Anda di halaman 1dari 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.

1 Kondisi Eksisting Wilayah Sampling Pada praktikum ammonium ini, kami mengambil sampel di wilayah air sungai di dekat pabrik karet lubuk begalung. Pengambilan sampel dilakukan pada hari Rabu tanggal 19 September 2013. Pada pengambilan sampel kali ini dilakukan sehari sebelum praktikum, hal ini dimaksudkan agar kondisi sampel masih bagus. Pengambilan sampel dimaksudkan agar dapat mewakili secara keseluruhan area tempat pengambilan sampel. Keadaan atau kondisi air pada saat pengambilan sampel tidak teralu kotor.tapi daerah sekitar sungai sedikit kumuh. Airnya juga mengeluarkan bau yang busuk. Pengambilan sampel dilakukan di satu titik yaitu pada air yang alirannya deras. Aktivitas manusia yang biasa dilakukan didekat sungai ini adalah adanya orang memancing ikan dan sampah-sampah bertebaran didekat sungai tersebut. 2.2 Teori 2.2.1 Definisi dan Karakteristik Ammonium Ammonia adalah senyawa kimia dengan rumus NH3. Senyawa ini biasanya didapati berupa gas dengan bau tajam yang khas (disebut bau ammonia) walaupun ammonia memiliki sumbangan yang penting bagi keberadaan nutrisi di bumi. Ammonia sendiri adalah senyawa kaustik (menimbulkan iritasi atau rangsangan) dan dapat merusak kesehatan ( Hermanto, 2007 ). Molekul ammonia mempunyai bentuk segitiga. Ammonia terdapat di atmosfer dalam kuantitatif yang kecil akibat perebutan bahan organik. Ammonia juga dijumpai di dalam tanah, dan di tempat berdekatan dengan gunung berapi. Oleh karena itu, ammonia juga terdapat di planet dan satelit lain ( Hermanto, 2007 ).

2.2.2 Dampak Ammonium Amoniak merupakan gas bertekanan tinggi dan bersifat racun, akspisian, korosif dan mudah terbakar. Gas tersebut harus disimpan dalam silinder bertekanan dalam keadaan terlindung, bebas panas dan goncangan, terikat kuat serta bebas dari kebocoran keran (Imamkhasani, 1991 ). Ammonia sangat berbahaya, jika terhirup dapat merusak saluran pernapasan terutama saluran pernapasan bagian atas. Saluran pernapasan yang terangsang amoniak akan membengkak, hingga pernapasan terganggu karena penyempitan saluran pernapasan itu. Lebih parah lagi, saluran lendir yang terangsang akan mengelurkan sekret (cairan getah) sehingga pernapasan pun terhambat, dan korban akan mengalami sesak napas. Bila tidak ditolong maka korban akan pingsan. Lebih jauh, bila jaringan yang terangsang mengalami kerusakan, akan terjadi pendarahan di sepanjang saluran pernapasan dan darah akan keluar bersama batuk ( Siagian, 2007 ). Bila amoniak mencapai paru-paru dapat mengakibatkan bronchopneumonia (radang pada salah satu bagian paru). Bila selaput lendir (mukosa) rusak, dapat mengakibatkan penyakit menahun sebab pada selaput ini terdapat sel-sel pertahanan tubuh, khususnya bagi jaringan paru-paru ( Siagian, 20007 ). Ammonia mudah terbakar. Jika ditelan, ammonia menyebabkan diare dan pusing. Larutan padat ammonia menyebabkan sakit mata dan kulit. Jika keracunan ammonia juga dapat merusak pernapasan. Menghirup senyawa ini pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan pembengkakan saluran pernapasan. Terkena ammonia pada konsentrasi 0,5 % (v/v) selama 30 menit dapat menyebabkan kebutaan ( Hermanto, 2007 ). 2.2.3 Substansi Ammonium Ammonium kation juga dikenal sebagai ammonia terionisasi karena sifatnya bermuatan listrik, yakni positif bermuatan poliatomik, kation dari rumus kimia NH 4+, memiliki berat rumus 18,05 dan dibentuk oleh protonasi dari ammonia (NH 3). Ion yang dihasilkan memiliki pKa = 9,25 ( Hermanto, 2007).

Nitrogen memiliki lima elektron terluar, ditambahkan empat elektron dari empat hidrogen, sehingga total hidrogen menjadi sembilan. Ion ammonium adalah ion positif, ion ini memiliki muatan 1+ karena kehilangan 1 elektron, sehingga tinggal delapan elektron pada tingkat terluar nitrogen. Oleh sebab itu, menjadi empat pasang, yang semuanya berikatan karena adanya empat hidrogen ( Hermanto, 2007). Ion ammonium memiliki bentuk yang sama dengan metana, karena ion ammonium memiliki susunan elektron yang sama. Ion ammonium (NH 4+) adalah tetrahedral. Ion ammonium dikatakan isoelektronik jika keduanya memiliki bilangan dan susunan elektron yang sama ( Siagian, 2007 ). Ammonia dapat digunakan untuk pembersih, pemutih dan mengurangi bau busuk. Larutan pembersih yang dijual kepada konsumen menggunakan larutan ammonia hidroksida cair sebagai pembersih utama. Tetapi, dalam penggunaannya haruslah berhati-hati karena penggunaan untuk jangka waktu yang lama dapat mengganggu pernafasan ( Hermanto, 2007 ). 2.2.5 Sumber dan Sejarah Pembuatan Ammonium Ion ammonium adalah produk limbah dari metabolisme pada hewan. Dalam invertebrata ikan dan air, senyawa ini dikeluarkan langsung ke dalam air. Pada mamalia, hiu, dan amfibi, ia diubah dalam siklus urea untuk urea karena urea kurang beracun dan dapat disimpan lebih efisien ( Imamkhasani, 1991 ). Ammonium merupakan sumber penting dari nitrogen untuk banyak jenis tanaman, terutama yang tumbuh di tanah hipoksia. Namun, juga beracun untuk jenis tanaman yang paling dan jarang digunakan sebagai sumber nitrogen utama ( Siagian, 2007 ). 2.2.6 Sifat Asam-Basa pada Ammonium Ion ammonium adalah asam sedikit, bereaksi dengna basis Bronsted untuk kembali ke molekul ammonium bermuatan: NH4+ + B HB + 3NH. Dengan demikian, pengobatan solusi terkonsentrasi garam ammonium dengan basa kuat memberikan ammonia. Ketika ammonia dlarutkan dalam air, sejumlah kecil itu diubah menjadi ion ammonium: H3O++NH3 H2O + NH4+ ( Hermanto, 2007 ).

4.1 Pembahasan Pada praktikum modul ammonium ini, sampel air yang digunakan dalam praktikum ini adalah air yang diambil di wilayah Sungai Lubuk Begalung, praktikan mengambil sampel air ini sehari sebelum praktikum dilakukan. Tepatnya pada hari Rabu 18 September 2013 pukul 18.30 WIB. Hal ini dimaksudkan agar sampel air yang akan diuji kandungan ammoniumnya tersebut tidak mengalami perubahan senyawa atau terkontaminasi oleh bakteri-bakteri yang akan tumbuh dalam sampel air dengan waktu yang tidak terlalu lama. Sebelum menganalisa tentang hasil pengamatan dan percobaan selama praktikum mengenai kandungan ammonium pada sampel air tersebut, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan diprioritas untuk dikerjakan terlebih dahulu. Hal tersebut adalah melakukan pengenceran terhadap larutan standar NH4 1000 ppm. Pertamatama, diencerkan menjadi larutan NH4 100 ppm, setelah itu larutan NH4 100 ppm diencerkan menjadi larutan NH4 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, 4 ppm, dan 5 ppm. Kemudian ditambahkan 0,5 mL pereaksi Nessler, akan terlihat perubahan warna menjadi kuning pada tiap-tiap larutan yang diuji. Pereaksi Nessler berfungsi sebagai indikator warna untuk pengukuran kadar ammonia. Hasil yang didapatkan adalah terlihat bahwa semakin tinggi konsentrasi larutan, maka akan semakin kuning atau semakin pekat warna larutannya yang terbentuk. Kemudian ambil sampel air dan beri pereaksi Nessler juga. Sebelum kita mengukur absorban larutan-larutan yang diuji tadi beserta sampel air dengan menggunakan spektrofotometer, dibandingkan terlebih dahulu warna kuning yang terlihat pada sampel dengan larutan standar, tentukan warna larutan standar yang mendekati dengan warna sampel. Ternyata warna kuning pada sampel berada di tengah-tengah antara warna larutan standar 1 ppm dengan larutan standar 2 ppm. Setelah diukur dengan spektrofotometer, hasil absorban sampel nilainya berada di tengah-tengah nilai absorban larutan standar 1 ppm dan larutan standar 2 ppm. Berdasarkan Kepmenkes No. 907 tahun 2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum, dengan parameter kimia untuk bahan-bahan anorganik telah

ditetapkan bahwa kadar ammonia yang diperbolehkan di dalam air baku adalah 1,5 mg/L. Telah ditetapkan bahwa kadar ammonia yang diperbolehkan di dalam air baku adalah 1,5 mg/L. Sedangkan hasil percobaan, didapatkan nilai ammonium 0,6 mg/L, hal ini menunjukkan kadar ammonium yang terkandung di dalam Sungai Lubuk Begalung sangat tinggi. Hal ini disebabkan beberapa faktor, salah satunya yaitu akibat banyaknya kandungan sampah di sungai tersebut. Sungai Lubuk Begalung tersebut telah banyak terkontaminasi atau tercemari dengan limbah-limbah yang dibuang ke sungai tersebut. Praktikan melakukan metode spektofotometri menggunakan alat spektofotometer untuk mengetahui absorban pada sampel dan membandingkannya dengan larutan standar NH4 dengan berbagai konsentrasi. Tetapi sebelum diukur pada spektofotometer praktikan menambahkan pereaksi Garam Seignette ke dalam larutan standar dan sampel. Fungsi dari Garam Seignette adalah untuk mengikat senyawa kompleks yaitu pada percobaan ini adalah ammonium; ammonium yang dalam sampel dan larutan standar serta pereaksi Nessler sebagai indikator pembanding warna. Setelah melakukan percobaan dan perhitungan dengan menggunakan kurva kalibrasi maka diperoleh konsentrasi ammonium pada sampel adalah 0,6 ppm (mg/L). Jika dianalisa hasil perhitungan tersebut, dan dibandingkan dengan warna yang terbentuk pada larutan standar, angkanya menunjukkan terletak di antara 0,00 ppm dan 1,00 ppm. Nilai ini sesuai dengan warna yang terlihat pada saat praktikum yaitu lebih pekat dari larutan standar 0 ppm dan kurang pekat dari warna larutan standar 1 ppm. Setelah melakukan perhitungan di atas maka dapat dianalisa bahwa konsentrasi ammonium yang didapatkan pada sampel air melebihi standar yang telah ditetapkan yaitu berdasarkan Peraturan Pemerintah No.82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air serta pedoman kriteria penetapan baku mutu air berdasarkan kelas adalah 0,5 mg/L.

Dengan adanya diketahui konsentrasi ammonium pada suatu sampel air, aplikasi disiplin ilmunya dalam bidang teknik lingkungan adalah kita akan mengetahui kualitas air tersebut, dan memudahkan kita untuk menentukan perlakuan pengolahan yang tepat pada air tersebut. Limbah cair dengan kandungan ammonia merupakan limbah organic. Beberapa cara yang dilakukan untuk mengolah limbah dengan kandungan ammonia ini adalah dengan nitrifikasi, denitrifikasi, ion exchange dan scrubber. Nitrifikasi merupakan proses dengan dua tahap reaksi yaitu proses oksidasi ammonia menjadi nitrit dan kemudian menjadi nitrat dengan bantuan bakteri. Proses selanjutnya adalah denitrifikasi yang merupakan konversi nitrat menjadi gas nitrogen dan juga dengan sedikit gas oksida nitrogen. Proses ini menggunakan mikroorganisme fakultatif dan harus tersedia nitrat, serta sumber karbon dalam kondisi anaerobik. Proses ion exchange menggunakan resin untuk mengikat ammonia dalam limbah. Elektrolisa ammonia dalam limbah merupakan salah satu cara untuk mengolah limbah disamping untuk menghasilkan energi bersih.

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan Dari praktikum yang telah dilakukan maka didapatkan kesimpulan bahwa: 1. Nilai konsentrasi ammonium pada sampel adalah 0,353 ppm (mg/L); 2. Konsentrasi ini melebihi standar baku mutu yang berdasarkan Peraturan Pemerintah No.82 tahun 2001 yaitu 0,5 ppm (mg/L); 3. Konsentrasi ini melebihi standar baku mutu yang berdasarkan Kepmenkes No. 907 tahun 2002 yaitu 1,5 ppm (mg/L). 5.2 Saran Adapun saran yang dapat praktikan berikan setelah melakukan praktikum ammonium ini adalah: 1. Memahami objek praktikum dan materi yang berkaitan dengan objek tersebut; 2. Mempersiapkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan praktikum sebelum praktikum dimulai; 3. Berhati-hati selama praktikum berlangsung baik itu prosedur pekerjaannya maupun penggunaan peralatan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA Hermanto, Sindhu. 2007. Bagaimana Menolong Korban Keracunan Bahan Kimia. Bandung : Bumi Aksara Imamkhasani, Soemanto. 1991. Dasar-Dasar Keselamatan Kerja Bidang Kimia dan Pengendalian Bahaya Besar. Jakarta: ILO Siagian. 2007. Dasar-Dasar Kimia Lingkungan. Jakarta : Gramedia