Anda di halaman 1dari 3

PAPER WORK EKOLOGI TUMBUHAN

Ketahanan Tumbuhan terhadap Salinitas dengan Studi Kasus Penapisan Varietas Padi Toleran Salinitas Pada Lahan Rawa Di Kabupaten Pesisir Selatan
Faisal Asiz Prihantoro (1511100001), Atik Sriningsih(1511100003), Layniyatul Umami (1511100009), Windasari Putri Septarina (1511100023), Virlia Alvionita (1511100031), Lilis Wahyu Astutik (1511100033), Neneng Uswatun Hasanah (1511100035), Lisa Marjayandari (1511100041), Lydia Dianingtyas (1511100065), Cholis Muchlisin (1511100067), Boing Indraswari (1511100077), Liziyatin Nasihah (1511100701), Resy Adi Novitasari (1511100089) Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 IndonesiaJurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia Abstrak Padi merupakan tanaman pangan penting kedua di dunia, yang digunakan sebagai sumber bahan pangan setelah gandum, dan diperkirakan kebutuhannya akan meningkat 70% pada dekade mendatang, namun kurangnya varietas toleran cekaman lingkungan terutama cekaman kadar garam yang tinggi. Salah satu jenis lahan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi padi adalah lahan rawa untuk itu dilaksanakan penelitian di sawah lahan rawa di Desa Pulau Karam, Kecamatan Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, dan di Laboratorium Kopertis Wilayah X dari bulan Juni sampai September 2007. Dua percobaan dilakukan untuk mempelajari tingkat toleransi varietas terhadap cekaman garam yaitu (1) pada kondisi in situ dan (2) pada kondisi cekaman garam yang tidak alami. Penelitian menunjukkan bahwa skrining varietas padi yang toleran dan peka terhadap stres garam dapat ditentukan dengan membandingkan bobot kering akar dalam cekaman salinitan dan dalam tidak ada cekaman salinitas, dan dalam hal aspek agronomi, padi yang toleran terhadap salinitas menunjukkan pertumbuhan yang baik bila ditanam di daerah yang memiliki salinitas tinggi. Kata KunciCekaman garam, Ketahanan Tumbuhan, Salintas. I. PENDAHULUAN Faktor pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan meliputi faktor lingkungan seperti intensitas cahaya, suhu, pH, air, mineral, kelembaban, CO2 dan salinitas. Setiap faktor lingkungan yang mempengaruhi suatu jenis organisme mempunyai kondisi minimum dan maksimum yang mampu diterimanya. Kisaran diantara kedua harga ekstrim tersebut merupakan kisaran toleransi dan didalamnya terdapat sebuah kondisi yang optimum. Dengan demikian setiap organisme hanya mampu hidup pada tempat-tempat tertentu saja, yaitu tempat yang cocok yang dapat diterimanya. Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban manusia. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yaitu padi liar. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia setelah jagung dan gandum. Selain itu, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia (Rahmawati 2006). Salah satu faktor yang dapat menghambat produktivitas tanaman padi adalah salinitas. Salinitas merupakan bagian dari sifat fisik kimia suatu perairan, selain suhu, pH, substrat dan lain-lain. Salinitas dipengaruhi oleh pasang surut, curah hujan, penguapan, presipitasi dan topografi suatu perairan. Akibatnya, salinitas suatu perairan dapat sama atau berbeda dengan perairan lainnya, misalnya perairan darat, laut dan payau. Kisaran salinitas air laut adalah 30-35, estuari 535 dan air tawar 0,5-5 (Nybakken, 1992). Cekaman salinitas merupakan cekaman yang kompleks umumnya ditunjukkan sebagai kondisi kekurangan air karena pengaruh osmotik garam. Pengaruh racun dari beberapa ion tertentu seperti natrium dan klorida, yang lazim terdapat dalam tanah bergaram, yang akan menghancurkan struktur enzim dan makromolekul lainnya, merusak organel sel, mengganggu fotosintesis dan respirasi, akan menghambat sintesis protein dan mendorong kekurangan ion, dan juga tingginya konsentrasi garam akan menyebabkan penurunan permeabilitas akar terhadap air dan mengakibatkan penurunan laju masuknya air ke dalam tanaman (Marschner , 2005). Perubahan bentuk morfologi dan anatomi yang khas untuk memperbaiki status air tanaman, seperti ukuran daun lebih kecil, jumlah stomata lebih sedikit, penebalan kutikula, berkurangnya diferensiasi, perkembangan jaringan pembuluh, dan lignifikasi akar lebih awal, merupakan mekanisme morfologi terhadap ketahanan salinitas. Sedangkan bentuk mekanisme fisiologi adalah kemampuan tanaman menyesuaikan diri terhadap tekanan osmotic yang mencakup: penyerapan maupun akumulasi ion-ion dan sintesis senyawa organik, mengatur konsentrasi garam dalam sitoplasma melalui transport membran, dan ketahanan relatif membran dalam mengatur transfer ion dan solut lainnya dari sitoplasma dan vakuola serta organel lainnya (Maas & Hoffman 1998). Menurut Zhou et al. (2007) gejala keracunan garam pada tanaman padi berupa terhambatnya pertumbuhan, berkurangnya anakan, ujung-ujung daun berwarna keputihan dan sering terlihat bagian-bagian yang khlorosis pada daun, dan penurunan hasil gabah mencapai 50%. Rahmawati (2006) menyimpulkan bahwa padi relatif lebih toleran terhadap salinitas saat perkecambahan, akan tetapi tanaman bisa jadi rentan saat pindah tanam, bibit masih muda, dan pembungaan. Pengaruh lebih jauh terhadap tanaman padi adalah: 1) berkurangnya kecepatan

PAPER WORK EKOLOGI TUMBUHAN perkecambahan karena pengaruh turgor; 2) berkurangnya tinggi tanaman dan jumlah anakan; 3) pertumbuhan akar terhambat; 4) sterilitas biji meningkat; 5) kurangnya bobot 1000 gabah dan kandungan protein total dalam biji karena penyerapan Na yang berlebihan; 6) berkurangnya bobot kering tanaman; dan 7) berkurangnya penambatan N2 secara biologi dan lambatnya mineralisasi tanah. II.METODOLOGI Penelitian dilaksanakan di sawah lahan rawa di Desa Pulau Karam, Kecamatan Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, dan di Laboratorium Kopertis Wilayah X dari bulan Juni sampai September 2007. Dua percobaan dilakukan untuk mempelajari tingkat toleransi varietas terhadap cekaman garam yaitu (1) pada kondisi in situ dan (2) pada kondisi cekaman garam yang tidak alami. Seleksi Varietas Padi Toleran terhadap Cekaman Garam Secara In Situ Tujuan dari percobaan ini adalah untuk melihat daya adaptasi beberapa varietas padi terhadap salinitas tinggi secara in situ yaitu pada lahan rawa terintrusi air laut di Desa Pulau Karam Kecamatan Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan. Varietas padi yang dipergunakan pada percobaan ini berjumlah 18 varietas (14 varietas diperoleh dari Balai Penelitian Padi, dan 4 varietas lokal). Ke 14 varietas padi tersebut adalah: 1). IR 42; 2). IR 64; 3). IR 66; 4). IR 74; 5). Widas; 6). Memberamo; 7). Digul; 8). Cisadane; 9). Ciliwung; 10). Cirata; 11) Celebes; 12). Cisantana; 13). Kalimas; dan 14). Batang Piaman, sedangkan 4 varietas dari lingkungan setempat, yaitu: 1). Ciherang; 2). Batang Lembang; 3). Randah Kuning dan 4). Ketan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 3 ulangan. Perlakuan percobaan ini adalah 18 varietas padi. Percobaan dilakukan dengan membuat petak percobaan yang berupa guludan berukuran 50 cm x 50 cm setinggi 10 cm dari permukaan air sawah. Ketinggian 10 cm ini dimaksudkan agar saat terjadi pasang air laut maka semangkin banyak air laut yang masuk ke sawah rawa. Petak-petak percobaan tersebut masing-masing disebari benih varietas sebanyak 400 butir benih padi yang sebelumnya direndam selama 24 jam. Setelah benih disebar, permukaan guludan ditutup dengan tanah rawa setebal 0.5 cm. Setelah berumur 14 hari, bibit dipindah ke lapangan dan ditanam secara baris. Pengamatan dilakukan terhadap karakter jumlah anakan (JA), total bobot kering (TBK), bobot kering tajuk (BKT), dan bobot kering akar (BKA) saat tanaman berumur 4 minggu setelah tanam (MST) pada 3 rumpun contoh per petak percobaan. Penyaringan beberapa varietas padi toleran terhadap cekaman garam Tujuan dari percobaan ini adalah untuk melihat kesesuaian (kompabilitas) daya adaptasi varietas padi terhadap kadar garam tinggi dalam menentukan varietas toleran. Percobaan ini adalah uji cepat untuk mengetahui tingkat toleransi varietas padi terhadap cekaman garam. Percobaan penyaringan sederhana ini adalah percobaan faktorial dengan varietas dan kondisi cekaman garam sebagai

2 faktornya, dilakukan dengan rancangan acak lengkap. Faktor pertama adalah 18 varietas padi, sedangkan faktor ke dua adalah kondisi cekaman garam yaitu kondisi lingkungan alami (in situ = kontrol) dan kondisi cekaman larutan garam 4000 ppm (perlakuan). Percobaan dilakukan dengan cara menaburkan benih 18 varietas padi, pada media tanah rawa yang mengandung garam dan ditumbuhkan selama 6 MST, kemudian diamati penampilan pertumbuhan vegetatifnya. Parameter yang diamati, terutama karakter agronomi penting seperti, jumlah anakan (JA), total bobot kering (TBK), rataan TBK, bobot kering tajuk (BKT), bobot kering akar (BKA) (Bilman,2008). Pengelompokan varietas tanaman padi tergolong toleran atau peka, berdasarkan pada persen pertumbuhan bobot kering akar tanaman, antara kondisi alami ( in situ = kontrol) dan kondisi perlakuan (tercekam). Tanaman digolongkan toleran apabila pertumbuhan bobot kering akar tanaman menggalami penurunan <50% dibandingkan dengan kontrol, dan tanaman digolongkan peka apabila penurunan pertumbuhan bobot kering tanaman >50% (Utama, 2004). Hasil dan Pembahasan Hasil observasi selama percobaan diketahui bahwa antara pukul 03.0006.00 WIB terjadi limpasan air laut melalui aliran sungai yang masuk ke areal sawah lahan rawa. Campuran kedua air yang masuk ke areal sawah lahan rawa ini membawa sejumlah garam di antaranya Na+ dan Cl-, hasil analisis terhadap kedua unsur tersebut ternyata sangat tinggi (Tabel 1). Kadar kedua garam tersebut telah mempengaruhi karakter agronomi penting, termasuk pertumbuhan JA yang berbeda.

Pertumbuhan padi yang ditanam pada sawah lahan rawa memperlihatkan jumlah anakan (JA) yang beragam (Tabel 2). Keragaman ini mengakibatkan indikator tumbuh lainnya seperti total bobot kering (TBK), bobot kering tajuk (BKT) dan bobot kering akar (BKA) juga beragam. Keragaman ini terjadi akibat tiap varietas memiliki potensi genetik yang berbeda dalam merespon lingkungan tumbuhnya yakni garam-garam terlarut dalam air laut yang bercampur dengan air sungai yang secara berkala masuk ke sawah lahan rawa. Tabel 2 memperlihatkan angka jumlah anakan dan indikator lainnya yang terjadi pada kondisi alami di lapangan, semua peubah yang diamati tersebut keragaannya lebih baik

PAPER WORK EKOLOGI TUMBUHAN dibandingkan dengan JA dan indikator tumbuh lainnya yang diamati pada tanaman yang tumbuh dalam kondisi cekaman larutan garam NaCl 4000 ppm (Tabel 3). tanah akan terganggu dengan naiknya salinitas tanah. IV. KESIMPULAN

III.

HASIL DAN

PEMBAHASAN

Hasil analisis Cluster dan setelah dilakukan proses screening, maka didapat pengelompokan klon-klon tebu berdasarkan kategori sifat. Parameter yang diamati sebagai acuan scoring adalah kecepatan kelayuan daun kecepatan mortalitas tanaman serta kecepatan tanaman untuk melakukan recovery. Penggulungan daun merupakan respon tanaman terhadap kekeringan yang lebih awal dan sempurna. Oleh karena itu cepat lambatnya penggulungan dapat digunakan untuk menduga tingkat toleransi terhadap kekeringan maupun cekaman salinitas (Widyasari, et al., 1997). Cekaman garam memberikan efek yang signifikan pada semua parameter perrtumbuhan tanaman. Semua parameter pertumbuhan menurun seiring dengan meningkatnya konsentrasi NaCl. Walaupun demikian, kepekaan tanaman terhadap stress garam bervariasi bergantung pada tingkat cekaman (Omami, 2005). Tanimoto dan Nickel (1965) telah mengelompokkan toleransi klon-klon tebu terhadap NaCl. Klon-klon yang bertahan hidup pada penyiraman NaCl sampai 21 gram per liter termasuk pada kelompok tahan. Dari studi kasus ini ditemukan korelasi positif antara kepekaan tanaman terhadap garam NaCl dengan kepekaan terhadap kekeringan di lapang. Gejala kekeringan pada tanaman tebu dimulai dari ujung helai daun menggulung di siang hari, tetapi pulih kembali di malam hari. Pada tingkat cekaman yang lebih lanjut, helaian daun tetap menggulung dan tidak pulih kembali sertadiikuti dengan proses pengeringan. Proses ini diawali pada daun tua kedaun yang lebih muda. Proses kekeringan diawali dari ujung dan tepi daun dan merambat sampai tengah daun, selanjutnya diikuti oleh pengeringan pelepah batang tebu. Gejala ini terjadi pada hari ke-12 setelah penghentian penyiraman (Widyasari et al., 1996). Tanaman yang mengalami cekaman garam umumnya mempunyai daun yang lebih sempit, lebih gelap, nisbah tajuk menurun, berkurangnya anakan, menunda dan menurunkan pembungaan serta jumlah dan ukuran buah lebih kecil. Tanaman yang diberi perlakuan salinitas dengan NaCl, memperlihatkan gejala yang amat mencolok disertai dengan mengeringnya titik tumbuhya itu pucuk tunas (Yuanita, 2004). Hal ini dapat dilihat pada tebu yang berada pada kelompok peka dan sangat peka. Daun pada kelompok peka dan sangat peka mengalami penggulungan maupun pengeringan hingga tiga perempat sampai dengan seluruh bagian daun. Mass dan Hoffman (1977) dalam Moore (1987) telah mengelompokkan tanaman tebu sebagai tanaman yang kategori sifat ketahanan terhadap salinitas adalah moderate atau agak peka. Menurut El-Swaify (2000), salinitas menyebabkan penurunan hasil panen pada tanaman tebu. Pengaruh salinitas tanah tergantung pada tingkatan pertumbuhan tanaman, biasanya pada tingkatan bibit sangat peka terhadap salinitas. Salinitas tanah dapat menghambat perkecambahan benih, pertumbuhan yang tidak teratur, Proses pengangkutan unsur-unsur hara tanaman dari dalam

Kesimpulan yang dapat diambil dari kajian pusataka mengenai ketahanan dan mekanisme tumbuhan menghadapi salinitas tinggi dengan studi kasus uji ketahanan tanaman tebu hasil persilangan (Saccharum spp. hybrid) pada kondisi lingkungan cekaman garam (NaCl) adalah salinitas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Tumbuhan yang tidak toleran bila terkena stress cekaman garam akan mengalami gejala tumbuh kerdil, kesehatan tanaman terganggu, warna tanaman berubah dan prduktivitas tanaman menurun. Salah satu cara untuk mengatasi stress cekaman garam bagi tanaman yang peka terhadap salinitas tinggi adalah dengan menyilangkannya dengan kultivar tanaman yang toleran untuk menghasilkan gene pool yang toleran pula terhadap cekaman garam. Tanamanyang toleran memiliki 2 mekanisme dalam mengatasi kelebihan garam yaitu salt includers dan salt excluders. Salt excluders mencegah agar garam tidak sampai ke tajuk dalam kosentrasi yang tinggi. Garam yang diserap dalam jumlah yang tinggi di reabsorb kembali dari jaringan xilem kemudian disimpan atau dikeluarkan kembali ke dalam tanah. Sedangkan salt includers melakukan mekanismenya dengan menyimpan sejumlah besar garam ke dalam bagian-bagian tertentu tubuhnya seperti dalam vakuola sel mesofil.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Tanimoto. T., L.G. Nickell. 1965. Estimation Of Drought Resistence Of Sugarcane Varietas. Proceddings Of The Twelfth Congress Of The International Society Of Sugarcane Technologist. Puerto Rico. Hal 893-897. Widyasari, W.B, Eka, S., K.A. Wahyudi, Lamadji, S., Darmawan, T. 1997. Pendugaan toleransi nilai daya cabut akar pada klon-klon tebu.Bulletin P3GI No. 145, Mei 1997. Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia. Pasuruan. Hal 10-19. Yuniati. R. 2004. Penapisan Galur Kedelai Glycine max (l.) Merrill Toleran Terhadap NaCl Untuk Penanaman di Lahan Salin (Screening of Soybean Cultivars Glycine max (L.) Merrill under Sodium Chloride Stress Condition). Departemen Biologi, FMIPA, Universitas Indonesia. Depok. MAKARA, SAINS, VOL. 8, NO. 1, APRIL 2004: 2124

[2]

[3]