Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Salah satu ciri makhluk hidup di dunia ini adalah dapat tumbuh dan berkembang,
termasuk manusia. Semua organ tubuh akan berkembang seiring dengan bertambahnya
usia, salah satunya adalah organ reproduksi atau genitalia manusia yang merupakan
pembentuk sistem reproduksi. Genitalia wanita berbeda dengan pria sesuai dengan
fungsinya. Perkembangan ini juga diiringi oleh perkembangan organ tubuh lain. Masa
perkembangan tersebut disebut sebagai masa pubertas yang dipengaruhi oleh hormon-
hormon reproduksi.
Genitalia wanita memiliki struktur yang lebih rumit dari pada genitalia pria.
Pubertas yang dialami oleh wanita atau pria pastinya berbeda, sehingga seiring
bertambahnya usia, bentuk tubuh yang dimiliki masing-masing orang dapat terlihat
dengan jelas. Salah satu yang dialami wanita saat pubertas adalah menstruasi. Hal
tersebut sangat penting bagi sang wanita sebagai pertanda bahwa organ kewanitaannya
berkembang dengan baik. Oleh karena itu perlu adanya ulasan tentang organ reproduksi
wanita dan perkembangannya.

Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Menjelaskan struktur makroskopis dan mikroskopis dari organ reproduksi wanita.
2. Menjelaskan tentang pubertas wanita.
3. Menjelaskan siklus haid normal.
4. Menjelaskan kelainan-kelainan siklus haid.



2

BAB II
PEMBAHASAN

Struktur Makroskopis dan Mikroskopis
Genitalia wanita atau feminina dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu genitalia
interna dan eksterna dengan struktur makro dan mikronya masing-masing. Genitalia
interna dibedakan menjadi uterus, tuba uterina, dan ovarium. Genitalia eksterna
dibedakan menjadi vulva, labia majora, dan labia minora.


Uterus
Uterus berbentuk oval dan konsistensinya kenyal. Uterus manusia berfungsi sebagai
tempat perkembangan zigot apabila terjadi fertilisasi.
1
Uterus pada anak-anak ukurannya
lebih kecil dan akan membesar saat usia pubertas. Permukaan dorsal uterus disebut facies
rectalis dan berbentuk agak cembung, sedangkan permukaan ventral uterus disebut facies
vesicalis dan lebih datar. Lapisan dinding uterus terdiri atas endometrium, myometrium,
dan perimetrium. Endometrium merupakan lapisan dinding uterus yang terdalam,
sedangkan lapisan terluar adalah perimetrium. Endometrium terdiri dari stratum
kompakta dan stratum spongiosa yang akan mengalami perluruhan. Myometrium adalah
Gambar 1. Genitalia wanita
3

lapisan otot polos yang terdiri dari tiga lapis, yaitu stratum longitudinal (pars submukosa),
stratum sirkuler (pars vaskulosa), dan stratum longitudinal (pars supravaskulosa).
1
Uterus
dilapisi oleh sel epitel kuboid dan kelenjar penghasil lendir. Uterus dibedakan menjadi :
1. Fundus uteri, yaitu bagian uterus yang terletak di atas muara tuba.
2. Corpus uteri, yaitu bagian uterus yang terdapat di bawah muara tuba dan merupakan
bagian uterus yang terbesar. Ke arah distal, corpus akan menyempit menjadi cervix.
Bagian corpus dan cervix dihubungkan oleh isthmus uteri.
3. Cervix uteri, yaitu uterus bagian bawah yang menyempit dan menembus dinding
vagina. Berdasarkan posisinya terhadap vagina, cervix dibedakan menjadi dua
bagian, yaitu :
Portio supra vaginalis cervicis uteri, yaitu bagian cervix uteri yang menonjol di
atas vagina.
Portio vaginalis cervicis uteri, yaitu bagian cervix uteri yang menonjol ke
dalam vagina.
Ruangan/rongga uterus dibedakan menjadi :
1. Cavum uteri
Pada sudut atas cavum uteri terdapat muara dari kedua tuba uterina, sedangkan di
sebelah distal terdapat orrificium internum uteri atau orificium internum-
anatomicum uteri (Virchow). Ke arah distal cavum uteri melanjut sebagai canalis
isthmica atau canalis cervicis uteri.
2. Canalis cervicis uteri / canalis isthmica
Rongga ini menghubungkan cavum uteri dengan vagina melalui ostium externum
uteri. Pada nullipara, ostium ini berbentuk sirkular, sedangkan pada multipara
berbentuk lintang.
Posisi uterus dapat dibedakan berdasarkan istilah berikut.
a. Versio, yaitu sudut yang dibentuk oleh sumbu uterus dan sumbu vagina, dibedakan
menjadi anteversio dan dorsoversio.
b. Fleksio, yaitu sudut yang dibentuk oleh sumbu corpus uteri dan sumbu panjang
cervix uteri, dibedakan menjadi antefleksio dan dorsofleksio.
Letak uterus yang normal adalah anteversio 90
0
dan antefleksio 170
0
.
c. Positio, yaitu posisi sumbu uterus terhadap sumbu panggul, dibedakan menjadi
sinistropositio dan dekstropositio.
4

Uterus dipendarahi oleh a. uterina dan a. ovarica. Aliran balik bermuara ke v.
uterina. Darah dari v. uterina kemudian dialirkan ke dalam v. iliaca interna, berlanjut ke
v. iliaca communis dan akhirnya ke v. cava inferior. Uterus dipersarafi oleh cabang-
cabang plexus hypogastricus inferior. Aliran getah bening pada uterus dapat dibedakan
sebagai berikut.
Dari fundus uteri : aliran getah bening mengikuti a. ovarica dan berakhir pada nnll.
Para aortae setinggi vertebra lumbal 1.
Dari corpus dan cervix uteri : aliran getah bening berakhir di nnll. Iliaca interna.
Sebagian kecil getah bening mengikuti lig. teres uteri memasuki canalis inguinalis
dan berakhir pada nnll. inguinalis superficialis.
Dalam rongga pelvis, uterus difiksasi untuk mencegah terjadinya prolapsus uteri,
yaitu keadaan di mana uterus masuk ke dalam vagina. Fiksasi uterus dibedakan menjadi
alat-alat penahan dan penggantung uterus. Alat-alat penahan uterus yaitu diaphragma
pelvis dan pars membranacea diaphragma urogenitale. Terdapat tiga alat penggantung
uterus, yaitu :
Lig. cardinale (Mackenrodt), yaitu jaringan ikat yang berjalan dari batas antara
cervix dan corpus uteri menuju dinding panggul. Di dalam jaringan ikat ini berjalan
a. uterina.
Lig. teres uteri, yaitu jaringan ikat yang berjalan dari sudut antara tuba uterina
dengan corpus uteri menuju inguinal, berakhir pada labium majus. Lig. teres uteri
berfungsi menahan uterus dalam kedudukan anteversi dan antefleksi.
Plica rectouterina, merupakan lipatan peritoneum dari uterus menuju rectum dan di
dalamnya berjalan serabut-serabut otot polos.

Tuba uterina falopii
Tuba uterina dimulai dari fundus uteri sampai fimbriae. Muara tuba uterina pada
corpus uteri disebut ostium internum tuba uterina. Mukosa tuba uterina memiliki banyak
lipatan yang sangat rumit memenuhi lumennya. Permukaan lipatan mukosa diliputi epitel
selapis torak dengan lamina propria di bawahnya. Epitelnya terdiri atas dua macam sel,
yaitu sel bersilia dan sel yang tidak bersilia yang berfungsi sekresi. Tunika muskularis
5

terdiri atas dua lapisan, lapis sirkular yang tebal di sebelah dalam dan lapis longitudinal
yang tipis di sebelah luar. Tuba uterina dapat dibedakan menjadi bagian-bagian berikut.
> Isthmus tuba uterina, yaitu bagian tuba yang paling sempit.
> Ampulla tuba uterina, yaitu bagian tuba yang paling lebar dan merupakan tempat
terjadinya proses fertilisasi.
> Infundibulum, yaitu bagian tuba yang berbentuk corong dan memiliki fimbriae yang
berfungsi untuk menangkap sel ovum matang yang dilepas oleh ovarium.
> Pars interstitialis, yaitu bagian tuba yang terdapat dalam dinding uterus.
Tuba uterina berfungsi sebagai jalan yang dilalui oleh sperma untuk mencapai
ovum. Tuba uterina dipendarahi oleh a. uterina yang merupakan cabang dari a. iliaca
interna dan a. ovarica yang merupakan cabang dari aorta abdominalis. Aliran pembuluh
balik mengikuti aliran pembuluh nadinya.

Ovarium
Ovarium atau indung telur melekat pada bagian belakang ligamentum latum uteri.
Penggantung ovarium pada dinding belakang panggul adalah mesovarium. Ovarium
terletak dalam fossa ovarii waldeyer pada dinding lateral pelvis dengan batas-batas :
Cranial : a.v. iliaca externa
Distal : a. uterina
Dorsal : a.v. iliaca interna dan n. obturatorius
Ventral : perlekatan lig. latum
Bagian-bagian ovarium :
a) Permukaan
+ Facies medialis : bagian ovarium yang menghadap cavum Douglasi
+ Facies laterlis : bagian ovarium yang menghadap dinding panggul
b) Tepi
+ Margo liber : bagian belakang ovarium
+ Margo mesovarius : bagian ovarium yang berhadapan dengan lig. latum

6

c) Ujung
+ Extremitas tubaria : bagian yang berdekatan dengan tuba uterina.
+ Extremitas uterina : bagian yang berdekatan dengan uterus.
Ovarium dipendarahi oleh a. ovarica yang dipercabangkan oleh aorta abdominalis
setinggi vertebra lumbal I. Terdapat dua pembuluh balik dari ovarium, yaitu v. ovarica
dextra dan v. ovarica sinistra. Darah dari v. ovarica dextra kemudian dialirkan ke dalam v.
cava inferior sedangkan darah dari v. ovarica sinistra dialirkan ke dalam v. renalis
sinistra.
Aliran getah bening dari ovarium mengikuti a.v. ovarica menuju nnll. para aortae
setinggi vertebra lumbal I. Ovarium dipersarafi oleh plexus aorticus yang terletak di
sekitar a. ovarica. Ikat-ikat pada ovarium adalah :
- Lig. ovarii propium, yaitu jaringan ikat yang terbentang dari extremitas uterina
ovarii menuju uterus.
- Lig. suspensorium ovarii, yaitu jaringan ikat yang terbentang dari extremitas tubaria
ovarii menuju tuba uterina.
Secara histologis, ovarium terdiri atas bagian korteks dan medulla. Permukaan
ovarium ditutupi oleh sel epitel germinativum berupa sel epitel selapis kubis.
2
Di
bawahnya terdapat jaringan ikat fibrosa yang membentuk tunika albuginea ovarium.
Korteks ovarium terdapat di bawah tunika albuginea, di dalamnya terdapat sejumlah
folikel ovarium dari berbagai fase perkembangan, yaitu folikel primordial atau folikel
primitif, folikel berkembang, dan folikel de Graaf. Korteks ovarium berupa jaringan yang
banyak mengandung sel berbentuk gelendong mirip serat otot polos. Sel-selnya tersusun
tidak beraturan sangat rapat satu sama lain sehingga korteks terlihat sangat padat dengan
inti sel. Medula ovarium lebih longgar, banyak mengandung serat elastin, serat otot polos,
pembuluh arteri dan vena serta pembuluh limfe.
Folikel primordial berbentuk bulat atau lonjong dengan diameter sekitar 5-6 kali
diameter eritrosit. Pembungkus luarnya yaitu sel epitel selapis gepeng, di dalamnya
terdapat sel telur yang memiliki inti besar dengan anak inti yang jelas.
Folikel berkembang, besarnya bervariasi. Yang berukuran paling kecil adalah
folikel primer dengan epitel selapis kubis sampai selapis silindris. Epitel folikel ini terdiri
atas sel folikel atau sel granulosa. Folikel sekunder epitelnya belapis. Bila folikel
7

berkembang semakin besar, di antara sel folikel mulai terbentuk ruang-ruang kecil berisi
cairan folikel. Ruang ini makin bertambah jumlahnya dan akhirnya menyatu membentuk
ruangan tunggal yang lebih besar disebut antrum folikel, disebut folikel tersier. Antrum
ini semakin besar dan yang terbesar letaknya di dekat korteks ovarium disebut folikel de
Graaf siap untuk ovulasi. Selain itu terdapat juga folikel atretis, yaitu folikel yang
berdegenerasi sebelum matang.
Sekeliling sel telur juga mengalami perubahan, pada folikel berkembang dapat
dilihat zona pelusida yang berupa bingkai berwarna gelap di sekitar ovum. Semakin
mendekati kematangan, sel folikel membentuk korona radiata yang merupakan
kelompokan sel folikel yang tersusun radier di sekitar zona pelusida. Bersamaan dengan
semua perubahan tersebut, mebran basal folikel terlihat makin jelas, disebut membrana
vitrea. Jaringan stroma di sekitar folikel membentuk teka interna dan teka eksterna. Di
antaranya tidak terdapat batas yang jelas. Teka interna merupakan jaringan yang banyak
mengandung pembuluh darah dan berfungsi sebagai kelenjar endokrin. Teka eksterna
merupakan jaringan yang lebih padat, mengandung sedikit pembuluh darah dan menyatu
dengan jaringan di sekitarnya tanpa batas yang tegas.
Gambar 2. Genitalia wanita potongan mid-sagital
8

Vagina
Vagina merupakan saluran yang menghubungkan uterus ke bagian luar tubuh.
Organ ini dibentuk oleh mukosa yang terdiri atas epitel berlapis gepeng tanpa lapisan
tanduk. Sel epitel vagina bentuknya menggelembung disebabkan karena pada lapisan
tersebut banyak glikogen dalam sel-selnya.
2
Seluruh sel epitel vagina menunjukkan
perubahan siklik selama siklus menstruasi dan pada kehamilan. Selain itu, di bawahnya
terdapat lapisan otot polos yang terdiri atas berkas-berkas serat otot polos yang berjalan
dalam berbagai arah. Vagina tidak memiliki kelenjar dalam dindingnya. Panjang vagina
dari vulva sampai cervix kira-kira 8 cm. Jalan vagina adalah vertikal dari craniodorsal ke
arah ventrocaudal dan dinding depan vagina bagian cranial ditembus oleh cervix uteri.
Separuh bagian cranial vagina terletak di atas dasar panggul, sedang sisanya terletak
dalam perineum. Pada dinding depan vagina, cervix uteri menonjol ke dalam vagina
sehingga di belakang portio vaginalis cervicis ini terdapat lekukan yang disebut fornix
posterior dan lekukan di depannya disebut fonix anterior, di mana fornix posterior lebih
dalam dari pada fornix anterior karena langsung berhubungan dengan peritoneum yang
melapisi excavatio rectouterina.
Tunica mucosa vagina berlipat-lipat dan dibedakan menjadi lipat transversa atau
rugae vaginales dan lipat longitudinal atau columna rugarum anterior dan posterior.
Di sekitar orificium vagina terdapat selaput tipis berbentuk bulan sabit yang disebut
hymen. Setelah coitus pertama kali, hymen akan robek di bagian posterior. Setelah partus,
hymen akan tercabik-cabik dan sisanya disebut caruncula hymenalis.
Di dinding depan bagian distal terdapat tonjolan memanjang yang disebabkan
adanya urethra, disebut carina urethralis. Antara vagina dengan urethra dihubungkan oleh
suatu penghubung yang erat. Dinding depan atas vagina berbatasan dengan fundus vesica
uterina dengan perantara septum vesico vaginale. Dinding belakang vagina bagian
proximal berbatasan dengan excavatio recto uterina. Dinding depan bagian distal
berbatasan dengan flexura perinealis recti, di mana antara vagina dan rectum terdapat
septum rectovaginale.
Vagina difiksasi pada tempatnya oleh alat-alat berikut.
Bagian proximal : m. levator ani, lig. transversum cervicis, lig. pubocervicale, dan
lig. sacrocervicale (dengan perantaraan fascia pelvis).
9

Bagian tengah : diaphragma urogenitale
Bagian distal : perineal body (centrum tendineum perinei)
Vagina diperdarahi oleh :
- A. vaginalis (cabang a. iliaca interna)
- R. vaginalis a. uterina
- R. vaginalis a. vesicalis inferior
- R. vaginalis a. pudenda interna
Aliran getah bening dari vagina bermuara ke :
=

proximal vagina : nnll. iliaca externa dan interna


=

tengah vagina : nnll. iliaca interna


=

distal vagina : nnll. inguinalis superficialis


Persarafan vagina oleh anyaman saraf plexus hypogastricus inferior.


Vulva
Vulva atau rima pudendi adalah ruangan yang terletak antara labia majora kanan
dan kiri. Vulva bermuara pada vestibulum vagina. Di sebelah distal frenulum labiorum
pudendi terdapat jaringan ikat yang menyebrang disebut commisura posterior. Vulva
merupakan genitalia eksterna yang terdiri dari :
Gambar 3. Genitalia eksterna
10

Labia majora, yaitu lipatan yang besar dari mons pubis ke arah peritoneum dan
identik dengan skrotum pada pria. Bagian luar labia majora menyerupai kulit biasa
dan berambut, sedangkan bagian dalam licin dan banyak mengandung kelenjar
sebasea. Bagian depan atas labia majora kanan dan kiri bertemu pada commisura
labialis anterior, sedangkan bagian bawahnya bertemu pada commisura labialis
posterior.
Labia minora, merupakan suatu lipatan kecil pada vulva. Ke arah distal kedua sisi
labia minora membentuk frenulum labiorum pudendi. Ke arah proximal labia
minora berhubungan dengan glandula clitoridis dan disebut preputium clitoridis.
Labia minora kanan dan kiri membatasi sebuah ruang yang disebut vestibulum.
Bagian distal vestibulum membentuk suatu lekukan yang disebut fossa naviculare.
Klitoris, merupakan organ yang identik dengan penis pria. Organ ini mengandung
alat erektil. Seperti pada labium minor, klitoris banyak mengandung entribulum
genitalis, suatu akhiran saraf utama dalam sensasi erotik.

Oogenesis
Oogenesis merupakan proses pembentukan ovum di dalam ovarium. Di dalam
ovarium terdapat oogonium atau sel indung telur. Oogonium bersifat diploid dengan 46
kromoson atau 23 pasang kromosom. Oogonium akan memperbanyak diri dengan cara
mitosis membentuk oosit primer. Oogenesis telah dimulai saat bayi perempuan masih di
dalam kandungan yang mencapai puncaknya antara minggu ke-20 sampai minggu ke-25,
yaitu saat di mana kadar FSH plasma mencapai puncak dan tampak folikel primer
pertama. Saat bayi dilahirkan oosit primer dalam fase profase pada pembelahan meiosis
dan kemudian mengalami masa istirahat hingga masa pubertas.
3
Pada usia 5 bulan kehamilan, periode proliferasi oogenial mencapai populasi
puncak, yaitu sekitar 6 sampai 7 juta sel germinal di kedua ovarium, termasuk oogenia,
oosit pada berbagai tahap profase dan sel germinal yang degenerasi. Akhirnya akan
menurun menjadi 2 juta. Jumlah folikel primordial dalam ovarium saat lahir kemudian
akan berkurang cepat. Dalam 6 bulan postpartum, semua oogenia telah diubah menjadi
oosit primer, di mana jumlahnya sekitar 400.000 oosit primer. Antara lahir dan pubertas,
oosit primer dikelilingi oleh zona pelusida dan 6 sampai 9 lapis sel granulosa. Selama
11

masa pubertas, hanya 400 folikel pecah dan selebihnya mengalami atresia atau degenerasi
selama pertumbuhannya.




Saat memasuki masa pubertas, anak perempuan akan mengalami perubahan hormon
yang menyebabkan oosit primer melanjutkan meiosis tahap pertamanya. Oosit yang
mengalami meiosis I akan menghasilkan dua sel yang tidak sama ukurannya. Sel oosit
yang berukuran besar disebut oosit sekunder, sedangkan sel yang berukuran lebih kecil
disebut badan polar pertama (polosit primer). Selanjutnya, oosit sekunder meneruskan
tahap meiosis II. Namun pada meiosis II, oosit sekunder tidak langsung diselesaikan
sampai tahap akhir, melainkan berhenti sampai terjadi ovulasi. Jika tidak terjadi
fertilisasi, oosit sekunder akan mengalami degenerasi. Namun jika ada sperma masuk ke
oviduk, meiosis II pada oosit sekunder akan dilanjutkan kembali dan menghasilkan satu
sel besar yang disebut ootid dan satu sel kecil yang disebut badan polar kedua (polosit
sekunder). Polosit primer juga membelah menjadi dua badan polar kedua. Akhirnya, ada
tiga badan polar dan satu ootid yang akan tumbuh menjadi ovum dari oogenesis setiap
satu oogonium.
Oosit dalam oogonium berada di dalam suatu folikel telur. Folikel telur atau
disingkat folikel merupakan sel pembungkus penuh cairan yang mengelilingi ovum.
Folikel berfungsi sebagai sumber makanan bagi oosit. Folikel juga mengalami perubahan
seiring dengan perubahan oosit primer menjadi oosit sekunder hingga terjadi ovulasi.
1

Gambar 4. Oogenesis
12

Folikel primer muncul pertama kali untuk menyelubungi oosit primer. Pada folikel ini
belum ada sel-sel teka, namun dikelilingi lapisan-lapisan sel granulosa yang tipis. Selama
tahap meiosis I, folikel primer berkembang menjadi folikel sekunder. Pada folikel inilah
terbentuk sel teka. Pada saat terbentuk oosit sekunder, folikel sekunder berkembang
menjadi folikel tersier. Pada masa ovulasi, folikel tersier berkembang menjadi folikel
matang atau folikel de Graaf. Folikel de Graaf memiliki ciri terbentuk antrum dan ovum
bergerak ke pinggir antrum dengan sekelilingnya terdapat kumulus ooforus. Setelah oosit
sekunder lepas dari folikel, folikel akan berubah menjadi korpus luteum. Jika tidak terjadi
fertilisasi, korpus luteum akan mengerut menjadi korpus albikans. Degenerasi korpus
luteum disebabkan menurunnya kadar LH dalam darah.

Hormon Wanita
Pada wanita, hormon-hormon yang berperan adalah :
Estrogen
Lebih dari 70% estrogen yang beredar berikatan dengan sex steroid-binding
globulin sedangkan 25% berikatan dengan albumin plasma. Estrogen dihasilkan
oleh sel-sel teka interna folikel. Selain itu, estrogen juga dihasilkan oleh korpus
luteum, plasenta, dan korteks adrenal. Sel-sel teka banyak menghasilkan androgen
tetapi kapasitas mengubah androgen menjadi estrogen terbatas. Sel-sel granulosa
tidak mampu membentuk androgen, tetapi mudah mengubah androgen menjadi
estrogen. Estrogen dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :
Estradiol, yaitu estrogen utama yang disekresi oleh ovarium.
Estrone, yaitu estrogen yang lemah.
Estriol, yaitu estrogen yang paling lemah. Estriol disintesis oleh plasenta dan
hati, bukan oleh ovarium. Pada wanita yang tidak hamil, estriol dibentuk di
dalam hati sebagai produk konversi dari estradiol dan estrone.
Estrogen menimbulkan efek fisiologis, yaitu :
a. Terhadap alat kelamin wanita
- Meningkatkan motilitas tuba Falopii
- Meningkatkan pertumbuhan miometrium dan endometrium
- Meningkatkan aliran darah ke uterus
- Mempertahankan tebal mukosa vagina dan keasamannya
13

- Merangsang sekresi mukus serviks uteri
b. Terhadap organ endokrin lain
- Menurunkan sekresi FSH
- Menghambat dan dapat pula merangsang sekresi LH
c. Terhadap kelenjar mammae, yaitu merangsang pertumbuhan duktus
laktiferus, pembesaran kelenjar mammae pada pubertas, dan pigmentasi
areola mammae
d. Terhadap sifat kelamin sekunder wanita
- Membentuk tubuh dengan distribusi lemak khas wanita
- Laring tidak membesar dan suara tetap kecil dan tinggi
e. Terhadap air dan elektrolit, yaitu meningkatkan retensi air dan garam
sehingga meningkatkan berat badan beberapa saat sebelum perdarahan
menstruasi.
Progesteron
Hormon progesteron tidak terikat pada sex steroid-binding globulin, tetapi pada
albumin dan transcortin. Progesteron dihasilkan oleh korpus luteum dan plasenta.
Progesteron juga sedikit dihasilkan oleh korteks adrenal dan sel granulosa folikel
ovarium dalam bentuk 17 alfa progesteron. Selain estrogen, progesteron juga
memiliki efek fisiologis, yaitu :
a. Terhadap alat kelamin wanita
Berperan dalam merangsang kelenjar-kelenjar di endometrium,
perubahan siklik dalam serviks dan vagina.
Menurunkan kepekaan miometrium terhadap oksitosin serta
meningkatkan potensial membran istirahat
b. Terhadap kelenjar mammae, yaitu merangsang perkembangan lobuli dan
alveoli kelenjar mammae
c. Bersifat termogenik. Yaitu meningkatkan suhu basal tubuh pada saat ovulasi
d. Terhadap adenohipofisis, yaitu menekan sekresi LH
Kedua hromon di atas dipengaruhi oleh LH dan FSH, di mana LH merangsang
pembentukan androgen dan FSH bekerja pada sel-sel granulosa untuk meningkatkan
perubahan androgen teka yang berdifusi ke dalam sel granulosa dari sel teka menjadi
estrogen. LH dan FSH dirangsang oleh GnRH. GnRH adalah hormon peptida yang
dihasilkan oleh hipotalamus, yang menstimulasi sel-sel gonadotrop pada hipofisis
14

anterior. Di hipotalamus sendiri pengeluaran GnRH diatur oleh nukleus arkuata. Neuron
pada nukleus arkuata memiliki kemampuan untuk memproduksi dan melepas gelombang
GnRH ke hipofisis.
Follicle-stimulating hormone (FSH)
FSH merupakan hormon yang memiliki struktur glikoprotein, diproduksi di sel
gonadotrop hipofisis, distimulasi oleh hormon aktivin dan dihambat oleh hormon
inhibin. FSH berfungsi dalam pertumbuhan, perkembangan, maturasi saat pubertas,
dan reproduksi. Pada wanita, FSH menstimulasi maturasi sel-sel germinal,
menstimulasi pertumbuhan folikel terutama pada sel-sel granulosa dan mencegah
atresia folikel. Pada akhir fase folikular kerja FSH dihambat oleh inhibin dan pada
akhir fase luteal aktivitas FSH kembali meningkat untuk mempersiapkan siklus
ovulasi berikutnya, demikian seterusnya. Kerja FSH juga dihambat oleh estradiol
(estrogen) yang dihasilkan oleh folikel matang sehingga menyebabkan folikel
tersebut dapat mengalami ovulasi sedangkan folikel lainnya mengalami atresia.
Luteinizing hormone (LH)
LH merupakan hormon yang memiliki struktur glikoprotein heterodimer,
diproduksi di sel gonadotrop hipofisis dan kerjanya tidak dipengaruhi oleh aktivitas
aktivin, inhibin, dan hormon seks. Pada saat FSH menstimulasi pertumbuhan
folikel, khususnya sel granulosa, maka pengeluaran estrogen akan memicu
munculnya reseptor untuk LH. LH akan berikatan pada reseptornya tersebut dan
estrogen akan mengirim umpan balik positif untuk mengeluarkan lebih banyak lagi
LH. Dengan semakin banyaknya LH, maka akan memicu ovulasi (pengeluaran
ovum) dari folikel sekaligus mengarahkan pembentukan korpus luteum. Korpus
luteum yang terbentuk akan menghasilkan progesteron yang berguna pada saat
implantasi.
Prolaktin
Pada perkembangan kelenjar payudara di masa pubertas, hormon estrogen
menstimulasi perkembangan duktus sedangkan progesteron merangsang
pembentukan lobulus-alveolus. Keduanya tidak ada hubungannya dengan
pengeluaran air susu. Maka untuk pengeluaran air susu distimulasi oleh hormon
ketiga, prolaktin. Prolaktin merupakan hormon yang disekresikan oleh hipofisis
anterior. Fungsi dari prolaktin adalah menstimulasi ekskresi air susu. Selama paruh
15

pertama kehamilan, kelenjar payudara sebenarnya telah siap untuk memproduksi air
susu, namun dihambat oleh estrogen dan progesteron kehamilan. Setelah kehamilan
selesai, barulah kelenjar payudara bisa memproduksi air susu.
Steroid adrenal
Steroid adrenal dihasilkan di korteks adrenal. Ada tiga hormon steroid adrenal,
yaitu :
1) mineralkortikoid, terutama aldoseteron, untuk kesetimbangan mineral
2) glukokortikoid, terutama kortisol, untuk metabolisme karbohidrat, lemak, dan
protein
3) hormon seks yang identik dengan yang dihasilkan oleh gonad (ovarium pada
wanita).
Pada wanita, hormon seks yang dihasilkan oleh korteks adrenal ialah estrogen.
Namun jumlahnya jauh lebih sedikit daripada estrogen yang dihasilkan di ovarium
sehingga tidak terlalu bermakna. Selain itu, di korteks adrenal juga dihasilkan
androgen dehidroepiandrosteron (DHEA). Pada pria, DHEA ini tidak bermakna
karena dikalahkan oleh testosteron. Namun pada wanita (yang kurang memiliki
androgen), DHEA ini memiliki makna fisiologis yaitu pertumbuhan rambut pubis
dan aksila, pacu tumbuh pubertas serta perkembangan dan pemeliharaan dorongan
seks wanita.
Growth hormone (GH)
GH, selain berfungsi sebagai hormon pertumbuhan, juga memiliki efek pada
pubertas. GH menstimulasi diferensiasi sel granulosa yang diinduksi oleh FSH,
meningkatkan level IGF-1 di ovarium dan meningkatkan respons ovarium terhadap
gonadotropin

Pubertas
Pubertas adalah tahapan maturasi fisik di mana individu menjadi mampu secara
fisiologis untuk reproduksi.
4
Masa puber seorang anak dengan anak yang lain sangat
bervariasi. Anak perempuan mengalami pubertas lebih awal daripada laki-laki, yaitu
sekitar umur 12 sampai 14 tahun. Pubertas dimulai ketika hipotalamus melepaskan
hormon GnRH (gonadotropin releasing hormone). Fungsi utama GnRH adalah
16

melakukan stimulasi pada kelenjar hipofisis untuk melepaskan folliclle-stimulating
hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH).
5
Terkadang pubertas bisa muncul lebih
awal dan bisa juga lebih cepat. Pubertas dikatakan prekoks (prematur) apabila tanda-tanda
seks sekunder muncul pertama kali sebelum usia 8 tahun dan dikatakan terlambat jika
muncul pada saat menginjak usia lebih dari 14 tahun.
Tanda pubertas seorang anak yang mudah sekali dilihat adalah perubahan fisik.
Pada anak perempuan, pubertas diawali dengan pembesaran payudara (telarche) dan
diikuti tumbuhnya rambut pubis-aksila 6 bulan setelahnya. Tahap terakhir adalah tahap
menarche atau menstruasi untuk pertama kalinya. Beberapa hal penting lain yang terjadi
selama pubertas wanita antara lain adanya pacu tumbuh adolesen (suatu percepatan
pertumbuhan tinggi badan) dan munculnya jerawat (acne vulgaris).

Siklus Haid
Menstruasi atau haid adalah pendarahan secara periodik dan siklik dari uterus yang
disertai pelepasan endometrium.
6
Menstruasi terjadi jika ovum tidak dibuahi oleh sperma.

Gambar 5. Siklus menstruasi
17

Saat wanita tidak mampu lagi melepaskan ovum karena sudah habis tereduksi,
menstruasi pun menjadi tidak teratur lagi, sampai kemudian terhenti sama sekali. Masa ini
disebut menopause. Lamanya siklus haid pada setiap wanita berbeda-beda. Pada
umumnya, lamanya siklus adalah 21 sampai 35 hari. Dalam siklus ini, terjadi perubahan-
perubahan pada ovarium, uterus, dan vagina.
Pelepasan ovum yang berupa oosit sekunder dari ovarium disebut ovulasi, yang
berkaitan dengan adanya kerja sama antara hipotalamus dan ovarium. Hasil kerja sama
tersebut akan memacu pengeluaran hormon-hormon yang mempengaruhi mekanisme
siklus menstruasi. Ovulasi terjadi pada pertengahan siklus menstruasi. Untuk siklus 28
hari, ovulasi terjadi pada hari ke-14 terhitung sejak hari pertama menstruasi. siklus
menstruasi dikelompokkan menjadi empat fase, yaitu fase menstruasi, fase pra-ovulasi,
fase ovulasi, dan fase pasca-ovulasi.
+ Fase menstruasi
Fase menstruasi terjadi bila ovum tidak dibuahi oleh sperma, sehingga korpus
luteum akan menghentikan produksi hormon estrogen dan progesteron. Turunnya
kadar estrogen dan progesteron menyebabkan lepasnya ovum dari dinding uterus
yang menebal (endometrium). Lepasnya ovum tersebut menyebabkan endometrium
sobek atau meluruh, sehingga dindingnya menjadi tipis. Yang meluruh adalah
stratum kompaktum dan stratum spongiosum. Bagian yang meluruh disebut stratum
fungsional dan sisanya adalah stratum basal yang akan menggantikan stratum
fungsional. Peluruhan pada endometrium yang mengandung pembuluh darah
menyebabkan terjadinya pendarahan pada fase menstruasi. Pendarahan ini biasanya
berlangsung selama lima hari. Volume darah yang dikeluarkan rata-rata sekitar 50
mL.

+ Fase pra-ovulasi / folikuler / proliferasi
Pada fase pra-ovulasi atau akhir siklus menstruasi, hipotalamus mengeluarkan
hormon gonadotropin. Gonadotropin merangsang hipofisis untuk mengeluarkan
FSH. Adanya FSH merangsang pembentukan folikel primer di dalam ovarium yang
mengelilingi satu oosit primer. Folikel primer dan oosit primer akan tumbuh sampai
hari ke-14 hingga folikel menjadi matang atau disebut folikel de Graaf dengan
ovum di dalamnya. Selama pertumbuhannya, folikel juga melepaskan hormon
estrogen. Adanya estrogen menyebabkan pembentukan kembali (proliferasi) sel-sel
18

penyusun dinding dalam uterus atau endometrium. Peningkatan konsentrasi
estrogen selama pertumbuhan folikel juga mempengaruhi serviks untuk
mengeluarkan lendir yang bersifat basa. Lendir yang bersifat basa berguna untuk
menetralkan sifat asam pada serviks agar lebih mendukung lingkungan hidup
sperma. Mulut serviks kecil dan tertutup.
+ Fase ovulasi
Pada saat mendekati fase ovulasi atau mendekati hari ke-14 terjadi perubahan
produksi hormon. Peningkatan kadar estrogen selama fase pra-ovulasi
menyebabkan reaksi umpan balik negatif atau penghambatan terhadap pelepasan
FSH lebih lanjut dari hipofisis. Penurunan konsentrasi FSH menyebabkan hipofisis
melepaskan LH. LH merangsang pelepasan oosit sekunder dari folikel de Graaf.
Pada saat inilah disebut fase ovulasi, yaitu saat terjadi pelepasn oosit sekunder dari
folikel de Graaf dan siap dibuahi oleh sperma. Umumnya terjadi pada hari ke 14.
Pada fase ini juga terjadi peningkatan suhu basal sebesar 0,5
0
C. Mulut serviks
dalam keadaan terbuka sehingga memungkinkan masuknya sperma.
+ Fase pasca-ovulasi / luteal / sekresi
Pada fase pasca-ovulasi, folikel de Graaf yang ditinggalkan oleh oosit sekunder
karena pengaruh LH dan FSH akan berkerut dan berubah menjadi korpus luteum.
Korpus luteum tetap memproduksi estrogen dan progesteron, namun estrogen yang
dihasilkan tidak sebanyak yang diproduksi oleh folikel de Graaf. Progesteron
mendukung kerja estrogen dengan menebalkan endometrium dan menumbuhkan
pembuluh-pembuluh pada endometrium. Progesteron juga merangsang sekresi
lendir pada vagina dan pertumbuhan kelenjar susu pada payudara. Keseluruhan
fungsi progesteron dan estrogen berguna untuk menyiapkan implantasi zigot pada
uterus bila terjadi pembuahan atau kehamilan. Proses pasca-ovulasi ini berlangsung
dari hari ke-15 sampai hari ke-28. Namun bila sekitar hari ke-26 tidak terjadi
pembuahan, korpus luteum akan berubah menjadi korpus albikan yang memiliki
kemampuan produksi estrogen dan progesteron yang rendah, sehingga konsentrasi
keduanya akan menurun. Pada kondisi ini, hipofisis menjadi aktif untuk melepaskan
FSH dan selanjutnya LH, sehingga fase pasca-ovulasi akan bersambung kembali
dengan fase menstruasi selanjutnya.


19

Kelainan Siklus Haid
Kelainan menstruasi yang biasanya dijumpai dapat berupa kelainan siklus atau
kelainan dari jumlah darah yang dikeluarkan dan lamanya perdarahan. Kelainan
menstruasi tersebut antara lain :
1. PMS (Pre Menstrual Syndrom)
PMS merupakan sejumlah perubahan mental maupun fisik yang terjadi antara hari
ke-2 sampai hari ke-4 sebelum menstruasi dan segera mereda setelah menstruasi
dimulai. Disebabkan oleh :
Sekresi estrogen yang abnormal
Kelebihan atau defisiensi progesteron
Kelebihan atau defisiensi kortisol, androgen, atau prolaktin
Kelebihan hormon anti diuresis
Kelebihan atau defisiensi prostaglandin

2. Amenorrhoe
Suatu keadaan tidak adanya haid, selam 3 bulan atau lebih. Yang terbagi atas :
Amenorrhoe Primer, yaitu seorang wanita pada usia 18 tahun belum pernah
mendapatkan haid. Disebabkan oleh kelainan kongenital dan kelainan genetik.
Amenorrhoe Sekunder, yaitu seorang wanita tidak mendapatkan haid, tetapi
sebelumnya pernah mengalami haid dengan siklus yang teratur. Disebabkan
oleh gangguan gizi, gangguan metabolisme, tumor, dan penyakit infeksi.

3. Pseudomenorrhea
Suatu keadaan haid tetapi darah haid tersebut tidak dapat keluar, karena tertutupnya
leher rahim, vagina atau selaput dara. Penyebabnya antara lain :
a. Kongenital, yaitu suatu keadaan dimana selaput dara tidak berlubang
b. Acquisita, yaitu suatu keadaan dimana terjadi perlekatan saluran leher rahim
atau vagina akibat adanya radang, gonorrhea, diptheri.

4. Menstruasi praecox
20

Perdarahan pada anak muda kurang dari 8 10 tahun yang disertai dengan
tumbuhnya rambut kelamin, pertumbuhan buah dada. Klasifikasi dan
penyebabnya dapat dibagi menjadi :
a. Pubertas praecox yang disertai terbentuknya hormon gonadotropin dan dapat
menimbulkan kehamilan.
b. Pseudo pubertas praecox yaitu tidak adanya hormon gonadotropin.

5. Menorrhagia
Perdarahan haid yang lebih banyak dari normal dan lebih lama disertai dengan
adanya bekuan darah tetapi siklus teratur. Penyebabnya :
Terlalu lelah
Mioma uteri
Hipertensi
Penyakit jantung
Endometritis
Hemofili (penyakit darah)

6. Dismenorrhoe
Nyeri pada perut bagian bawah sebelum dan sesudah haid dapat bersifat kolik terus-
menerus. Nyeri diduga karena kontraksi rahim. Penggolongan :
a. Dismenorrhoe primer, yaitu sejak menstruasi pertama kali, nyeri dan tidak ada
kelainan dari alat kandungan.
b. Dismenorrhoe sekunder, yaitu nyeri haid yang terjadi kemudian, biasanya
terdapat kelainan dari alat kandungan.

7. Metrorrhagia
Suatu keadaan dimana perdarahan yang tidak teratur dan tidak ada hubungannya
dengan masa haid karena terjadi diantara dua haid.

8. Polimenorrhoe
Suatu keadaan dimana haid sering terjadi karena siklus yang pendek kurang dari
21 hari. Penyebab
Gangguan hormonal yang mengakibatkan gangguan ovulasi atau masa subur
Kelainan ovarium karena peradangan, endometriosis.
21


9. Oligomenorrhoe
Suatu keadaan dimana haid jarang terjadi dan siklusnya panjang lebih dari 35 hari.
Penyebabnya :
Perpanjangan stadium folikuler ( lamanya 8-9 hari dimulai dari hari ke-5
menstruasi )
Perpanjangan stadium luteal ( lamanya 15-18 hari setelah ovulasi )
Kedua stadium diatas panjang yang mengakibatkan perpanjangan siklus haid.

10. Hypomenorhoe
Suatu keadaan dimana perdarahan haid lebih pendek atau lebih kurang dari
biasanya. Secara normal haid sudah terhenti dalam 7 hari. Kalau haid lebih lama
dari 7 hari maka daya regenerasi selaput lendir kurang.














22

BAB III
PENUTUP

Genitalia wanita terdiri atas vulva, labium major, dan labium minor sebagai
genitalia eksterna, serta vagian, uterus, tube uterina Falopii, dan ovarium sebagai genitalia
interna. Ovarium akan menghasilkan ovum melalui proses oogenesis di mana melalui
proses ini, satu sel oogonium akan menghasilkan 1 ovum dan 3 badan polar. Ovum
tersebut dilapisi oleh folikel yang juga berkembang, mulai dari folikel primordial, folikel
berkembang, hingga menjadi folikel de Graaf dan akhirnya pecah sehingga oosit sekunder
keluar dan berubah menjadi korpus luteum yang akan berdegenerasi menjadi korpus
albikans jika tidak terjadi fertilisasi.
Tidak terjadinya fertilisasi mengakibatkan terjadinya menstruasi atau haid sebagai
salah satu tanda pubertas dari seorang wanita. Siklus haid dipengaruhi oleh gonadotropin
releasing hormone dan dibagi menjadi empat fase, yaitu fase menstruasi, fase proliferasi
atau folikuler, fase ovulasi, dan fase sekresi atau fase luteal. Namun sering pula
ditemukan wanita dengan siklus haid yang tidak normal berdasarkan banyaknya darah
yang dikeluarkan atau lamanya perdarahan.







23

DAFTAR PUSTAKA

1. Aryulina D, Muslim C, Manaf S, Winarni EW. Biologi 2. Edisi pertama. Jakarta:
Erlangga; 2007.
2. Gunawijaya FA, Kartawiguna E. Penuntun praktikum : kumpulan foto histologi.
Edisi pertama. Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti; 2007.
3. Mustikasari A. Reproduksi pada manusia. Edisi Agustus 2008. Diunduh dari
http://edu-articles.com, 5 Oktober 2010.
4. Sophia E. Pubertas pada remaja. Edisi Mei 2009. Diunduh dari
http://medicastore.com/, 5 Oktober 2010.
5. Putra AD. Beberapa Hal yang mempengaruhi keberhasilan infertilisasi in vitro.
Edisi Oktober 2005. Diunduh dari http://www.tempo.co.id/, 5 Oktober 2010.
6. Pujiyanto S. Menjelajah dunia biologi. Edisi pertama. Solo: Platinum; 2008.