Anda di halaman 1dari 180

Tugas Matematika Lanjut Page 1

D
I
S
U
S
U
N
OLEH :



KELAS : REGULAR B
ANGKATAN : TAHUN 2010
DOSEN PENGASUH : Dra. LUSIANA, M. Pd.







FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
TAHUN AJARAN 2012 2013
Tugas Matematika Lanjut Page i

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt, yang atas rahmat-Nya maka
penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Modul Matematika
Lanjutan .
Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk
menyelesaikan tugas mata kuliah Matematika Lanjut di Universitas PGRI Palembang
tahun 2012-2013.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak
terhingga kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas ini,
khususnya kepada :
1. Dosen Pembimbing Mata Kuliah Matematika Lanjut yang telah memberikan
tugas, petunjuk, kepada penulis sehingga penulis termotivasi dan
menyelesaikan tugas ini.
2. Teman-teman yang turut membantu, membimbing dan mengatasi berbagai
kesulitan sehingga tugas ini selesai.

Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan
baik kepada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki
penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak, penulis harapkan demi
penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi buah pemikiran bagi pihak yang
membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai,
amin.

PENULIS
Tugas Matematika Lanjut Page ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...................................................................................................... i
DAFTAR ISI ...................................................................................................................... ii
Konsep Dasar I : Bilangan, Fungsi, Baris dan Deret ....................................... 1
Konsep Dasar II : Diferensial dan Integral ......................................................... 33
Pengantar Transformasi Laplace ........................................................................... 70
Transformasi Laplace dari Turunan Fungsi Tingkat-n ................................ 100
Transformasi Laplace dari Integral Fungsi ....................................................... 104
Pergeseran terhadap Sumbu S ................................................................................ 111
Pergeseran terhadap Sumbu T ............................................................................... 114
Fungsi Gamma ............................................................................................................... 117
Fungsi Beta ...................................................................................................................... 126
Deret Fourier .................................................................................................................. 129
Integral Fourier ............................................................................................................. 141
Persamaan Bessel ......................................................................................................... 148
Persamaan Diferensial Legendre Polinom ........................................................ 172
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 177
Tugas Matematika Lanjut Page 1

BILANGAN; FUNGSI; BARIS DAN DERET; DAN KEKONVERGENAN

Bilangan Real
Sekumpulan bilangan-bilangan rasional atau irrasional disebut himpunan bilangan
real dan dinyatakan dengan R, sehingga himpunan bilangan real merupakan gabungan
himpunan bilangan rasional dengan himpunan bilangan irrasional. IR Q R = . Himpunan
bilangan real dapat dipandang sebagai kumpulan titik-titik sepanjang sebuah garis lurus
yang disebut garis bilangan real. Setiap titik menyatakan satu bilangan real atau setiap
bilangan real dapat dinyatakan oleh sebuah titik dalam garis bilangan real.



Secara umum himpunan bilangan real memuat
himpunan bilangan rasional dan himpunan bilangan
irrasional. Himpunan bilangan rasional memuat himpunan
bilangan bulat dan himpunan bilangan bulat memuat
himpunan bilangan asli. Hubungan tersebut dinyatakan
R Q Z N c c c dan Q
c
c R dilukiskan seperti diagram
disamping.

SISTEM BILANGAN REAL
Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa sistem adalah himpunan dari bilangan-
bilangan beserta sifat-sifatnya, sehingga sistem bilangan real adalah himpunan yang terdiri
dari bilangan real beserta sifat-sifat yang dimilikinya. Adapun beberapa sifat bilangan real
akan diuraikan sebagai berikut:
Sifat-sifat Medan
1. Hukum komutatif : x y y x + = + & yx xy = , x,y e R
2. Hukum asosiatif : z y x z y x + + = + + ) ( ) ( & z xy yz x ) ( ) ( = ,x,y,z e R
3. Hukum distribusi : xz xy z y x + = + ) ( , x,y,z e R
4. Elemen-elemen identitas
Elemen identitas terhadap penjumlahan adalah 0 yang memenuhi x + 0 = x,
xeR
Elemen identitas terhadap perkalilan adalah 1 yang memenuhi x1 = x, xe R
5. Invers (balikan)
Setiap bilangan real x mempunyai balikan aditif (invers terhadap
penjumlahan) yang disebut negative x atau -x yang memenuhi x + (-x) = 0







Bilangan Real




Bilangan Rasional


Bilangan
bulat
Bil. asli
0 1 -1 -2 2
3
2

2
3
4
t
3
Tugas Matematika Lanjut Page 2

C
CCa
aat
tta
aat
tta
aan
nn
(a,b) disebut sebagai selang terbuka,
[a,b] disebut sebagai selang tertutup,
sedangkan [a,b), (a,b] disebut sebagai
selang setengah terbuka atau setengah
tertutup
Setiap bilangan x mempunyai balikan perkalian (invers terhadap perkalian)
yang disebut kebalikan atau x
-1
, yang memenuhi x x
-1
= 1
Sifat-sifat Urutan
1. Trikotomi
Jika x dan y adalah bilangan-bilangan, maka pasti satu diantara yang berikut berlaku:
y x < atau x = y atau x > y
2. Ketransitifan : y x < dan y < z x < z
3. Penambahan : y x < x + z < y + z
4. Perkalian
Bilangan z positif, x < y xz < yz
Jika z negatif, x < y xz > yz
SELANG
Perhatikan penulisan himpunan-himpunan bagian dari himpunan bilangan real
Penulisan Himpunan Selang Dalam Garis Bilangan Real

{ x|a < x < b }

(a,b)


a b

{ x|a s x < b }

[a,b)

-
a b

{ x|a < x s b }

(a,b]

-
a b


{ x|a s x s b }

[a,b]

- -
a b


{ x | x s b }

(-,b]

-
b


{ x | x < b }

(-,b)


b


{ x | x > a }

[a,)


-
a


{ x | x > a }


(a,)


a


Yang dimaksud dengan selang, atau interval
adalah suatu himpunan bagian dari himpunan
bilangan real, bukan berarti setiap himpunan
bagian dari R adalah merupakan selang.
Jelasnya bisa dilihat tabel berikut:
Tugas Matematika Lanjut Page 3

Pertidaksamaan Aljabar

Cara mencari solusi pertidaksamaan aljabar dilakukan sbb. :
1. Nyatakan pertidaksamaan sehingga didapatkan salah satu ruasnya menjadi nol.
2. Sederhanakan bentuk ruas kiri menjadi satu suku.
3. Koefisien pangkat tertinggi dibuat positif.
4. Cari dan gambarkan titik pemecah atau pembuat nol.
5. Uji titik pemecah.
6. Relasi < = negatif ; > = positif.
7. Gambarkan grafik, selang, dan Hp.
8. Untuk pecahan samakan penyebutnya.

Contoh :
Tentukan solusi dari pertidaksamaan berikut :
1.


2.


Jawab :
1.


()()
()


Pembuat nol dari pembilang dan penyebut adalah 0 dan 1.
Pada garis bilangan didapatkan nilai dari tiap selang, yaitu :
( - ) ( - ) ( + )

0 1
Hp = *+ ( ) *| +
2.

()()

Pembuat nol dari pembilang dan penyebut adalah -1,

, dan 1.
Pada garis bilangan didapatkan nilai dari tiap selang, yaitu :
( + ) ( - ) ( + ) ( - )

-1

1
( ) .

/ { |

}

Pertidaksamaan dengan Nilai Mutlak
Pada kepentingan tertentu, diperlukan bilangan yang selalu positif. Sebagai misal
jarak suatu kota ke kota yang lain, jarak dari suatu titik ke titik yang lain. Dalam sistem
bilangan real, bilangan yang tidak pernah negative didefinisikan sebagai harga mutlak.
Harga mutlak, dituliskan x dimana x real adalah:
(1) x = x , jika x > 0
(2) x = -x , jika x < 0
(3) x = 0 , jika x = 0
(4) ||



Beberapa sifat dari harga mutlak diberikan sebagai berikut:
(1) Untuk a dan b real, berlaku a b b a =
(2) Jika a > 0 maka x < a -a < x < a
Akibat dari sifat-sifat di atas adalah:
Tugas Matematika Lanjut Page 4

(3) Jika a > 0 , maka
x
s a -a s x s a
(4) Jika a > 0 , maka
x
> a x < -a atau x > a
jika a > 0 , maka
x
> a x s -a
(5) Jika a dan b real maka
b a ab =
dan |

|
||
||

(6) Jika a dan b real maka
b a b a + s +
(disebut ketidaksamaan segitiga)
(7) Jika a dan b real, maka
b a b a + s
dan
b a b a s

(8) Jika a dan b real, maka || ||



Contoh :
1. | |
2. | |
3.

||


Jawab :
1. Dengan menggunakan sifat no. 2 didapatkan :
2. Dengan menggunakan sifat no. 4 didapatkan : .
Jadi, penyelesaiannya adalah .
3. Dengan menggunakan gabungan sifat no. 5 dan no. 8 didapatkan :

||

| |

| (sifat no. 5)
.

(sifat no. 8)

( )

( )


Pembuat nol dari pembilang dan penyebut adalah -3,-

, dan 2.
Pada garis bilangan didapatkan nilai dari tiap selang, yaitu :
( - ) ( - ) ( + ) ( + )

-3

2
0

) ( ) { |

}

Latihan Soal:
1.
2.


3. | | | |
4. | |

Tugas Matematika Lanjut Page 5

Fungsi Real

Teori Dasar Fungsi
Suatu himpunan f dari A x B (perkalian himpunan A dan B) disebut sebuah fungsi
dari A ke B jika setiap anggota A yang muncul sebagai pasangan terurut dengan anggota
B, muncul hanya sekali. Dengan kata lain, fungsi f tidak akan pernah memiliki dua anggota
pasangan terurut yang memiliki elemen pertama yang sama.
Bila f memasangkan elemen himpunan A tepat dengan satu elemen bimpunan B,
maka pemasangan ini adalah sebuah fungsi (cara lain mendefinisikan fungsi), yang
dilambangkan dengan B A f : dan dibaca sebagai f adalah fungsi dari A ke dalam B.
Anggota B yang menjadi pasangan a oleh f dan ditulis sebagai b = f (a) disebut bayangan a
(dibaca sebagai f dari a).
Pada fungsi f yang memasangkan anggota himpunan A dan B, himpunan A disebut
sebagai domain (daerah asal) dari fungsi f. Dan himpunan B disebut sebagai codomain
(daerah kawan) dari f. Himpunan anggota B yang menjadi pasangan a disebut range
(daerah hasil), dan ditulis sebagai f (A).
Pendefinisian fungsi dapat dilakukan dengan beberapa cara:
(1) Didefinisikan sebagai relasi yang memenuhi sifat tertentu;
(2) Dengan rumus dan grafik Cartesius;
(3) Sebagai pasangan berurutan;
(4) Dengan diagram panah.
Contoh:





0
20
40
60
80
100
120
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
x
f
(
x
)
Tugas Matematika Lanjut Page 6

f : x y
Y
7
6
5
4
3
2
1
0
1 2 3 4 5
X
-
-
-
-
-
1. Hubungan Relasi dengan Fungsi
Relasi dari himpunan P ke himpunan Q disebut fungsi atau pemetaan, jika dan hanya jika tiap
unsur pada himpunan P berpasangan tepat hanya dengan sebuah unsur pada himpunan Q.








Jika x e P dan y e Q sehingga pasangan-terurut (x, y) e f, maka y disebut peta atau bayangan
dari x oleh fungsi f.
Domain, Kodomain, dan Range
1) Domain (daerah asal) fungsi f adalah himpunan P (D
f
)
2) Kodomain (daerah kawan) fungsi f adalah himpunan Q (K
f
)
3) Range (daerah hasil) fungsi f adalah himpunan semua peta P di Q (R
f
)
Contoh :
1. Diketahui f : A R dan f dinyatakan oleh f (x) = x + 2
Jika daerah asal A ditetapkan A = {xI 1 s x s 5, x eR},
a) Carilah f(1), f(2), f(3), f(4) dan f(5)!
b) Gambarkan grafik fungsi y = f(x) = x + 1 dalam bidang Cartesius!
c) Carilah daerah hasil dari fungsi f!
Jawab :
a) f(x) = x + 2
f(1) = 1 + 2 = 3
f(2) = 2 + 2 = 4
f(3) = 3 + 2 = 5
f(4) = 4 + 2 = 6
f(5) = 5 + 2 = 7

b) Grafik fungsi y = f(x) = x + 2
















c) Daerah hasil
R
f
= {y I 3 s y s 7, y e R}

2. Tentukan daerah asal alami (natural domain) dari tiap fungsi berikut ini :
x disebut variabel bebas
y disebut variabel tak-bebas.

P Q
x
y = f(x)
Tugas Matematika Lanjut Page 7

a) f(x) =
1 x
4


b) F(x) =
2
x 9
c) G(x) =
6 5x x
5
2
+

Jawab :
a) f(x) =
1 x
4

; supaya f(x) bernilai real maka x 1 = 0 atau x = 1


Jadi, D
f
= {x I x e R dan x = 1}

b) F(x) =
2
x 9 ; supaya F(x) bernilai real maka
9 x
2
> 0
x
2
9 s 0
(x + 3)(x 3) s 0 3 s x s 3
Jadi, D
F
= {x I 3 s x s 3; x e R}

c) G(x) =
6 5x x
5
2
+
; supaya G(x) bernilai real maka
X
2
5x + 6 > 0
(x 2)(x 3) > 0
x < 2 atau x > 3
Jadi, D
G
= {xI x < 2 atau x > 3; x e R}

2. Macam-macam Fungsi
Ada beberapa fungsi yang mempunyai ciri spesifik di antaranya : fungsi konstan, fungsi
identitas, fungsi genap, fungsi ganjil, fungsi modulus, dan fungsi tangga.
a. Fungsi Konstan
Untuk semua unsur dalam himpunan A berkaitan hanya dengan sebuah unsur
dalam himpunan B. Fungsi konstan ditulis f : x k, k = konstanta, x e R.
Grafik fungsi konstan merupakan garis yang sejajar dengan sumbu X .
Contoh :
Buat diagram panah dan grafik pada bidang Cartesius untuk fungsi y = 5.
( 2 s x s 2 dan x e bilangan bulat)
Jawab :
Diagram panah Grafik pada bidang Cartesius









b. Fungsi Identitas
Semua unsur dalam himpunan A berkaitan dengan dirinya sendiri.
Grafik fungsi identitas y = x untuk x e R
Contoh :
Buat diagram panah dan grafik pada bidang Cartesius untuk fungsi y = 5,
(x s 3 dan x e bilangan cacah)
Jawab :
X
Y
- 2
-1
0
1
2
5
X
Y
- 2 - 1 0 1 2
5
y = 5
Tugas Matematika Lanjut Page 8

X
Y
1
-1 1 0
Diagram panah Grafik pada bidang Cartesius









c. Fungsi Genap dan Fungsi Ganjil
Fungsi f : x y = f(x) disebut fungsi genap jika f(- x) = + f(x)
Grafik fungsi genap selalu simetri terhadap sumbu Y

Fungsi f : x y = f(x) disebut fungsi ganjil jika f(- x) = - f(x)
Grafik fungsi ganjil selalu simetri terhadap titik asal O

Jika suatu fungsi y = f(x) tidak memenuhi keduanya maka disebut fungsi tak genap dan tak
ganjil
Contoh :
Manakah yang merupakan fungsi genap atau fungsi ganjil ?
a) f(x) = x
2

b) f(x) = x
3

c) f(x) = x
3
+ 1

Jawab :
a) f(x) = x
2

f( x) = ( x)
2

= x
2

f( x) = + f(x)
f(x) = x
2
fungsi genap


b) f(x) = x
3

f( x) = ( x)
3

= x
3

f(x) = x
3

f( x) = f(x)
f(x) = x
3
fungsi ganjil


c) f(x) = x
3
+ 1
f( x) = ( x)
3
+ 1
= x
3
+ 1
f(x) = (x
3
+ 1)
= x
3
1
f( x) = + f(x) dan f( x) = f(x)
maka f(x) = x
3
1 bukan fungsi genap dan bukan fungsi ganjil.

d. Fungsi Modulus atau bernilai mutlak
Modulus atau nilai mutlak dari sebuah bilangan real x




+x, jika x > 0
| x | = 0, jika x = 0
-x , jika x < 0
A B
0
1
2
3
0
1
2
3
Y
X
0 1 2 3
3
2
1
y = x
X
Y
-1
-1
1
1
y = f(x) = x
3

Tugas Matematika Lanjut Page 9

Contoh :
Diketahui fungsi f:x I x I dengan x e R
Carilah f( 3) , f( 2), f(1), f(0), f(1), f(2)
dan f(3)
Jawab :
f(x) = ||
f( 3) = | |= 3
f( 2) =| | = 2
f(1) = | | = 1
f(0) = | |= 0
f(1) = | |= 1
f(2) = | |= 2
f(3) = | |= 3

e. Fungsi Tangga
Fungsi Tangga atau Fungsi Nilai Bulat Terbesar dalam perhitungan matematika sering
dilakukan pembulatan
Contoh :
0,2; 0,3; 0,78 dan seterusnya untuk semua x e R dan 0 s x < 1 dibulatkan ke bawah
menjadi 0
1,1; 1,2; 1,57 dan seterusnya yang kurang x e R dan 1s x < 2 dibulatkan ke bawah
menjadi 1.
Suatu nilai bulat terbesar yang kurang dari x dilambangkan dengan [[ x ]].
2 s x < 1 [[ x ]] = 2
1 s x < 0 [[ x ]] = 1
0 s x < 1 [[ x ]] = 0
1 s x < 2 [[ x ]] = 1
2 s x < 3 [[ x ]] = 2
Fungsi f: x [[ x ]] disebut fungsi nilai bulat terbesar
Grafik fungsi y = f(x) = [[ x ]] untuk x e R

e. Fungsi Komposisi
Operasi komposisi dilambangkan dengan o (dibaca : komposisi)
Fungsi baru dapat dibentuk dengan operasi komposisi
a. (f
o
g) (x), dibaca: f komposisi g x atau f g x
b. (g
o
f) (x), dibaca, g komposisi fx atau g f xFungsi g : A B
Tiap x e A dipetakan ke y e B
Sehingga g : x y ditentukan dengan rumus : y = g(x)

Fungsi f : BC.
Tiap y e B dipetakan ke z e C, sehingga f : y z ditentukan dengan rumus :
z = f (y)
Fungsi h : A C.
A B C
z = f(y) y = g(x) x
g
f
h = f o g
X
Y
-1 -2 -3 3 2 1 0
1
2
3
y = | x |
Tugas Matematika Lanjut Page 10

Tiap x e A dipetakan ke z e C, sehingga h : x z ditentukan dengan rumus :
z = h (x)

Fungsi h disebut komposisi dari fungsi f dan fungsi g.
Komposisi fungsi f dan g ditulis dengan notasi h = f
o
g atau h(x) = (f
o
g)(x)
Contoh :
1. Fungsi f : RR dan g : R R ditentukan f(x) = 4x 1 dan g(x) = 2x.
Tentukan :
a) (f
o
g) (x)
b) (g
o
f) (x)
Jawab :
a) f(x) = 4x 1
f(g(x)) = 4.g(x) 1
(f
o
g)(x) = 4(2x) 1
= 8x 1
b) g(x) = 2x
g(f(x)) = 2.f(x)
(g
o
f) (x) = 2(4x 1)
= 8x 2

2. Fungsi-fungsi f dan g dinyatakan dengan pasangan-terurut
f = {(-1, 4), (1, 6), (2, 3), (8, 5)}
g = {(3, 8), (4, 1), (5, 1), (6, 2)}
Tentukan :
a) (f
o
g) d) (f
o
g) (1)
b) (g
o
f) e) (g
o
f) (1)
c) (f
o
g) (4) f) (g
o
f) (4)

Jawab :

a) (f
o
g) = {(3, 5), (4, 6), (5, 4), (6, 3)}
b) (g
o
f) = {(1, 1), (1, 2), (2, 8), (8, 1)}
c) (f
o
g) (4) = 6
d) (f
o
g) (1) tidak ada
e) (g
o
f) (1) = 2
f) (g
o
f) (4) tidak ada

e. Fungsi Invers
Suatu fungsi f : A B mempunyai fungsi invers f
1
: BA jika dan hanya jika f
merupakan fungsi bijektif atau himpunan A dan B mempunyai korespondensi satu-satu.
Jika fungsi f : A B pasangan terurut f : {(a, b) I a e A dan b e B }
Maka invers fungsi f adalah f
1
: B A adalah f
1
= {(b, a) I b e B dan a e A}





Contoh :
8
1
-1
2
3
4
5
6
5
6
4
3
f g
-
-
( f
o
g )
-1
1
2
8
1
2
8
-1
-
-
g
f
( g
o
f )
4
6
3
5
A B
f
-1

f
x y = f(x)
- -
Tugas Matematika Lanjut Page 11

1. A = { 2, 1, 0, 1} dan B = {1, 3, 4}.
Fungsi : A B ditentukan oleh f = {( 2, 1), (1, 1), (0, 3), (1, 4)}
Carilah invers fungsi f, kemudian selidikilah apakah invers fungsi f itu merupakan
fungsi.
Jawab :
f
-1
: B A ditentukan oleh f
-1
= {(1, 2), (1, 1), (3, 0), (4, 1)}








Dari gambar terlihat f
1
adalah relasi biasa (bukan fungsi) sebab terdapat dua
pasangan terurut yang mempunyai ordinat sama yaitu (1, 2) dan (1, 1)

2. A = {0, 2, 4} dan B = {1, 3, 5, 7}.
Fungsi : A B ditentukan oleh g = {(0, 1), (2, 3), (4, 5)}
Carilah invers fungsi g, kemudian selidikilah apakah invers fungsi g itu merupakan
fungsi!
Jawab :
g
1
: B A ditentukan oleh g
1
= {(1, 0), (3, 2), (5, 4)}









Dari gambar terlihat g
1
adalah relasi biasa (bukan fungsi) sebab ada sebuah anggota
di B yang tidak dipetakan ke A, yaitu 7

3. A = {1, 0, 1, 2} dan B = {1, 2, 3, 5}.
Fungsi h: A B ditentukan oleh h = {(1, 1), (0, 2), (1, 3), (2, 5)}.
Carilah invers fungsi h, kemudian selidikilah apakah invers fungsi h itu
merupakan fungsi.

Jawab :
h
1
: B A ditentukan oleh h
1
= {(1, 1), (2, 0), (3, 1), (5, 2)}








Dari gambar tampak bahwa h
1
merupakan suatu fungsi.
Jadi, h
1
adalah fungsi invers.

4. Carilah fungsi inversnya
1
3
5
7
0
2
4
A B
g
B A
1
3
5
7
0
2
4
g
-1

A
B
-1
0
1
2
1
2
3
5
h
A B
1
2
3
5
-1
0
1
2
h
-1

A B
-2
-1
0
1
1
3
4
f
-2
-1
0
1
1
3
4
A B
f
-1

Tugas Matematika Lanjut Page 12

x = f
1
(y)
x = f
1
(y)
x = f
1
(y)
a) f(x) = x + 1
b) f(x) = x
2
1
Jawab :
a) y = x + 1
x = y 1


f
1
(y) = y 1
f
1
(x) = x 1
b) y = x
2
1
x
2
= y + 1
x = 1 y +

f
1
(y) = 1 y +
f
1
(x) = 1 x +

5. Fungsi f(x) =
1 x
x
+

Carilah f
1
(x)
Jawab :
y =
1 x
x
+

y(x + 1) = x
yx + y = x
(y 1)x = y
x =
1 y
y



f
1
(y) =
1 y
y


f
1
(x) =
1 x
x


Tugas Matematika Lanjut Page 13

Baris dan Deret
Barisan Aritmatika

1. Pengertian Barisan Aritmatika
Barisan aritmatika adalah suatu barisan dengan selisih antara dua suku yang berurutan
selalu tetap. Misalnya Un menyatakan suku ke-n suatu barisan, maka barisan itu disebut
barisan aritmatika jika Un - Un-1 selalu tetap.
Bentuk umum barisan aritmatika seperti berikut :
U1,U2,U3,...... ,Un-1 atau a,a + b,a + 2b,,a + (n-1) b
Keterangan : U1 = a = suku pertama
Un - Un-1 = beda = b
Un = suku ke-n
n = banyaknya suku / urutan suku
Maka rumus suku ke-n barisan aritmatika adalah Un = a + (n-1) b, dengan n = 1,2,3,

2. Menentukan Rumus ke-n dari Suatu Barisan
Untuk menentukan rumus ke-n , kita harus menentukan suku pertama (a) dan beda (b).
Contoh :
Tulis rumusnya 2,3,4,...
Penyelesaian :
a = 2
b = 3-2 = 1
Un = a + (n-1) b
Un = 2 + (n-1) 1
Un = 2 + n 1
Un = n - 1

3. Menentukan Suku ke-n dari Suatu Barisan
Suku ke-n suatu barisan bilangan dilambangkan dengan Un. Sedangkan untuk menentukan
suku ke-n dapat dicari dengan rumus yang dapat diketahui melalui aturan pembentukan
barisan bilangan

Contoh :
Tentukan suku ke-20 barisan bilangan 2,5,8,11,....
Penyelesaian :
a = 2
b = 5-2 = 3
Un = a + (n-1) b
= 2 + (20-1) 3
= 2 + 60 3
= 59

Dengan melihat nilai b, kita dapat menentukan barisan aritmatika itu naik atau turun,
sebagai berikut :
a. Bila b > 0, maka barisan aritmatika itu naik.
b. Bila b < 0, maka barisan aritmatika itu turun.
Barisan bilangan yang memiliki suku tengah apabila banyak sukunya ganjil. Jika Suku ke-t
atau Ut merupakan suku tengah, maka banyaknya suku adalah (2t 1) dan suku terakhir
adalah suku ke-(2t 1) atau U(2t 1).
Tugas Matematika Lanjut Page 14

sehingga diperoleh hubungan:
Ut = 1/2 (U1 + U(2t 1) )
Karena U(2t 1) merupakan suku akhir dari deret tersebut dan U1 merupakan suku awal,
maka:
Utengah = 1/2 ( Uawal + Uakhir)

5). Barisan Aritmatika Tingkat Banyak (Pengayaan)
Barisan aritmatika tingkat x adalah sebuah barisan aritmatika yang memiliki selisih
yang sama tiap suku yang berurutannya setelah x tingkatan.
Dengan menggunakan pembuktian Binomium Newton (tidak diuraikan disini), maka
rumus umum suku ke-n untuk barisan aritmatika tingkat banyak adalah:
Un = a + (n 1)b + 1/2 (n -1)(n -2)c + 1/3 (n -1)(n - 2)(n-3)d + .

Keterangan :
a = suku ke-1 barisan mula-mula
b = suku ke-1 barisan tingkat satu
c = suku ke-1 barisan tingkat dua
d = suku ke-1 barisan tingkat tiga dan seterusnya

B) Deret Aritmatika
1. Pengertian Deret Aritmatika
Deret Aritmatika adalah jumlah suku suku barisan aritmatika. Jika a adalah suku pertama
deret aritmatika, Un suku ke-n, Sn jumlah Un . Maka:
Sn = 1/2 n (a + Un)
Keterangan:
1. Beda antara dua suku yang berurutan adalah tetap (b = Sn")
2. Barisan aritmatika akan naik jika b > 0
Barisan aritmatika akan turun jika b < un =" Sn" un =" Sn'" ut =" 1/2" sn =" 1/2" ut =" Sn"
a =" 1" b =" 3-2" sn =" 1/2" s10 =" 1/2" s10 =" 1/2" s10 =" 55">2. Sifat-Sifat Deret
Aritmatika
1) Un U(n - p) = b . p
2) Sn = 1/2 n (a + Un) = 1/2 n {2a + (n-1) b}

C. Sisipan dan Deret Aritmatika
1. Pengertian Sisipan
Sisipan dalam deret aritmatika adalah menambahkan beberapa buah bilangan di antara dua
suku yang berurutan pada suatu deret aritmatika, sehingga terjadi deret aritmatika yang
baru.
Contoh
Deret mula-mula = 4 + 13 + 22 + 31 +......
Setelah disisipi = 4 + 7 + 10 + 13 + 16 + 19 + 22 + 25 + 28 + 31 +...

2. Beda Deret Baru
Besar beda deret setelah diberi sisipan dinyatakan dengan b1 dan dapat ditentukan dengan
rumus berikut :
b1 = b
k+1
b1 = beda deret baru
b = beda deret mula-mula
k = banyak bilangan yang disisipkan
Tugas Matematika Lanjut Page 15

Contoh :
Di antara dua suku yang berurutan pada deret 6 + 15 + 24 + 33 + ... disisipkan 2 buah
bilangan, maka :
b = 15 6 = 9 dan k = 2
b = 9 = 3
k+1 2+1

Contoh soal Baris
Tentukan suku ke-50 dari barisan aritmatika: 7,11,15,
penye: a =7 b =11-7=15-11==4
Un=a+(n-1)b U 50 =7+(50-1)4=7+49.4=7+196=203 Jadi suku ke-50 adalah 203

Diketahuin suatu barisan aritmatika dengan suku ke-7 adalah 33 dan suku ke-12 adalah 58
Tentukan: a) suku pertama(a) dan beda(b) b)besarnya suku ke-10 penye: a) U 7 =a+6b=33
dan a+6b=33 U 12 =a+11b=58 a+6(5)=33 a+30=33 -5b=-25 a=33-30 b=5 a=3 b)U 10
=a+(10-1)5 =3+9.5 =3+45 =48 Jadi suku ke-10 adalah 48

Contoh soal Deret
Hitunglah jumlah deret aritmatika berikut ini:
a)2+5+8+sampai 50 suku
b)1+3+5+153
penye:
a) 2+5+8+sampai 50 suku U 1 =a=2 b =5-2=3 n =50 Sn=1/2n[2a+(n-1)
b] S 50 =1/2.50[2.2+(50-1)3 =25[4+49.3] =25.(151) =3775 Jadi jumlah deret tersebut
adalah 3775 b)1+3+5++153 Un =a+(n-1)b a=1 153=1+(n-1)2 b=2 Un=153 153=2n-1
2n=154 n=77 Sn =1/2n(a+Un) S77=1/2.77(1+153) =1/2.77(154) =5929 Jadi jumlah deret
tersebut adalah 5929

1. BARISAN GEOMETRI

U
1
, U
2
, U
3
, ......., U
n-1
, U
n
disebut barisan geometri, jika U
1
/U
2
= U
3
/U
2
= .... = U
n
/ U
n-1

= konstanta Konstanta ini disebut pembanding / rasio (r)

Rasio r = U
n
/ U
n-1


Suku ke-n barisan geometri

a, ar, ar , .......ar
n-1

U
1
, U
2
, U
3
,......,U
n


Suku ke n U
n
= ar
n-1
fungsi eksponen (dalam n)

2. DERET GEOMETRI

a + ar + ....... + ar
n-1
disebut deret geometri
a = suku awal
r = rasio
n = banyak suku

Jumlah n suku
Tugas Matematika Lanjut Page 16

Sn = a(r
n
-1)/r-1 , jika r>1
= a(1-r
n
)/1-r , jika r<1 Fungsi eksponen (dalam n)

Keterangan:
a. Rasio antara dua suku yang berurutan adalah tetap
b. Barisan geometri akan naik, jika untuk setiap n berlaku
U
n
>U
n-1

c. Barisan geometri akan turun, jika untuk setiap n berlaku
U
n
<U
n-1


Bergantian naik turun, jika r <0
d. Berlaku hubungan U
n
= S
n
- S
n-1

e. Jika banyaknya suku ganjil, maka suku tengah
_______ __________
Ut = U
1
xU
n
= U
2
X U
n-1
dst.
f. Jika tiga bilangan membentuk suatu barisan geometri, maka untuk memudahkan
perhitungan, misalkan bilangan-bilangan itu adalah a/r, a, ar

3. DERET GEOMETRI TAK BERHINGGA

Deret Geometri tak berhingga adalah penjumlahan dari

U
1
+ U
2
+ U
3
+ ..............................
Un = a + ar + ar .........................n=1

dimana n dan -1 < r < 1 sehingga r
n
0
Dengan menggunakan rumus jumlah deret geometri didapat :

J umlah tak berhingga S

= a/(1-r)

Deret geometri tak berhingga akan konvergen (mempunyai jumlah) untuk -1 < r < 1
Catatan:
a + ar + ar
2
+ ar
3
+ ar
4
+ .................

J umlah suku-suku pada kedudukan ganjil

a+ar
2
+ar
4
+ ....... S
ganjil
= a / (1-r)

J umlah suku-suku pada kedudukan genap

a + ar
3
+ ar
5
+ ...... S
genap
= ar / 1 -r
Didapat hubungan : S
genap
/ S
ganjil
= r


PENGGUNAAN BARIS DAN DERET

Perhitungan BUNGA TUNGGAL (Bunga dihitung berdasarkan modal awal)
M
0
, M
1
, M
2
, ............., M
n

M
1
= M
0
+ P/100 (1) M
0
= {1+P/100(1)}M
0

M
2
= M
0
+ P/100 (2) M
0
= {1+P/100(2)} M
0

Tugas Matematika Lanjut Page 17

M
n
=M
0
+ P/100 (n) M
0
M
n
= {1 + P/100 (n) } M
0


Perhitungan BUNGA MAJEMUK (Bunga dihitung berdasarkan modal terakhir)
M
0
, M
1
, M
2
, .........., M
n

M
1
= M
0
+ P/100 . M
0
= (1 + P/100) M
0

M
2
= (1+P/100) M
0
+ P/100 (1 + P/100) M
0
= (1 + P/100)(1+P/100)M
0

= (1 + P/100) M
0
Mn = {1 + P/100}
n
M
0

Keterangan :
M
0
= Modal awal
M
n
= Modal setelah n periode
p = Persen per periode atau suku bunga
n = Banyaknya periode
Catatan:
Rumus bunga majemuk dapat juga dipakai untuk masalah pertumbuhan tanaman,
perkembangan bakteri (p > 0) dan juga untuk masalah penyusutan mesin, peluruhan bahan
radio aktif (p < 0).

BARISAN BILANGAN
Barisan bilangan tak hingga didefinisikan sebagai fungsi dengan domain merupakan bilangan
bulat positif. Notasi yang biasa digunakan adalah:
a: n { } ,... a , a a
2 1
1 n
n
=

=
, n e B
+
.
a
n
e 9 merupakan suku barisan ke-n dan tiga buah titik setelah suku kedua menunjukkan bahwa
suku-suku barisan tersebut sampai tak hingga.
Contoh
1. ,....
n
,..., , ,
n
n
1
3
1
2
1
1
1
1
=
)
`


=

2. ,....
n
n
,..., ,
n
n
n
1 3
2
2
1
1
1
+
=
)
`

+

=

3. ( ) ( ) { } ( ) ( ),... n ,..., , , n
n
n
n
2 1 5 4 3 2 1
1
1
1
+ = +
+

=
+

Barisan bilangan tak hingga { }

=1 n
n
a disebut barisan konvergen ke L e 9 bila L a lim
n
n
=

,
sedangkan bila limit tidak ada atau nilainya tak hingga maka barisan bilangan tak hingga { }

=1 n
n
a
disebut barisan divergen
Tugas Matematika Lanjut Page 18




















































Barisan
n
n
n
a
a
a a
+
= =
+
1
, 1
1 1
Definisi
Barisan bilangan didefinisikan sebagai fungsi dengan daerah asal merupakan bilangan asli.
Notasi: f: N R
n f(n ) = a
n
Fungsi tersebut dikenal sebagai barisan bilangan Riil {a
n
} dengan a
n
adalah suku ke-n.
Bentuk penulisan dari barisan :
1. bentuk eksplisit suku ke-n
2. ditulis barisannya sejumlah berhingga suku awalnya.
3. bentuk rekursi
a
n
=
n
1


)
`

.. . ,
4
1
,
3
1
,
2
1
, 1
KEKONVERGENAN BARISAN
DAN DERET
DA
Kekonvergenan Barisan
Definisi:
Barisan {a
n
} dikatakan konvergen menuju L atau berlimit L dan ditulis sebagai
Sebaliknya, barisan yang tidak konvergen ke suatu bilangan L yang terhingga
dinamakan divergen.
Jika untuk tiap bilangan positif c, ada bilangan positif N sehingga untuk
L a
n
n
=

lim
c < > L a N n
n
Akan kita jumpai banyak persoalan konvergensi barisan. Kita akan menggunakan
fakta berikut.
Fakta ini memudahkan karena kita dapat memakai kaidah I Hospital untuk soal
peubah kontinu.
L x f
x
=

) ( lim
Jika
L n f
n
=

) ( lim
, maka
Sifat Limit Barisan
Sifat dari limit barisan, jika barisan {a
n
} konvergen ke L dan barisan {b
n
} konvergen ke M,
maka
1. ( ) ( ) ( ) M L b lim a lim b a lim
n
n
n
n
n n
n
= =


2. ( ) ( ) ( ) M . L b lim . a lim b . a lim
n
n
n
n
n n
n
= =


3.
( )
( ) M
L
b lim
a lim
b
a
lim
n
n
n
n
n
n
n
= =
|
|
.
|

\
|



, untuk M= 0
Barisan {a
n
} dikatakan
a. Monoton naik bila a
n+1
> a
n

b. Monoton turun bila a
n+1
s a
n

Tugas Matematika Lanjut Page 19

Contoh
2
1
1 2
lim ) ( lim =

=

x
x
x f
x x
Tentukan konvergensi dari barisan di bawah ini:
1 n 2
n
a
n

=
1.
artinya barisan a
n
konvergen menuju .
Jawab:
Ambil
1 2
) (

=
x
x
x f , Dalamhal ini menurut kaidah IHospital,
2
1
1 2
lim =


n
n
n
Jadi,






















































Tugas Matematika Lanjut Page 20























































Contoh (Selidiki kekonvergenannya)
. . .
32
1
16
1
8
1
4
1
2
1
+ + + + +
1.
Jawab:
Kalau kita perhatikan
S
1
=
2
1
= 1 -
2
1

S
2
=
4
1
2
1
+ =
4
3
= 1 (
2
1
)
2

S
3
=
8
1
4
1
2
1
+ + =
8
7
= 1 (
2
1
)
3

Sehingga kita peroleh jumlah parsial ke-n-nya
S
n
= 1 (
2
1
)
n
Dan
n
n
S lim

=
n
lim (1 (
2
1
)
n
) = 1
Jadi karena barisan jumlah-
jumlah parsialnya konvergen
ke 1, maka deret di atas juga
konvergen.
Deret Ganti Tanda dan Kekonvergenan Mutlak
Deret Ganti Tanda
Deret ini mempunyai bentuk sebagai berikut
( ) . . . a a a a a 1
4 3 2 1
1 n
n
1 n
+ + =

=
+
dengan a
n
> 0, untuk semua n.
Contoh penting adalah deret harmonik berganti tanda, yaitu
( ) . . .
4
1
3
1
2
1
1
n
1
1
1 n
1 n
+ + =

=
+
Andaikan deret ganti tanda, deret tersebut dikatakan konvergen jika
1. a
n+1
< a
n
0 lim =

n
n
a
2.
Tentukan kekonvergenan deret ganti tanda berikut
. . .
4
1
3
1
2
1
1 + +
1.
Contoh
Jawab
Dari soal diatas kita punya a
n
=
n
1
, dan a
n+1
=
1
1
+ n
tersebut konvergen jika
, deret
a.
1
1
1
1
1
1
1
1
> + =
+
=
+
=
+
n n
n
n
n
a
a
n
n
a
n
>a
n+1
b.
0
1
lim lim = =

n
a
n
n
n
Karena a dan b terpenuhi maka deret di atas konvergen.
Tugas Matematika Lanjut Page 21























































Tugas Matematika Lanjut Page 22

Deret Taylor dan Deret Maclurin
! 2
) 0 ( "
2
x f
! 2
) ( ) ( ' '
2
a x a f
Deret Taylor
Definisi: Misalkan f(x) dapat diturunkan sampai n kali pada x=b. Maka f(x) dapat
diperderetkan menjadi deret kuasa dalam bentuk
( )

=

0
) (
!
) (
n
n
n
a x
n
a f
f(x) =
= f(a) + f (a)(x-a)+
+ . . .
deret di atas disebut Deret Taylor dengan pusat x = a.
Bila b = 0, kita peroleh Deret Mac Laurin, yaitu
( )

=0
) (
!
) 0 (
n
n
n
x
n
f
f(x) = = f(0) + f (0)(x)+ + . . .
















DERET TAYLOR DAN DERET MACLAURIN
Deret Taylor menguraikan fungsi f(x) atas deret pangkat yaitu :
( ) ( ) ( ) ( )
3
3 2
2
1
a x c c a x c a x c x f
o
+ + + = ............................................... (1-6)
Jika pers. (1-6) didiferensialkan, diperoleh :
( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( ) ( )
( )

c ! ......... .......... c ! ........ .......... .......... .... .......... 0
.
.
.
2 0 1 - n ... .......... .......... .......... 0 c 6 c 2
0 c .. .......... .......... .......... 0 c 2 0
0 ....... .......... .......... 0 0
n n
2
2
3 2
1
1
n 2 1
0
2
2 1 0
n n a f
c c n a f
c n c a f
c c c c c a f
n
n
n
n
n
n
= + + + =
= + + + = ' '
= + + + + = '
= + + + + =


( )
!
c
n
n
a f
n
= ............................................................................................... (1-7)

Maka : ( ) ( ) ( )( ) ( )( ) ( )( )
n n
a x a f
n
a x a f x a f a f x f ' ' + ' + =
!
1
..... ..........
! 2
1
1
! 1
1
2

( ) ( )( )

=
=
~
0
!
1
n
n n
a x a f
n
x f ........................................................................ (1-8)
Pers. (1-8) disebut deret Taylor dan f(x) disekitar x = a.
Jika f(x) disekitar a = 0 disebut deret Mac Laurin, maka pers. (1-8), menjadi :
( ) ( )

=
=
~
0
0
!
1
n
n n
x f
n
x f
........................................................................... (1-9)
Tugas Matematika Lanjut Page 23

1. Pendahuluan :
Polinomial
n
n
x a x a x a a x f + + + + = ... ) (
2
2 1 0
(*) adalah bentuk sederhana yang menarik
untuk diteliti. Salah satunya adalah menyatakan fungsi yang sama kedalam turunan-turunannya,
sebab harga kofaktor
n
a a a a ,... , ,
2 1 0
dapat di hitung dari nilai fungsi turunan-turunannya:
n
n
x a x a x a a x f + + + + = ... ) (
2
2 1 0
maka :
0
) 0 ( a f = ... (1)
1 2
3 2 1
1
... 3 2 ) (

+ + + + =
n
n
x na x a x a a x f , maka
1
1
) 0 ( a f = . (2)
2 2
4 3 2
11
) 1 ( ... 12 6 2 ) (

+ + + =
n
n
x a n n x a x a a x f
, maka
2
11
2 ) 0 ( a f = . (3)
3
4 3
) 3 (
) 2 )( 1 ( ... 24 6 ) (

+ + + =
n
n
x a n n n x a a x f
, maka
3
) 3 (
6 ) 0 ( a f = ..(4)
dan seterusnya
n
n
a n n n x f 1 . 2 . 3 )... 2 )( 1 ( ) (
) (
= +, maka
n
n
a n n n f . 1 . 2 . 3 )... 2 )( 1 ( ) 0 (
) (
= .. (n)
Dari persamaan terakhir ini diperoleh kenyataan bahwa
!
) 0 (
) (
n
f
a
n
n
=
berlaku pada persamaan
sebelumya: ke-(1),(2),(n-1).
Oleh karenanya polinomial (*)dapat dinyatakan dalam bentuk lain :
n
n
x
n
f
x
f
x
f
x
f
f x f
!
) 0 (
...
! 3
) 0 (
! 2
) 0 (
! 1
) 0 (
) 0 ( ) (
) (
3
) 3 (
2
11 1
+ + + + + =
(**)
Gagasan ini berkembang tidak hanya merubah polinomial kedalam suku-suku yang
mengandung turunan-turunannya, tapi boleh jadi sembarang fungsi dapat diperlakukan sama.
Temuan ini sudah barang tentu dengan anggapan bahwa ) (x f kontinu dalam interval [a,b] dan
dapat di differensialkan sampai tingkat ke n dalam (a,b) pada x = 0 atau ada f
n
= ) 0 (
) (
, tepatnya
berlaku pada interval dimana ) (x f konvergen.
Karena rumusan tersebut ditemukan oleh Mac Laurin (1698-1746) maka :
n
n
x
n
f
x
f
x
f
x
f
f x f
!
) 0 (
...
! 3
) 0 (
! 2
) 0 (
! 1
) 0 (
) 0 ( ) (
) (
3
) 3 (
2
11 1
+ + + + + =
disebut deret Mac Laurin.
Sebenarnya deret Mac Laurin ini kejadian khusus dari deret yang dikembangkan Brook
Taylor (1685-1731) - salah seorang murid Newton.

2. DERET TAYLOR DENGAN SUKU SISA
Pandanglah ... ... ) (
2
2 1 0
+ + + + + =
n
n
x a x a x a a x f =

=0 n
n
n
x a maka f(x) ini dapat kita tulis :
n n
R x S x f + = ) ( ) ( *) dengan mana :
1
1
2
2 1 0
1
0
... ) (

=
+ + + + = =

n
n
n
n
n
n n
x a x a x a a x a x S , dan
n
n n
x a R = dinamakan residu atau sisa.
Residu
n
R dapat muncul dalam berbagai bentuk, misalnya oleh Lagrange (1799) ditulis :
n
R = ( )
) (
!
n
n
f
n
x
; = nilai diantara 0 dan x atau
n
R =
( ) h x f
n
x
n
n
u +
) (
!
; 0<<1.
Dari
n n
R x S x f + = ) ( ) ( dan :
n
R =
( )
) (
!
n
n
f
n
x
, untuk n menyebabkan
0
n
R
,
Tugas Matematika Lanjut Page 24

maka ) ( ) ( x f x S
n
.
Ini berarti fungsi ) (x f dapat diwakili deret pangkat (Mac Laurin) hanya apabila
n
R mempunyai
limit nol. Selain itu ) (x f harus mempunyai turunan di semua tingkat pada x = 0.
Fungsi-fungsi seperti : x ln , x cot , x ,
x
1
tidak dapat di uraikan atas deret Mac Laurin, karena
turunannya di x = 0 tidak terdefinisikan (tak ada).
Atas dasar tersebut, dapat di kembangan fungsi atas deret pangkat di sekitar titik bukan
nol, misal pada x = c sehingga :
n
n
c x a c x a c x a c x a a x f ) ( ... ) ( ) ( ) ( ) (
3
3
2
2 1 0
+ + + + + = *)
Kofaktor-kofaktor
n
a a a a ,..., , ,
2 1 0
dicari sebagai berikut :
n
n
c x a c x a c x a c x a a x f ) ( ... ) ( ) ( ) ( ) (
3
3
2
2 1 0
+ + + + + =
maka f(c) =
0
a
2
3 2 1
1
) ( 3 ) ( 2 ) ( c x a c x a a x f + + = maka
1
1
) ( a c f =
.dan seterusnya
n
n
a n n n x f 1 . 2 . 3 )... 2 )( 1 ( ) (
) (
= maka
n
n
a n n n c f . 1 . 2 . 3 )... 2 )( 1 ( ) (
) (
=
Dari yang terakhir ini diperoleh bentuk umum :
!
) (
) (
n
c f
a
n
n
=
, sehingga persamaan *) menjadi :
n
n
c x
n
c f
c x
c f
c x
c f
c x
c f
c f x f ) (
!
) (
... ) (
! 3
) (
) (
! 2
) (
) (
! 1
) (
) ( ) (
) (
3
) 3 (
2
11 1
+ + + + + =
disebut Deret Taylor.
Atau
n n
R x S x f + = ) ( ) ( dengan :
1
1
2
2 1 0
1
0
) ( ... ) ( ) ( ) ( ) (

=
+ + + + = =

n
n
n
n
n
n n
c x a c x a c x a a c x a x S
dan
n
n n
c x a R ) ( = dinamakan residu atau sisa.
Bentuk lain residu (oleh Langrange) :
n
R =
( )
) (
!
) (
n
n
f
n
c x
; 0<<1
Jadi deret Mac Laurin adalah kejadian khusus dari deret Taylor.
Kesimpulan : Deret Taylor dengan suku sisa

n
n
c x
n
c f
c x
c f
c x
c f
c x
c f
c f x f ) (
!
) (
... ) (
! 3
) (
) (
! 2
) (
) (
! 1
) (
) ( ) (
) (
3
) 3 (
2
11 1
+ + + + + =
, atau
n n
R x S x f + = ) ( ) (
dengan
1
1
2
2 1 0
1
0
) ( ... ) ( ) ( ) ( ) (

=
+ + + + = =

n
n
n
n
n
n n
c x a c x a c x a a c x a x S
dan
n
n n
c x a R ) ( = atau
n
R = ( )
) (
!
) (
n
n
f
n
c x
;0 <<x
Deret Mac laurin :

n
n
x
n
f
x
f
x
f
x
f
f x f
!
) 0 (
...
! 3
) 0 (
! 2
) 0 (
! 1
) 0 (
) 0 ( ) (
) (
3
) 3 (
2
11 1
+ + + + + =

3. Rumus Tambahan :
Mungkin kita jumpai menurunkan fungsi sampai tingkat ke-n dari fungsi hasil kali, berikut ini
teoremanya
Teorema :

Tugas Matematika Lanjut Page 25

Bila y = UV dengan mana U=U(x) dan V=V(x) masing-masing kontinyu dan dapat di
differensialkan sampai tingkat ke n, maka :
) ( ) 0 ( ) ( ) ( ) 2 ( ) 2 (
2
) 1 ( ) 1 (
1
) 0 ( ) (
0
) (
... ...
n
n
k k n
k
n n n n
V U C U U C V U C V U C V U C y + + + + + + =

atau :

=
n
k
k k n
k
n
V U C y
0
) ( ) ( ) (
;
)! ( !
!
k n k
n
C C
k
n k

= = , n k s

Catatan : 1. ) ( 1
! !. 0
!
)! 0 ( ! 0
!
0
0
kan didefinisi
n
n
n
n
C C
n
= =

= =
2.
n
n
n
dx
U d
U =
) (
maka:
dst
dx
U d
U U
dx
dU
U U U , , ,
2
2
) 2 ( 1 ) 1 ( ) 0 (
= = = =

Bukti teorema : dengan induksi lengkap
Akan dibuktikan

=
n
k
k k n
k
n
V U C y
0
) ( ) ( ) (
berlaku untuk semua n.
Caranya :
1) Rumus berlaku untuk k = 1, yakni :
dari y = UV maka
1 1 1
UV V U y + =
2) Rumus berlaku untuk k = 2, yakni :
dari
1 1 1
UV V U y + = maka
11 1 1 1 1 11 11
UV V U V U V U y + + + = =
11 1 1 11
2 UV V U V U + + atau dapat ditulis
) 2 ( ) 2 2 (
2
) 1 ( ) 1 2 (
1
) 0 ( ) 2 (
0
) 2 (
V U C V U C V U C y

+ + = .
3) Bila rumus berlaku untuk sebarang bilangan k, yakni
) ( k
y maka yang harus dibuktikan rumus
berlaku untuk (k+1) atau
) 1 ( + k
y

Caranya :
Salah satu suku dari
) 1 ( + k
y yang berbentuk
) 1 ( ) ( + m m k
V U diperoleh dari turunan
A =
) 1 ( ) 1 ( + m m k
V U dan B =
) ( ) ( m m k
V U

, sedangkan :
Kofaktor A =
) 1 ( ) 1 ( + m m k
V U adalah
)! 1 ( )! 1 (
!
1
+
=
+
m k m
k
C
m
k
dan
Kofaktor B =
) ( ) ( m m k
V U

adalah =
)! ( !
!
m k m
k
C
m
k

= ; dengan demikian :
Kofaktor dari
) 1 ( ) ( + m m k
V U adalah
)! 1 ( )! 1 (
!
+ m k m
k
+
)! ( !
!
m k m
k

=
)! ( ! ) 1 (
) 1 ( !
)! 1 )( ( )! 1 (
) ( !
m k m m
m k
m k m k m
m k k
+
+
+
+

=
{ } ) 1 ( ) (
)! ( )! 1 (
!
+ +
+
m m k
m k m
k
=
)! ( )! 1 (
)! 1 (
)! )( 1 (
! ) 1 (
m k m
k
m k m
k k
+
+
=
+
+

=
1
1
+
+
m
k
C
Tugas Matematika Lanjut Page 26

Karena rumus berlaku untuk k menyebabkan berlaku untuk k+1 maka rumus berlaku
untuk semua n (teorema terbukti)
Contoh :
C-1 : Ubahlah 6 11 6 2 ) (
2 3
+ = x x x x f menurut deret Taylor kedalam pangkat (x-1)
Jawab : Deret Taylor:
n
n
c x
n
c f
c x
c f
c x
c f
c x
c f
c f x f ) (
!
) (
... ) (
! 3
) (
) (
! 2
) (
) (
! 1
) (
) ( ) (
) (
3
) 3 (
2
11 1
+ + + + + =

6 11 6 2 ) (
2 3
+ = x x x x f 1 ) 1 ( = f
11 12 6 ) (
2 1
+ = x x x f 5 ) 1 (
1
= f
12 12 ) (
11
= x x f 0 ) 1 (
11
= f
12 ) (
) 3 (
= x f 12 ) 1 (
) 3 (
= f
Jadi 6 11 6 2 ) (
2 3
+ = x x x x f
3
) 1 ( 12 ) 1 ( 5 1 + + x x

C-2 : Uraikan
x
e atas deret Mac Laurin dan tentukan interval konvergensinya. Kemudian pakailah
untuk menghitung
5
1
e tepat sampai 5 angka di belakang koma.
Jawab :Deret Mac Laurin:
n
R x
f
x
f
x
f
f x f + + + + + = ...
! 3
) 0 (
! 2
) 0 (
! 1
) 0 (
) 0 ( ) (
3
) 3 (
2
11 1

dengan
) (
!
) (
x f
n
x
R
n
n
n
u =
, 0<u <1
x
e x f = ) ( 1 ) 0 ( = f
x
e x f = ) (
1
1 ) 0 ( = f
x
e x f = ) (
11
1 ) 0 ( = f
..
n
x
R
x x
x e x f + + + + + = = ...
! 3 ! 2
1 ) (
3 2
dengan
x
n
n
e
n
x
R
u
!
=
Deret ini konvergen bila 0
!
lim lim
=

=

x
n
n
e
n
x
n
R
n
u

Pandanglah interval < < x maka pada interval ini
x
e
u
adalah berhingga, dan
0
!
lim
=

x
n
e
n
x
n
u

Jadi ...
! 3 ! 2
1
3 2
+ + + + =
x x
x e
x
konvergen untuk < < x

( ) ( ) ( )
...
! 4 ! 3 ! 2 5
1
1
4
5
1
3
5
1
2
5
1
5
1
+ + + + + = e

= 1+0,2+0,02+0,001333+0,000067+=1,22140

C-3 : Uraikan
x + 1
1
atas deret Mac Laurin dan tentukan interval konvergensinya.
Jawab :
1
) 1 (
1
1
) (

+ =
+
= x
x
x f 1 ) 0 ( = f
2 1
) 1 ( ) (

+ = x x f 1 ) 0 (
1
= f
3 11
) 1 ( 2 ) (

+ = x x f ! 2 2 ) 0 (
11
= = f
4 ) 3 (
) 1 ( 3 . 2 ) (

+ = x x f ! 3 ) 0 (
) 3 (
= f
5 ) 4 (
) 1 ( 4 . 3 . 2 ) (

+ = x x f ! 4 ) 0 (
) 4 (
= f
Jadi :
n
n n
R x x x x x
x
+ + + + + =
+
1 1 4 3 2
. ) 1 ( ... 1
1
1

=
n
n
n
n
R
x
x
R
x
x
+
+

= +


1
) ( 1
) ( 1
) ( 1

Tugas Matematika Lanjut Page 27

x
x
x
x
x
R
n n
n
+

=
+

+
=
1
) (
1
) ( 1
1
1

Untuk 1 1 < < x maka 0
1
) (
lim lim
=
+


=
x
x
n
R
n
n
n

Jadi :
... . ) 1 ( ... 1
1
1
1 1 4 3 2
+ + + + + =
+
n n
x x x x x
x
konv.untuk
1 1 < < x

Bila x diganti (-x) diperoleh :
..... 1
1
1
4 3 2
+ + + + + =

x x x x
x
konv. untuk 1 1 < < x

C-4 : Uraikan x sin atas deret Mac Laurin, dan tentukan interval konvergensinya.
Jawab :
x x f sin ) ( = 0 ) 0 ( = f
x x f cos ) (
1
= 1 ) 0 (
1
= f
x x f sin ) (
11
= 0 ) 0 (
11
= f
x x f cos ) (
) 3 (
= 1 ) 0 (
) 3 (
= f
x x f sin ) (
) 4 (
= 0 ) 0 (
) 4 (
= f

jadi :
x x f sin ) ( = =
n
R
x x x
x + + + ...
! 7 ! 5 ! 3
7 5 3
dengan ) (
!
) (
x f
n
x
R
n
n
n
u = ;0<u <x
atau :

=
x
n
x
x
n
x
R
n
n
n
u
u
cos
!
sin
!
Karena 1 sin s x u dan 1 cos s x u maka
! n
x
R
n
n
s
Untuk < < x maka
0
!
lim
=
n
x
n
n
, jadi
0
lim
=

n
R
n

Kesimpulan :
x x f sin ) ( =
=
...
! 7 ! 5 ! 3
7 5 3
+ +
x x x
x
konvergen untuk < < x

Fungsi-fungsi penting dari uraian deret Mac Laurin :
( ) ( ) ~ ~ ...; .......... .......... ..........
! 3 ! 2 ! 1
1 e 1
3 2
x
< < + + + + = x
x x x
............................ (1-10)
( ) ( ) ~ ~ .........; .......... ..........
! 6 ! 4 ! 2
1 x cos 2
6 4 2
< < + + = x
x x x
............................ (1-11)
( ) ( ) ~ ~ .; .......... .......... ..........
! 7 ! 5 ! 3
sin 3
7 5 3
< < + = x
x x x
x- x ............................ (1-12)
( ) ( ) 1 1 ....; .......... .......... .......... 1
1
1
4
3 2
< < + + =
+
x x x x
x
.......................... (1-13)
( ) ( ) ( ) 1 1 ...; .......... ..........
4 3 2
x 1 ln 5
4 3 2
< < + + = + x
x x x
x ............................. (1-14)
Tugas Matematika Lanjut Page 28

( ) ( ) 1 1 ...; .......... ..........
4 3 2
1
1
1
ln 6
4 3
2
s s + + + + =

x
x x
x x
x
............................. (1-15)
Deret Binomial.
( ) ( )
( ) ( )( )
( ) 1 1 .......;
! 3
2 1
! 2
1
1 1 7
3 2
< < +

+

+ + = + x x
p p p
x
p p
px x
p
......... (1-16)
(8) 1 1 ; ...
4 3 2
) 1 ln(
4 3 2
< < + = x
n
x x x x
x x
n
............................................... (1-17)
(9) 1 1 ;
1 2
...
7 5 3
tan .
1 2 7 5 3
s s

+ + + =

x
n
x x x x
x x arc
n
....................................... (1-18)
(10) < <
+
+ + + + + =
+
x
n
x x x x
x x
n
;
)! 1 2 (
...
! 7 ! 5 ! 3
sinh
1 2 7 5 3
................................... (1-19)
(11) < < + + + + + = x
n
x x x x
x
n
;
)! 2 (
...
! 6 ! 4 ! 2
1 cosh
2 6 4 2
......................................... (1-20)
Contoh :
1) Hitunglah
23
25
ln hingga ketelitian 4 desimal.
Solusi :

( )
2 -
2
10 -8 x
10 . 8 1 ln
25
2
1 ln
25
23
ln
23
25
ln
=
= |
.
|

\
|
= =

maka


( )
( ) ( )
( )
( )
( ) 0834 , 0 10 8 1 ln
0834 , 0 1 ln
0001706 , 0 0032 , 0 08 , 0 1 ln
10 512 10 64 10 8 1 ln
.... ..........
4 3 2
1 ln
2
6
3
1
4
2
1
2
4 3 2
=
= +
= +
+ = +
+ + = +


x
x
x
x x x
x x

2) Hitunglah 02 , 1 sampai ketelitian 5 desimal.
Solusi :

( )
( )
( ) ( )( )
( )
( ) 00995 , 1 1
00005 , 0 01 , 0 1 1
! 3
2 1
! 2
1
1 1
02 , 0 1 1,02 ; 02 , 0 1 02 , 1
3
2
1
= +
+ = +

+

+ + = +
+ = + =
p
p
p
x
x
x
p p p p p
px x


3) Ubahlah 6 11 6 2 ) (
2 3
+ = x x x x f menurut deret Taylor kedalam pangkat (x-1)
Jawab : Deret Taylor:
n
n
c x
n
c f
c x
c f
c x
c f
c x
c f
c f x f ) (
!
) (
... ) (
! 3
) (
) (
! 2
) (
) (
! 1
) (
) ( ) (
) (
3
) 3 (
2
11 1
+ + + + + =

6 11 6 2 ) (
2 3
+ = x x x x f 1 ) 1 ( = f
Tugas Matematika Lanjut Page 29

11 12 6 ) (
2 1
+ = x x x f 5 ) 1 (
1
= f
12 12 ) (
11
= x x f 0 ) 1 (
11
= f
12 ) (
) 3 (
= x f 12 ) 1 (
) 3 (
= f
Jadi 6 11 6 2 ) (
2 3
+ = x x x x f
3
) 1 ( 12 ) 1 ( 5 1 + + x x

Tentukan representasi deret Taylor darif(x) = ln(x) di sekitar x= 1? Hitunglah sampai n =
3!
Jawab:
Kita turunkan fungsi f(x) = ln(x) sampai turunan ketiga seperti di bawah ini,
f(x) = ln(x), f(x) = 1/x, f( x) =1/x
2
, f(x) = 2/x
3
.
Kemudian, kita substitusikan nilai x = 1 ke fungsi-fungsi diatas,
f(1) = 0, f(1) = 1, f(1) =1, f(1) = 2.
Sehingga, deret Taylor yang kita dapatkan menjadi:
ln(x) = 0 + (1)(x1) +
()

(x1)
2
+
()

(x1)
3
+. . . , atau
ln(x) = (x1)

(x1)
2
+

(x1)
3
+. . .

Tentukan representasi deret Taylor dari f(x) = e
2x
di sekitar x = 0?
Hitunglah sampai n = 5.
Jawab:
Kita turunkan fungsi f(x) = e2x sampai turunan kelima seperti dibawah
ini,
f(x) = e
2x
, f(x) = 2e
2x
, f(x) = 4e
2x
, f(x) = 8e
2x
,
f(4)(x) = 16e
2x
, f(5)(x) = 32e
2x
.
Kemudian, kita substitusikan nilai x = 0 ke fungsi-fungsi diatas,
f(0) = 1, f(0) = 2, f(0) = 4, f(0) = 8, f(4)(0) = 16, f(5)(0) = 32.
Sehingga, deret Taylor yang kita dapatkan menjadi:
e
2x
= 1+2(x0)+

(x0)
2
+

(x0)
3
+

(x0)
4
+

(x0)
5
+. . . ,atau
e
2x
= 1 + 2x + 2x
2
+

x
3
+

x4 +

x
5
+ . . . .
EXAMPLE 1: Find the Taylor series about x = -1 for f (x) = 1/x. Express your
answer in sigma notation.
SOLUTION: f (x) = x
- 1
f (-1) = -1
f ' = -x
- 2
f '(-1) = -1
f '' = 2x
- 3
f '' (-1) = -2
f ''' = -6x
- 4
f ''' (-1) = -6
f '''' = 24x
- 5
f '''' (-1) = -24


EXAMPLE 2: Find the Maclaurin series for f (x) = sin t x. Express your answer in
sigma notation.
Tugas Matematika Lanjut Page 30

SOLUTION: f (x) = sin t x f (0) = 0
f '(x) = t cos t x f '(0) = t
f '' = -t
2
sin t x f ''(0) = 0
f ''' = -t
3
cos t x f '''(0) = -t
3

f '''' = t
4
sin t x f ''''(0) = 0
f
5
= t
5
cos t x f
5
(0) = t
5



EXAMPLE 3: Find the Maclaurin series for f (x) = x e
x
. Express your answer in
sigma notation.
SOLUTION: f (x) = x e
x
f (0) = 0
f ' = e
x
+ x e
x
f '(0) = 1 + 0 = 1
f '' = e
x
+ e
x
+ x e
x
f ''(0) = 1 + 1 + 0 = 2
f ''' = e
x
+ e
x
+ e
x
+ x e
x
f '''(0) = 1 + 1 + 1 + 0 = 3
f '''' = e
x
+ e
x
+ e
x
+ e
x
+ x e
x
f ''''(0) = 1 + 1 + 1 + 1 + 0 = 4


The degrees of the x terms starts at one, whereas the denominator
starts at 0!.
EXAMPLE 4: Find the third Taylor polynomial for f (x) = tan
- 1
x at x = 1.
SOLUTION: The third Taylor polynomial is when n = 3, so first I will find the
first three derivatives of f (x) and evaluate them at x = 1.
f (x) = tan
- 1
x






Tugas Matematika Lanjut Page 31



EXAMPLE 5: Find the fourth Maclaurin polynomial for f (x) = sin 2x.
SOLUTION: f (x) = sin 2x f (0) = 0
f ' = 2cos 2x f '(0) = 2
f '' = -4sin 2x f ''(0) = 0
f ''' = -8cos 2x f '''(0) = -8
f '''' = 16sin 2x f ''''(0) = 0


EXAMPLE 6: Find the fourth Taylor polynomial for f (x) = ln x at x = 1.
SOLUTION: f (x) = ln x f (1) = 0
f ' = x
- 1
f ' (1) = 1
f '' = -x
- 2
f '' (1) = -1
f ''' = 2x
- 3
f ''' (1) = 2
f '''' = -6x
- 4
f '''' (1) = -6


EXAMPLE 7 Find the Taylor series for f (x) = 3x
5
- x
4
+ 2x
3
+ x
2
- 2 at x = -1.
SOLUTION: f (x) = 3x
5
- x
4
+ 2x
3
+ x
2
- 2 f (-1) = -3 - 1 - 2 + 1 - 2 = -7
f '(x) = 15x
4
- 4x
3
+ 6x
2
+ 2x f '(-1) = 15 + 4 + 6 - 2 = 23
f ''(x) = 60x
3
- 12x
2
+ 12x + 2 f ''(-1) = -60 - 12 -12 + 2 = -82
f '''(x) = 180x
2
- 24x

+ 12 f '''(-1) = 180 + 24 + 12 = 216
f ''''(x) = 360x - 24 f ''''(-1) = -360 - 24 = -384
f '''''(x) = 360

Tugas Matematika Lanjut Page 32




L A T I H A N
1. Ekspansikan 10 7 5 ) (
2 3
+ = x x x x f ke deret pangkat (x+1)
2. Ekspansikan x 2 ln ke suatu deret dalam pangkat (x-2)
3. Uraikan x x cos sin atas deret Mac Laurin
4. Ekspansikan
1
1
+ x
ke suatu deret pangkat (x-8)
5. Uraikan ax cos kedalam deret Mac Laurin
6. Buktikan 1 1 ;
1 2
...
5 3
2
1
1
ln
1 2 5 3
< <
+
+ + + + + =
)
`

+
+
x
n
x x x
x
x
x
n

7. Dengan deret Mac Laurin buktikan Binomium Newton :
1 1 2 2 1
)! 1 (
) 2 )...( 2 )( 1 (
...
! 2
) 1 (
. ) (
+ +

+
+ +

+ + = +
n n k k k k k
x a
n
n k k k k
x a
k k
x a k a x a

8. Jika 3891 , 7
2
= e hitunglah
2 , 2
e dan
8 , 1
e
9 Uraikan
3
1
x atas deret Taylor sekitar x = 1, dan hitunglah
3
5 , 1
10 Hitunglah
4
8 , 15 dan
3
997 tepat 5 angka di belakang koma

Dengan menggunakan deret Mac Laurin, hitunglah:
11.
x
x
x
sin
0
lim

;
12.
2
cos 1
0
lim
x
x
x

;
13.
1 1
lim

x
e e
x
x

14.
3
3
3
) sin (sin lim
t
t
t

x
x
x
;
15.
{ }
( )
3
2
4
3
cos 1
) 1 ln(
0
lim
x
x
x

+

;
16.
( )
( )
9
2
4
3 3
cos 1
sin
0
lim
x
x x
x


Tugas Matematika Lanjut Page 33

DIFERENSIAL DAN INTEGRAL

1. Persamaan Diferensial
Persamaan diferensial parsial (PDP) adalah persamaan yang di dalamnya
terdapat suku-suku diferensial parsial, yang dalam matematika diartikan sebagai suatu
hubungan yang mengaitkan suatu fungsi yang tidak diketahui, yang merupakan fungsi dari
beberapa variabel bebas, dengan turunan-turunannya melalui variabel-variabel yang
dimaksud. PDP digunakan untuk melakukan formulasi dan menyelesaikan permasalahan
yang melibatkan fungsi-fungsi yang tidak diketahui, yang merupakan dibentuk oleh
beberapa variabel, seperti penjalaran suara dan panas, elektrostatika, elektrodinamika,
aliran fluida, elastisitas, atau lebih umum segala macam proses yang terdistribusi dalam
ruang, atau terdistribusi dalam ruang dan waktu. Kadang beberapa permasalahan fisis yang
amat berbeda memiliki formulasi matematika yang mirip satu sama
Bentuk paling sederhana dari persamaan diferensial adalah
di mana u suatu fungsi tak diketahui dari x dan y. Hubungan ini mengisyaratkan bahwa
nilai-nilai u(x,y) adalah tidak bergantung dari x. Oleh karena itu solusi umum dari
persamaan ini adalah
di mana f adalah suatu fungsi sembarang dari variabel y. Analogi dari persamaan
diferensial biasa untuk persamaan ini adalah yang memiliki solusi
di mana c bernilai konstan (tidak bergantung dari nilai x). Kedua contoh di atas
menggambarkan bahwa solusi umum dari persamaan diferensial biasa melibatkan suatu
kostanta sembarang, akan tetapi solusi dari persamaan diferensial parsial melibatkan suatu
fungsi sembarang. Sebuah solusi dari persamaan diferensial parsial secara umum tidak
unik; kondisi tambahan harus disertakan lebih lanjut pada syarat batas dari daerah di mana
solusi didefinisikan. Sebagai gambaran dalam contoh sederhana di atas, fungsi dapat
ditentukan jika dispesifikasikan pada sebuah garis .
Persamaan diferensial biasa



Lintasan peluru yang ditembakkan dari meriam mengikuti kurva yang ditentukan lewat
persamaan diferensial parsial yang diturunkan dari hukum kedua Newton
Tugas Matematika Lanjut Page 34

Persamaan diferensial biasa adalah persamaan diferensial di mana fungsi yang
tidak diketahui (variabel terikat) adalah fungsi dari variabel bebas tunggal. Dalam bentuk
paling sederhana fungsi yang tidak diketahui ini adalah fungsi riil atau fungsi kompleks,
namun secara umum bisa juga berupa fungsi vektor maupun matriks. Lebih jauh lagi,
persamaan diferensial biasa digolongkan berdasarkan orde tertinggi dari turunan terhadap
variabel terikat yang muncul dalam persamaan tersebut.
Contoh sederhana adalah hukum gerak kedua Newton, yang menghasilkan persamaan
diferensial

untuk gerakan partikel dengan massa konstan m. Pada umumnya, gaya F tergantung
kepada posisi partikel x(t) pada waktu t, dan demikian fungsi yang tidak diketahui x(t)
muncul pada kedua ruas persamaan diferensial, seperti yang diindikasikan dalam notasi
F(x(t)).
Persamaan diferensial biasa dibedakan dengan persamaan diferensial parsial, yang
melibatkan turunan parsial dari beberapa variabel.
Persamaan diferensial biasa muncul dalam berbagai keadaan, termasuk geometri,
mekanika, astronomi dan pemodelan populasi. Banyak matematikawan ternama telah
mempelajari persamaan diferensial dan memberi sumbangan terhadap bidang studi ini,
termasuk Isaac Newton, Gottfried Leibniz, keluarga Bernoulli, Riccati, Clairaut,
d'Alembert dan Euler.
Dalam kasus persamaan tersebut linier, persamaan diferensial biasa dapat
dipecahkan dengan metode analitik. Malangnya, kebanyakan persamaan diferensial
nonlinier, dan kecuali sebagian kecil, tidak dapat dipecahkan secara eksak. Pemecahan
hampiran dapat dicapai menggunakan komputer.
Kalkulus diferensial adalah salah satu cabang kalkulus dalam matematika yang
mempelajari bagaimana nilai suatu fungsi berubah menurut perubahan input nilainya.
Topik utama dalam pembelajaran kalkulus diferensial adalah turunan. Turunan dari suatu
fungsi pada titik tertentu menjelaskan sifat-sifat fungsi yang mendekati nilai input. Untuk
fungsi yang bernilai real dengan variabel real tunggal, turunan pada sebuah titik sama
dengan kemiringan dari garis singgung grafik fungsi pada titik tersebut. Secara umum,
turunan suatu fungsi pada sebuah titik menentukan pendekatan linear terbaik fungsi pada
titik tersebut.
Tugas Matematika Lanjut Page 35



Grafik dari sebuah fungsi (garis hitam) dan sebuah garis singgung terhadap fungsi (garis
merah). Kemiringan garis singgung sama dengan turunan dari fungsi pada titik singgung
Proses pencarian turunan disebut pendiferensialan (differentiation). Teorema dasar
kalkulus menyatakan bahwa pendiferensialan adalah proses keterbalikan dari
pengintegralan.
Turunan mempunyai aplikasi dalam semua bidang kuantitatif. Di fisika, turunan
dari perpindahan benda terhadap waktu adalah kecepatan benda, dan turunan dari
kecepatan terhadap waktu adalah percepatan. Hukum gerak kedua Newton menyatakan
bahwa turunan dari momentum suatu benda sama dengan gaya yang diberikan kepada
benda.
Laju reaksi dari reaksi kimia juga merupakan turunan. Dalam riset operasi, turunan
menentukan cara paling efisien dalam memindahkan bahan dan mendesain pabrik. Dengan
menerapkan teori permainan, turunan dapat memberikan strategi yang paling baik untuk
perusahaan yang sedang bersaing.
Turunan sering digunakan untuk mencari titik ekstremum dari sebuah fungsi.
Persamaan-persamaan yang melibatkan turunan disebut persamaan diferensial dan sangat
penting dalam mendeskripsikan fenomena alam. Turunan dan perampatannya
(generalization) sering muncul dalam berbagai bidang matematika, seperti analisis
kompleks, analisis fungsional, geometri diferensial, dan bahkan aljabar abstrak.
1. Turunan
Misalkan x dan y adalah bilangan real di mana y adalah fungsi dari x, yaitu y = f(x).
Salah satu dari jenis fungsi yang paling sederhana adalah fungsi linear. Ini adalah grafik
fungsi dari garis lurus. Dalam kasus ini, y = f(x) = m x + c, di mana m dan c adalah
bilangan real yang tergantung pada garis mana grafik tersebut ditentukan. m disebut
sebagai kemiringan dengan rumus:

di mana simbol (delta) memiliki arti "perubahan nilai". Rumus ini benar adanya karena
Tugas Matematika Lanjut Page 36

y + y = f(x + x) = m (x + x) + c = m x + c + m x = y + mx.
Diikuti pula y = m x.
Namun, hal-hal di atas hanya berlaku kepada fungsi linear. Fungsi nonlinear tidak
memiliki nilai kemiringan yang pasti. Turunan dari f pada titik x adalah pendekatan yang
paling baik terhadap gagasan kemiringan f pada titik x, biasanya ditandai dengan f'(x) atau
dy/dx. Bersama dengan nilai f di x, turunan dari f menentukan pendekatan linear paling
dekat, atau disebut linearisasi, dari f di dekat titik x. Sifat-sifat ini biasanya diambil sebagai
definisi dari turunan.
Sebuah istilah yang saling berhubungan dekat dengan turunan adalah diferensial fungsi.


Garis singgung pada (x, f(x))
Bilamana x dan y adalah variabel real, turunan dari f pada x adalah kemiringan dari
garis singgung grafik f' di titik x. Karena sumber dan target dari f berdimensi satu, turunan
dari f adalah bilangan real. Jika x dan y adalah vektor, maka pendekatan linear yang paling
mendekati grafik f tergantung pada bagaimana f berubah di beberapa arah secara
bersamaan. Dengan mengambil pendekatan linear yang paling dekat di satu arah
menentukan sebuah turunan parsial, biasanya ditandai dengan y/x. Linearisasi dari f ke
semua arah secara bersamaan disebut sebagai turunan total. Turunan total ini adalah
transformasi linear, dan ia menentukan hiperbidang yang paling mendekati grafik dari f.
Hiperbidang ini disebut sebagai hiperbidang oskulasi; ini secara konsep sama dengan
mengambil garis singgung ke semua arah secara bersamaan.
Penerapan turunan
Optimalisasi
Jika f adalah fungsi yang dapat diturunkan pada R (atau interval terbuka) dan x adalah
maksimum lokal ataupun minimum lokal dari f, maka turunan dari f di titik x adalah nol;
titik-titik di mana f '(x) = 0 disebut titik kritis atau titik pegun (dan nilai dari f di x disebut
nilai kritis). (Definisi dari titik kritis kadang kala diperluas sampai meliputi titik-titik di
Tugas Matematika Lanjut Page 37

mana turunan suatu fungsi tidak eksis.) Sebaliknya, titik kritis x dari f dapat dianalisa
dengan menggunakan turunan ke-dua dari f di x:
- jika turunan ke-dua bernilai positif, x adalah minimum lokal;
- jika turunan ke-dua bernilai negatif, x adalah maksimum lokal;
- jika turunan ke-dua bernilai nol, x mungkin maksimum lokal, minimum lokal,
ataupun tidak kedua-duanya. (Sebagai contohnya, f(x)=x memiliki titik kritis di
x=0, namun titik itu bukanlah titik maksimum ataupun titik minimum; sebaliknya
f(x) = x
4
mempunyai titik kritis di x = 0 dan titik itu adalah titik minimum maupun
maksimum.)
Ini dinamakan sebagai uji turunan ke dua. Sebuah pendekatan alternatif lainnya, uji
turunan pertama melibatkan nilai f ' di kedua sisi titik kritis.
Menurunkan fungsi dan mencari titik-titik kritis biasanya merupakan salah satu cara
yang sederhana untuk mencari minima lokal dan maksima lokal, yang dapat digunakan
untuk optimalisasi. Sesuai dengan teorema nilai ekstremum, suatu fungsi yang kontinu
pada interval tertutup haruslah memiliki nilai-nilai minimum dan maksimum paling sedikit
satu kali. Jika fungsi tersebut dapat diturunkan, minima dan maksima hanya dapat terjadi
pada titik kritis atau titik akhir.
Hal ini juga mempunyai aplikasi tersendiri dalam proses sketsa grafik: jika kita
mengetahui minima dan maksima lokal dari fungsi yang dapat diturunkan tersebut, sebuah
grafik perkiraan dapat kita dapatkan dari pengamatan bahwa ia akan meningkat dan
menurun di antara titik-titik kritis.
Di dimensi yang lebih tinggi, titik kritis dari nilai skalar fungsi adalah titik di mana
gradien fungsi tersebut adalah nol. Uji turunan kedua masih dapat digunakan untuk
menganalisa titik-titik kritis dengan menggunakan eigennilai matriks Hessian dari turunan
parsial ke-dua fungsi di titik kritis. Jika semua eigennilai tersebut adalah positif, maka titik
tersebut adalah minimum lokal; jika semuanya negatif, maka titik itu adalah maksimum
lokal. Jika ada beberapa yang positif dan beberapa yang negatif, maka titik kritis tersebut
adalah titik pelana, dan jika tidak ada satupun dari keadaan di atas yang terpenuhi
(misalnya ada beberapa eigennilai yang nol) maka uji tersebut inkonklusif.
Kalkulus variasi
Salah satu contoh masalah optimalisai adalah mencari kurva terpendek anatar dua
titik di atas sebuah permukaan dengan asumsi kurva tersebut harus berada di permukaan
tersebut. Jika permukaan tersebut adalah bidang rata, maka kurva yang paling pendek
Tugas Matematika Lanjut Page 38

berupa garis lurus. Namun jika permukaannya tidak bidang, maka kita tidak bisa
mengetahui secara pasti kurva yang paling pendek. Kurva ini disebut sebagai geodesik, dan
salah satu masalah paling sederhana di kalkulus variasi adalah mencari geodesik.Contoh
lainnya adalah mencari luas permukaan paling kecil yang dibatasi oleh kurva tertutup di
ruang tiga dimensi. Permukaan ini disebut sebagai permukaan minimum, dan ini dapat
dicari dengan menggunakan kalkulus variasi.
Sebagai contoh, jika posisi sebuah benda dalam sebuah garis adalah:

maka kecepatan benda tersebut adalah:

dan percepatan benda itu adalah:

Persamaan diferensial
Persamaan diferensial adalah hubungan antara sekelompok fungsi dengan
turunan-turunannya. Persamaan diferensial biasa adalah sebuah persamaan diferensial
yang menghubungkan fungsi dengan sebuah variabel ke turunannya terhadap variabel itu
sendiri. Persamaan diferensial parsial adalah persamaan diferensial yang
menghubungkan fungsi yang memiliki lebih dari satu variable ke turunan parsialnya.
Persamaan diferensial muncul secara alami dalam sains fisik, model matematika, dan
dalam matematika itu sendiri. Sebagai contoh, Hukum kedua Newton yang
menggambarkan hubungan antara percepatan dengan posisi dapat dimulai dengan
persamaan diferensial biasa:

Persamaan kalor di variable satu ruang yang menggambarkan bagaimana kalor dapat
berdifusi melalui satu tongkat yang lurus adalah persamaan diferensial parsial

Di sini u(x, t) adalah temperatur tongkat pada posisi x dan waktu t dan adalah sebuah
tetapan yang bergantung pada seberapa cepat kalor tersebut berdifusi.
Tugas Matematika Lanjut Page 39

Teorema nilai purata
Teorema nilai purata memberikan hubungan antara nilai dari turunan dengan nilai
dari fungsi asal. Jika f(x) adalah fungsi yang bernilai real dan a dan b adalah bilangan
dengan a < b, maka teorema nilai purata mengatakan bahwa kemiringan antara dua titik (a,
f(a)) dan (b, f(b)) adalah sama dengan kemiringan garis singgung f di titik c di antara a and
b. Dengan kata lain:

Dalam prakteknya, teorema nilai purata ini mengontrol sebuah fungsi terhadap
turunannya. Sebagai contoh, misalkan f memiliki turunan yang sama dengan nol di setiap
titik, maka fungsi tersebut haruslah horizontal. Teorema nilai purata membuktikan bahwa
hal ini haruslah benar, bahwa kemiringan antara dua titik di grafik f haruslah sama dengan
kemiringan salah satu garis singgung di f. Semua kemiringan tersebut adalah nol, jadi garis
sembarang antara titik yang satu dengan titik yang lainnya di fungsi tersebut memiliki
kemiringan yang bernilai nol. Namun hal ini juga mengatakan bahwa fungsi tersebut tidak
naik maupun turun.
Polinomial Taylor dan deret Taylor
Turunan memberikan pendekatan linear yang paling baik, namun pendekatan ini
bisa sangat berbeda dengan fungsi asalnya. Salah satu cara untuk memperbaiki pendekatan
ini adalah dengan menggunakan pendekatan kuadratik. Linearisasi dari fungsi bernilai real
f(x) pada suatu titik x
0
adalah linearisasi polinomial a + b(x - x
0
), dan sangat mungkin
untuk mendapatkan pendekatan yang lebih baik dengan menggunakan polinomial
kuadratik a + b(x - x
0
) + c(x - x
0
). Masih lebih baik lagi apabila menggunakan polinomial
kubik a + b(x - x
0
) + c(x - x
0
) + d(x - x
0
), dan gagasan ini dapat diperluas sampai
polinomial berderajat tinggi. Untuk setiap polinomial ini, haruslah terdapat pilihan nilai
koefisien yang paling tepat untuk a, b, c, dan d yang membuat pendekatan ini sedekat
mungkin.
Untuk a, pilihan nilai yang terbaik selalu bernilai f(x
0
), dan untuk b selalu bernilai
f'(x
0
). Untuk c, d, dan koefisien berderajat tinggi lainnya, koefisien-koefisien ini ditentukan
dengan turunan berderajat tinggi dari f. c haruslah f''(x
0
)/2, dan d haruslah f'''(x
0
)/3!.
Dengan menggunakan koefisen ini, kita mendapatkan polinomial Taylor dari f. Polinomial
taylor berderajat d adalah polinomial dengan derajat d yang memberikan pendekatan yang
paling baik terhadap f, dan koefisiennya dapat ditentukan dengan perampatan dari rumus di
atas. Teorema Taylor memberikan batasan-batasan yang detail akan seberapa baik
Tugas Matematika Lanjut Page 40

pendekatan tersebut. Jika f adalah polinomial dengan derajat yang lebih kecil atau sama
dengan d, maka polinomial Taylor dengan derajat d sama dengan f.
Batasan dari polinomial Taylor adalah deret tidak terbatas yang disebut sebagai
deret Taylor. Deret Taylor biasanya merupakan pendekatan yang cukup dekat dengan
fungsi asalnya. Fungsi-fungsi yang sama dengan deret Taylor disebut sebagai fungsi
analitik. Adalah tidak mungkin untuk fungsi yang tidak kontinu atau memiliki sudut yang
tajam untuk menjadi fungsi analitik. Namun terdapat pula fungsi mulus yang bukan
analitik.
Teorema fungsi implisit
Beberapa bentuk geometri alami, seperti lingkaran, tidak dapat digambar sebagai
grafik fungsi. Jika F(x, y) = x + y, maka lingkaran adalah himpunan pasangan (x, y) di
mana F(x, y) = 0. Himpunan ini disebut sebagai himpunan nol (zero set) (bukan himpunan
kosong) dari F. Ini tidaklah sama dengan grafik F, yang berupa kerucut. Teorema fungsi
implisit mengubah relasi seperti F(x, y) = 0 menjadi fungsi . Teorema ini menyatakan
bahwa jika F adalah secara kontinu terdiferensialkan, maka di sekitar kebanyakan titik-
titik, himpunan nol dari F tampak seperti grafik fungsi yang digabungkan bersama. Titik di
mana hal ini tidak benar ditentukan pada kondisi turunan F. Lingkaran dapat digabungkan
bersama dengan grafik dari dua fungsi . Di setiap titik lingkungan dari
lingkaran kecuali (-1, 0) dan (1, 0),satu dari dua fungsi ini mempunyai grafik yang mirip
dengan lingkaran. (Dua fungsi ini juga bertemu di (-1, 0)dan (1, 0), namun hal ini tidak
dipastikan oleh teorema fungsi implisit).
Teorema fungsi implisit berhubungan dekat dengan teorema fungsi invers yang
menentukan kapan sebuah fungsi tampak mirip dengan grafik fungsi terbalikkan yang
digabungkan bersama.
Misalkan: .

Selanjutnya, akan lebih mudah menggunakan gambar:

Tugas Matematika Lanjut Page 41

Seharusnya dari keterangan di atas, sudah jelas bahwa turunan dan diferensial itu
berbeda. Turunan adalah hasil pembagian antara 2 buah diferensial.
Sebagai contoh,
Jika kita mengatakan bahwa "turunan dari adalah ", maka
pernyataan itu adalah BENAR, karena . Tapi, akan SALAH
jika turunan disamakan dengan diferensial. Jika kita mengatakan bahwa "diferensial
dari adalah ", maka pernyataan itu adalah SALAH. Kalau ingin
betulnya, harus seperti ini: "diferensial dari adalah dikalikan
dengan diferensial x" atau dapat ditulis begini: ..
Memang.. Sepertinya hal sepele, namun krusial sebagai konsep...
Ingat-ingat kembali rumus turunan:

Yupp.. Diferensial adalah selisih variabel (Ingat "difference" dalam bahasa inggris
artinya "beda", bukan?).. Sekadar mengingatkan, di rumus di atas, maka x adalah
variabel bebas sedangkan y adalah variabel terikat.. Sebenarnya, bisa saja rumusnya
begini:

Di atas maka y adalah variabel bebas sedangkan nilai x terikat terhadap variabel y.
Jika , maka (Ingat fungsi invers)..
Di sini akan diberikan beberapa pernyataan (persamaan), silakan dijawab apakah
pernyataan tersebut betul atau salah..
.
1.
2 .
3 .

Tugas Matematika Lanjut Page 42

PENYELESAIAN PERSAMAAN DIFERENSIAL DENGAN DERET KUASA
Fungsi Analitik, Titik Ordiner Dan Titik Singular
Fungsi f (x), dikatakan analitik di x = x
0
jika deret Taylor

0 n
n
0 0
) n (
! n
) x x ( ) x ( f

konvergen di sekitar titik x = x
0
.
Contoh :
f (x) = ln x ; akan diselidiki apakah f (x) analitik di x = 1 adalah :
f (x) = ln x f (1) = 0
f(x) =
x
1
f(1) = 1
f(x) =
2
X
1
f(1) = -1
f(x) =
3
X
2
f(1) = 2
f
(iv)
(x) = -
4
x
3 . 2 . 1
f
(iv)
(1) = -3!
f
(n)
(x) =
n
1 n
x
)! 1 n ( ) 1 (

f
(n)
(1) = (-1)
n-1
(n-1)!
Deret Taylor :
0 # n ;
n
) 1 x ( ) 1 (
! n
) 1 x ( )! 1 n ( ) 1 (
0 n
n 1 n
0 n
n 1 n


=


=


=


1 n
n 1 n
n
) 1 x ( ) 1 (

Sehingga untuk deret Taylor dari f(x) = In x di atas, yaitu :


1 n
n 1 n
n
) 1 x ( ) 1 (
; uji konvergensinya adalah sebagai berikut :
n
n
a
1 a +
=
n
) 1 x ( ) 1 (
1 n
) 1 x ( ) 1 (
n 1 n 1 n n

+

+

= 1 x
1 n
n
1 n
n ) 1 x (
1 n
n ) 1 x ( ) 1 (

+
=
+

=
+


Tugas Matematika Lanjut Page 43

di sekitar x = 1 |x 1| = 0
n
n
a
1 a +
= 0 < 1 ; jadi konvergen
Berarti f(x) = In x analitik di x = 1.
Fungsi-fungsi yang analitik di sembarang nilai x diantaranya adalah fungsi-fungsi
: Polinomial; sin x; cos x; e
x
; termasuk jumlahan, selisih, hasil kali, dan hasil bagi dari
fungsi-fungsi tersebut. Hasil bagi dari fungsi analitik akan menjadi tidak analitik jika
penyebutnya 0.
Contoh :
f(x) = x
3
+ 2x
2
+ x + 9,5
f(x) = cos 2x + x
4

+ sin x + 1
f(x) = 2xe
-x
+ tg x
f(x) = 0
f(x) =
x cos x 2
x sin 1
dan sebagainya.
Bila persamaan diferensial berbentuk : y + P (x) y + Q(x) y = 0 maka
didefinisikan :
1. Titik X
0
disebut titik ordiner (ordinary point) dari PD di atas jika P(x), dan Q(x)
analitik pada x = x
0
. Jika salah satu atau kedua fungsi tersebut tidak analitik di x=x
0
,
maka x
0
disebut titik singular (singular point) dari PD di atas.
2. Titik x
0
disebut titik singular teratur (Regular Singular Point) dari PD di atas, jika x
0

titik singular dari PD dan fungsi (x-x
0
) P(x) dan (x-x
0
)
2
Q(x) analitik di x
0
.
Catatan : koefisien dari y harus sama dengan 1.
Contoh :
1. PD : y xy + 2y = 0; selidiki di sekitar x = 0
)
`

=
=
2 ) x ( Q
x ) x ( P
merupakan fungsi-fungsi polinomial yang analitik dimana-mana, x = 0
merupakan titik ordiner/biasa.
2. PD : (x
2

4) y + y = 0 ; di x = 2
P(x) = 0 analitik di mana-mana
Tugas Matematika Lanjut Page 44

Q(x) =
4 x
1
2

Q(y) =
0
1
tidak analitik
x = 2 merupakan titik singular.
3. PD : 2x
2
y + 7x (x + 1)y 3y = 0 ; di titik x = 0
P(x) =
x 2
) 1 x ( 7
x 2
) 1 x ( x 7
2
+
=
+
P(0) =
0
7

Tidak analitik di x = 0
Q(x) =
2
x 2
3
Q(0) =
0
3

x = 0 titik singular
karena :

=
+ =
2
3
) x ( Q ) 0 x (
) 1 x ( 2 / 7 ) x ( P ) 0 x (
2
analitik
maka x = 0 merupakan titik singular teratur.
Power Seris Method (Penyelesaian PD dengan pendekatan di sekitar titik ordiner)
Teorema 1 :
Bila P, Q, dan R dalam PD : y + P(x) y + Q(x) y = R(x) .. (2-1)
adalah fungsi analitik di x = x
0
(x
0
merupakan titik ordiner dari PD) maka setiap
penyelesaian dari (1) analitik di x = x
0
dan dapat dinyatakan dalam bentuk deret kuasa
dari x x
0
:
y =

=0 m
m
a (x x
0
)
m
= a
0
y
1
(x) + a
1
y
2
(x) ... (2-2)
a
0
dan a
1
adalah konstanta sembarang.
Contoh :
1. Selesaikan PD : y xy + 2y = 0
Penyelesaian :
)
`

=
=
2 ) x ( Q
x ) x ( P
P dan Q analitik di mana-mana, x = 0 merupakan titik Ordiner.
Tugas Matematika Lanjut Page 45

Sehingga y =

=0 m
m
a (x 0)
m

=

=0 m
m
a x
m
merupakan penyelesaian persamaan
differensial.
y =

=0 m
m
a x
m
= a
0
+ a
1
x + a
2
x
2
+ + a
s
x
s
+ ..
y =

= 1 m
m
a m x
m-1
= a
1
+ 2a
2
x + 3a
3
x
2
+ ..
y =

=2 m
(m 1) m a
m
x
m-2
= 2a
2
+ 2.3a
3
x + 3.4a
4
x
2
+ ..
subsitusi y, y dan y ke PD :

=2 m
(m 1) m a
m
x
m-2
x

=1 m
m a
m
x
m-1
+ 2

=0 m
a
m
x
m

= 0
[1.2a
2
+ 2.3a
3
x + 3.4a
4
x
2
+ .. + (s + 1))s + 2)a
s+2
x
s
+ ..+ +
[a
1
x + 2a
2
x
2
+ 3a
3
x
3
+ .. + sa
s
x
s
+ ..++
2[a
o
+a
1
x + 2a
2
x
2
+ 3a
3
x
3
+ + sa
s
x
s
+ ..+ = 0
kumpulkan suku-suku yang mengandung x dengan pangkat sama.
(2a
2
+ 2a
0
) + x(6a
3
a
1
+ 2 a
1
) +..+
[(s + 1) (s + 2) a
s+2
- sa
s
+ 2a
s
] x
s
= 0
samakan koefisien sisi sebelah kiri dan kanan tanda sama dengan :
koefisien x
0
: 2a
2
+ 2a
0
= 0 a
2
= -a
0

koefisien x
1
: (6a
3
a
1
+ 2a
1
) = 0 a
3
= -
6
1
a
1

koefisien x
s
: (s+1)(s+2)a
s+2
- sa
s
+2a
s
= 0 a
s+2
=
s
a
) 2 s ( ) 1 s (
2 s
+ +


rumus rekursi untuk s = 0,1,2 .
Dari rumus rekursi bisa ditentukan nilai a
m
untuk sembarang s
s = 0 a
2
=
2
a 2
0

= -a
0

Tugas Matematika Lanjut Page 46

s = 1 a
3
=
6
a
1

= -
6
1
a
1

s = 2 a
4
= 0
s = 3 a
5
=
1 1
3
a
20
1
a
6
1
20
1
20
a
= |
.
|

\
|
=
s = 4 a
6
= 0
30
a 2
4
=
s = 5 a
7
=
1 1
5
a
1680
1
a
120
1
42
3
42
a 3
= |
.
|

\
|
=
s = 6 a
8
= 0
63
a 4
0
=
PUPD : y =

=0 m
a
m
x
m
= a
0
+ a
1
x + a
2
x
2
+ a
3
x
3
+ ..
y = a
0
+ a
1
x a
0
x
2
-
6
1
a
1
x
3
+ 0x
4
-
120
1
a
1
x
5
+ 0x
6
-
1680
1
a
1
x
7
+ ..
y = a
0
(1 x
2
) + a
1
|
.
|

\
|
...... x
1680
1
x
120
1
x
6
1
x
7 5 3

y = a
0
y
1
+ a
1
y
2

y
1
= 1 x
2

y
2
= x -
6
1
x
3
-
120
1
x
5
-
1680
1
x
7
- .
2. Selesaikan PD : (x
2
+ 4)y + xy = x + 2
Penyelesaian :
Masing-masing ruas dibagi dengan (x
2
+ 4) menjadi :
y +
4 x
2 x
y
4 x
x
2 2
+
+
=
+

Cek apakah P, Q, dan R analitik di titik x = 0
P(x) = 0 analitik di titik x = 0
Q(x) =
4 x
x
2
+
analitik di titik x = 0
Tugas Matematika Lanjut Page 47

R(x) =
4 x
2 x
2
+
+
analitik di titik x = 0
x = 0 merupakan titik ordiner PD, sehingga penyelesaian PD :
y =

=0 m
a
m
x
m

y =

=1 m
ma
m
x
m-1

y =

=2 m
(m 1) ma
m
x
m-2

Substitusikan y : y dan y ke PD :
(x
2
+ 4)

=2 m
(m 1) ma
m
x
m-2
+ x

=0 m
a
m
x
m
= x + 2
atau :

=2 m
(m 1)ma
m
x
m
+ 4

=2 m
(m 1) ma
m
x
m-2
+

=0 m
a
m
x
m+1
= x + 2
atau :
2a
2
x
2
+ 6a
3
x
3
+ 12a
4
x
4
+ 20a
5
x
5
+ + (s 1)sa
s
x
s
+
8a
2
+ 24a
3
x + 48a
4
x
2
+ 80a
5
x
3
+ .+ 4(s + 1)(s + 2) a
s+2
x
s
+
a
0
x + a
1
x
2
+ a
2
x
3
+ a
3
x
4
+ + a
s-1
x
s
+ . = x + 2
Persamaan identitas :
Koefisien x
0
: 8a
2
= 2 a
2
=
4
1

x
1
: 24a
3
+ a
0
= 1 a
3
=
24
1
-
24
a
0

x
2
: 2a
2
+ 48a
4
+ a
1
= 0 a
4
= -
48
2
1
a
1
|
.
|

\
|
+

x
s
: (s -1)sa
s
+ 4 (s + 1)(s + 2)a
s+2
+ a
s-1
= 0
Tugas Matematika Lanjut Page 48

a
s+2
=
) 2 ( ) 1 ( 4
) 1 (
1
+ +
+

+
s s
sa s a
s s

Rumus rekursif untuk s = 2,3,4.
Rumus rekursif ini tidak berlaku untuk s = 0 dan s = 1, karena koefisien x
0
dan x
1

dalam ruas kanan PD (1) tidak nol. Sehingga untuk s = 2,3, :
s = 2 : a
4
=
96
1
48
a
48
2 / 1 a
) 4 )( 3 )( 4 (
a 2 a
1 1 2 1
=
+
=
+

s = 3 : a
5
=
320
a
160
1
80
4 / a 4 / 1 4 / 1
) 5 )( 4 )( 4 (
a 6 a
0 0 3 2
+

=
+
=
+

Jadi PUPD :
y = a
0
+ a
1
x +
4
1
x
2
+ |
.
|

\
|

24
a
24
1
0
x
3
+ |
.
|

\
|

93
1
48
a
1
x
4
+ |
.
|

\
|
+
320
a
160
1
0
x
5
+ .
y = |
.
|

\
|
+ + ........ x
160
1
x
96
1
x
24
1
x
4
1
5 4 3 2
+ + + |
.
|

\
|
+
0
5 3
a .......) x
320
1
x
24
1
1
1
4
a ....... x
48
1
x |
.
|

\
|
+
dengan : y
1
(x) = 1 - ...... x
320
1
x
24
1
5 3
+ +
y
2
(x) = x -
4
x
48
1
+
y
c
= penyelesaian komplementer, yaitu penyelesaian PD
Homogen : (x
2
+ 4)y + xy = 0
y
p
= penyelesaian partikulir, yaitu penyelesaian PD Non-
Homogen : (x
2
+ 4)y + xy = x + 2

Bila x = x
0
# 0 digunakan transformasi : t = x-x
0

x = t + x
0

dx = dt
dx
dt
dt
dx
= = 1
Tugas Matematika Lanjut Page 49

Sehingga PD : y + P(x)y + Q(x)y = 0 menjadi :


y =
dt
dy
dt
dy
dx
dt
dt
dy
dx
dy
= = = 1
y =
2
2
2
2
dt
y d
dt
dy
dt
d
dx
dy
dt
d
dt
dy
dx
d
dx
dy
dx
d
dx
y d
=
(

=
(

=
(

=
(

=
P(x) = P(t + x
0
)
Q(x) = Q(t + x
0
)
Pd menjadi : +
2
2
dt
y d
P(t + x
0
)
dt
dy
+ Q(t + x
0
)y =
2. Integral
Integral merupakan kebalikan dari proses diferensiasi. Integral ditemukan menyusul di-
temukannya masalah dalam diferensiasi di mana matematikawan harus berpikir bagai-mana
menyelesaikan masalah yang berkeba-likan dengan solusi diferensiasi
Integral terbagi dua yaitu integral taktentu dan integral tertentu. Perbedaanyang mendasar,
integral tertentu memiliki batas-batas.
1. Integral tak tentu adalah suatu bentuk operasi pengintegralan suatu fungsi yang
menghasilkan suatu fungsi baru. fungsi ini belum memiliki nilai pasti (berupa varia-bel)
sehingga cara pengintegralan yang menghasilkan fungsi tak tentu ini disebut integral tak
tentu.
Jika F adalah anti turunan dari f, maka:

) (
)) ( (
) ( ' x f
dx
x F d
x F = =


dx x f x F d ) ( )) ( ( =


} }
= dx x f x F d ) ( )) ( (


}
= + dx x f c x F ) ( ) (


c x F dx x f + =
}
) ( ) (


Integral tertentu adalah suatu bentuk operasi pengintegralan suatu fungsi pada
2. batas (selang) tertentu dan menghasilkan nilai pasti.
Jika F adalah anti turunan dari f, maka:
) ( ) ( ) ( a F b F dx x f
b
a
=
}
.
f(x) disebut integran, a disebut batas bawah dan b disebut batas atas, F(b) / F(a) adalah nilai
Fungsi hasil integral untuk x = a atau x = b.

Tugas Matematika Lanjut Page 50

RUMUS DASAR INTEGRAL TAKTENTU
Integral Aljabar
1. Jika n bilangan rasional dan n 1, maka:

}
+ =
+
+
c x dx x
n
n
n 1
1
1
dimana c adalah konstanta
Contoh 1:
}
+ = c x dx x
4
4
1
3

}
+ = + = c x x c x dx x
3
2
3
2
2
3
2
1

2. Jika f fungsi yang terintegralkan dan k suatu konstanta, maka:

} }
= dx x f k dx x kf ) ( ) (

Contoh 2:
} }
+ = = c x dx x dx x
4
4
2
3 3
2 2

} }
= dx x dx x
2
1
2
1
2
1


c x x c x + = + =
3
1
3
2
2
1
2
3
.

3. Jika f dan g fungsi-fungsi yg terintegralkan, maka:

} } }
+ = + dx x g dx x f dx x g x f ) ( ) ( ) ( ) (
4. Jika f dan g fungsi-fungsi yg terintegralkan, maka:

} } }
= dx x g dx x f dx x g x f ) ( ) ( ) ( ) (
Contoh 3:
}
= + dx x x 4 3 2
2 3


c x x x + + = 4
3
3
3
4
4
2


Aturan Integral Subtitusi
5. Jika u suatu fungsi yang dapat didiferen-sialkan dan r suatu bilangan rasional tak nol, maka:

}
+ =
+
+
c x u dx x u x u
r
r
r 1
1
1
)) ( ( ) ( ' )) ( (
,
di mana u merupakan turunan dari fungsi u, dan c adalah konstanta dan r 1.
Aturan ini merupakan salah satu teknik dalam menyelesaikan masalah Integral.
Contoh 4:
Tugas Matematika Lanjut Page 51

}
+1 3 . 3
2
x x
dx =...
(dx bisa diganti d(3x
2
+1) asal dibagi dengan turunannya).
=
}
+
2
1
6
) 1 3 .( 3
2
x
x x
d(3x
2
+1)
=
}
+
2
1
) 1 3 (
2
2
1
x
d(3x
2
+1)
=
1
2
1
1
2
1 2
1
2
1
) 1 3 (
+
+
+ x

=
2
3
) 1 3 (
2
3
2
2
1
+ x

=
1 3 ) 1 3 (
2 2
3
1
+ + x x
+ c
Aturan Integral Parsial
6. Jika u dan v fungsi-fungsi yang dapat didiferensialkan, maka:

} }
= du v uv dv u

Aturan ini juga merupakan salah satu teknik dalam menyelesaikan masalah Integral,
biasanya digunakan untuk me-nyelesaikan masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan
teknik Subtitusi.
Contoh 5:
}

6
) 1 ( 5 x x
dx =
Masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan integral subtitusi, karena (1x)

turunannya adalah 1 jadi tidak dapat menghilangkan 5x .
Dimisalkan 5x = u dan (1 x)
6
dx = dv, maka du = 5 dx dan
}
= dx x v
6
) 1 ( , gunakan teknik
subtitusi utk mencari v yaitu:
7
7
1
) 1 ( x v =
} }
= du v uv dx x x . ) 1 ( 5
6
}
dx x x x 5 . ) 1 ( } ) 1 ( .{ 5
7
7
1
7
7
1

} ) 1 ( . { ) 1 (
8
8
1
7
5
7
7
5
x x x
8
56
5
7
7
5
) 1 ( ) 1 ( x x x
Bisa juga menggunakan table parsial untuk mempermudah langkah penyelesaian se-bagai
berikut:
soal dibagi dua bagian penyelesaian, bagian kiri diferensialkan hingga sama dengan nol
dan bagian kanan di-integralkan hingga sebelah kirinya sama dengan nol.
Tugas Matematika Lanjut Page 52

5x (1 x)
6
d x
(+) 5
7
7
1
) 1 ( x
7
7
5
) 1 ( x
() 0
8
8
1
7
1
) 1 ( . x
8
56
5
) 1 ( x
Jadi:
8
56
5
7
7
5
6
) 1 ( ) 1 ( ) 1 ( 5 x x dx x x =
}

Catatan:
dikalikan, sedangkan tanda (+) atau () hasil integral yang akan di-jumlahkan. Untuk
baris ke tiga ber-tanda (+) dan terus berulang dengan bergantian tanda.
Integral Trigonometri
1. Rumus rumus dasar:

}
+ = c x dx x sin cos


}
+ = c x dx x cos sin

2. Rumus rumus lainnya:

}
+ = c x dx x tan sec
2


}
+ = c x dx x cot csc
2


}
+ = c x dx x x sec sec . tan


}
+ = c x dx x x csc csc . cot

3. Jika k dan a suatu konstantan, maka:

}
+ = c x dx ax k
a
k
sin cos


}
+ = c x dx ax k
a
k
cos sin

Contoh 6:

=
}
dx x cos 2
2
1


}

2
1
2
1
2
1
) ( sin
2
x d x


c x +
2
1
cos 4

Contoh 7:
Tugas Matematika Lanjut Page 53

=
}
dx x 3 sin 4


}

3
) 3 ( 3 sin
4
x d x


c x + 3 cos
3
4


4. Jika a dan b suatu konstanta, maka:
}
+ + = + c b ax dx b ax
a
) sin( ) cos(
1

}
+ + = + c d cx dx d cx
c
) cos( ) sin(
1

Contoh 8:

= +
}
dx x )
0
60 3 cos(


c x + + ) 60 3 sin(
0
3
1

5. Soal-soal lainnya:
Contoh 9:

}
= xdx x cos . 2 sin

Ada beberapa cara, misalnya dengan meng-ubah bentuk fungsi, baru diintegralkan:
)] 2 sin( ) 2 [sin( cos . 2 sin
2
1
x x x x x x + + = :
}
= xdx x cos . 2 sin

dx x x
}
+ sin 3 sin
2
1


) cos 3 cos (
3
1
2
1
x x


c x x + cos 3 cos
2
1
6
1

Atau
x x x x x cos . cos sin 2 cos . 2 sin =
}
= xdx x cos . 2 sin

dx x x
}

2
cos . sin 2

) (cos . cos 2
2
x d x
}

subtitusi

c x +
3
3
2
cos

Tugas Matematika Lanjut Page 54

}
=
b
a
b
a
x F dx x f ) ( ) (
Contoh 10:

}
= + .... cos ). 1 (
2
xdx x

Untuk masalah ini hanya bisa gunakan Integral parsial.
1
2
+ x xdx cos
x 2 x sin
2 x cos
0 x sin
c x x x x x + + + sin 2 cos 2 sin ) 1 (
2

RUMUS DASAR INTEGRAL TERTENTU




) ( ) ( a F b F =

Contoh 11:
= +
}
2
1
3
2 dx x x
1
2
2
1
4
2
1
x x +

)} 1 ( ) 1 ( { ) 2 ( ) 2 (
2
1 4
2
1
2
1 4
2
1
+ + =

8 } { 1 8
2
1
2
1
= + + =

atau
= +
}
2
1
3
2 dx x x
1
2
2
1
4
2
1
x x +

) 1 2 ( ) 1 2 (
2
1
4 4
2
1
+ =


8 ) 1 ( ) 15 (
2
1
2
1
= + =

1. Teorema Kelinearan
Jika f dan g terintegralkan pada interval [a, b] dan k suatu konstanta, maka:
i). } }
=
b
a
b
a
dx x f k dx x f k ) ( ) ( .

Tugas Matematika Lanjut Page 55

ii).
} } }
+ = +
b
a
b
a
b
a
dx x g dx x f dx x g x f ) ( ) ( ) ( ) (
iii).
} } }
=
b
a
b
a
b
a
dx x g dx x f dx x g x f ) ( ) ( ) ( ) (
Contoh 12:
} }
= =
4
2
4
2
3
3
2
2
4
2
2
) ( 2 2 x dx x dx x


3
112
3
2
3 3
3
2
) 8 64 ( ) 2 4 ( = =

2. Teorema Perubahan batas
Jika f terintegralkan pada interval [a, b], maka:
i).
}
=
a
a
dx x f 0 ) (
ii). } }
=
b
a
a
b
dx x f dx x f ) ( ) (

3. Teorema Penambahan Interval
Jika f terintegralkan pada interval yang memuat tiga titik a, b, dan c,
} } }
+ =
c
b
b
a
c
a
dx x f dx x f dx x f ) ( ) ( ) (
4. Teorema Kesimetrisan

i) Jika f fungsi genap, maka
} }

=
a a
a
dx x f dx x f
0
) ( 2 ) (

ii) Jika f fungsi ganjil, maka

0
}

=
a
a
dx x f ) (

Menghitung integral tak tentu dan integral tertentu fungsi aljabar dan fungsi trigonometri
1. Diketahui
}
= + +
3
2
. 25 ) 1 2 3 (
a
dx x x
Nilai
a
2
1
=.
Jawab:
}
+ + = + +
3
3 2 3 2
. ) 1 2 3 (
a
a
x x x dx x x

Tugas Matematika Lanjut Page 56

. 25 ) ( ) 3 3 3 (
2 3 2 3
= + + + + a a a
. 25 ) ( ) 39 (
2 3
= + + a a a
. 0 14
2 3
= + + a a a
Nilai a yang memenuhi = 2
Maka nilai
a
2
1
=
2
2
1
= 1
2. Nilai
.... cos . 2 sin
0
=
}
dx x x
t

Jawab:
Berdasarkan contoh 9, maka
t
t
0 2
1
6
1
0
cos 3 cos cos . 2 sin x x dx x x =
}


) 0 cos 0 cos ( cos 3 cos
2
1
6
1
2
1
6
1
t t
)] 1 ( ) 1 ( [ ) 1 ( ) 1 (
2
1
6
1
2
1
6
1

3
4
2
1
6
1
2
1
6
1
)] [ = +
Atau
t
t
0
3
3
2
0
cos cos . 2 sin x dx x x =
}


) 0 cos ( cos
3
3
2
3
3
2
t
] ) 1 ( [ ) 1 (
3
3
2
3
3
2

3
4
3
2
3
2
= +
3. Hasil dari
}
= +
1
0
2
... 1 3 3 dx x x
Jawab:
Kita dapat gunakan teknik Integral Subtitusi dengan mengubah dx menjadi d(3x
2
+1) dan
membagi dengan 6x (turunan 3x
2
+1)
} }
+
+
= +
1
0
2
1
0
2
2
). 1 3 (
6
1 3 3
1 3 3 x d
x
x x
dx x x

}
+ = + +
1
0
1
0
2
3
2
2
1 2 2
2
1 2
3
2
1
) 1 3 ( . ) 1 3 ( ) 1 3 x x d x (

3
7
3
1
3
2
2
1
7 . ] ) 1 ( ) 4 [(
2
3
2
3
= =
Tugas Matematika Lanjut Page 57

4. Nilai
.... 5 cos . 3 sin
2
0
=
}
dx x x
t

Jawab:
Ubah bentuk x x 5 cos . 3 sin dengan rumus trigonometri )] sin( ) [sin( cos . sin
2
1
b a b a b a + + =
)] 5 3 sin( ) 5 3 [sin( 5 cos . 3 sin
2
1
x x x x x x + + =
) 2 sin 8 (sin
2
1
x x , maka
Aplikasi Integral
I. LUAS DAERAH
Konsep dasar:
Luas suatu daerah merupakan limit jumlah garis (persegi- panjang) dari satu batas ke batas
berikutnya.
Luas suatu daerah dapat dihitung dengan cara menggeser/menggerakan garis (x atau y)
terhadap sumbu hingga menutupi daerah yang dimaksud.
Jika garisnya sejajar sumbu-y maka bergeraknya sepanjang sumbu-x :
}
b
a
dx Y , dan jika
garisnya sejajar sumbu-x maka bergeraknya sepanjang sumbu-y:
}
b
a
dy X
RUMUS DASAR LUAS DAERAH
}
=
b
a
dx Y L

atau
}
=
d
c
dy X L

Berikut beberapa model masalah
Luas Daerah
1. Luas daerah yang di batasi oleh kurva y = f(x) > 0 ; sb-x ; garis x = a ; garis x = b







Batas-batasnya ada pada sumbu-x
Batas-batasnya ada pada sumbu-y
a
f(x)
y
b
x
}
=
b
a
dx x f L ) (

Tugas Matematika Lanjut Page 58

}
=
d
c
dy y g ) ( L

}
=
d
c
dy y g ) ( L

g(y)
y
x
d
c
2. Luas daerah yang dibatasi oleh kurva
x = f(y) > 0 ; sb-y ; garis y = c ; garis y = d


Rumus:




3. Luas daerah yang di batasi oleh kurva y = f(x) s 0 ; sb-x ; garis x = a ; garis x = b






Rumus:

4. Luas daerah yang dibatasi oleh kurva
x = f(y) s 0 ; sb-y ; garis y = c ; garis y = d





5. Jika y = f(x) pada interval a < x < b grafiknya memotong sumbu-x, maka luasnya
merupakan jumlah dari bebe-rapa integral tertentu





Rumus:

c
g(y)
y
d
x
}
=
d
c
dy y g L ) (

y = f(x)
x
y
a
b
c
} }
+ =
b
c
c
a
dx f(x) dx f(x) L

} }
= =
b
a
b
a
dx x f dx x f ) ( ) ( L

a
f(x)
y
b
x
y
Tugas Matematika Lanjut Page 59

6. Luas daerah yang dibatasi oleh kurva
y = f
1
(x); y = f
2
(x) ; garis x = a ; garis x = b




Rumus:

7. Luas daerah yang dibatasi oleh kurva
y = f
1
(x) ; y = f
2
(x) yang berpotongan pada titik yang berabsis a dan b





Rumus:
8. Luas daerah yang dibatasi oleh kurva
y = f
1
(x); dan garis y = f
2
(x) berpotong-an pada titik yang berabsis a






Beberapa Teknik Menghitung Luas Daerah
1. Luas daerah yang dibatasi sebuah kurva dalam interval tertentu.
Langkah-langkahnya:
a. Tentukan daerah yang diminta dengan menggambar daerahnya
b. Perhatikan daerah yang dimaksud untuk menentukan batas-batas integrasinya
c. Tentukan rumus luas yang akan digunakan
d. Hitung nilai integral sebagai hasil luas daerah.

Contoh 13:
Tentukan luas daerah yang dibatasi oleh: 4 4
2
+ = x x y , sb-x dan sb-y.

}
=
b
a
1 2
)} ( ) ( { L dx x f x f

y = f
2
(x)
y = f
1
(x)
x
b a
y
y = f
1
(x)
y = f
2
(x)
a b
x
}
=
b
a
dx x f x f )} ( ) ( { L
2 1

y
y = f
1
(x)
y = f
2
(x)
a b
x
} }
+ =
a
0
2 1
) ( ) ( L dx x f dx x f
b
a

Tugas Matematika Lanjut Page 60

Jawab:
Melukis kurva:
4 4
2
+ = x x y

ttk pot dgn sb-x, y = 0
0 4 4
2
= + x x
0 ) 2 (
2
= x
(2, 0)
ttk pot dgn sb-y, x = 0 (0, 4)


dx x x dx y 4 4 L
2
0
2
2
0
} }
+ = =

0
2
4 2
2 3
3
1
x x x + =

3
8
=
satuan luas
atau
dengan rumus lain dengan mengubah bentuk fungsinya,
2 2
) 2 ( 4 4 = + = x y x x y

y x = 2
dan batasnya 0 s.d 4
}
=
4
0
x L dy
dx y 2
4
0
}
=


0
4
2
3
2
y y y

3
8
=
satuan luas
2. Luas daerah yang dibatasi dua kurva.
Langkah-langkahnya:
a. Tentukan daerah yang diminta dengan menggambar kedua kurva
b. Perhatikan daerah yang dimaksud untuk menentukan batas-batas dan dasar sumbu
integrasinya ,
Tentukan rumus dasar yang akan dipakai :
dx y y L
b
a
}
=
2 1 atau
dy x x L
d
c
}
=
2 1
Jika kurva 1 berada di atas/kanan kurva 2


dx y y L
b
a
}
+ =
2 1 atau
dy x x L
d
c
}
+ =
2 1
Jika kedua kurva bersebelahan/ berlanjut.
2
4
Jika memperhatikan daerah yang diminta, maka luas daerahnya bisa dihitung
sebagai -berikut :
Tugas Matematika Lanjut Page 61

2
y x =
y x =6
2
y
6
x
0
6
Contoh 10:
Hitunglah luas daerah tertutup yang dibatasi kurva y
1
= x
2
dan garis y
2
= 2 - x
Jawab :
a. Gambar daerahnya
b. Tentukan titik potong kedua kurva y
1
= y
2
x
2
= 2 x x
2
+ x 2 = 0 (x + 2)(x 1) =
0 diperoleh x = -2 dan x = 1, maka batas daerahnya dari -2 s.d 1






c. Rumus luas yang dipakai

}

=
1
2
2 1
L dx y y

d. Menghitung luasnya :

}

=
1
2
2
) ( ) 2 ( L dx x x

1
2
3
3
1
2
2
1
2

= x x x

) 8 1 ( ) 4 1 ( ) 2 1 ( 2
3
1
2
1
+ + = = 4 satuan luas
Contoh 11:
Hitunglah luas daerah yang dibatasi kurva y
2
= x, garis x + y = 6, dan sumbu x
Jawab :
a. Gambar daerahnya
b. Tentukan titik potong kedua kurva
x
1
= x
2
y
2
= 6 y y
2
+ y 6 = 0
(y + 3)(y 2) = 0
Diperoleh: y = - 3 dan y = 2




c. Rumus luas yang dipakai
0
x
1 2 -1 -2 -3
2
2
x y =
x y = 2
y
1
3
4
Tugas Matematika Lanjut Page 62

2
y x =
y x =6
2
y
6
x
0
6 4

}
=
2
0
1 2
L dy x x

d. Menghitung luasnya :
}
=
2
0
2
6 L dy y y


2
0
3
3
1
2
2
1
6 y y y =

=
3
25
satuan luas
Bisa juga diselesaikan dengan pendekat-an lain (dengan dasar sumbu x).
Jawab :
a. Gambar daerahnya
b. Tentukan titik potong kedua kurva
y
2
disubtitusi ke y
1
(6 x)
2
= x
36 12x +x
2
x = 0 (x 4)(x 9)=0
diperoleh: x = 4 dan x = 9






c. Rumus luas yang dipakai

} }
+ =
4
0
6
4
2 1
L dx y dx y


x y =
1
dan
x y = 6
2


d. Menghitung luasnya :

} }
+ =
4
0
6
4
) 6 ( L dx x dx x


] 6 [
6
4
2
2
1
4
0
3
2 2
3
x x x + =
=
3
25
satuan luas
Konsep dasar:
Tugas Matematika Lanjut Page 63


a b
y = f(x)
y
x
a b
y = f(x)
y
x
Volume benda putar merupakan volume bangun ruang yang terbentuk karena suatu daerah
diputar mengelilingi salah satu sumbu .
Untuk menghitung volume benda putar kita lakukan dengan menggunakan luas daerah
lingkaran yang bergerak memenuhi seluruh benda yang dimaksud.
Jika daerahnya diputar mengelilingi sumbu-x, maka lingkarannya berjari-jari Y dan bergerak
mengikuti sumbu-x (dx) dan jika daerahnya diputar mengelilingi sumbu-y, maka lingkarannya
berjari-jari X dan bergerak mengikuti sumbu-y (dy)
Catatan: rumus luas lingkaran:
2
L r t =
RUMUS DASAR
VOLUME BENDA PUTAR

}
=
b
a
dx Y L
2
t

atau

}
=
d
c
dy X L
2
t

Berikut beberapa model masalah
Volume Benda Putar
1. Volume benda putar yang terbentuk oleh daerah yang dibatasi: y = f(x) ; garis x = a ; dan
garis x = b





diputar mengelilingi sb-x, maka




RUMUS:
}
=
b
a
dx x f
2
)} ( { V t

Diputar
mengelilingi
sumbu-x
Tugas Matematika Lanjut Page 64


c
d x =f(y)
x
y

y =f
1
(x)
y
y =f
2
(x)
x
a
b
2. Volume benda putar yang terbentuk oleh daerah yang dibatasi: x = f(y) ; garis y = c ; dan
garis y = d






diputar mengelilingi sb-y, maka





Rumus :
}
=
d
c
dy y f
2
)} ( { V t


3. Volume benda putar yang terbentuk oleh daerah yang dibatasi: Y = f
1
(x); Y = f
2
(x) ; garis
x = a ; garis x = b





diputar mengelilingi sumbu-x , maka





RUMUS:
}
=
b
a
dx x f x f ] )} ( { )} ( [{ V
2
2
2
1
t

c
d
x =f(y)
x
y
y =f
1
(x)
y
y =f
2
(x)
x
a
b
Tugas Matematika Lanjut Page 65


) ( X
2
y f =
) ( X
1
y f =
y
x
0
a
b
4. Volume benda putar yang terbentuk oleh daerah yang dibatasi: dibatasi X = f
1
(y) ; X = f
2

(y) ; dan garis x = 0 Kedua kurva berpotongan di titik yang berordinat; y = a, dan daerah
berada di kuadran 2








diputar mengelilingi sumbu-y, maka






RUMUS:
} }
+ =
a b
a
dy y f dy y f
0
2
1
2
2
} ) ( { )} ( { V t


Beberapa teknik
Menghitung Volume Benda Putar.
1. Pastikan gambar daerah yang akan diputar sudah sesuai dengan batas-batasnya.
2. Perhatikan sumbu yang menjadi pusat pemutaran. Jika diputar terhadap sumbu-x, maka
batas-batasnya harus ada pada sumbu-x juga. Jika diputar terhadap sumbu-y, maka batas-
batas-nya harus ada pada sumbu-y juga.
3. Untuk daerahnya terdiri dari dua kurva maka perhatikan posisi keduanya.
Berikut beberapa contoh:
1. Tentukan volume benda putar yang dibatasi oleh kurva y = x
2
-x diputar
mengelilingi sumbu-x sejauh 360
o
!
Jawab:




) ( X
2
y f =
) ( X
1
y f =
y
x
0
a
b
1
2
= x y
y
x
0

1
Tugas Matematika Lanjut Page 66

Diputar mengelilingi sumbu-x





Menghitung Volume Benda Putarnya:
}

=
1
1
2 2
} 1 { V dx x t

}
+ =
1
0
2 4
1 2 2 dx x x t


] [ 2
1
0
3
3
2
5
5
1
x x x + = t


] 1 [ 2
15
26
3
2
5
1
t t = + =
sv

2. Volume benda putar yang dibatasi oleh kurva y = x
2
+ 4 & y = 2x + 4 diputar 360
0

mengelilingi sumbu-y !
Jawab:




Karena diputar terhadap sumbu-y, maka bentuk fungsi diubah
y x x y = + = 4 4
2
,f(y)}
) 4 ( 4 2
2
1
y x x y = + =
,g(y)}
V = }

b
a
y g y f dy ) ( ) (
2 2
t
= }

4
0
2 2
dy )
2
1
2 ( ) 4 ( y y t

= }
+
4
0
2
dy )
4
1
2 4 ( ) 4 ( y y y t
=
}
+
4
0
2
dy y
4
1
y t

=
t
0
4
2
1
12
1
2 3
y y +
= t
3
8
sv

3. Tentukan volume benda putar yang diba-tasi oleh kurva y = 6x x
2
dan y = x
2
, diputar
mengelilingi sumbu-x sejauh 360
o
!
1
2
= x y
y
x

1 0
2
4
4
2
+ = x y
4 2 + = x y
Tugas Matematika Lanjut Page 67







tentukan
titik pot. Ke-2
kurva:
2 1
y y =

2 2
6 x x x = 0 6 2
2
= x x

0 ) 6 2 ( = x x
; (0,0) dan (3,9)
V =
dx y y
2
1
2
3
0
2
) ( ) (
}
t
=
dx x x x
2
3
0
2 2 2
) ( ) 6 (
}
t

=
dx x x x x
}
+
3
0
4 4 3 2
) 12 36 ( t
=
dx x x
}

3
0
3 2
12 36 t

=
t t 81 3 12
3
0
4 3
= x x

1. Luas daerah yang dibatasi oleh kurva:
2
x y = dan garis x + y = 6 adalah ... .
Jawab:







Dengan memperhatikan daerahnya, maka
Rumus luas yang dipakai :

}

=
2
3
2 1
dx y y L

2
1
x y =
2
2
6 x x y =
3
6
Daerah
yang
diputar
y
x
0
1 -3 2 6 -1
2
x y =
6 = + x y
Tugas Matematika Lanjut Page 68

}

=
2
3
2
) ( ) 6 ( dx x x L

2
3
3
3
1
2
2
1
6

= x x x ) 27 8 ( ) 9 4 ( ) 3 2 ( 6
3
1
2
1
+ + =
=
6
5
20 satuan luas
2. Luas daerah yang diarsir pada gambar adalah satuan luas







Jawab:

}
=
3
1
2 1
dx y y L

}
+ + =
3
1
2 2
) 3 4 ( 5 6 dx x x x x L

}
+
3
1
2
8 10 2 dx x x =

3
1
2 3
3
2
8 5 x x x +


3
1 3
2
) 1 3 ( 8 ) 1 9 ( 5 ) 1 27 ( +
L =
3
2
6 satuan luas

3. Volume benda putar bila daerah yang di-batasi kurva
2
1
2x y = , x y
2
1
= dan 4 = x diputar
360
o
mengelilingi sumbu x adalah

Jawab:







dx y y
2
2
2
4
0
1
) ( ) ( =
}
t V

0
x
1
2
y
1
3
4
3
5 6
2
+ = x x y
2
3 = x
3 4
2
+ = x x y
x y
2
1
=
x y 2 =
2
x
0
4
Tugas Matematika Lanjut Page 69

y
x
0
1 -3 2 -1
1
2
+ = x y
3 + = x y
dx x x
2
2
1
2
4
0
) ( ) 2 ( =
}
t V

dx x x
2
4
1
4
0
4
}
t
4
0
3
12
1
2
2 x x =
4 4 4 16 2
12
1

t
3
2
3
1
26 ) 2 ( 16 = satuan volum
4. Volume benda putar yang terjadi, jika daerah antara kurva 1
2
+ = x y dan 3 + = x y ,
diputar mengelilingi sumbu x adalah satuan volum
Jawab:






dx y y
2
2
2
2
1
1
) ( ) ( =
}

t V


dx x x
2 2 2
2
1
) 1 ( ) 3 ( + + =
}

t V

dx x x x x ) 1 2 ( 9 6
2 4
2
1
2
+ + + +
}

t


dx x x x
4
2
1
2
8 6 + +
}

t

2
1
5
5
1
2 3
3
1
8 3

+ + x x x x ) 1 32 ( ) 1 2 ( 8 ) 1 4 ( 3 ) 1 8 (
5
1
3
1
+ + + + +
t
5
2
5
1
3
1
23 33 3 . 8 3 . 3 9 . = + +


Tugas Matematika Lanjut Page 70

PENGANTAR TRANSFORMASI LAPLACE

Transformasi Laplace
Definisi :
Misalkan ) (t f suatu fungsi t dan t > 0, maka transformasi Laplace dari F(t) dinotasikan dengan L{f(t)} yang
didefinisikan oleh:
}

= =
`
0
) ( ) ( )} ( { s F dt t f e t f L
st

Karena :
)} ( { t f L
adalah integral tidak wajar dengan batas atas di tak hingga ( ) maka :

}

= =
`
0
) ( ) ( )} ( { s F dt t f e t f L
st

}


=
p
st
p
dt t f e Lim
0
) (
Transformasi Laplace dari F(t) dikatakan ada, jika integralnya konvergen untuk beberapa nilai s, bila tidak
demikian maka transformasi Laplace tidak ada.
Selanjutnya bila suatu fungsi dari t dinyatakan dengan huruf besar, misalnya W(t), G(t), Y(t) dan seterusnya,
maka transformasi Laplace dinyatakan dengan huruf kecil yang bersangkutan sehingga L {W(t)} = w(s), L {G(t)} =
g(s), L {Y(t)} = y(s) dan seterusnya.
Teorema
Jika F(t) adalah fungsi yang kontinu secara sebagian-sebagian dalam setiap interval 0 s st N dan eksponensial
berorde untuk t > N, maka transformasi Laplace f(s) ada untuk setiap s >
Berdasarkan definisi di atas, dapat ditentukan transformasi Laplace beberapa fungsi sederhana.
Tabel 3.1 Tabel Transformasi Laplace
No f(t) F(s)
1 ( ) t o 1
2 1
s
1

3 t
2
1
s

Tugas Matematika Lanjut Page 71

4
) 1 (
1

n
t
n

n
s
1

5
n
t
1
!
+ n
s
n

6
at
e


a s +
1

7
at n
e t
n

1
)! 1 (
1

n
a s ) (
1
+

8
at
te


2
) (
1
a s +

9 Sin wt
2 2
w s
w
+

10 Cos wt
2 2
w s
s
+

11
at n
e t


1
) (
!
+
+
n
a s
n

12 wt e
at
sin


2 2
) ( w a s
w
+ +

13 wt e
at
cos


2 2
) ( w a s
a s
+ +
+

14 ( )
at
e
a

1
1

) (
1
a s s +


Sebagai pemahaman bagi pembaca, berikut ini diberikan beberapa contoh transformasi Laplace suatu fungsi.
Tentukan transformasi Laplace fungsi berikut:
1. 1 ) ( = t F

}

= =
`
0
) ( 1 )} ( { s f e t F L
st

}


=
p
st
p
dt e Lim
0
p
st
p
e
s
0
1
lim
(

=


(

+ =


0
1 1
lim
se se
p

s
1
0 + =
s
1
= ) (s f =
2. t t F = ) (
}

=
`
0
)} ( { dt t e t F L
st
( )
st
p
p
e d
s
t


}
=
0
1
. lim dt e te
s
p
st st
p
}


=
0
lim
1

Tugas Matematika Lanjut Page 72

p
st st
p
e
s
te
s
0
1
lim
1
(

+ =


p
sp sp
p
e
s
e e
s
pe
s
0
0 0
1
0
1
lim
1
(

+
(

+ =



( )
(

|
.
|

\
|
+ + =
s s
1
0 0 0
1
|
.
|

\
|
=
s s
1
0
1
2
1
s
=
3.
at
e t F = ) (

}

=
`
0
)} ( { dt e t e t F L
at st
dt e
p
t a s
p
}


=
0
) (
lim | |
p
t a s
p
e
a s
0
) (
lim
1

=

(


=


0 ) (
) (
1 1
lim
) (
1
a s
a s p
e
e
a s a s
=
1

4. at t F sin ) ( =
dt e t F L
st
}

=
0
at sin )} ( {
}
=


p
st
p
at d
a
e Lim
0
) (cos
1


p
st st
p
e atd
a
e at
a
Lim
0
0
) ( cos
1
. cos
1
|
|
.
|

\
|
+ =
}





p
p
st st
p
dt e at
a
s
e at
a
Lim
0
. cos . cos
1
|
|
.
|

\
|
+ =
}





p
st st
p
at d
a
e
a
s
e at
a
Lim
0
0
) (sin
1
. . cos
1
|
|
.
|

\
|
=
}





p
p
st st st
p
e d at at e
a
s
e at
a
Lim
0
0
2
) ( . sin sin ( . cos
1
|
|
.
|

\
|
=
}




p
p
st st st
p
se at at e
a
s
e at
a
Lim
0
0
2
) . sin sin ( . cos
1
|
|
.
|

\
|
=
}




p
p
st st st
p
se at
a
s
at e
a
s
e at
a
Lim
0
0
2
2
2
) . sin sin . cos
1
|
|
.
|

\
|
=
}




p
st st
p
e at
a
s
e at
a s a
a
Lim
0
2 2 2
2
. sin . cos
1
|
.
|

\
|

+
=



|
.
|

\
|

+
=
st st
e a
at s
e a
at
s a
a
.
sin .
.
cos
2 2 2
2
( )
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|

+
= 0
1
0 0
2 2
2
a s a
a

Tugas Matematika Lanjut Page 73

|
.
|

\
|
+
=
a s a
a 1
2 2
2
2 2
s a
a
+
=
5. at t F cos ) ( =
dt e t F L
st
}

=
0
at cos )} ( {
}


=
p
st
p
at d
a
e Lim
0
) (sin
1


p
st st
p
e atd
a
e at
a
Lim
0
0
) ( sin
1
. sin
1
|
|
.
|

\
|
=
}





p
p
st st
p
dt e at
a
s
e at
a
Lim
0
. sin . sin
1
|
|
.
|

\
|
+ =
}





p
st st
p
at d
a
e
a
s
e at
a
Lim
0
0
) cos (
1
. . sin
1
|
|
.
|

\
|
+ =
}





p
p
st st st
p
e d at at e
a
s
e at
a
Lim
0
0
2
) ( . cos ) cos ( ( . sin
1
|
|
.
|

\
|
+ =
}




p
p
st st st
p
dt se at at e
a
s
e at
a
Lim
0
0
2
) . cos ) cos ( . sin
1
|
|
.
|

\
|
+ =
}




p
p
st st st
p
e at
a
s
at e
a
s
e at
a
Lim
0
0
2
2
2
) . cos ) cos ( . sin
1
|
|
.
|

\
|
=
}




p
st st
p
e at
a
s
e at
a a s
a
Lim
0
2 2 2
2
. cos . sin
1
|
.
|

\
|

+
=



|
.
|

\
|

+
=
st st
e a
at s
e a
at
a s
a
.
cos .
.
sin
2 2 2
2
( )
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|

+
=
2 2 2
2
0 0 0
a
s
a s
a

|
.
|

\
|
+
=
2 2 2
2
a
s
a s
a
2 2
a s
a
+
=


Syarat Cukup Transformasi Laplace Ada
Jika F(t) adalah kontinu secara sebagian-sebagian dalam setiap selang berhingga 0 N t s s dan
eksponensial berorde untuk t > N, maka transformasi Laplacenya f(s) ada untuk semua s > .
Perlu ditekankan bahwa persyaratan-persyaratan yang dinyatakan adalah CUKUP untuk menjamin bahwa
transformasi Laplace-nya ada. Akan tetapi transformasi Laplace dapat ada atau tidak walaupun persyaratan ini
tidak dipenuhi.
Tugas Matematika Lanjut Page 74

Metode Transformasi Laplace
Untuk memudahkan bagi pengguna matematika, terdapat beberapa cara yang digunakan untuk menentukan
transformasi Laplace. Cara tersebut adalah:
a. Metode langsung, berkaitan dengan definisi.
Metode ini berkaitan langsung dengan definisi
}

=
0
) ( )} ( { dt t F e t F L
st
}


=
p
st
p
dt t F e Lim
0
) (
Contoh
}

=
0
) ( )} ( { dt t F e t F L
st
}


=
p
st
p
tdt e
0
lim ) (
1
. lim
0
st
p
p
e d
s
t


}
= dt e te
s
p
st st
p
}


=
0
lim
1


p
st st
p
e
s
te
s
0
1
lim
1
(

+ =


(

=
s s
1
0
1
2
1
s
= ) (s f =
b. Metode Deret
Misal F(t) mempunyai uraian deret pangkat yang diberikan oleh
... ) (
3
3
2
2 1 0
+ + + + = t a t a t a a t F
n
n
n
t a

=
=
0

Maka transformasi Laplacenya dapat diperoleh dengan menjumlahkan transformasi setiap sukunya dalam
deret, sehingga:
... } { } { } { } { )} ( {
3
3
2
2 1 0
+ + + + = t a L t a L t a L a L t F L ...
! 2
3
2
2
1
+ + + =
s
a
s
a
s
a
o

+
+
=
0
1
!
n
n
n
s
a n
, syarat ini berlaku jika deretnya konvergen untuk s >
c. Metode Persamaan differensial
Metode ini menyangkut menemukan persaman differensial yang dipenuhi oleh F(t) dan kemudian
menggunakan teorema-teorema di atas.
d. Menurunkan terhadap parameter
e. Aneka ragam metode, misalnya dengan menggunakan teorema-teorema yang ada.
f. Menggunakan tabel-tabel, melalui penelusuran rumus yang sudah ditetapkan.

Sifat-sifat Transformasi Laplace
Transformasi Laplace suatu fungsi mempunyai beberapa sifat, sifat-sifat tersebut antara lain:
a) Sifat linear
Jika c
1
dan c
2
adalah sebarang konstanta, sedangkan ) (
1
t F dan ) (
2
t F adalah fungsi-fungsi dengan
transformasi-transformasi Laplace masing-masing ) (
1
s f dan ) (
2
s f , maka:
Tugas Matematika Lanjut Page 75

) ( ) ( )} ( ) ( {
2 1 1 2 2 1 1
s f c s f c t F c t F c L + = +
Bukti:
}

+ = +
0
2 2 1 1 2 2 1
)} ( ) ( { )} ( ) ( { dt t F c t F c e t F c t F c L
st
} }

+ =
0
2 1
0
1 1
) ( ) ( dt t F c e dt t F c e
st st


} }


+ =
0
2
0
2 1 1
) ( ) ( dt t F e c dt t F e c
st
p
st

) ( ) (
2 2 1 1
s f c s f c + =
Contoh soal :
1. } 3 { } 5 { } 3 5 { } 3 5 { L t L a t L t L = = } 1 { 3 } { 5 L t L =
s s
1
3
1
5
2
=
s s
3 5
2
=
2. } 2 cos 5 { } 2 sin 6 { } 2 cos 5 2 sin 6 { t L t L t t L = } 2 {cos 5 } 2 {sin 6 t L t L =

4
5
4
2
6
2 2
+

+
=
s
s
s 4
5 12
2
+

=
s
s


3. } 1 2 { } ) 1 {(
2 4 2 2
+ + = + t t L t L } 1 { } 2 { } {
2 4
L t L t L + + = } 1 { } { 2 } {
2 4
L t L t L + + =

s s s
1 ! 2
2
! 4
1 2 1 4
+ |
.
|

\
|
+ =
+ +
s s s
1 4 24
3 5
+ + =

4. } 2 cos 2 4 sin 3 6 4 {
2 5
t t t e L
t
+ + } 2 cos 2 { } 4 sin 3 { } 6 { } 4 {
2 5
t L t L t L e L
t
+ + =
{ } { } { } { } t L t L t L e L
t
2 cos 2 4 sin 3 6 4
2 5
+ + =

4
2
4
4
3
2
6
5
1
4
2 2 3
+
+
+
+

=
s
s
s s s 4
2
16
12 12
5
4
2 2 3
+
+
+
+

=
s
s
s s s

Dengan menggunakan sifat linear, tentukan transformasi Laplace fungs berikut.
1.
t
e t t F

+ =
2
2 ) ( t
2. t t t F 2 cos 2 sin 6 ) ( =
3.
2
) cos (sin ) ( t t t F =
4. t t t F sinh
2
1
3 cosh ) ( =
5. 2 2 ) ( + = t t F
3

6.
2
) 3 (sin ) ( = t t F
b) Sifat translasi atau pergeseran pertama
Jika ) ( )} ( { ) ( )} ( {
2
a s f t F e L maka s f t F L
t
= =
Tugas Matematika Lanjut Page 76

Bukti :
Karena
}

= =
`
0
) ( ) ( )} ( { s f dt t F e t F L
st
, maka
}

=
`
0
) ( )} ( { dt t F e e t F e L
at st at
}


=
0
) (
) ( dt t F e
t a s
) ( a s f =
Contoh:
1. Tentukan ) ( )} ( { )} ( {
3
s f t F L jika t F e L
t
=


Menurut sifat 2 di atas, ) ( )} ( { a s f t F e L
at
=
Maka ( ) ) 3 ( )} ( {
3
=

s f t F e L
t
) 3 ( + = s f
2. Tentukan |
.
|

\
|
=
a
s
f t F L jika t F e L
t
)} ( { )}, ( {
2

Menurut sifat 2 di atas, ) ( )} ( { a s f t F e L
at
=
Karena |
.
|

\
|
=
|
.
|

\
|
=
a
s
f t F e L maka
a
s
f t F L
t
2
)} ( { , )} ( {
2
|
.
|

\
|
=
a a
s
f
2

3. Tentukan
4
} 2 {cos )} ( {
2
+
=

s
s
t L jika t F e L
t

Karena
4
} 2 {cos
2
+
=
s
s
t L maka menurut sifat translasi pertama
) 1 ( )} ( { + =

s f t F e L
t

4 ) 1 (
1
)} ( {
2
+ +
+
=

s
s
t F e L
t
5 2
1
2
+ +
+
=
s s
s

4. Tentukan )} 6 sin 5 6 cos 3 ( {
2
t t e L
t


Me6nurut sifat linear,
)} 6 sin 5 ( { )} 6 cos 3 ( { )} 6 sin 5 6 cos 3 ( {
2 2 2
t e L t e L t t e L
t t t
=
} 6 sin { 5 } 6 cos { 3
2 2
t e L t L
t t
= }
Karena
36
6
} 6 {sin
36
} 6 {cos
2 2
+
=
+
=
s
t L dan
s
s
t L
maka menurut sifat translasi
) 2 ( 3 } 6 cos { 3
2
+ =

s f t L
t
36 ) 2 (
) 2 (
3
2
+ +
+
=
s
s
,
Tugas Matematika Lanjut Page 77

dan
2 (
6
5 } 6 sin { 5
2
+
=

s
t L
t

sehingga
L{e
36 ) 2 (
6
5
36 ) 2 (
) 2 (
3 )} 6 sin 5 6 cos 3 ( {
2 2
2
+ +

+ +
+
=

s s
s
t t e L
t
40 4
24 3
2
+ +

=
s s
s

Soal
Tentukan transformasi Laplace fungsi
1) t e t F
t 2
sin ) (

=
2)
3
) 1 ( ) (
t
te t F

+ =
3) ) 2 cosh 5 2 sinh 3 ( ) ( t t t F
t
=


4)
t
e t t F
2
) 2 ( ) ( + =
5) ( ) t t e t F
t
3 cosh 2 sinh ) (
2
+ =
6) ) 2 1 ( ) ( t e t F
t
+ =



c. Sifat translasi atau pergeseran kedua
Jika ) ( )} ( { s f t F L = dan

<
>
=
a t untuk
a t untuk a t F
t G
, 0
), (
) (
maka
) ( )} ( { s f e t G L
as
=
Bukti :
dt t G e t G L
st
}

=
0
) ( )} ( {(
} }


+ =
a
a
st st
dt t G e dt t G e
0
) ( ) (
} }


+ =
a
a
st st
dt a t F e dt e
0
) ( ) 0 (
}

=
a
st
dt a t F e ) (
Misal u = t-a maka t = u+a dan du = dt, sehingga

} }

+

=
0
) (
) ( ) ( du u F e dt a t F e
a u s
a
st
}


=
0
) ( du u F e e
su as
) (s f e
as
=
Contoh
Tugas Matematika Lanjut Page 78

Carilah )} ( { t F L jika

<
>
=
3
2
, 0
3
2
),
3
2
cos(
) (
t
t t
t
t t
t F

Menurut definisi transformasi Laplace
}

=
0
) ( )} ( { dt t F e t F L
st
dt t e dt e
st st
) 3 / 2 cos( ) 0 (
3 / 2
3 / 2
0
t
t
t
+ =
} }




}

+
=
0
) 3 / 2 (
cosudu e
u s t
udu e e
su s
cos
0
3 / 2
}


=
t
1
2
3 / 2
+
=

s
se
s t

d. Sifat pengubahan skala
Jika ) ( )} ( { s f t F L = maka
|
.
|

\
|
=
a
s
f
a
at F L
1
)} ( {
Bukti
Karena
dt t F e t F L
st
}

=
0
) ( )} ( {
maka
dt at F e at F L
st
}

=
0
) ( )} ( {
Misal
a
du
dt sehingga adt du maka at u = = =
Menurut definisi
}

=
0
) ( ) ( { dt at F e at F L
st
}

|
.
|

\
|

=
0
) (
a
du
u F e
a
s
u


}
|
.
|

\
|

= du u F e
a
u
a
s
) (
1
|
.
|

\
|
=
a
s
f
a
1

Contoh:
1. Jika ) (
) 2 (
6
)} ( {
3
s f
s
t F L =
+
=
maka )
3
(
3
1
)} 3 ( {
s
f t F L =
3
2
3
3
6
|
.
|

\
|
+
=
s
3
) 6 (
9 . 6
+
=
s

Tugas Matematika Lanjut Page 79

Soal:
1. Hitunglah )} ( { t F L jika

< <
>
=
1 0 , 0
1 , ) 1 (
) (
2
t
t t
t F
2. Jika
) 1 ( ) 1 2 (
1
)} ( {
2
2
+
+
=
s s
s s
t F L , carilah )} 2 ( { t F L
3. Jika , )} ( {
/ 1
s
e
t F L
s
= carilah )} 3 ( { t F e L
t

Jawab
Karena ), ( )} ( {
/ 1
s f
s
e
t F L
s
= =

maka menurut sifat 4 diperoleh
|
.
|

\
|
=
3 3
1
)} 3 ( {
s
f t F L Sehingga
3
3
1
)} 3 ( {
3
s
e
t F L
s

=
s
e
s
3
1

= ) (s f =
Berdasarkan sifat Jika ) ( )} ( { s f t F L =
maka ) ( )} ( { a s f t F e L
at
= (sifat 2)
Maka ) 1 ( )} 3 ( { + =

s f t F e L
t ) 1 (
3
) 1 (
1
+

+
=
S
e
s


e. Transformasi Laplace dari turunan-turunan
Jika ) ( )} ( { s f t F L = maka ) 0 ( ) ( )} ( ' { F s sf t F L =
Karena Karena ) ( ) ( )} ( {
0
s f dt t F e t F L
st
= =
}

, maka
dt t F e t F L
st
}

=
0
) ( ' )} ( ' {
}

=
0
) (t dF e
st
p
st st
e d t F t F e
0
0
) ( ) ( ) (
|
|
.
|

\
|
=
}

+ =
0
) ( ) 0 ( dt t F e s F
st
) 0 ( ) ( F s sf =
Jika ) 0 ( ) ( )} ( ' { F s sf t F L = maka ) ( ' ) 0 ( ) ( )} ( ' ' {
2
s F sF s f s t F L =
Bukti :
}

=
0
) ( " )} ( ' ' { dt t F e t F L
st
}

=
0
)) ( ' ( t F d e
st
|
|
.
|

\
|
=
}


0
) ( ) ( ' ) ( '
st st
e d t F t F e
Tugas Matematika Lanjut Page 80


|
|
.
|

\
|
+ =
}


0
) ( ' ) ( ' dt e t F s t F e
st st
( ) )) 0 ( ) ( ( ) ( ' F s sf s t F e
st
+ =


) 0 ( ' ) 0 ( ) (
2
F sF s f s =
Dengan cara yang sama diperoleh
dt t F e t F L
st
) ( ' ' ' )} ( ' ' ' {
0
}

=
}

=
0
)) ( ' ' ( t F d e
st
|
|
.
|

\
|
=
}


0
) ( ) ( ' ' ) ( ' '
st st
e d t F t F e

|
|
.
|

\
|
+ =
}


0
) ( ' ' ) ( ' ' dt t F e s t F e
st st
|
|
.
|

\
|
+ =
}


0
) ( ) ( ' ) ( ' ) ( ' '
st st st
e d t F t F e s t F e
) 0 ( ' ' ) 0 ( ' ) 0 ( ) (
2 3
F sF F s s f s =
Akhirnya dengan menggunakan induksi matematika dapat ditunjukkan bahwa, jika
) ( )} ( { s f t F L =
maka
) 0 ( ) 0 ( ... ) 0 ( ' ) 0 ( ) ( )} ( {
) 1 ( ) 2 ( 2 1 ) (
=
n n n n n
F sF F s F s s sf t F L
Contoh soal
Dengan menggunakan sifat transformasi Laplace dari turunan-turunan, tunjukkan bahwa
) ( } {sin
2 2
s f
a s
a
at L =
+
=
Misal at t F sin ) ( = diperoleh at a t F at a t F sin ) ( ' ' , cos ) ( '
2
= =
sehingga ) ( ' ' {
1
} {sin
2
t F L
a
at L =
Dengan menggunakan sifat transformasi Laplace dari turunan-turunan diperoleh
( ) f F sF s sf
a
at L ) 0 ( ' ) 0 ( ) (
1
} {sin
2
|
.
|

\
|
= |
.
|

\
|

+
= a s
a s
a
s
a
) 0 (
1
2 2
2
2


|
|
.
|

\
|

+
= a
a s
as
a
2 2
2
2
1
|
|
.
|

\
|
+

=
2 2
3 2 2
2
1
a s
a as as
a
2 2
a s
a
+
=

f. Tansformasi Laplace dari integral-integral
Jika ) ( )} ( { s f t F L = maka
s
s f
du u F L
t
) (
) (
0
=
)
`

}

Tugas Matematika Lanjut Page 81

Bukti:
Misal
}
=
t
du u F t G
0
) ( ) ( maka 0 ) 0 ( ) ( ) ( ' = = G dan t F t G
Dengan mentransformasikan Laplace pada kedua pihak, diperoleh:
)} ( { )} ( ' { t F L t G L =
) ( } 0 { )} ( { s f G t G sL =
) ( )} ( { s f t G sL =
s
s f
t G L
) (
)} ( { =
Jadi diperoleh
s
s f
du u F L
t
) (
) (
0
=
)
`

}

Contoh
1. Carilah
)
`

}
t
du
u
u
L
0
sin

Misal
t
t
t F
sin
) ( =
Maka
s
t F L
1
arctan )} ( { =
Sehingga menurut sifat transformasi di atas
s s s
s f
du
u
u
L
t
1
arctan
1 ) ( sin
0
= =
)
`

}

2. Buktikan
s s
du
u
u
L
t
1
arctan
1 sin
0
=
)
`

}

Bukti:
Misal 0 ) 0 (
sin
) (
0
= =
}
F maka du
u
u
t F
t

t
t
t F
sin
) ( ' = dan t t tF sin ) ( ' =
Dengan mengambil transformasi Laplace kedua bagian
1
1
} {sin )} ( ' {
2
+
= =
s
t L t tF L
Tugas Matematika Lanjut Page 82

1
1
) (
2
+
=
s
s sf
ds
d

ds
s
s sf
}
+
=
1
1
) (
2

C s s sf + = arctan ) (
Menurut teorema harga awal, 0 ) 0 ( ) ( lim ) (
0
= = =

F t F s sf Lim
t s

Sehingga diperoleh
2
t
= c .
Jadi
s s
s sf
1
arctan
1
) ( =
3. Buktikan
( )
s
s
du
u
u
L
t
2
1 ln cos
2
+
=
)
`


Bukti:
Misal du
u
u
t F
t
}

=
cos
) ( maka
t
t
t F
cos
) ( ' = atau t t F t cos )} ( ' { =
} cos { )} ( ' { t L t tF L =
( ) ( )
1
) (
1
) 0 ( ) ( 1
2 2
+
= |
.
|

\
|
+
=
s
s
s sf
ds
d
atau
s
s
F s sf
ds
d

}
+
= ds
s
s
s sf
1
) (
2
( ) c s + + = 1 ln
2
1
2

Menurut teorema harga akhir, , 0 ) ( lim ) ( lim
0 0
= =

t F s sf
t s
sehingga c = 0.
Jadi ( ) 0 1 ln
2
1
) (
2
+ + = s s sf atau
s
s
s f
2
) 1 ln(
) (
2
+
=
g. Perkalian dengan t
n

Jika ) ( )} ( { s f t F L = maka ) ( ) 1 ( ) ( ) 1 ( ) ( {
) (
s f s f
ds
d
t F t L
n
n
n
n n
= =
Bukti :
Karena dt t F e s f
st
}

=
0
) ( ) ( maka menurut aturan Leibnitz untuk menurunkan dibawah tanda integral,
diperoleh:
Tugas Matematika Lanjut Page 83


|
|
.
|

\
|
= =
}

0
) ( ) ( ' dt t F e
ds
d
s f
ds
df
st
dt t F e
s
st
) (
0

}
c
c
=
}

=
0
) ( dt t F te
st


}

=
0
)} ( { dt t tF e
st
)} ( { t tF L =
Jadi ) ( ' )} ( { s f
ds
df
t tF L = =
Contoh
1. Tentukan } sin { at t L
Jawab
2 2
} {sin
a s
a
at L
+
= , maka menurut sifat perkalian dari pangkat t
n
diperoleh
( )
n
n
n
ds
s f d
t tF L
) (
1 )} ( { = , sehingga
|
.
|

\
|
+
=
2 2
) 1 ( } sin {
a s
a
ds
d
at t L
2 2 2
) (
2
a s
as
+
=
2. Tentukan } cos {
2
at t L
Menurut sifat di atas, |
.
|

\
|
+
=
2 2 2
2
2 2
) 1 ( } cos {
a s
s
ds
d
at t L

|
|
.
|

\
|
+

=
2 2 2
2 2
) ( a s
s a
ds
d
3 2 2
2 3
) (
6 2
a s
s a s
+

=
h. Sifat pembagian oleh t
Jika ) ( )} ( { s f t F L = maka
}

=
)
`

0
) (
) (
du u f
t
t F
L
Bukti:
Misal
t
t F
t G
) (
) ( = maka ) ( ) ( t tG t F =
Dengan menggunakan definisi transformasi Laplace untuk kedua bagian, maka diperoleh bentuk
)} ( { ) ( )} ( { )} ( { t G L
ds
d
s f atau t tG L t F L = = atau
ds
dg
s f = ) (
Selanjutnya dengan mengintegralkan diperoleh
} }
=
ds
dg
s f ) ( .
Tugas Matematika Lanjut Page 84


}

=
s
du u f s g ) ( ) (
}

=
s
du u f ) (
Jadi
}

=
)
`

0
) (
) (
du u f
t
t F
L
Soal-soal
1) Tentukan transformasi Laplace untuk fungsi yang diberikan
a. t t t F 2 cos ) ( =
b. t t t F 3 sin ) ( =
c. ) 5 cos 2 2 sin 3 ( ) ( t t t t F =
d. t t t F sin ) (
2
=
e. t t t t F 3 sin ) 2 3 ( ) (
2
+ =
f. t t t F cos ) (
3
=
g. t t t F
2
sin ) ( =
2) Jika

>
s <
=
1 , 0
1 0 ,
) (
2
t
t t
t F
,
Carilah )} ( ' ' { t F L
3) Diketahui
a. carilah )} ( { t F L
b. carilah )} ( ' { t F L
c. apakah ) 0 ( ) ( )} ( ' { F s sf t F L = berlaku untuk kasus ini
4) Tunjukkan bahwa
}

=
0
3
50
3
sintdt te
t

5) Tunjukkan bahwa
} {
1
) (
2
0
2 t
t
u
e t t L
s
du e u u L

+ =
|
|
.
|

\
|
+ =
}

6) Perlihatkan bahwa
a.
a s
b s
t
e e
L
bt at
+
+
=
)
`



ln
b.
2 2
2 2
ln
2
1 cos cos
a s
b s
t
bt at
L
+
+
=
)
`


=
7) Tunjukkan bahwa:
a.
s s
du
u
u
L
u
1
1 ln
1 1
1
0
+ =
|
|
.
|

\
|

=
}

>
s s
=
1 ,
1 0 , 2
) (
t t
t t
t F
Tugas Matematika Lanjut Page 85

b. Jika ) ( )} ( { s f t F L = maka
2
0 0
1
) (
) (
1
s
s f
du u F dt L
t t
=

} }


Transformasi Laplace Invers
Definisi
Jika transformasi Laplace suatu fungsi F(t) adalah f(s), yaitu jika ) ( )} ( { s f t F L = maka F(t) disebut suatu
transformasi Laplace Invers dari f(s). Secara simbolis ditulis )} ( { ) (
1
s f L t F

= .
1
L disebut operator
transformasi Laplace invers.
Contoh.
1. Karena
t
e
s
L
2
2
1
=
)
`

maka { }
2
1
2 1

s
e L
t

2. Karena e t
s
s
L 3 cos
3
2
=
)
`

+
maka { }
3
3 cos
2
1
+
=

s
s
t L
3. Karena
a
at
a s
L
sinh 1
2 2
=
)
`

maka
2 2
1
1 sinh
a s a
at
L

=
)
`



Ketunggalan Transformasi Laplace Invers
Misal N(t) adalah suatu fungsi dan L{N(t)} = 0 maka L{F(t)+N(t)} = L{F(t)} Dengan demikian dapat diperoleh dua
fungsi yang berbeda dengan transformasi Laplace yang sama.
Contoh
t
e t F
3
1
) (

= dan

=
=
=

1
1 0
) (
3
2
t untuk e
t untuk
t F
t

Mengakibatkan
3
1
)} ( { )} ( {
2
1
1
1
+
= =

s
t F L t F L
Jika kita menghitung fungsi-fungsi nol, maka terlihat bahwa transformasi Laplace invers tidak tunggal. Akan
tetapi apabila kita tidak dapat memperhitungkan fungsi-fungsi nol (yang tidak muncul dalam kasus-kasus fisika)
maka ia adalah tunggal. Hasilnya dinyatakan oleh teorema berikut.
Teorema Lerch
Jika membatasi diri pada fungi-fungsi F(t) yang kontinu secara sebagian-sebagaian dalam setiap selang berhingga
0 N t s s dan eksponensial berorde untuk t > N, maka inversi transformasi laplace dari f(s) yaitu
{ } ) ( ) (
1
t F s f L =

, adalah tunggal. Jika tidak ada pernyataan lainnya, maka kita selalu menganggap ketunggalan
di atas.
Berdasarkan definisi di atas, dapat ditentukan transformasi Laplace invers beberapa fungsi sederhana dibawah ini.
Tugas Matematika Lanjut Page 86

Nomor f(s)
) ( )} ( {
1
t F x f L =


1.
s
1

1
2.
2
1
s

t
3.
,... 3 , 2 , 1 , 0 ,
1
1
=
+
n
s
n

! n
t
n

4.
a s
1

at
e
5.
2 2
1
a s +

a
at sin

6.
2 2
a s
s
+

at cos
7.
2 2
1
a s

a
at sinh

8.
2 2
a s
s


at cosh
9.
2 2 2
2 2
) ( a s
a s
+


at t cos

Sifat-sifat transformasi Laplace Invers
Beberapa sifat penting dari transformasi Laplace invers adalah:
1) Sifat Linear
Misal
1
c dan
2
c adalah sebarang bilangan konstanta, sedangkan ) (
1
s f dan ) (
2
s f berturut-turut adalah
transformasi Laplace dari ) (
1
t F dan ) (
2
t F , maka:
)} ( { )} ( { )} ( ) ( {
2 2
1
1 1
1
2 2 1 1
1
t F c L t F c L t F c t F c L

+ = +
)} ( { )} ( {
2 2
1
1 1
1
t F c L t F c L

+ =
)} ( { )} ( {
2
1
2 1
1
1
t F L c t F L c

+ =
) ( ) (
2 2 1 1
s f c s f c + =
Contoh
Tugas Matematika Lanjut Page 87

)
`

)
`

+
=
)
`


9
12
9
3
9
12 3
2
1
2
1
2
1
s
L
s
s
L
s
s
L

)
`

)
`

+
=

9
1
12
9
3
2
1
2
1
s
L
s
s
L

3
3 sin
12 3 cos 3
t
t =
2) Sifat translasi atau pergeseran pertama
Jika ) ( )} ( {
1
t F s f L =

maka ) ( )} ( {
1
t F e a s f L
at
=


Contoh
t
t
s
L
3 sinh
9
1
2
1
=
)
`

maka
3
3 sinh
9 ) 2 (
1
13 2 (
1
2
2
1
2
1
t
e
s
L
s s
L
t
=
)
`

+
=
)
`

+


3) Sifat translasi atau pergeseran kedua
Jika ) ( )} ( {
1
t F s f L =

maka

<
>
=

a t untuk
a t untuk a t F
s f e L
as
, 0
), (
)} ( {
1

Contoh :
t
s
L sin
1
1
2
1
=
)
`

maka

<
>
=

3
, 0
3
),
3
sin(
9
2
3
1
t
t t
t
t untuk
t untuk t
s
e
L
s

4) Sifat pengubahan skala
Jika ) ( )} ( {
1
t F s f L =

maka |
.
|

\
|
=

k
t
F
k
ks f L
1
)} ( {
1

Contoh
Karena t
s
s
L cos
1
2
1
=
)
`

maka diperoleh |
.
|

\
|
=
)
`

3
cos
3
1
1 ) 3 (
3
2
1
t
s
s
L
5) Transformasi Laplace invers dari turunan-turunan
Jika ) ( )} ( {
1
t F s f L =

maka ) ( ) 1 ( ) ( )} ( {
1 ) ( 1
t F t s f
ds
d
L s f L
n n
n
n
=
)
`

=


Contoh
Tugas Matematika Lanjut Page 88

Karena t
s
L 2 sin
4
2
2
1
=
)
`

dan
2 2 2
) 4 (
4
4
2
+

= |
.
|

\
|
+ s
s
s ds
d
maka diperoleh
t t t t
s
s
L
s ds
d
L
n n
2 sin 2 sin ) 1 (
) 4 (
4
4
2
2 2
1
2
1
= =
|
|
.
|

\
|
+

=
)
`

+


6) Transformasi Laplace invers dari antiturunan-antiturunan
Jika ) ( )} ( {
1
t F s f L =

maka
t
t F
du u f L
s
) (
) (
1
=
)
`


Contoh
Karena
t
e
s s
L
s s
L

=
)
`

+
=
)
`

+ 3
1
3
1
1
1 1
3
1
) 1 ( 3
1
1 1
maka
diperoleh `
1
3
1
) 1 ( 3
1
3
1
0
1
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
+

}
t
e
du
u u
L
t t

7) Sifat perkalian dengan
n
s
Jika ) ( )} ( {
1
t F s f L =

maka ) ( ' )} ( {
1
t F s sf L =


Dengan demikian perkalian dengan s berakibat menurunkan F(t) Jika
f(t) 0 = , sehingga
) ( ' )} 0 ( ) ( {
1
t F F s sf L =


) ( ) 0 ( ) ( ' )} ( {
1
t F t F s sf L o =

dengan ) (t o adalah fungsi delta Dirac atau fungsi impuls satuan.
Contoh
arena t
s
L 5 sin
25
5
2
1
=
)
`

dan 0 5 sin = t maka


t t
dt
d
s
s
L 5 cos 5 ) 5 (sin
25
5
2
1
= =
)
`


8) Sifat pembagian dengan s
Jika maka
}
=
)
`

t
du u F
s
s f
L
0
1
) (
) (

Jadi pembagian dengan s berakibat mengakibatkan integral F(t) dari 0 s.d. t.
Contoh
Karena t
s
L 2 sin
4
2
2
1
=
)
`

maka diperoleh
Tugas Matematika Lanjut Page 89

( ) 1 2 cos
2
1
2 cos
2
1
2 sin
) 4 (
2
0 0
2
1
=
|
.
|

\
|
= =
)
`

+
}

t u du u
s s
L
t
t

9) Sifat konvolusi
Jika ) ( )} ( {
1
t F s f L =

dan ) ( )} ( {
1
t G s g L =

maka
G F du u t G u F s g s f L
t
* ) ( ) ( )} ( ) ( {
0
1
= =
}


F*G disebut konvolusi atau faltung dari F dan G, dan teoremanya dinamakan teorema konvolusi atau sifat
konvolusi.
Contoh
Karena
t
e
s
L
4 1
4
1

=
)
`

+
dan
t
e
s
L
2 1
2
1
=
)
`


maka diperoleh
t t u t
t
u
e e du e e
s s
L
4 2 ) ( 2
0
4 1
) 2 )( 4 (
1

+ = =
)
`

+
}

Metode Transformasi Laplace Invers
Menentukan transfomasi Laplace dapat dilakukan dengan beberapa cara, sehingga dalam transformasi Laplace
invers terdapat beberapa metode yang dapat digunakan, antara lain:
1) Metode pecahan parsial
Setiap fungsi rasional
) (
) (
s Q
s P
, dengan P(s) dan Q(s) fungsi pangkat banyak (polinom) dan derajat P(s) lebih
kecil dari Q(s). Selanjutnya
) (
) (
s Q
s P
dapat ditulis jumlah dari fungsi rasional yang mempunyai bentuk
,.... 3 , 2 , 1 ,
) ( ) (
2
=
+ +
+
+
r seterusnya dan
c bs as
B As
atau
b as
A
r r

Dengan memperoleh transformasi Laplace invers tiap pecahan parcial maka dapat ditentukan
)
`

) (
) (
1
s Q
s P
L
Konstanta A, B, C, dapat diperoleh dengan menyelesaikan pecahan-pecahan dan menyamakan pangkat
yang sama dari kedua ruas persamaan yang diperoleh atau dengan menggunakan metode khusus.
Contoh
1. Tentukan
)
`

6
16 3
2
1
s s
s
L
Jawab
)
`

+
+
=
)
`


+

) 3 )( 2 (
16 3
6
16 3
1
2
1
s s
s
L
s s
s
L
Tugas Matematika Lanjut Page 90


3 2 ) 3 )( 2 (
16 3

+
+
=
+
+
s
B
s
A
s s
s
6
) 2 ( ) 3 (
2

+ +
=
s s
s B s A
6
) 3 2 ( ) (
2

+ +
=
s s
A B s B A

atau A+B = 3 dan 2B-3A = 16 atau 2(3-A)3A=16 sehingga didapat
A = -2 dan B = 5
)
`

+
+

=
)
`

+
+

3
5
2
2
) 3 )( 2 (
16 3
1 1
s s
L
s s
s
L
)
`

+
)
`

=

3
5
4
2
1 1
s
L
s
L
t t
e e
3 4
5 2 + =



2. Tentukan
)
`

+ + +

) 2 2 )( 3 (
1
2
1
s s s
s
L
Jawab
)
`

+ +
+
+
+
=
)
`

+ + +


) 2 2 ( 3 ) 2 2 )( 3 (
1
2
1
2
1
s s
C Bs
s
A
L
s s s
s
L

) 2 2 )( 3 (
) 3 )( ( ) 2 2 (
2 2 3
2
2
2
+ + +
+ + + + +
=
+ +
+
+
+ s s s
s C Bs s s A
s s
C Bs
s
A


) 2 2 )( 3 (
3 ) 3 ( 2 2
`
2
2 2
+ + +
+ + + + + +
=
s s s
C s C B Bs A As As

Sehingga

)
`

+ + +
+ + + + + +
=
)
`

+ + +

) 2 2 )( 3 (
) 3 2 ( ) 3 2 ( ) (
) 2 2 )( 3 (
1
2
2
2
s s s
C A s C B A s B A
s s s
s

Diperoleh A+B = 0, 2A+3B+C=1, 2A+3C=-1
Atau A =
5
4
, B =
5
4
, dan C =
5
1

Akhirnya diperoleh

+ +
+
+
+

=
)
`

+ + +


) 2 2 (
5
1
5
4
3
5
4
) 2 2 )( 3 (
1
2
1
2
1
s s
s
s
L
s s s
s
L
)
`

+ +
+
+
)
`

+
=

+ +
+
+
+


1 ) 1 (
) 1 (
5
4
3
1
5
4
) 2 2 (
5
1
5
4
3
5
4
2
1
2
1
s
s
s
L
s s
s
s
L
t e e
t t
cos
5
4
5
4
3
+ =
3. Tentukan transformasi laplace dari () ( )


Tugas Matematika Lanjut Page 91

2) Metode Deret
Jika f(s) mempunyai statu uraian dari kebalikan pangkat dari s yang diberikan oleh
... ) (
4
3
3
2
2
1
+ + + + =
s
a
s
a
s
a
s
a
s f
o

Maka dibawah persyaratan-persyaratan yang sesuai kita dapat menginversi suku demi suku untuk
memperoleh
...
! 3 ! 2
) (
3
2
2
1
+ + + + =
t a t a
t a a t F
o

Contoh
Tentukan

s
e
L
s
1
1

Jawab
)
`

+ + =


...
! 3
1
! 2
1 1
1
1
3 2
1
s s s s s
e
s
=
)
`

+ + ...
! 3
1
! 2
1 1 1
4 3 2
s s s s

Sehingga
)
`

+ + =

...
! 3
1
! 2
1 1 1
4 3 2
1
2
1
1
s s s s
L
s
e
L
s
2 2 2
3
2 2
2
3 2 1 2 1
1
t t
t + = + ...
3) Metode persamaan diferensial
4) Turunan terhadap statu parameter
5) Aneka ragam metode yang menggunakan teorema-teorema
6) Penggunaan tabel
7) Rumus inversi kompleks
8) Rumus Penguraian Heaviside
Andaikan P(s) dan Q(s) adalah fungsi pangkat banyak (polinom) dan derajat P(s) lebih kecil dari Q(s). Misal
Q(s) mempunyai n akar-akar yang berbeda yaitu
k
o , k= 1, 2, 3, 4, ..., n. Maka

=
)
`

n
k
t
k
k k
e
Q
P
s Q
s P
L
1
1
) ( '
) (
) (
) (
o
o
o

Bukti rumus di atas diuraikan sebagai berikut:
Karena Q(s) adalah polinomial dengan n akar berbeda
1
o ,
2
o ,
3
o , ... ,
n
o maka menurut metode pecahan-
pecahan parsial diperoleh
n
n
k
k
s
A
s
A
s
A
s
A
s Q
s P
o o o o
+

+ +

= ...
) (
) (
2
2
1
1
.....(1)
Tugas Matematika Lanjut Page 92

Dengan mengalikan kedua ruas dengan (s- )
k
o dan mengambil s
k
o dengan menggunakan aturan
LHospital diperoleh
)
`


= =

) (
) ( lim ) (
) (
) (
lim
s Q
s
s P s
s Q
s P
A
k
s
k
s
k
k k
o
o
o o
)
`


=

) (
lim ) ( lim
s Q
s
s P
k
s s
k k
o
o o


)
`


=

) (
lim ). (
s Q
s
P
k
s
k
k
o
o
o
) ( '
1
) (
s Q
P
k
o = ...
Sehingga (1) dapat ditulis sebagai
n n
n
k k
k
s Q
P
s Q
P
s Q
P
s Q
P
s Q
s P
o o
o
o o
o
o o
o
o o
o

+ +

=
1
.
) ( '
) ( 1
) ( '
) (
...
1
.
) ( '
) ( 1
.
) ( '
) (
) (
) (
2 2
2
1 1
1

dengan demikian
)
`

+ +

+ +

=
)
`


n n
n
k k
k
s Q
P
s Q
P
s Q
P
s Q
P
L
s Q
s P
L
o o
o
o o
o
o o
o
o o
o 1
.
) ( '
) (
...
1
.
) ( '
) (
...
1
.
) ( '
) ( 1
.
) ( '
) (
) (
) (
2 2
2
1 1
1 1 1


)
`

+ +
)
`

+ +
)
`

+
)
`



n n
n
k k
k
s Q
P
L
s Q
P
L
s Q
P
L
s Q
P
L
o o
o
o o
o
o o
o
o o
o 1
.
) ( '
) (
...
1
.
( '
(
....
1
.
) ( '
( 1
.
) ( '
) (
1
2 2
2 1
1 1
1 1
1


t
n
n t
k
k t t
n k
e
Q
P
e
Q
P
e
Q
P
e
Q
P
o o o o
o
o
o
o
o
o
c
o
.
) ( '
) (
... .
) ( '
) (
... .
) ( '
) (
.
) ( '
) (
2 1
2
2
1
1
+ + + + + =

=
=
n
k
t
k
k k
e
Q
P
1
) ( '
) (
o
o
o

9) Fungsi Beta
Jika m>0 dan n>0 didefinisikan fungsi beta sebagai
B(m,n) =
}

1
0
1 1
) 1 ( du n u
n m
a dan kita dapat memperlihatkan sifat-sifat:
1.
) (
) ( ) (
) , (
n m
n m
n m B
+ I
I I
=
2.
) ( 2
) ( ) (
) , (
2
1
cos sin
2
0
1 2 1 2
n m
n m
n m B d
m m
+ I
I I
= =
}

t
u u u
Soal-soal
1. Tentukan :
a.
)
`

s
L
4
12
1

b.
)
`

9
5 2
2
1
s
s
L
Tugas Matematika Lanjut Page 93

c.
)
`

16
24 4
4
8 3
2 2
1
s
s
s
s
L

d.

2 3
7 2 3
2
5
1
s
s
s
L
e.
)
`

3
1
) 1 (s
s
L

f.
)
`

8 4
14 3
2
1
s s
s
L
g.
)
`

+
+

32 12
20 8
2
1
s s
s
L

h.

2
3
1
1
s
s
L
i.
)
`

+ +

8 4 3
2 5
2
1
s s
s
L

j.

16
24 4
) 4 (
2
2
5
1
s
s
s
s
L
k.
)
`

+ +
+

2 2
1
) 2 2 (
1
s s
s
L

l.
)
`

+ +

) 4 )( 4 (
1
2
1
s s
L
m.
)
`

3 2
1
) 1 (
1
s
L
2. Buktikan bahwa:
a.
t t
e e
s s
s
L
2 2
2
1
2 5
6
16 3

=
)
`


+

b.
t t
e e
s s
s
L
2
1
2
3
1
1 2
3
1
+ =
)
`



c.
3
2
2
2
1
2
1
2
1
2 7 6
1
t t
e e
s s
s
L

=
)
`

+ +
+

d.
t
t
t
e e e
s s s
s
L

+ =
)
`

+
+
2
2
3
5
) 1 )( 1 2 )( 2 (
5 2 11
2
2
2
1

e. ) 3 cos( 3 3
9 )( 4 (
12 27
4
2
1
t e
s s
s
L
t
=
)
`

+ +



f. ) 2 sin( ) 2 cos( ) 4 sin(
2
1
64 20
24 16
2 4
2
1
t t t
s s
s s
L + =
)
`

+ +


g. ( )
t
e t t
s s s
s
L
3
2
1
5
4
sin 3 cos 4
5
1
) 2 2 )( 3 (
1

=
)
`

+ + +


3. Dengan menggunakan rumus penguraian Heaviside, tunjukkan bahwa :
a.
)
`

) 3 )( 2 (
11 2
1
s s
s
L

b.
)
`

+ +
+

) 3 )( 1 )( 2 (
27 19
1
s s s
s
L
Tugas Matematika Lanjut Page 94

c.
)
`

+
+

6 11 6 (
5 6 2
2 3
2
1
s s s
s s
L

d.
)
`

) 3 )( 2 )( 1 (
2
2
1
s s s
s
L
Penggunaan pada Persamaan Diferensial
a) Persamaan Diferensial dengan Koefisien Konstan
Transformasi Laplace dapat digunakan untuk menentukan selesaian suatu persamaan diferensial dengan
koefisien konstan.
Misal ditentukan persamaan diferensial
) (
2
x F qY
dx
dY
p
dx
Y d
= + + atau ) ( ' ' ' x F qY pY Y = + + dengan p,q adalah konstanta dan persamaan
tersebut mempunyai syarat awal atau batas Y(0)=A dan Y(0)=B, A dan B adalah konstanta yang diberikan.
Selesaian persamaan diferensial yang diketahui dapat ditentukan dengan cara melakukan transformasi Laplace
pada masing-masing persamaan dan selanjutnya gunakan syarat awal yang diberikan. Akibatnya diperoleh
persamaan Aljabar { } ) ( ) ( s y x Y L = .
Selesaian yang diperlukan diperoleh dengan menggunakan transformasi Laplace invers dari y(s). Cara ini
dapat diperluas pada persamaan-pers amaan diferensial tingkat tinggi.
Contoh
Tentukan selesaian persamaan diferencial berikut.
1) x Y Y = + ' ' dengan Y(0) = 0 dan Y(0)=-2
Jawab
Dengan transformasi Laplace masing-masing bagian dari persamaan diferensial diperoleh
{ } { } } { " } " { x L Y L Y L Y Y L = + = +
Menurut sifat (5) transformasi Laplace
{ } ) 0 ( ) 0 ( .... ) 0 ( " ) 0 ( )} ( { ) (
1 2 2 1 ) (
=
n n n n n n
F sF F s F s t F L s t F L , sehingga
) ( } { )} 0 ( ' ) 0 ( } { {
2
x L Y L Y sY Y L s = =
2
2
1
) 2 (
s
y s y s = + +
) 2 (
1
) 1 (
2
2
+ = + s
s
y s
1
2
) 1 (
1
2 2 2
+

+
+
=
s
s
s s
y =
1
2
1 1
1 1
2 2 2 2
+

+
+
+

s s
s
s s
=
1
3
1
1
2 2 2
+

+
+
s s
s
s

Untuk menentukan selesaian, gunakan transformasi Laplace invers
Tugas Matematika Lanjut Page 95

)
`

+
+ =

1
3
1
1
2 2 2
1
s s
s
s
L Y
)
`

)
`

)
`

=

1
3
1
1
2
1
2
1
2
1
s
L
s
s
L
s
L
x x x sin 3 cos + =
Untuk pemeriksaan jawab di atas
x x Y sin 3 cos 1 + =
x x Y cos 3 sin ' =
x x Y sin 3 cos ' ' + =
( ) ( ) x x x x x x Y Y = + + + = + sin 3 cos sin 3 cos ' ' dan Y(0) = 1, Y(0)=-2
2)
x
e Y Y Y
2
4 2 ' 3 ' ' = + dengan Y(0) = -3 dan Y(0)=5
Jawab
Dengan transformasi Laplace masing-masing bagian dari persamaan diferencial diperoleh
{ } } 4 { 2 ' 3 "
2x
e L Y Y Y L = +
Menurut sifat (5) transformasi Laplace
{ } ) 0 ( ) 0 ( .... ) 0 ( " ) 0 ( ) ( ) (
1 2 2 1 ) (
=
n n n n n n
F sF F s F s s f s t F L , sehingga
{ } } 4 { 2 ' 3 "
2x
e L Y Y Y L = +
{ } ) 4 ( } { 2 ) 0 ( } { 3 )} 0 ( ' ) 0 ( } { {
2 2 x
e L Y L Y Y sL Y sY Y L s = + =
2
4
2 } 3 { 3 } 5 3 {
2

= + + + =
s
y sy s y s
14 3
2
4
) 2 3 (
2
+

= + s
s
y s s
2 3
14 3
) 2 )( 2 3 (
4
2 2
+

+
+
=
s s
s
s s s
y
2
2
) 2 )( 1 (
24 20 3

+
=
s s
s s
2
) 2 (
4
2
4
1
7

=
s s s


Untuk menentukan selesaian, gunakan transformasi Laplace invers
)
`

=

2
1
) 2 (
4
2
4
1
7
s s s
L Y
)
`

+
)
`

+
)
`

=

2
1 1 1
) 2 (
4
2
4
1
7
s
L
s
L
s
L

x x x
xe e e
2 2
4 4 7 + + =
b) Persamaan Diferensial dengan Koefisien Variabel
Tugas Matematika Lanjut Page 96

Transformasi Laplace juga dapat digunakan untuk menentukan selesaian persamaan diferensial dengan koefien
variable. Khususnya persamaan diferensial yang berbentuk ) (
) (
x Y x
n n
sehingga transformasi Laplace diperoleh
{ } { }
)
`

= ) ( ) 1 ( ) (
) ( ) (
x Y L
ds
d
x Y x L
n
m
m
m n m

Hal ini sesuai dengan sifat transformasi Laplace
Jika ) ( )} ( { s f t F L = maka ( ) ( ) ) ( 1 ) ( 1 )} ( {
) (
s f s f
ds
d
t F t L
n
n
n
n n
= =
Untuk jelasnya perhatikan beberapa contoh berikut :
Tentukan selesaian persamaan diferensial :
1) 0 ' 2 ' ' = + + xY Y xY dengan Y(0) = 1 dan Y(t )= 0
Jawab
Dengan transformasi Laplace pada masing-masing bagian persamaan diperoleh:
{ } { } 0 ' 2 " L xY Y xY L = + +
{ } { } { } 0 ' 2 " = + + xY L Y L xY L
{ } 0 ) ( ) 1 ( )) 0 ( ( 2 ) 0 ( ' ) 0 ( ) 1 (
1 2 1
= + + y
ds
d
Y sy Y sY y s
ds
d

{ } 0 ) ( ) 1 ( ) 1 ( 2 1 1
1 2
= + + y
ds
d
sy s y s
ds
d

0 ) 1 ( ) 1 ( 2 0 1 2
2
= + +
)
`

+
ds
dy
sy
ds
dy
s sy
0 ' 2 2 1 ' 2
2
= + + y sy y s sy
1 ' ) 1 (
2
= + y s
) 1 (
1
'
2
+
=
s
y
Diperoleh C s ds
s
y + =
+
=
}
arctan
) 1 (
1
2

Karena 0 y bila s kita dapatkan
2
t
= c , sehingga
s
s y
1
arctan arctan
2
= =
t

Akhirnya didapat
t
t
s
L Y
sin 1
arctan =
)
`

= , hal ini memenuhi Y( ) t =0


2) 1 ' ' ' = + Y xY Y , dengan Y(0) = 1 dan Y(0) = 2
Tugas Matematika Lanjut Page 97

Jawab :
Dengan transformasi Laplace pada masing-masing bagian persamaan diperoleh:
{ } { } 1 ' " L Y xY Y L = +
{ } { } { } { } 1 ' " L Y L xY L Y L = +
{ }
s
y Y sy
ds
d
Y sY y s
1
)} 0 ( { ) 1 ( ) 0 ( ' ) 0 (
1 2
= +
{ } 0 ) 1 ( 2 1 .
2
= + + y sy
ds
d
s y s


Persamaan di atas merupakan persamaan difererensial liner tingkat satu derajat satu dan dapat diubah
menjadi:
2
1 2
1
1
'
s s
y
s
s y + + = |
.
|

\
|
+ +
Faktor integral persamaan di atas adal
2 2
2
1
2
ln 2
2
1
1
s s s
ds s
e s e e = =
} + |
|
.
|

\
|
+

Maka
2
2
2
2
1
2
2
2
1 2
1
s
s
e s
s s
y e s
ds
d
|
.
|

\
|
+ + =
|
|
.
|

\
|

Sehingga ds e s
s s
e
s
y
s
y
s
}
+ + =
2
2
2
2
)
1 2
1 (
1
2
2 2
2
2 1
s
e
s
c
s s
+ + =
Akhirnya diperoleh t y 2 1+ =


Soal-soal :
Tentukan selesaian persamaan diferensial berikut:
1) 0 ' ' = + Y xY Y dengan Y(0) = 0 dan Y(0) = 1
2) 0 2 ' ) 2 1 ( ' ' = + Y Y x xY dengan Y(0) = 1 dan Y(0) = 2
3) 0 ' ) 1 ( ' ' = + Y Y x xY dengan Y(0) = 5 dan Y( ) = 0
4) 0 4 ' ' ' = + + xY Y Y dengan Y(0) = 3 dan Y(0) = 0
5) Y+4Y = 9x dengan Y(0)=0 dan Y(0)=7
6) Y-3Y+2Y=4x+12e
x
dengan Y(0) = 0 dan Y(0)=-1
{ }
s
y sy y s y s
1
' ) ' ( 2
2
= + + +
s
s y s sy
1
2 ) 1 ( '
2
+ + = + +
Tugas Matematika Lanjut Page 98

7) Tentukan transformasi laplace dari
1. ()

4. ()


2. () 5. ()


3. ()
8) Carilah invers dari
a. ()


b. ()


c. ()

Tugas Matematika Lanjut Page 99



Transformasi Laplace dari Turunan Fungsi Tingkat-n

Teorema
Jika F(t) adalah fungsi yang kontinu secara sebagian-sebagian dalam setiap interval 0
s st N dan eksponensial berorde untuk t > N, maka transformasi Laplace f(s) ada
untuk setiap s >
Berdasarkan definisi di atas, dapat ditentukan transformasi Laplace beberapa fungsi
sederhana.
Nomor F(t) L{F(t)} = f(s)
1. 1
,
1
s
s > 0
2. T
,
1
2
s
s > 0
3.
t
2

3
2
s
, s > 0
4.
t
n

n = 0,1,2,3,.
1
!
+ n
s
n
, s > 0
5.
e
at

,
1
a s
s > 0
6. sin at
,
2 2
a s
a
+
s > 0
7. cos at
,
2 2
a s
s
+
s > 0
8. sinh at
,
2 2
a s
a

s > a
9.

cosh at
,
2 2
a s
s

s > a

Teorema Lerch
Jika membatasi diri pada fungi-fungsi F(t) yang kontinu secara sebagian-sebagaian dalam
setiap selang berhingga 0 N t s s dan eksponensial berorde untuk t > N, maka inversi
transformasi laplace dari f(s) yaitu { } ) ( ) (
1
t F s f L =

, adalah tunggal. Jika tidak ada


pernyataan lainnya, maka kita selalu menganggap ketunggalan di atas.
Berdasarkan definisi di atas, dapat ditentukan transformasi Laplace invers beberapa fungsi
sederhana dibawah ini.
Tugas Matematika Lanjut Page 100

Nomor f(s)
) ( )} ( {
1
t F x f L =


1.
s
1

1
2.
2
1
s

t
3.
,... 3 , 2 , 1 , 0 ,
1
1
=
+
n
s
n

! n
t
n

4.
a s
1

at
e
5.
2 2
1
a s +

a
at sin

6.
2 2
a s
s
+

at cos
7.
2 2
1
a s

a
at sinh

8.
2 2
a s
s


at cosh
9.
2 2 2
2 2
) ( a s
a s
+


at t cos

Misal f(t) dan turunannya f(t) kontinu dan terbatas ekponensial, maka f(t) dan F(t)
mempunyai tranformasi laplace. Dengan menggunakan integral parsial dan sifat
terbatas eksponensial dari f(t) maka diperoleh :
(

())

()

()|

(t)dt (1.1)
() ()
Dengan menggunakan notasi (1.1) didapatkan transformasi Laplace dari turunan
orde 2 dan orde 3 dari fungsi f(t) yaitu :
(())

() () () dan
(

())

()

()

() ()
Secara induktif dapat diperoleh transformasi Laplace dari turunan orde n fungsi
f(t).
.
()
()/

()

()

()

()
() ()
Metode penurunan fungsi (1.2) akan lebih mudah diterapkan untuk menentukan
transformasi Laplace dari fungsi yang apabila diturunkan sampai tingkat-n akan
kembali ke bentuk semula.
Untuk lebih jelasnya diberikan contoh berikut :
Tentukan transformasi Laplace dari f(t) = sin at
Jawab :
Dilakukan penurunan sampai tingkat ke -2 didapatkan
Tugas Matematika Lanjut Page 101

f (t) = sin at f(0) = 0
f (t) = a cos at f(0) = a
f (t) = -

sin at f(0) = 0

pada penurunan tingkat-2 sudah dihasilkan bentuk asal, sehingga digunakan :
(())

() () ()
(

() ()

()
() .

/
Dari hasil yang didapatkan pada contoh di atas didapatkan transformasi invers.



a. Masalah Nilai Awal
Metode penurunan fungsi dapat digunakan untuk mencari solusi khusus dari
persamaan diferensial dengan koefisien konstan yang diberikan nilai awalnya.
Bentuk persamaan diferensial orde dua koefisien konstan dengan nilai awal
seringkali dinamakan masalah nilai awal, diberikan sebagai berikut :
ay + by + cy = r(t) ; y(0) = K, y(0) = 1
untuk mencari solusi masalah nilai awal digunakan metode penurunan fungsi.
Dengan mengasumsikan y(t) = f(t) maka didapatkan rumusannya sebagai
berikut :
(

) () ()
()

() () ()
Solusi masalah nilai awal bentuk diatas didapatkan dengan
mentransformasikan ruas kiri dan kanan serta mensubtitusikan bentuk :
(

() dan (

) () ..(1.3)
Solusi khusus masalah nilai awal merupakan invers dari transformasi Laplace.
Untuk lebih memperjelas pengertian tersebut diberikan contoh berikut :
Tentukan solusi masalah nilai awal :
y"+3y+2y = t ; y(0) = -1, y(0) = 0
Jawab :
Dengan menggunakan bentuk (1.3) didapatkan
(

) () atau (

)()

( )
Sehingga transformasi Laplace,
()

( )( )

( )



Invers dari transformasi merupakan solusi masalah nilai awal yaitu :
Tugas Matematika Lanjut Page 102

()



b. Rangkaian LRC
Permasalahan yang sering muncul berkaitan dengan masalah nilai awal dan
penerapan transformasi Laplace adalah osilasi harmonic yaitu rangkaian arus
listrik LRC. Kuat arus yang melalui rangkaian listrik seperti ditunjukkan pada
gambar 1.1 yang memuat capasitor (C), tahanan (R) dan inductor (D)
dinyatakan dengan persamaan diferensial
() ()

() ..1.4







Gambar 1.1
Dengan I(t) menyatakan besar kuat arus yang berubah berdasarkan
perubahan waktu t.
Menggunakan transformasi Laplace pada (1.4) didapatkan,

() ()

() () ()

() ..1.5
Solusi dari persamaan (1.5) adalah
()
( )()

()


Missal

()


I(s)
.

/()

()

()

( )()

()

( )
( )

()

( )

( )
( )

()

( )

,()

()-

Invers dari adalah
() ()

()

()

()
Persamaan (1.7) merupakan solusi dari persamaan diferensial (1.4).
E(t)
C
L
I(t)
R

Tugas Matematika Lanjut Page 103

Tansformasi Laplace dari Integral Fungsi

Pada metode penurunan fungsi 1.8
(
()
()

()

()

()
()
()
Diperlihatkan bahwa transformasi laplace dari turunan fungsi didapatkan dengan mengalikan hasil
transformasi fungsi dengan s. Karena integral merupakan anti turunan maka dapat diturunkan
transformasi laplace dari integral fungsi yang merupakan pembagian dari hasil transformasi fungsi oleh
s. Misal F(s) = L (f(t)) ada maka
{ ()

()
dengan s > 0.
Sedang dengan menggunakan transformasi invers didapatkan :


(
()

) ()


Metode transformasi integral fungsi ini akan lebih mudah diterapkan untuk menentukan invers
transformasi.
Sama halnya dengan
) ( )} ( { s f t F L = maka
s
s f
du u F L
t
) (
) (
0
=
)
`

}

Bukti:
Misal
}
=
t
du u F t G
0
) ( ) ( maka 0 ) 0 ( ) ( ) ( ' = = G dan t F t G
Dengan mentransformasikan Laplace pada kedua pihak, diperoleh:
)} ( { )} ( ' { t F L t G L =
) ( } 0 { )} ( { s f G t G sL =
) ( )} ( { s f t G sL =
s
s f
t G L
) (
)} ( { =
Jadi diperoleh
s
s f
du u F L
t
) (
) (
0
=
)
`

}

Tugas Matematika Lanjut Page 104

Contoh :
Tentukan invers dari G(s) =




Jawab:
Menggunakan sifat (1.11), G(s) dapat dituliskan sebagai : G(s)=
s
s F ) (

Dengan F(s) =
2
4
s

invers dari F(s) adalah f(t) =


oleh karena itu, invers dari G(s) adalah
g(t) =
}
t
0


(

)
Contoh :
Gunakan metode Transformasi turunan atau integral untuk mencari
transformasi
Laplace dari:
a. f(t) = Sin2 t
b. f(t) = t sin 2t
Jawab :
a. f (t ) = sin2 t
f '(t) = sin2 tdt =

= cos t.2u.du = cost.2(sint)


b. f (t ) = t.sin 2t = u'v + v'u = (1)(sin 2t )+ 2cos2t(t ) = sin 2t + 2t cos2t
Contoh :
Transformasi Laplace dari ) (t f dihitung sebagai berikut :
Tugas Matematika Lanjut Page 105

) 1 )( 1 (
1
1
1
1
1
) (
1
1
) cos sin (
) (
1
sin
) (
1
) (
) (
2 2 2
2
0
2
0
0
+
=
|
|
.
|

\
|
+
+

+

=

}
}
s e s
e
e
s F
e
s
t t s e
s F
e
t t e
s F
e
t t f e
s F
s
s
s
s
st
sT
st
sT
T
st
t
t
t
t
t
t
o
o

Contoh :
v(t)
C
R

0 , sin ) ( > = t t t v e
Persamaan tegangan pada rangkaian tersebut adalah :
}
+ =
+ =
) ( . ) (
1
) (
) ( ) ( ) (
t i R t t i
C
t v
t v t v t v
R C
o

Transformasi Laplace dari persamaan di atas :
L{ t e sin }=
C
1
L{
}
t t i o ) ( }+R.L{i(t)}
) 1 )( ( 1
I(s)
: diperoleh sehingga
) ( .
1
) ( .
) ( 1
2 2
2 2
2 2
2 2
RCs s
cs
R
Cs
s
s I R
Cs s
s I R
s
s I
C s
+ +
=
|
.
|

\
|
+
+
=
|
.
|

\
|
+ =
+
+ =
+
e
e
e
e
e
e
e
e

Contoh-contoh yang lainnya:
4. Carilah
)
`

}
t
du
u
u
L
0
sin

Misal
t
t
t F
sin
) ( =
Tugas Matematika Lanjut Page 106

Maka
s
t F L
1
arctan )} ( { =
Sehingga menurut sifat transformasi di atas
s s s
s f
du
u
u
L
t
1
arctan
1 ) ( sin
0
= =
)
`

}

5. Buktikan
s s
du
u
u
L
t
1
arctan
1 sin
0
=
)
`

}

Bukti:
Misal 0 ) 0 (
sin
) (
0
= =
}
F maka du
u
u
t F
t

t
t
t F
sin
) ( ' = dan t t tF sin ) ( ' =
Dengan mengambil transformasi Laplace kedua bagian
1
1
} {sin )} ( ' {
2
+
= =
s
t L t tF L
1
1
) (
2
+
=
s
s sf
ds
d

ds
s
s sf
}
+
=
1
1
) (
2

C s s sf + = arctan ) (
Menurut teorema harga awal, 0 ) 0 ( ) ( lim ) (
0
= = =

F t F s sf Lim
t s

Sehingga diperoleh
2
t
= c .
Jadi
s s
s sf
1
arctan
1
) ( =
6. Buktikan
( )
s
s
du
u
u
L
t
2
1 ln cos
2
+
=
)
`


Bukti:
Misal du
u
u
t F
t
}

=
cos
) ( maka
t
t
t F
cos
) ( ' = atau t t F t cos )} ( ' { =
} cos { )} ( ' { t L t tF L =
Tugas Matematika Lanjut Page 107

( ) ( )
1
) (
1
) 0 ( ) ( 1
2 2
+
= |
.
|

\
|
+
=
s
s
s sf
ds
d
atau
s
s
F s sf
ds
d

}
+
= ds
s
s
s sf
1
) (
2
( ) c s + + = 1 ln
2
1
2

Menurut teorema harga akhir, , 0 ) ( lim ) ( lim
0 0
= =

t F s sf
t s
sehingga c = 0.
Jadi ( ) 0 1 ln
2
1
) (
2
+ + = s s sf atau
s
s
s f
2
) 1 ln(
) (
2
+
=

a. Perkalian dengan t
n

Jika ) ( )} ( { s f t F L = maka ) ( ) 1 ( ) ( ) 1 ( ) ( {
) (
s f s f
ds
d
t F t L
n
n
n
n n
= =
Bukti.
Karena dt t F e s f
st
}

=
0
) ( ) ( maka menurut aturan Leibnitz untuk menurunkan dibawah tanda
integral, diperoleh:

|
|
.
|

\
|
= =
}

0
) ( ) ( ' dt t F e
ds
d
s f
ds
df
st
dt t F e
s
st
) (
0

}
c
c
=
}

=
0
) ( dt t F te
st
}

=
0
)} ( { dt t tF e
st

)} ( { t tF L =
Jadi ) ( ' )} ( { s f
ds
df
t tF L = =

Contoh :

3. Tentukan } sin { at t L
Jawab
2 2
} {sin
a s
a
at L
+
= , maka menurut sifat perkalian dari pangkat t
n
diperoleh
( )
n
n
n
ds
s f d
t tF L
) (
1 )} ( { = , sehingga
|
.
|

\
|
+
=
2 2
) 1 ( } sin {
a s
a
ds
d
at t L

2 2 2
) (
2
a s
as
+
=


Tugas Matematika Lanjut Page 108

4. Tentukan } cos {
2
at t L
Menurut sifat di atas,
|
.
|

\
|
+
=
2 2 2
2
2 2
) 1 ( } cos {
a s
s
ds
d
at t L
|
|
.
|

\
|
+

=
2 2 2
2 2
) ( a s
s a
ds
d
3 2 2
2 3
) (
6 2
a s
s a s
+

=
b. Sifat pembagian oleh t
Jika ) ( )} ( { s f t F L = maka
}

=
)
`

0
) (
) (
du u f
t
t F
L
Bukti:
Misal
t
t F
t G
) (
) ( = maka ) ( ) ( t tG t F =
Dengan menggunakan definisi transformasi Laplace untuk kedua bagian, maka diperoleh bentuk
)} ( { ) ( )} ( { )} ( { t G L
ds
d
s f atau t tG L t F L = = atau
ds
dg
s f = ) (
Selanjutnya dengan mengintegralkan diperoleh
} }
=
ds
dg
s f ) ( .

}

=
s
du u f s g ) ( ) (
}

=
s
du u f ) (
Jadi
}

=
)
`

0
) (
) (
du u f
t
t F
L
Tabel pasangan transformasi laplace untuk beberapa fungsi yag bisa diselesaikan menggunakan beberapa
metode :
f (t) F (s) = L (f(t)) Domain dari F (s)


(

)


s > 0



s > a
Sin bt


s > 0
Cos bt

s > 0
Sinh bt


s > ||
Cosh bt



s > ||
Tabel transformasi Laplace invers beberapa fungsi sederhana:

Nomor f(s) ) ( )} ( {
1
t F x f L =


1.
s
1
1
2.
2
1
s
t
Tugas Matematika Lanjut Page 109

2 2
2 2
ln
2
1 cos cos
a s
b s
t
bt at
L
+
+
=
)
`


=
a s
b s
t
e e
L
bt at
+
+
=
)
`



ln
3. ,... 3 , 2 , 1 , 0 ,
1
1
=
+
n
s
n

! n
t
n

4.
a s
1

at
e
5.
2 2
1
a s +

a
at sin

6.
2 2
a s
s
+
at cos
7.
2 2
1
a s

a
at sinh

8.
2 2
a s
s

at cosh
9.
2 2 2
2 2
) ( a s
a s
+

at t cos
Soal-soal Latihan :
8) Tentukan transformasi Laplace untuk fungsi yang diberikan
a. t t t F 2 cos ) ( =
b. t t t F 3 sin ) ( =
c. ) 5 cos 2 2 sin 3 ( ) ( t t t t F =
d. t t t F sin ) (
2
=
e. t t t t F 3 sin ) 2 3 ( ) (
2
+ =
f. t t t F cos ) (
3
=
g. t t t F
2
sin ) ( =

9) Jika

>
s <
=
1 , 0
1 0 ,
) (
2
t
t t
t F

Carilah )} ( ' ' { t F L
10) Diketahui
a. carilah )} ( { t F L
b. carilah )} ( ' { t F L
c. apakah ) 0 ( ) ( )} ( ' { F s sf t F L = berlaku untuk kasus ini?
11) Tunjukkan bahwa
}

=
0
3
50
3
sintdt te
t

12) Tunjukkan bahwa } {
1
) (
2
0
2 t
t
u
e t t L
s
du e u u L

+ =
|
|
.
|

\
|
+ =
}

13) Perlihatkan bahwa


a. b.

14) Tunjukkan bahwa:
a.
s s
du
u
u
L
u
1
1 ln
1 1
1
0
+ =
|
|
.
|

\
|

=
}


b. Jika ) ( )} ( { s f t F L = maka
2
0 0
1
) (
) (
1
s
s f
du u F dt L
t t
=

} }

>
s s
=
1 ,
1 0 , 2
) (
t t
t t
t F
Tugas Matematika Lanjut Page 110

PERGESERAN TERHADAP SUMBU S

Misal fungsi f(t ) mempunyai transformasi Laplace, F (s) = L (f(t)), Maka
grafik hasil transformasi Laplace dari g (t) = e
at
f(t) didapatkan dengan menggeser
grafik hasil transformasi dari f(t) atau grafik F(s) sepanjang a satuan kearah kanan
(bila a > 0) atau kearah kiri (bila a < 0). Berdasarkan sifat translasi tersebut maka
didapatkan transformasi Laplace dari fungsi g(t) di jelaskan sebagai berikut :
Jika ) ( )} ( { ) ( )} ( { a s F t f e L maka s F t f L
at
= =
Bukti
Karena
}

= =
`
0
) ( ) ( )} ( { s F dt t f e t f L
st
, maka
}

=
`
0
) ( )} ( { dt t f e e t f e L
at st at
}


=
0
) (
) ( dt t f e
t a s
) ( a s F =
Transformasi Invers : L
-1
(F(s a )) = e
at
f(t)
Menggantikan s dengan s- a dalam transformasi adalah melakukan pergeseran
pada aksis-s sepeti diperlihatkan dalam gambar di bawah ini yang berkaitan dengan
mengalikan fungsi original f(t) dengan
at
e




Contoh :
1. Tentukan ) ( )} ( { )} ( {
3
s F t f L jika t f e L
t
=


Menurut sifat di atas, ) ( )} ( { a s F t f e L
at
=
Maka ( ) ) 3 ( )} ( {
3
=

s F t f e L
t
) 3 ( + = s F
Tugas Matematika Lanjut Page 111

2. Tentukan |
.
|

\
|
=
a
s
F t f L jika t f e L
t
)} ( { )}, ( {
2

Menurut sifat di atas, ) ( )} ( { a s F t f e L
at
=
Karena |
.
|

\
|
=
|
.
|

\
|
=
a
s
F t f e L maka
a
s
F t f L
t
2
)} ( { , )} ( {
2
|
.
|

\
|
=
a a
s
F
2

3. Tentukan
4
} 2 {cos )} ( {
2
+
=

s
s
t L jika t f e L
t

Karena
4
} 2 {cos
2
+
=
s
s
t L maka menurut sifat translasi pertama
) 1 ( )} ( { + =

s F t f e L
t

4 ) 1 (
1
)} ( {
2
+ +
+
=

s
s
t f e L
t
5 2
1
2
+ +
+
=
s s
s

4. Tentukan )} 6 sin 5 6 cos 3 ( {
2
t t e L
t


Menurut sifat linear,
)} 6 sin 5 ( { )} 6 cos 3 ( { )} 6 sin 5 6 cos 3 ( {
2 2 2
t e L t e L t t e L
t t t
=
} 6 sin { 5 } 6 cos { 3
2 2
t e L t L
t t
= }
Karena
36
6
} 6 {sin
36
} 6 {cos
2 2
+
=
+
=
s
t L dan
s
s
t L
maka menurut sifat translasi
) 2 ( 3 } 6 cos { 3
2
+ =

s f t L
t
36 ) 2 (
) 2 (
3
2
+ +
+
=
s
s
,
dan
2 (
6
5 } 6 sin { 5
2
+
=

s
t L
t

sehingga
L{e
36 ) 2 (
6
5
36 ) 2 (
) 2 (
3 )} 6 sin 5 6 cos 3 ( {
2 2
2
+ +

+ +
+
=

s s
s
t t e L
t

40 4
24 3
2
+ +

=
s s
s


5. Tentukan transformasi Laplace dari : g (t) = e
2t
sin 3t
Tugas Matematika Lanjut Page 112

Jawab ;
Misal f(t) = sin 3t
Maka g(t) = e
2t
f(t) dan transformasi Laplace dari f(t) yaitu
F (s) =

F (s) =


Oleh karena itu, G (s) = F ( s a ) =

6. Tentukan invers dari :

G(s) =

Jawab :
Bila G(s) diuraikan maka di dapatkan,

G(s) = = -


Misal F1(s) =


F2(s) =

Maka keduanya mempunyai invers berturut-turut f1(t) = cost dan f2(t) = -sint
Fungsi G(s) dapat di tuliskan menjadi G(s) = f1 (s + 1) + f2 (s + 1)
3
S
2
+ 9
3
(s 2 )
2
+ 9
s
S
2
+ 2s + 2
s
S
2
+ 2s + 2
S+ 1
(s+1)
2
+ 1
1
(s+1)
2
+ 1

s
S
2
+ 1
-1
S
2
+ 1
Tugas Matematika Lanjut Page 113

Jadi, Invers dari G(s) adalah g(t) = e
-t
(cos t sin t)



















1. PERGESERAN TERHADAP SUMBU T

Telah diketahui bahwa, formulasi pergeseran pada aksis-s menyebabkan
penggantian s dalam F(s) dengan s a yang berkaitan dengan perkalian fungsi original f(t)
dengan e
at
.
Demikian dapat dinyatkan bahwa, formulasi pergeseran pada aksis-t menyebabkan
penggantian t dalam f(t) dengan t a yang berkaitan dengan perkalian tranformasi
Laplace F(s) dengan e
-as
.
Misal F(s)= L(f(t)) ada dan didefinisikan fungsi tangga f(t) =
dengan a 0. Secara umum untuk mencari transformasi Laplace dari fungsi tangga g (t)
0
f (t a )
;
;
t < a
t > a
Tugas Matematika Lanjut Page 114

yang terdefinisi untuk t > 0 dapat diselesaikan dengan memperkenalkan fungsi tangga
satuan.
Fungsi tangga satuan atau fungsi Heaviside didefinisikan sebagai berikut :

U (t a) =

Dengan a 0
Grafik fungsi tangga satuan rumus di atas ditunjukkan pada gambar dibawah ini. Bentuk
fungsi tangga g(t) dapat dituliskan sebagai : g(t) = f (t a )u(t a). Maka transformasi
Laplace dari g(t) diberikan sebagai berikut,






L (g(t) = L (f(t - a)u(t - a)) = e
-st
f(t - a)u(t - a) dt = e
-sy
f(y a) u (y a) dy
= e
-sy
f(y a)0 dy + e
-sy
f(y a) dy = e
-sy
f(y a) dy = e
-s(a+t)
f(t) dt
= e
-as
e-st f(t) dt = e
-as
F(s)
Jadi, diperoleh tranformasi Laplace dari g(t) = t (t a) u (t a) adalah

L(g(t)) = L (f(t a) u (t a)) = e
-as
F(s)
Sedang transformasi invers,
L
-1
(e
-as
F(s)) = L ((t a) u (t a) = g (t)
Misal f(t-a) = maka f(t) dan F(s) = 1/s, maka didapat tranformasi Laplace dari fungsi
tangga satuan
L [u(t a)] = e
-as
/s
Dan Transformasi invers,
0
f (t a )
t < a
t > a
:
:
Tugas Matematika Lanjut Page 115

L
-1
(e
-as
/s) = u (t a)













Contoh :
Tentukan transformasi Laplace dari fungsi f(g) = t u(t-2)
Penyelesaian :
g (t) = f(t a) u (t-a) G(s) = e
-as
F(s), maka
dimisalkan f (t-2) = t maka,
F(t) = t + 2 dan F(s) = 1/s
2
+ 2/s,
Jadi Transformasi Laplace dari fungsi g(t) adala
G(s) = e
-2s
F(s) = e
-2s
(1/s
2
+ 2/s)







Tugas Matematika Lanjut Page 116


SOAL :










Dengan mengaplikasikan sifat pergeseran aksis t

f(t) = t u(t 1)

f (t) = u (t-a) Cosh t

Tugas Matematika Lanjut Page 117

Fungsi Gamma

Kriteria dari konvergensi dipenuhi. Untuk x mendekati , fungsi eksponensial x
-e
mendekati nol
dengan orde yang lebih cepat dari setiap perpangkatan 1/x
m
(m>0).
Fungsi gamma ini, yang dapat dipandang sebagai suatu fungsi dari bilangan n (tidak perlu harus
bulat), memenuhi beberapa hubungan yang mengagumkan, antara lain
(n + )1 = n(n)
Fungsi Gamma dapat didefinisikan sebagai berikut :


Nilai dari simbol fungsi gamma ada beberapa yaitu :
(1/5)=4.5909 , (1/4)=3.6256
(1/3)=2.6789 , (2/5)=2.2182
(3/5)=1.4892 , (2/3)=1.3541
(3/4)=1.2254 , (4/5)=1.1642 .

1,0
1,1
1,2
1,3
1,4
1,5
1,6
1,7
1,8
1,9
2,0
1,0000
0,9514
0,9182
0,9875
0,8873
0,8862
0,8935
0,9086
0,9314
0,9618
1,0000



Tugas Matematika Lanjut Page 118






Jika x adalah bilangan bulat n = 1, 2, 3, ..., maka
(n) = dx e x
x n

}
0
1




(n+1) = n (n)

(p) (1-p) =
t
t
p sin
0 < p < 1

}

+
0
1
dx
x 1
p
x
=
t
t
p sin
0 < p < 1


, ,
Contoh 6 1 x 2 x 3 3! ) 4 ( dx e x . .
x -
0
3
= = = I =
}

a


8
3
(4)
16
1

) ( dx x .
0
2
3
0
2 3
2 / 2
2
2
= I =
|
.
|

\
|
=
} }

x
x
d e e b
x x

Tugas Matematika Lanjut Page 119

Contoh. x 3 y misalkan , dx e x
x 3
0
=

}

x = 1/9 y
2
dx = 2/9 y dy

27
4
(3) .
0
2
2/27 2/27 = I =
}

dy e y
y

Contoh. dx x
3
x -
0
e
}

misalkan y
3
= x
x = y
3

dx = 3 y
2
dy

}

0
2 y - 2 / 3
dy 3y e y


16
315
x 3
) ( 3 y 3
2
1

2
3

2
5

2
7
9/2
0
7/2
t
t = =
= I = =
}

dy e
y

Contoh. y x mis dx e
x -
0
4
=
}

x
x = y
2
dx = 2y dy
dy 2y e ) (
y -
0
4 / 1 2
}

y
dy y e 2
y -
0
2 / 1
}

y = 2 dy e 2
2
5
y -
0
2 / 3
|
.
|

\
|
I =
}

y
=
2
3

2
1

2
3
. 2
2
1
t =
|
.
|

\
|
I
Contoh y x mis dx e
3 x -
0
3
=
}


x = y
1/3
dx = 1/3 y
-2/3
dy
1/3
3
1
dy e
3
1
y -
0
3 / 2
|
.
|

\
|
I =
}

y atau (4/3)
Tugas Matematika Lanjut Page 120

Contoh. y 4x misalkan dx e x .
2 4x -
0
2
2
=
}


x = y
1/2

dx = y
-1/2
dy
dy y e
1/2 - y -
0
4
1
4
1
}

y = dy e
y -
0
2 / 1
16
1
}

y =
2
3
16
1
|
.
|

\
|
I
=
32
1
t
Contoh . dx e dx 2
0

0
2 ln
2
4x -
2
4x
} }

=

misalkan 4 x
2
ln 2 = y
x = dy
y
2 ln 4
2
1
-
y
dx
2
1
2 ln 4
= |
.
|

\
|


2 ln 4

2 ln 4
2
1

dy
2 ln 4
y e
dx 2
2
1
-
y -
0
4x -
0
2
t
=
|
.
|

\
|
I
=
=
} }


Contoh . y - ln x misalkan . dx ) / 1 ln(
1
0
3
=
}
x
x = e
-y
atau dx = - e
-y
dy


)
3
( )
3
(
dy e y y - . dx ln
1
3
1

4
y -
0
3
1 0
3
1 1
0
3
I = I
= =
} } }

dy e x
y

Fungsi Beta.

Fungsi Beta dinyatakan sebagai berikut :
a . B(m , n) =
}
>

1
0
0 m dan n untuk convergen dx x) (1 x
1 n 1 m

b . B(m , n) = B(n , m)
Tugas Matematika Lanjut Page 121

c .
}
=
/2
0
1 - 2m 1 - 2n
n) , B(m
2
1
d cos sin
d .
}

= I =
+
0
1 p

p sin

p) - 1 ( (p) dx
x 1
x
( 0 < p < 1 )
e .
) n m (
) n ( . ) m (
) n , m ( B
+
=


Contoh : Hitung
}
=
1
0
4 8
) ( B dx ) x - 1 ( 5 , 9 x

6435
1

! 13
! 4 ! 8

) 1 (
) ( ) (

4
5 9
= =
I
I I
=


Contoh : Hitung
}
=
1
0
5 4
y x misal dx ) x - 1 ( x
x = y
2

dx = 2ydy

} }
=
1
0
1
0
5 9 5 8
) 1 ( y 2 2ydy ) y - 1 ( dy y y
2 B ( 10 , 6 ) =
) (
) ( ) ( 2
16
6 10
I
I I

=
15015
1



Contoh : Hitung
}
=
1
0
3 1/2 - 3
y x misalkan dx ) x - 1 (
x = y
1/3

Tugas Matematika Lanjut Page 122

dx =
3
1
y
- 2/3
dy


} }
=
1
0
1
0
2
1
-
3
2
-
3
2
-
2
1
-
dy ) y - 1 ( y
3
dy
3
y
) y - 1 (
1


)
6
(
)
2
( )
3
(
)
3
( B

5
1 1
3
1
2
1
,
1
3
1
I
I I
=

Contoh : Hitung
2y x misalkan dx
x - 2
x
2
0
2
=
}

dx = 2 dy


} }
=
1
0
2
1
-
1
0
2
2
) y - 1 ( y
2
8

2y - 2
dy 2 (2y)
dy

15
2 64

)
2
7
(
)
2
1
( (3)
2
8
)
2
1
, 3 (
2
8
=
I
I I
= B

Contoh : Hitung
3y x misalkan
x - 3 x
dx
dx
x - 3x
1
3
0
3
0
2
= =
} }

dx = 3 dy

t )
2
( )
2
(
)
2
( B dy 3 ) 3y - 3 ( ) 3 (
1 1
2
1
,
1
1
0
2
1
-
2
1

= I I =
=
}

y



Contoh : Hitung
}
=
2
0
2 3/2 2
4y x misalkan dx ) x - 4 (
Tugas Matematika Lanjut Page 123

x = 2y
1/2


dx = y
-1/2
dy

}
1
0
1/2 - 3/2
dy y ) 4y - 4 (

}
1
0
1/2 - 3/2 3/2
dy y ) y - 1 ( 4
= 8 B ( , 5/2 ) = 8 3
2
8

) 3 (
) 5/2 ( ) 2 / 1 (

2
1
2
3
t
t t
= =
I
I I



Contoh
}
+ =
7
3
4
3 4y x misalkan dx ) x - 7 ( ) 3 - x (
dx = 4 dy

}
+
1
0
1/4 1/4
dy 4 ) 3 - 4y - 7 ( ) 3 - 3 4y (

}
=
1
0
1/4 1/4
) ( B 8 dy ) 4y - 4 ( ) 4y ( 4
4
5
,
4
5

)) ( (
3
2

) 2 / 5 (
) 4 / 1 ( ) 1/4 (
8
2
1/4
4
1
4
1
I =
I
I I
t




} }
=
1
0
1
0
4 2 4
dy ) y - 1 ( y 3 dy y 3 ) y - 1 (
2


35
1

) 8 (
) 5 ( (3)
3 5) , 3 ( B 3 =
I
I I
=

Contoh : Hitung
}
=
10
0
2 2
100y x misalkan dx x - 100
x = 10
2
1
y


Tugas Matematika Lanjut Page 124

dx = 5
2
1

y dy

} }
=
1
0
1
0
2
1
2
1
-
2
1
-
2
1
dy ) y - 1 ( y 50 dy y 5 ) y - 1 10(

25
) 2 (
)
2
1
( )
2
1
(

2
50
)
2
1
,
2
3
( B 50 t =
I
I I
=

Contoh Hitung
}
2 /
0
d ctg
t
| |
=
}
=
2 /
0
1/2 - 1/2
) ( B
2
1
d ) (sin ) cos (
4
1
,
4
3
t
| | |

4
1
n
2
1
1 2
4
3
m
2
1
1 2
= =
= =
n
m

) ( B
2
1

4
1
,
4
3
=

2

) (
)
4
( )
4
(

2
1

1
1 3
t
=
I
I I
=

Soal - soal
1. Hitung
}
=
1
0
2 n
/ 1 n
sin x misalkan
) x - 1 (
dx
|
n


2.
}
=
2
0
3 3 3
8y x misalkan dx x - 8 x

3.
} }
=
2 /
0
/2
0
1/2 -
d cos
cos
d

t t
| |
|
|


4.
} }
=
2 /
0
/2
0
1/2 - 1/2
d cos sin d tg
t t
| | | | |
Tugas Matematika Lanjut Page 125


5. Hitung
}

=
+
0
4
4
y x misalkan
x 1
dx


6. Buktikan .
) (
) ( ) (
2 ) x - 1 ( ) x 1 (
1 q p 1 - q 1 - p
1
1
q p
q p
dx
+ I
I I
= +
+ +

}


7. Carilah |
.
|

\
|
I
}

2
3
. Jwb dx e
0
x -
x
8. Carilah
2m
. Jwb
0
2 2 t
dx e
x m
}


9. Carilah
16
2
. Jwb e
2
2x -
0
2
t
dx x
}



10. Carilah
3 3
. Jwb
1
0
t
dx
x
x
}

+

Tugas Matematika Lanjut Page 126

FUNGSI BETA

Fungsi beta dinyatakan dengan B(m,n) didefinisikan sebagai B(m,n) =

( )

yang konvergen untuk m>0, N<0.


Fungsi beta ini dihubungkan dengan fungsi gamma oleh relasi ( )
()()
()


Akan kita tunjukkan kebenaran dari hubungan ini. Dengan misalkan


dapat ditulis : ()


Sesuai ini dapat ditulis ()



maka ()() (

)(



Mentransformasikan ke koordinat polar, diperoleh :
()()
()


(
()

)(

)
()()

() () ( )
( )
()

()
()

Hubungan berikut ini perlu anda ketahui pula :
( )

( )


( )

()

( )

( )


( ) ( )

Hubungan berikutnya yang perlu anda ketahui adalah :



Kebenaran hubungan ini akan kami tunjukkan dengan uraian berikut !
( )


Tugas Matematika Lanjut Page 127

( )

( )


Subtitusi

menghasilkan
( ) (


Soal-soal dan pembahasannya :
1. Hitunglah nilai (3, 5)
Jawab :
( )
()()
()

( )
()()
( )

( )
()
()

( )


( )


( )



2. Hitunglah nilai (6, 2)
Jawab :
( )
()()
()

( )
()()
( )

( )
()
()

( )



3. Hitunglah

( )


Jawab :
( )

( )


Tugas Matematika Lanjut Page 128

( )

( )


( )
()()
( )



4. Hitunglah

( )


Jawab :
( )

( )


( )

( )


( )
()()
()



5. Hitunglah

( )


Jawab :
( )

( )


( )

( )


( )
()()
()



6. Hitunglah


7. Hitunglah


8. Hitunglah


9. Hitung


10. Hitunglah


Tugas Matematika Lanjut Page 129

DERET FOURIER

Deret fourier adalah suatu deret yang banyak digunakan dalam bidang
rekayasa.Deret ini pertama sekali ditemukan oleh seorang ilmuwan Perancis Jean-Baptiste
JosephFourier (1768-1830). Deret yang selanjutnya dikenal sebagai Deret Fourier
inimerupakan deret dalam bentuk sinusoidal (sinus dan cosinus) yang digunakan
untukmerepresentasikan fungsi-fungsi periodik secara umum. Selain itu, deret ini
seringdijadikan sebagai alat bantu dalam menyelesaikan persamaan diferensial, baik
persamaan diferensial biasa maupun persamaan diferensial parsial. Teori dasar dari deret
Fouriercukup rumit. Meskipun demikian, aplikasinya sangat sederhana. Deret Fourier ini
lebihumum dibandingkan dengan deret Taylor. Hal ini disebabkan karena dalam
banyakpermasalahan praktis yang terkait dengan fungsi periodik tak kontinu dapat
diselesaikandengan menggunakan deret ini dan tidak ditemukan pada Deret Taylor.
Fungsi Periodik
Fungsi f(x) dikatakan periodik dengan perioda P, jika untuk semua
harga x berlaku:
f (x + P) = f (x) ; P adalah konstanta positif.
Harga terkecil dari P > 0 disebut perioda terkecil atau sering disebut
perioda dari f(x).
Contoh :
- Fungsi sin x mempunyai perioda 2; 4 ; 6 ; ...... karena sin (x+2 ) =
sin (x+4 ) = sin (x+6 ) = ..........= sin x.
- Periode dari sin nx atau cos nx ; dengan n bilangan bulat positif
adalah 2 /n.
- Periode dari tan x adalah .
- Fungsi konstan mempunyai periode sembarang bilangan positif.
Gambar grafik dari fungsi-fungsi yang periodik, misalnya :

Tugas Matematika Lanjut Page 130




Fungsi f(x) dikatakan kontinu pada setiap segmen (piecewise continuous function),
bila f(x) hanya kontinu pada interval-interval tertentu dan diskontinu pada titik-titik yang
banyaknya berhingga. Harga f(x) di titik-titik diskontinu ditentukan dengan menghitung
harga limit fungsi f(x) untuk x mendekati titik diskontinu (ujung masing-masing interval).


Deret Fourier
Dalam beberapa permasalahan yang berhubungan dengan gelombang (gelombang
suara, air, bunyi, panas, dsb) ; pendekatan dengan deret Fourier yang suku-sukunya
memuat sinus dan cosinus sering digunakan. Dengan mengekspansikan ke dalam bentuk
deret Fourier ; suatu fungsi periodik bisa dinyatakan sebagai jumlahan dari beberapa fungsi
harmonis, yaitu fungsi dari sinus dan cosinus (fungsi sinusoidal).



Tugas Matematika Lanjut Page 131

Definisi Deret Fourier :
Jika fungsi f(x) terdefinisi pada interval (-L;L) dan di luar interval tersebut f(x)
periodikdengan periode 2L ; maka deret Fourier atau ekspansi Fourier dari fungsi f(x)
tersebut di definisikan sebagai :

dengan koefisien Fourier a n , bn ditentukan oleh :

Jika interval (L;L) sembarang dan f(x) mempunyai periode 2L
maka :


dengan C sembarang bilangan real.
Jika C = -L maka rumus (4-4) dan (4-5) akan sama dengan (4-2) dan (4-3).
Deret Fourier konvergen bila memenuhi syarat/kondisi Dirichlet.
Syarat /Kondisi Dirichlet
Teorema : Jika,
1. f(x) terdefinisi dan bernilai tunggal, kecuali pada beberapa titik
yang banyaknya berhingga pada interval (-L:L).
2. f(x) periodik dengan perioda 2L.
3.f(x) dan f(x) merupakan fungsi-fungsi yang kontinu pada setiap segmen pada interval (-
L;L).

Maka deret Fourier (4-1) dengan koefisien (4-2) dan (4-3) atau (4-4)
dan (4-5) konvergen ke :

Contoh :
1. Tentukan deret Fourier dari fungsi f(x) yang didefinisikan sebagai :

di luar interval ini f(x) periodik dengan perioda 2 .
(4-1)
(4-2)
(4-3)
(4-4)
(4-5)
Tugas Matematika Lanjut Page 132

Penyelesaian :




Fungsi f (x) pada contoh diatas bisa dimisalkan merupakan suatu pulsa voltase yang
periodik; dan suku-suku dari deret Fourier yang dihasilkan akan berkaitan dengan
Tugas Matematika Lanjut Page 133

frekuensi frekuensi yang berbeda dari arus bolak balik yang dihubungkan pada gelombang
bujur sangkar dari voltase tadi.

2. Tentukan deret Fourier dari :

dan bagaimanakah f (x) harus ditentukan pada x = -5 ; x = 0 dan x = 5
agar deret Fourier tersebut konvergen ke f (x) pada -5 < x < 5.


Penyelesaian :
Periode = 2L . L=5


Deret Fouriernya :






f(x) memenuhi syarat Dirichlet , jadi deret Fourier akan konvergen ke:
- F (x) ; jika x titik kontinu
- f (x
+
) + f (x
-
) ; jika x titik diskontinu
2
titik-titik x = -5; 0 dan 5 merupakan titik-titik diskontinu dari f (x) pada
interval (-5,5) sehingga :
Tugas Matematika Lanjut Page 134


di x = -5 ; deret akan konvergen ke :

di x = 0 ; deret akan konvergen ke :

di x = 5 ; deret akan konvergen ke :

Deret Fourier diatas akan konvergen ke f (x) pada interval -5 x 5
apabila f (x) ditentukan sbb:







diluar interval ini periodik dengan p = 10
3. Ekspansikan f (x) = x
2
; 0 < x < 2 kedalam deret Fourier jika f (x)
Periodik dengan periode 2 .
Penyelesaian :





periode 2L = 2

L =











Tugas Matematika Lanjut Page 135




















4. Dengan menggunakan hasil dari contoh no. 3, buktikan bahwa :

Penyelesaian :
Pada x = 0 ; deret Fourier dari f(x) = x
2
konvergen ke f(x) =















Tugas Matematika Lanjut Page 136

2.3 Fungsi Genap dan Fungsi Ganjil
Fungsi f(x) disebut fungsi genap jika f ( -x ) = f (x) untuk setiap x.
Contoh :






Polinomial dalam x yang suku-sukunya adalah x berpangkat genap
merupakan fungsi genap. Jika f (x) fungsi genap maka:

Fungsi f (x) disebut fungsi ganjil jika f ( -x ) = - f (x) untuk semua x.

Contoh :







Polinomial dalam x yang suku-sukunya adalah x berpangkat ganjil
merupakan fungsi ganjil. Jika f (x) fungsi ganjil maka:


4.4 Deret Sinus dan Deret Cosinus Setengah Jangkauan (Half Range)

Deret fourier dari fungsi genap :





Genap
(4-6)
(4-7)
Tugas Matematika Lanjut Page 137


Jadi , jika f(x) fungsi genap maka bn = 0 ; sehingga yang muncul hanya
suku-suku yang mengandung cosinus saja atau suku-suku dari an.

Deret fourier dari fungsi ganjil:



Jika f(x) fungsi ganjil maka an = 0 ; sehingga yang muncul hanya suku-suku yang
mengandung sinus saja atau suku-suku dari bn.
Deret sinus dan cosinus setengah jangkauan adalah suatu deret Fourier yang hanya
mengandung suku sinus atau cosinus saja. Apabila diinginkan deret setengah jangkauan
yang sesuai dengan fungsi yang diberikan, fungsi yang dimaksud biasanya hanya diberikan
dalam setengah interval adari (-L;L) yaitu pada interval (0;L) saja. Setengah lainya yaitu (-
L,0) ditentukan berdasarkan penjelasan fungsinya genap atau ganjil.


Deret sinus setengah jangkauan adalah deret Fourier dengan :
f(x) fungsi ganjil


Deret Cosinus setengah jangkauan adalah deret Fourier dengan:


(4-8)
Tugas Matematika Lanjut Page 138

f(x) fungsi genap



Contoh:
Ekspansikan f (x) = x ; 0 < x < 2 ke dalam :
a. deret sinus setengah jangkauan
b. deret cosinus setengah jangkauan

Penyelesaian :

a. deret sinus setengah jangkauan







f (x) = x ; 0 < x < 2 diperluas dalam bentuk fungsi ganjil sepanjang
interval-2 < x < 2
(dengan periode 4), sebagai berikut:
Sehingga :
an = 0









Jadi deret sinus:



(4-9)
Tugas Matematika Lanjut Page 139

b. Deret cosinus setengah jangkauan






f (x) = x ; 0 < x < 2 diperluas dalam bentuk fungsi ganjil sepanjang interval-2 < x <
2 (dengan periode 4), sebagai berikut:
an = 0











bn = 0
Jadi deret cosinus:







Tugas Matematika Lanjut Page 140



Jawaban





Tugas Matematika Lanjut Page 141

INTEGRAL FOURIER

Definisi Integral Fourier
Marilah kita menganggap syarat syarat berikut pada f(x) :
1. f(x) memenuhi syarat syarat dirichlet di dalam tiap tiap interval berhingga (-L, L).
2.
}


dx x f ) ( konvergen, yakni f(x) integrabel mutlak dalam ( , ).
Maka teorema integral Fourier menyatakan bahwa
{ }
}

+ =
0
sin ) ( cos ) ( ) ( o o o o o d x B x A x f (1)

}
}


=
=
xdx x f A
xdx x f B
o
t
o
o
t
o
cos ) (
1
) (
sin ) (
1
) (
mana di
(2)
Hasil (1) berlaku jika x adalah sebuah titik kontinuitas dari f(x). jika x adalah sebuah titik
diskontinuitas, maka kita harus menggantikan f(x) dengan
2
) 0 ( ) 0 ( + + x f x f

Seperti didalam kasus deret fourier. Perhatikan bahwa syarat syarat yang di atas
adalah syarat cukup tetapi bukan merupakan syarat perlu.
Keserupaan (1) dan (2) dengan hasil hasil yang bersangkutan untuk deret fourier
terlihat dengan jelas. Ruas kanan dari (1) kadang-kadang dinamakan ekspansi integral fourier dari
f(x).
Teorema (Integral Fourier)
Jika f(x) fungsi kontinu sepotong demi sepotong pada setiap interval berhingga,
memiliki derivative kiri dan derivative kanan di sekitar titik, dan integral dx x f
a
a
}

0
) ( lim +
dx x f
b
b
}

0
) ( lim ada, maka f(x) dapat di interpretasikan oleh integral fourier.
Tugas Matematika Lanjut Page 142

{ }
}

+ =
0
sin ) ( cos ) ( ) ( o o o o o d x B x A x f

}
}


=
=
xdx x f A
xdx x f B
o
t
o
o
t
o
cos ) (
1
) (
sin ) (
1
) (
mana di

Di titik dimana f(x) tak kontinu, nilai interval sama dengan rata-rata dari limit kiri dan
limit kanan f(x) di titik tersebut.
Contoh : Cari representasi integral fourier dari fungsi
{
1 , 1
1 , 0
) (
<
>
=
x jika
x jika
x f

Penyelesaian :
dx x x f x A
}


= o
t
cos ) (
1
) ( + =
}


dx x x f
1
cos ) (
1
o
t
+
}

dx x x f
1
1
cos ) (
1
o
t
dx x x f
}

1
cos ) (
1
o
t

+ =
}


dx x
1
cos . 0
1
o
t
dx x
}

1
1
cos . 1
1
o
t
+ dx x
}

1
cos 0
1
o
t
dx x
}

=
1
1
cos . 1
1
o
t

) ( cos
1 1
1
1
x d x o o
o t
}

= | |
1
1
sin
1

= x o
to
| | ) sin( sin
1
o o
to
= | | o o
to
sin sin
1
+ =

to
o sin 2
=
dx x x f x B
}


= o
t
sin ) (
1
) ( + =
}


dx x x f
1
sin ) (
1
o
t
+
}

dx x x f
1
1
sin ) (
1
o
t
dx x x f
}

1
sin ) (
1
o
t

+ =
}


dx x
1
sin . 0
1
o
t
+
}

dx x
1
1
sin . 1
1
o
t
dx x
}

1
sin . 0
1
o
t
= dx x
}

1
1
sin . 1
1
o
t
=
) ( sin
1 1
1
1
x d x o o
o t
}

= | |
1
1
cos
1

x o
to
= | | ) cos( cos
1
o o
to
= | | o o
to
cos cos
1

= 0
{ }
}

+ =
0
sin ) ( cos ) ( ) ( o o o o o d x B x A x f
}

)
`

+ =
0
sin . 0 cos
sin 2
o o o
to
o
d x x

}

=
0
cos sin 2 2
o
o
o o
t
d
x

Tugas Matematika Lanjut Page 143

INTEGRAL COSINUS DAN INTEGRAL SINUS FOURIER
Jika f(x) genap, maka integral f(x) coso x merupakan fungsi genap dalam x, dan f(x) sino x
fungsi ganjil dalam x.
Dengan demikian :
dx x x f x B
}


= o
t
sin ) (
1
) ( = 0
dx x x f x A
}


= o
t
cos ) (
1
) ( dx x x f
}

=
0
cos ) (
2
o
t

{ }
}

+ =
0
sin ) ( cos ) ( ) ( o o o o o d x B x A x f { }
}

+ =
0
. 0 cos ) ( o o o d x x A

}

=
0
cos ) ( o o o xd A yang merupakan integral cosinus fourier
Jika f(x) ganjil, maka integral f(x) coso x merupakan fungsi ganjil dalam x, dan f(x) sino x
fungsi genap dalam x.
Dengan demikian :
dx x x f x A
}


= o
t
cos ) (
1
) ( =0,
dx x x f x B
}


= o
t
sin ) (
1
) ( dx x x f
}

=
0
sin ) (
2
o
t

{ }
}

+ =
0
sin ) ( cos ) ( ) ( o o o o o d x B x A x f { }
}

+ =
0
sin ) ( . 0 o o o d x B x

}

=
0
sin ) ( o o o xd B , yang merupakan integral sinus fourier
Contoh :
Cari Integral cosinus dan sinus fourier dari f(x) = e
-kx
, ( x > 0, k > 0 )

Penyelesaian :
Tugas Matematika Lanjut Page 144

dx x x f x A
}


= o
t
cos ) (
1
) ( dx x x f
}

=
0
cos ) (
2
o
t
dx x e
kx
}

=
0
cos
2
o
t
dx x e
p
kx
p
}


=
0
cos lim
2
o
t
{ }
(

+
+
=


p
kx
p
x x k
k
e
0
2 2
sin cos ) (
) (
lim
2
o o o
o t

) 0 sin 0 cos ( ) sin cos ( lim
2
2 2
0
2 2
o
o
o o o
o t
+
+

)
`

+
+
=


k
k
e
p p k
k
e
kx
p


(

+
+
= ) 0 . (
1
0
2
2 2
o
o t
k
k
(

+
=
2 2
1 2
o t k
k

dx x x f x B
}


= o
t
sin ) (
1
) ( dx x x f
}

=
0
sin ) (
2
o
t
dx x e
kx
}

=
0
sin
2
o
t
dx x e
p
kx
p
}


=
0
sin lim
2
o
t

{ }
(

+
+
=


p
kx
p
x x k
k
e
0
2 2
cos sin ) (
) (
lim
2
o o o
o t

) 0 cos 0 sin ( ) cos sin ( lim
2
2 2
0
2 2
o
o
o o o
o t

+

)
`


+
=


k
k
e
p p k
k
e
kx
p


(


+
= ) 1 . 0 . (
1
0
2
2 2
o
o t
k
k
(

+
=
2 2
2
o
o
t k

Maka integral cosinus fourier:
f(x)
}

=
0
cos ) ( o o o xd A
}

+
=
0
2 2
cos
1 2
o o
o t
xd
k
k
}

+
=
0
2 2
cos 2
o
o
o
t
d
k
x k

Maka integral sinus fourier :
f(x)
}

=
0
sin ) ( o o o xd B
}

+
=
0
2 2
sin
2
o o
o
o
t
xd
k
}

+
=
0
2 2
sin 2
o
o
o o
t
d
k
x

FORMAT PADANAN DARI TEOREMA INTEGRAL FOURIER
Teorema integral fourier dapat juga ditulisdalam bentuk:
} }

=

=
=
u
d du x u u f x f o o
t
o
) ( cos ) (
1
) (
0

} }

=


=
u
x u i
du e u f x f
) (
) (
2
1
) (
o
t

Tugas Matematika Lanjut Page 145

Dimana jika f(x) tidak kontinu di sebelah kiri x harus diganti dengan
2
) 0 ( ) 0 ( + + x f x f
.
Hasil-hasil ini masih dapat disederhanakan jika f(x) adalah sebuah fungsi ganjil atau sebuah fungsi
genap, dan kita memperoleh
} }

=
0 0
cos ) ( cos
2
) ( udu u f xd x f o o o
t
jika f(x) genap
} }

=
0 0
sin ) ( sin
2
) ( udu u f xd x f o o o
t
jika f(x) ganjil

TRANSFORMASI FOURIER
}


= du e u f F
u io
t
o ) (
2
1
) (
Maka
}

= o o
t
o
d e f x f
u i
) (
2
1
) (
Fungsi F(o ) dinamakan transformasi Fourier dari f(x) dan kadang-kadang dituliskan
sebagai { } ) ( ) ( x f F F = o . Fungsi f(x) adalah transformasi Fourier invers dari F(o ) dan dituliskan
sebagai { } ) ( ) (
1
o F F x f

= .

Contoh:
Carilah transformasi Fourier dari fungsi

{
a x bila
a x bila
x f
<
>
, 1
, 0
) (

Penyelesaian:
}


= du e u f F
u io
t
o ) (
2
1
) (
}

=
a
a
u i
du e
o
t
. 1
2
1
(

a
a
u i
e
i
o
o
t
1
2
1


(

=
iau iau
e e
i
(
1
2
1
o
t
(


=

i
e e
iau u i
2
2
2
o
t o
0 ,
) sin(
2
4
= = o
o
o
t
a


o
o
t
) sin(
2
4 a
=
o
o
t
) sin( 2 a
=
Tugas Matematika Lanjut Page 146

}

=
a
a
dx F 1
2
1
) 0 (
t t 2
2a
= a
t 2
4
= a
t
2
=
Jadi,

=
=
=
0 ,
) sin( 2
0 .
2
) (
o
o
o
t
o
t
o
bila
a
bila a
F


TRANSFORMASI COSINUS FOURIER
{ }
}

= =
0
) cos( ) (
2
) ( ) ( du u u f x f F F
c
o
t
o
Dan { }
}

= =
0
1
) cos( ) (
2
) ( ) ( o o o
t
o d u F F F x f
c c c

Bukti :
}


= du e u f F
u i
c
o
t
o ) (
2
1
) (
(

+ =
} }


du u u f i du u u f ) sin( ) ( ) cos( ) (
2
1
o o
t


(

=
}

0
) cos( ) ( 2
2
1
du u u f o
t
}

=
0
) cos( ) (
2
4
du u u f o
t
}

=
0
) cos( ) (
2
du u u f o
t

}

= o o
t
o
d e f x f
u i
) (
2
1
) (
} }


= o o o
t
o o o
t
d x F
i
d x f
c
) sin( ) (
2
) cos( ) (
2
1


}

=
0
) cos( ) (
2
4
o o o
t
d x F
c
}

=
0
) cos( ) (
2
o o o
t
d u F
c

Mengingat F
c
(o ) adalah fungsi genap yaitu F
c
(-o ) = F
c
(o ) untuk tiap o , di mana f(x) adalah
transformasi cosinus fourier invers.
TRANSFORMASI SINUS FOURIER
Fungsi F
s
(o ) disebut transformasi sinus fourier dari fungsi f(x) dan ditulis F
s
(o )=
{ } ) (x f F
s
,
Bila ,
}

=
0
) sin( ) (
2
) ( du u u f F
s
o
t
o .
Tugas Matematika Lanjut Page 147

Sedangkan fungsi f(x) disebut transformasi sinus fourier invers dari F
s
(o ) dan ditulis f
s
(o )=
{ } ) (
1
o
s s
F F

,
Bila, f(x)
}

=
0
) sin( ) (
2
o o o
t
d u F
c

mengingat F
s
(o ) adalah fungsi ganjil yaitu F
s
(-o )= - f
s
(o ) untuk setiap o .
Contoh :
1. Carilah transformasi sinus Fourier dari fungsi
{
1 0 , 1
1 , 0
) (
< <
>
=
x bila
x bila
x f

Penyelesaian :
}

=
0
) sin( ) (
2
) ( du u u f F
s
o
t
o
(

+ =
} }

1
1
0
) sin( . 0 ) sin( . 1
2
u du u o o
t


(

=
1
0
) cos(
1 2
u o
o t
(

= ) 0 cos (cos
1 2
o
o t

(

= ) 1 (cos
1 2
o
o t

0 ,
2 cos 1
=

= o
t o
o

2. Carilah transformasi cosinus Fourier dari fungsi f(x)= e
-x
, x > 0
Penyelesaian :
}

=
0
) cos( ) (
2
) ( du u u f F
c
o
t
o
}

=
0
) cos(
2
du u e
u
o
t
(
(

=
}


p
u
p
u e
0
) cos( lim
2
o
t


(
(

)
`

+
+
=


p
u
p
u u
e
0
2 2
) sin( ) cos( ) 1 ((
) 1 (
lim
2
o o o
o t


(
(

+
+

)
`

+
+
=


) 0 cos 0 cos (
1
) sin( ) cos( ) 1 ((
) 1 (
lim
2
2
0
2 2
o
o
o o o
o t
e
p p
e
u
p


(

+
+
= ) 0 1 (
1
1
0
2
2
o t
(

+
=
2
1
1 2
o t

Jadi, F
c
(o )
(

+
=
2
1
1 2
o t

Tugas Matematika Lanjut Page 148

PERSAMAAN BESSEL

Fungsi Bessel Jenis Pertama
Bentuk umum PD Bessel : x
2
y + xy + (x
2
- u
2
)y = 0 (2-31) dengan u
parameter yang diketahui dan nilai u > 0.
Persamaan ini biasanya muncul dalam masalah getaran; medan-medan elektrostatik;
masalah konduksi panas dan sebagainya.Untuk menyelesaikan PD Bessel ini, digunakan
metoda Frobenius dengan penderetan di sekitar x=0 (x=0 merupakan titik singular
teratur untuk PD Bessel di atas).
Penyelesaian PD mempunyai bentuk :
Y(x) = x
r

=0 m
a
m
x
m
=

=0 m
a
m
x
m+r
(2-32)
dengan syarat nilai a
0
# 0. Sehingga :
y(x) =

=0 m
(m + r)a
m
x
m+r-1
= x
r-1

=0 m
(m + r)a
m
x
m
.. (2-33)
y(x) =

=0 m
(m + r)m + r-1)a
m
x
m+r-2
= x
r-2

=0 m
(m + r)(m +r-1)a
m
x
m

... (2-34)
PDnya mempunyai :
x
2
(

+ +

0 m
m
m
2 r
x a ) 1 r m )( r m ( x
+ x
(

0 m
m
m
1 r
x a ) r m ( x
+ (x
2
- u
2
)
(

=0 m
m
m
r
x a x
= 0 atau,

=0 m
(m + r)(m + r-1)a
m
x
m+r
+

=0 m
(m + r)a
m
x
m+r
+

=0 m
a
m
x
m+r+2
- u
2

=0 m
a
m
x
m+r
= 0. (2-35)
Jika x tidak selalu nol, maka yang pasti = 0 adalah koefisien-koefisien dari x
r+s
:
Koefisien x
r
: (r -1)ra
0
+ ra
0
- u a
0
= 0
Tugas Matematika Lanjut Page 149

(r
2
r + r - u
2
)a
0
= 0
(r
2
- u
2
)a
0
= 0 ; a
0
# 0
Persamaan indical : r
2
- u
2
= 0 ; r
1.2
= + u (2-36)
Koefisien x
r+1
: r(r + 1)a
1
+ (r + 1)a
1
- u
2
a
1
= 0
(r
2
+ r + r + 1 - u
2
)a
1
= 0
(2r + 1 + r
2
- u
2
)a
1
= 0
(2r + 1 +)a
1
= 0; (2r + 1) tidak selalu 0
a
1
= 0
Koefisien x
r+s
: (s + r -1))s + r)a
s
+ (s + r)a
s
+ a
s-2
- u
2
a
s
= 0
[(s + r)(s + r -1 + 1) - u
2
]a
s
= a
s-2

[(s + r)
2
- u
2
]a
s
= -a
s-2

a
s
= -
2 2
2 s
) r s (
a
u +

(2-37)
Untuk r = u :
a
s
= -
) 2 s ( s
a
s 2 s
a
) s (
a
2 s
2 2 2
2 s
2 2
2 s
u +
=
u u + u +
=
u u +


s = 2 a
2
= -
) 1 ( 4
a
) 2 2 ( 2
a
0 0
u +
=
u +

s = 3 a
3
= - 0
) 2 3 ( 3
a
1
=
u +

s = 4 a
4
= -
) 1 ( 4 . ) 2 ( 4 . 2
a
) 2 4 ( 4
a
0 2
u + u +
=
u +

Karena a
1
= 0 ; u > 0, maka untuk s ganjil a
s
= 0 dan untuk s genap = 2m; m = 1,2,3.
a
2m
= -
2 m 2
a
) m 2 2 ( m 2
1

+ u
= -
2 m 2
2
a
) m ( m 2
1

+ u

Karena a
0
sembarang dan a
0
# 0, maka bisa dipilih a
0
=
) 1 ( 2
1
+ u I
u

Tugas Matematika Lanjut Page 150

Dengan I(u + 1) = uI(u) = u! Untuk u = 0,1,2,3,. Sehingga :
m = 1 a
2
= -
) 1 ( 2
1
) 1 ( 2
1
) 2 2 ( 2
a
2
0
+ u I + u
=
+ u
u

=
) 2 ( 2 ! 1
1
) 2 ( 2
1
) 1 ( ) 1 ( 2
1
2 2 2
+ u I
=
+ u I

=
+ u I + u

+ u + u + u

m = 2 a
4
= -
) 2 ( 2
1
) 2 ( 2 . 2
1
) 2 ( 2 2
a
2 2 2
2
+ u I

+ u
=
+ u
u +

=
) 3 ( 2 ! 2
1
) 3 ( 2 . 2
1
4 4
+ u I
=
+ u I
+ u + u

m = 3 a
6
= -
) 3 ( 2 ! 2
1
) 3 ( 2 . 3
1
) 3 ( 3 2
a
4 2 2
4
+ u I + u
=
+ u
u +

m = m a
2m
= (-1)
m

) 1 m ( 2 ! m
1
m 2
+ + u I
+ u

y =

=0 m
(-1)
m

m 2
m 2
x
) 1 m ( 2 ! m
1
+ u
+ u
+ + u I
.. (2-38)
Fungsi y yang merupakan penyelesaian PD berbentuk deret tak hingga ini disebut Fungsi
Bessel Jenis Pertama orde u dan dinotasikan dengan J
u
(x).
Jadi, J
u
(x) =

=0 m
(-1)
m

m 2
m 2
x
) 1 m ( 2 ! m
1
+ u
+ u
+ + u I

J
u
(x) = x
u

=0 m
(-1)
m

m 2
m 2
x
) 1 m ( 2 ! m
1
+ + u I
+ u
(2-39)
Untuk akar indicial yang lain, yaitu r = -u ;
J
-u
=(x) =

=0 m
(-1)
m

m 2
m 2
x
) 1 m ( 2 ! m
1
+ u
+ u
+ + u I
(2-40)
Untuk u bukan integer (bukan bilangan bulat), maka J
u
(x) dan J
-u
tidak bergantungan
secara linier, sehingga PUD PD Bessel :
y(x) = C
1
J
u
(x) + C
2
J
-u
(x) (2-41)
Untuk u integer (bulat); misalkan u = n ; n = 0,1,2,3, ..
Tugas Matematika Lanjut Page 151

J
-n
(x) =

=0 m
(-1)
m

m 2 n
m 2 n
x
) 1 m n ( 2 ! m
1
+
+
+ + I

=

=0 m
(-1)
m
+
+ + I
+
+
) 1 m n ( 2 ! m
x
m 2 n
m 2 n

=n m
(-1)
m

) 1 m n ( 2 ! m
x
m 2 n
m 2 n
+ + I
+
+

Karena untuk m = 0, 1, 2, ..(n-1) ; harga I(-n + m + 1) = , maka :
J
-n
(x) =

=0 m
(-1)
m

m 2 n
m 2 n
m 2 n
x
) 1 m n ( 2 ! m
x
+
+
+
+ + I

=

=0 m
(-1)
m
+
+ + I
+
+
) 1 m n ( 2 ! m
x
m 2 n
m 2 n

=n m
(-1)
m

) 1 m n ( 2 ! m
x
m 2 n
m 2 n
+ + I
+
+

Karena untuk m = 0, 1, 2, (n-1) ; harga I(-n + m + 1) = , maka :
J
-n
(x) =

=n m
(-1)
m

) 1 m n ( 2 ! m
x
m 2 n
m 2 n
+ + I
+
+

Misalkan,
)
`

+ =
=
n p m
n m p

- - n + 2m = 2p + n
- -n + m + 1 = -n + p + n + 1 = p + 1
- M = n p + n = n p = 0
Sehingga,
J
-n
(x) =

0 p
(-1)
p+n

) 1 p ( 2 )! n p (
x
n p 2
n p 2
+ I +
+
+
= (-1)
n
x
n

0 p
(-1)
p

) 1 n p ( 2 ! p
x
n p 2
p 2
+ + I
+

= (-1)
n
J
n
(x)
Jadi untuk u = n bulat :
Y(x) = C
1
J
n
(x) + C
2
J
-n
(x) = C
1
J
n
(x) + (-1)
n
C
2
J
-n
(x)
Y(x) = [C
1
+ (-1)
n
C
2
]J
n
(x) = KJ
n
(x)
Belum merupakan PU PD Bessel, karena hanya memuat satu konstanta sembarang
untuk PD orde 2. Untuk menentukan Penyelesaian Basis yang lain pada kasus u = n
bulat ini akan dibahas pada bagian Fungsi Bessel Jenis Kedua.
Tugas Matematika Lanjut Page 152

Fungsi Bessel Jenis Pertama untuk n = 0, 1, 2, (bulat)
J
n
(x) = x
n

0 m
(-1)
m

m 2
m 2 n
x
) 1 m n ( 2 ! m
1
+ + I
+

n = 0 J
0
(x) =

0 m
(-1)
m

m 2
m 2 n
x
) 1 m n ( 2 ! m
1
+ + I
+

=
) 3 ( ! 2 2
x ) 1 (
) 2 ( ! 1 2
x ) 1 (
) 1 ( ! 0 2
x ) 1 (
4
4 2
2
2 1
0
0 0
I

+
I

+
I

+ .
= 1 -
2 6
6
2 4
4
2
2
) ! 3 ( 2
x
) ! 2 ( 2
x
2
x
+ +
= 1 -
2304
x
64
x
4
x
6 4 2
+ +
n = 1 J
1
(x) =

0 m
(-1)
m

1 m 2
1 m 2
x
) 2 m ( 2 ! m
1
+
+
+ I

=
) 4 ( ! 2 2
x ) 1 (
) 3 ( ! 1 2
x ) 1 (
) 2 ( ! 0 2
x ) 1 (
5
5 2
3
3 1
1
1 0
I

+
I

+
I

+ .
=
! 3 ! 2 2
x
! 2 ! 1 2
x
2
x
5
5
3
3
+ -
=
384
x
16
x
2
x
5 3
+ -






- Akar-akar dari J
0
(x) = 0 dan J
1
(x) = 0
Berikut ini adalah 5 buah akar positif pertama dari J
0
(x) = 0 dan J
1
(x) = 0 dalam 4
desimal, beserta selisih antara 2 akar yang berurutan :
Tugas Matematika Lanjut Page 153

J
0
(x) J
1
(x)
Akar Selisih Akar Selisih
x
1
= 2,4048

3,1153
x
2
= 5,5201

3,1336
x
3
= 8,6537

3,1378
x
4
= 11,7915

3,1394
x
5
= 14,9309
x
1
= 3,8317

3,1839
x
2
= 7,0156

3,1579
x
3
= 10,1735

3,1502
x
4
= 13,3237
3,1469
x
5
= 16,4706
Untuk u = ;
J
1/2
(x) = x
1/2

0 m
(-1)
m

m 2
m 2 2 / 1
x
) 1 m 2 / 1 ( 2 ! m
1
+ + I
+

=

0 m
) 2 / 3 m ( ! m
) 1 ( ) 2 / x (
m m 2 2 / 1
+ I

+

J
1/2
(x) =
t
+
t

t
2
1
2
9
2
5
2 / 9
2
1
2
3
2 / 5
2
1
2 / 1
! 2
) 2 / x (
! 1
) 2 / x (
! 0
) 2 / x (

Catatan : I(u + 1) = uI(u)
I( )
2
1
= t
J
1/2
(x) =
(

+
t
.........
2 / 3 2 / 5 ! 2
) 2 / x (
2 / 3 ! 1
) 2 / x (
1
2 / 1
) 2 / x (
4 2 2 / 1


Tugas Matematika Lanjut Page 154

=
(

+
t
....... ..........
35 2 ! 2
x
3 2 ! 1
x
1
2 / 1
) 2 / x (
2
4 2 2 / 1

=
(

+
t
......... ..........
! 5
x
! 3
x
1
2 / 1
) 2 / x (
4 2 2 / 1

Ekspansi Mc. Laurin
(

=0 n
n
n
) 0 ( f
! n
x
) x ( f dari :
Sin x = x -
! 7
x
! 5
x
! 3
x
7 5 3
+ +
Cos x = 1 -
! 8
x
! 4
x
! 2
x
8 4 2
+ + .
Jadi :
J
1/2
(x) =
(

+ +
t
........ ..........
! 7
x
! 5
x
! 3
x
x
x
1
2 / 1
) 2 / x (
7 5 3 2 / 1

=


J
1/2
(x) = x Sin
x
2
t

Dengan cara yang sama bisa ditentukan :
J
-1/2
(x) = x Cos
x
2
t

J
3/2
(x) =
(


t
x cos
x
x sin
x
2

J-
3/2
(x) =
(


t
x sin
x
x cos
x
2

Rumus-rumus untuk fungsi Bessel :
1. [x
u
J
u
(x)] = x
u
J
u-1
(x)
2. [x
-u
J
u
(x)] = -x
-u
J
u+1
(x)
3. J
u-1
(x) + J
u+1
(x) =
x
2u
J
u
(x)
4. J
u-1
(x)-J
u+1
(x) = 2J
u
(x)
Tugas Matematika Lanjut Page 155

Rumus integral yang meliputi fungsi Bessel
1. }x
u
J
u-1
(x)dx = x
u
J
u
(x) + C
2. }J
u+1
(x)dx = }J
u-1
(x)dx 2J
u
(x)
3. }x
-u
J
u+1
(x)dx = -x
-u
J
u
(x) + C
Contoh :
1. J
3/2
(x) = J
1/2+1
(x) =
x
2
2
1
J
1/2
(x) J
1/2-1
(x)
=
(


t
=
t

t
x Cos
x
x Sin
x
2
x Cos
x
2
x Sin
x
2
x
1

J
-3/2
(x) = J
-1/2-1
(x) =
x
) ( 2
2
1

J
-1/2
(x) J
-1/2+1
(x)
= - x Cos
x
2
x Sin
x
2
x
1
t

t
= -
(


t
x Sin
x
x Cos
x
2

2. } x
4
J
1
(x) dx = }x
2
x
2
J
1
(x) dx = }x
2
d[x
2
J
2
(x)]
= x
2
x
2
J
2
(x) - }x
2
J
2
(x)dx
2
= x
4
J
2
(x) - 2} x
3
J
2
(x)
= x
4
J
2 (x) 2
}d [x
3
J
3
(x) ]= x
4
J
2
(x) 2x
3
J
3
(x) + C
= x
4

(

) x ( J ) x ( J
x
2 . 2
x 2 ) x ( J ) x ( J
x
2
1 2
3
0 1

= x
4

(

|
.
|

\
|

(

) x ( J ) x ( J ) x ( J
x
2
x
4
x 2 ) x ( J ) x ( J
x
2
1 0 1
3
0 1

= 2x
3
J
1
(x) x
4
J
0
(x) 16x J
1
(x) + 9x
2
J
0
(x) + 2x
3
J
1
(x)
= (8x
2
x
4
) J
0
(x) + (4x
3
16x) J
1
(x) + C
3. } x
3
J
3
(x) dx = }x
5
[x
-2
J
3
(x)]dx = -}x
5
d[x
-2
J
2
(x)]
= -x
5
x
-2
J
2
(x) + }x
-2
J
2
(x) dx
5

= x
3
J
2
(x) + 5 }x
2
J
2
(x) dx
5
= -x
3
J
2
(x) + 5 }x
3
[x
-1
J
2
(x)]
= -x
3
J
2
(x) + 5 }x
3
d[x
-1
J
1
(x)]
= -x
3
J
2
(x) + 5x
2
J
1
(x) 5 }x
-1
J
1
(x) dx
3

= - x
3
J
2
(x) + 5x
2
J
1
(x) 15 } x J
1
(x) dx
Tugas Matematika Lanjut Page 156

= -x
3
J
2
(x) + 5x
2
J
1
(x) 15 } x J
0
(x) dx
= -x
3

J
2
(x) + 5x
2
J
1
(x) 15 }x d [J
0
(x)]
= -x
3
J
2
(x) + 5x
2
J
1
(x) 15 x J
0
(x) - 15} J
0
(x) dx
Contoh aplikasi : Vibrasi dari Rantai yang Tergantung
Suatu rantai dengan masa persatuan panjang konstan, dengan panjang L
digantung tegak lurus pada suatu tumpuan tetap ) seperti pada gambar. Pada saat t = 0,
rantai ditempatkan dengan membentuk sudut o terhadap bidang vertikal, kemudian
dilepaskan.





L = panjang rantai
= densitas rantai (massa persatuan panjang) = konstan
o = sudut penyimpangan rantai terhadap bidang vertikal
U(x,t) = besarnya simpangan di titik x = x pada rantai terhadap vertikal pada saat
t.

Berat bagian rantai di bawah sembarang titik (x = x) = W (x)
W (x) = g (L-x)
Karena rantai menyimpang sejauh o terhadap bidang vertikal, maka
W (x) ~ gaya tekan yang bekerja secara tangensial pada gerak rantai.
Sehingga komponen horisontal dari gaya tekan [W(x)] :
F(x) = W (x)sino
Tugas Matematika Lanjut Page 157

Jika o 0 ; W (x) Sin o ~ W (x) tg o = W(x)
x
) t , x ( U
c
c

Ambil bagian kecil rantai dari x sampai x + Ax ; dengan Ax 0
maka besarnya perubahan gaya : F (x + Ax) F (x)
F(x+ Ax) F (x) = W(x+ Ax)
) x x (
) t , x x ( U
A + c
A + c
- W(x)
x
) t , x ( U
c
c

=
0 x
lim
A
Ax
(
(
(
(

A
c
c

A + c
A + c
A +
x
x
) t , x ( U
) x ( w
) x x (
t , x x ( U
) x x ( w

= Ax
(

c
c
c
c
x
) t (, U
) x ( w
x

= Ax
(

c
c

c
c
x
U
) x L ( g
x

Hukum Newton II : F = ma = massa x percepatan
- percepatan vibrasi :
2
2
x
U
c
c

- massa dari bagian kecil rantai (Ax) = Ax
Gaya F = Ax
2
2
t
U
c
c
, gaya ini sama dengan perubahan gaya F(x+Ax) F(x), jadi :
Ax
2
2
t
U
c
c
= Ax
(

c
c

c
c
x
U
) x L ( g
x

= Axg
(

c
c

c
c
x
U
) x L (
x

(

c
c

c
c
=
c
c
x
U
) x L (
x
g
t
U
2
2

Bila gerakannya merupakan gerak periodik dalam t dengan periode 2t/e, maka :
U(x,t) = y(x) cos (et + c)
t
U
c
c
= - ey (x) sin (et + c)
Tugas Matematika Lanjut Page 158

2
2
t
U
c
c
= - e
2
y(x) cos (et + c)
x
U
c
c
= y (x) cos (et + c)
2
2
t
U
c
c
= - e
2
y cos (et + c) = g
x c
c
|
.
|

\
|
c
c

x
U
) x L (
- e
2
y cos (et + c) = g
x c
c
[(L x) y cos (et + c)]
- e
2
y cos (et + c) = g cos (et + c)
x c
c
[(L x) y+
- e
2
y = g
x c
c
[(L x)y+ = g* - y + (L x)y+
-
g
2
e
y = -y + (L x)y
(L x)y y +
2
y = 0 ;
2

g
2
e

Misal : L-x = z ;
dx
dz
= -1
y =
dz
dy
dz
dy
1
dx
dz
dz
dy
dx
dy
= = =
y =
2
2
2
2
dz
y d
dx
dy
dz
d
1
dz
dy
dx
d
dx
dy
dx
d
dx
y d
=
(

=
(

=
(

=
Sehingga persamaan menjadi : z 0 y
dz
dy
dz
y d
2
2
2
= + +
s = 2z
1/2
; z =
2
2
4
s


Misal :
dz =
s
2
dz
ds
;
2
sds
4
ds s 2
2
2 2

=


ds
dy
z
ds
dy
z 2
2
ds
dy
s
2
dz
ds
ds
dy
dz
dy
2 / 1
2 / 1
2 2

= =
Tugas Matematika Lanjut Page 159

(

+ =
(

=
(

=

ds
dy
dz
d
z
ds
dy
z
2
1
ds
dy
z
dz
d
dz
dy
dz
d
dz
y d
2 / 1 32 / 2 / 1
2
2

= -
dz
dy
ds
d
z
ds
dy
z
2
1
12 / 2 / 3
+ = -
(

+

ds
dy
z
ds
d
z
ds
dy
z
2
1
2 / 1 12 / 2 / 3

= -
2
2
1 2 32 /
ds
y d
z
ds
dy
z
2
1

+
Persamaan menjadi :
z , 0 y
ds
dy
z
ds
y d
z
ds
dy
z
2
1
2 2 / 1
2
2
1 2 2 / 3
= + +
(

+

atau

2
0 y
ds
dy
z z
2
1
ds
y d
2 2 / 1 2 / 1
2
2
= +
(

+ +

2
0 y
ds
dy
z
2
1
ds
y d
2 2 / 1
2
2
= + +


ds
dy
z
2
1
ds
y d
2
1
1
1
2
2

+ + y = 0
ds
dy
s
1
ds
y d
2
2
+ + y = 0 PD Bessel dengan v = 0
Penyelesaian PD : y(s) = J
0
(s)
Sehingga y(x) = J
0
(2e x L / g )
Syarat batas : pada x = 0 rantai berada pada posisi tetap pada setiap saat : y(0) = 0
y(0) = J
0
(2e 0 L / g = 0 J
0
(2e ) g / L = 0
Akar positif pertama dari J
0
(2e ) g / L = 0 adalah 2,4148, berarti
2e g / L = 2,4048 : e =
2
4048 , 2
L / g
Frekuensi getaran (gerakan) rantai =
t
e
2
siklus/satuan waktu =
t 4
4048 , 2
L / g siklus / satuan waktu
Fungsi Bessel Jenis Kedua
Tugas Matematika Lanjut Page 160

Persamaan diferensial Bessel berbentuk : x
2
y

+ xy + (x
2
n
2
) y = 0 dengan penyelesaian
: y(x)=c
1
J
n
(x) + c
2
J
-n
(x).
Untuk n bilangan bulat, J
n
(x) dan J
-n
(x) bergantungan secara linear, maka harus dicari
penyelesaian basis kedua selain J
n
(x) untuk memperoleh penyelesaian umum PD Bessel
untuk n bilangan bulat.
c
1
dan c
2
adalah konstanta sembarang, dipilih c
1
= E +
t
t
sin
n cos F
;
c
2
= -
t n sin
F
, E dan F adalah konstanta sembarang.
PUPD Bessel menjadi :
y(x) = ) x ( j
n sin
F
) x ( J
n sin
n cos F
E
n n (

t
+
(

t
t
+
y(x) = E J
n
(x) +
t
t
n sin
n cos F
J
-n
(x)
y(x) = EJ
n
(x) + F
(

t
t

n sin
) x ( J n cos ) x ( J
n n

y(x) = EJ
n
(x) +FY
n
(x)
dimana Y
n
(x) =

=
t
t
t
t

bulat bilangan n ;
p sin
) x ( J p cos ) x ( J
lim
lat bilanganbu # n ;
n sin
) x ( J n cos ) x ( J
p p
n n

Fungsi Y
n
(x) disebut fungsi Bessel jenis kedua.
Untuk n = O PD Bessel menjadi :
Xy + y + xy = 0
Akar-akar persamaan indicial : r
1,2
= 0, sehingga
Y
2
(x) = J
0
(x) ln x +

=1 m
A
m
x
m

Y
2
= J
0
ln x +
x
J
0
+

=1 m
A
m
x
m-1
p n
Tugas Matematika Lanjut Page 161

Y
2
= J
0
ln x + 2
x
' J
0
-
2
0
x
J
+

=1 m
m (m 1) A
m
x
m-2
Substitusikan Y
2
, Y
2
dan Y
2
ke PD (1), kemudian disederhanakan dan diperoleh :
2J
0
+

=1 m
m (m 1) A
m
x
m-1
+

=1 m
m A
m
x
m-1
+

=1 m
A
m
x
m-1
= 0
Berdasarkan fungsi Bessel jenis pertama untuk n = 0 diperoleh :
J
0
(x) =

=1 m
2 m 2
1 m 2 m
) ! m ( 2
x m 2 ) 1 (

=1 m )! 1 m ( ! m 2
x m ) 1 (
1 m 2
1 m 2 m


Persamaan menjadi :

=1 m )! 1 m ( ! m 2
x m ) 1 (
2 m 2
1 m 2 m

=1 m
m
2
A
m
x
m-1
+

=1 m
A
m
x
m+1
= 0
Koefisien dari x
0
: A
1
= 0
Koefisien dari x
2s
: (2s + 1)
2
A
2s+1
+ A
2s-1
= 0, s = 1, 2, 3, ..
A
3
= 0, A
5
= 0, A
7
= 0, ..
Koefisien dari x
2s+1
: -1 + 4A
2
= 0 A
2
=
4
1

Untuk s + 1, 2, 3. Berlaku :
! s )! 1 s ( 2
) 1 (
s 2
1 s
+

+
+ (2s + 2)
2
A
2s+2
+ A
2s
= 0
Untuk s = 1 diperoleh :
8
1
+ 16A
4
+ A
2
= 0 A
4
= -
128
3

Rumus untuk menentukan A
2m
:
A
2m
=
2 m 2
1 m
) ! m ( 2
) 1 (

|
.
|

\
|
+ + + +
m
1
.....
3
1
2
1
1 , m = 1, 2, 3 .
bila h
m
= 1 +
2
1
+
3
1
+ +
m
1
, maka :
y
2
(x) = J
0
(x) ln x +

=1 m
2 m 2
m
1 m
) ! m ( 2
h ) 1 (


J
0
dan y
2
(x) merupakan penyelesaian yang bersifat linear independence,
Tugas Matematika Lanjut Page 162

sehingga : a (y
2
+ bJ
0
) juga merupakan penyelesaian basis. Bila a =
t
2
,
b = - ln 2 maka :
Y
0
(x) =
t
2
J
0
(x)

t
+
(

+
1 m
m 2
2 m 2
m
1 m
x
) ! m ( 2
h ) 1 ( 2
2
x
ln .. (2-42)
h
m
= 1 +
m
1
........
4
1
3
1
2
1
+ + + + , = 0,57721566490 .., konstanta
Euler
Y
n
(x) =
t
2
J
n
(x)

=
+
+
+

+
+
t
+
(

+
0 m
n m 2
n m 2
n m m
1 m
x
)! n m ( ! m 2
) h h ( ) 1 ( 1
2
x
ln
-


t
1 n
0 m
n m 2
n m 2
x
! m 2
)! 1 m n ( 1
.. (2-43)
Sehingga PUDP Bessel untuk semua nilai n adalah :
y(x) = c
1
J
n
(x) + c
2
Y
n
(x)
Rumus-rumus rekursi yang berlaku untuk J
n
(x) juga berlaku untuk Y
n
(x).

Contoh :
1. Selesaikan PD : xy + xy + (x 4)y = 0
PD : x
2
y + xy + (x
2
4)y = 0 merupakan PD Bessel dengan n = 2.
PUDPD-nya : y(x) = C
1
J
2
(x) = C
2
Y
2
(x)
dengan
J
2
(x) =

=
+
+ I
(

0 k
1 k 2
k
) 3 k ( ! k
2
x
) 1 (

Y
2
(x) =
(

+ |
.
|

\
|
t 2
x
ln
2
J
2
(x) -
t
1

=
1
0 k
(1-k)! |
.
|

\
|
2
x
2k-2
-
t
1

=0 k
(1)
k

[|(k) + |(k + 2)]
)! 2 k ( ! k
2
x
2 k 2
+
|
.
|

\
|
+

Tugas Matematika Lanjut Page 163

2. PD : x
2
y + xy + (
2
x
2
- u
2
)y = 0; (subst x = z)
Misalkan : z = x x =

z


dx
dz
=
Jadi,
y = = =
dz
dy
dx
dz
dz
dy
dx
dy

y = |
.
|

\
|
= |
.
|

\
|
=
dz
dy
dx
d
dx
dy
dx
d
dx
y d
2
2

=
2
2
2
dz
y d
dz
dy
dx
d
dz
dy
dz
d
dz
dy
dx
d
= |
.
|

\
|
t = |
.
|

\
|
= |
.
|

\
|

PD menjadi :
x
2
+ |
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|

dz
dy
x
dz
y d
2
2
2
(
2
x
2
- u
2
) y = 0
)
z
(
dz
dy z
dz
y d z
2
2
2
2
2
2
2
2
2
u

+ |
.
|

\
|

+
|
|
.
|

\
|

y = 0
z
2

dz
dy
z
dz
y d
2
2
+ + (z
2
- u
2
) y = 0 PD Bessel dalam y dan z dengan u = u
y(z) = C
1
J
u
(z) + C
2
Y
u
(z)
PUPD :
Y(x) = C
1
J
u
(x) + C
2
Y
u
(x)

3. xy + (1 + 2n) y + xy = 0 (y = x
-n
u)
Misalnya y = x
-n
u ; maka :
dx
dy
= -n x
-n-1
u + x
-n

dx
du

dx
d
dx
y d
2
2
=
(

+

dx
du
x u x n
n 1 n
=
dx
d
[-n x
-n-1
u] +
dx
d
(


dx
du
x
n

Tugas Matematika Lanjut Page 164

= (n + 1)nx
-n-2
u nx
-n-1

dx
du
-nx
-n-1

dx
du
+ x
-n

2
2
dx
u d

= (n + 1)nx
-n-2
u 2nx
-n-1

dx
du
+ x
-n

2
2
dx
u d

x
(

+ + +
|
|
.
|

\
|
+ +

dx
du
x u nx ) n 2 1 (
dx
u d
x
dx
du
nx 2 u nx ) 1 n (
n 1 n
2
2
n 1 n 2 n
+ x x
-n
u = 0
PD menjadi :
(n + 1)nx
-n-1
u 2nx
-n

dx
du
+ x
-n+1

2
2
dx
u d
-nx
-n-1
u + x
-n

dx
du
- 2n
2
x
-n-1
u +
2nx
-n

dx
du
+ x
-n+1
u = 0
[n
2
+ n n 2n
2
] +
-n-1
u + x
-n+1

2
2
dx
u d
+ x
-n

dx
du
+ x
-n+1
u = 0
Masing-masing ruas dibagi dengan x
-n
:
- n
2
x
-1
u + x
dx
du
dx
u d
2
2
+ + xu = 0
x
dx
du
dx
u d
2
2
+ + (x n
2
x
-1
) u = 0
Masing-masing ruas dikalikan dengan x :
x
2

dx
du
x
dx
u d
2
2
+ + (x
2
n
2
)u = 0 PD Bessel dalam u dan x
dengan u = n
PU PD :
u(x) = C
1
J
n
(x) + C
2
Y
n
(x) ; y = x
-n
u
y(x) = x
-n
u(x) = x
-n
[C
1
J
n
(x) + C
2
Y
n
(x)]
= C
1
x
-n
J
n
(x) + C
2
x
-n
Y
n
(x)

4. x
2
y 3xy + 4(x
4
3)y = 0 ; (y = x
2
u, x
2
= z)
Misalkan y = x
2
u; maka :
Tugas Matematika Lanjut Page 165

dx
dy
=
dx
d
(x
2
u) = 2 x u + x
2

dx
du

= |
.
|

\
|
+ =
dx
du
x u x 2
dx
d
dx
y d
2
2
2
2u + 2x
dx
du
+ 2x
dx
du
+ x
2

2
2
dx
u d

= 2u + 4x
dx
du
+ x
2

2
2
dx
u d

PD menjadi :
x
2
|
|
.
|

\
|
+ +
2
2
2
dx
u d
x
dx
du
x 4 u 2 + 3x |
.
|

\
|
+
dz
du
x xu 2
2

+ 4(x
4
3)x
2
u = 0
x
4
) x 3 x 4 (
dx
u d
3 3
2
2
+
dx
du
+ (2x
2
6x
2
+ 4x
6
12x
2
)u = 0
x
4
+
2
2
dx
u d
x
3

dx
du
+ (4x
6
16x
2
)u = 0 dibagi dengan x
2

x
4

2
2
dx
u d
+ x
dx
du
+ (4x
4
16) u = 0
Misalkan : x = z
dx
dz
= 2x
dx
du
=
dz
du

dx
dz
= 2x
dz
du

|
.
|

\
|
+ = |
.
|

\
|
=
dz
du
dx
d
x 2
dz
du
2
dz
du
x 2
dx
d
dx
u d
2
2

= 2 |
.
|

\
|
+ = |
.
|

\
|
+
dz
du
x 2
dz
d
x 2
dz
du
2
dx
du
dz
d
x 2
dz
du
= 2
2
2
2
dz
u d
x 4
dz
du

PD menjadi :
x
2 |
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
+
dz
du
x 2 x
dz
u d
x 4
dz
du
2
2
2
2

+ (4x
4
16)u = 0
4x
4

dz
du
) x 2 x 2 (
dz
u d
2 2
2
2
+ + (4x
4
16)u = 0
4x
4

2
2
dz
u d
+ 4x
2

dz
du
+ (4x
4
16)u = 0 dibagi dengan 4x
2

Tugas Matematika Lanjut Page 166

x
2

2
2
dz
u d
+ x
dz
du
+ (x
2
-4)u = 0 PD Bessel dalam u dan z dengan u = 2
PU PD : u(z) = C
1
J
2
(z) + C
2
Y
2
(z)
z = x
2
u (x) = C
1
J
2
(x
2
) + C
2
Y
2
(x
2
)
z = x
2
u y (x) = x
2
u(x) = x
2
[C
1
J
2
(x
2
) + C
2
Y
2
(x
2
)]

Fungsi Bessel Termodifikasi (Modified Bessel Function)
Persamaan Diferensial :
x
2
y+ xy (x
2
+ n
2
)y = 0 . (2-44)
dikenal dengan nama persamaan Bessel termodifikasi orde n. Karena bisa ditulis :
x
2
y+ xy (i
2
x
2
+ n
2
)y = 0 .. (2-45)
yang merupakan persamaan Bessel dengan variable bebas ix dan
mempunyai penyelesaian umum : y = C
1
J
n
(ix) + C
2
Y
n
(ix) (2-46)
dengan,
J
n
(ix) =

=

0 k
k
) 1 1 (
) 1 k n ( ! k 2
) ix (
k 2 n
k 2 n
+ + I
+
+

J
n
(ix) = i
n

=

0 k
k
) 1 1 (
) 1 k n ( ! k 2
x i
k 2 n
k 2 n k 2
+ + I
+
+

i
-n
J
n
(ix) =

=0 k ) 1 k n ( ! k 2
x
k 2 n
k 2 n
+ + I
+
+

Bentuk [i
-n
J
n
(ix)] merupakan fungsi baru yang berharga real dan disebut fungsi Bessel
termodifikasi jenis pertama orde n yang dinotasikan dengan I
n
(x).
I
n
(x) =

=0 k ) 1 k n ( ! k 2
x
k 2 n
k 2 n
+ + I
+
+
. (2-47)
I-n(x) didapat dengan mengganti n dengan n sebagai berikut :
I-
n
(x) =

=0 k ) 1 k n ( ! k 2
x
k 2 n
k 2 n
+ + I
+
+
. (2-48)
Tugas Matematika Lanjut Page 167

Untuk n tidak bulat I
n
dan I
-n
merupakan penyelesaian yang linear independence dari PD
(1-44) sehingga penyelesaian umum PD (1) adalah :
y = c
1
I
n
(x) + c
2
I
-n
(x), n#bilangan bulat (2-49)
Untuk n bulat :
(-1)
n
J
-n
(ix) = J
n
(ix)
(i
2
)
n
J
-n
(ix) = J
n
(ix)
i
n
J
-n
(ix) = i
-n
J
n
(ix)
I
-n
(x) = I
n
(x)
Untuk n bilangan bulat I
-n
(x) = I
n
(x) linear dependence, sehingga perlu didefinsikan
penyelesaian basis yang lain yang bersifat linear independence dengan I
n
(x) sebagai
berikut :
Dipilih c
1
= A -
2
t

t n sin
B
, c
2
=
t n sin
B

y = AI
n
(x) -
2
t

t n sin
B
I
n
(x) +
2
t
+
t n sin
B
I
-n
(x)
maka y = AI
n
(x) + B
2
t
(

n sin
) x ( I ) x ( I
n n

y = AI
n
(x) + BK
n
(x)
dengan K
n
(x) =

=
(

t
t
(

t
t

bulat bilangan n ;
n sin
) x ( I ) x ( I
2
lim
bulat bilangan # n ;
n sin
) x ( I ) x ( I
2
n n
n p
n n


K
n
(x) disebut fungsi Bessel termodifikasi orde n jenis kedua.
PD Bessel termodifikasi bisa dinyatakan dengan : x
2
y + xy (
2
x
2
+ n
2
) y = 0 dengan
PUPD : y = c
1
I
n
(x) + c
2
I
-n
(x) untuk n # bilangan bulat
y = c
1
I
n
(x) + c
2
K
n
(x) untuk n = bilangan bulat
Untuk = \i, maka PD menjadi :
Tugas Matematika Lanjut Page 168

x
2
y + xy (ix
2
+ n
2
) y = 0
x
2
y + xy + (-ix
2
n
2
) y = 0
Dan PUPD : y = c
1
I
n
( ix ) + c
2
K
n
( ix )
y = c
1
J
n
(i
3/2
x) + c
2
K
n
(i
1/2
x)
J
n
(i
3/2
x) =

=0 k ) 1 k n ( ! k 2
) x i ( ) 1 (
k 2 n
k 2 n 2 / 3 k
+ + I

+
+

= i
3/2 n

=0 k ) 1 k n ( ! k 2
x i ( ) 1 (
k 2 n
k 2 n k 3 k
+ + I

+
+

j
3k
= 1 ; k = 0,4,8.
j
3k
= -i ; k = 1,5,9
j
3k
= -1 ; k = 2,6,10
j
3k
= i ; k = 3,7,11 .
Untuk k ganjil J
n
(i
3/2
x) real
Untuk k genap J
n
(i
3/2
x) imaginer
Untuk k = 2j (-1)
k
i
3k
= (-1)
j

k = 2j + 1 (-1)k
i
3k
= (-1)
j
i
sehingga J
n
(i
3/2
x) = i
3/2

n

(

+ + I +

+
+ + I

=
+ +
+ +
+
+
0 j 0 j
j 4 2 n
j 4 2 n j
j 4 n
j 4 n j
) 2 j 2 n ( )! 1 j 2 ( 2
x ) 1 (
i
) 1 j 2 n ( ! ) j 2 ( 2
x ) 1 (

~ i
3/2

n
(
R
+ i
I
)
Menurut Rumus de Moivre :
i
3/2
=
n 2 / 3
2
sin i
2
cos |
.
|

\
| t
+
t
= cos
4
n 3 t
+ i sin
4
n 3 t

Catatan :
z = a + ib = cps(arc tg
a
b
) + I sin(arc tg
a
b
)
z = i z = cos
2
t
+ i sin
2
t

Tugas Matematika Lanjut Page 169

Jadi, J
n
(i
3/2
x) = |
.
|

\
| t
+
t
2
n 3
sin i
2
n 3
cos (
R
+ i
I
)
= |
.
|

\
|

t

t
+ |
.
|

\
|

t

t
R I I R
2
n 3
sin
2
n 3
cos i
2
n 3
sin
2
n 3
cos
dengan :
Ber
n
x = cos
I I
2
n 3
sin
2
n 3

t

t

Bei
n
x = cos
R I
2
n 3
sin
2
n 3

t

t

Untuk n = 0 :
Ber
0
x = Ber x =
| |

0 j
2 j 4
j 4 j
! ) j 2 ( 2
x ) 1 (

Bei
0
x = Bei x =
| |

=
+
+

0 j
2 2 j 4
2 j 4 j
! ) j 2 ( 2
x ) 1 (

Dengan cara yang sama fungsi K
n
(i
1/2
x) dapat juga dinyatakan dalam jumlahan : (deret
real) + i (deret real) seperti di atas, dengan
K
n
(i
1/2
x) = Ker
n
x + i Kei
n
x
Sehingga PU PD : x
2
y + xy (ix
2
+ n
2
) y = 0
adalah : y = c
1
(Ber
n
x + iBei
n
x) + c
2
(Ker
n
x + Kei
n
x)
Persamaan yang bisa ditranformasikan kedalam PD Bessel
1. PD : x
2
y + (2K + l)xy+ (o
2
x
2r
+ |
2
)y = 0
dengan k, a, r, | konstanta
akan mempunyai PU PD :
y = x
-k
[C
1
J
x/r
(ax
r
/r) + C
2
Y
x/r
(ax
r
/ r)]
=
2
s r 2 +

=
s r 2
a 2
+

n =
s r 2
b 4 ) r 1 (
2
+


Jika a < 0 J
n
dan Y
n
diganti dengan I
n
dan K
n

Jika n # bulat Y
n
dam K
n
diganti dengan J
-n
dan I
-n

Tugas Matematika Lanjut Page 170

Contoh :
1. PD : x y + y + ay = 0
Dikalikan dengan x :
k = 0; r = ; o
2
= a o = a
| = 0 ; _ = 0 0 0 k
2 2 2 2
= = |
Jadi PU PD :
y = x
0
[C
1
J
0
(2 ax ) + C
2
Y
0
(2 ax )]= C
1
J
0
(2 ax ) + C
2
Y
0
(2 ax )

2. PD : x
2
y + x(4x
2
3)y + (4x
8
5x
2
+ 3)y = 0
a = - 3; b = 2; c = 3; d = -5
p = 4 ; q = 1
o = 2; | = ; = 5 ; n = 1
PU PD : y = x
2
e
-x4/2
[c
1
I
1
)x 5 ) + c
2
K
1
(x 5 )]
3. PD : x
2
y xy + (1 + x) y = 0
dibagi x
3
:
(

+ +
2 3 2
x
1
x
1
x
' y
x
" y
y = 0
(x
-1
y)+ (x
-2
+ x
-3
) y = 0
r = -1 ; s = -2; a = b = 1; o = 0; = ; = 2; n = 0
PUPD : y = x [c
1
J
0
(2 x ) + c
2
J
0
(2 x )]
4. PD : 9(y +
x
1
y + y) -
2
x
4
y = 0
(y +
x
1
y + y) -
2
x 9
9
y = 0, dikalikan x
2

x
2
y + xy + x
2
y 4/9 y = 0
x
2
y + xy + (x
2
4/9)y = 0 PD Bessel dengan n = 2/3
PUPD : y = c
1
J
2/3
(x) + c
2
J
-2/3
(x)
Tugas Matematika Lanjut Page 171

5. PD :
R
' R
r
1
R
" R
+ = ; R = R (r)
Dikalikan Rr
2
PD menjadi :
r
2
RrR - r
2
= 0 PD Bessel termodifikasi dengan = u; n = 0
PUPD : R = c
1
I
0
(r ) + c
2
K
2
(r )
6. PD : xy + y + 2ixy = 0
atau x
2
y + xy + 2ix
2
y = 0 PD Bessel dengan = i 2
PUPD : y = c
1
J
0
(x i 2 ) + c
2
Y
0
(x i 2 )
Soal Latihan
Selesaikan PD berikut !
1. x
2
y + xy + (x
2
4) y = 0
2. xy + y + y = 0 ; ( x = z)
3. x
2
y + xy + (4x
4
) y = 0 ; (x
2
= z)
4. x
2
y 3xy + 4 (x
4
3) y = 0 ; (y = x
2
u, x
2
= z)
5. x
2
y + (x + ) y = 0 ; (y = u x , x = z)
6. y + x
2
y = 0 ; (y = u x ,
2
1
x
2
= z)
Jawaban :
1. y = AJ
2
(x) + BY
2
(x)
2. y = AJ
0
( x ) + BY
0
( x )
3. y = AJ
1/4
(x
2
) + BY
1/4
(x
2
)
4. y = x
2
[AJ
2
(x
2
) + BY
2
(x
2
)]
5. y = x [AJ
1/2
( x ) + BJ
-1/2
( x )]
6. y = x [AJ
1/4
(
2
1
x
2
) + BY
1/4
(
2
1
x
2
)]
Tugas Matematika Lanjut Page 172

) ( ) (
2 1
x x y
Q
c P c
n
n
+ =
PERSAMAAN DIFFERENSIAL LEGENDRE POLINOM

Persamaan Differensial Legendre merupakan persamaan differensial yang
berbentuk :
0 ) 1 ( 2 ) 1 (
2
= + + ' ' ' y n n y x y
x
....................................(1)
Dengan n adalah konstanta. Persamaan differensial tersebut akan banyak dijumpai
manakala menyelesaikan persamaan differensial parsial dalam sistem koordinat bola.
Penyelesaian umum dari persamaan (1) untuk n = 0,1,2,3,.....

Dengan Pn(x) sebagai polinomial yang disebut Polinomial Legendre dan Qn(x) disebut
fungsi Legendre jenis kedua. Qn(x) ini tak dibatasi pada x = 1
Solusi Persamaan differensial tersebut adalah dalam bentuk polinomial yang dikenal
sebagai Polinom Legendre.
Misalkan solusi untuk y berbentuk deret pangkat dalam x
.... ........
4
4
3
3
2
2 1 0
+ + + + + + + =
x x x x
x y
n
n a a a a a a

Turunan pertama dan keduanya adalah :
....... .... 4 3 2
1 3
4
2
3 2 1
+ + + + + + = '

x
n
x x
x y
n
n a a a a a

...... ) 1 ( .... 20 12 6 2
2 3
5
2
4 3 2
+ + + + + + = ' '

x
n n
x x
x y
n
n a a a a a

Subtitusikan ke persamaan differensial Legendre (1) dan akan menghasilkan :
0 ] ... )[ 1 ( ] .....
4 3 2 [ 2 ] ) 1 ( ... 20 12 6 2 )[ 1 (
4
4
3
3
2
2 1 0
1
3
4
2
3 2 1
2 3
5
2
4 3 2
2
= + + + + + + + + + +
+ + + + + + + +

n
n
n
n
n
n
x a x a x a x a x a a n n x na
x a x a x a a x x a n n x a x a x a a x

Kita dapat membuat suatu fungsi suku banyak atau polinomial yang merepresentasikan
solusi dari persamaan ini . Perhatikan setiap langkah berikut :
Misalkan kita ambil solusi umum (dengan y = Pn(x) atau polinomial dalam
x), maka berdasarkan metode Deret Pangkat yang telah kita pelajari sebelumnya, kita
dapat men-subtitusikan kedalam persamaan Legendre diatas, sehingga menjadi bentuk
berikut :

1. Lalu kita uraikan persamaan diatas menjadi :

=
1
1
n
n
n
x na
n
n
n
x a

=
=
0
m
m
m
x a y

=
=
0
Tugas Matematika Lanjut Page 173

2. Untuk mempermudah perhitungan mendapatkan rumus rekursifnya, kita sama kan
pangkat di setiap deret dengan s sehingga terbentuk :


3. Dari Persamaan diatas, kita dapati :


4. Sehingga jika disederhanakan menjadi rumus rekursif :




5. Untuk (s<=n-2) jika ditetapkan persamaan diatas menjadi :


6. Sederhanakan membentuk :


7. Begitu pula untuk (s=n-4) :




8. Jadi secara umum ketika n-2m >=0 didapat :


9. Seperti deret pangkat akhirnya kita menemukan solusi umum yaitu Polinomial
Legendre, seperti ini :




Tugas Matematika Lanjut Page 174

Contoh : Hitung dx x xP ) (
1
0
5
}

Penyelesaian :
m
m
m
m
x
m m m
m
x P
2 5
5
0
5
)! 2 5 ( )! 5 ( ! 2
)! 2 10 (
) 1 ( ) (

=


=


= x x x
! 1 ! 3 ! 2 . 32
)! 4 10 (
) 1 (
! 3 ! 4 ! 1 . 32
)! 2 10 (
) 1 (
! 5 ! 5 ! 0 . 32
)! 0 10 (
) 1 (
2 3 1 5 0

+


= x x x
! 3 ! 2 . 32
! 6
! 3 ! 4 . 32
! 8
! 5 ! 5 . 32
! 10
3 5
+ = x x x
! 3 !. 2 . 32
.! 3 . 4 . 5 . 6
! 1 . 2 . 3 !. 4 . 32
! 4 . 5 . 6 . 7 . 8
! 5 !. 2 . 3 . 4 . 5 . 32
! 5 . 6 . 7 . 8 . 9 . 10
3 5
+
= x x x
8
15
4
35
8
63
3 5
+ = ) 15 70 63 (
8
1
3 5
x x x +
dx x x x x x P ) 15 70 63 (
8
1
) (
3 5
1
0
1
0
5
+ =
} }
= dx x x x
2 4
1
0
6
15 70 63 (
8
1
+
}

=
1
0
3 5 7
] 5 14 9 [
8
1
x x x + = 9 [(
8
1
-14+5) (0)] = ] 0 [
8
1
= 0
Dengan cara yang sama dapat diperoleh untuk P3(x), P4(x) dan seterusnya,
Berikut ini adalah Polinom Legendre untuk beberapa nilai n :






Berikut Plot fungsi Legendre jenis pertama untuk n = 2, 3, 4 dan 5





Tugas Matematika Lanjut Page 175

Polinom Legendre juga dapat diperoleh menggunakan rumus Rodrigues, yaitu :

l adalah konstanta


Fungsi Legendre Terasosiasi
Persamaan differensial berikut sangat erat kaitannya dengan persamaan Legendre :


Solusi persamaan tersebut adalah :

Yang disebut sebagai fungsi Legendre terasosiasi dan dituliskan sebagai ) (x P
m
l
jadi :


Dapat juga dinyatakan menggunakan rumus Rodrigues :


Untuk harga m tertentu, fungsi Legendre terasiosiasi juga merupakan kumpulan fungsi
ortogonal pada selang (-1,1). Konstanta normalisasi fungsi Legendre terasosiasi adalah :


KE-ORTOGONALAN FUNGSI - FUNSGI LEGENDRE ASOSIASI
Seperti halnya pada polinomial-polinomial Legendre, fungsi Legendre
ortogonal pada -1 < x < 1, yaitu :




) (x P
m
n
0 ) (
1
1
=
}

dx P x P
m
k
m
n
)! (
)! (
1 2
2
0 )] ( [
1
1
m n
m n
n
x P
m
n

+
+
= =
}

Tugas Matematika Lanjut Page 176



Menggunakan hasil-hasil ini, fungsi f(x) dapat diekspansikan menjadi deret yang
bentuknya :

KEORTONOLAN POLINOMIAL LEGENDRE

Buktikan bahwa apabila m n
Karea Pm(x), Pn(x) memenuhi persamaan legendre, maka :



Kemudian dengan mengalikan persamaan pertama dengan Pn, persamaan
kedua dengan Pm, didapatkan :


Yang dapat ditulis sebagai berikut :


Jadi, hasilnya adalah :


SOAL :
1. Polinomial Legendre dapat ditulis dalam bentuk formula Rodriguez :


Buktikan persamaan umum Rodriguez ini dengan menggunakan teori binomial
dan gunakan formula ini untuk menghitung P4(x) dan P5(x)
2. Tentukan Polinomial Legendre untuk persamaan Legendre


3. Tunjukkan bahwa :
) ( ) (
0
x P A x f
m
k
k
k

=
=
0 ) ( ) (
1
1
=
}

dx x P x P
n m
0 ) 1 ( 2 ) 1 (
' ' ' 2
= + +
m m m
P m m xP p x
0 ) 1 ( 2 ) 1 (
' ' ' 2
= + +
m m m
P n n xP p x
n m n m m n n m m n
P P m m n n P P P P x P P P P
dx
d
x )] 1 ( ) 1 ( [ ] [ 2 [ ) 1 (
' ' ' ' ' 2
+ + = +
n m n m m n n m m n
P P m m n n P P P P x P P P P x )] 1 ( ) 1 ( [ ] [ 2 )[ 1 (
' ' ' ' ' ' 2
+ + = +
dx x f x P
m
A
m m
) ( ) (
2
1 2
1
1
}

+
=
0 12 ' " ) 1 (
2
= + xy y x
n
n
n
n
n
x
dx
d
n
x P ) 1 ( .
! 2
1
) (
2
=
) 2 3 1 (
4
1
u cox + = ) (cos
2
u P
Tugas Matematika Lanjut Page 177

Daftar pustaka

Dra. Lusiana, M. Pd. , Diktat Teori Bilangan, FKIP Universitas PGRI Palembang, 2010

Danang Mursita, Matematika untuk Perguruan Tinggi, Bandung : Rekayasa Sains, 2011

http://blog.trisakti.ac.id/parwadi/files/2012/09/Materi-5_Barisan-dan-Deret.pdf

http://sholihatsitti.blogspot.com/2012/02/macam-macam-bilangan.html

http://.files.wordpress.com%2F2010%2F12%2Fkel-9-sifat-sifat-operasi-bilangan-ii.doc

http://.files.wordpress.com%2F2012%2F01%2Foperasi-bilangan-real.doc

http://www.sarjanaku.com/2010/08/sifat-sifat-bilangan-riil-dalam-operasi.html

http://adji%2Fcourses%2Fresources%2Flectures%2FDiscMath%2FFungsi.doc

http://www.geocities.ws/dmursita/matdas/vii-1.pdf

http://slamethw.files.wordpress.com

http://faculty.eicc.edu/bwood/ma155supplemental/supplemental27.htm

http://www. its.ac.id%2Fpersonal%2Ffiles%2Fmaterial%2F3326-bilqis-if-
metnum%2520pertemuan%25201%25202011.pptx&ei=_URVUfGEJcGIkQWI-
oCAAw&usg=AFQjCNE0mCQa_qScP6qm1xayrUQMPUXy5A&sig2=cm7yFtkic5E1SltKyX78cA&bvm=
bv.44442042,d.dGI

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=14&cad=rja&ved=0CE4QFj
ADOAo&url=http%3A%2F%2Fkk.mercubuana.ac.id%2Ffiles%2F14076-2-
909573593357.doc&ei=_URVUfGEJcGIkQWI-
oCAAw&usg=AFQjCNE8QBsxUrTFE4kGqLGmeFOQHq8jJw&sig2=vqyk4H411dMjvQUVmMCDxA&b
vm=bv.44442042,d.dGI

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=16&cad=rja&ved=0CGAQFj
AFOAo&url=http%3A%2F%2Fkk.mercubuana.ac.id%2Ffiles%2F92014-5-
486153206906.doc&ei=_URVUfGEJcGIkQWI-
oCAAw&usg=AFQjCNFukk4xUHq9QHrdQ1WpJOcCSKPYwg&sig2=1Ltl2kx7JJqP0nXJPPlgUg&bvm=b
v.44442042,d.dGI

Danang Mursita, Matematika Lanjut Untuk Perguruan Tinggi, Bandung : Rekayasa Sains,
2005

http://dwipurnomoikipbu.files.wordpress.com%2F2011%2F12%2Fbab-6-
transformasi-laplace.doc

http://Felista.akprind.ac.id%2Fupload%2Ffiles%2F2590_Bab_3.doc

http://matematikarekayasa.files.wordpress.com

http://www.scribd.com/doc/109647773/2590-Bab-3

Spiegel, R. Murray.1984. Kalkulus lanjut. Jakarta : Erlangga

Gazali, Wikaria. 2007. Kalkulus Lanjut. Yogyakarta : Graha Ilmu