Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN PRAKTIKUM MIKOLOGI 2014

Isolasi, Identifikasi Jamur Makroskopis dan


Mikroskopis
Windasari Putri Septarina (1511100023)
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: windaseptarina@yahoo.com
AbstrakBerdasarkan kenampakannya jamur dibedakan
menjadi 3 yaitu khamir (yeast), kapang (mold), dan cendawan
(mashroom). Jamur kecuali khamir pada keadaan biasa
mempunyai badan yang terdiri dari benang-benang hifa
(miselium) dan spora. Praktikum ini bertujuan untuk mengenal
berbagai macam alat yang biasa digunakan dalam bidang
mikologi, mempelajari cara-cara sterilisasi terhadap bahan dan
peralatan baik secara fisik maupun kimia, mempelajari medium
fungi, komposisi, serta cara membuatnya. Mempelajari cara-cara
pengisolasian fungi dari alam maupun dari substrat organik
tertentu hingga mendapatkan kultur murni, serta mengetahui
cara mengidentifikasi fungi sehingga diketahui genus atau spesie
dari suatu biakan. Praktikum ini dilakukan dengan pertama
dilakukan sterilisasi alat, pembuatan medium PDA, isolasi jamur
mikroskopis dan makroskopis, slide culture, serta pengamatan
slide culture dan identifikasi fungi. Dari hasi identifikasi
ditemukan bahwa jamur mikroskopis yang dipakai adalah
Aspergillus niger sedangkan jamur makroskopis yang dipakai
berasal dari genus Collybia
Kata KunciAspergillus, Collybia, Fungi, Isolasi, Slide culture

I. PENDAHULUAN
atau cendawan adalah organisme heterotrofik,
FUNGI
mereka memerlukan senyawa organik untuk nutrisinya. Bila
mereka hidup dari benda organik mati yang terlarut, mereka
disebut saprofit. Saprofit menghancurkan sisa-sisa tumbuhan
dan hewan yang kompleks, menguraikannya menjadi zat-zat
kimia yang lebih sederhana, yang kemudian dikembalikan ke
dalam tanah , dan selanjutnya meningkatkan kesuburannya.
Jadi mereka dapat sangat menguntungkan bagi manusia.
Sebaliknya mereka juga dapat merugikan kita bilaman mereka
membusukkan kayu, makanan, dan bahan-bahan lain [1]
Cendawan saprofit juga penting dalam fermentasi
industry, misalnya pembuatan bir, minuman anggur, dan
produksi antibiotik seperti penisilin. Peragian adonan dan
pemasakkan beberapa keju juga bergantung pada kegiatan
cendawan [1]
Berdasarkan kenampakannya jamur dibedakan menjadi 3
yaitu khamir (yeast), kapang (mold), dan cendawan
(mashroom). Jamur kecuali khamir pada keadaan biasa
mempunyai badan yang terdiri dari benang-benang hifa
(miselium) dan spora. Hifa tersebut ada yang bersekat-sekat
atau tidak, dan ada yang bercabang-cabang atau tidak. Hifa
yang bersekat ada yang berinti satu dan ada yang berinti dua
atau lebih [1]
Sampai sekarang fungi pada umumnya diklasifikasikan
menurut morfologi struktur reproduksi, serta siklus hidupnya.

Identifikasi dilakukan dengan cara mengamati sesuai dengan


kunci identifikasi. Prinsip yang digunakan dalam kunci
identifikasi adalah pemisahan fungi menurut perbedaan atau
persamaan dari yang paling kasar hingga taraf yang detail.
Praktikum ini bertujuan untuk mengenal berbagai macam
alat yang biasa digunakan dalam bidang mikologi,
mempelajari cara-cara sterilisasi terhadap bahan dan peralatan
baik secara fisik maupun kimia, mempelajari medium fungi,
komposisi, serta cara membuatnya. Mempelajari cara-cara
pengisolasian fungi dari alam maupun dari substrat organik
tertentu hingga mendapatkan kultur murni, serta mengetahui
cara mengidentifikasi fungi sehingga diketahui genus atau
spesie dari suatu biakan.
II. METODOLOGI
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Kegiatan praktikum mikologi ini dilakukan setiap hari Senin
tanggal 7 April 2014 hingga 19 Mei 2014 pada pukul 13.00
hingga 14.40 WIB di Laboratorium Mikologi Jurusan Biologi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut
Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
B. Alat dan Bahan
Pada praktikum mikologi ini alat yang digunakan adalah
tabung reaksi, erlenmayer, autoclave, cawan petri, tusuk gigi,
aluminium foil, bunsen, tissue, penjepit kayu, jarum ose, jarum
tanam tajam, kompor listrik, panci, pisau, gelas ukur, kaca
objek, penutup kaca objek, neraca analitik, plastic wrap,
mikroskop compound.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah kentang
200 gram, agar, 15 gram, dektrose 20 gram, chloramphenicol,
aquades, alkohol 70%, jamur mikroskopis dari roti, jamur
makroskopis.
C. Langkah Kerja
Sterilisasi Alat
Dibungkus semua alat gelas yang dibutuhkan dalam
praktikum mikologi ini dengan kertas yellow pages, dilakukan
sterilisasi panas lembab dengan menggunakan autoclave. Diisi
autoclave, dikumpulkan medium dan alat-alat yang telah
dibungkus dengan yellow pages, diletakkan ke dalam
keranjang autoclave alat-alat tersebut. Dimasukkan keranjang
autoclave ke dalam autoclave yang telah diisi dengan air.
Diberi rongga diantara alat-alat yang akan disterilkan untuk
pergerakan uap air dan udara. Ditutup autoclave dengan

LAPORAN PRAKTIKUM MIKOLOGI 2014


mencocokkan baut-baut yang ada di bagian atas tubuh
sterilisator dengan tempatnya yang terletak pada tutup. Dibuka
pengatur katup pengaman untuk mengeluarkan udara yang ada
di dalam autoclave. Dipasang sumber pemanas, ditutup katup
pengaman apabila uap air sudah keluar cukup banyak
(terdengar bunyi desis) dari katup pengaman. Dibaca skala
suhu dan tekanan hingga mencapai suhu 121C dengan
tekanan 15 lb. Ketika suhu mencapai 121C maka distabilkan
suhu selama 15 menit dengan cara mengatur sumber panas.
Dimatikan autoclave saat sterilisasi sudah selesai. Ditunggu
hingga tekanan menjadi nol. Dibuka autoclave dan
dikeluarkan alat-alat dan medium yang telah disterilisasi.
Pembuatan Medium PDA
Dikupas dan dipotong kecil-kecil 200 gram kentang
kemudian direbus selama 30 menit dan diambil filtratnya. Pada
filtrat ditambahkan aquades hingga volumenya 1000 ml. Ke
dalam campuran ditambahkan dekstrose sebanyak 20 gram dan
agar sebanyak 15 gram ditunggu hingga semua larut. Setelah
semua agar larut medium dipindahkan ke dalam erlenmayer
dan dilakukan sterilisasi menggunakan autoclave. Setelah
steril dituangkan ke cawan petri yang juga telah disterilkan
secara aseptik, dalam cawan petri juga dituangkan
chloramphenicol sebagai antimikrobia untuk mencegah
tumbuhnya mikroba.
Isolasi Jamur Mikroskopis
Disiapkan alat-alat untuk sterilisasi dan disiapkan jamur
mikroskopis yang akan di isolasi. Jamur yang akan di isolasi
diambil dari jamur roti yang berwarna hitam. Dibersihkan
tempat kerja, tangan dengan alkohol 70% agar steril.
Disemprot dengan alkohol dan dilewatkan dalam api bunsen
hingga membara jarum tanam tajam yang akan digunakan
untuk mengambil isolat jamur dari roti. Dipindahkan isolat
tersebut ke dalam cawan petri yang telah berisi medium yang
telah disterilisasi. Ditutup cawan petri dan dilapisi dengan
plastic wrap, ditunggu kurang lebih 3 hari. Untuk
pemeliharaan biakan murni dapat dilakukan pemeliharaan
berkala melalui pemindahan berkala pada medium agar miring
yang dilakukan secara aseptis sama seperti langkah yang telah
dijelaskan sebelumnya.
Isolasi Jamur Makroskopis
Disiapkan alat-alat untuk sterilisasi dan disiapkan jamur
makroskopis yang akan di isolasi. Jamur yang akan di isolasi
diambil dari halaman jurusan biologi ITS. Dibersihkan tempat
kerja, tangan dengan alkohol 70% agar steril. Disemprot
dengan alkohol dan dilewatkan dalam api bunsen pisau bedah
serta pinset. Disemprot dan dibersihkan dengan kapas bagian
stalk jamur makroskopis kemudian dibelah secara vertical
bagian stalk jamur tersebut dengan pisau bedah dan diambil
sedikit bagiannya dengan menggunakan pinset kemudian
diletakkan ke dalam cawan petri yang telah berisi medium
yang telah disterilisasi. Ditutup cawan petri dan dilapisi
dengan plastic wrap, ditunggu kurang lebih 3-4 hari. Untuk
pemeliharaan biakan murni dapat dilakukan pemeliharaan
berkala melalui pemindahan berkala pada medium agar miring
yang dilakukan secara aseptis sama seperti langkah yang telah
dijelaskan sebelumnya.
Slide Culture

2
Dalam slide culture ini hanya dilakukan pada biakan
fungi dari fungi mikroskopis karena pada fungi makroskopis
tidak diperoleh biakan murni sehingga tidak dimungkinkan
untuk dilakukan slide culture. Disiapkan alat dan bahan yang
telah disterilisasi sebelumnya. Disiapkan cawan petri dan
diletakkan di dalamnya tusuk gigi yang telah dibungkus
dengan aluminium foil dan dibentuk seperti huruf U.
Kemudian diletakkan kaca objek diatas tusuk gigi yang
dibungkus aluminium foil tersebut dan diletakkan sepotong
agar (6x6x2 mm) pada tengah kaca objek steril dan tiap sisinya
di inokulasi dengan fungi biakan murni hasil pemeliharan
berkala dari medium agar miring. Diletakkan penutup kaca
objek pada bagian atas agar yang telah di inokulasi dengan
fungi biakan murni mikroskopis. Dituangkan sedikit aquades
steril pada cawan petri untuk menjaga kelembaban cawan
petri, dilapisi dengan plastic wrap bagian mulut cawan petri
dan ditunggu kurang lebih 3-4 hari untuk melihat tegakan dan
identifikasi terhadap fungi tersebut.
Pengamatan Slide Culture dan Identifikasi Fungi
Dilakukan pengamatan pada hasil slide culture dengan
cara diamati secara langsung tegakan yang terbentuk pada agar
di kaca objek, dan dilakukan pengamatan dengan pewarnaan
yaitu dengan pengambilan penutup kaca objek yang diletakkan
pada kaca objek baru yang telah ditetesi methylene blue. Serta
dilakukan pengamatan tanpa pewarnaan. Diamati dibawah
mikroskop compound dengan perbesaran yang sesuai.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Identifikasi Jamur Mikroskopis
Berdasarkan hasil pengamatan dan identifikasi jamur
mikroskopis yang digunakan dalam praktikum ini yaitu
Aspergillus niger. Hal tersebut dapat disimpulkan dengan
melihat secara makroskopis dan mikroskopis. Dari
pengamatan secara langsung atau makroskopis penampakan
Aspergillus niger tampak membentuk koloni berwarna hitam,
dan tekstur koloni tersebut tampak seperti bulu. Dari
pengamatan di bawah mikroskop compound tampak bahwa
konidia berwarna hitam, vesikel bulat besar dan tampak
terdapat fialid yang memenuhi permukaan vesikel tersebut.
Hal tersebut sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa
Aspergillus niger, merupakan salah satu spesies yang paling
umum dan mudah di identifikasi dari genus Aspergillus.
Aspergillus niger dapat tumbuh pada suhu 35C-37C
(optimum), 6C-8C (minimum), 45C-47C (maksimum).
Aspergillus niger, mempunyai koloni berwarna kehitaman
mencapai diameter 9 cm dalam 6 hari yang ditumbuhkan pada
media PDA, konidianya seringkali bersepta, konidia berbentuk
bulat hingga semibulat, berukuran 4,50-5,0 m. Kepala
konidia berwarna hitam, bulat, cenderung memisah [2]
Aspergillus niger mempunyai ciri-ciri yang khas yaitu
berupa benang tunggal disebut hifa, atau berupa kumpulan
benang-benang padat menjadi satu yang disebut miselium,
tidak mempunyai klorofil dan hidup heterotrop. Bersifat
aerobik dan berkembang biak secara vegetatif dan generatif
melalui pembelahan sel dan spora-spora yang dibentuk di
dalam askus atau kotak spora [3]. Kapang ini tumbuh dengan

LAPORAN PRAKTIKUM MIKOLOGI 2014

baik pada suhu 30-35C. Kisaran pH yang dibutuhkan 2,8


sampai 8,8 dengan kelembaban 80-90 persen [4].

Gambar 4.

Gambar 1.

Pengamatan langsung pada media agar perbesaran 100 kali


(a: konidia, b: konidiofor)

Gambar 2.

Struktur mikroskopis Aspergillus niger (a: konidia, b: fialid,


c: vesikel, d: konidiofor) perbesaran 100 kali [5]

3.2 Identifikasi Jamur Makroskopis


Berdasarkan hasil pengamatan dan identifikasi jamur
makroskopis yang digunakan dalam praktikum ini yaitu
Collybia sp. Habitatnya merupakan jenis jamur liar yang
banyak menempel pada batang kayu yang telah lapuk atau
mati. Ciri-cirinya berbentuk seperti payung, berwarna
kekuning-kuningan atau kecoklat-coklatan. Genus ini dapat
dibedakan karena memiliki spora putih, terdapat inrolled
margin pada cap spesimen yang masih muda. Memiliki gills
[6]. Dalam keseharian jamur ini lebih dikenal dengan nama
jamur payung.

Pengamatan tanpa pewarnaan perbesaran 400 kali (a: konidia,


yang tampak berantai)

b
a

Gambar 3.

Pengamatan dengan pewarnaan perbesaran 400 kali (a:


konidiofor, b: vesikel, c: spora)

Berdasarkan gambar hasil pengamatan tersebut dapat


dipastikan bahwa fungi yang diambil dari substrat roti tersebut
adalah Aspergillus niger. Dilihat dari warna konidia yang
memiliki warna hitam, serta tampak fialid yang menempel
pada vesikelnya. Selain menurut deskripsi literatur yang telah
menyatakan ciri-ciri dari Aspergillus niger baik secara
makroskopis dan dilihat secara mikroskopis di bawah
mikroskop dengan perbesaran tertentu yang memiliki
kesamaan dengan isolat yang dipakai di bawah ini juga
terdapat foto literatur Aspergillus niger.

Gambar 5.

Pengamatan morfologi jamur makroskopis

Berdasarkan
hasil praktikum identifikasi jamur
makroskopis yang digunakan hanya dengan melihat
penampakan morfologinya saja dan tidak dilakukan dengan
pengamatan secara mikroskopis hal tersebut karena tidak
diperolehnya biakan murni dari jamur tersebut sehingga tidak
memungkinkannya identifikasi secara mikroskopis. Dari hasil
identifikasi tampak bahwa jamur yang dipakai memiliki ciriciri yang sama dengan yang telah disebutkan di dalam literatur.

LAPORAN PRAKTIKUM MIKOLOGI 2014


IV. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa alat-alat yang digunakan dalam praktikum
ini yaitu tabung reaksi, erlenmayer, autoclave, cawan petri,
tusuk gigi, aluminium foil, bunsen, tissue, penjepit kayu, jarum
ose, jarum tanam tajam, kompor listrik, panci, pisau, gelas
ukur, kaca objek, penutup kaca objek, neraca analitik, plastic
wrap, mikroskop compound. Sterilisasi yang digunakan dalam
praktikum ini yaitu teknik sterilisasi panas lembab dengan
menggunakan autoclave. Medium yang digunakan dalam
praktikum ini yaitu PDA dengan penambahan chloramphenicol
sebagai zat antimikrobia untuk mencegah tumbuhnya
mikroorganisme selain fungi. Isolasi fungi diambil dari
substrat roti untuk jamur mikroskopis dan diambil di halam
Jurusan Biologi ITS untuk jamur makroskopis, dilakukan
isolasi secara aseptis untuk mendapatkan biakan murni dan
kemudian dilakukan slide culture dan identifikasi terhadap
jamur tersebut baik secara morfologi maupun secara
mikroskopis dengan pengamatan di bawah mikroskop.
V. DAFTAR PUSTAKA
[1]
[2]

[3]
[4]
[5]
[6]

Pelczar, M.J dan E.C.S Chan. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI


Press (2008).
Soernartiningsih. Efektivitas beberapa Cendawan Antagonis dalam
Menghambat Perkembangan Cendawan Rhizoctonia solani pada Jagung
Secara Invitro. Prosiding Pekan Serealia Nasional (2010).
Raper, K.B., and D.I. Fennel. The Genus Aspergillus. Baltimore: The
William and Wilking Co (1977)
Ratledge, C. Biochemistry of Microbial Degradation. London: Kluwer
Academic Publishers (1994)
Natalia. Isolasi, Identifikasi, Patogenitas, dan Proses Kolonisasi
Cendawan. Bogor: IPB (2000)
C.M Christensen. Edible Mushrooms. USA: University of Minnesota
(1981)