Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK PENGAWETAN TANAH DAN AIR


(8. Menghitung Erodibilitas Tanah)

Oleh:
Kelompok : IV (Empat)
Kelas / Hari / Tanggal : Shift A2 / Kamis / 16 Mei 2013
Nama dan NPM : 1. Haidar Rafid Azis (240110100012)
2. M. Rais Hasjim (240110100026)
3. Fia Noviyanti (240110100053)
4. Mahadyansyah A (240110100044)
5. M. Mudawir (240110090030)
6. Saiful Uyun (240110090089)
Asisten : 1. Grace Yolanda
2. Monika E. Sitompul
3. M. Sulaeman
4. Rizky Patria Dewaner







LABORATORIUM KONSERVASI TANAH DAN AIR
JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2013
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Erodibilitas adalah kepekaan tanah terhadap erosi (daya penghancuran dan
penghanyutan oleh air hujan). Besarnya nilai erodibilitas sangat ditentukan oleh
karakteristik tanah seperti tekstur tanah, stabilitas agregat tanah, kapasitas
infiltrasi dan kandungan bahan organik serta kimia tanah. Nilai erodibilitas tanah
berkisar antara 0-1, dimana semakin besar nilai erodobilitas maka tanah akan
semakin peka atau mudah tererosi, demikian pula sebaliknya.
Banyak usaha yang telah dilakukan untuk membuat model hubungan
fungsional yang sederhana antara besarnya erodibilitas tanah dengan karakteristik
tanah yang bersangkutan. Wischmeier et al (1971), mengembangkan persamaan
matematis yang menghubungkan karakteristik tanah dengan tingkat erodibilitas
tanah.
Perkiraan besarnya nilai erodibilitas dapat pula diketahui berdasarkan data
persentase debu dan pasir sangat halus, pasir, bahan organik dan struktur serta
permeabilitas tanah. Dengan cara memasukkan data yang diperoleh tersebut
kedalam table nomograf tersebut, maka akan didapatkan nilai factor erodibilitas
tanahnya (K).

1.2 Tujuan Praktikum
Mengetahui cara menghitung erodibilitas tanah dengan menggunakan
nomograf Wischmeier dan persamaan matematis yang menggambarkan hubungan
karakteristik tanah dengan tingkat erodibilitas tanahnya.

1.3 Metodologi Pengamatan dan Pengukuran
1.3.1 Alat dan Bahan
1. Nomograf Wischmeier
2. Mistar/penggaris
3. Alat tulis
4. Kalkulator
1.3.2 Prosedur praktikum
1. Memplotkan data hasil laboratorium ke kurva sebelah kiri pada nomograf.
2. Membaca nomograf dari sisi kiri (skala vertikal) sesuai dengan informasi
persen deb dan pasir sangat halus diketahui.
3. Mengikuti secara horizontal sampai ke kurva persentase pasir yang sesuai,
kemudian interpolasikan pada angka persentase yang paling dekat.
4. Mengikuti secara vertikal sampai mendapatkan angka kandungan bahan
organik yang sesuai.
5. Menarik garis berdasarkan titik-titik yang diperoleh sehingga didapatkan
persen debu pasir, persen pasir dan persen bahan organik.
6. Melanjutkan penelusuran ke arah kanan secara horizontal sampai ke kurva
struktur yang sesuai.
7. Melanjutkan penelusuran secara vertikal sampai ke kurva permeabilitas
yang sesuai.
8. Terakhir melanjutkan penelusuran secara horizontal kearah skala
erodibilitas tanah yang terdapat di sisi kiri nomograf untuk mendapatkan
nilai faktor K.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Erosi
Erosi adalah hilangnya atau terkikisnya tanah atau bagian-bagian tanah dari
suatu tempat yang diangkut oleh air atau angin ke tempat lain. Erosi menyebabkan
hilangnya lapisan atas tanah yang subur dan baik untuk pertumbuhan tanaman
serta berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air.
Secara umum, terjadinya erosi ditentukan oleh faktor-faktor iklim (terutama
intensitas hujan), topografi, karakteristik tanah, vegetasi penutup tanah dan tata
guna lahan. Pemahaman tentang pengaruh erosi di daerah tangkapan air (onsite)
dan dampak yang ditimbulkannya di daerah hilir (offsite) tidak hanya memerlukan
pemahaman tentang mekanisme transfor sedimen melalui aliran sungai (Arsyad,
1989).

2.2 Proses Terjadinya Erosi
Dua penyebab utama terjadinya erosi adalah erosi karena sebab alamiah dan
erosi karena aktivitas manusia. Erosi alamiah dapat terjadi karena proses
pembentukan tanah dan proses erosi yang terjadi untuk mempertahankan
keseimbangan tanah secara alami. Erosi karena faktor alamiah umumnya masih
memberikan media yang memadai untuk berlangsungnya pertumbuhan
kebanyakan tanaman. Proses erosi terdiri atas tiga bagian yang berurutan yaitu,
pengelupasan (detachment), pengangkutan (transportation) dan pengendapan
(sedimentation). Dalam uraian ini, erosi permukaan (tanah) adalah yang
disebabkan oleh air hujan. Selain disebabkan oleh air hujan, erosi juga dapat
terjadi karena tenaga angin dan salju. Beberapa tipe erosi permukaan yang umum
dijumpai di daerah tropis (Glenn et al, 1992):
1) Erosi percikan (splash erosion)
Erosi percikan adalah proses terkelupasnya partikel-partikel tanah bagian atas
oleh tenaga kinetik air hujan bebas atau sebagai alir lolos. Tenaga kinetik tersebut
ditentukan oleh dua hal, yaitu massa dan kecepatan jatuhan hujan air. Tenaga
kinetik bertambah besar dengan bertambah besarnya diameter air hujan dan jarak
antara ujung daun penetes (driptips) dan permukaan tanah (pada proses erosi di
bawah tegakan vegetasi). Oleh karena itu, air lolos dari vegetasi dengan ujung-
ujung penetes lebar memberikan tenaga kinetik yang besar dan dengan demikian
meningkatkan kecepatan air lolos sampai kepermukaan tanah. Arah dan jarak
terkelupasnya partikel-partikel tanah ditentukan oleh kemiringan lereng,
kecepatan dan arah angin, keadaan kekasaran permukaan tanah, dan penutupan
tanah. Pada tanah berlereng, loncatan partikel tanah tersebut lebih banyak kearah
tempat yang lebih rendah. Hal ini disebabkan karena sudut datang energi kinetik
air hujan akan mendorong partikel-partikel tanah tersebut ke tempat yang lebih
rendah. Apabila air hujan jatuh diatas serasah atau tumbuhan bawah, energi
kinetik air hujan tersebut akan tertahan oleh penutup tanah dan dengan demikian
menurunkan jumlah partikel tanah yang terkelupas.
2) Erosi kulit (sheet erosion)
Erosi kulit adalah erosi yang terjadi ketika lapisan tipis permukaan tanah di
daerah berlereng terkikis oleh kombinasi air hujan dan air larian (run off). Tipe
erosi ini disebabkan oleh kombinasi air hujan dan air larian yang mengalir ke
tempat yang lebih rendah. Berdasarkan sumber tenaga penyebab erosi kulit,
tenaga kinetik air hujan lebih penting karena kecepatan air jatuhan lebih besar,
yaitu antara 0,3 sampai 0,6 m/dt (Schwab et al, 1981). Tenaga kinetik air hujan
menyebabkan lepasnya partikel-partikel tanah dan bersama-sama dengan
pengendapan sedimen (hasil erosi) diatas permukaan tanah, menyebabkan
turunnya laju infiltrasi karena pori-pori tanah tertutup oleh kikisan partikel tanah.
3) Erosi alur (rill erosion)
Riil erosion adalah pengelupasan yang diikuti dengan pengangkutan partikel-
partikel tanah oleh aliran air larian yang terkonsentrasi di dalam saluran-saluran
air. Hal ini terjadi ketika air larian masuk ke dalam cekungan permukaan tanah,
kecepatan air larian meningkat dan akhirnya terjadinya transfor sedimen. Tipe
erosi alur umumnya dijumpai pada lahan-lahan garapan dan dibedakan dari erosi
parit (gully erosion) dalam hal erosi alur dapat diatasi dengan cara
pengerjaan/pencangkulan tanah. Hal ini tidak dapat dilakukan terhadap erosi parit.
4) Erosi parit (gully erosion)
Erosi parit membentuk jajaran parit yang lebih dalam dan lebar dan
merupakan tingkat lanjutan dari erosi alur. Erosi parit dapat diklasifikasikan
sebagai parit bersambungan dan parit terputus-putus. Erosi parit terputus dapat
dijumpai di daerah bergunung. Erosi tipe ini biasanya diawali oleh adanya
gerusan-gerusan permukaan tanah oleh air larian kearah tempat yang lebih tinggi
dan cenderung berbentuk jari-jari tangan. Pada tahap lanjutan, proses
pembentukan erosi parit tersebut akan kehilangan karakteristik dinamika
perkembangan gerusan-gerusan pada permukaan tanah oleh aliran air, dan pada
akhirnya terbentuk pola aliran-aliran kecil atau besar yang bersifat permanent.
Namun demikian, proses terbentuknya erosi parit tidak selalu beraturan seperti
tersebut diatas. Sedang erosi parit bentuk U umumnya terjadi pada tanah dengan
tingkat erodibilitas rendah terletak diatas lapisan tanah dengan erodibilitas yang
lebih tinggi. Untuk menangulangi erosi parit ini diperlukan kombinasi bangunan
pencegah erosi dan penanaman vegetasi.

2.3 Erodibilitas Tanah
Faktor erodibilitas tanah (K) menunjukkan resistensi partikel tanah terhadap
pengelupasan dan transportasi partikel-partikel tanah tersebut oleh adanya energi
kinetik air hujan. Meskipun besarnya resistensi tersebut diatas akan tergantung
pada topografi, kemiringan lereng, dan besarnya gangguan oleh manusia.
Besarnya erodibilitas atau resistensi tanah juga ditentukan oleh karakteristik tanah
seperti tekstur tanah, stabilitas agregat tanah, kapasitas infiltrasi, dan kandungan
bahan organik dan kimia tanah. Karakteristik tanah tersebut bersifat dinamis,
selalu berubah. Oleh karenanya, karakteristik tanah tersebut dapat berubah seiring
dengan perubahan waktu dan tataguna lahan atau sistem pertanaman. Dengan
demikian, angka erodibilitas tanah juga akan berubah. Perubahan erodibilitas
tanah yang signifikan berlangsung ketika terjadi hujan karena pada waktu tersebut
partikel-partikel tanah mengalami perubahan orientasi dan karakteristik bahan
kimia dan fisika tanah.
Peranan tekstur tanah terhadap besar-kecilnya erodibilitas tanah adalah besar.
Tanah dengan partikel agregat besar resistensinya terhadap daya angkut air larian
juga besar karena diperlukan energi yang cukup besar untuk mengangkut partikel-
partikel tanah tersebut. Sedangkan tanah dengan partikel agregat halus resisten
terhadap pengelupasan karena sifat kohesi tanah tersebut juga besar. Partikel debu
dan pasir halus kurang resisten dibandingkan dengan kedua jenis partikel tanah
yang terdahulu dan dengan demikian tanah dengan kandungan debu tinggi
mempunyai sifat erodibilitas besar.
Menurut Wischmeier. W.H dan Smith D.D (1978) dalam bukunya yang
berjudul Predicting Rainfall Erosion Losses a Guide to Conservation Planning
menyebutkan bahwa nilai indeks erodibilitas tanah (K) didasarkan pada jumlah
tanah yang hilang dalam ton/ha/th, dari sebidang tanah pada panjang lereng 72,6
kaki (feet), kemiringan lereng 9% tanah diolah tetapi dibiarkan tidak ditanami.
Adapun analisa indeks erodibilitas tanah (K) dalam metode tersebut didasarkan
pada % kandungan pasir sangat halus ditambah % kandungan debu, % kandungan
pasir kasar, % bahan organik, tipe dan kelas struktur tanah, dan tingkat
permeabilitas tanah. Angka-angka tersebut kemudian diproses dengan nomograf
erodibilitas tanah untuk menetapkan nilai indeks faktor erodibilitas tanah (K).
Arsyad (1989) dalam bukunya yang berjudul Konservasi Tanah dan Air
mengemukakan bahwa kemudahan tanah untuk mengalami erosi dikenal dengan
erodibilitas. Jadi tanah yang mempunyai erodibilitas tinggi akan mudah
mengalami erosi daripada tanah yang mempunyai nilai erodibilitas rendah.
Erodibilitas tanah menyangkut ketahanan tanah terhadap pelepasan dan
pengangkutan, maka erodibilitas tanah dipengaruhi oleh kondisi tanah yang
meliputi tekstur tanah, struktur tanah, kandungan bahan organik dan bahan semen
serta permeabilitas tanah. Erodibilitas tanah sangat penting untuk diketahui agar
tindakan konservasi dan pengelolaan tanah dapat dilaksanakan secara lebih tepat
dan terarah. Namun demikian, Veiche, 2002 dalam Arsyad (1989) menyatakan
bahwa konsep dari erodibilitas tanah dan bagaimana cara menilainya merupakan
suatu hal yang bersifat kompleks atau tidak sederhana, karena erodibilitas
dipengaruhi oleh banyak sekali sifat-sifat tanah. Erodibilitas tanah (ketahanan
tanah) dapat ditentukan dengan aturan rumus menurut, perhitungan nilai K dapat
dihitung dengan persamaan Weischmeier, et al (1971) :
K = 1,292{ 2,1 M 1,14 (10 -4) (12-a) + 3,25 (b-2) + 2,5 (c-3)}
Dimana :
M = ukuran partikel (% pasir sangat halus+ % debu x (100-% liat)
% pasir sangat halus = 30 % dari pasir (Sinukaban dalam Sinulingga,1990)
a = kandungan bahan organik (% C x 1,724)
b = harkat struktur tanah
c = harkat permeabilitas tanah
Erodibilitas tanah juga dapat diduga dengan menggunakan nomograph. Sifat-
sfat tanah yang menentukan besarnya nilai K berdasarkan Nomograph tersebut
adalah (1) Persen kandungan debu dan pasir halus, (2) Persen Kandungan pasir,
(3) Persen bahan kandungan bahan organik (4) Struktur tanah, (5) Permeabilitas
tanah. Untuk itu diperlukan angka hasil penetapan sifat- sifat tanah seperti tekstur
dengan 4 fraksi ( pasir kasar, pasir halus, debu, dan liat ) dan bahan organik tanah
sedangkan struktur dan permeabilitas ditetapkan berdasarkan hasil pengamatan
pada profil tanah yang dapat digambar dalam Nomograph.
Lee dalam Patra (2011) mengatakan bahwa dalam pengelolaan tanah dan
penggunaan tanah itu untuk pertanaman, permukaan tanah harus dipilih dengan
hati-hati, apakah terdapat erodibilitas yang tinggi atau rendah demikian juga
panjangnya larikan-larikan tanah yang miring harus dibatasi apabila erosi dan
pencucian tanah-tanah yang dilarutkan itu hendak dibatasi. Kepekaan tanah
terhadap daya menghancurkan dan penghanyutan oleh air curahan hujan disebut
erodibilitas. Jika erodibilitas tanah tersebut tinggi maka tanah itu peka atau mudah
terkena erosi dan jika erodibilitas tanah itu rendah berarti daya tahan tanah itu
kuat atau resisten terhadap erosi.



BAB III
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Perhitungan
1. Tentukan besarnya faktor erodibilitas tanah (K) apabila diketahui persen debu
25%, pasir halus 10%, pasir 40%, bahan organik 1,0% serta memiliki struktur
fine granular dan permeabilitas slow menggunakan nomograf K!
Jawab : 0,24

2. Berdasarkan data di atas, hitung faktor erodibiltas tanah (K) dengan
menggunakan persamaan matematis yang menghubungkan karakteristik tanah
dengan tingkat erodibilitas tanahnya!
Jawab:
{

( )

( ) ( )

}
Dimana : K = Erodibilitas tanah
OM = Persentase (%) bahan organik
S = Kode klarifikasi struktur tanah (granular, platy, massive, dll)
P = Permeabilitas tanah
M = Persentase pengukuran partikel
= (% debu + pasir sangat halus) (100 - %liat)
a) Mencari nilai M (Persentase pengukuran partikel)
1) Menghitung persen liat
persen liat = 100% - (%debu + pasir halus + pasir)
persen liat = 100% - (25% + 10% + 40%)
persen liat = 25%
2) Menghitung persentase pengukuran partikel (M)
( ) ( )
() ( )

b) Menghitung erodibilitas tanah
{

( )

( ) ( )

}
{

( )

( ) ( )

}


3.2 Pembahasan
Salah satu dari beberapa parameter input untuk menghitung (memprediksi)
erosi pada metode USLE adalah faktor erodibilitas tanah. Erodibilitas sendiri
merupakan kepekaan tanah terhadap erosi (daya penghancuran dan penghanyutan
oleh air hujan).
Faktor erodibilitas tanah di simbolkan dengan K pada prediksi erosi metode
USLE. Variabel yang diperlukan untuk nilai K ini diantaranya adalah, persentase
bahan organik (OM), kode klarifikasi struktur tanah (S), permeabilitas tanah (P),
dan persentase pengukuran partikel (M).
Pada responsi ini dijelaskan bahwa untuk mendapatkan nilai K ini bisa
diperoleh melalui dua cara, yakni melalui perhitungan merupakan persamaan
matematis dan dapat diketahui melalui nomograf.
Persamaan matematis untuk mencari nilai dari faktor erodibilitas tanah ini
dikembangkan oleh Wischeimer dan kawan-kawan pada tahun 1971. Sebelumnya
perlu diketahui terlebih dahulu data-data dari persentasi struktur tanah,
diantaranya adalah persentasi struktur pasir, pasir halus, liat. Setelah itu perlu
diketahui juga data persentase bahan organik. Setelah itu perlu diketahui kode
klarifikasi struktur tanah dan nilai permeabilitas tanah. Setelah keseluruhan nilai
tersebut diketahui maka faktor erodibilitas tanah ini dapat dihitung melalui
persamaan ini.
Selain menggunakan persamaan matematis, untuk mendapatkan nilai dari
faktor erodibilitas tanah ini dapat menggunakan nomograf. Nomograf merupakan
suatu grafik yang menunjukan beberapa nilai yang pada akhirnya dapat digunakan
untuk mencari nilai K. Nilai-nilai atau faktor yang tertera pada nomograf sama
persis dengan parameter-parameter perhitungan yang sebelumnya sudah
dipaparkan. Setelah diketahui, nilai-nilai tersebut kemudian diplotkan ke dalam
monograf.
Urutannya adalah dari persentase debu+pasir halus, kemudian di plotkan
dengan acuan persentase pasir. Dari titik ini ditarik lagi menuju garis yang
menunjukan persentase bahan organik (OM). Dari titik tersebut ditarik menuju
klasifikasi struktur tanah, ditarik lagi menuju garis permeabilitas dan akhirnya
diperolehlah faktor K atau faktor erodibilitas tanah.
Dari perhitungan yang sudah dilakukan di dalam responsi, diperolehlah nilai
faktor K dari contoh soal yang tertera pada modul. Pada tugas nomor satu
praktikan diharuskan untuk mencari nilai K melalui perhitungan dengan
menggunakan persamaan matematis. Dari perhitungan diperoleh nilai K sebesar
0,29. Yang perlu diperhatikan dalam perhitungan ini adalah pada tahapan mencari
nilai M, yaitu persentase pengukuran partikel. Nilai ini harus dihitung dalam nilai
persen. Artinya bila dikatakan persentasi pasir, misalnya 25 %, maka di dalam
perhitungannya perlu dihitung dalam 25, bukan dalam bentuk 0,25. Sebelumnya
kami melakukan sedikit kesalahan.
Setelah nomor tersebut diselesaikan, nomor dua adalah mencari faktor
erodibilitas tanah dengan kondisi parameter-parameter yang sama seperti yang
disebutkan pada nomor satu. Untuk urutan proses plotting pada monograf sudah
dipaparkan sebelumnya mulai dari persentase debu + pasir halus diplotkan dengan
persentase pasir hingga akhirnya diperoleh nilaik K. Awalnya, kami memperoleh
nilai K ini sebesar 0,24 tanpa menggunakan penggaris, namun setelah di lakukan
plot ulang yang dilakukan menggunakan penggaris, kami memperoleh nilai K
yang sama persis dengan hasil perhitungan, yakni 0,29. Hal ini menunjukan
bahwa untuk mencari nilai K melalui nomograf secara akurat, diperlukan bantuan
penggaris sehingga hasil K yang diperoleh tepat dari nilai yang sebenarnya.
Pengecekan dapat dilakukan dengan membandingkan nilai ini dengan hasil
perhitungan secara matematis.




BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan
bahwa:
1. Erodibilitas sendiri merupakan kepekaan tanah terhadap erosi (daya
penghancuran dan penghanyutan oleh air hujan).
2. Persamaan matematis untuk mencari nilai dari faktor erodibilitas tanah ini
dikembangkan oleh Wischeimer dkk pada tahun 1971.
3. Nomograf merupakan suatu grafik yang menunjukan beberapa nilai yang
pada akhirnya dapat digunakan untuk mencari nilai K.
4. Proses plotting pada monograf dilakukan mulai dari persentase debu +
pasir halus diplotkan dengan persentase pasir hingga akhirnya diperoleh
nilaik K.

4.2 Saran
Disarankan kepada praktikan yang akan melakukan praktikum serupa
agar:
1. Memahami terlebih dahulu materi yang akan dipraktikkan agar
mempermudah jalannya praktikum.
2. Praktikan melakukan praktikum dengan serius dan hati-hati agar terhindar
dari kesalahan.
3. Praktikan menggunakan penggaris pada saat mencari nilai K dengan
nomograf agar hasilnya lebih akurat.
4. Praktikan lebih teliti dalam melakukan perhitungan dengan kalkulator agar
hasil perhitungan lebih akurat.





DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Sitanala. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Jurusan Tanah, Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penerbit IPB, Bogor.

Glenn O. Schwab., Delmar D. Fangmeir., William J. Elliot., Richard K. Frevert.
1992. Soil and Water Conservation. Fourth Edition. John Wiley and Sons,
Inc.

Kohnke, H. and A.R. Bertrand. 1959. Soil Conservation. Mc-Graw Hill Book Co.,
Inc.

Patra. 2011. Pendugaan Erosi dengan Metode USLE. Tersedia:
http://red-patra.blogspot.com (Diakses pada tanggal 21 Mei 2013 pukul
20.11 WIB)

Schwab, D.J., Schuchman, R.A. and Liu, P.C., 1981. Wind wave directions
determined form synthetic aperture radar imagery and from a tower in
Lake Michigan. Journal of Geophysical Research 86: doi:
10.1029/0JGREA0000860000C3002059000001. issn: 0148-0227.

Wischmeier, W.H., C. B. Johnson, dan B.V. Cross, 1971. A Soil Erodibility
Nomograph for Farmland and Construction Sites. Journal of Soil and
Water Conservation.

Wischmeier, W.H dan D.D. Smith. 1976. A Universal Soil Loss Estimating
Equation to Guide Conservation Farm Planning. Trans 7
th
Congress
International Soil Sci. I : p. 418-425.

Wischmeier, W.H., dan D.D. Smith, 1978, Predicting Rainfall Erosion Losses: a
Guide to Conservation Planning. USDA Agriculture Handbook No.537.