Anda di halaman 1dari 28

KELOMPOK 3

• CRESNA YULIANA H. 023154109


• EDI MONTANA 023154013
• KARTIKA GINTING 023154110
• BOY LESMANA 023154182
• SAMUEL OKTAVIANUS 023154037
• MALIKULMULRI 023141056

1
KODE ETIK IAI, IAPI, AICPA, IFAC
Kode Etik IAI

dimaksudkan sebagai panduan dan


aturan bagi seluruh anggota, baik yang
berpraktik sebagai akuntan publik,
bekerja di lingkungan dunia usaha, pada
instansi pemerintah, maupun di
lingkungan dunia pendidikan dalam
pemenuhan tanggung-jawab
profesionalnya.
KODE ETIK IAI
Untuk mencapai tujuan profesi akuntasi, ada 4 kebutuhan dasar yang harus dipenuhi :

KREDIBILIT PROFESIO
AS NALISME

KUALITAS KEPERCAY
JASA AAN
STRUKTUR ETIKA IAI
Struktur kode etik IAI terdiri atas 4 bagian yang disusun berdasarkan
struktur/jenjang (hierarchy), yaitu :
1. Prinsip Etika : memberikan kerangka dasar bagi penyusunan Aturan
Etika semua kompartemen/institut profesi sejenis, dan berlaku bagi
semua anggota IAI.
2. Aturan Etika : pedoman perilaku bagi semua anggota
kompartemen/institut sejenis, seperti IAPI, IAI-KAPd, IAI-KAM, dan
IAI-KASP.
3. Interpretasi Aturan Etika : penafsiran, penjelasan, atau elaborasi
lebih lanjut atas hal-hal, isu-isu, dan pasal-pasal yang diatur dalam
Aturan Etika, yang dianggap memerlukan penjelasan agar tidak
terjadi perbedaan pemahaman atas aturan etika yang dimaksud.
4. Tanya-Jawab : dapat dilakukan dengan Dewan Standar Profesi yang
dibentuk oleh pengurus kompartemen/institut yang bersangkutan.
PRINSIP ETIKA IAI

TANGGUNG KEPENTING INTEGRITA


JAWAB PROFESI AN PUBLIK S

OBJEKTIVI KOMPETENSI DAN


KEHATI-HATIAN
KERAHASI
TAS PROFESIONAL AAN

PERILAKU STANDAR
PROFESIONAL TEKNIS
Proses Penalaran Prinsip Etika

Oleh karena itu setiap anggota


dituntut untuk mengembangkan
rasa tanggung jawab (prinsip 1).

Hasil kerja profesi akuntan untuk


kepentingan publik (prinsip 2)
KODE ETIK IAPI
• Saat ini kompartemen yang telah memiliki Aturan Etika adalah IAPI
• Praktik akuntan publik dijalankan oleh KAP anggota IAPI, dimana jasanya
meliputi pemberian jasa profesional kepada klien yang dapat berupa jasa
audit, akuntansi, atestasi, perpajakan, perencanaan keuangan dan jasa
lainnya yang diatur dalan Standar Profesional Akuntan Publik.
• Aturan etika IAPI disusun bedasarkan sistematika :
 Independensi, Integritas, dan Objektivitas
 Standar Umum dan Prinsip Akuntansi
 Tanggung jawab kepada klien
 Tanggung jawab kepada rekan seprofesi
 Tanggug jawab dan praktik lainnya
• Untuk mengawasi akuntan publik, khususnya kode etik, Departemen
Keuangan (DepKeu) mempunyai aturan sendiri yaitu Peraturan Menteri
Keuangan (PMK) No.17 Tahun 2008 yang mewajibkan akuntan dalam
melaksanakan tugas dari kliennya berdasarkan SPAP (Standar Profesi
Akuntan Publik) dan kode etik.
KODE ETIK IAPI (Lanjutan..)
• Badan atau lembaga yang berkepentingan langsung untuk
melakukan pembinaan dan pengawasan atas kinerja profesi
akuntan, antara lain :
1. Menteri Keuangan Republik Indonesia
2. Quality Riview oleh Direktur Jenderal Lembaga Keuangan,
Departemen Keuangan Republik Indonesia
3. IAI dan kompartemen-kompartemen IAI yang terkait
4. Dewan kehormatan IAPI
5. Dewan review mutu IAPI
6. Bapepam LK
KODE ETIK AICPA
• Ada dua organisasi profesi akuntan yang berpengaruh di AS ynag telah
memberikan kontribusi bagi penyusunan kode etik profesi akuntan,
yaitu AICPA dan IMA.
• Kode etik AICPA lebih ditujukan untuk para akuntan yang berpraktik
pada kantor akuntan publik.
• Kode etik AICPA terdiri atas dua bagian : bagian pertama berisi prinsip-
prinsip etika (principles) dan bagian kedua berisi aturan etika (rules)
• Prinsip-prinsip etika AICPA seperti yang dikutip dari buku karangan
Leonard J. Brooks, 2007 ialah : tanggung jawab, kepentingan publik,
integritas, okjektivitas dan independensi, kehatia-hatian, ruang lingkup
dan sifat jasa.
• Sedangkan aturan etika AICPA antara lain : independensi, integritas
dan objektivitas, standar umum, kesesuaian dengan standar, prinsip
akuntansi, informasi klien rahasia, fee kontinjen, tindakan
mendiskreditkan, advertensi dan solisitasi, komisi dan fee rujukan,
bentuk dan nama organisasi.
KODE ETIK IFAC
• IFAC (International Federation of Accountans) adalah organisasi
global untuk profesi akuntansi. IFAC berkomitmen untuk melindungi
kepentingan umum dengan mengembangkan standar internasional
menjadi berkualitas tinggi, mempromosikan nilai-nilai etika secara
intensive, mendorong kualitas prakteknya dan mendukung
pembangunan di segala bidang profesi di seluruh dunia.
• Kode etik ini meliputi dalam tiga bagian:
1. Bagian A adalah bagian yang menetapkan prinsip-prinsip dasar
etika untuk akuntan dan menyediakan kerangka kerja konseptual
untuk menerapkan prinsip-prinsip tersebut. Kerangka kerja
konseptual menyediakan kerja konseptual guna mengidentifikasi
ancaman terhadap kepatuhan prinsip-prinsip dasar etika, untuk
mengevaluasi pengaruh signifikan dari ancaman-ancaman itu dan
menerapkan perlindungan untuk mengurangi ancaman-ancaman
hingga ketingkat yang dapat diterima.
KODE ETIK IFAC (Lanjutan..)
2. Bagian B dan C menggambarkan bagaimana kerangka kerja
konseptual diterapkan dalam situasi khusus. Kerangka kerja
konseptual mengandung contoh penjagaan terhadap prinsip-
prinsip dasar, dan juga mengandung contoh situasi dimana
penjagaan keamanan tidak tersedia, sehingga tercipta ancaman-
ancaman yang seharusnya bias dihindari.
Bagian B diterapkan profesi akuntansi dalam praktek untuk
kepentingan publik. Bagian C diterapkan profesi akuntan dalam
praktek untuk dunia bisnis. Dalam praktek profesi akuntan untuk
kepentingan publik mungkin juga ditemukan tuntunan kode etik
bagian C yang relevan dengan kondisi mereka sebenarnya.
 Prinsip-prinsip Fundamental Etika IFAC ada 5 bagian, yaitu :
Integritas, objektivitas, Kompetensi professional dankehati-hatian,
Kerahasiaan, dan Perilaku professional.
KODE ETIK IFAC (Lanjutan..)
 Independensi menjadi fondasi atau batu pijakan dalam struktur etika,
juga menjadi faktor yang sangat menentukan bagi pengembangan dan
penerapan prinsip-prinsip fundamental etika dalam menekuni profesi
akuntan.
 Ancaman terhadap independensi dapat berbentuk :
• Kepentingan diri (self-interest), contohnya : memiliki hubungan yang
sangat erat dengan klien
• Review diri (self-review), contohnya : temuan kesalahan material saat
dilakukan evaluasi ulang
• Advokasi (advocacy), contohnya : mempromosikan saham perusahaan
publik dari klien, dimana perusahaan tersebut merupakan klien audit
• Kekerabatan (familiarty), contohnya menerima hadiah atau perlakuan
istimewa dari klien kecuali nilainya tidak signifikan
• Intimidasi (intimidation), contohnya : diancam dipecat atau diganti
dalam hubungannya dengan penugasan pada klien
KODE ETIK IFAC (Lanjutan..)
 Ada dua kategori pokok pengamanan terhadap ancaman
independensi, yaitu :
a. Pengamanan melalui profesi, legislasi, atau regulasi. Contohnya :
persyaratan pendidikan, pelatihan, dan pengalaman kerja
b. Pengamanan lingkungan kerja : pengamanan lingkungan di
tempat kerja bisa sangat bervariasi dan sangat luas, bergantung
pada keadaan di tempat kerja tersebut.
 Penerapan prinsip-prinsip etika fundamental untuk profesi akuntan
publik dijabarkan secara rinci pada bagian B Kode Etik IFAC dengan
diberi kode 200, daftar isi dan kode bagian B adalah :
200 Pendahuluan
210 Penunjukkan profesional dan penerimaan klien
220 Konflik kepentingan
230 Pendapat kedua (second opinion)
KODE ETIK IFAC (Lanjutan..)
240 Fee dan jenis imbalan lainnya
250 Pemasaran jasa profesional
260 Hadiah dan keramahtamahan
270 Penyimpanan aset klien (custody of client assets)
280 Objektivitas semua jasa
290 Independensi perikatan penjaminan (assurance engagements)
 Penerapan prinsip-prinsip etika fundamental untuk profesi akuntan
publik dijabarkan secara rinci pada bagian C Kode Etik IFAC
dengan diberi kode 300, daftar isi dan kode bagian C adalah :
300 Pendahuluan
310 Potensi Konflik
320 Penyusunan dan pelaporan informasi
330 Bertindak dengan keahlian yang memadai
Kode Etik Profesi Akuntan, Analisis
Dampak Pelanggaran Kode Etik
Kode Etik Profesi Akuntan

• Integritas, yaitu bersikap lugas dan jujur dalam semua


hubungan profesional dan bisnis.
• Objektivitas, yaitu tidak membiarkan bias, benturan
kepentingan,
atau pengaruh yang tidak semestinya dari pihak lain, yang
dapat mengesampingkan pertimbangan profesional atau bisnis.
• Kompetensi dan kehati-hatian profesional, yaitu menjaga
pengetahuan dan keahlian profesional pada tingkat
yang dibutuhkan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi
kerja akan menerima jasa profesional yang kompeten
berdasarkan perkembangan praktik, peraturan, dan teknik
mutakhir, serta bertindak sungguh-sungguh dan sesuai
dengan teknik dan standar profesional yang berlaku.
Kode Etik Profesi Akuntan

• Kerahasiaan, yaitu menghormati kerahasiaan


informasi yang diperoleh dari hasil hubungan
profesional dan bisnis dengan tidak mengungkapkan
informasi tersebut kepada pihak ketiga tanpa ada
kewenangan yang jelas dan memadai, kecuali
terdapat suatu hak atau kewajiban hukum atau
profesional untuk mengungkapkannya, serta tidak
menggunakan informasi tersebut untuk keuntungan
pribadi Akuntan Profesional atau pihak ketiga.
• Perilaku Profesional, yaitu mematuhi hukum dan
peraturan yang berlaku dan menghindari perilaku
apa pun yang mengurangi kepercayaan kepada
profesi Akuntan Profesional.
Kasus & Pembahasan

1. Kasus ini merupakan kasus dimana Bank Lippo melakukan


pelaporan laporan keuangan ganda pada tahun 2002.
Kasus Lippo bermula dari adanya tiga versi laporan
keuangan yang ditemukan oleh Bapepam untuk periode
30 September 2002, yang masing-masing berbeda. Berikut
laporan keuangan tersebut:
- Laporan pertama, yang diberikan kepada publik atau
diiklankan melalui media massa pada 28 November 2002.
- Laporan kedua, yang diberikan kepada BEJ pada 27
Desember 2002.
- Laporan ketiga, yang disampaikan akuntan publik,
dalam hal ini kantor akuntan publik Prasetio, Sarwoko dan
Sandjaja dengan auditor Ruchjat Kosasih dan disampaikan
kepada manajemen Bank Lippo pada 6 Januari 2003.
Kasus & Pembahasan

• Dari ketiga versi laporan keuangan tersebut yang benar-


benar telah diaudit dan mencantumkan ”opini wajar tanpa
pengecualian” adalah laporan yang disampaikan pada 6
Januari 2003. Dimana dalam laporan itu disampaikan
adanya penurunan AYDA (agunan yang diambil alih)
sebesar Rp 1,42 triliun, total aktiva Rp 22,8 triliun, rugi
bersih sebesar Rp 1,273 triliun dan CAR sebesar 4,23 %.
• Untuk laporan keuangan yang diiklankan pada 28
November 2002 ternyata terdapat kelalaian manajemen
dengan mencantumkan kata audit. Padahal laporan
tersebut belum diaudit, dimana angka yang tercatat pada
saat diiklankan adalah AYDA sebesar Rp 2,933 triliun,
aktiva sebesar Rp 24,185 triliun, laba bersih tercatat Rp
98,77 miliar, dan CAR 24,77 %.
Kasus & Pembahasan

Pelanggaran Kode Etik yang dilakukan oleh (KAP) Prasetio,


Sarwoko & Sandjaja :
• Integritas : Akuntan publik tersebut telah melakukan
pelanggaran kode etik profesi akuntansi (Integritas) karena
telah membuat laporan keuangan ganda yang dapat
menyesatkan para pengguna laporan keuangan. dimana
seorang akuntan harus sangat jelas dan jujur dalam segala
pekerjaan profesionalnya maupun dalam hubungan
bisnisnya
• Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional : Dapat
dilihat dari kasus ini bahwa akuntan publik belum
mengerjakan profesinya secara profesional. Seharusnya
akuntan publik melaksanakan jasa profesionalnya sesuai
dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan
Kasus & Pembahasan

Sanksi/Dampak pelanggaran kepada PT Bank Lippo Tbk


dan (KAP) Prasetio, Sarwoko & Sandjaja :
• BAPEPAM menjatuhkan sanksi denda kepada jajaran
direksi PT Bank Lippo Tbk. sebesar Rp 2,5 miliar, karena
pencantuman kata ”diaudit” dan ”opini wajar tanpa
pengecualian” di laporan keuangan 30 September 2002
yang dipublikasikan pada 28 Nopember 2002.
• Menjatuhkan sanksi denda sebesar Rp 3,5 juta kepada
Ruchjat Kosasih selaku partner kantor akuntan publik
(KAP) Prasetio, Sarwoko & Sandjaja karena
keterlambatan penyampaian informasi penting
mengenai penurunan AYDA Bank Lippo selama 35 hari.
Kasus & Pembahasan

2. Diduga terjadi manipulasi data dalam laporan keuangan PT


KAI tahun 2005, perusahaan BUMN itu dicatat meraih
keutungan sebesar Rp, 6,9 Miliar. Padahal apabila diteliti dan
dikaji lebih rinci, perusahaan seharusnya menderita kerugian
sebesar Rp. 63 Miliar. Komisaris PT KAI Hekinus Manao yang
juga sebagai Direktur Informasi dan Akuntansi Direktorat
Jenderal Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan
mengatakan, laporan keuangan itu telah diaudit oleh Kantor
Akuntan Publik S. Manan
Hasil audit tersebut kemudian diserahkan direksi PT KAI untuk
disetujui sebelum disampaikan dalam rapat umum pemegang
saham, dan komisaris PT KAI yaitu Hekinus Manao menolak
menyetujui laporan keuangan PT KAI tahun 2005 yang telah
diaudit oleh akuntan publik ditemukan adanya kejanggalan
dari laporan keuangan PT KAI tahun 2005
Kasus & Pembahasan

• Perbedaan pendapat terhadap laporan keuangan


antara komisaris dan auditor akuntan publik terjadi
karena PT KAI tidak memiliki tata kelola perusahaan
yang baik.
• Beberapa data disajikan tidak sesuai dengan standar
akuntansi keuangan. Hal ini mungkin sudah biasa
terjadi dan masih bisa diperbaiki. Namun, yang
menjadi permasalahan adalah pihak auditor
menyatakan laporan keuangan itu wajar. Tidak ada
penyimpangan dari standar akuntansi keuangan. Hal
ini lah yang patut dipertanyakan
Kasus & Pembahasan
Pelanggaran Kode Etik yang Terjadi dalam Kasus PT KAI :
• Tanggung jawab profesi, dimana seorang akuntan harus bertanggung
jawab secara professional terhadap semua kegiatan yang dilakukannya.
Akuntan Internal PT. KAI kurang bertanggung jawab karena dia tidak
menelusuri kekeliruan dalam pencatatan dan memperbaiki kesalahan
tersebut sehingga laporan keuangan yang dilaporkan merupakan
keadaan dari posisi keuangan perusahaan yang sebenarnya.
• Kepentingan Publik, dimana akuntan harus bekerja demi kepentingan
publik atau mereka yang berhubungan dengan perusahaan seperti
kreditur, investor, dan lain-lain. Dalam kasus ini akuntan PT. KAI diduga
tidak bekerja demi kepentingan publik karena diduga sengaja
memanupulasi laporan keuangan sehingga PT. KAI yang seharusnya
menderita kerugian namun karena manipulasi tersebut PT. KAI terlihat
mengalami keuntungan. Hal ini tentu saja sangat berbahaya, termasuk
bagi PT. KAI. Karena, apabila kerugian tersebut semakin besar namun
tidak dilaporkan, maka PT. KAI bisa tidak sanggup menanggulangi
kerugian tersebut.
Kasus & Pembahasan
Pelanggaran Kode Etik yang Terjadi dalam Kasus PT KAI :
• Integritas, dimana akuntan harus bekerja dengan
profesionalisme yang tinggi. Dalam kasus ini akuntan PT. KAI
tidak menjaga integritasnya, karena diduga telah melakukan
manipulasi laporan keuangan.
• Objektifitas, dimana akuntan harus bertindak obyektif dan
bersikap independen atau tidak memihak siapapun. Dalam
kasus ini akuntan PT. KAI diduga tidak obyektif karena diduga
telah memanipulasi laporan keuangan sehingga hanya
menguntungkan pihak-pihak tertentu yang berada di PT. KAI.
• Kompetensi dan kehati-hatian  professional, Dalam kasus
ini, akuntan PT. KAI tidak melaksanakan kehati-hatian
profesional sehingga terjadi kesalahan pencatatan yang
mengakibatkan PT. KAI yang seharusnya menderita kerugian
namun laporan keuangan mengalami keuntungan.
Kasus & Pembahasan

Pelanggaran Kode Etik yang Terjadi dalam Kasus PT KAI :


• Perilaku profesional, Dalam kasus ini akuntan PT.
KAI diduga tidak berperilaku profesional yang
menyebabkan kekeliruan dalam melaporkan laporan
keuangan, dan hal ini dapat mendiskreditkan
(mencoreng nama baik) profesinya.