelenjar aksila / servikal.
Konsistensi padat / tidak nyeri tekan, tidak
demam dan menghilang 3 – 6 Bln.
KIPI:
 PAPULA ( 2 – 3 MINGGU ) PUSTULA (4 – 6 MINGGU )
.......... SCAR ( CICATRIX ) ø 3 - 7 ml

 - ABSES SUB KUTAN (Abses Cold)


- LIMFADENITIS
- ULCUS YANG LAMA SEMBUH

PROTEKSI :
 MULAI 8 -12 MINGGU PASCA VAKSINASI
 DAYA LINDUNG HANYA 42 % (WHO 50-78%)
 70% TB BERAT MEMPUNYAI PARUT BCG
 DEWASA : BTA POSITIF  25 - 36% PERNAH BCG
2. VAKSIN DPT

 Memberikan kekebalan aktif dalam waktu


bersamaan → terhadap penyakit Difteria, Pertusis
dan Tetanus
 Imunisasi dasar setelah usia 2 Bln→ 3x pemberian
dgn interval 4 minggu.
 Vaksin diberikan secara Intra Musculer (IM) di
anterolateral paha, dosis 0,5 ml. kemasan flakon 5
ml. / 10 dosis.
 Booster → 1 tahun setelah DPT III usia 18 bln →
Program Pemerintah booster pada usia 5 - 6 thn,
dari kls I SD & kls VI SD.
 Secara fisik → cairan tidak berwarna, berkabut dan
sedikit endapan putih → rusak bila beku, terkena
panas, sinar matahari langsung.
 Dikocok sampai Homogen, jika ada gumpalan
jangan dipakai
 Disimpan dalam suhu kamar → tahan 4 hari
selebihnya disimpan di Refrigerator 2 – 8 °C jgn di
freezer. Kadaluarsa 2 Thn
 Vaksin berbentuk DPT, DtaP, DT, TT.
Kontra Indikasi :
 Pada anak demam > 38 °C
 Usia anak > 7 Thn
 Sakit berat (kelainan neurologis)
 Riwayat reaksi berat terhadap DPT sebelumnya →
panas , syok, kejang, penurunan kesadaran.
KIPI:
 Demam, nyeri, bengkak lokal, abses steril, syok
anafilaktik , kejang.
demam/nyeri → analgetik/antipiretik.
 Bila reaksi sebelumnya berlebihan → Imunisasi
berikutnya DTaP atau DT.
VAKSIN Jerap DT
 Memberikan kekebalan terhadap toxin yang dihasilkan oleh
kuman Difteria & Tetanus scr simultan pada anak-anak.
 Diberikan karena sesuatu ( tidak boleh / tidak perlu
imunisasi Pertusis ) , rekomendasi anak-anak usia < 7 thn.
 Cara pemberian dan dosis imunisasi sama dengan
pemberian DPT, dgn masa antara 4 – 6 minggu, suntikan
ketiga 6 bln kemudian
 Kemasan Flakon 25 ml / 50 dosis (buatan BF )
 Cairan berwarna putih susu, rusak apabila beku dan kena
sinar matahari langsung.
 Disimpan dalam lemari es suhu 2 – 8 °C, kadaluarsa 2
Thn.
Kontra Indikasi : → anak sakit parah / demam tinggi
K I P I : → demam ringan, pembengkakan
lokal di daerah suntikan 1 – 2 hari.
VAKSIN TETANUS TOXOID (TT)
 Memberi kekebalan aktif terhadap → Tetanus dan
Tetanus Neonatorum pada WUS.
 Khusus ATS → pencegahan (Imunisasi pasif) maupun
pengobatan.
 Pada imunisasi dasar bersamaan DPT / DT.
 Untuk WUS terdiri dr 2 dosis primer, dosis 0,5 ml secara
IM, interval 4 minggu, kemasan (BF) Flakon 5 cc / 10
dosis.
 Secara fisik cairan tidak berwarna, berkabut, dengan
sedikit endapan yang tidak tahan beku dan panas, di
simpan dalam suhu 2 – 8 °C, kadaluarsa 2 Thn.
Kontra Indikasi : pada anak sakit parah.
K I P I : kemerahan, bengkak dan rasa sakit pada
daerah suntikan, gatal, nyeri kepala
3. VAKSIN POLIOMIELITIS
 Polio = abu-abu, mielitis = sumsum  paralisis.
 Memberi kekebalan terhadap penyakit Poliomielitis.
 Ada 2 jenis vaksin mengandung virus Polio type I, II
dan III :
- Vaksin Salk (virus mati) disuntikan.
- Vaksin Sabin ( virus masih hidup ) dilemahkan dalam btk cairan
peroral diteteskan “drops” .
 Di negara lain dikenal “ Tetra Vaccinne” yang
mengandung empat jenis vaksin  kombinasi DPT + Polio
dengan cara disuntikan.
 Di Indonesia : Vaksin Sabin (OPV diberikan 2 tts
peroral = 0,1 ml) dengan interval 4 minggu sejak usia
baru lahir kemudian usia 2, 3 & 4 bulan.
 Booster usia 1,5 Thn & usia antara 5 atau 6 Thn.
(Pedoman Imunisasi di Indonesia edisi 3, IDAI 2011)
 Daya proteksi vaksin 95 – 100 % terhadap
penyakit Poliomielitis.
 Kemasan vaksin (BF) dari Pasteur – Marieux serum
dan vaksin Prancis  flacon dosis 10 cc dan 1
pipet.
 Secara fisik berupa cairan kemerahan jernih yang
cepat rusak bila kena panas atau cahaya matahari.
 Disimpan selama 6 bln pada suhu 2 – 8 °C,/
difreezer suhu -20 s/d -25 °C, masa kadaluarsa 2
Thn.
Kontra Indikasi :
 Pada anak dgn diare berat, infeksi berat,
defisiensi kekebalan tubuh / terapi
imunosupresan ; kortikosteroid dan kelainan
immunologis, kemoterapi.

KIPI:
 Jarang ada / hampir tidak ada.

 Pada bayi kadang ada berupa diare ringan.

 Kalau ada berupa kelumpuhan anggota gerak


seperti pada penyakit polio sebenarnya.
  Bila setelah di tetesi vaksin < 10 menit
anak muntah, anjurkan vaksin ulang hari
berikutnya.
4. VAKSIN CAMPAK ( MORBILI )

 Memberi kekebalan terhadap penyakit


Campak secara aktif.
 Mengandung virus Campak yang telah
dilemahkan
 Diberikan pada usia 9 - 11 Bln, kemudian
booster usia sekitar 5 – 7 Thn ( 2 kali )
 Vaksin di suntikan Subcutan dalam deltoid
kiri atas dosis 0,5 ml.
 Kemasan (BF) Flakon 10 dosis dan pelarut
Aquabides 5 ml karena kemasan beku kering.
Kemasan dalam bentuk kering tunggal atau
dalam kemasan kering kombinasi dengan
vaksin Gondongan / Bengok / MUMPS dan
Rubella / Campak Jerman. Atau dikenal vaksin
MMR (Measles – Mumps – Rubella).
Kemasan beku kering setelah dilarutkan tidak
tahan panas. Harus disimpan dalam pendingin
suhu 2 – 8 °C, harus dipakai dalam waktu 8 jam.
Bila suhu penyimpanan 2 – 8 °C, kadaluarsa 2
Thn. Untuk jangka panjang simpan dalam suhu
- 20 o C dan hindarkan dari sinar matahari dan
pelarutnya disimpan dalam tempat sejuk.
 K I P I : Demam, Ruam kulit, Diare, Konjungtivitis.

Kontra Indikasi
 Menurut WHO (1963) :
 Anak yang sakit parah.
 Menderita TBC tanpa pengobatan.
 Anak kurang gizi berat.
 Immuno Defisiensi
 Anak menderita atau sedang pengobatan
penyakit keganasan
 Pada wanita hamil
 Pengobatan Immunosupresif
 Alergi protein telur
 Hypersensitif terhadap Kanamisin dan Erythromisin.
5. VAKSIN HEPATITIS B (Hepatitis Serum)

 Memberi kekebalan aktif terhadap penyakit


Hepatitis B (Penyakit Lever)
 Imunisasi diberikan sedini mungkin segera
setelah bayi lahir < 12 jam.
 Kemudian dilanjutkan dgn interval 4 minggu dari
dosis pertama. Booster dapat diberikan 5 thn
setelah imunisasi dasar.
 Dosis 0,5 ml scr IM pada anak usia < 10 thn 
pada Musculus Deltoid (lengan) dan pada bayi di
daerah paha. Dosis 1ml untuk usia > 10 thn
 Bayi lahir dari Ibu HBsAG negatif diberikan 5 mcg
vaksin Plasma Derived. 1ml = 20 mcg.
 Bayi lahir dari Ibu HBsAG positif diberikan 0,5 cc
Hepatitis Immunoglobulin (HBIG) dalam waktu 12
jam setelah lahir dan  5 mcg vaksin recombinan
atau 10 mcg vaksin plasma derivat yang
disuntikkan pada sisi yang berlainan.
 Bayi lahir dari Ibu yang HBsAG tidak diketahui
diberikan 0,5 cc atau 10 mcg Vaksin Plasma
Derived.
 Imunisasi ulangan / Booster : 5 Thn kemudian, 
dianjurkan periksa kadar HBsAG.
 Vaksin disimpan dalam suhu 2-8 °C
 Daya proteksi vaksin terhadap Hepatitis B berkisar
94 - 96 %.
 Boleh diberikan kepada wanita hamil.
KIPI:
Lokal (nyeri tempat suntikan )
Sistemik :demam ringan, lesu, perasaan tidak enak Sal. Cerna
Kontra Indikasi : Pada anak sakit berat.

Cara Penularan Hepatitis :


 Melalui tusukan di kulit dan jaringan tubuh lainnya,
misal : melalui suntikan, tusukan anting, tato,
akupunctur, goresan luka, tindakan operasi,
perawatan gigi.
 Melalui pemindahan cairan tubuh, misal : melalui
ASI, bersenggama, berciuman, tindakan operasi.
 Melalui darah atau plasma waktu transfusi.
 Selama masa janin melalui plasenta  penularan
ini jarang terjadi.
6. HIB
 Imunisasi yang diberikan guna mencegah bakterimia,
pneumonia dan Meningitis bakteri. Imunisasi ini dilakukan
ketika bayi berusia 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan.
 Pada vaksin HIB terdapat sebuah vaksin kombinasi DPT
dan HIB yang memiliki daya imunogenitas yang tinggi
namun tidak akan mempengaruhi respon pada imun yang
lain.
 Bila anak Anda telah berusia 1-5 tahun dan belum pernah
mendapatkannya, imunisasi HIB ini hanya perlu diberikan 1
kali. Usia > 5 tahun dan belum pernah vaksin, maka
imunisasi ini tidak diperlukan lagi, karena penyakit ini
hanya menyerang anak-anak berusia dibawah 5 tahun.
IMUNISASI PILIHAN
1. PCV ( Pneumokokus Conjugate Vaccine )
Tujuannya adalah mencegah Streptokukus Pneumonia
yang bisa menyebabkan infeksi darah, infeksi telinga,
meningitis & pneumonia.
Bila bayi/anak Anda terlambat mendapatkannya, maka
jadwal imunisasi pneumokokusnya adalah sebagai
berikut :
Usia bayi/anak Jumlah dosis & interval Lanjutan
2 – 6 bulan 2 dosis, interval min 4 minggu ulangan 1 dosis, usia
2 bulan dr dosis ke 2
7 – 11 bulan 2 dosis, interval min 4 minggu ulangan 1 dosis, usia
12 – 24 bulan 2 dosis, interval min 4 minggu 2 bulan dr dosis ke 2
> 24 bulan 1 dosis
2. Rotavirus
 Imunisasi ini diberikan untuk mencegah infeksi
saluran pencernaan : diare yang berat. Ada dua
imunisasi Rotavirus yang terdapat di Indonesia :
1. Rotareq : diberikan 3 dosis, dosis pertama pada usia
2 bln, interval 4 -10 minggu dari dosis yang pertama
, maksimal diberikan pada usia 8 bulan
2. Rotarix : diberikan 2 dosis, dosis pertama pada usia
6-12 minggu, dengan interval 8 minggu (maksimal
pada usia 6 bulan)
Apabila bayi belum diimunisasi pada usia > 6-8 bulan,
maka imunisasi ini tidak perlu diberikan lagi.
3. INFLUENZA
 Imunisasi yang diberikan guna mencegah
timbulnya influenza pada anak & orang yang
beresiko tinggi
 Imunisasi ini diberikan pada anak berusia > 6
bulan hingga 2 tahun, boster 1 x setahun
 Pada anak usia < 9 thn diberikan 2x dengan
interval minimal 4 minggu
 Pada anak sehat usia 6 – 36 bln dosis 0,25 ml scr
IM di paha anterolateral. Usia > 36 bln diberikan
dengan dosis 0,50 ml scr IM di deltoid
4. VARISELA
 Untuk mencegah timbulnya virus varicella zoster atau
yang biasa disebut cacar air. Virus ini bisa menyerang
siapa saja baik anak-anak maupun orang dewasa.
 Pada pemberian vaksin ini, anak harus dalam keadaan
sehat, tidak demam, tidak defisiensi imun seluler.
 Imunisasi varisela diberikan hanya 1 kali pada anak
berusia > 1 tahun dosis 0,5 ml scr SC
 Anak usia > 13 tahun atau usia dewasa, imunisasi
diberikan 2 kali dengan jarak 4-8 minggu. Apabila
terlambat, imunisasi ini bisa diberikan kapan saja
bahkan hingga usia dewasa.
5. Vaksin Tipa ( Tifus, Paratifus A,B,C )
 Memberi kekebalan aktif terhadap penyakit Tifus dan
Paratifus.
 Vaksin mengandung bakteri Salmonella TYPHI dan
Salmonella Paratyphi A,B,C yang telah dimatikan .
 Imunisasi ini disarankan untuk anak usia 2 tahun, dan
diberikan 3 tahun sekali pada anak.
 Disuntikan dengan dosis 0,5 ml secara IM / SC
daerah deltoid / paha
KIPI:
 Jarang ada efek samping. Bisa berupa demam setelah satu
hari vaksin diberikan selama satu sampai tiga hari 
Antipiretik + kompres.
 Nyeri Lokal dan bengkak daerah suntikan + nyeri
pergerakan.
 Menggigil setelah 1 jam di beri vaksin  hilang setelah 15
menit.
 Penyuntikan subdermal (bawah kulit) lebih ringan.
Kontra Indikasi :
 Pada demam tinggi dan sakit parah.
 Wanita hamil  Abortus , prematur.
 Penderita jantung dan ginjal
6. HEPATITIS A
 Imunisasi hepatitis A adalah imunisasi yang
dapat diberikan pada anak usia ≥2 tahun,
terutama di daerah endemis, anak usia 2-3 thn di
TPA, SLB
 Imunisasi yang akan diberikan dapat mencegah
timbulnya peradangan pada hati anak.
 Pemberian vaksinasi ini dilakukan dua kali,
dengan interval antara suntikan pertama dan
kedua 6 - 12 bulan.
7. Human Papilloma Virus (HPV)
 Diberikan sejak anak berusia 10 tahun, dan terbaik
diberikan sebelum anak menikah / berhubungan
seksual pertama kali. Imunisasi ini diberikan 3
dosis 0,5 ml IM deltoid yaitu bulan ke 0,1,6 bulan
(Cervarix) atau bulan ke 0,2,6 bulan (Gardasil).
 Imunisasi sebaiknya telah dilengkapi pemberiannya
pada masa remaja, shg saat anak beranjak remaja
akhir dan dewasa, tubuhnya telah memiliki semua
perlindungan yang diperlukannya terhadap risiko
tinggi kanker leher rahim.
8. Vaksin MMR
 Mendapat kekebalan aktif terhadap penyakit
Campak, Parotitis / gondongan & Campak Jerman
 Vaksin berasal dari virus hidup yang dilemahkan,
dosis 0,5 ml scr IM / SC dalam
 Diberikan pada usia 15 bln & 5 thn dan calon Ibu
minimal 3 bulan sebelum hamil  vaksin cukup satu
kali mencegah CRS
 Wanita hamil ada kontak dengan penderita rubella 
imunisasi pasif  Imunne serum globulin (zat anti
virus rubella )  dalam waktu 7 – 8 hari setelah
kontak  hasil masih diragukan  sebaiknya
menghindari kontak .
 Daya proteksi vaksin sebesar 99 %
Campak dapat menyebabkan komplikasi yang serius seperti
radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis),
kebutaan, gizi buruk dan bahkan kematian.
Rubella biasanya berupa penyakit ringan pada anak, tetapi
bila menulari ibu hamil pada trimester pertama dapat
menyebabkan keguguran atau kecacatan pada bayi yang
dilahirkan
Kecacatan pada bayi tersebut dikenal sebagai sindroma
rubella kongenital (CRS) yang meliputi kelainan pada
jantung dan mata, ketulian dan keterlambatan
perkembangan.
Jika usia anak > 6 tahun dan belum di vaksin, berikan
imunisasi campak/MMR kapan saja. Pada prinsipnya,
berikan imunisasi campak 2 kali ATAU MMR 2 kali.
K I P I  jarang ada efek samping.
 Reaksi ringan  kenaikan suhu, kemerahan
kulit, nyeri kepala dan pembengkakan pada
daerah suntikan.
 Wanita dewasa 2 – 4 minggu post vaksin
terdapat rasa pegal dan nyeri sendi.

Kontra Indikasi :
- Sama sekali pada wanita hamil dan jangan
hamil minimal 3 bln setelah di vaksin.
- Pada keadaan sakit parah, keganasan, defisiensi
imun, pengobatan penyakit keganasan.
9. Japanese Enchepalitis
 Vaksin diberikan secara serial dosis 1 ml scr SC
pada hari 0, 7 dan ke 28
 Anak usia 1-3 thn diberikan dosis 0,5 ml dgn
jdwl yg sama
 Vaksin ini di introduksi di Bali sebagai daerah “
Endemis ” nyamuk Culex yang merupakan
vektor penyebab dari radang otak.
 Dilanjutkan di Manado tahun 2019
 Boster diberikan 1 – 2 thn berikutnya.
10. Dengue / demam berdarah

 Vaksin ini terdiri dari 4 serotipe Dengue 1,2,3 dan 4


 Terdiri dari powder & pelarut, dosis 0,5 ml scr SC
pada lengan
 Diberikan pada usia 9 – 16 tahun dengan jadwal 0,6
dan 12 bln
Vaksin Yang Di anjurkan :

1. Rabies.
 Memberi kekebalan aktif terhadap penyakit anjing
gila.
 Vaksin mengandung virus rabies yang dimatikan.
 Kemasan vaksin cair dibuat memakai otak kera dan
kemasan kering dibuat memakai otak mencit.
 Pemberian imunisasi 2 cara :
- Sebelum gigitan hewan  imunisasi aktif dengan
penyuntikan vaksin setiap 3 – 4 minggu sebanyak
tiga kali  revaksinasi sekali setahun.
- Setelah gigitan hewan  imunisasi biasa +
pengobatan yaitu pemberian serum anti rabies +
virus anti rabies.
Vaksin BCG

Mencegah
Tuberkulosa
Untuk bayi usia 0-2 bulan

Komposisi :
Setiap 1 ml yang telah dilarutkan dalam 4 ml pelarut,
mgd : Basil BCG hidup 0,375 mg
Kemasan :
Box@5 ampul vaksin + Box@ 5 ampul 4 ml pelarut
Diberikan secara intrakutan

59
Hepatitis B Rekombinan Uniject 0,5 ml
Mencegah
Penyakit Hep.B
Untuk bayi usia 0 bulan/
0 -1 - 6 bulan
.

 Diberikan 1 x pada waktu bayi baru lahir, dosis berikutnya diberikan dalam bentuk DTP-HB
Atau jika diberikan tunggal, jadwal : 0-1-6 bulan atau 0-1-2 bulan secara IM
Vaksin DTP
Komposisi :
Tiap dosis (0.5 ml) mengandung :
Toksoid Difteri yang dimurnikan……….20
Lf Toksoid tetanus yang
dimurnikan……..7.5 Lf Bordetela pertussis
inaktivasi…………12 OU Aluminium
fosfat…………………………1.5 mg
Thimerosal……………………………….0.0
5 mg

Mencegah Difteri, Tetanus, Pertusis


Untuk Usia 2,3,4 bulan/ 2,4,6 bulan
Maksimal usia 5 tahun

Kemasan : Vial 5 ml (10 dosis)


Vaksin DTP – HB 5

Mencegah Difteri,Tetanus,
Pertusis, Hep.B
Diberikan usia 2,3,4 bulan

Komposisi :
Tap dosis (0,5 ml) mengandung :
Toksoid difteri yang dimurnikan 20 Lf
Toksoid tetanus yang dimurnikan 7,5 Lf
B. pertussis yang diinaktivasi 12 OU
HBsAg 5 mcg
Aluminium fosfat 1,5 mg
Thimerosal 0,05 mg

Kemasan :
DTP-HB 5 g : Vial 2,5 ml (5 dosis)
Vaksin Oral Polio
Mencegah P o l i o m y e l i t i s
Diberikan usia 0,2,3,4 bulan

Komposisi (per 0.1 ml) :


Virus Poliomyelitis strain Sabin tipe 1 ≥ 10 6.0 CCID 50, tipe 2 ≥ 10 5.0 CCID 50 ,
tipe 3 ≥ 10 5.8 CCID 50 Eritromisin ≤ 2 mcg, Kanamisin ≤ 10 mcg, Sukrosa

Kemasan : Clinical Trial, 2006 :


Vial 1 ml (10 dosis) + dropper Seroproteksi tipe 1 = 98,30%,
Vial 2 ml (20 dosis) + dropper tipe 2 =98,50%
tipe 3 = 90,20%
2 tetes (0,1 ml)
Per Oral
Vaksin Campak
Diberikan usia 9 bulan

Mencegah
Penyakit Campak Tiap dosis (0.5 ml), mengandung :
Virus Campak strain CAM 70 > 1.000 CCID50
Kanamycin sulfat < 100 mcg,
Erithromycin < 30 mcg
Kemasan :
Vial 5 ml (10 dosis) &
Vial 10 ml (20 dosis)
Clinical Trial, 2002 pada saat PIN :
Seroproteksi 100 %
Serokonversi 98 %
Diberikan secara Subkutan
Vaksin DT ( Difteri Tetanus )

Mencegah Difteri & Tetanus


Untuk usia dibawah 7 tahun
Komposisi :
Tiap dosis (0.5 ml) mengandung : Kemasan :
Toksoid difteri yang dimurnikan 20 Lf
Toksoid tetanus yang dimurnikan 7.5 Lf
• Vial 5 ml (10 dosis)
Aluminium fosfat 1.5 mg
Thimerosal 0,05 mg
Vaksin TT ( Tetanus Toksoid )

Mencegah
Tetanus

Untuk Wanita Usia Subur, Calon Pengantin, Wanita Hamil, &


bersamaan dengan ATS saat luka
Komposisi Tiap Dosis (0.5 ml) mengandung :
Toksoid Tetanus yang dimurnikan 10 Lf
Aluminium Fosfat 1.5 mg
Thimerosal 0.05 mg
Kemasan Vial 5 ml (10 dosis)
PEMBERIAN :
SASARAN (Usia 15-39 tahun) VAKSIN
Wanita Hamil TT
Calon Pengantin TT 2- 5 dosis TT
Wanita Usia Subur TT

Sasaran Vaksin
Siswa Sekolah Dasar :
Kelas 1 DT
Kelas 2 TT/Td
Kelas 3 TT/Td

68
Hepatitis B Rekombinan Uniject 1 ml

Komposisi :
Setiap 1 ml mengandung
HBsAg 20 mcg
Aluminium Fosfat 0,5 mg
Thimerosal 0,01 % w/v
.

Kemasan : dus @100 pouch @uniject 1 ml

Mencegah Penyakit
Hepatitis B
Untuk Dewasa &
Anak diatas 10 tahun
Jadwal : 0-1-2 bulan, 0-1-6 bulan, 0-7-21 hari*
Flubio ®
Vaksin INFLUENZA HA

Mencegah Influenza
Diberikan 1 tahun sekali
Usia 12 tahun keatas

Tiap Dosis (0,5 ml) mengandung :


A/California/7/2009 (H1N1) 15 µg HA
Kemasan :
A/Victoria/210/2009 (H3N2) 15 µg HA
Dus @ 2 vial @ 0,5 ml (1 dosis)
B/Brisbane/60/2008 15 µg HA
Thimerosal 4 µg
Pentabio
Vaksin DTP-HB-Hib
Akan release

Mencegah Difteri, Tetanus, Pertusis,


Hep.B, Haemophillus Influenzae tipe b
Untuk Bayi Usia 2,3,4 Bulan
Komposisi :
Tiap dosis (0,5 ml) mengandung :
• Toksoid Difteri Murni ≥ 30 IU
• Toksoid Tetanus Murni ≥ 60 IU
• B . pertusis (inaktif) ≥ 4 IU
• HBsAg 10 µg
• Hib (PRP-TT) 10 µg
71
Persyaratan penggunaan vial multidose
yang sudah dibuka (WHO/V&B/00.09) :

 Tidak melewati tanggal kadaluarsa


 Vaksin disimpan dalam kondisi cold chain yang tepat
 Tutup vial belum tercelup kedalam air
 Semua dosis diambil secara aseptis
 Vaccine Vial Monitor (VVM), jika berubah tidak mencapai
discard point

Ok to Use Do Not Use Do Not Use


THANK YOU