Anda di halaman 1dari 43

MANAJEMEN ANESTESI

ENDOTRACHEAL UMUM
DENGAN GENERAL
ANESTHESIA (GETA) PADA
PASIEN DENGAN
ODONTECTOMY

Oleh :
Silvia Greis

Pembimbing Klinik:

dr. Faridnan, Sp.An

BAGIAN ANESTESIOLOGI DAN


REANIMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
RS Undata Palu
PENDAHULUAN
Anestesiologi dan reanimasi adalah cabang ilmu
kedokteran yang mempelajari tatalaksana untuk
mematikan rasa, baik rasa nyeri, takut, dan rasa
tidak nyaman serta tatalaksana untuk menjaga dan
mempertahankan hidup dan kehidupan pasien selama
mengalami kematian akibat obat anestesi

Anestesi umum adalah suatu tindakan yang membuat


pasien tidak sadar secara sentral selama prosedur medis,
sehingga pasien tidak merasakan atau mengingat apa
pun yang terjadi.
TINJAUAN PUSTAKA
 Gigi impaksi adalah gigi dimana jalan erupsi
normalnya terhalang atau terblokir, biasanya oleh
gigi di dekatnya atau jaringan patologis.

 Gigi
molar tiga adalah gigi yang paling akhir erupsi
dalam rongga mulut, yaitu pada usia 18-24 tahun.

 Odontektomi adalah tindakan mengeluarkan gigi


secara bedah, diawali dengan pembuatan
flapmu-koperiosteal, diikuti dengan pengambilan
tulang undercut yang menghalangi pengeluaran
gigi tersebut.
 Odontektomiadalah tindakan mengeluarkan
gigi secara bedah, diawali dengan
pembuatan flapmu-koperiosteal, diikuti
dengan pengambilan tulang undercut yang
menghalangi pengeluaran gigi tersebut.

 Prosedur odentektomi dapat dilakukan


dengan dua cara yaitu dikeluarkan secara
utuh dan secara separasi
Persiapan Pra Anastesi

 Mempersiapkan mental dan fisik secara optimal.


 Merencanakan dan memilih teknik serta obat-
obat anestesi yang sesuai dengan fisik dan
kehendak pasien.
 Menentukan status fisik dengan klasifikasi ASA
(American Society Anesthesiology)(Muhardi,
1989):
 ASA I : Pasien normal sehat, kelainan bedah
terlokalisir, tanpa kelainan faali, biokimiawi, dan psikiatris.
Angka mortalitas 2%.
 ASA II : Pasien dengan gangguan sistemik ringan
sampai dengan sedang sebagai akibat kelainan bedah
atau proses patofisiologis. Angka mortalitas 16%.
 ASA III : Pasien dengan gangguan sistemik berat
sehingga aktivitas harian terbatas. Angka mortalitas
38%.
 ASA IV : Pasien dengan gangguan sistemik berat
yang mengancam jiwa, tidak selalu sembuh dengan
operasi. Misal : insufisiensi fungsi organ, angina menetap.
Angka mortalitas 68%.
 ASA V : Pasien dengan kemungkinan hidup kecil.
Tindakan operasi hampir tak ada harapan. Tidak
diharapkan hidup dalam 24 jam tanpa operasi /
dengan operasi. Angka mortalitas 98%.
 Untuk operasi cito, ASA ditambah huruf E (Emergency)
tanda darurat (Muhardi, 1989).
Premedikasi
 Memberikan rasa nyaman bagi pasien, misal :
diazepam.
 Menghilangkan rasa khawatir, misal : diazepam
 Membuat amnesia, misal : diazepam, midazolam
 Memberikan analgesia, misal pethidin
 Mencegah muntah, misal : ondancentron,
droperidol, metoklopropamid
 Memperlancar induksi, misal : pethidin
 Mengurangi jumlah obat-obat anesthesia, misal
pethidin
 Menekan reflek-reflek yang tidak diinginkan, misal :
sulfas atropin.
 Mengurangi sekresi, misal : sulfas atropin dan hiosin
Anestesi Umum Endotracheal
 Anestesi umum menggunakan cara melalui
intravena dan secara inhalasi untuk
memungkinkan akses bedah yang memadai
ke tempat dimana akan dilakukan operasi.
 Tahap awal dari anestesi umum adalah
induksi. Yang merupakan peralihan dari
keadaan sadar dengan reflek perlindungan
masih utuh sampai dengan hilangnya
kesadaran
 Tindakan pembedahan terutama yang
memerlukan anastesi umum diperlukan teknik
intubasi, baik intubasi endotrakeal maupun
nasotrakeal.
Indikasi intubasi endotrakeal adalah sebagai berikut :

 Keadaan oksigenasi yang tidak adekuat yang tidak dapat dikoreksi


dengan pemberian suplai oksigen melalui masker nasal.
 Keadaan ventilasi yang tidak adekuat karena meningkatnya tekanan
karbondioksida di arteri.
 Sebagai proteksi terhadap pasien dengan keadaan yang gawat atau
pasien dengan refleks akibat sumbatan yang terjadi.
 Operasi-operasi di daerah kepala, leher, mulut, hidung dan
tenggorokan
 Pada banyak operasi abdominal, untuk menjamin pernafasan yang
tenang dan tidak ada ketegangan.
 Operasi intra-torachal, agar jalan nafas selalu paten, suction dilakukan
dengan mudah, memudahkan respiration control dan mempermudah
pengontrolan tekanan intra pulmonal.
 Untuk mencegah kontaminasi trachea, misalnya pada obstruksi
intestinal.
 Pada pasien yang mudah timbul laringospasme.
Kontra indikasi intubasi endotrakheal antara lain :

 Beberapa keadaan trauma jalan nafas atau


obstruksi yang tidak memungkinkan untuk
dilakukannya intubasi. Tindakan yang harus
dilakukan adalah cricothyrotomy pada
beberapa kasus.

 Trauma servikal yang memerlukan keadaan


imobilisasi tulang vertebra servical, sehingga
sangat sulit untuk dilakukan intubasi.
 Dalam prediksi kesulitan intubasi sering di pakai 8T
yaitu : Teeth, Tongue, Temporo mandibula joint,
Tonsil, Torticolis, Tiroid notch/TMD, Tumor, Trakea.

 Sebelum mengerjakan intubasi endotrakea,


peralatan yang harus disiapkan adalah STATICS,
yaitu S (Scope, laringoskop, steteskop), T(Tube,
pipa endotrakeal), A (Airway tube,pipa orofaring
/ nasofaring), T (Tape, plester), I (Introducer, stilet,
mandren), C (Connector, sambungan-
sambungan), S (Suction, penghisap lendir).
 Ukuran pipa trakea
Usia Diameter (mm) Skala French Jarak Sampai Bibir

Prematur 2,0-2,5 10 10 cm

Neonatus 2,5-3,5 12 11cm

1-6 bulan 3,0-4,0 14 11 cm

½-1 tahun 3,0-3,5 16 12 cm

1-4 tahun 4,0-4,5 18 13 cm

4-6 tahun 4,5-,50 20 14 cm

6-8 tahun 5,0-5,5* 22 15-16 cm

8-10 tahun 5,5-6,0* 24 16-17 cm

10-12 tahun 6,0-6,5* 26 17-18 cm

12-14 tahun 6,5-7,0 28-30 18-22 cm

Dewasa wanita 6,5-8,5 28-30 20-24 cm

Dewasa pria 7,5-10 32-34 20-24 cm


 Induksianestesia dan intubasi endotrakea sering
menimbulkan goncangan hemodinamik pada
pasien hipertensi
 Saat induksi sering terjadi hipotensi namun saat
intubasi sering menimbulkan hipertensi.
 Hipotensi diakibatkan vasodilatasi perifer akibat
depresi sirkulasi
 Hipertensi biasanya diakibatkan stimulus nyeri
karena laringoskopi dan intubasi endotrakea
yang bisa menyebabkan takikardia dan dapat
menyebabkan iskemia miokard.
Beberapa teknik dibawah ini bisa dilakukan sebelum
tindakan laringoskopi-intubasi untuk menghindari
terjadinya hipertensi.
 Dalamkan anestesia dengan menggunakan gas
volatile yang poten selama 5-10 menit.
 Berikan opioid (fentanil 2,5-5 mikrogram/kgbb,
alfentanil 15-25 mikrogram/kgbb, sufentanil 0,25- 0,5
mikrogram/kgbb, atau ramifentanil 0,5-1 mikrogram/
kgbb).
 Berikan lidokain 1,5 mg/kgbb intravena atau
intratrakea.
 Menggunakan beta-adrenergik blockade dengan
esmolol 0,3-1,5 mg/kgbb, propanolol 1-3 mg, atau
labetatol 5-20 mg).
 Menggunakan anestesia topikal pada airway.
BAB III
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
 Nama : Ny. AIF
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Usia : 25 tahun
 Agama : Islam
 Pekerjaan : Karyawan swasta
 Alamat : Jl. Dewi Sartika
ANAMNESIS
 Keluhan Utama : Sakit pada gusi
 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan sakit pada gusi kiri dan
kanan yang dialami sudah kurang lebih sudah 6 bulan yang
lalu, sakit pada gusi memberat beberapa 2 bulan terakhir.
Pasien mengaku sulit untuk makan. Demam (-), sakit
kepala (-), batuk (-). BAB biasa.
 Riwayat Penyakit Dahulu : riwayat alergi (-), riwayat
HT (-), riwayat DM (-), riwayat pembedahan dan
anastesi (-)
 Riwayat Penyakit Keluarga : -
PEMERIKSAAN FISIK
 Keadaan Umum : Tampak Sakit Sedang
 Kesadaran : Composmentis
 BB : 50 Kg
 Tinggi badan : 155 cm
 B1 (Breath)
 Airway bebas, gurgling/snoring/crowing:-/-/-, RR: 24 x/menit,
Mallampati: 2, JMH: 6 cm, Riwayat asma (-) alergi (+), batuk (-),
sesak (-) leher pendek (-), pergerakan leher bebas, tonsil (T1-
T1), faring hiperemis (-), pernapasan bronkovesikular (+/+), suara
pernapasan tambahan ronchi (-/-), wheezing (-/-)
 B2 (Blood)
 Akral hangat,TD : 110/70 mmHg, HR : 88x/menit irama reguler,
CRT < 2 detik. masalah pada sistem cardiovaskuler (-).
 B3 (Brain)
 Kesadaran compos mentis, Pupil: isokor Ø 3 mm/3mm,
RefleksCahaya +/+

 .
 B4 (Bladder)
 BAK lancar, produksi kesan normal, warna kunig
jernih, frekuensi 5-6 kali sehari
 B5 (Bowel)
 Keluhan mual (-), muntah (-). Abdomen: Inspeksi
tampak cembung, kesan normal, Auskultasiperistaltik
(+), kesan normal, Palpasitidak ada nyeri tekan, tidak
teraba massa, Perkusi tympani (+) pada seluruh
lapang abdomen.
 B6 Back & Bone
 Nyeri (-), krepitasi (-) morbilitas (-), ekstremitas
deformitas (-)
HASIL LAB
Hasil UNIT Normal
Range
WBC 7,56 10 3 / uL 4.8 – 10. 8
RBC 4, 77 10 6 / uL 4.7– 6.1
HB 13,1 g / dl 14– 18
HCT 38,9 % 37 – 47
PLT 255 10 3 / uL 150-450
Clotting time 6 menit 4-12 menit
Bleeding time 2 menit 30 1-4 menit
detik
Hasil UNIT Normal
Range
Glukosa 87,3 mg/dl 80 – 199
sewaktu
Creatinin 0,52 mg/dl 0.50 – 0,9
Urea 20.4 mg / dl 15.0 – 43.0
SGOT 15,9 U/L 0 – 31
SGPT 14,9 U/L 0 – 41
HbsAg Non reaktif Non reaktif
 1. Radiologi
 Foto Panorama
 Impaksi gigi 38|48
 Caries gigi 16|25
RESUME
Pasien perempuan usia 25 masuk RS dengan keluhan keluhan sakit
pada gusi kiri dan kanan yang dialami sudah kurang lebih sudah 6
bulan yang lalu, sakit pada gusi memberat beberapa 2 bulan terakhir.
Pasien mengaku sulit untuk makan.
 Pemeriksaan fisik
 B1 (Breath)
 Airway bebas, gurgling/snoring/crowing:-/-/-, RR: 24 x/menit, Mallampati: 2
 B2 (Blood)
 Akral hangat,TD : 110/70 mmHg, HR : 88x/menit irama reguler, CRT < 2 detik
 B3 (Brain)
 Kesadaran compos mentis, Pupil: isokor Ø 3 mm/3mm, Refleks Cahaya +/+
 B4 (Bladder)
 BAK lancar, produksi kesan normal, warna kunig jernih, frekuensi 5-6 kali sehari
 B5 (Bowel)
 Keluhan mual (-), muntah (-). Abdomen: Inspeksi tampak cembung, kesan normal,
Auskultasiperistaltik (+), kesan normal, Palpasitidak ada nyeri tekan, tidak teraba massa,
Perkusi tympani (+) pada seluruh lapang abdomen.
 B6 Back & Bone
Nyeri (-), krepitasi (-) morbilitas (-), ekstremitas deformitas (-)
 DIAGNOSIS BEDAH
Impaksi gigi Molar 38 48

 PENATALAKSANAAN

Odontektomi
 KESIMPULAN
 Pasien termasuk kategori PS ASA kelas I.

 RENCANA ANESTESI
 General Endotracheal Anesthesi (GETA)
Pre-operatif
 Di Ruangan
 Surat persetujuan operasi dan Surat persetujuan
tindakan anestesi.
 Puasa 8 jam pre operasi
 Antibiotic profilaksis: Ceftriaxon1gr/iv 1 jam
sebelum operasi
 Di Kamar Operasi
 Meja operasi dengan asesoris yang diperlukan
 Mesin anestesi dengan sistem aliran gasnya
 Alat-alat resusitasi (STATICS)
 Obat-obat anestesia yang diperlukan.
 Obat-obat resusitasi, misalnya; adrenalin, atropine,
aminofilin, natrium bikarbonat dan lain-lainnya.
 Tiang infus, plaster dan lain-lainnya.
 Alat pantau tekanan darah, suhu tubuh, dan EKG
dipasang.
 Alat-alat pantau yang lain dipasang sesuai dengan
indikasi, misalnya; “Pulse Oxymeter”
 Kartu catatan medic anestesia.
Tabel Komponen STATICS
S Scope Stetoscope untuk mendengarkan suara paru dan jantung.
Laringo-Scope: pilih bilah atau daun (blade) yang sesuai dengan usia pasien.
Lampu harus cukup terang.

T Tubes Pipa trakea, pilih sesuai ukuran pasien


A Airways Pipa mulut-faring (Guedel, orotracheal airway) atau pipa hidung-faring (nasi-
tracheal airway). Pipa ini menahan lidah saat pasien tidak sadar untuk
mengelakkan sumbatan jalan napas.

T Tapes Plaster untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau tercabut.

I Introducer Mandarin atau stilet dari kawat dibungkus plastic (kabel) yang mudah
dibengkokkan untuk pemandu supaya pipa trakea mudah dimasukkan. Pada
pasien ini tidak digunakan introducel atau stilet.

C Connector Penyambung antara pipa dan peralatan anastesia.

S Suction Penyedot lendir, ludah dan lain-lainnya.


 PROSEDUR GENERAL ANESTESI

 Pasien di posisikan supinasi, infus terpasang di tangan kanan


dengan cairan RL 18 tpm
 Memasang monitor untuk melihat tekanan darah, heart rate,
saturasi oksigen dan laju respirasi.
 Diberikan obat premedikasi yaitu Midazolam 1mg/iv, Fentanyl
70 µg/iv, dexamethason 5 mg/iv, ondancentron 4 mg/iv dan
obat prabedah asam tranexamat 250 mg/iv
 Diberikan obat induksi yaitu propofol 100 mg/iv
 Memposisikan leher sedikit fleksi dan kepala ekstensi pada leher
 Memberikan oksigenasi kepada pasien melalui masker yang
melekat pada wajah dengan aliran 5-8 lpm selama 3-5 menit
 Memberikan obat relaksan yaitu Tramus 25 mg/iv tunggu 3-5
menit.
 Melakukan intubasi trachea dengan memasukan laringoskop
secara lembut hingga pita suara sudah terlihat
 Masukkan pipa ET dari sebelah kanan mulut ke faring sampai
bagian proksimal dari cuff ET melewati pita suara ± 1 –2 cm
atau pada orang dewasa atau kedalaman pipa ET ±19 -23 cm
 Angkat laringoskop dan stilet pipa ET dan isi
balon dengan udara 5 –10 ml. Waktu intubasi tidak
boleh lebih dari 30 detik.
 Hubungan pipa ET dengan ambubag dan lakukan
ventilasi sambil melakukan auskultasi ( asisten),
pertama pada lambung, kemudian pada paru
kanan dan kiri sambil memperhatikan
pengembangan dada.
 Setelah bunyi nafas optimal dicapai, kembangkan
balon cuff dengan menggunakan spuit 10 cc.
 Lakukan fiksasi pipa dengan plester agar tak terdorong
atau tercabut
 Maintenance selama operasi diberikan:
 O2 5-10 lpm via Endo Trachea Tube (ETT)
 Sefoflurans vol 3 %
 Operasi selesai, pasien bernafas spontan, adekuat dan
hemodinamik stabil. Dilakukan ekstubasi dengan pasien
dalam keadaan sadar
 Diberikan ketorolak 30 mg/iv
 Pasien di transfer ke recovery room.
 PERHITUNGAN CAIRAN
Input yang diperlukan selama operasi
Cairan Maintanance (M) :
 Cairan tubuh yang dibutuhkan tubuh : 30 – 50
cc /Kg/BB/24 Jam. Untuk perempuan kisaran
yang digunakan : 40 cc/Kg/BB/24 Jam
 Pada kasus BB = 40 x 50 Kg = 1.750 cc / 24 Jam
Sehingga cairan yang dibutuhkan adalah 72,91 ml
/ jam
 Karna odontectomy merupakan operasi ringan
maka, balance cairan untuk stress operasi adalah
: 4cc x BB = 4 x 50 = 200 ml/jam
 Cairan defisit darah selama 50 menit 50 ml
Total kebutuhan cairan selama 50 menit operasi =
72,91 + 200 + 50 = 322,91 ml
 Cairan masuk :
Kristaloid : 900 ml
Whole blood : -
Total cairan masuk : 900 ml
 Estimasi Blood Volume
EBV = 65 x BB = 65 x 50 Kg
EBV = 3.250 cc
MABL = Maximal Alowed Blood Lose
 MABL = [EBV x (Hi-Hf)]/Hi
= [3.250 ml x ( 38,9-30 ) /38,9 = 741 ml
Grafik Pengamatan Tanda-Tanda Vital Intra Operatif
160

140

120

100
Sistol (mmHg)
Diastol (mmHg)
80
Denyut Nadi (x/menit)
Durasi Anestesi
60 Durasi Operasi

40

20

0
9:50 9:55 10:00 10:05 10:10 10:15 10:20 10:25 10:30 10:35 10:40 10:45 10:50 10:55 11:00

Lama anestesi: 1 jam lebih 5 menit


Lama operasi: 50 menit
 POST OPERATIF
Tekanan darah 130/90 mmHg, nadi 86
x/menit, pernapasan 22 x/menit, Glasgow
coma scale E4V5M6.

 Skor Pemulihan Pasca Anestesi


Aldrette score
 Pergerakan: gerak bertujuan 2
 Pernafasan: teratur 2
 Warna kulit: merah muda 2
 Tekanan darah: berubah sekitar 20% 2
 Kesadaran: sadar penuh 2
 Skor Aldrette 10
PEMBAHASAN
 Pasien digolongkan sebagai ASA I karena pada
pasien ini tidak dijumpai adanya faktor komorbid
seperti penyakit sistemik, metabolik dan riwayat
penyakit alergi selain penyakit yang akan dioperasi
dan tidak ada keterbatasan fungsional.
 Pada kasus ini pasien didiagnosis Impacted gigi molar
38|48 yang akan dilakukan tindakan pembedahan
odontectomy

 Pada kasus ini dilakukan general anestesi dengan teknik


intubasi endotrakeal dikarenakan lokasi operasi yaitu di
mulut, sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan
anestesi spinal.

 Adapun indikasi general anastesi adalah karena pada


kasus ini diperlukan mempertahankan jalan nafas agar
tetap bebas serta mempertahankan kelancaran
pernafasan, mempermudah pemberian anestesia,
mencegah kemungkinan terjadinya aspirasi isi lambung
(pada keadaan tidak sadar, lambung penuh dan tidak
ada refleks batuk) dan pemakaian ventilasi mekanis
yang lama, serta mengatasi obstruksi laring akut.
 Odontektomi merupakan operasi dengan trauma
ringan sehingga diperoleh total cairan pengganti
operasi = 4cc x 50 Kg = 200 ml/jam.
 Pada pasien ini cairan defisit darah: 50 cc. Sehingga,
Total kebutuhan cairan selama 50 menit operasi =
72,91 + 200 + 50 = 322,91 ml.
 Perhitungan cairan pengganti darah menggunakan
rumus berikut:
 EBV = 65 x BB = 3.250 cc
 MABL = [EBV x (Hi-Hf)]/Hi
3.250 ml x ( 38,9-30 ) /38,9 = 741 ml
 Pasien telah kehilangan darah ± 50 cc dan dengan
perhitungan MABL didapatkan 741 ml sehingga
pasien tidak memerlukan transfusi darah. Dan dapat
diganti dengan cairan kristaloid.
Premedikasi:
 Midazolam (golongan benzodiazepine) 1
mg/iv, untuk meredakan cemas, menghasilkan
suatu derajat ansiolisis, sedasi dan amnesia.
 Fentanyl (golongan opioid) 70 µg/iv, untuk
analgetik
 Dexamethason 5 mg/iv, untuk mengurangi
reaksi radang dan alergi.
 Ondancentron 4 mg/iv, untuk mencegah
terjadinya mual dan muntah
 Induksi pada pasien ini dilakukan dengan anastesi
intravena yaitu Propofol 100 mg I.V (dosis induksi 2-
2,5mg/kgBB) karena memiliki efek induksi yang cepat,
dengan distribusi dan eliminasi yang cepat
 Injeksi tramus 25 mg sebagai pelemas otot untuk mempermudah
pemasangan Endotracheal Tube.
 Penggunaan sevofluran karena mempunyai efek induksi dan
pulih dari anestesi lebih cepat dibanding dengan gas lain, dan
baunya pun lebih harum dan tidak merangsang jalan napas.
Medikasi :

Ketorolac Sebagai analgetik


Kesimpulan
 Pemeriksaan pra anestesi memegang peranan penting pada
setiap operasi yang melibatkan. Berdasarkan pemeriksaan
fisik dan penunjang saat previsite ditentukan Pysical Status
pasien yaitu ASA I, sehingga persiapan operasi dapat
dilakukan dengan mempertimbangkan resikonya.

 Penggunaan GETA dapat dilakukan padao perasi-operasi di


daerah kepala, leher, mulut, hidung dan tenggorokan,
karena pada kasus-kasus demikian sangatlah sukar untuk
menggunakan face mask tanpa mengganggu pekerjaan
ahli bedah. Selain itu sebagai proteksi terhadap pasien
dengan keadaan yang gawat yang terdapat gangguan
pada oksigenasi dan ventilasi