Anda di halaman 1dari 21

DISUSUN OLEH KELOMPOK 6

1. Try Gunawan
2. Valerian Haidar
3. Vany Puspita
4. Venni Harmeilawati Rizki
5. Veny Eka Marisca
6. Welda Anjelina
Definisi

CKD atau gagal ginjal kronis (GGK) didefinisikan sebagai


kondisi dimana ginjal mengalami penurunan fungsi secara
lambat, progresif, irreversibel, dan samar (insidius) dimana
kemampuan tubuh gagal dalam mempertahankan metabolisme,
cairan, dan keseimbangan elektrolit, sehingga terjadi uremia
atau azotemia (Smeltzer. 2001)
Etiologi

1) Infeksi saluran kemih (pielonefritis kronis)


2) Penyakit peradangan (glomerulonefritis)
3) Penyakit vaskuler hipertensif (nefrosklerosis, stenosis
arteri renalis)
4) Gangguan jaringan penyambung (lupus eritematosus
sistemik, poliarteritis nodusa, sklerosis sitemik
progresif)
LANJUTAN

1) Penyakit kongenital dan herediter (penyakit ginjal polikistik,


asidosis tubulus ginjal)
2) Penyakit metabolik (DM, gout, hiperparatiroidisme)
3) Nefropati toksikmisalnya penyalahgunaan analgesik,nefropati
timbal.
4) Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas:
kalkuli neoplasma, fibrosis netroperitoneal. Saluran kemih
bagian bawah: hipertropi prostat, striktur uretra, anomali
kongenital pada leher kandung kemih dan uretra. (Price &
Wilson. 2002)
Patofisiologi

Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk


glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak
(hipotesa nefron utuh). Nefron-nefron yang utuh hipertrofi dan
memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi
walaupun dalam keadaan penurunan GFR / daya saring.Metode adaptif
ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai ¾ dari nefron–nefron
rusak.Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar daripada
yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan
haus.Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak
oliguri timbul disertai retensi produk sisa.Titik dimana timbulnya
gejala-gejala pada pasien menjadi lebih jelas dan muncul gejala-gejala
khas kegagalan ginjal bila kira-kira fungsi ginjal telah hilang 80% -
90%.Pada tingkat ini fungsi renal yang demikian nilai kreatinin
clearance turun sampai 15 ml/menit atau lebih rendah itu.
LANJUTAN

Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein


(yang normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun
dalam darah.Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem
tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah maka
gejala akan semakin berat. Banyak gejala uremia membaik
setelah dialisis. Smeltzer & Bare. 2001)
Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis menurut (Smeltzer & Bare. 2001) yaitu sebagai berikut:

1) Kardiovaskuler
 Hipertensi, gagal jantung kongestif, udema pulmoner, pericarditis
 Pitting edema (kaki, tangan, sacrum), edema periorbital
 Friction rub pericardial, pembesaran vena leher
2) Dermatologi 
 Warna kulit abu-abu mengkilat, kulit kering bersisik
 Pruritus, ekimosis
 Kuku tipis dan rapuh
 Rambut tipis dan kasar
3) Pulmoner
 Krekels, Sputum kental dan liat
 Pernafasan kusmaul
LANJUTAN
4) Gastrointestinal 
 Anoreksia, mual, muntah, cegukan
 Nafas berbau ammonia
 Konstipasi dan diare
 Perdarahan saluran cerna
5) Neurologi
 Tidak mampu konsentrasi
 Kelemahan dan keletihan
 Konfusi/ perubahan tingkat kesadaran
 Kejang, Rasa panas pada telapak kaki
 Perubahan perilaku
6) Muskuloskeletal 
 Kram otot, kekuatan otot hilang
 Kelemahan pada tungkai
7) Reproduktif:
 Amenore
 Atrofi testekuler 
Komplikasi

Komplikasi dari CKD menurut Smeltzer dan Bare (2001) antara


lain adalah :
1) Hiperkalemi akibat penurunan sekresi asidosis metabolik, kata
bolisme, dan masukan diit berlebih.
2) Perikarditis, efusi perikardial, dan tamponad jantung akibat
retensi produk sampah uremik dan dialisis yang tidak adekuat.
3) Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi
sistem renin angiotensin aldosteron.
4) Anemia akibat penurunan eritropoitin.
LANJUTAN

5) Penyakit tulang serta klasifikasi metabolik akibat retensi


fosfat, kadar kalsium serum yang rendah, metabolisme
vitamin D yang abnormal dan peningkatan kadar
alumunium akibat peningkatan nitrogen dan ion anorganik.
6) Uremia akibat peningkatan kadar uream dalam tubuh.
7) Gagal jantung akibat peningkatan kerja jantung yang
berlebihan.
8) Malnutrisi karena anoreksia, mual, dan muntah.
9) Hiperparatiroid, Hiperkalemia, dan Hiperfosfatemia.
Pemeriksaan Penunjang

1) Pemeriksaan Laboratorium:
 Laboratorium darah: BUN, Kreatinin, elektrolit (Na, K, Ca,
Phospat), Hematologi (Hb, trombosit, Ht, Leukosit),
protein, antibody (kehilangan protein dan
immunoglobulin).
 Pemeriksaan Urin: Warna, PH, BJ, kekeruhan, volume,
glukosa, protein, sedimen, SDM, keton, SDP, TKK/CCT
2) Pemeriksaan EKG: Untuk melihat adanya hipertropi
ventrikel kiri, tanda perikarditis, aritmia, dan gangguan
elektrolit (hiperkalemi, hipokalsemia).
LANJUTAN

3) Pemeriksaan USG : Menilai besar dan bentuk ginjal,


tebal korteks ginjal, kepadatan parenkim ginjal,
anatomi system pelviokalises, ureter proksimal,
kandung kemih serta prostate.
4) Pemeriksaan Radiologi : Renogram, Intravenous
Pyelography, Retrograde Pyelography, Renal
Aretriografi dan Venografi, CT Scan, MRI, Renal
Biopsi, pemeriksaan rontgen dada, pemeriksaan
rontgen tulang, foto polos abdomen.
Penatalaksanaan

1) Restriksi konsumsi cairan, protein, dan fosfat.


2) Obat-obatan : diuretik untuk meningkatkan urinasi;
alumunium
3) hidroksida untuk terapi hiperfosfatemia; anti hipertensi
untuk terapi hipertensi serta diberi obat yang dapat
menstimulasi produksi RBC seperti epoetin alfa bila
terjadi anemia.
4) Dialisis
5) Transplantasi ginjal
Identifikasi Stadium/Stage CKD Tn. C tersebut
 

LFG (Ml/mnt/1,73m²) =
1. Edema anasarka = (140-umur)x BB / 72x kreatinin plasma 9MG/dl)
(+++)
2. Kulit tampak
lebih gelap
3. Sering Pada Tn.C LFG yang dihitung yaitu :
menggaruk garuk LFG (Ml/MNT/1,73M²)=
badan
= (140-50)x60 / 72x12,5 (mg/dl)
4. Lemah dan pucat
5. Jarang berkemih = 5400/900 = 6 mg/dl

Maka dapat disimpulkan Tn. C menempati di stage gagal


ginjal karena <15/menit/1,73 m² atau gagal ginjal
terminal.
DATA PENGKAJIAN
Pengkajian fokus gagal ginjal kronis menurut Doenges (2000) yaitu :
1. Aktivitas / Istirahat
a. Gejala :
• Kelelahan ekstremitas, kelemahan, malaaise.
• Gangguan tidur (insomnia, gelisah, somnolen).
b. Tanda :
 Kelemahan otot
 kehilangan tonus
 Penurunan rentang gerak.
2. Sirkulasi
a. Gejala :
• Riwayat hipertensi lama atau berat.
• Palpitasi, nyeri dada (angina).
b. Tanda :
 Hipertensi, peningkatan vena jugularis, nadi kuat, edema jaringan umum dan pitting pada telapak kaki dan
telapak tangan.
 Disretmia jantung.
 Nadi lemah, dan halus, hipotensi ortostatik menunjukkan hipovolemia yang jarang pada penyakit tahap akhir.
 Friction rub pericardial (respon terhadap akumulasi sisa).
 Pucat, kulit kekuningan.
 Kecederungan perdarahan.
Lanjutan

3. Integritas Ego
a. Gejala :
• Faktor stress, contoh : finansial, hubungan, dan sebagainya.
• Perasaan tak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan.
b. Tanda :
 Menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan kepribadian.
4. Eliminasi
a. Gejala :
 Penurunan frekuensi urin, oliguri, anuria (gagal ginjal tahap lanjut)
 Abdomen kembung, diare, atau konstipasi.
b. Tanda :
 Perubahan warna urin, contoh : kuning pekat, merah, coklat berawan, oliguria,
dapat menjadi anuria.
5. Makanan dan cairan
a. Gejala :
• Peningkatan BB cepat (edema) penurunan BB (malnutrisi)
• Anoreksia, nyeri ulu hati, mual, muntah.
• Rasa metalik tak sedap pada mulut (pernapasan amonia)
• Penggunaan diuretik.
b. Tanda :
• Distensi abdomen atau asites, pembesaran hati tahap akhir.
• Penurunan turgor kulit dan kelembapan.
• Edema.
• Penurunan otot, penuruna lemak, subkutan, penampilan tak bertenaga.
6. Neurosensori
a. Gejala :
• Sakit kepala dan penglihatan kabur.
• Kram otot/ kejang : sindrom “kaki gelisah” ; kebas dan rasa terbakar pada kaki.
• Kebas/ kesemutan dan kelmahan, khususnya ekstremita bawah (neuropati perifer)
b. Tanda :
 Gangguan status mental, contoh penurunan lapang perhatian, ketidakmampuan
berkonsentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran, stupor, koma.
 Kejang, fasikulasi otot, aktivitas kejang.
 Rambut tipis, kuku rapuh dan tipis.
7. Nyeri/ kenyamanan
a. Gejala :
• Nyeri panggul, sakit kepala.
• Kram otot/ nyeri kaki (memperburuk saat malam hari).
b. Tanda :
 Perilaku hati-hati/ distraksi, gelisah.
8. Pernapasan
a. Gejala :
• Napas pendek, dispnea noktural proksimal.
• Batuk dengan tanpa sputum kental dan banyak.
b. Tanda :
 Takipnea, dispnea, peningkatan frekuensi dan kedalaman
(pernapasan kusmaul).
 Batuk produktif dengan sputum merah muda dan encer
(edema paru).
9. Keamanan
a. Gejala :
 Kulit gatal, ada berulangnya infeksi.
b. Tanda :
• Pruritus.
• Demam (sepsis, dehidrasi) : normotermia dapat secara aktual
terjadi peningkatan pada tubuh yang mengalami suhu tubuh
lebih rendah dari normal (efek gagal ginjal kronis/ depresi
respon imun).
• Petekie, area ekimosis pada kulit.
• Fraktur tulang,: deposit fostfat kalsium (klasifikasi metastasi)
pada kulit, jaringan lunak, sendi keterbatasan gerak sendi.
10. Seksualitas
Gejala :
 Penurunan libido, amenore, infertilitas.
11. Interaksi Sosial
a. Gejala :
 Kesulitan menentukan kondisi, contoh tak mampu bekerja,
mempertahankan fungsi peran biasanya dalam berkeluarga.
12. Penyuluhan/ pembelajaran
a. Gejala :
 Riwayat diabetes melitus (DM), keluarga (resiko tinggi untuk gagal
ginjal), penyakt polikistik, netresis herediter.
 Riwayat terpajan pada toksin, contoh obat, racun lingkungan.
 Penggunaan antibiotik nefrotoksik saat ini berulang.
 
Diagnosa Keperawatan

1. Hypervolemia berhubungan dengan kelebihan asupan


cairan
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen
3. Gangguan integritas kulit / jaringan berhubungan
dengan kelebihan volume cairan