Anda di halaman 1dari 48

DATA

Arti dan Jenis Data


 data adalah keterangan yang benar dan
nyata.
 Data adalah bentuk jamak dari datum.
 Datum adalah keterangan atau informasi
yang diperoleh dari suatu pengamatan
 data adalah segala keterangan atau
informasi yang dapat memberikan
gambaran tentang suatu keadaan.
tujuan pengumpulan data
adalah :

Untuk memperoleh gambaran suatu


keadaan.
Untuk dasar pengambilan keputusan.
Syarat data yang baik agar
keimpulan tepat dan benar
Data harus obyektif (sesuai keadaan
sebenarnya)
Data harus mewakii(representative)
Data harus update
Data harus relevan dengan masalah
yang akan dipecahkan.
Macam-macam Data
 Data Berdasarkan Jenisnya

 Data Kuantitatif : data yang dipaparkan dalam


bentuk angka-angka.
Misalnya adalah jumlah pembeli saat hari raya idul
adha, tinggi badan siswa kelas 3 ips 2, nilai matematika
(…,6,7,8,9,10,…) dan lain-lain.
 Data Kualitatif : data yang disajikan dalam
bentuk kata-kata yang mengandung makna.
Contohnya seperti persepsi konsumen terhadap botol
air minum dalam kemasan, anggapan para ahli
terhadap psikopat, warna (merah, hijau, biru, kuning,
hitam, dll) dan lain-lain.
Data Berdasarkan Sifat

 Data diskrit adalah data yang nilainya


adalah bilangan asli.
Contohnya adalah berat badan ibu-ibu pkk
sumber ayu
 Data Kontinu (ukuran) : data yang nilainya
ada pada suatu interval tertentu atau
berada pada nilai yang satu kenilai yang
lainnya.
Contohnya penggunaan kata sekitar, kurang
lebih, kira-kira, dan sebagainya.
Data Menurut Waktu
Pengumpulannya
 Data cross-section adalah data yang
menunjukkan titik waktu tertentu.
Contohnya laporan keuangan per 31 desember
2006, data pelanggan PT. angin rebut bulan mei
2004, dan lain sebagainya.
 Data berkala adalah data yang datanya
menggambarkan sesuatu dari waktu ke
waktu atau periode secara historis.
Contoh data time series adalah data
perkembangan nilai tukar dollar amerika
terhadap euro eropa dari tahun 2004 sampai
2006, dll.
Data Berdasarkan Sumber
Data
 Datainternal adalah data yang
menggambarkan situasi dan kondisi pada suatu
organisasi secara internal.
Misal : data keuangan, data pegawai, data produksi,
dsb.
 Data eksternal adalah data yang
menggambarkan situasi serta kondisi yang ada di
luar organisasi.
Contohnya adalah data jumlah penggunaan suatu
produk pada konsumen, tingkat preferensi
pelanggan, persebaran penduduk, dan lain
sebagainya.
Data Menurut Cara
Memperolehnya
 Data primer adalah secara langsung diambil dari objek
/ obyek penelitian oleh peneliti perorangan maupun
organisasi.
Contoh :Mewawancarai langsung penonton bioskop 21 untuk
meneliti preferensi konsumen bioskop.
 Data sekunder adalah data yang didapat tidak secara
langsung dari objek penelitian. Peneliti mendapatkan
data yang sudah jadi yang dikumpulkan oleh pihak lain
dengan berbagai cara atau metode baik secara
komersial maupun non komersial.
Contohnya adalah pada peneliti yang menggunakan data
statistic hasil riset dari surat kabar atau majalah.
Skala Pengukuran Pada Data

 Nominal
 Ordinal
 Interval
 Rasio
Skala nominal (kategori)
 Skala nominal merupakan skala pengukuran yang
paling rendah tingkatannya di antara ke empat
skala pengukuran yang lain.
 Seperti namanya, skala ini membedakan satu
obyek dengan obyek lainnya berdasarkan
lambang yang diberikan.
 Ciri data yang dihasilkan adalah posisi data setara
(pegawai negeri tidak lebih tinggi dari wiraswasta
meskipun angka tandanya berbeda).
Contoh : Data mengenai barang-barang yang
dihasilkan oleh sebuah mesin dapat digolongkan
dalam kategori cacat (0) atau tidak cacat (1).
Skala Ordinal (Rangking)
 Skala pengukuran ordinal mempunyai tingkat
yang lebih tinggi dari skala pengukuran nominal.
 Dalam skala ini, terdapat sifat skala nominal,
yaitu membedakan data dalam berbagai
kelompok menurut lambang, ditambah dengan
sifat lain yaitu, bahwa satu kelompok yang
terbentuk mempunyai pengertian lebih (lebih
tinggi, lebih besar,…) dari kelompok lainnya.
 Sistem kepangkatan dalam dunia militer adalah
satu contoh dari data berskala ordinal
Skala Interval
 Skala pengukuran Interval adalah skala yang
mempunyai semua sifat yang dipunyai oleh
skala pengukuran nominal, dan ordinal
ditambah dengan satu sifat tambahan.
 Dalam skala interval, selain data dapat
dibedakan antara yang satu dengan yang
lainnya dan dapat dirangking, perbedaan
(jarak/interval) antara data yang satu dengan
data yang lainnya dapat diukur.
 Contoh : Data tentang suhu empat buah
benda A, B, C , dan D yaitu masing-masing 20.
30, 60, dan 70 derajat Celcius
Bilangan pada skala interval
fungsinya ada tiga yaitu :
1) Sebagai lambang untuk membedakan
2) Untuk mengurutkan peringkat, misal,
makin besar bilangannya, peringkat
makin tinggi ( > atau <).
3) Bisa memperlihatkan jarak/perbedaan
antara data obyek yang satu dengan
data obyek yang lainnya.
Titik nol bukan merupakan titik mutlak,
tetapi titik yang ditentukan berdasarkan
perjanjian.
Skala rasio
 Skala rasio merupakan skala yang paling
tinggi peringkatnya.
 Semua sifat yang ada dalam skala
terdahulu dipunyai oleh skala rasio.
 Sebagai tambahan, dalam skala ini, rasio
(perbandingan) antar satu data dengan
data yang lainnya mempunyai makna.
 Contoh : Data mengenai berat adalah
data yang berskala rasio.
Bilangan pada skala Rasio
fungsinya ada tiga yaitu :
1) Sebagai lambang untuk membedakan
2) Untuk mengurutkan peringkat, misal, makin
besar bilangannya, peringkat makin tinggi (>
atau < ),
3) Bisa memperlihatkan jarak/perbedaan
antara data obyek yang satu dengan data
obyek yang lainnya.
4) Rasio (perbandingan) antar satu data
dengan data yang lainnya dapat diketahui
dan mempunyai arti.
Titik nol merupakan titik mutlak.
Tipe Skala Menurut Gejala Sosial
1) Skala pengukuran untuk mengukur prilaku susila
dan kepribadian
a. Skala sikap
b. Skala moral
c. Test karakter
d. Skala partisipasi social

2) Skala pengukuran untuk mengukur berbagai


aspek budaya dan lingkungan social.
a. Skala untuk mengukur status social ekonomi
b. Lembaga-lembaga social kemasyarakatan
c. Kondisi kerumahtanggaaan
Skala Sikap
Bentuk skala sikap:
 Skala likert
 Skala Guttman
 Skala Simantict Defferensial
 Rating scale
 Skala Thurstone
Komponen sikap dapat
dijelaskan melalui tiga dimensi :

(1) afektif, merefleksikan perasan atau


emosi seseorang terhadap suatu obyek.
(2) kognatif, menunjukkan kesadaran
seseorang terahdap atau pengetahuan
mengenai obyek tertentu, atau
(3) komponen-komponen perilaku,
menggambarkan suatu keinginan-
keinginan atau kecenderungan
seseorang untuk melakukan tindakan.
metode-metode yang sering digunakan
dalam pengukuran construct sikap,
yaitu :
 Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap,
pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok
orang tentang kejadian, gejala atau fenomena sosial.
 Dengan Skala Likert, variabel yang akan diukur
dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian
indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk
menyusun item-item instrumen yang dapat berupa
pertanyaan atau pernyataan.
 Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan
Skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif
sampai sangat negatif
 Contoh: Sangat Puas 5; Puas 4; Cukup 3; Kurang Puas
2; Tdak Puas 1.
Penggunaan skala likert
variabel

Sub variabel

Indikator-indikator
yang dapat diukur

Item instrumen
pertanyaan
 Terdapat 2 pernyataan dalam Skala Likert, yaitu
pernyataan positif dan negatif, setiap pernyataan
memiliki bobot nilai yang berbeda.
Contoh Pertanyaan
Misalnya
 Teknik pengumpulan data angket disebarkan kepada
70 responden
 Menjawab (5) = 2 orang
 Menjawab (4) = 8 orang
 Menjawab (3) = 15 orang
 Menjawab (2) = 25 orang
 Menjawab (1) = 20 orang
 Menghitung skor:
 Jumlah skor untuk 2 orang menjawab (5) : 2 x 5 = 10
 Jumlah skor untuk 8 orang menjawab (4) : 8 x 4 = 32
 Jumlah skor untuk 15 orang menjawab (3): 15 x 3 = 45
 Jumlah skor untuk 25 orang menjawab (2): 25 x 2 = 50
 Jumlah skor untuk 20 orang menjawab (1): 20 x 1 = 20
Jumlah = 157
 Skor tertinggi untuk bobot 5 = 5 X 70 = 350 (SS)
 Skor tertinggi untuk bobot 4 = 4 X 70 = 280 (S)
 Skor tertinggi untuk bobot 3 = 3 X 70 = 210 (N)
 Skor tertinggi untuk bobot 2 = 2 X 70 = 140 (TS)
 Skor tertinggi untuk bobot 1 = 1 x 70 = 70 (STS)

70 140 157 210 280 350


0
(STS) (TS) (N) (S) (SS)

 Jadi data item 1 dr 70 responden, maka


sosialisasi pedoman pembuatan struktur organisasi
Dewan Sekolah terletak pada daerah Netral
 Jadi data item 1 dr 70 responden, maka
sosialisasi pedoman pembuatan struktur
organisasi Dewan Sekolah, yaitu: 157/350 x
100% = 44,86 % tergolong cukup

20 % 40 % 60% 100%
0 44,86% 80%

Sangat lemah cukup kuat Sangat kuat


lemah

 Keterangan: Kriteria Interpretasi Skor:


 Angka 0% - 20% = sangat lemah
 Angka 21% - 40% = lemah
 Angka 41% - 60% = cukup
 Angka 61% - 80% = kuat
 Angka 81% - 100% = sangat kuat
Apaila didasarkanpada
kelompok responden, maka:

2 orang menyatakan SS = 2/70 x 100 % = 2,86 %


 8 orang menyatakan S = 8/70 x 100 % = 11,43 %
 15 orang menyatakan N = 15/70 x 100 % = 21,43%
 25 orang menyatakan TS = 25/70 x 100 % = 35,71 %
 20 orang menyatakan STS = 20/70 x 100 % = 28,57 %
Skala Guttman
 merupakan skala kumulatif. Jika seseorang menyisakan
pertanyaan yang berbobot lebih berat, ia akan mengiyakan
pertanyaan kuirang berbobot lainnya.
 Skala Guttman disebut juga skala scalogram yang sangat
baik untuk menyakinkan penelititentang kesatuan dimensi
dan sikap atauy sifat yang diteliti, yang sering disebut
dengan attribut universal.
 Skala pengukuran dengan tipe ini akan didapatkan jawaban
yang tegas. diantaranya : ‘ya’ dan ‘tidak’; ‘benar-salah’,
dan lain-lain.
 Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio
dikhotomi (dua alternatif).
 Skala Guttman hanya ada dua interval yaitu ‘setuju’ atau
‘tidak setuju’.
 Penelitian menggunakan Skala Guttman dilakukan bila ingin
mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu
permasalahan yang ditanyakan.
 Contoh :
1. Yakin atau tidakkah anda, pergantian
presiden akan dapat mengatasi
persoalan bangsa :
1.) Yakin (1)
2.) Tidak (0)
2. Apakah komentar saudara, jika Jokowi
menjadi presiden?
1.) Setuju (1)
2.) Tidak Setuju (0)
Skala Diferensial Semantik
(Semantic Defferensial Scale)

 Skala pengukuran ini dikembangkan oleh Osgood.


 Skala perbedaan semantik berisikan serangkaian
karakteristik bipolar (dua kutub), seperti: panas-
dingin, popular-tidak popular, baik-tidak baik dan
sebagainya.
 Karakteristik bipolar tersebut mempunyai tiga dimensi
dasar sikap seseorang terhadap objek, yaitu :
a. Potensi, yaitu kekuatan atau atraksi fisik suatu objek
b. Evaluasi, yaitu hal-hal yang menguntungkan atau tidak
menguntungkan suatu objek
c. Aktivitas, yaitu tingkatan gerakan suatu objek
 Skala ini juga digunakan untuk mengukur sikap,
hanya bentuknya tidak pilihan ganda maupun
checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinu
yang jawaban “sangat positifnya” terletak di
bagian kanan garis, dan jawaban “sangat
negatif” terletak di bagian kiri garis, atau
sebaliknya.
 Data yang diperoleh adalah data interval, dan
biasanya skala ini digunakan untuk mengukur
sikap/karakteristik tertentu yang dipunyai oleh
seseorang.
Contoh
netral
bodoh cerdas
2 3 4 5 6 7

Tidak ramah
ramah
Rating Scale
 Dari ke tiga skala pengukuran data yang diperoleh
semuanya adalah data kualitatif yang kemudian
dikuantitatifkan.
 Rating Scale, data mentah yang diperoleh berupa angka
kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif.
 Dalam skala model Rating Scale, responden menjawab
salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan.
 Rating Scale ini lebih fleksibel, pengukuran sikap dan
persepsi responden terhadap fenomena lainnya,
 Contoh: skala untuk mengukur status sosial ekonomi,
pengetahuan, kemampuan, dan lain-lain.
 Penting dalam Rating Scale adalah harus dapat
mengartikan menafsirkan setiap skor yang diberikan pada
alternatif jawaban pada setiap item instrumen.
 Orang tertentu memilih jawaban angka 2, tetapi angka 2
oleh orang tertentu belum tentu sama maknanya dengan
orang lain yang juga memilih jawaban dengan angka 2.
Contoh :
 Seberapa baik Televisi merk X?
 Berilah jawaban angka :
4 bila produk sangat baik
3 bila produk cukup baik
2 bila produk kurang baik
1 bila produk sangat tidak baik
langkah-langkah pengembangan
instrumen, yaitu:

1) Mendefinisikan variabel;
2) Menjabarkan variabel ke dalam
indikator yang lebih rinci;
3) Menyusun butir-butir;
4) Melakukan uji coba;
5) Menganalisis kesahihan (validity) dan
keterandalan (reliability).
Contoh skala rating dengan kuisioner,
jawablah dengan melingkari interval
jawaban.
Jumlah responden 5 orang, maka dapat dibuat
tabulasi sebagai berikut :
 Jumlah skor kriterium (skor tertinggi) = 4 x 4 x 5 = 80
Jumlah skor terkumpul = 52 Kualitas televisi merek X
menurut responden = 52/80 = 65% dari kriteria
yang ditetapkan. Secara kontinum dibuat kategori
sebagai berikut:

 Nilai 52 terletak pada kategori baik.


. Skala Thurstone
 Dikembangkan oleh L.L. Thurstone dari metode psikofisikal
yang bertujuan untuk mengurutkan responden berdasarkan
ciri atau kriteria tertentu. Skala Thurstone meminta
responden untuk memilih pernyataan yang ia setujui dari
beberapa pernyataan yang berbeda-beda. Pada umunya
setiap item mempunyai asosiasinilai antara 1 sampai 10,
tetapi nilai-nilainya tidak diketahui oleh responden.
Pemberian nilai ini berdasarkan jumlah tertentupernyataan
yang dipilih oleh responden mengenai angket tersebut.
 Skala Thurstone disusun dalam interval yang mendekati
sama besar (equal appearing interval). Perbedaan Skala
Thurstone dengan Skala Likert adalah pada skaa Thurstone
interval yang panjangnya sama memiliki intensitas kekuatan
yang sama, sedangkan pada Skala Likert tidak perlu sama.
 Prosedur dalam membuat skala Thurstone:
1. Peneliti mengumpulkan beratus-ratus pernyataan yang
dipikirkan berhubungan dengan masalah yang diteliti.
2. Pernyataan-pernyataan tsb kemudian dikumpulkan dan
diminta untuk dinilai oleh 50-300 juri yang bekerja secara
independen.
3. Juri diminta mengelompokkan pernyataa-pernyataan
tsb dalam 11 kelompok, dan memberi skor 1 sampai 11.
yang paling relevan diberi skor 1 dan yang paling tidak
relevan diberi skor 11.
4. Pernyataan yang nilainya sangat menyebar dibuang
sedangkan pernyataan-pernyataan yang mempunyai nilai
yang agak bersamaan dari para juri digunakan dalam
membuat skala. Nilai skala dari tiap pernyataan dihitung,
yaitu median dari nilai-nilai yang telah diberikan oleh juri.
 Hasil dari skala Thurstone adalah sejumlah
pertanyaan, biasanya kira-kira 20 buah, yang mana
posisi pertanyaan-pertanyaan tersebut telah
diketahui berdasarkan penilaian juri.
 Kekurangan dari skala Thurstone :
1. Terlalu banyak yang perlu dikerjakan untuk
membuat skala oleh para juri.
2. Jika item yang disuruh cek pada responden
jumlahnya lebih dari 2 maka nilai untuknya pada
skala adalah median dari nilai-nilai yang terdapat
pada skala yang telah dibuat.
3. Nilai pada skala yang dibuat para juri sangat
dipengaruhi oleh sikap si juri sendiri terhadap
masalah yang disuruh nilai.
 Dalam mengevaluasi skala pengukuran, harus dipertimbangkan dua hal yaitu validitas dan
reliabilitas.
– Validitas
Suatu skala pengukuran disebut valid bila ia melakukan apa yang seharusnya dan
mengukur apa yang seharusnya diukur. Bila skala pengukuran tidak valid maka ia tidak
bermanfaat bagi peneliti karena tidak mengukur atau melakukan apa yang seharusnya
dilakukan. Secara konseptual, ada 3 macam validitas:
1. Validitas isi (content validity)
Validitas isi memastikan bahwa ukuran telah cukup memasukkan sejumlah item yang
representative dalam menyusun sebuah konsep. Validitas isi merupakan sebuah fungsi yang
menunjukkan seberapa baik dimensi dan elemen sebuah konsep digambarkan.
2. Validitas yang berkaitan dengan criteria (criterion‐related validity)
Validitas yang berkaitan dengan criteria terjadi ketika sebuah ukuran membedakan
individual pada criteria yang akan diperkirakan. Hal ini dapat dilakukan dengan
menetapkan concurrent validity atau prediktive validity. Concurrent validity terjadi ketika
skala yang ditetapkan dapat membedakan individual yang telah diketahui
berbeda,sehingga skor untuk masing‐masing instrument harus berbeda. Prediktive validity
menunjukan kemampuan sebuah instrumen pengukuran dalam membedakan individu
dalam criteria masa depan.
3. Validitas konstruk (construct validity)
Validitas konstruk membuktikan seberapa bagus hasil yang diperoleh dari penggunaan
ukuran sesuai dengan teori dimana pengujian dirancang. Hal ini dinilai dengan convergent
validity (instrument yang memiliki korelasi tinggi) dan discriminant validity (variable yang
tidak berkorelasi).
 – Reliabilitas
Reliabitas menunjukan konsistensi dan stabilitas dari suatu skor (skala
pengukuran). Reliabilitas mencakup dua hal utama yaitu:
1. Stabilitas ukuran
Menunjukan sebuah ukuran untuk tetap stabil dan tidak rentan terhadap
perubahan situasi apa pun. Terdapat dua jenis uji stabilitas, yaitu:
A. Test‐retest reliability
Yaitu koefisien reliabilitas yang diperoleh dari pengulangan pengukuran
konsep yang sama dalam dua kali kesempatan.
B. Reliabilitas bentuk paralel (paralel‐form realibity)
Terjadi ketika respon dari dua penguikuran yang sebanding dalam menyusun
konstruk yang sama memiliki kolerasi yang tinggi.
2. Konsistensi Internal Ukuran
Merupakan indikasi homogenitas item‐item yang ada dalam ukuran yang
menyusun konstruk. Konsistensi ukuran dapat diamati melalui: Reliabilitas
konsistensi antar item (konsistensi jawaban responden untuk semua item
dalam ukuran) dan split‐half reliability yang menunjukkan korelasi antara dua
bagian instrument.
ANALISIS DAYA DUKUNG
(Carrying Capacity Ratio)
 Salahsatu alat yang dapat dimanfaatkan
dalam perencanaan pembangunan
suatu daerah atau wilayah yang
memberikan gambaran hubungan nyata
antara manusia, pemanfaatan lahan dan
lingkungannya adalah analisis daya
dukung (Carrying Capacity Ratio) atau
CCR.
 Analisis daya dukung berkaitan erat dengan konsep
pembangunan berkelanjutan yaitu pembangunan yang
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan saat ini tanpa
mengorbankan kemampuan generasi yang akan datang
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
 Wacana ini dapat dibuktikan melalui berbagai hasil kajian
dan penelitian yang menyatakan bahwa laju
pertumbuhan penyediaan bahan makanan jauh lebih
lambat jika dibandingkan dengan laju pertambahan
penduduk artinya populasi manusia cenderung tumbuh
secara eksponensial sementara produksi pangan untuk
memenuhi kebutuhan manusia tumbuh mengikuti hukum
aritmatik. Jadi tanpa memahami kemampuan daya
dukung lahan (CCR), mustahil konsep pembangunan
berkelanjutan terlaksana.
 Merujuk pada pemanfaatan lahan, ternyata yang
melatar belakangi manusia menggunakan atau
memanfaatkan lahan untuk tempat berusaha tani
atau bercocok tanam didasari oleh 3 hal yaitu: 1).
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari
yang biasa dikenal dengan pertanian subsisten,
2). Untuk jual beli yang berarti memenuhi
kebutuhan hidupnya tidak langsung dari hasil
bercocok tanam, yang dikenal dengan pertanian
komersial, 3). Sebagai anasir lahan untuk diperjual
belikan seperti menggali pasir, pertanian ini
dekenal dengan pertanian bahan mentah
industri.
Analisis Daya Dukung Lahan
Tahapan analisis daya dukung sebenarnya sangat fleksibel
dan dinamis artinya langkah yang dapat ditempuh untuk
menganalisis daya dukung sangat beragam. Secara
sederhana bisa menggunakan rumus berikut:
𝐴𝑥𝑅
𝐶𝐶𝑅 =
𝐻𝑥ℎ𝑥𝐹
Dimana:
CCR = kemampuan daya dukung
A = jumlah total area yang dapat digunakan untuk kegiatan
pertanian/perkebunan
r = frekuensi panen per hektar per tahun
H = jumlah KK (rumah tangga)
h = persentase jumlah penduduk yang tinggal
F = ukuran lahan pertanian rata-rata yang dimiliki petani
Asumsi umum sebagai interpretasi hasil
perhitungan analisis daya dukung sebagai
berikut:
1.Jika CCR > 1, Artinya berdasarkan kuantitas lahannya, masih
memiliki kemampuan untuk mendukung kebutuhan pokok manusia
dan masih mampu menerima tambahan penduduk.
Pembangunan di wilayah tersebut masih dimungkinkan bersifat
ekspansif dan eksploratif lahan.
2.Jika CCR < 1, Artinya berdasarkan jumlah lahan yang ada, maka di
wilayah tersebut sudah tidak mungkin lagi dilakukan pembangunan
yang bersifat ekspansif dan eksploratif lahan. Lahan-lahan yang
berada pada posisi demikian perlu mendapatkan program
peningkatan produktivitas, intensifikasi dan ekstensifikasi melalui
perbaikan teknologi atau menekan pertumbuhan penduduk.
3.Jika CCR = 1, artinya berdasarkan jumlah lahan, daerah ini masih
memiliki keseimbangan antara kemampuan lahan dan jumlah
penduduk, namun demikian kondisi ini perlu diwaspadai karena jika
pertambahan penduduk tidak terkendali akibat pembangunan
yang sangat cepat akan dapat menyebabkan menurunnya
kemampuan daya dukung, untuk itu peran pemerintah dalam
mengendalikan pembangunan yang memicu penambahan
penduduk sangat diperlukan.