Anda di halaman 1dari 19

Editor : Ashhabulhadits

2
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m




Ditulis oleh: Abu Jafar Al-Harits Al-Andalasy Al-Minangkabawy
-Semoga Alloh mengampuni dosa dan kesalahannya-


,=' -=' - --
- -=' - '- ,' , _' '-='- +-- - -=- ' _'= ,'--' ,- _'= `-' `-' ,--- - ,-''' :
Wanita dan hiasan adalah dua kata yang sulit dipisahkan. Karena memang sudah menjadi
tabiat kaum hawa untuk memperindah dirinya, baik yang berkontak langsung dengan anggota
badan, maupun dengan tambahan perhiasan.
,

- - , =

' - =

' ,

' =

'

'

- - , -


Apakah patut (menjadi anak perempuan Alloh) orang yang dibesarkan dalam keadaan
berperhiasan[1]sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran. (QS
Az-Zukhruf 18)
Syariat ini memang tidak menghalangi tabiat tersebut secara mutlak, akan tetapi di dalamnya
terdapat aturan-aturan, sehingga seorang hamba tidak terlibat kesengsaraan karena
mempertahankan hasrat dan keinginannya. Pengontrolan tabiat mengikuti batasan syari
memang terasa mengganjal di jiwa seseorang akan tetapi disitulah letak ujian menuju
kebahagiaan yang abadi.
Sudah merupakan tabiat manusia bahwasanya mereka memiliki kecintaan terhadap keindahan
dan kelezatan dunia. Alloh Subhanahu wa Taala berfirman:

'

, ' - -

' , - -

' ' -

-' - +

-' =

'

-'' ,

'

'

-

` - - -

'

, =

' - -

'

' -

- - -
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, berupa
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-
binatang ternak dan sawah ladang. (QS Ali Imron 14)




3
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Al-Allamah As-Sadi Rahimahullohu -dalam tafsir ayat ini- mengatakan: Alloh Taala
mengkabarkan bahwasanya dia menjadikan indah bagi manusia kecintaan terhadap keinginan-
keinginan dunia. Dia mengkhususkan perkara-perkara yang disebutkan ini, karena perkara-
perkara tersebut adalah keinginan-keinginan dunia yang paling besar, sementara yang lainnya
adalah pengekornya. [Taisiir Kariimir Rahmaan]
Bersamaan dengan itu Alloh mencela orang-orang yang menuruti tabiatnya tersebut dan
meninggalkan aturan yang ditetapkan-Nya:
- -' , = ,

' ' +

' -

' ,

- ' ' , =

''

- - ' - ' -' = ,

` ,

'

'

-'

' - -

'

' ' = ' - -

-' ' -

-
Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa
puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang
yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya adalah neraka, disebabkan apa yang
selalu mereka kerjakan. (QS Yunus 7-8)
Keindahan dan perhiasan dunia tak lain merupakan ujian, agar diketahui siapakah yang
amalannya baik dalam kehidupan dunia ini, Alloh berfirman:
-,



` _

' = ' - ' -

' = '

` - = - =

+ ,

' - - ' ' +

'


Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar
Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (QS Al-Kahfi 7)
Alloh tidaklah menguji hamba kecuali pada apa-apa yang mereka mampu, dan Alloh
memberikan hamba kemampuan untuk mengontrol tabiat dan keinginannya, hanya saja
sebagian orang enggan dan terus mengikutinya sehingga melampaui batasan-Nya.
Karena itulah kelak manusia akan menjadi dua kelompok pada hari kiamat: kelompok yang
hanyut dan kelompok yang bisa menahan dirinya, sebagaimana firman-Nya:
-

' - - ' = - ' -

' -

'

, = =

'

' * ' ,

- ' ' , =

'

` * _

- ' -

'

-' _ + -

' -

'

- =

'

' * +

'
Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka
sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran
Robbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah
tempat tinggalnya. (QS An-Naaziat 37-41)
Beranjak dari itu semua maka seharusnyalah seorang muslimah mengetahui batasan-batasan
hiasan yang diperbolehkan, karena larangan Alloh hanyalah pada apa-apa yang melampaui
batasan-Nya.
Alloh Subhanahu wa Taala berfirman:
, - '' = ' ,

- ' ' , =

'

-- ,

'' ' - '-,' ' - ' = -

' - -,

= - -' , -

'
Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya
untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?




4
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Katakanlah: Semuanya itu dibolehkan bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia,
dan khusus untuk mereka saja di hari kiamat. (QS Al-Araf 32)
Dalam artikel ini -insyaalloh- kita akan melewati beberapa pembahasan yang di sekitarnyalah
beredar hukum-hukum yang terkait perhiasan wanita ataupun upaya mereka merias diri.
Walaupun terkadang penarikan kesimpulan dari sebuah permasalahan terasa agak rumit,
namun semoga saja penjelasan-penjelasan berikut ini bisa mendekatkan kita dengan sisi yang
benar, sehingga bisa menjadi acuan dalam mempelajari hukum yang ditetapkan ulama dalam
masalah ziinah wanita, kepada-Nyalah kita meminta taufik dan tuntunan.
PEMBAHASAN PERTAMA:
SEORANG WANITA MUSLIMAH TIDAK DIPERKENANKAN MELIHATKAN HIASANNYA
KEPADA SELAIN MAHRAMNYA
Alloh Subhanahu wa Taala berfirman:

+ - -,

, - ,

` + =

- = ,

' - -

- - -

, ' - - -

''

, - ,

- , = _

' =

- -

- ,

' ' +

- - +

' -

`
-

' - ' - -

+ -' - -

+ -

' - ' -

+ -' -

+ -

' -'

+ - -,

- -

+ -

+ ' -

+ -' - -

+ - =

- -

+ -
+

' ,

'

'

' = ' - -

` '

, = ,

-'

-'

-' - ,

' -

' ,'

+ ' =

'

- -

- ,

` ' -

-' = _

' = ' -

= '

'

'

- - -

' ,

' , - =

- _

'

+ - -,

- , -

= ,
Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya,
menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang
nampak dari padanya. Hendaklah mereka menutupkan khimar (kain yang menutupi kepala)
mereka kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka,
ayah mereka, ayah suami mereka, putera-putera mereka, putera-putera suami mereka,
saudara-saudara laki-laki mereka, putera-putera saudara lelaki mereka, putera-putera saudara
perempuan mereka, wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, pelayan-
pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita atau anak-anak yang belum
mengerti tentang aurat wanita. Janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui
perhiasan yang mereka sembunyikan. Bertaubatlah kalian sekalian kepada Alloh, Hai orang-
orang yang beriman supaya kalian beruntung. (QS An-Nuur 31)
Sah dari Abdulloh bin Masud Rodhiyallohu Anhu bahwasanya beliau menafsirkan yang
nampak dari padanya adalah pakaian luar. [Lihat sanad-sanad atsarnya di Tafsir Ath-Thobary]
Kemudian diperintahkan lagi untuk menurunkan khimar sampai ke dada yang menunjukkan
penekanan untuk penutupan secara sempurna.
Inilah yang boleh terlihat bagi seorang wanita muslimah di depan selain mahramnya yaitu
pakaian terluarnya yang menutupi seluruh auratnya.
Adapun di tengah mahramnya dia boleh memperlihatkan perhiasannya di depan mereka
sewajarnya, seperti tangan, betis, atas dada dan kepala. Sementara di depan suaminya dia
boleh menampakkan seluruh badannya tanpa ada khilaf (perselisihan pendapat) antara ulama.




5
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Yang dimaksud dengan pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap
wanita, seperti idiot yang tidak tahu apa yang terjadi, orang linglung yang di pikirannya
hanyalah bagaimana mengenyangkan perutnya, juga seperti orang yang lemah syahwatnya
yang tidak tersisa lagi birahinya baik pada kemaluannya ataupun pada hatinya. [Lihat: Tabsir
Ibni Katsir, Tafsir As-Sady]
Pada ayat ini, larangan tidak terbatas pada penampakan perhiasan saja, akan tetapi juga pada
perkara lain yang bisa memicu kepada fitnah syahwat seperti memukul kakinya sehingga
terdengar dentingan gelang kakinya.
PEMBAHASAN KEDUA:
LARANGAN MENYERUPAI LAKI-LAKI
Ibnu Abbas Rodhiyallohu Anhu mengatakan:
- ' + - - - -' ' -

-''

' = ' - ,

+ - - - -'

' - ,

' =

- _

' -

- -

'

- ' -

-'

' = ''
Rosululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam melaknat kalangan lelaki yang menyerupai perempuan
dan kalangan perempuan yang menyerupai laki-laki. (HR Bukhory)
Penyerupaan tersebut baik berupa tingkah laku maupun penampilan. Dalam riwayat lain Ibnu
AbbasRodhiyallohu Anhu mengatakan:
' ' -

-' -

` = - -'

' = ' - , `

- = -'

' - ,

' =

- _

' -

-'

' ,

' =

- _

' -

-'

' .

- , - - =

' - '

- =

'

-
Rosululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam melaknat para bencong dari kalangan lelaki dan yang
bersikap kelaki-lakian dari kalangan perempuan. Beliau mengatakan: Keluarkan mereka dari
rumah-rumah kalian. Lantas Rosululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam mengeluarkan seorang
lelaki dan Umar mengeluarkan seorang lelaki.(HR Bukhory)
Sementara itu Abu Hurairoh Rodhiyallohu Anhu meriwayatkan:

- -

' -

' , = '

'

' - ,

' =

- _

' - - -

= '

- -

' -

' -

'

'
Sesungguhnya Rosululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam melaknat lelaki yang memakai pakaian
perempuan, serta perempuan yang memakai pakaian laki-laki. (HR Ahmad, Abu Daud dll.
Hadits ini shohih sesuai syarat Imam Muslim, dishohihkan Syaikh Al-Albany dan selainnya)
Pakaian dalam bahasa arab, maknanya tidak dibatasi pada baju saja, akan tetapi mencakup
semua yang dikenakan.
PEMBAHASAN KETIGA:
LARANGAN MENYERUPAI ORANG-ORANG YANG MENYELISIHI SYARIAT
Baik hiasan yang menjadi kekhususan wanita kafir, fasiq ataupun symbol perempuan mubtadi,
yang secara umum masuk ke dalam sabda Rosululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam:




6
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

+

- - +

- - - - -
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia bagian dari mereka. (HR Ahmad dan
Abu Daud, dari Ibnu Umar Rodhiyallohu Anhu. Hadits ini dihasankan Syaikh Al-Albany dan
selainnya)
Imam Ash-Shonany Rahimahullohu Taala mengatakan: Hadits ini menunjukkan bahwa
sesungguhnya barangsiapa yang menyerupai orang-orang fasiq maka dia bagian dari mereka,
atau dengan orang-orang kafir atau dengan mubtadi dalam perkara apapun yang menjadi
kekhususan mereka berupa pakaian kendaraan ataupun perilaku. [Subulus Salam 2/646]
Kata kekhususan adalah kata kunci yang disebutkan para ulama dalam
masalah tasyabbuh(penyerupaan) dimana dengannya dikenal suatu kaum.
Masalah larangan penyerupaan dengan orang kafir terdapat banyak dalil khusus tentangnya,
diantaranya:

''

- - ,

' ' + ,

' , - ,
Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian seperti orang-orang kafir. (QS Ali Imron
156)
Demikian juga dalam masalah penyerupaan dengan orang fasiq. Alloh Subhanahu wa Taala
berfirman:

'

- - - ,

''

- -' -

'

'

+ -

' -
Janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Alloh, lalu Allah menjadikan mereka
lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasiq. (QS Al-Hasyr 19)
Mereka lupa berdzikir kepada Alloh, memuji dan menyanjung-Nya, mereka melupakan Alloh
ketika melakukan maksiat dan tidak malu kepada-Nya dan tidak kembali untuk bertaubat
kepada-Nya.
Orang-orang fasiq adalah orang-orang yang bergelimang kemaksiatan dan dikenal dengannya,
seperti wanita nakal, pemabuk, preman, pemusik dan selainnya. Orang-orang kafir dan para
munafik juga masuk ke dalam kata-kata fasiq karena kekafiran adalah sebesar-besarnya
maksiat. Akan tetapi ketika disebutkan secara umum, biasanya yang dimaksudkan adalah
kelompok pertama.
Imam Asy-Syaukany Rahimahullohu Taala tentang tafsir ayat di atas mengatakan: Yakni: Dia
(Alloh) menjadikan mereka lupa akan diri-diri mereka disebabkan mereka melupakan-Nya.
Mereka tidak menyibukkan diri dengan amalan-amalan yang menyelamatkan mereka dari azab,
dan mereka tidak berhenti dari maksiat-maksiat yang mereka terjatuh padanya. [Fathul Qodhir
5/245]
PEMBAHASAN KEEMPAT:
LARANGAN MENYERUPAI BINATANG




7
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Sebagaimana disinggung sebelumnya, larangan ini berlaku pada apa-apa yang menjadi
kekhususan binatang baik dari segi perilaku maupun amalan. Para ulama menetapkan
pelarangan masalah ini dengan beberapa alasan, diantaranya:
1. Banyak dalil-dalil yang disebutkan di Al-Quran dan As-Sunnah terkait penyerupaan manusia
dengan hewan, berada dalam konteks kecaman. Seperti firman Alloh Taala:

` , =

' ' +

- + -

- ,

'

'

' - , `

- + =' ' -

' -

'

-

`' -

'

' +

- - - ,

' ' +

- - - ,

' '

'

'


Sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia,
mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah),
mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan
Allah), dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-
ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah
orang-orang yang lalai. (QS Al-Araf 179)
Alloh Taala berfirman:
,

'

' - ' '

-' -

' ' +

- - _

' -

-' ' - -' , ' - , -

'

' - -

+ ,

' =

- _ -

-

` _

'

'

' ' +

- ' -

' ' -

- -

' *

'

` -

- -

'

'

` - '

' ,

- -

' , ,

' = - = -

'

'

` - ' - -' ,'


Bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya pengetahuan
tentang ayat-ayat Kami, kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu. Lalu dia diikuti
oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Kalau
Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia
lebih cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah. Maka
perumpamaannya seperti anjing yang jika engkau halau maka diulurkannya lidahnya dan jika
engkau membiarkannya, dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan
orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. (QS 175-176)
Alloh Taala berfirman:
' - -

- = ,

' - =

'

` - '

' - = ,

'

-'

' - = ,

'

` -
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada
memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. (QS Al-Jumuah 5)
Rosululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda:
-, , ` -, ''' -- -''
Orang kembali kepada pemberiannya, seperti anjing yang muntah kemudian kembali
(memakan) muntahnya. (HR Bukhory Muslim dari Ibnu Abbas Rodhiyallohu Anhu)
2. Alloh dan Rosul-Nya melarang penyerupaan wanita dengan laki-laki dan sebaliknya pada
kekhususan masing-masing jenis, sementara amalan musytarak (bukan kekhususan, yaitu
perkara atau kebiasaan yang sama-sama dilakukan kedua jenis) sangatlah banyak. Maka lebih-




8
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

lebih lagi larangan ini berlaku pada penyerupaan hewan yang kadar musytarak antara manusia
dan hewan jauh lebih sedikit.
PEMBAHASAN KELIMA:
LARANGAN MENGUBAH CIPTAAN ALLOH DAN HIASAN YANG MENGANDUNG
UNSUR TADLIS DAN ZUUR
Mengubah ciptaan Alloh adalah salah satu upaya syaithan untuk menggelincirkan hamba Alloh.
Alloh Subhanahu wa Taala mengkabarkan perkataan syaithan:

- -

` +

- ,

- -

` +

' -

` -

' = , ,

' +

- -

'

-

`

- - ,

' +
Aku benar-benar akan menyesatkan mereka, membangkitkan angan-angan kosong pada
mereka, menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak) lalu mereka benar-benar
memotongnya dan aku akan menyuruh mereka mengubah ciptaan Alloh, lalu benar-benar
mereka mengubahnya. (QS An-Nisa 119)
Salah satu bentuk pelarangan pengubahan ciptaan Alloh adalah dalam masalah yang kita
singgung ini, yaitu pengubahan ciptaan Alloh dengan tujuan menghias dan mempercantik diri.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Abdulloh bin Masud Rodhiyallohu
Anhu, Rosululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda:
'='---' '-----' '--'-' '-----' '--' - ' - '= ,-' -=''
Alloh melaknat wanita-wanita yang membuat tato dan yang meminta dibuatkan, wanita-wanita
yang mencabut alis mata dan meminta dicabutkan, dan wanita-wanita merenggangkan giginya
untuk keindahan, wanita-wanita yang mengubah ciptaan Alloh. (HR Muslim)
Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar Rodhiyallohu Anhu, beliau mengatakan:

- - - - -'

- - '

' - - - -'

' - '

' - ,

' =

- _

' -

-'

'
Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam melaknat wanita yang menyambung rambut dan yang
meminta disambung, wanita yang membuat tato dan yang meminta dibuatkan tato. (HR
Bukhory Muslim)
Dengan demikian dalam masalah ini terdapat empat amalan terlarang yang langsung ada
dalilnya akan terlaknatnya perbuatan tersebut: Tato, mencabut alis, merenggangkan gigi, dan
menyambung rambut.
Al-Qurthuby Rahimahulloh mengatakan: Semua perkara-perkara ini telah dipersaksikan oleh
hadits-hadits dengan laknat bagi pelakunya, dan termasuk dosa-dosa besar. Para ulama
berselisih pendapat tentang sebab pelarangannya.
Dikatakan: Karena perbuatan tersebut termasuk bentuk tadlis (Penyamaran, sehingga orang
yang melihat menyangka begitulah Alloh menciptakan baginya karena miripnya dengan ciptaan
yang asli)




9
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Dikatakan: Karena perbuatan tersebut termasuk pengubahan ciptaan Alloh yang disemangati
syaithon untuk melakukannya sebagaimana Alloh Taala mengabarkan perkataannya:
-

' = , ,

' +

- -

`
Aku akan menyuruh mereka mengubah ciptaan Alloh, lalu benar-benar mereka
mengubahnya. (QS An-Nisa 119)
Ibnu Masud dan Al-Hasan mengatakan: Mengubah dengan tato. Inilah yang diisyaratkan
dengan perkataan beliau Shollallohu Alaihi wa Sallam:
- '= ,-'
Wanita-wanita yang mengubah ciptaan Alloh.
Karena itulah para ulama kita mengatakan: Larangan ini yang diancamkan bagi pelakunya
adalah pada apa-apa yang permanen, karena hal tersebut merupakan pengubahan ciptaan
Alloh. [Al-Mufhim 5/444]
Jenis hiasan permanen yang -sepertinya- dikuatkan oleh Al-Qurthuby Rahimahulloh tidak
diragukan masuk ke dalam hiasan yang dilarang. Akan tetapi adanya unsur tadlis pun tidak bisa
ditolak begitu saja, sebagaimana tampak jelas pada praktek pencabutan alis, perenggangan
gigi, dan penyambungan rambut. Orang yang melihat akan menyangka bahwa si wanita telah
Alloh karuniakan dengan kecantikan lahiriyyah berupa alis yang halus, susunan gigi yang bagus
dan rambut yang tebal dan panjang.
~MENGENAL BENTUK ZUUR~
Zuur maknanya adalah kedustaan. [Maqoyisul Lughoh, Tahdzibul Lughoh, Lisanur Arob dll]
Sebagaimana disinggung sebelumnya, bahwasanya tadlis adalah bentuk tindakan
penyamaran, sehingga orang yang melihat menyangka bahwa begitulah Alloh menciptakan
baginya karena miripnya tiruan dengan ciptaan yang asli.
Permasalahannya sekarang, bagaimana jika barang tiruan tersebut tidak memiliki kemiripan
secara fisik dengan ciptaan yang asli.
Mungkin jawabannya bisa kita ketahui dari perselisihan ulama dalam masalah menyambung
rambut. Apakah larangan tersebut khusus apabila rambut disambung dengan rambut ataukah
larangan termasuk berlaku juga jika rambut disambung dengan sesuatu yang kentara bedanya
seperti benang yang berwarna-warni, kain perca dll.
Sebelum masuk ke perselisihan, perlu diketahui bahwa para ulama menghikayatkan bahwa ada
sebagian orang yang membolehkan menyambung rambut secara mutlak. Pendapat itu tentulah
sangat lemah karena hadits yang ada tegas melaknat pelaku perbuatan tersebut. Karena itu
pendapat ini tidak kita libatkan dalam pembahasan.
Masalah jenis bahan sambungan, secara umum para ulama berselisih dalam dua pendapat:




10
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Pendapat pertama. Larangan berlaku untuk setiap jenis bahan sambungan. Ini adalah pendapat
jumhur (mayoritas) ulama. Mereka berdalil dengan keumuman hadits Ibnu Umar di atas serta
hadits Jabir bin Abdillah Rodhiyallohu Anhu, dimana beliau mengatakan:
'-,- '+-- -' -- '- ,'= - _'- --' =
Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam melarang perempuan menyambung rambutnya dengan
sesuatu. (HR Muslim)
Mereka mengatakan: Dalam hadits ini Rosululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam melarang
menyambung rambut dengan sesuatu, dan kalimat sesuatu mencakup rambut atau yang
menyerupai rambut, serta mencakup apa-apa yang tidak menyerupai rambut seperti benang
sutra yang warna-warni, wool, perca kain dan selainnya.
Pendapat tersebut diselisihi oleh sebagian ulama. Pendapat kedua ini menyatakan bahwa
larangan ini hanyalah berlaku pada penyambungan rambut dengan rambut. Adapun dengan
selainnya yang tidak menyerupai rambut maka tidak mengapa. alasan mereka bahwa
unsur tadlis telah hilang. Ini adalah pendapat Al-Laits bin Saad, Imam Ahmad, Al-Qodhi Iyadh
dll. Pendapat ini juga diriwayatkan dari Said bin Jubair (seorang tabii).
Imam Al-Khoththoby Rahimahulloh mengatakan: Adapun qoromil (benang sutra atau wool
untuk menjalin rambut), maka para ulama memberikan keringanan. Hal itu karena penipuan
tidak terjadi karena barang siapa yang melihat kepadanya tidak ragu bahwa benda tersebut
tidak asli. [Maalimus Sunan 4/209]
Pada pendapat ini, sekalangan ulama juga merinci bahwasanya sambungan dengan selain
rambut diperbolehkan apabila benda tersebut terlihat jelas dari luar. Adapun jika setelah
disambung, kemudian sutra atau wool tersebut ditutupi oleh rambut sehingga keberadaannya
tersembunyi maka ini tidak boleh karena terdapat tadlis. Perincian inilah yang dikuatkan oleh Al-
Hafizh Ibnu Hajar. Kalau dicermati, maka perincian tersebut kembalinya ke
masalah tadlis, yakni kalau unsur tadlis tersebut ada maka perbuatannya terlarang, sementara
kalau unsur tersebut hilang maka perbuatannya boleh.
[Lihat: Syarah Shohih Muslim - Imam An-Nawawy 14/105, Fathul Bary - Al-Hafizh Ibnu Hajar
10/375]
Pemilik pendapat kedua berdalil dengan kisah khutbah Muawiyah Rodhiyallohu Anhu di
mimbar pada hari Haji, beliau mengambil jambul (palsu) dari rambut yang sebelumnya berada
di tangan pengawal. Beliau berkata: Mana para ulama kalian?!. Aku mendengar
Rosullulloh Shollallohu Alaihi wa Sallam melarang yang semisal ini dan mengatakan:
=

- , = , - -

- -

' ' -

' - -


Sesungguhnya Bani Isroil binasa ketika para perempuan mereka mengambil benda ini. (HR
Bukhory Muslim)




11
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Hadits ini menjadi penjelas, bahwa yang dimaksud dengan sesuatu di hadits Jabir adalah jenis
rambut karena Muawiyyah menentukan bendanya langsung. [Lihat Umdatul Qory Syarah
Shohih Al-Bukhory 22/64]
Demikian juga dengan riwayat dari Said bin Musayyib, beliau berkata: Muawiyah datang ke
Madinah -yaitu akhir kedatangannya kesana-, maka beliau berkhotbah kepada kami dan
mengeluarkan pintalan dari rambut. Beliau berkata: Aku tidak pernah melihat orang melakukan
ini selain Yahudi. Sesungguhnya Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam menamakannya zuur. (HR
Bukhory Muslim)
Namun alasan ini bisa ditanggapi dengan beberapa jawaban, diantaranya:
1. Hadits Muawiyah tersebut bukanlah dalam bentuk pembatasan masalah, sebagaimana
dikenal dalam gaya bahasa arab. Konteks semacam itu bisa saja diterapkan untuk sekedar
memberikan misal bagi sesuatu yang lebih umum. Contoh dekatnya sebagaimana seseorang
ketika melihat morphin atau heroin, lantas mengatakan: Ini adalah khamar yang mencelakakan
manusia. Tidak berarti maksudnya bahwa benda-benda lain yang memabukkan selain morphin
dan heroin bukanlah khamar yang mencelakakan.
2. Dalam riwayat lain, dari Qotadah dari Said bin Musayyib, beliau (Said) mengatakan:
Muawiyyah berkata pada suatu hari: Kalian telah membuat-buat busana yang jelek.
Sesungguhnya Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam telah melarang dari zuur. Maka datanglah
seorang lelaki dengan tongkat dan di kepalanya terdapat kain perca, lantas Muawiyah berkata:
Ketahuilah, inilah zuur.
Qotadah berkata: Yakni kain perca yang dipakai para wanita untuk memperbanyak rambut
mereka. (HR Muslim)
Dengan demikian terlihat akan kuatnya pendapat pertama yaitu pendapat jumhur akan tidak
bolehnya menyambung rambut dengan bahan apapun.[2]
Dari riwayat Qotadah ini diambil faidah berharga, bahwasanya ada unsur lain yang
menyebabkan larangan, disamping pengubahan ciptaan Alloh dan tadlis. Walaupun hiasan
tidak mirip dengan barang yang asli namun ketika penggunaannya dalam rangka mengisi posisi
sesuatu yang asli maka faktor yang menjadi dasar larangan yaitu zuur, dimana dia berlagak
dengan sesuatu ciptaan yang tidak dikaruniakan kepadanya, wallohu alam.
Rosululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam telah menyerupakan orang yang berpura-pura berlagak
dengan sesuatu yang tidak dimilikinya, dengan orang yang memakai dua pakaian zuur.

' ' -

- _ - - - -'
Orang yang menampakkan diri dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya, seperti orang
yang memakai dua pakaian zuur. (HR Bukori Muslim dari Asmabintu Abi Bakr Rodhiyallohu
Anhuma)
Beragam tafsiran ulama mengenai makna orang yang memakai dua pakaian zuur.




12
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Ada yang mengatakan bahwa: Makna dua pakaian adalah kondisi dan metodenya, yang kedua-
duanya adalah dusta.
Ada yang mengatakan bahwa: Dahulu di jahiliyyah, apabila seseorang ingin bersaksi palsu
maka dia datang dengan dua pakaian yang indah sehingga kesaksiannya tidak ditolak.
Ada yang mengatakan bahwa: Dia memakai pakaian orang yang sholeh dan zuhud agar orang
menganggapnya seperti itu.
Ada yang mengatakan bahwa: Dia memakai pakaian orang lain namun menampakkan kepada
orang lain bahwa itu adalah pakaian miliknya.
Ada yang mengatakan bahwa: Dia menyambung lengan bajunya dengan lengan pakaian yang
lain sehingga orang menyangka dia memiliki dua pakaian.
[Lihat: Maalimus Sunan - Imam Al-Khoththoby 4/135, Syarh Shohih Al-Bukhory - Ibnu Baththol
7/346, Syarh Shohih Muslim - Imam An-Nawawy 14/110 dll]
Kesimpulannya dari pendapat-pendapat tersebut tidak jauh beda dengan apa yang telah
disebutkan sebelumnya, dimana orang tersebut ingin berlagak dengan model ciptaan yang tidak
dikaruniakan kepadanya.
Dengan demikian, dari hadits-hadits dan penjelasan di atas dipetik kesimpulan bahwa amalan-
amalan terlarang tersebut tergolong ke dalam tiga bentuk: Pengubahan secara permanen,
hiasan yang mirip dengan ciptaan Alloh, dan hiasan yang mengisi fungsi atau posisi ciptaan
Alloh walau dikenali kepalsuannya, wallohu Alamu bish Showaab.
Catatan: Sebagian ulama ada yang menyebut jenis ketiga dengan istilah tadlis, walaupun orang
yang melihat tidak ragu bahwa benda tersebut tidaklah asli. Demikian sebaliknya mereka juga
menggolongkan jenis kedua ke dalam bentuk zuur.
PEMBAHASAN KEENAM:
MENGHILANGKAN CACAT TIDAK TERMASUK KE DALAM LARANGAN MENGUBAH
CIPTAAN ALLOH DAN HIASAN YANG MENGANDUNG UNSUR TADLIS DAN ZUUR
Ada yang perlu kita diperhatikan dengan seksama, bahwasanya larangan di atas berlaku jika
perbuatan -perbuatan tersebut diperuntukkan untuk hiasan. Adapun jika dilakukan dengan
tujuan menghilangkan cacat atau kerusakan baik bawaan maupun karena faktor lain maka hal
ini tidak mengapa.
Seperti mengoperasi bibir sumbing, kulit terbakar, gigi palsu dll. Dalil dalam masalah ini adalah
kisah Arfajah bin Asad Rodhiyallohu Anhu yang kena hidungnya pada perang Kullab di zaman
Jahiliyyah, maka dia memakai hidung dari perak yang membuatnya membusuk. Maka
Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallammenyuruhnya untuk memakai hidung dari emas. (HR Ahmad,
An-Nasaiy dan selainnya, dihasankan Syaikh Al-Albany)
PEMBAHASAN KETUJUH:




13
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

LARANGAN MEMBOROSKAN HARTA
Yakni melampaui batas kewajaran atau mengorbankan sesuatu yang lebih penting. Alloh
Subhanahu wa Taala berfirman:

- -

' = ,

` -

'

= - -

- =

- -,

- - ' , -,

= -

* , ' - '

'

' - ' - ,

'
Hai anak Adam, pakailah pakaian kalian di setiap (memasuki) mesjid. Makan dan minumlah
dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berlebih-lebihan. Katakanlah wahai Muhammad: Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari
Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang
mengharamkan) rezki yang baik?. (QS Al-Araf 31-32)
Alloh Taala menyebutkan tentang sifat orang yang beriman:
' - '

, - '

- ,

'

- ,

'

- -

'
Orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula)
kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS Al-Furqon 67)
Demikian juga dengan waktu, tak sepantasnya seorang muslimah menghabiskan waktunya
untuk bersolek karena kelak kita semua akan diminta pertanggung jawaban atas waktunya:
Untuk apa dia manfaatkan?.
Ingat pula sabda Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam:

'' - =

'

'

- ,

'

' -

- _

'

- ,


Sesungguhnya Alloh tidak melihat kepada tampilan dan harta-harta kalian, akan tetapi Dia
melihat kepada hati dan amalan-amalan kalian. (HR Muslim dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu
Anhu)
PEMBAHASAN KEDELAPAN:
LARANGAN MEMBANGGA-BANGGAKAN DIRI
Seorang wanita terkadang membanggakan kecantikan ataupun hiasan yang dimilikinya, yang
mengakibatkannya tega merendahkan saudarinya atau paling minim, tidak mampu menjaga
perasaan saudarinya yang lain. Menyibukkan dirinya dalam pembicaraan seputar masalah ini
seolah-olah inilah perkara yang paling utama dan bernilai.
Dia lupa, bahwasanya semua nikmatnya datangnya dari Alloh, dan Allohlah yang membaginya
kepada setiap makhluknya sesuai kadarnya. Dia lengah, bahwasanya sebaik-baik perhiasan
wanita muslimah di sisi Alloh dan orang-orang yang sholih adalah ketaqwaan dan akhlak yang
terpuji. Itulah yang bakal menyejukkan mata suaminya. Alloh Subhanahu wa Taala berfirman:
'

, = '

-' ' -' '

-,

- -

, ' -' -'

' = ' -

'

- - ' ,

, +

'

'

- ' , -




14
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutup
aurat kalian dan pakaian yang indah untuk perhiasan, sementara pakaian takwa itulah yang
terbaik. (QS Al-Araf 26)
Dari Saad bin Abi Waqosh Rodhiyallohu Anhu, Rosululloh Shollallohu Alaihi wa
Sallam bersabda:
- `` ''- '+--- _'= '+--'- ,- -=- '- -' :'-' - '--' - `` '-'
Tiga perkara yang menjadi kebahagiaan dan tiga perkara yang menjadi kesengsaraan. Perkara
yang menjadi kebahagiaan: Wanita yang engkau lihat bakal menakjubkanmu, ketika engkau
tidak ada dia bisa memegang amanah atas dirinya dan hartamu. (HR Hakim, dihasankan
Syaikh Al-Albany)
Beliau Shollallohu Alaihi wa Sallam juga bersabda:
='' -' -' ',- ' '-- ,= '-- ',- '
Dunia adalah kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah wanita yang sholih. (HR
Muslim dari Abdulloh bin Amr Rodhiyallohu Anhu)
PEMBAHASAN KESEMBILAN:
LARANGAN MEMIKUL DAMPAK YANG MEMBAHAYAKAN DIRI DEMI SEKEDAR HIASAN
Dalam syariat ini, pada setiap amalan yang bakal dilakukan manusia mesti ada dua perkara
yang harus dipertimbangkan, kadar manfaat yang didapatkan dari amalan tersebut dan kadar
mudharat yang timbul darinya. Ketika manfaat lebih dominan dari mafsadat, ketika itulah
amalan tersebut bisa dikerjakan.[3]
Kita semua mengetahui bahwa kadar manfaat yang dibutuhkan manusia bertingkat-tingkat, ada
yang wajib dipenuhi dan ada yang sekedar pelengkap. Hiasan sendiri termasuk jenis yang
terakhir yang merupakan tambahan bagi seorang wanita. Pada hakikatnya Alloh telah
memberikan kadar kecantikan pada setiap kaum hawa ataupun sesuatu yang menarik dari
dirinya, perkara yang membuat kaum lelaki tersambar fitnah. Itulah sebabnya agama ini
mensyariatkan kepada seorang wanita untuk menutupi dirinya sehingga tidak terlihat oleh para
lelaki yang bukan mahramnya.
Karena lemahnya kadar manfaat pada masalah hiasan maka kadar mudarat (bahaya) yang
ringan pun bisa menyainginya.
Kalau mau jujur, secara naluriah kita telah banyak menerapkan makna ini. Misalnya ketika
seseorang memakai cincin di tangannya kemudian tangannya terasa gatal tentunya dia segera
melepasnya. Mungkin ada yang terus memakainya sambil menahan rasa gatalnya tapi itu
membuat jiwanya tidak tenang dan biasanya tidak bakal bertahan lama. Maka bagaimana jika
bahaya yang ditimbulkan alat hiasan lebih besar dari itu, seperti alergi berkepanjangan, iritasi,
ataupun kerusakan permanen. Terlebih lagi jika kerusakan tersebut berada pada tempat yang
menjadi titik keindahan seperti wajah, bukankah perkara ini lebih pantas ditinggalkan?




15
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Insyaalloh penerapan atuan-aturan ini akan terlihat jelas dan mudah dipahami ketika membaca
penjelasan para ulama terkait ziinah wanita muslimah.
-=- +'' -'=-- ,' - --- - ` ' ` +-
29 Rajab 1434
Darul Hadits Dammaj Yaman
sumber; http://www.ahlussunnah.web.id

[1] Ayat ini menggambarkan Keadaan wanita Arab waktu Al-Quran diturunkan.
[2] Ini juga pendapat yang dikuatkan Syaikh Kami Muhammad bin Ali bin Hizam sewaktu kami
tanya (11 Rajab 1434).
[3] Lihat lagi artikel: Vaksinasi dan imunisasi.






16
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m































17
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m































18
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m































19
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m