Anda di halaman 1dari 29

RUANG LINGKUP

& UNDANG-UNDANG PERSUSUAN

UU no. 18 tahun 2009 jo


UU no.41 tahun 2014
PP 95 tahun 2012
PP 22 tahun 1983

Departemen Kesehatan Masyarakat Veteriner


Fakultas Kedokteran Hewan - UNAIR
04/16/2020
Undang2x No 41/2014 tentang
Peternakan dan Kesehatan
Hewan

Kesehatan Masyarakat Veteriner : ialah


segala urusan yang berhubungan dengan
Hewan dan Produk Hewan yang secara
langsung atau tidak langsung memengaruhi
kesehatan manusia.

04/16/2020
Kesejahteraan Hewan : ialah segala urusan
yang berhubungan dengan keadaan fisik dan
mental Hewan menurut ukuran perilaku alami
Hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan
untuk melindungi Hewan dari perlakuan
Setiap Orang yang tidak layak terhadap
Hewan yang dimanfaatkan manusia.

04/16/2020
PP 95 tahun 2012 (Pasal
3)
(1) Kesehatan Masyarakat Veteriner meliputi:
a. penjaminan Higiene dan Sanitasi;
b. penjaminan produk Hewan; dan
c. Pengendalian dan Penanggulangan Zoonosis.
(2) Produk Hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
terdiri atas:
a. produk pangan asal Hewan;
b. produk Hewan nonpangan yang berpotensi membawa
risiko Zoonosis secara langsung kepada manusia; dan
c. produk Hewan nonpangan yang berisiko menularkan
penyakit ke Hewan dan lingkungan.

SOETJI/ KMV2/ 07 04/16/2020


Peraturan Pemerintah No
22/1983 tentang Kesehatan
Masyarakat Veteriner
– Bab II : Pengawasan Kesehatan Masyarakat

Veteriner
Pasal 5 : Perusahaan susu.
Pasal 6 : Pemerahan dan penanganan susu.
Pasal 7 : Peredaran susu.
– Bab III : Pengujian
– Bab IV : Pemberantasan Rabies.
– Bab V : Pengawasan dan pengendalian
zoonosa.
04/16/2020
SK Dirjennak No 17/Kpts/DJP/Deptan/83
tentang Syarat2, tata cara pengawasan dan
pemeriksaan kwalitas susu produksi dalam
negeri
– Bab II : Syarat2 kesehatan sapi perah dan kwalitas susu yg
diproduksikan.
Pasal 2 : Kesehatan dan vaksinasi.
Pasal 3 : Pemanfaatan susu utk konsumsi manusia
1. Sapi perah yg nyata menderita atau diduga menderita
salmonellosis, tuberkulosis, brucellosis, peny. Mulut
dan kuku, mastitis, endometritis dgn disertai
pengeluaran cairan yg ber ulang2, enteritis dgn
disertai diarhea hebat, luka2 pd ambing dgn disertai
nanah/cairan dilarang dimanfaatkan susunya utk
konsumsi manusia.
04/16/2020
2. Sapi
7
perah yg sedang dalam pengobatan
dgn antibiotika, hormon, dan farmasetik
lainnya dilarang dimanfaatkan susunya utk
konsumsi manusia sampai selesai waktu henti
obat dari obat yg bersangkutan.
Pasal 4 : Perkandangan.
Pasal 5 : Peralatan susu
Pasal 6 : Pekerja.
Pasal 7 : persyaratan kwalitas susu

04/16/2020
1. Susu murni yg beredar harus memenuhi persyaratan
kwalitas sbb :

a. warna, bau, rasa, kekentalan : tdk ada perubahan.


b. berat jenis (pd suhu 27,5°C) se kurang2nya: 1,0280.
c. kadar lemak se kurang2nya : 2,8 %.
d. kadar BKTL se kurang2nya : 8,0 %.
e. derajat asam : 4,5 - 7°SH.
f. Uji didih : negatif.
g. Uji alkohol 70 % : negatif.
h. angka katalase se tinggi2nya :3 cc.
i. titik beku : -0,520°C s/d -0,560°C.
j. angka refraksi : 34,0.
k. kadar protein se kurang2nya :2,7 %.
l. waktu reduktase : 2 – 5 jam.
m. jml kuman yg dpt dibiakkan /cc setinggi2nya : 3 juta.
04/16/2020
2. Susu tidak diperbolehkan mengandung
kuman patogen dan benda asing yg dapat mengotori
susu.

3.Susu pasteurisasi harus memenuhi persyaratan


kwalitas sbb :
a. uji storch : negatif.
b. uji fosfatase : negatif.
c. jml kuman yg dpt dibiakkan/cc : 25000.
d. kuman bentuk coli yg dpt dibiakkan/cc:
negatif
04/16/2020
4. Susu sterilisasi harus memenuhi persyaratan
kwalitas sbb :
a. Uji Storch : negatif.
b. Uji fosfatase : negatif.
c. Setelah disimpan selama 5 hari pada suhu 31°
C didalam pembungkusnya asli tidak nampak
pembusukan.
d. Setelah disimpan selama 5 hari pada suhu 31°
C didalam pembungkusnya asli jumlah kuman yg
dapat dibiakkan se tinggi2nya/cc 100.

04/16/2020
STANDAR MUTU SUSU SEGAR
(SNI 01-3141-1998)
No. Karakteristik Syarat
1 Berat Jenis (pada suhu 27,5°C) 1,0280
minimum
2 Kadar lemak minimum 3,0%
3 Kadar bahan kering tanpa 8,0%
lemak minimum
4 Kadar Protein minimum 2,7%
5 Warna, bau, rasa, dan Tidak ada
kekentalan perubahan
6 Derajat Asam 6 – 7°SH
04/16/2020
7 Uji Alkohol ( 70% ) Negatif
8 Uji katalase maksimum 3 (cc)
9 Angka Refraksi 36 – 38
10 Angka Reduktase 2 – 5 jam
11 Cemaran mikroba maks :
Total Kuman 1 x 106 CFU/ml
Salmonella Negatif
E coli (patogen) Negatif
Coliform 20/ml
Streptococcus Group B Negatif
Staphylococcus aureus 1 x 102/ml
04/16/2020
12 Jumlah sel Radang maks 4 x 105/ml
13 Cemaran logam berbahaya
maks: 0,3 ppm
Timbal (Pb)
Seng (Zn) 0,5 ppm
Merkuri (Hg) 0,5 ppm
Arsen (As) 0,5 ppm
14 Residu: Sesuai
Antibiotika; ketentuan yang
Pestisida/insektisida berlaku

SOETJI/ KMV2/ 07 04/16/2020


15 Kotoran dan Benda Asing Negatif

16 Uji pemalsuan Negatif

17 Titik beku -0,520°C s/d


-0,560°C
18 Uji peroxidase positif

04/16/2020
Undang-Undang No 41/2014 tentang
Peternakan dan Kesehatan Hewan

– Hewan adl binatang atau satwa yang seluruh atau


sebagian dari siklus hidupnya berada didarat, air,
dan/atau udara, baik yang dipelihara maupun yang di
habitatnya.
– Produk hewan adl semua bahan yg berasal dari
hewan yg masih segar dan/atau telah diolah atau
diproses utk keperluan konsumsi, farmakoseutika,
pertanian dan/atau kegunaan lain bagi pemenuhan
kebutuhan dan kemaslahatan.

04/16/2020
– Veteriner adl segala urusan yang berkaitan
dengan Hewan, Produk Hewan, dan penyakit Hewan.
– Otoritas Veteriner adl kelembagaan Pemerintah atau
Pemerintah Daerah yang bertanggung jawab dan
memiliki kompetensi dalam penyelenggaraan
Kesehatan Hewan.
– Medik Veteriner adl penyelenggaraan kegiatan praktik
Kedokteran Hewan.
– Zoonosis adl penyakit yg dapat menular dari hewan
kepada manusia atau sebaliknya.
04/16/2020
Undang-Undang No 18/2009 tentang
Peternakan dan Kesehatan Hewan

BAB IV : PETERNAKAN
Bagian kelima : Panen, Pascapanen,
Pemasaran dan Industri Pengolahan
Hasil Peternakan.
BAB V : KESEHATAN HEWAN
BAB VI : KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN
KESEJAHTERAAN HEWAN

04/16/2020
BAB VI :
Bagian kesatu : Kesehatan Masyarakat Veteriner.

Pasal 56 :
Kesehatan Masyarakat Veteriner merupakan
penyelenggaraan kesehatan hewan dalam bentuk :
a. pengendalian dan penanggulangan zoonosis.
b. penjaminan keamanan, kesehatan, keutuhan
dan kehalalan produk hewan.
c. penjaminan higiene dan sanitasi
d. pengembangan kedokteran perbandingan;dan
e. penanganan bencana.
04/16/2020
Pasal 58 :

(1) Dalam rangka menjamin produk hewan yg ASUH,


pemerintah dan pemerintah daerah sesuai
kewenangannya melaksanakan pengawasan,
pemeriksaan, pengujian, standardisasi, sertifikasi, dan
registrasi produk hewan.
(2) Pengawasan dan pemeriksaan produk hewan
berturut2 dilakukan ditempat produksi, pada waktu
pemotongan, penampungan dan pengumpulan, pada
waktu dalam keadaan segar, sebelum pengawetan,
dan pada waktu peredaran setelah pengawetan.

04/16/2020
(3) Standardisasi, sertifikasi dan registrasi produk
hewan dilakukan terhadap produk hewan yang
diproduksi di dan/atau dimasukkan kedalam wilayah
NKRI untuk diedarkan dan/atau dikeluarkan dari
wilayah NKRI.
(4) Produk hewan yang diproduksi di dan/atau
dimasukkan ke wilayah NKRI untuk diedarkan wajib
disertai sertifikat veteriner dan sertifikat halal.
(5) Produk hewan yang dikeluarkan dari wilayah NKRI
wajib disertai sertifikat veteriner dan sertifikat halal
jika dipersyaratkan oleh negara pengimpor.
(6) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dengan
Peraturan Menteri.
(7) Untuk pangan olahan asal hewan, selain wajib
memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada
ayat
04/16/2020
Pasal 59

(1) Setiap orang yang akan memasukkan produk hewan


ke dalam wilayah NKRI wajib memperoleh izin
pemasukan dari menteri yang terkait di bidang
perdagangan setelah memperoleh rekomendasi :
a. untuk produk hewan segar dari Menteri,atau
b. untuk produk hewan olahan dari pimpinan instansi
yang bertanggung jawab di bidang pengawasan obat
dan makanan dan/atau Menteri.

04/16/2020
(2) Produk hewan segar yang dimasukkan ke dalam wilayah NKRI
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf (a) harus berasal
dari unit usaha produk hewan pada suatu negara atau zona
dalam suatu negara yang telah memenuhi persyaratan dan
tata cara pemasukan produk hewan.
(3) Produk hewan olahan yang akan dimasukkan ke dalam
wilayah NKRI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf (b),
yang masih mempunyai resiko penyebaran zoonosis yang
dapat mengancam kesehatan manusia, hewan, dan
lingkungan budidaya, harus mendapatkan rekomendasi dari
Menteri sebelum dikeluarkannya rekomendasi dari pimpinan
instansi yang bertanggung jawab di bidang pengawasan obat
dan makanan.

04/16/2020
(4) Persyaratan dan tatacara pemasukan produk hewan
dari luar negeri ke dalam wilayah NKRI
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3)
mengacu pada ketentuan atau kaidah internasional
yang berbasis analisis resiko di bidang kesehatan
hewan dan kesehatan masyarakat veteriner serta
mengutamakan kepentingan nasional.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan


tata cara pemasukan produk hewan ke dalam
wilayah NKRI sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
sampai dengan ayat (4) diatur dengan Peraturan
Menteri.

04/16/2020
Pasal 60
(1) Setiap orang yang mempunyai unit usaha produk
hewan wajib mengajukan permohonan untuk
memperoleh Nomor Kontrol Veteriner kepada
pemerintah daerah provinsi berdasarkan pedoman
yang ditetapkan oleh Menteri.
(2) Pemerintah daerah kabupaten/kota melakukan
pembinaan unit usaha yang memproduksi dan/atau
mengedarkan produk hewan yang dihasilkan oleh unit
usaha skala rumah tangga yang belum memenuhi
persyaratan Nomor Kontrol Veteriner.

04/16/2020
Pasal 63
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan
kewenangannya wajib menyelenggarakan
penjaminan higiene dan sanitasi.
(2) Untuk mewujudkan higiene dan sanitasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan:
a. pengawasan, inspeksi, dan audit terhadap
tempat produksi, rumah pemotongan
hewan, tempat pemerahan, tempat
penyimpanan, tempat pengolahan, dan
tempat penjualan atau penjajaan serta alat
dan mesin produk hewan.
04/16/2020
b. surveilans terhadap residu obat hewan, cemaran
mikroba, dan/atau cemaran kimia.
c. pembinaan terhadap orang yang terlibat secara
langsung dengan aktifitas tsb.
(3) Kegiatan higiene dan sanitasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh dokter
hewan berwenang di bidang kesehatan masyarakat
veteriner.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai higiene dan
sanitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diatur dengan Peraturan Menteri.
04/16/2020
Pasal 64

Pemerintah dan pemerintah daerah mengantisipasi


ancaman terhadap kesehatan masyarakat yang
ditimbulkan oleh hewan dan/atau perubahan
lingkungan sebagai dampak bencana alam yang
memerlukan kesiagaan dan cara penanggulangan
terhadap zoonosis, masalah higiene dan sanitasi
lingkungan.

04/16/2020
Pasal 65

Ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasan,


pemeriksaan, pengujian, standardisasi, dan sertifikasi
produk hewan sebagaimana dimaksud dalam pasal 58
ayat (1), tata cara pemasukan produk hewan olahan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 ayat (1) huruf (b),
penetapan negara dan/atau zona, unit usaha produk
hewan, dan tata cara pemasukan produk hewan segar
sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 ayat (2), serta
kesiagaan dan cara penanggulangan bencana
sebagaimana dimaksud dalam pasal 64 diatur dengan
Peraturan Pemerintah.
04/16/2020
SELAMAT BELAJAR

04/16/2020