Anda di halaman 1dari 26

1.

Pengertian
Malaria adalah infeksi parasit pada sel darah
merah yang disebabkan oleh suatu protozoa
spesies plasmodium yang ditularkan kepada
manusia melalui air liur nyamuk (Corwin,
2000).
2. Etiologi

Malaria disebabkan oleh protozoa dari


genus plasmodium. Pada manusia
plasmodium terdiri dari 4 spesies, yaitu:
• plasmodium falciparum.
• Plasmodium vivax.
• Plasmodium malariae.
• plasmodium ovale.
3. Daur hidup plasmodium
Siklus aseksual di kenal sebagai
skizogoni, sedangkan siklus seksual yang
membentuk sporozoit di dalam nyamuk
sebagai sporogoni.
Sporozoit yang aktif dapat ditularkan
kedalam tubuh manusia melalui ludah
nyamuk kemudian menempati jaringan
parenkim hati dan tubuh sebagai skizon.
Cont….
Sel hati yang berisi parasit akan pecah dan
terjadi tropozoit. Membentuk skizon muda dan
setelah matang, membelah menjadi merozoit.
Setelah proses pembedahan eritrosit akan
hancur, merozoit, pigmen dan sel sisa akan
hancur dan berada dalam plasma.
Cont’d….

Dalam tubuh nyamuk, parasit


berkembang secara seksual memerlukan waktu
8-12 hari dalam lambung nyamuk, makro dan
mikro gametosis berkembang menjadi makro
dan mikro gamet. Lalu menembus dinding
lambung nyamuk membentuk ookista lalu
membentuk sporozoit kemudian sporozoit akan
melepaskan dan masuk dalam kelenjar liur
nyamuk
4. Manifestasi klinis
Pada anak dan orang dewasa timbul gejala demam yang
terbagi menjadi berikut:
• Stadium dingin
• Stadium demam
• Stadium berkeringat
Secara klinis, gejala malaria pada pasien terdiri atas
serangan demam. Sebelum demam pasien biasanya
merasa lelah, nyeri kepala, tidak ada napsu makan, mual
atau muntah.
5. Klasifikasi Malaria
a. Malaria Tropika (Plasmodium Falcifarum)
b. Malaria Kwartana (Plasmodium malariae)
c. Malaria Ovale (Plasmodium Ovale)
d. Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax)
6. Patofisiologi
Gejala malaria timbul saat
pecahnya eritrosit yang mengandung
penyakit. Pertahanan tubuh individu
terhadap malaria dapat berupa factor
yang diturunkan maupun didapat.
7. Komplikasi
Komplikasi yang lazim terjadi pada malaria
sebagai berikut:
• Koma (malaria serebral)
• Anemia
• hemoglobinuria (blackwater fever)
• Gagal ginjal akut
• Hipoglikemia
8. Data Penunjang
a. Laboratorium
b. Diagnosis
1). Pemeriksaan tetes darah untuk malaria
a. Tetesan preparat darah tebal.
b. Tetesan preparat darah tipis
2). Tes Antigen
3). Tes Serologi
4). Pemeriksaan PCR (Polymerase Chain
Reaction)
8. Penatalaksanaan
 Untuk semua spesies Plasmodium, kecuali P.falciparum yang
resisten terhadap klorokuin.
a. Klorokuin fosfat atau hidroklorokuin sulfat
b. primakuin.
Plasmodium falciparum yang resisten terhadap klorokuin
a. kuinin atau kuinidin glukonat.
b. pirimetamin
c. Tetrasiklin
d. Klindamisin
• Terapi Non Farmakologi
• Semprotkan atau gunakan obat pembasmi nyamuk di sekitar
tempat tidur
• Gunakan pakaian yang bisa menutupi tubuh disaat senja
sampai fajar
• Atau bisa menggunkan kelambu di atas tempat tidur, untuk
menghalangi nyamuk mendekat
• Jangan biarkan air tergenang lama di got, bak mandi, bekas
kaleng atau tempat lain yang bisa menjadi sarang nyamuk
9. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pengkajian
A. Data Demografi
1. Nama Anak
2. Umur
3. Jenis Kelamin
4. Alamat

B. Dasar data pengkajian


1. Aktivitas/ istirahat
2. Sirkulasi
3. Makanan dan cairan
4. Neurosensori
5. Pernapasan
12. Diagnosa Keperawatan
• Hipertermia berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme
• Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan asupan cairan
yang tidak adekuat
• Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan asupan makanan yang tidak adekuat, mual/muntah
• Ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan
konsentrasi hemoglobin dalam tubuh
• Nyeri akut berhubungan dengan agens penyebab cedera biologis
• Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum
• Resiko syok, Faktor resiko: hipovolemi
• Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif,
kesalahan dalam memahami informasi yang ada
• Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi anak
1. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan
metabolisme
Intervensi:
• kaji tanda-tanda vital
• Pantau suhu pasien (derajat dan pola), perhatikan
menggigil.
• Pantau suhu lingkungan
• Anjurkan pada ibu klien untuk kompres hangat pada
daerah dahi dan ketiak
• Anjurkan pada ibu klien untuk memakaikan pakaian tipis
yang mudah menyerap keringat
• Berikan antipiretik.
2. Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan
dengan asupan cairan yang tidak adekuat
Intervensi:
- Pantau tanda-tanda vital, catat adanya
perubahan TD
- Dapatkan riwayat pasien atau orang terdekat
sehubungan dengan lamanya atau intensitas
dari gejala seperti muntah, pengeluaran urine
yang sangat berlebihan
- Suhu, warna kulit, atau kelembapannya
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan asupan makanan yang tidak
adekuat, mual/muntah
Intervensi:
• Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai.
Observasi dan catat masukan makanan klien
• Berikan makanan sedikit tapi sering
• Pertahankan jadwal penimbangan berat badan secara
teratur
• Observasi dan catat kejadian mual/ muntah, dan gejala
lain yang berhubungan
4. Ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan
penurunan konsentrasi hemoglobin dalam tubuh
Intervensi:
• Pertahankan tirah baring bantu dengan aktivitas
perawatan.
• Pantau terhadap kecenderungan tekanan darah, mencatat
perkembangan hipotensi dan perubahan pada tekanan
nadi.
• Perhatikan kualitas, kekuatan dari denyut perifer.
• Berikan cairan secara parenteral.
5. Nyeri akut b/d agens penyebab cedera biologis
Intervensi:
• Teliti keluhan nyeri, catat intensitasnya,
lokasinya,lamanya, factor yang memperburuk atau
meredakan
• Observasi adanya tanda-tanda nyeri nonverbal, seperti:
ekspresi wajah, posisi tubuh, gelisah, menangis, menarik
dir
• Jelaskan kepada ibu tentang tindakan pereda nyeri
nonfarmakologi
• Istirahatkan klien pada saat nyeri muncul
• Tingkatkan pengetahuan pada ibu tentang sebab-sebab
nyeri dan menghubungkan berapa lama nyeri akan
berlangsung.
6. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan
umum
Intervensi:
• Tindakan tirah baring/duduk. Berikan lingkungan
tenang, batasi pengunjung sesuai keperluan
• Kaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas, catat
laporan kelelahan, keletihan, dan kesulitan
menyelesaikan tugas.
• Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidak
mampuan untik berpartisipasi dalam aktivitas atau
aktivitas sehari-hari
7. Resiko syok, Faktor resiko: hipovolemi
Intervensi:
• Monitor keadaan umum pasien
• Observasi vital sign setiap 3 jam
Kolaborasi: Pemberian cairan intravena
8. Defisiensi pengetahuan b/d keterbatasan kognitif,
kesalahan dalam memahami informasi yang ada
Intervensi:
• Jelaskan/kuatkan penjelasan kepada ibu tentang proses
penyakit individu.
• Anjurkan pasien/orang terdekat untuk menyediakan
waktu agar dapat relaksasi dan bersenang-senang.
• Berikan informasi kepada ibu mengenai terapi obat-
obatan, interaksi obat, efek samping, dan ketaatan
terhadap program.
9. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi
anak
Intervensi:
• Kaji tingkat kecemasan orang tua.
• Dorong dan anjurkan pada iborang tua klien untuk
mengungkapkan perasaannya
• Lakukan pendekatan dan berikan motivasi pada orang
tua untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran