Anda di halaman 1dari 18

BAHASA menunjukkan cerminan pribadi seseorang.

Karakter, watak, atau pribadi seseorang dapat diidentifikasi dari perkataan yang ia ucapkan. Penggunaan bahasa yang lemah lembut, sopan, santun, sistematis, teratur, jelas, dan lugas mencerminkan pribadi penuturnya berbudi. Sebaliknya, melalui penggunaan bahasa yang sarkasme, menghujat, memaki, memfitnah, mendiskreditkan, memprovokasi, mengejek, atau melecehkan, akan mencitrakan pribadi yang tak berbudi. Lah kalo aku menggunakan bahasa yang sarkastis tetapi sementara itu juga sistematis dan teratur serta jelas juga lugas itu begimana? Atau kalo aku menghujat secara sistematis terhadap sesuatu yang memang kuyakini - ainul yakin wal hakkul yakin - bahwa sesuatu itu memang layak, perlu, dan bahkan harus dihujat itu begimana? Juga begimana dengan provokasi terhadap apa yang semestinya diprovokasi? Dan hal lainnya adalah begimana kalau seseorang berbahasa dengan lembut, sopan, santun, sistematis, teratur, serta jelas, juga lugas hanya untuk mengelabui orang-orang kampung pinggiran gang abalabal di kampung trenggiling kelurahan bekicot supaya tanahnya dijual sehingga bisa didirikan mall atau apartmen tempat ABG-ABG goblog hilir mudik? Tidak lupa dan tidak boleh dilupakan, begimana dengan lemah lembutnya gaya bahasa bapak-bapak pejabat yang cuma berarti munafik bin hipokrit? Apa iya zombie mayat idup bermulut cabul itu "berbudi" ketika ia selalu nongol di TV dengan gaya bahasa yang sopan dan santun? Atau Soeharto yang membantai ratusan ribu jiwa sambil tetap saja tersenyum manis dan berbicara dengan gaya yang lemah lembut serta sopan dan santun? Jadi Wiji Thukul, Tan Malaka, Sukarno, dan lain-lain yang sangat provokatif itu "tidak berbudi"? Bukankah ini sontoloyo, bahwa manusia ini melihat karakter, watak, dan pribadi seseorang - semata-mata melalui kelemahlembutan dan kesopanan serta kesantunan bahasa? Bukankah namanya kemunafikan jika hal ini dibalikkan menjadi, demi memperlihatkan karakter, watak, dan pribadi yang berbudi - maka seseorang (harus) menunjukkan kelemahlembutan dan kesopanan serta kesantunan bahasa? Lantas di mana lagi prinsip-prinsip yang lain seperti

keterbukaan, kejujuran, kebenaran bin nahi munkar? Lalu manusia itu menulis: Tepatlah bunyi peribahasa, "bahasa menunjukkan bangsa". Bagaimanakah sebenarnya tingkat peradaban dan jati diri bangsa tersebut? Apakah ia termasuk bangsa yang ramah, bersahabat, santun, damai, dan menyenangkan? Ataukah sebaliknya, ia termasuk bangsa yang senang menebar bibit-bibit kebencian, menebar permusuhan, suka menyakiti, bersikap arogan, dan suka menang sendiri. Setelah melihat pribadi berdasarkan "CARA bicaranya", sekarang dia melakukan hal yang sama terhadap sebuah bangsa! Bukan "APA yang dibicarakannya", bukan pula "KENAPA dia harus bicara". Jadi, sekali lagi, menurut orang ini tingkat peradaban dan jati diri suatu bangsa ditentukan dari "CARA bicaranya"! Dan jelas saja Suharto senang, karena seberapa banyak pun korban yang dia bantai, bangsa Indonesia tetap akan berperadaban tinggi, ramah, bersahabat, damai, dan menyenangkan - sejak Soearto itu berbicara selalu dengan cara yang lemah lembut.hahaha. dasar the smiling jendral. Selanjutnya: Fungsi hakiki bahasa adalah alat komunikasi, alat bekerja sama, dan pewujud nilai-nilai persatuan bagi para pemakainya. Dia lupa bahwa untuk mengatakan sesuatu dengan sejujur-jujurnya, untuk membela diri, untuk memberitakan kebenaran, untuk menghujat apa yang perlu dihujat, dan untuk memaki ketika hal itu dibutuhkan adalah juga termasuk dalam kategori KOMUNIKASI. Sungguh picik orang ini sehingga hanya dapat melihat komunikasi sebagai suatu hubungan manis yang lemah lembut serta sopan lagi santun. Anjuran tersebut juga relevan dengan pepatah lama yang menyebutkan lidah atau lisan bagaikan pedang. Dan pedang tidak ada gunanya jika tidak digunakan bilamana perlu! "Mulutmu harimaumu", itu kata pepatah yang masih tetap relevan.

Dan harimau yang tidak dapat mengaum dan menerjang mangsa adalah harimau yang kelak akan mati kelaparan! Sepertinya, ketika wanita terancam bahaya pemerkosaan, wanita tidak akan memilih untuk menggunakan kalimat "oh kang mas, tolong jangan perkosa aku, plis, tolong, jangan ah" dan secara alamiah akan lebih memilih "ANJING! BANGSAT! SETAN KURAP! KEPARAT! JAHANAM! BABI PANGGANG! SOP KAMBING! SATE KELINCI! UDANG REBUS!" Bukankah demikian? bahasa adalah ekspresi!! tunjukan kemarahanmu ketika kamu memang sedang marah. Belajarlah jadi bangsa yang jujur bukan bangsa yang MUNAFIK!!

bahasa" sebagai salah satu cara penyampai pesan sekalikgus memberi pesan warna emosi. Kemampuan orang berbeda dalam memanage bahasa sehingga ketika sampai bentuk bahasa ( kasar, lemah lembut atau seperti apapun) kepada penerima, jika reaksinya sesuai keinginan artinya tujuan tercapai artinya pula cukup baik kemampuan memanage bahasa. Sekali lagi harus diperjelas tujuan yang ingin di capai baru kemudian memanage bahasa. jika terjadi reaksi yang bertolak belakang dengan keinginan artinya pula bahasa yang disampaikan tidak tepat. Bahasa bisa mewakili emosi dan warna berpikir subyek, kemampuan mengatur bahasa supaya bisa selaras dngn emosi dan bobot pikiran penerima bukanlah mudah karena segala "miss" adalah indikasi komunikasi gagal kecuali "miss" itu sendiri sebagai tujuan. Bahasa yang kasar atau lemah lembut bukanlah masalah, tapi masalahnya adalah keselarasan emosi dan pikiran dengan lawan.

bahasa mrupakan tolak ukur kepribadian seseorang namun tidak mencakup penilaian average atau menyeluruh dari orang yg diukur,tutur bahasa merupakan hanya sebuah aspek dari sebuah penilaian masih ada lagi aspek penilaiain yg lain,contoh latar belakang seseorang mengatakan anjing,atau sarkasme2 yg lainnya,itu juga bisa merupakan salah satu tinjauan penilaian,lebih kompleks lagi dengan faktor psikologi,ekonomi,pendidikan dan politik,politik yg dlm konteks ini adalah kepentingan pribadi atau golongan,,,,hal ini bisa di analogikan

dlm sebuah evaluasi dlm organisasi yaitu PENILAIAN ,KALO ingin menilai kita juga harus fair dlm hal ini,seperti untuk mengukur sesuatu kita sepakat untuk menggunakan alat ukur apa???maksudnya alat ukur itu bisa berupa kitab hukum kuhp,moral,budaya setempat atau agama,,,dan jgn lupa dalam ilmu politik dan bahasa ada yang disebut teori DIALEKTIKA yg terkenal oleh sokrates,pokonamah mun rek ngobrol serius jangan hanya lewat tulisan karena susah sekali untuk mencari titik temu,,alangkah baiknya jika bertemu langsung.....inti yg saya bicarakan adalah tidak adanya hukum yg mutlak dlm dunia ilmu ilmiah yg condong dari dulu ke yunani,,,semua ilmu yg manusia terima di dunia pendidikan formal dari sd sampai kuliah semuanya menggunakan teori relativitas,,,,,sangat kontra dengan ilmu agama,,,,,mun aya waktu hayu ngobrol langsung,,,,kurang efektif jika hanya lewat pendapat dan komentar ,,,,,,MERCI

fisika : GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN JUDUL MATA KULIAH : FISIKA DASAR NOMOR KODE / SKS : FIS 101 / 3(2-3) DESKRIPSI SINGKAT : Mata kuliah Fisika Dasar ini diberikan di TPB untuk membekali seluruh mahasiswa dengan kompetensi umum lulusan IPB. Materi mata kuliah ini adalah Mekanika, Gelombang, Termodinamika, Listrik Magnet dan Fisika Modern. Penyajian mata kuliah ini tidak membutuhkan latar belakang matematika yang kuat sehingga diharapkan dapat dicerna dengan baik oleh seluruh mahasiswa dari berbagai jurusan. Dalam penyajiannya akan dijelaskan tentang konsep-konsep dasar fisika dalam bentuk sederhana diikuti dengan contoh-contoh soal dan aplikasinya dalam berbagai bidang, sehingga diharapkan dapat menyiapkan mahasiswa untuk mampu menggunakan fisika dalam profesi dan kehidupan sehari- harinya. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM : Setelah mengikuti perkuliahan ini, diharapkan mahasiswa memakai berbagai formulasi fisika untuk memecahkan masalah fisika sederhana dan menerapkan dalam berbagai bidang lain. No. Tujuan Instruksional Khusus Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Est. Waktu Daftar Kepustakaan

Setelah mengikuti tatap muka, mahasiswa dapat 1. - menjelaskan peranan ilmu fisika dalam kehidupan Peranan Ilmu Fisika dalam Kehidupan - Sain dan kreativitas - Fisika dan relasinya dengan bidang lain - Model, teori dan hukum - Pengukuran dan satuan 100 1: 1-11 2. - menentukan besaran-besaran kinematika (posisi, kecepatan dan percepatan) dalam satu dimensi untuk fungsi-fungsi yang sederhana Kinematika - Posisi, kecepatan dan percepatan sebagai fungsi dari waktu - Kecepatan dan Perubahan posisi - Percepatan dan Perubahan kecepatan - Aplikasi Model Kinematika pada Bidang Lain 100 1: 18-46 2: 21-52 (http://www.tpb.ipb.ac.id/files/gbpp/gbpp-fisikadasar.pdf, 8.11pm) Dalam kehidupan ini, manusia tidak bisa lepas dari kegiatan 'mengukur'. Pengembangan Ilmu fisika tidak lepas juga dengan beragam pengukuran. Alam yang merupakan objek pengukuran fisika dari tingkat molekul hingga planet secara fisis diukur. Maka untuk molekul, kita mengenal satuan panjang hingga 10 pangkat -12 meter atau lebih kecil lagi. Sedangkan untuk ukuran jagad raya kita mengenal jarak dalam satuan tahun cahaya. Ilmu Fisika bertujuan untuk memberi pemahaman terhadap kejadian alam dengan mengembangkan teori yang didasarkan pada eksperimen. Teori umumnya dinyatakan dalam bahasa matematika. Ternyata berbagai gejala alam yang teramati dapat dijelaskan dengan beberapa hukum dasar fisika. Dalam fisika dan teknik, pengukuran adalah aktivitas yang membandingkan kuantitas fisik dari objek dan kejadian dunia-nyata. Alat pengukur adalah alat yang digunakan untuk mengukur benda atau kejadian tersebut. Seluruh alat pengukur terkena error peralatan yang bervariasi. Fisikawan menggunakan banyak alat untuk melakukan pengukuran mereka. Ini dimulai dari alat yang sederhana seperti penggaris dan stopwatch sampai ke mikroskop elektron dan pemercepat partikel. Instrumen virtual digunakan luas dalam pengembangan alat pengukur modern. Pengukuran dan ketidakpastian Pengukuran dalam fisika merupakan aspek penting mengingat sesuatu baru dapat diberlakukan jika telah terbukti secara

eksperimental, dan eksperimental tidak dapat terlepas dari pengukuran. Ketepatan pengukuran merupakan juga bagian penting, karena tidak ada pengukuran yang berpresisi secara mutlak, terdapat ketidakpastian pada setiap pengukuran. Setiap mencatat hasil pengukuran yang kita lakukan, kemungkinannya akan lebih kecil atau lebih besar dari hasil yang sesungguhnya. Oleh karena itu, pemberian hasil dari setiap pengukuran harus disertakan dengan estimasi ketidakpastian(estimated uncertainty). Misalkan; lebar papan ditulis (5,2 0,1) cm. Angka 0,1 cm menyatakan estimasi ketidakpastian dalam pengukuran (umumnya angka 0,1 cm adalah nilai skala terkecil alat ukur, dalam hal ini papan diukur dengan mistar). Lebar aktual papan berada di antara 5,1 dan 5,3 cm. Persen ketidakpastian (percent uncertainty) adalah rasio ketidakpastian terhadap harga terukur dikalikan dengan 100. Misalkan, jika pengukuran adalah 5,2 cm dan ketidakpastian sekitar 0,1 cm, maka persen ketidakpastian sebesar (0,1/5,2) x 100% = 2%. Diposkan oleh Intan Irawati di Rabu, Maret 12, 2008 0 komentar Link ke posting ini (http://intan-fisika.blogspot.com/2008_03_01_archive.htm:8.21)

Ketidakpastian pada pengukuran disebabkan adanya kesalahan baik si pengukur maupun alat ukurnya. Kesalahan (error) adalah penyimpangan nilai yang diukur dari nilai benar xo. Ada 3 macam kesalahan, yaitu : 1. Kesalahan umum/keteledoran, kesalahan disebabkan si pengamat antara lain kurang terampil dengan alat yang dipakai 2. Kesalahan Acak, kesalahan disebabkan fluktuasi-fluktuasi halus diantaranya gerak molekul udara, fluktuasis tegangan PLN, getaran, dll. Kesalahan acak menghasilkan simpangan yang tidak dapat diprediksi terhadap nilai benarnya (xo) sehinga peluangnya diatas atau dibawah nilai benar. Kesalahan acak tidak dapat dihilangkan tetapi dapat dikurangi dengan mengambil nilai rata-rata hasil pengukuran. 3. Kesalahan Sistematis, kesalahan oleh kalibrasi alat, kesalahan titik nol, kesalahan komponen dan kesalahan arah pandang/paralaks. Kesalahan sistematis yang besar menyebabkan pengukuran tidak akurat. Perbedaan Hasil Pengukuran yang akurat dan presisi !! Hasil pengukuran dikatakan akurat bila nilai rata-rata hasil pengukuran mendekati/ hamper sama dengan nilai yang benar. Bila nilai rata-rata jauh dari nilai benar maka hasil pengukuran dikatakan tidak akurat. Contoh :

Nilai benar panjang benda adalah 8,24 cm. Lima kali dilakukan pengukuran berulang didapatkan data pengukuran (1). 8,20 (2). 8,22 (3). 8,20 (4). 8,28 dan (5). 8,25. Nilai rata-rata hasil pengukuran didapatkan dari ((8,20 + 8,22 + 8,20 + 8,28 + 8,25)/5) = 8,23 cm. Maka nilai rata-rata hasil pengukuran tersebut dikatakan akurat karena mendekati nilai benar yaitu 8,24 Sedangkan hasil pengukuran dikatakan presisi bila data hasil pengukuran terpencar dekat dengan nilai rata-rata hasil pengukuran sebagaimana contoh diatas. Bila hasil lima kali pengukuran diatas didapatkan (1). 8,35 (2). 8,42 (3). 7,95 (4). 7.95 dan (5). 8,50. Nilai rata-rata hasil pengukuran 8,23 cm, maka dikatakan tidak presisi karena penyebaran hasil pengukuran terpancar jauh dari nilai rataratanya walaupun nilai rata-ratanya mendekati nilai sebenarnya. Kekurangakuratan hasil pengukuran dimungkinkan akibat kesalahan sistematis yang besar dan ketidakpresisian hasil pengukuran akibat kesalahan acak yang besar ! (http://adiwarsito.wordpress.com/tag/ketidakpastian-pengukuran)

Gudang Ilmu Fisika Gratis Home About Contact Blogroll Pengukuran Saturday Aug 2,2008 10:48 AM By san In Besaran dan Satuan Untuk mencapai suatu tujuan tertentu di dalam fisika, kita biasanya melakukan pengamatan yang disertai dengan pengukuran. Pengamatan suatu gejala secara umum tidak lengkap apabila tidak ada data yang didapat dari hasil pengukuran. Lord Kelvin, seorang ahli fisika berkata, bila kita dapat mengukur yang sedang kita bicarakan dan menyatakannya dengan angka-angka, berarti kita mengetahui apa yang sedang kita bicarakan itu.

Apa yang Anda lakukan sewaktu melakukan pengukuran? Misalnya anda mengukur panjang meja belajar dengan menggunakan jengkal, dan mendapatkan bahwa panjang meja adalah 7 jengkal. Dalam pengukuran di atas Anda telah mengambil jengkal sebagai satuan panjang. Kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melakukan pengukuran terhadap besaran tertentu menggunakan alat ukur yang telah ditetapkan. Misalnya, kita menggunakan mistar untuk mengukur panjang. Pengukuran sebenarnya merupakan proses pembandingan nilai besaran yang belum diketahui dengan nilai standar yang sudah ditetapkan. ALAT UKUR BESARAN Alat Ukur Besaran Pokok Besaran Pokok Panjang Alat Ukur Mistar, Jangka sorong, mikrometer sekrup Massa Neraca (timbangan) Waktu Stop Watch Suhu Termometer Kuat Arus Amperemete Jumlah molekul Tidak diukur secara langsung * Intensitas Cahaya Light meter * Jumlah zat tidak diukur secara langsung seperti anda mengukur panjang dengan mistar. Untuk mengetahui jumlah zat, terlebih dahulu diukur massa zat tersebut. selengkapnya dapat anda pelajari pada bidang studi Kimia. Mistar : untuk mengukur suatu panjang benda mempunyai batas ketelitian 0,5 mm.

Jangka sorong : untuk mengukur suatu panjang benda mempunyai batas ketelitian 0,1 mm.

Mikrometer : untuk mengukur suatu panjang benda mempunyai batas ketelitian 0,01 mm.

Neraca : untuk mengukur massa suatu benda.

Stop Watch : untuk mengukur waktu mempunyai batas ketelitian 0,01 detik.

Termometer : untuk mengukur suhu.

Amperemeter : untuk mengukur kuat arus listrik (multimeter)

Alat Ukur Besaran Turunan Speedometer : untuk mengukur kelajuan

Dinamometer : untuk mengukur besarnya gaya.

Higrometer : untuk mengukur kelembaban udara.

Ohm meter : untuk mengukur tahanan ( hambatan ) listrik Volt meter : untuk mengukur tegangan listrik. Ohm meter dan voltmeter dan amperemeter biasa menggunakan multimeter.

Barometer : untuk mengukur tekanan udara luar.

Hidrometer : untuk mengukur berat jenis larutan.

Manometer : untuk mengukur tekanan udara tertutup.

Kalorimeter : untuk mengukur besarnya kalor jenis zat.

Istilah dalam Pengukuran Ketelitian adalah suatu ukuran yang menyatakan tingkat pendekatan dari nilai yang diukur terhadap nilai benar x0. Kepekaan adalah ukuran minimal yang masih dapat dikenal oleh instrumen/alat ukur Ketepatan (akurasi) adalah suatu ukuran kemampuan untuk mendapatkan hasil pengukuran yang sama. Dengan memberikan suatu nilai tertentu pada besaran fisis, ketepatan merupakan suatu ukuran yang menunjukkan perbedaan hasilhasil pengukuran pada pengukuran berulang. Akurasi alias Ketelitian Pengukuran Pengukuran yang akurat merupakan bagian penting dari fisika, walaupun demikian tidak ada pengukuran yang benar-benar tepat. Ada ketidakpastian yang berhubungan dengan setiap pengukuran. Ketidakpastian muncul dari sumber yang berbeda. Di antara yang paling penting, selain kesalahan, adalah keterbatasan ketepatan setiap alat pengukur dan ketidakmampuan membaca sebuah alat ukur di luar batas bagian terkecil yang ditunjukkan. Misalnya anda memakai sebuah penggaris centimeter untuk mengukur lebar sebuah papan, hasilnya dapat dipastikan akurat sampai 0,1 cm, yaitu bagian terkecil pada penggaris tersebut. Alasannya, adalah sulit untuk memastikan suatu nilai di antara garis pembagi terkecil tersebut, dan penggaris itu sendiri mungkin tidak dibuat atau dikalibrasi sampai ketepatan yang lebih baik dari ini. Ketika menyatakan hasil pengukuran, penting juga untuk menyatakan ketepatan atau perkiraan ketidakpastian pada pengukuran tersebut. Sebagai contoh, hasil pengukuran lebar papan tulis : 5,2 plus minus 0,1 cm. Hasil Plus minus 0,1 cm (kurang lebih 0,1 cm) menyatakan perkiraan ketidakpastian pada pengukuran tersebut sehingga lebar sebenarnya paling mungkin berada di antara 5,1 dan 5,3. Persentase ketidakpastian merupakan perbandingan antara ketidakpastia dan nilai yang diukur, dikalikan dengan 100 %. Misalnya jika hasil pengukuran adalah 5,2 cm dan ketidakpastiannya 0,1 cm maka persentase ketidakpastiannya adalah : (0,1 / 5,2) x 100 % = 2 %.

Seringkali, ketidakpastian pada suatu nilai terukur tidak dinyatakan secara eksplisit. Pada kasus seperti ini, ketidakpastian biasanya dianggap sebesar satu atau dua satuan (atau bahkan tiga) dari angka terakhir yang diberikan. Sebagai contoh, jika panjang sebuah benda dinyatakan sebagai 5,2 cm, ketidakpastian dianggap sebesar 0,1 cm (atau mungkin 0,2 cm). Dalam hal ini, penting untuk tidak menulis 5,20 cm, karena hal itu menyatakan ketidakpastian sebesar 0,01 cm; dianggap bahwa panjang benda tersebut mungkin antara 5,19 dan 5,21 cm, sementara sebenarnya anda menyangka nilainya antara 5,1 dan 5,3 cm. Ketidakpastian Mutlak dan Relatif Hasil pengukuan selalu dilaporkan sebagai x = x plus minus delta x di mana delta x merupakan setengah skala terkecil istrumen (pengukuran tunggal) atau berupa simpangan baku nilai rata-rata sampel (pengukuran berulang). Delta x dinamakan ketidakpastian mutlak. Ketidakpastian mutlak berhubungan dengan ketepatan pengukuran, di mana semakin kecil ketidakpastian mutlak yang dicapai, semakin tepat pengukuran tersebut. Misalnya pengukuran panjang dengan mikrometer skrup, L = (4,900 0,005 ) cm. Nilai 0,005 cm merupakan ketidakpastian mutlak yang diperoleh dari setengah skala terkecil mikrometer dan 4,9 merupakan angka pasti. Materi Besaran pokok dan turunan : 1. Besaran pokok dan besaran turunan 2. Satuan metrik 3. Konversi Satuan 4. Dimensi besaran 5. Pengukuran 6. Angka penting 7. Notasi ilmiah Bagaimana belajar besaran pokok dan turunan secara efisien

Postingan yang berkaitan : Bagaimana belajar besaran pokok dan besaran turunan secara efektif dan efisien ? Notasi Ilmiah Angka Penting Dimensi Besaran Konversi Satuan Satuan metrik Besaran pokok dan turunan

NB : Silahkan download Buku Sekolah Elektronik (BSE) gratis. Tersedia Buku SD, SMP, SMA dan SMK. Semua mata pelajaran. Klik di sini

RSS feed for comments on this post Ada 56 Komentar o dani says: 7 August 2010 at 6:41 pm mantap bro. Balas komentar ini
o

aisyah says: 18 August 2010 at 6:07 am Pak,klo cara mengukur dengan alat ukurnya jangka sorong sm mikrometer sekrupnya gimana sih? Saya masih bingung Balas komentar ini

san says: 18 August 2010 at 6:14 am aisyah baca di sini ya mengukur besaran pokok Balas komentar ini

andika says: 24 September 2010 at 6:31 pm Pak, bisa kasi contoh soal mikrometer sekrup dan jawabannya? (klo bisa yang susah) thx Balas komentar ini

widyana says: 8 October 2010 at 10:07 am apik Balas komentar ini

Older Comments Tinggalkan pesan Nama(Wajib diisi) Email (Wajib Diisi) Website (Tidak wajib)

Bimbingan Belajar Gratis SMA Kelas X SMA kelas XI SMA Kelas XII SMP Kelas IX SMP Kelas VII SMP Kelas VIII Kategori FISIKA SMA o Istilah dan Konstanta o Besaran dan Satuan o vektor skalar o Kinematika o Dinamika o Elastisitas o Usaha dan Energi o Impuls dan Momentum

Kinematika Rotasi Dinamika Rotasi Keseimbangan Benda Tegar Fluida Statis Fluida Dinamis Suhu Dan Kalor Teori Kinetik Gas Termodinamika Getaran Osilasi Gelombang Mekanik Gelombang Bunyi SOAL FISIKA o Soal Vektor dan Skalar o Soal Kinematika o Soal Dinamika o Soal Elastisitas o Soal Usaha & Energi o Soal Getaran o Soal Impuls & Momentum o Soal Kinematika Rotasi o Soal Dinamika Rotasi o Soal Keseimbangan Benda Tegar o Soal Fluida Statis o Soal Fluida Dinamis o Soal suhu dan kalor o Soal teori kinetik gas o Soal Termodinamika PEMBAHASAN SOAL o Besaran dan satuan o Vektor o GLB o GLBB o Gerak Vertikal Ke Atas o Gerak Parabola o Gerak Melingkar o Gravitasi Universal o Hukum Hooke-Elastisitas o Hukum kekekalan EM FISIKA TANPA RUMUS o Belajar dengan bertanya o Humor fisika o Artikel o Lagu fisika o Puisi Fisika TOKOH FISIKA
o o o o o o o o o o o

Tokoh Fisika Klasik Fisikawan Asia Fisikawan Indonesia Profil Guru Fisika PEMBELAJARAN FISIKA o Motivasi belajar o Media pembelajaran fisika Membuat blog wordpress o Metode belajar CINTA DAN BENCI o Benci fisika o Cinta fisika Matematika asyik Gado gado
o o o o

Komentar Atis Sutisna on Untuk apa anda belajar fisika ? Iren Ramadhan on bimbingan belajar fisika sma kelas XII aninda chaerini on bimbingan belajar fisika sma kelas X shadly on bimbingan belajar fisika sma kelas X ikhsan on Gerak Lurus Beraturan (GLB) gracia on Fisika oh fisika ricky rinaldo on bimbingan belajar fisika sma kelas X ayu carolina sobari on bimbingan belajar fisika smp kelas VII adhy on Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) aida on Prof. Masatoshi Koshiba GMC

Log in Entries RSS Comments RSS WordPress.org Alexander San Lohat Seorang blogger guru fisika. Selengkapnya...

Gudang ilmu fisika gratis 2010 All rights reserved.

Designed by WPLight for Wordpress Skins 16 queries (http://www.gurumuda.com/pengukuran)

KETIDAKPASTIAN PENGUKURAN October 2, 2009 By veetha Setiap pengukuran tidak pernah tetap dan mempunyai taksiran nilai. Mengukur adalah membandingkan suatu besaran yang dimiliki suatu alat yang besarannya sejenis dengan cara membaca skala. Tujuan pengukuran adalah menentukan nilai besaran ukur. Hasil pengukuran merupakan nilai taksiran besaran ukur. Karena hanya merupakan taksiran maka setiap hasil pengukuran mempunyai kesalahan. APA YANG DIUKUR? Yang diukur adalah besaran-besaran fisika, yaitu besaran pokok dan besaran turunan. Contoh: panjang, massa dan waktu UNTUK MENGUKUR, ALAT APA SAJA YANG DIGUNAKAN? Banyak alat pengukur yang bisa digunakan, contohnya: mistar, timbangan, thermometer, jangka sorong, micrometer sekrup, dll.

- Mistar Tingkat ketelitiannya 0.1 cm. Mistar adalah sebuah alat pengukur dan alat bantu gambar untuk menggambar garis lurus. - Jangka Sorong adalah alat ukur yang ketelitiannya dapat mencapai seperseratus milimeter. Terdiri dari dua bagian, bagian diam dan bagian bergerak. Pembacaan hasil

pengukuran sangat bergantung pada keahlian dan ketelitian pengguna maupun alat. Sebagian keluaran terbaru sudah dilengkapi dengan bacaan digital. Pada versi analog, umumnya tingkat ketelitian adalah 0.05mm untuk jangka sorang dibawah 30cm dan 0.01 untuk yang diatas 30cm. - Mikrometer Sekrup

Mikrometer adalah alat ukur yang dapat melihat dan mengukur benda dengan satuan ukur yang memiliki 0.01 mm. Mikrometer memiliki 3 jenis umum pengelompokan yang didasarkan pada aplikasi berikut : Mikrometer Luar Mikrometer luar digunakan untuk ukuran memasang kawat, lapisan-lapisan, blok-blok dan batang-batang. Mikrometer dalam Mikrometer dalam digunakan untuk menguukur garis tengah dari lubang suatu benda. Mikrometer kedalaman Mikrometer kedalaman digunakan untuk mengukur kerendahan dari langkah-langkah dan slot-slot. Dalam melakukan pengukuran pasti terdapat kesalahan, baik kesalah alat maupun kesalahan si pengukur. Dengan kata lain pasti akan ada ketidakpasitian dalam pengukuran. Kesalahan adalah penyimpangan nilai ukur dari nilai benar. Kesalahan pengukuran ada tiga macam: 1. a. Kesalahan Sistematis Kesalahan Kalibrasi (Faktor alat)

Penyesuaian kembali perangkat pengukuran agar sesuai dengan besaran dari standar akurasi semula. b. Kesalahan Titik Nol (0)

Hal ini terjadi karena titik nol skala tidak berimpit dengan titik nol jarum penunjuk. c. Kelelahan Alat

Dikarenakan alat sering dipakai terus menerus sehingga alat tidak akurat lagi. Contoh: pegas yang mulai mengendur; jarum penunjuk pada voltmeter bergesekan dengan garis skala. d. Kesalahan Paralaks/Paralax (Sudut Pandang)

Ketika membaca nilai skala, pembaca berpindah tempat / tidak tepat melihatnya / obyek yang dilihat berbeda dengan obyek pertama yang diamati. e. Kondisi Lingkungan

Ketika melakukan pengukuran, kondisi lingkungan berubah sehingga tidak bisa dilakukan pengukuran seperti biasa. 2. Kesalahan Rambang (Kesalahan yang Tidak Dapat Dikendalikan)

Disebabkan karena adanya sedikit fluktuasi pada kondisi-kondisi pengukuran . contoh fluktuasi tegangan listrik; gerak brown molekul udara; landasan obyek bergetar. 3. Keteledoran Pengamat

Keterbatasan pengamat dalam membaca hasil pengukuran.

Daftar pustaka: http://www.scribd.com/mobile/documen/16102810 http://jokosby.files.wordpress.com/2008/02/salah-mutlak-dan-salah-relatif.ppt http://id.wikipedia.org/ Tags: jangka sorong, kesalahan pengukuran, ketidakpastian pengukuran, mikrometer sekrup, mistar (