Anda di halaman 1dari 4

PROFILE PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN Sejarah Perkembangan Upaya Peningkatan Mutu Rumah Sakit Pada tahun

1918 The American College of Surgeons (ACS) menyusun suatu Hospital

Standardization Programe. Program standarisasi adalah ini ternyata sangat berhasil meningkatkan mutu medis sehingga banyak rumah sakit ikut serta. Dengan berkembangnya ilmu dan teknologi maka spesialisasi ilmu kedokteran diluar bedah cepat berkembang. Oleh karena itu program standarisasi perlu diperluas agar dapat mencakup disiplin lain secara umum. Pada tahun 1951 American College of Surgeon, American College of Physicians, American Hospital Association, American Medical Association dan Canadian Medical Association bekerja sama membentuk suatu Joint Commission on Acceditation of Hospital (JCAH), suatu badan gabungan untuk menilai dan mengakreditasi rumah sakit. Sejak tahun 1979 JCAH membuat standar tambahan, yaitu agar dapat lulus akreditasi suatu rumah sakit harus juga membuat program pengendalian mutu yang dilaksanakan dengan baik. Di Asia, Negara pertama yang mempunyai program peningkatan mutu dan akreditasi rumah sakit secara nasional adalah Taiwan. Negara ini banyak menerapkan metodologi dari Amerika. Sedangkan Malaysia mengembangkan mutu pelayanan dengan bantuan konsultan ahli dari negeri Belanda. Di Indonesia, langkah awal yang sangat mendasar dan terarah yang telah dilakukan Departemen Kesehatan dalam rangka upaya peningkatan mutu yaitu penetapan kelas rumah sakit pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 033/Birhup/1972. Secara umum telah telah ditetapkan beberapa kriteria untuk tiap kelas rumah sakit A, B, C, dan D. Kriteria ini kemudian berkembang menjadi standar-standar. Kemudian dari tahun ke tahun disusun berbagai standar baik menyangkut pelayanan, prasarana untuk masing-masing kelas rumah sakit. Disamping standar, Departemen Kesehatan juga mengeluarkan bebagai pedoman dalam rangka meningkatkan penampilan pelayanan rumah sakit. Untuk rumah sakit swasta telah keluar Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 806b/SK/XII/87 dimana selain menetapkan kelas rumah sakit, juga dilengkapi dengan standar berdasarkan kemampuan pelayanan. ketenagaan, sarana dan

Sejak tahun 1984 Departemen Kesehatan telah mengembangkan berbagai indikator untuk mengukur dan mengevaluasi penampilan rumah sakit pemerintah kelas C dan rumah sakit swasta setara yaitu dalam rangka Hari Kesehatan Nasional. Indikator ini setiap dua tahun ditinjau kembali dan disempurnakan. Evaluasi penampilan untuk tahun 1991 telah dilengkapi dengan indicator kebersihan dan ketertiban rumah sakit dan yang dievaluasi selain kelas C juga kelas D dan kelas B serta rumah sakit swasta setara. Sedangkan evaluasi penampilan tahun 1992 telah dilengkapi pula dengna instrument mengukur kemampuan pelayanan. Evaluasi penampilan rumah sakit ini merupakan langkah awal dari konsep Continuous Quality Improvement (CQI). Berbeda konsep dengan QA tradisional dimana dalam monitor dan evaluasi dititikberatkan kepada pencapaian standar, maka pada CQI focus lebih diarahkan kepada penampilan organisasi melalui penilaian pemilik, manajemen, klinik dan pelayanan penunjang. Perbedaan yang sangat mendasar yaitu keterlibatan seluruh karyawan.

Upaya Peningkatan Mutu Rumah Sakit Panti Nirmala Malang Upaya peningkatan mutu dapat diartikan sebagai keseluruhan upaya dan kegiatan secara komprehensif dan integrative memantau dan menilai mutu pelayanan Rumah Sakit Panti Nirmala, memcahkan masalah-masalh yang ada dan mencari jalan keluarnya, sehinga mutu Rumah Sakit Panti Nirmala akan menjadi lebih baik. Di Rumah Sakit Panti Nirmala upaya peningkatan mutu adalah kegiatan yang bertujuan memberikan asuhan atau pelayanan sebaik-baiknya kepada pasien. Upaya peningkatan mutu Rumah Sakit Panti Nirmala akan sangat berarti dan efektif bilamana upaya penignkatan mutu menjadi tujuan sehari-hari dari setiap unsur di Rumah Sakit Panti Nirmala termasuk pimpinan, pelaksana pelayanan dan staf penunjang. Upaya peningkatan mutu termasuk kegiatan yang melibatkan mutu asuhan atau pelayanan dengan penggunaan sumberdaya secara tepat dan efisien. Walaupun disadari medis maupun keperawatan, yang pada akhirnya akan mengakibatkan buruknya kualitas kinerja rumah sakit. Tujuan Upaya Peningkatan Mutu Rumah Sakit Panti Nirmala a. Tujuan Umum Meningkatkan pelayanan kesehatan melalui upaya peningkatan mutu Ruma Sakit Panti Nirmala secara efektif dan efisien agar tercapai derajat kesehatan yang optimal. b. Tujuan Khusus Tercapainya peningkatan mutu Rumah Sakit Panti Nirmala melalui :

1. 2.

Optimalisasi tenaga, sarana, dan prasarana. Pemberian pelayanan sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan yang dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu sesuai dengan kebutuhan pasien.

3.

Pemanfaatan teknologi tepat guna, hasil penelitian dan pengembangan pelayanan kesehatan.

Indikator Mutu Rumah Sakit Panti Nirmala dikelompokkan menjadi 3 golongan, yaitu : I. II. III. INDIKATOR AREA KLINIS INDIKATOR INTERNATIONAL LIBRARY INDIKATOR SASARAN KESELAMATAN PASIEN

Keselamatan (safety) telah menjadi isu global, dan rumah sakit sebagai penyedia jasa pelayanan kesehatan termasuk didalamnya. Pelayanan kesehatan pada dasarnya bertujuan untuk menyelamatkan pasien, namun dengan semakin berkembangnya ilmu dan teknologi, pelayanan kesehatan menjadi semakin kompleks dan berpotensi untuk terjadi Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) apabila tidak berhati-hati. Di Indonesia data tentang KTD atau KEjadian Nyaris Cidera (Near Miss) masih langka, namun di lain pihak terjadi peningkatan tuduhan mal praktek yang belum tentu sesuai dengan pembuktian akhir. Mengingat keselamatan pasien sudah menjadi tuntutan masyarakat, maka Rumah Sakit Panti Nirmala Malang telah menetapkan pelaksanan Keselamatan Pasien sejak tanggal 5 Desember 2007. Nafas dari Patient Safety adalah belajar dari KTD yang terjadi dari masa lalu dan selanjutnya disusun langkah-langkah agar kejadian serupa tidak terulang. Proses pembelajaran ini bukan sesuatu yang sederhana, karena dimulai dari proses pelaporan kejadian dilanjutkan dari analissi sampai ditemukan akarmasalhnya sebagai dasar untuk mendisain ulang system sehingga tercapai suatu asuhan pasien yang lebih aman di Rumah Sakit. Supaya kegiatan ini dapat terarah dan berkesinambungan maka perlu diadakan buku pedoman serta pelatihan kepada unit kerja terkait sehingga tujuan dari program keselamatan pasien dapat tercapai. A. Sasaran Keselamatan Pasien Sasaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit Panti Nirmala mengacu kepada Nine LifeSaving Patient Safety Solution dari WHO Patient Safety ( 2007 ) yang digunakan juga oleh Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit ( KKPRS PERSI ), dan Joint Commission International (JCI )

Maksud dari sasaran keselamatan pasien adalah mendorong perbaikan spesifik dalam keselamatan pasien. Sasaran ini menyoroti bagian-bagian yang bermasalah dalam pelayanan kesehatan dan menjelaskan bukti serta solusi dari kosensus para ahli atas permasalahan ini. Adapun 6 sasaran keselamatan pasien di Rumah Sakit Panti Nirmala adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Sasaran I : Ketepatan Identifikasi Pasien

Sasaran II : Peningkatan Komunikasi yang Efektif Sasaran III : Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai (high-alert) Sasaran IV : Kepastian Tepat Lokasi, Tepat Prosedur, Tepat Pasien Operasi Sasaran V : Pengurangan Risiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan Sasaran VI : Pengurangan Risiko Pasien Jatuh

Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit adalah sebagai berikut: 1. Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien Menciptakan kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil 2. Pimpin dan dukung staf anda Membangun komitmen dan fokus yang kuat dan jelas tentang keselamatan pasien di rumah sakit anda 3. Integrasikan aktivitas pengelolaan risiko Mengembangkan sistem dan proses pengelolaan risiko, serta melakukan identifikasi dan asesmen hal yang potensial bermasalah. 4. Kembangkan sistem pelaporan Memastikan agar staf dengan mudah dapat melaporkan kejadian atau insiden, dan Rumah Sakit mengatur pelaporan kepada KKP-RS (Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit). 5. Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien Mengembangkan cara-cara komunikasi yang terbuka dengan pasien 6. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien Mendorong staf untuk melakukan analisis akar masalah (Root Cause Analysis / RCA), untuk belajar bagaimana dan mengapa kejadian itu timbul. 7. Cegah cidera melalui implementasi sistem keselamatan pasien. Menggunakan informasi yang ada tentang kejadian atau masalah untuk melakukan perubahan pada sistem pelayanan.