Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

PEMBUNUHAN ATAU BUNUH DIRI PADA KASUS KEMATIAN MENDADAK

oleh: Kelompok IV Bayu Primahatmaja (0810710027) Hamimillah Hannan (0810710052) Sevita Nuril Firdausi (0810710104) Arvinder Singh A/L Jaginder Sigh (0810714003) Sharanraj A/L Kupusamy (0810714032) Pembimbing: dr. Tasmonoheni, SpF

LABORATORIUM ILMU KEDOKTERAN FORENSIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA RUMAH SAKIT UMUM Dr. SAIFUL ANWAR MALANG 2012 DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................................1 Daftar Isi ......................................................................................................2 BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................3 1.1 Latar Belakang Masalah .......................................................................3 1.2 Rumusan Masalah ................................................................................4 1.3 Tujuan Penulisan ..................................................................................4 1.4 Manfaan Penulisan ...............................................................................4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................5 2.1 Pengertian Kematian Mendadak ..........................................................5 2.2 Prevalensi Kematian Mendadak ..........................................................5 2.3 Etiologi Kematian Mendadak................................................................6 BAB III LAPORAN KASUS DAN PEMBAHASAN .......................................8 3.1 Laporan Kasus ......................................................................................9 3.2 Pembahasan ..........................................................................................10 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ...........................................................12 4.1 Kesimpulan ...........................................................................................12 4.2 Saran ......................................................................................................12 DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................13

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang melalui pengamatan terhadap perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. Perubahan itu akan terjadi dari mulai terhentinya suplai oksigen. Menurut Peraturan Pemerintah RI no 18 tahun 1981,tentang bedah mayat klinis dan bedah mayat anatomis serta transplantasi alat atau jaringan tubuh manusia, meninggal dunia adalah keadaan insani yang diyakini oleh ahli-ahli kedokteran yang berwenang bahwa fungsi otak, pernafasan dan denyut jantung seseorang telah berhenti. Sedangkan menurut UU Kesehatan No. 36/ 2009 pasal 117 adalah apabila fungsi sistem jantung-sirkulasi dan sistem pernafasan terbukti telah berhenti secara permanen, atau apabila kematian batang otak telah dapat dibuktikan. Salah satu jenis kematian adalah kematian mendadak, yaitu kematian yang terjadi dua puluh empat jam setelah timbul gejala atau kelainan tubuh. Setiap kematian mendadak mempunyai kepentingan mediko legal dan di kebanyakan negara, kematian seperti ini mendapatkan penyelidikan oleh coroner, dokter atau profesi lain yang berkaitan. Kematian mendadak mencakup tiga kategori: kematian seketika (instaneous death), kematian tak terduga (unexpected death) dan kematian tanpa saksi atau sebab kematian yang tidak jelas (unwitness death). Kasus kematian mendadak dapat berupa kematian wajar, tidak wajar atau tidak jelas sehingga harus dipikirkan kemungkinan penyakit, kekerasan, keracunan yang terkadang sukar dibedakan. Pada tahun-tahun terakhir ini, penyebab kematian tersering pada kasus kematian mendadak adalah penyakit kardiovaskular.Penyebab penyakit jantung itu sendiri bermacam macam, mulai dari penyakit jantung koroner, kardiomiopati, penyakit katup jantung hingga akibat kelainan genetik seperti pada sindrom marfan. Sebuah studi post mortem pada salah satu Rumah Sakit di Dublin, Connoly Hospital antara Januari 1987 hingga Desember 2001, menyebutkan bahwa penyebab terbanyak kematian mendadak adalah penyakit Jantung (79%). Di Indonesia sendiri sukar didapatkan insiden kematian mendadak yang

sebenarnya.Angka yang ada hanyalah jumlah kematian mendadak yang diperiksa di bagian kedokteran forensik FKUI. Dalam tahun 1990, dari seluruh 2461 kasus, ditemukan 227 lakilaki (9,2%) dan 50 perempuan (2%) dengan kasus kematian mendadak, sedangkan pada tahun 1991 dari 2557 kasusdiperiksa 228 laki-laki (8,9%) dan 54 perempuan (2,1%). Oleh karena penyebabnya yang wajar, maka apabila kematian tersebut didahului oleh keluhan, gejala dan terdapat saksi (apalagi bila saksinya adalah dokter, misalnya di klinik,

puskesmas, atau rumah sakit) biasanya tidak akan menjadi masalah kedokteran forensik. Namun apabila kematian tersebut terjadi tanpa riwayat penyakit dan tanpa saksi, maka dapat menimbulkan kecurigaan bagi penyidik, apakah terkait unsur pidana di dalamnya. Disinilah peran pemeriksaan forensik berupa autopsi dan pemeriksaan histologi akan sangat penting guna menjawab permasalahan di atas. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 1.2.2 1.2.3 Apa definisi kematian mendadak? Bagaimana prevalensi kematian mendadak? Apa saja etiologi kematian mendadak?

1.3 Tujuan Penulisan 1.3.1 1.3.2 1.3.3 Mengetahui definisi kematian mendadak Mengetahui prevalensi kematian mendadak Mengetahui etiologi kematian mendadak

1.4 Manfaat Penulisan 1.4.1 1.4.2 Makalah ini dapat menjadi dasar pengetahuan tentang kasus kematian mendadak Makalah ini dapat digunakan sebgai dasar untuk pengembangan makalah berikutnya

BAB II KERANGKA TEORI 2.1 Pengertian Kematian Mendadak Pengertian kematian mendadak sebenarnya berasal dari kata sudden unexpected natural death yang di dalamnya terkandung kriteria penyebab yaitu natural (alamiah, wajar). Mendadak disini diartikan sebagai kematian yang datangnya tidak terduga dan tidak diharapkan, dengan batasan waktu yang nisbi. Para ahli memiliki pemahaman yang berbeda-beda mengenai definisi kematian mendadak, atau sudden natural death. Beberapa mendefinisikannya sebagai kasus kematian yang terjadi beberapa saat setelah timbulnya onset penyakit, sedangkan beberapa memberikan batasan sampai 24 jam setelah timbul gejala atau kelainan tubuh. Camps menyebutkan batasan kurang dari 48 jam sejak timbul gejala pertama. Pada kasus kematian mendadak, korban biasanya tidak meninggal seketika tetapi sering korban meninggal dalam beberapa menit setelah menderita sakit. Definisi kematian mendadak menurut WHO yaitu kematian dalam waktu 24 jam sejak gejala timbul tetapi, pada kasus-kasus forensik, sebagian besar kematian terjadi dalam hitungan menit atau bahkan detik sejak gejala timbul. Kematian mendadak tidak selalu tak terduga, dan kematian yang tak terduga tidak selalu terjadi mendadak, namun amat sering keduanya terjadi bersamaan pada satu kasus. Kematian mendadak mencakup tiga kategori: kematian seketika ( instaneous death), kematian tak terduga (unexpected death) dan kematian tanpa saksi atau sebab kematian yang tidak jelas (unwitness death). Patut diperhatikan bahwa pengertian saksi di sini adalah orang yang mengetahui proses terjadinya kematian pada korban, bukan sekadar tahu bahwa korban meninggal. Pada kematian mendadak, penyebab kematian hampir selalu ditemukan pada sistem kardiovaskuler, meskipun lesi tidak terdapat di jantung atau pembuluh darah utama. Cerebral hemmorraghe yang masif, perdarahan subarachnoid, ruptur kehamilan ektopik, hemoptosis, hematemesis dan emboli pulmonal, sebagai contoh, bersama dengan penyakit jantung dan aneurisma aorta mempunyai kontribusi pada sebagian besar penyebab kematian mendadak dan unexpected akibat system vascular. Tanpa otopsi, para dokter salah dalam menentukan sebab kematian dari 25-50% kasus. Di banyak negara dengan banyak proporsi otopsi medico-legal dan di Inggris dan Wales terdapat sekitar 80% otopsi koroner, sisanya karena bunuh diri, kecelakaan, dan pembunuhan. 2.2 Prevalensi Kematian Mendadak

Kematian mendadak terjadi empat kali lebih sering pada laki-laki dibandingkan pada perempuan.Penyakit pada jantung dan pembuluh darah menduduki urutan pertama dalam penyebab kematian mendadak dan juga memiliki kecenderungan yang serupa yaitu lebih sering menyerang laki-laki dibandingkan perempuan dengan perbandingan 7:1 sebelum menopause dan menjadi 1:1 setelah perempuan menopause.Tahun 1997 -2003 di Jepang dilakukan penelitian pada 1446 kematian pada kecelakaan lalu lintas dan dari autopsi pada korban kecelakaan lalu lintas di Dokkyo University dikonfirmasikan bahwa 130 kasus dari 1446 kasus tadi penyebab kematiannya digolongkan dalam kematian mendadak, bukan karena trauma akibat kecelakaan lalu lintas. Di Indonesia seperti yang dilaporkan badan Litbang Departemen Kesehatan RI, persentase kematian akibat penyakit ini meningkat dari 5,9% (1975) menjadi 9,1% (1981), 16,0 (1986), dan 19,0% (1995).

2.3 Etiologi Kematian Mendadak Secara garis besar penyebab kematian mendadak dibagi atas: trauma, keracunan dan penyakit.Insiden kematian mendadak akibat trauma dan keracunan lebih kurang sekitar 2530%, sementara penyakit merupakan penyebab tersering dari terjadinya kematian mendadak dengan persentase mencapai 60-70%. Kematian mendadak akibat penyakit terbanyak adalah akibat penyakit pada sistem jantung dan pembuluh darah. 1. TRAUMA a. Definisi : luka pada tubuh yang disebabkan oleh faktor dari luar tubuh. Pada kasus kematian mendadak, trauma yang dimaksud adalah yang tidak tampak pada pemeriksaan luar. b. Jenis-jenis trauma berdasarkan faktor penyebabnya: i. Trauma Fisik atau Mekanis ii. Trauma Kimia iii. Trauma Thermal iv. Trauma Elektris v. Trauma Barometris vi. Trauma Radiasi 2. KERACUNAN

a. Definisi : racun ialah zat yang bekerja pada tubuh secara kimiawi dan fisiologik yang dalam dosis toksik akan menyebabkan gangguan berupa sakit atau kematian. Intoksikasi merupakan suatu keadaaan dimana fungsi tubuh menjadi tidak normal yang disebabakan oleh sesuatu jenis racun atau bahan toksik lain. b. Jenis jenis racun. Berdasarkan sumber racun dapat digolongkan : 1. Racun yang berasal dari tumbuh tumbuhan yaitu opium, kokain, kurare, aflatoksin 2. Racun yang berasal dari hewan seperti bias atau toksinular, laba laba dan hewan laut 3. Racun yang berasal dari mineral seperti arsen, timah hitam dan lain lain 4. Racun yang berasal dari sintetik seperti heroin Berdasarkan tempat dimana racun berada, dapat dibagi menjadi : 1. Racun yang terdapat di alam bebas, misalnya gas gas yang terdapat di alam 2. Racun yang terdapat dirumah tangga, misalnya detergen, insektisida, pembersih (cleaners) 3. Racun yang digunakan dalam pertanian, misalnya insektisida, herbisida dan pestisida 4. Racun yang digunakan dalam industry dan laboratorium, misalnya asap dan basa kuat, logam berat 5. Racun yang terdapat dalam makanan, misalnya sianida dalam singkong, botulinium (racun ikan), bahan pengawet, zat adiktif 6. Racun dalam bentuk obat, misalnya hipnotik, sedative

c. Cara kerja atau efek yang ditimbulkan 1. Lokal : pada tempat kontak akan timbul beberapa reaksi, misalnya perangsangan, peradangan atau korosif. Contoh korosif : asam dan basakuat

2. Sistemik :mempunyaiafinitasterhadapsalahsatu system, misalnya barbiturate, alcohol, morfin, mempunyai afinitas kuat terhadap SSP. Digitalis dan oksalat terhadap jantung CO terhadap darah. 3. Lokal dan sistemik : asam karbol menyebabkan erosi lambung, sedangkan sebagian yang diabsorpsi akan menimbulkan depresi SSP

d. Faktor yang mempengaruhikeracunan : 1. Cara masuk : mulai dari yang paling cepat sampai paling lambat berturut-turut adalah inhalasi, intravena, intramuskuler, intraperitoneal, subkutan, peroral, kulit. 2. Umur : orang tua dan anak-anak lebih rentan 3. Kondisi tubuh : lebih rentan pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah seperi pada orang dengan gizi kurang atau buruk, orang dengan penyakit ginjal 4. Kebiasaan : penting pada kasus keracunan alcohol dan morfin sebab terjadi toleransi 5. Alergi : misal vitamin E, penicillin, streptomisin, danprokain 6. Faktor racun sendiri : yaitu takaran, konsentrasi, bentuk dan kondisi fisik lambung, struktur kimia, sinergis medan adisi 7. Waktu pemberian : sebelum atau sesudah makan. Pada racun peroral jika diberikan sebelum makan absorpsi akan lebih baik dan efek lebih cepat.

e. Kriteria Diagnosis 1. Adanya tanda dan gejala yang sesuai dengan racun penyebab 2. Dengan analisis kimiawi dapat dibuktikan adanya racun pada barang bukti jika sisanya masih ada 3. Dapat ditemukan racun atau sisa dalam tubuh/cairan tubuh korban, jika racun menjalar secara sistemik

4. Kelainan pada tubuh korban, makroskopik maupun mikroskopik sesuai dengan racun penyebab 5. Riwayat penyakit, bahwa korban tersebut benar-benar kontak dengan racun Butir 3 dan 4 mutlak perlu

Yang perlu diperhatikan untuk korban keracunan : 1. Keterangan tentang racun apa kira-kira yang menjadi penyebabnya 2. Harus sedikit sekali menggunakan air 3. Jangan menggunakan desinfektan

f.

Pemeriksaan toksikologik Pemeriksaan toksikologik harus dilakukan pada : 1. Bila pada pemeriksaan setempat terdapat kecurigaan terhadap keracunan. 2. Bila pada otopsi ditemukan kelainan yang lazim ditemukan pada keracunan dengan zat tertentu, misalnya lebam mayat yang tidak biasa (cherry red pada CO, merah terah pada sianida, kecoklatan pada nitrit, nitrat, anilin, fenasitin dan kina); luka bekas suntikan sepanjang vena, keluarnya buih dari mulut dan hidung (keracunan morfin), bau amandel (keracunan sianida), bau kutu busuk (keracunan malation). 3. Bila pada otopsi tidak ditemukan penyebab kematian. Dalam menangani kasus kematian akibat keracunan perlu dilakukan

pemeriksaan penting yaitu : 1. Pemeriksaan di tempat kejadian (TKP) 2. Otopsi lengkap 3. Analisis toksikologik

BAB III LAPORAN KASUS DAN PEMBAHASAN

3.1 Laporan Kasus Pemeriksaan Luar: Jenazah seorang laki-laki kurang lebih tiga puluh lima tahun dengan tinggi badan kurang lebih seratus enam puluh lima sentimeter, berat badan kurang lebih enam puluh lima kilogram, warna kulit sawo matang, panjang rambut kurang lebih sebelas sentimeter, warna rambut hitam. Jenazah ditutup dengan selimut putih berbelang biru. Jenazah memakai kaos lengan pendek merek Labara berwarna hitam abu-abu. Lapisan dalam memakai kaos lengan panjang bergaris-garis dengan warna hitam dan abu-abu. Jenazah memakai celana panjang dari bahan jeans berwarna biru dan menggunakan celana dalam berwarna kuning. Jenazah mengenakan sabuk hitam merek JINTIN dengan kepala logam putih berlogo Superman. Jenazah memakai cincin di jari tengah tangan kiri. Lebam Jenazah: Lebam jenazah didapatkan dari punggung sampai pantat. Warna keunguan, ditekan tidak hilang. Kaku Jenazah: Kaku jenazah didapatkan pada seluruh tubuh. Bau Jenazah: Didapatkan pembusukan pada bagian lambung dan panggul kiri dan kanan. Kelainan pada Jenazah: Luka babras di perut, satu sentimeter di bawah tulang rusuk kanan dengan ukuran dua sentimeter. Luka babras pada pinggang kiri, berkuran satu kali setengah sentimeter. Luka babras pada panggul kiri berdiameter lima belas milimeter. Luka babras pada tangan kiri di pangkal jempol ukuran lima milimeter dan lima belas milimeter

Pemeriksaan Dalam Kepala: Tidak terdapat patah tulang bagian tengkorak, otak besar, otak kecil dan batang otak utuh, Tidak ada perdarahan, otak kecil berukuran sebelas setengah sentimeter kali enam sentimeter kali tiga sentimeter. Otak besar berukuran tujuh belas sentimeter kali enam belas sentimeter kali lima sentimeter. Batang otak berukuran lima sentimeter kali dua sentimeter. Pembuluh darah otak melebar. Dada: TAK Jantung: TAK Paru: Berwarna merah kehitaman dengan konsistensi kenyal. Krepitasi normal, paru kiri berukuran dua puluh lima sentimeter kali empat belas sentimeter kali enam sentimeter. Paru kanan berukuran dua puluh lima sentimeter kali empat belas sentimeter kali enam sentimeter. Paru kir bagian belakang terdapat dungkul berdiameter satu sentimeter. Perut: Lambung tampak kehitaman berbau kopi, berisi cairan hitam kecoklatan kurang lebih tujuh puluh milimeter. Tercium bau khusus (potassium). Ginjal: Ginjal kiri berukuran sebelas sentimeter kali enam sentimeter kali tiga sentimeter. Berwarna merah kehitaman. Limpa: Berukuran tiga belas sentimeter kali tujuh setengah sentimeter kali tiga setengah sentimeter. Berwarna merah kehitaman. Pemeriksaan Tambahan: Golongan darah: A Toxicologi: Darah +40 ml, lambung beserta isinya dengan pengawet alkohol 96%. PA: Ginjal, paru kanan dan kiri.

Kesimpulan: Jenazah laki-laki kurang lebih tiga puluh lima tahun dengan luka babras pada perut, pinggang, kaki dan tangan. Terdapat pelebaran pembuluh darah pada mata dan otak. Lambung tampak kehitaman berbau kopi. Ginjal, limpa, perut dan paru berwarna merah kehitaman. Tercium bau khusus. 3.2 Pembahasan

Kasus di atas dapat digolongkan pada kematian mendadak karena terjadi tanpa adanya saksi mata (unwitness).Setiap kematian mendadak harus diperlakukan sebagai kematian yang tidak wajar, sebelum dapat dibuktikan bahwa tidak ada bukti-bukti yang mendukungnya. Maka dari itu, pihak keluarga ataupun dokter berhak lapor ke polisi kemudian polisi meminta visum et repertum. Setelah SPVR datang maka korban diotopsi untuk menentukan sebab kematian. Pemeriksaan kasus kematian mendadak perlu beberapa alasan, antara lain untuk menentukan adakah peran tindak kejahatan pada kasus tersebut, adakah faktor keracunan yang berperan.Pada kasus yang terjadi seketika atau tidak terduga, khususnya bila tak ada tanda-tanda penyakit sebelumnya dan kemungkinan sakit sangat kecil, untuk menentukan penyebabnya hanya ada satu cara yaitu dilakukannya pemeriksaan otopsi pada jenazah, bila perlu dilengkapi dengan pemeriksaan tambahan lain seperti pemeriksaan toksikologi. Hal ini sangat penting untuk menentukan apakah termasuk kematian mendadak yang wajar. Penyebab kematian mendadak secara garis besar adalah : trauma, keracunan dan penyakit. Jika kita ikut turun langsung di TKP, kita bisa melakukan anamnesa ke masyarakat sekitar, orang yang mengaku pernah bertemu atau kenal dengan korban. Pertanyaan kita ajukan untuk mengungkap apakah ada data-data yang tidak wajar selama korban masih hidup. Atau jika kita tidak ikut turun, kita bisa menanyakan hasil wawancara tersebut kepada pihak penyidik. Anamnesa ini sangat penting untuk mengarahkan pemeriksaan lanjutan yang akan kita laksanakan. Setelah itu, kita lakukan pemeriksaan luar terhadap tubuh. Pada korban ini tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan yang dapat menimbulkan kematian.Hanya didapatkan luka babras dibeberapa bagian tubuh korban. Sedangkan pada pemeriksaan dalam ditemukan paru, lambung, ginjal, dan limpa yang berwarna merah kehitaman. Selain itu, juga ditemukan adanya bau khas pada bagian lambung. Berdasarkan hasil temuan dari pemeriksaan dalam tersebut memunculkan kemungkinan korban meninggal karena racun sehingga perlu mengirimkan sampel cairan isi lambung untuk menemukan ada tidaknya racun yang masuk dalam tubuh korban. Dari sudut kedokteran forensik, tujuan utama pemeriksaan kasus kematian mendadak adalah menentukan cara kematian korban. Sehingga dapat menjelaskan kepada keluarga korban sebab dari kematiannnya dan untuk kepentingan umum, melindungi yang lain agar dapat terhindar dari penyebab kematian yang sama. Dalam kasus ini, kita baru bisa menyimpulkan sebab kematian korban setelah adanya hasil dari pemeriksaan toksikologi.Sementara untuk kita butuh koordinasi lanjut dengan penyidik untuk menentukan apakah korban mati karena keracunan/ kecelakaan, bunuh diri, atau karena pembunuhan.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 KESIMPULAN Dari pembahasan diatas, dapat diambil kesimpulan: 1. Kematian mendadak dalam aspek forensik selalu dianggap tidak wajar sampai dibuktikan merupakan kematian wajar. 4.2 SARAN Berdasarkan pembahasan di atas, kami sarankan : 1. Segera laporkan kepada pihak yang berwajib apabila terjadi kematian yang mendadak ataupun kematian tanpa adanya saksi. 2. Dibuatnya suatu lembaga khusus untuk menangani suatu kejadian kematian mendadak.

DAFTAR PUSTAKA Budiyanto, Arif. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Gani, M. Husni. 2005. IlmuKedokteranForensik. Padang :Penerbit FK UNAND Prakoso, D. dan I KetutMurtika. 1987. Dasar-DasarIlmuKedokteranKehakiman. Jakarta: PT BinaAksara. Hal. 166-171 Shepherd, Richard. 2003. Simpsons Forensic Medicine 12th Edition International Students Edition. London: Oxford University Press. pp :120-126. Staerkeby, M. 2005. Establishing Time Of Death With Forensic Entomology. The Ultimate Guide To Forensic Entomology, (Online).http://folk.uio.no/mostarke/forens_ent/forensic_entomology.htm Sunatrio,S..2008.PenentuanMati.http://medicineforthesoul.multiply.com/journal/item/5. World Health Organization. 2001. International Classification of Functioning, Disability and Health.Geneva: World Health Organization.