Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Gangguan pada saluran pencernaan pada bayi dan anak dapat disebabkan oleh kelainan bawaan atau didapat. Gangguan akibat kelainan yang didapat disebabkan trauma atau adanya infeksi baik pada saluran pencernaan atau di luar saluran cerna. Sedangkan gangguan akibat kelainan bawaan bisa disebabkan oleh kelainan genetik ataupun adanya infeksi yang diderita ibu pada saat hamil. Kelainan bawaan itu diantaranya yaitu hirschsprung atau lebih dikenal dengan megakolon kongenital. Dimana pada tahun 1886 Hirschsprung mengemukakan 2 kasus obstipasi sejak lahir yang dianggapnya disebabkan oleh dilatasi kolon. Kedua pasien tersebut meninggal. Dikatakan pula bahwa keadaan ini merupakan kesatuan klinik tersendiri dan sejak itu disebut sebagai penyakit Hirschsprung atau megakolon kongenital. B. Tujuan penulisan Adapun tujuan penulisan makalah dengan judul Asuhan Keperawatan pada Bayi/anak dengan Penyakit Hirschsprung adalah sebagai berikut : C. Mengetahui gangguan pada saluran pencernaan pada bayi dan anak yang disebabkan oleh kelainan kongenital. D. Mengetahui dan mampu memberikan asuhan keperawatan pada anak dan bayi dengan kelainan kongenital Hirschsprung. E. Batasan Masalah Pembahasan topik dalam makalah ini yaitu mengenai asuhan keperawatan gangguan saluran pencernaan pada bayi/anak yang disebabkan kelainan kongenital yaitu Hirschsprung dan menitikberatkan pada pra bedah.

BAB II TINJAUAN TEORI

A. Definisi Penyakit Hirschrung disebut juga congenital aganglionosis atau megacolon (aganglionic megacolon) yaitu tidak adanya sel ganglion dalam rectum dan sebagian tidak ada dalam colon.(Suriadi & Yuliani, 2001). Menurut Zuelser & Wilson (1948) bahwa pada dinding usus yang menyempit tidak ditemukan ganglion parasimpatis sehingga dikenal dengan istilah aganglionosis kongenital.(ngastiyah, 1997). Pada pemeriksaan patologi anatomi tidak ditemukan sel ganglion Auerbach dan Meissner, serabut sarafnya menebal dan serabut ototnya hipertrofik. Aganglionosis ini mulai dari anus ke arah oral. A. Klasifikasi 1. Penyakit Hirschprung segmen pendek. Segmen aganglionosis mulai dari anus sampai sigmoid; ini merupakan 70& dari kasus penyakit Hirschprung dan lebih sering ditemukan pada laki-laki dibanding anak perempuan. 2. Penyakit Hirschprung segmen panjang. Kelainan dapat melebihi sigmoid, bahkan dapat mengenai seluruh kolon atau usus halus. Ditemukan sama banyak pada anak lelaki maupun perempuan. B. Patofisiologi Ketidakadaan sel-sel ganglion ini menimbulkan keabnormalan atau tidakadanya peristaltic serta tidak adanya evakuasi usus spontan. Persarafan parasimpatik colon didukung oleh ganglion. Persarafan parasimpatik yang tidak sempurna pada bagian usus yang aganglionik mengakibatkan peristaltik abnormal, sehingga terjadi konstipasi dan obstruksi. Tidak adanya ganglion

disebabkan kegagalan dalam migrasi sel ganglion selama perkembangan embriologi. Karena sel ganglion tersebut bermigrasi pada bagian kaudal saluran gastrointestinal (rectum), kondisi ini akan memperluas hingga proksimal dari anus. Semua ganglion pada intramural plexus dalam usus berguna untuk kontrol kontraksi dan relaksasi peristaltik secara normal. Penyempitan pada lumen usus, tinja dan gas akan terkumpul di bagian proksimal dan terjadi obstruksi dan menyebabkan di bagian colon tersebut melebar (megacolon). C. Komplikasi 3. Obstruksi usus 4. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit 5. Konstipasi D. Etiologi 6. Sering terjadi pada anak dengan Down Syndrome 7. Kegagalan sel neuron pada masa embrio dalam dinding usus, gagal eksistensi kraniokaudal pada myenterik dan submukosa dinding plexus. E. Manifestasi Klinis 8. Kegagalan lewatnya mekonium dalam 24 jam pertama kehidupan. 9. Konstipasi kronik mulai bulan pertama kehidupan dengan terlihat tinja seperti pita. 10. Obstruksi usus dalam periode neonatal. 11. Nyeri abdomen dan distensi. 12. Gangguan pertumbuhan F. Pemeriksaan Colok Anus Pada pemeriksaan tersebut jari akan merasakan jepitan dan pada waktu ditarik akan diikuti dengan keluarnya udara dan mekonium atau tinja yang menyemprot.

G. Pemeriksaan Diagnostik 13. Pemeriksaan dengan barium enema Dengan pemeriksaan ini akan ditemukan : a). Daerah transisi b). Gambaran kontraksi usus yang tidak teratur di bagia yang menyempit. c). Enterokolitis pada segmen yang melebar. d). Terdapat retensi barium setelah 24-48 jam. 14. Biopsi isap Yaitu mengambil mukosa dan submukosa dengan alat pengisap dan mencari sel ganglion pada daerah submukosa. 15. Biopsi otot rektum Yakni pengambilan lapisan otot rektum, dilakukan di bawah narkose, pemeriksaan ini bersifat trumatik. 16. Pemeriksaan aktivitas enzim asetilkolin esterase dari hasil biopsi isap. Pada penyakit ini khas terdapat peningkatan aktivitas enzim asetilkolin enterase. 17. Pemeriksaan aktivitas norepinefrin dari jaringan biopsi usus.

B. Penatalaksanaan H. Medik Hanya dengan operasi. Bila belum dapat dilakukan operasi, biasanya (merupakan tindakan sementara) dipasang pipa rektum, dengan atau tanpa dilakukan pembilasan dengan air garam fisiologis secara teratur. I. Keperawatan Masalah utama adalah terjadinya gangguan defekasi (obstipasi). Perawatan yang dilakukan adalah melakukan spuling dengan air garam fisiologis hangat setiap hari (bila ada persetujuan dokter) dan mempertahankan kesehatan pasien dengan memberi makanan yang cukup bergizi serta mencegah terjadinya infeksi.

J. Asuhan keperawatan 1. Pengkajian a). Riwayat pengeluaran mekonium dalam 24 jam pertama setelah lahir. b). Riwayat tinja seperti pita dan bau busuk c). Pengkajian status nutrisi dan status hidrasi d). Pengkajian status bising usus untuk melihat pola bunyi hiperaktif pada bagian proksimal karena obstruksi. e). Pengkajian psikososial keluarga. 2. Diagnosa keperawatan a). Konstipasi berhubungan dengan obstruksi karena aganglion pada usus. b). Risiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan persiapan pembedahan, intake yang kurang, mual dan muntah. c). Gangguan integritas kulit berhubungan dengan colostomy dan perbaikan pembedahan. d). Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan dan adanya insisi. e). Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan pembedahan gastrointestinal. f). Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan. g). Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kebutuhan irigasi, pembedahan dan perawatan colostomy. h). Gangguan citra tubuh berhubungan dengan colostomy dan irigasi. 3. Perencanaan a). Pengeluaran tinja lembek dan tanpa retensi dan pantau status nutrisi anak sebelumpembedahan. Beri makanan tinggi kalori, tinggi protein dan tinggi sisa Gunakan rute makan alternatif jika pasien tidak dapat makan per oral

Kaji asupan dan haluaran secara cermat etiap 8 jam Timbang berat badanya setiap hari

b). Anak tidak menunjukkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit yang ditandai dengan membran mukosa lembab, gravitasi urine atau berat jenis normal, sodium, potasium dan bikarbonat dalam batas normal. Pantau tanda- tanda vital setiap 2 jam Pantau asupan dan haluaran Observasi tnda dan gejala perforasi usus (muntah, peningkatan nyeri tekan, Distensi abdomen, Iritabilitas dan gawat pernapasan) c). Insisi bekas pembedahan tidak ada pus atau exudate, tidak ada kemerahan, drainage dan tanpa perdarahan. d). Anak akan terbebas dari infeksi. e). Bising usus dalam batas normal, pengeluaran tinja mudah dan tidak ada tanda-tanda dehidrasi. f). Anak tidak menunjukkan rasa nyeri yang ditandai dengan dapat melakukan aktivitas, beristirahat, kooperatif dengan perawat. g). Orang tua memahami kondisi anak dan dapat membantu dalam perawatan. h). Anak dan orang tua mengekspresikan perasaan secara verbal tentang irigasi yang dilakukan dan ostomy. 4. Implementasi a). Mencegah atau mengatasi konstipasi dan mempertahankan hidrasi yang adekuat.( Diagnosa no. 1 dan 2 ) i. ii. Kaji fungsi usus dan karakteristik tinja Siapkan anak untuk pembedahan dan colostomy temporer, untuk anak usia 5 tahun dan usia sekolah : lakukan enema isotonik hingga bersih dan monitor intake dan output, pemberian elektrolit polyethylene glycol melalui oral atau NGT 25-60

ml/kg per jam hingga cairan sampai ke rectum dan monitor mual serta muntah. iii. Untuk anak di bawah 5 tahun; anak dipuasakan sampai persiapan pembedahan, berikan cairan secara intravena bila dibutuhkan dan sesuai program, pertahankan intake dan output. iv. v. vi. Monitor gravitasi urine atau berat jenis urine. Monitor elektrolit sesuai program. Kaji status hidrasi sebelum dan sesudah pembedahan dengan mengkaji turgor kulit dan membran mukosa. b). Mencegah infeksi pembedahan dan colostomy serta mempertahankan keutuhan kulit di sekeliling area pembedahan.(Diagnosa no. 3 dan 4) i. ii. iii. iv. v. vi. Pemberian larutan neomycin 1 % per rectum atau stoma sesuai program Pemberian antibiotik oral atau intravena sesuai program. Monitor tanda-tanda vital setiap 4 jam Mengukur lilitan abdomen. Kaji insisi pembedahan; kemerahan, bengkak dan drainage. Kaji warna stoma, perdarahan dan kaji kerusakan sekeliling area insisi pembedahan. vii. Berikan perawatan kulit dengan meticulous. viii. Catat adanya demam, drainage yang tidak biasanya, kemerahan atau bau dan laporkan. ix. Gunakan kantong stoma yang hypoallergi.

c). Mempertahankan status nutrisi yang adekuat i. ii. iii. Puasakan anak hingga bising usus positif dan ada buang gas (flatus) Pertahankan NGT. Pemberian cairan melalui intravena sesuai program sampai anak toleran dengan intake secara oral.

iv.

Timbang berat badan

d). Memberikan kontrol nyeri yang adekuat i. ii. iii. iv. v. Kaji nyeri dengan skala 1 10 Berikan rasa nyaman; reposisi, back rub (pijat punggung), mendengarkan musik, sentuhan dan lain-lain). Pemberian obat untuk mengatasi nyeri sesuai program. Berikan ketenangan pada anak. Kaji pola tidur dan hindari hal-hal yan gtidak dibutuhkan oleh anak. e). Meningkatkan pemgetahuan tentang kondisi pada orang tua dan anak. (Diagnosa no. 7 dan 8) i. ii. Kaji tingkat pengetahuan tentang kondisi yang dialami, perawatan di rumah dan pengobatan. Ajarkan pada orang tua untuk mengekspresikan perasaan, kecemasan dan perhatian tentang irigasi rectal dan perawatan ostomy. iii. iv. v. Jelaskan perbaikan pembedahan dan proses kesembuhan. Ajarkan pada anak dengan membuat gambar-gambar sebagai ilustrasi misalnya bagaimana dilakukan irigasi dan colostomy. Ajarkan perawatan ostomy segera setelah pembedahan dan lakukan supervisi saat orang tua melakukan perawatan ostomy. 5. Perencanaan pemulangan a). Instruksikan orang tua untuk mendemonstrasikan kembali bagaimana melakukan irigsi rectal dan melakukan perawatan ostomy. b). Ajarkan orang tua bagaimana mengkaji distensi dan obtruksi dan pentingnya mencatat untuk dilaporkan ke dokter atau perawat.

c). d).

Perlu konsultasi ke bagian perawat enterostomal therapid dan ahli gizi bila memungkinkan. Ajarkan orang tua untuk mengkaji fungsi usus dan perlunya diit tinggi serat.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Berbagai gangguan yang terdapat pada saluran pencernaan bayi dan anak pada intinya disebabkan karena dua hal yaitu kelainan yang didapat atau bawaan. Salah satu contoh gangguan akibat kelainan kongenital yaitu hirschsprung yang juga dikenal dengan megakolon kongenital Hirschsprung disebabkan karena tidak adanya sel ganglion dalam rectum dan sebagian tidak ada dalam colon. Masalah keperawatan utamanya yaitu terjadinya gangguan defekasi (obstipasi) dan perawatannya dengan dilakukan spuling air garam hangat tiap hari serta mencukupi gizi dan mencegah infeksi. B. Saran Dalam memberikan perawatan kepada bayi atau anak dengan gangguan saluran pencernaan kongenital ini hendaknya benar-benar memperhatikan trias yang sering ditemukan pada penyakit hirschsprung (mekonium lebih 24 jam setelah lahir, perut kembung dan muntah berwarna hijau) agar dapat memberikan perawatan yang benar dan menghindarkan terjadinya komplikasi.

10