Anda di halaman 1dari 35

BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Stroke adalah sindrom atau sekumpulan gejala klinis yang terjadi dan berkembang dengan cepat akibat gangguan fungsi otak fokal maupun global, gejala klinis bisa terjadi selama 24 jam atau lebih bahkan bisa menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler. Badan Kesehatan se-Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 15 juta orang terserang stroke setiap tahunnya. Stroke merupakan penyebab kematian utama urutan kedua pada kelompok usia di atas 60 tahun, dan urutan kelima penyebab kematian pada usia 15-59 tahun. Di negara-negara maju, insidensi peredaran stroke rokok cenderung melalui

mengalami penurunan setiap tahunnya. Kondisi ini antara lain disebabkanoleh pembatasan peningkatan bea cukai rokok, serta peningkatan kepatuhan penderita hipertensi mengontrol tekanan darahnya. Meskipun demikian, prevalensi penderita stroke terus bertambah seiring meningkatnya harapan hidup di Negara maju. Di Eropa diperkirakan terdapat 100-200 kasus stroke baru per 10.000 penduduk per tahun . Di Amerika diperkirakan terdapat lebih dari 700.000 insiden stroke per tahun yang menyebabkna lebih dari 160.000 kematian per tahun dengan 4,8 juta penderita yang bertahan hidup. Sementara itu, di Negara-negara miskin dan berkembang, seperti Indonesia, insidensi stroke cenderung meningkat setiap tahunnya meskipun sulit mendapat data yang akurat.

Stroke menduduki posisi ketiga di Indonesia setelah penyakit jantung dan kanker. Sebanyak 28,5 % penderita stroke meninggal dunia. Sisanya menderita kelumpuhan sebagian maupun total dan hanya 15% saja yang dapat sembuh total dari serangan stroke dan kecacatan. Yayasan stroke Indonesia (Yastroki) menyebutkan bahwa 63,52 per 100 ribu penduduk Indonesia berumur di atas 65 tahun ditaksir menderita stroke.

B.

Batasan Topik Student Learning Objectives 1. Definisi dari Stroke 2. Klasifikasi Stroke 3. Epidemiologi dari Stroke 4. Patofisiologi dari Stroke 5. Faktor resiko terjadinya Stroke 6. Manifestasi klinis dari Stroke 7. Pemeriksaan diagnostik Stroke 8. Penatalaksanaan medis dari Stroke 9. Asuhan keperawatan dari Stroke

BAB II PEMBAHASAN Trigger Mbah Parno usia 65 tahun adalah seorang pekerja pabrik bangunan di kawasan industri terkenal. Ia baru saja bercerai dari istrinya sedangkan anak satu-satunya memilih ikut ibunya. Mbah Parno suka sekali merokok dan minum kopi setiap saat. Biasanya ia sarapan hanya dengan segelas kopi dan rokok lalu berangkat kerja, jarang makan siang namun ia mengaku makan malamnya sangat banyak dan sebagian besar adalah daging dan karbohidrat. Suatu pagi Mbah Parno mengeluh tidak bisa menggerakkan tangan dan kakinya yang sebelah kanan. Penjelasan 1. Definisi Stroke adalah sindrom atau sekumpulan gejala klinis yang terjadi dan berkembang dengan cepat akibat gangguan fungsi otak fokal maupun global, gejala klinis bisa terjadi selama 24 jam atau lebih bahkan bisa menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler. Cedera vascular serebral (CVS), yang sering disebut stroke atau serangan otak, adalah cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi aliran darah. Stroke didefinisikan sebagai deficit (gangguan) fungsi

system saraf yang terjadi mendadak dan disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak. Stroke terjadi akibat gangguan pembuluh darah di otak. Gangguan peredaran darah otak dapat berupa tersumbatnya pembuluh darah otak atau pecahnya pembuluh darah di otak. Otak yang seharusnya mendapat pasokan oksigen dan zat makanan menjadi terganggu. Kekurangan pasokan oksigen ke otak ini akan memunculkan gejala stroke. Pada CVS, hipoksia serebral yang nenyebabkan cedera dan kematian sel neurin terjadi. Inflamasi yang ditandai dengan pelepasan sitokin proinflamasi, produksi radikal bebas oksigen, dan pembengkakakn serta edema ruang interstisial, terjadi pada kerusakan sel dan menyebabkan situasi yang memburuk. Demikian pula, asidosis terjadi akibat hipoksia dan mencederai otak lebih lanjut melalui kerusakan otak setelah stroke, biasanya memuncak 24 sampai 72 jam setelah kematian sel neuron. 2. Klasifikasi Berdasar kelainan patologis 1. Stroke Iskemik/nonhemoragik (penyumbatan) Merupakan jenis stroke yang paling sering di jumpai sekitar 80 % kasus tergolong kasus ini. Stroke Iskemik dibagi lagi berdasarkan lokasi penyumbatannya, yaitu : a) Stroke Iskemik Trombotik Terjadi karena adanya penggumpalan paa pembuluh darah di otak. Secara klinis juga disebut dengan serebral thrombosis yang diuraikan lagi berasarkan jenis terjadinya penyumbatan, antara lain : 1) Thrombosis pembuluh dara besar. Biasanya terjadi di pembuluh thrombosis arteri besar otak. darah Dalam besar banyak diakibatkan kasus, oleh pembuluh pebuluh darah tempat

aterosklerosis yang diikuti oleh terbentuknya gumpalan

darah yang cepat dan didukung oleh tingginya kadar kolesterol jahat (LDL) 2) Thrombosis pembuluh darah kecil terjadi ketika aliran darah ke pembuluh darah kecil terhambat, ini terkait dengan hipertensi dan merupakan indikator penyakit aterosklerosis. b) Stroke Iskemik Embolik Penggumpalan terjadi di jantung sehingga darah tak bisa mengaliri oksigen dan nutrisi ke otak. Kelainan pada jantung ini mengakibatkan curah jantung berkurang atau tekanan perfusi yang menurun. Stroke ini biasanya muncul saat sedang beraktivitas fisik, seperti olagraga. c) Hipoperfusion sistemik Merupakan jenis stroke yang disebabkan berkurangnya aliran darah keseluruh bagian tubuh karena adanya gangguan denyut jantung. 2. Stroke Hemoragik (perdarahan) Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak atau pembuluh darah otak bocor. Ini bisa terjadi karena tekanan darah ke otak tiba-tiba meninggi, sehingga menekan pembuluh darah. Biasanya perdarahan otak terjadi di basal ganglia, serebelum, brainstem (batang otak), koteks (selaput otak). Bila tekanan yang terjadi di otak sangat tinggi maka akan menyebabkan pasien koma atau meninggal dunia. Stoke ini juga dibagi berdasarkan lokasi serangan, antara lain : 1. Stroke Hemoragik Intraserebral Banyak terjadi di dalam otak. Sebagian besar pasien yang mengalaminya bisa menderita lumpuh dan susah diobati. Jika

terkena di daerah thalamus, sering penderitanya tidak dapat ditolong meskipun dilakukan tinakan operasi. 2. Stroke hemoragik Subaraknoid Hampir sama dengan stroke Hemoragik Intraserebral, yang membedakan stroke ini terjadi di pebuluh darah di luar otak, tapi masih di daerah kepala seperti selaput otak atau bagian bawah otak. Walaupun tidak di dalam otak, perdarahan itu bisa menean otak karena adanya aneurisma yang pecah ata AVM (arterivenous malformation) yang pecah. Penyebab lainnya adalah cerebral aneurysm (adanya penonjolan pembuluh darah seperti balon).pecahnya pembuluh darah ini karena darah yang mengalir ke otak tidak teratur.

Berdasar waktu terjadinya 1. TIA ( Trans Iskemik Attack) Gangguan neurologis setempat yang terjadi selama beberapa menit sampai beberapa jam saja. Gejala yang timbul akan hilang dengan spontan dan sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam. 2. Stroke involusi Stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan neurologis terlihat semakin berat dan bertambah buruk. Proses dapat berjalan 24 jam atau beberapa hari. 3. Stroke komplit Stroke dimana gangguan neurologi yang timbul sudah menetap atau permanen . Sesuai dengan istilahnya stroke komplit dapat diawali oleh serangan TIA berulang. 4. Epidemiologi

Kasus stroke baru terjadi pada 100 sampai 300 orang per 100.000 penduduk per tahun. Stroke merupakan pembunuh nomor tiga setelah penyakit jantung dan kanker, namun merupakan penyebab kecacatan nomor satu. Proporsi stroke sumbatan (infark) pada umumnya mencapai 70% kasus, stroke perdarahan intraserebral 25%, dan perdarahan subarachnoid 5%. Di Amerika, stroke menempati posisi ketiga sebagai penyakit utama yang menyebabkan kematian. Setiap tahunnya terdapat laporan 700.000 kasus stroke, sekitar 500.000 kasus serangan pertama dan sisanya merupakan serangan berulang. Sebanyak 75 % penderita stroke mengalamu kelumpuhan dan kehilangan pekerjaan. Pada tahun 2002, sebanyak 275.000 orang telah meninggal. Sementara itu, di eropa setiap tahunnya terdapat 650.000 kasus. Yayasan Stroke Indonesia (YASTROKI) menyebutkan 63,52 per 100.000 penduduk Indonesia berumur >65 tahun ditaksir menderita stroke. Sedangkan jumlah orang yang meninggal dunia diperkirakan 125.000 jiwa per tahun. Sedangkan Badan Kesehatan se-Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 15 juta orang terserang stroke setiap tahunnya. Stroke merupakan penyebab kematian utama urutan kedua pada kelompok usia di atas 60 tahun, dan urutan kelima penyebab kematian pada usia 15-59 tahun. Di negara-negara maju, insidensi stroke cenderung mengalami penurunan setiap tahunnya. Kondisi ini antara lain disebabkanoleh pembatasan peredaran rokok melalui peningkatan bea cukai rokok, serta peningkatan kepatuhan penderita hipertensi mengontrol tekanan darahnya. Meskipun demikian, prevalensi penderita stroke terus bertambah seiring meningkatnya harapan hidup di Negara maju. Sementara itu, di Negara-negara miskin dan berkembang, seperti Indonesia, insidensi stroke cenderung meningkat setiap tahunnya meskipun sulit mendapat data yang akurat. 4. Patofisiologi

Faktor risiko stroke

Aterosklerosis, hiperkoagulasi, artesis.

Katup jantung rusak, miokard, infark, fibrilasi, endokarditis.

Aneurisma, malformasi, arteriovenous

Trombosis serebral

Penyumbatan pembuluh darah otak oleh bekuan darah, lemak dan udara

Pendarahan intraserebral

Pembuluh darah oklusi Iskemik jaringan otak Edema dan kongesti jaringan sekitar

Emboli serebral

Pembesaran darah ke dalam parenkim otak Penekanan jaringan otak Infark otak, edema dan herniasi otak

Stroke serebrovaskular

Defisit neurologis

Infark serebral

Kehilangan kontrol volunter

Risiko peningkata n TIK

Kerusakan pada lobus frontal

Disfungsi bahasa dan komunikasi

Penurunan perfusi jaringan serebral

Hemiplegi dan hemiparasis

Herniasi falks serebri dan ke foramen magnum Kompresi batang otak Depresi saraf kardiovask ular dan pernapasan

Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologis

Disartria, afasia, apraksia

Kerusakan mobilitas fisik

Hambatan komunikas i verbal

Koma

Ketidakef ektifan koping Ketidakef ektifan pola seksualita s Ketidakpa tuhan Konfusi akut

Intake nutrisi tidak adekuat

Kelemahan fisik umum

Kegagalan kardiovask ular dan pernapasan

Ketidakse imbangan nutrisi: kurang dari kebutuha n tubuh

Defisit perawatan diri

Kematian

Penurunan tingkat kesadaran

Risiko cedera

Penekanan jaringan setempat

Kemampua n batuk menurun, kurang mobilitas fisik dan produksi sekret

Disfungsi kandung kemih dan saluran pernapasa n

Risiko kerusakan integritas kulit

Ketidakefe ktifan bersihan jalan napas

Gangguan eliminasi urine Gangguan pertukara n gas

5. Faktor Risiko

Terdiri dari dua kategori, yaitu: a. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi: 1) Usia Risiko terkena stroke meningkat sejak usia 45 tahun. Setiap penambahan usia tiga tahun akan meningkatkan risiko stroke sebesar 11-20%. Dari semua stroke, orang yang berusia lebih dari 65 tahun memiliki risiko paling tinggi yaitu 71%, sedangkan 25% terjadi pada orang yang berusia 65-45 tahun, dan 4% terjadi pada orang berusia <45 tahun. Menurut penelitian Siregar F (2002) di RSUP Haji Adam Malik Medan dengan desain case control, umur berpengaruh terhadap terjadinya stroke dimana pada kelompok umur 45 tahun risiko terkena stroke dengan OR: 9,451 kali dibandingkan kelompok umur < 45 tahun. 2) Jenis Kelamin Menurut data dari 28 rumah sakit di Indonesia, ternyata lakilaki banyak menderita stroke dibandingkan perempuan. Insiden stroke 1,25 kali lebih besar pada laki-laki disbanding perempuan. 3) Ras/bangsa Orang kulit hitam lebih banyak menderita stroke dari pada orang kulit putih. Hal ini disebabkan oleh pengaruh lingkungan dan gaya hidup. Pada tahun 2004 di Amerika terdapat penderita stroke pada laki-laki yang berkulit putih sebesar 37,1% dan yang berkulit hitam sebesar 62,9% sedangkan pada wanita yang berkulit putih sebesar 41,3% dan yang berkulit hitam sebesar 58,7%. 4) Hereditas

Gen berperan besar dalam beberapa faktor risiko stroke, misalnya hipertensi, jantung, diabetes dan kelainan pembuluh darah. Riwayat stroke dalam keluarga, terutama jika dua atau lebih anggota keluarga pernah mengalami stroke pada usia kurang dari 65 tahun, meningkatkan risiko terkena stroke. Menurut penelitian Tsong Hai Lee di Taiwan pada tahun 19972001 riwayat stroke pada keluarga meningkatkan risiko terkena stroke sebesar 29,3%. b. Faktor risiko yang dapat dirubah: 1) Hipertensi Hipertensi merupakan faktor risiko utama terjadinya stroke. Hipertensi meningkatkan risiko terjadinya stroke sebanyak 4 sampai 6 kali. Makin tinggi tekanan darah kemungkinan stroke makin besar karena darah terjadinya sehingga kerusakan pada dinding pembuluh memudahkan terjadinya

penyumbatan/perdarahan otak. Sebanyak 70% dari orang yang terserang stroke mempunyai tekanan darah tinggi. 2) Diabetes Melitus Diabetes melitus merupakan faktor risiko untuk stroke, namun tidak sekuat hipertensi. Diabetes melitus dapat mempercepat terjadinya aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah) yang lebih berat sehingga berpengaruh terhadap terjadinya stroke. Menurut penelitian Siregar F (2002) di RSUP Haji Adam Malik Medan dengan desain case control, penderita diabetes melitus mempunyai risiko terkena stroke dengan OR : 3,39. Artinya risiko terjadinya stroke pada penderita diabetes mellitus 3,39 kali dibandingkan dengan yang tidak menderita diabetes mellitus. 3) Penyakit Jantung

Penyakit jantung yang paling sering menyebabkan stroke adalah fibrilasi atrium/atrial fibrillation (AF), karena memudahkan terjadinya penggumpalan darah di jantung dan dapat lepas hingga menyumbat pembuluh darah di otak. Di samping itu juga penyakit jantung koroner, kelainan katup jantung, infeksi otot jantung, pasca operasi jantung juga memperbesar risiko stroke.3 Fibrilasi atrium yang tidak diobati meningkatkan risiko stroke 4-7 kali. 4) Transient Ischemic Attack (TIA) Sekitar 1 dari seratus orang dewasa akan mengalami paling sedikit 1 kali serangan iskemik sesaat (TIA) seumur hidup mereka. Jika diobati dengan benar, sekitar 1/10 dari para pasien ini kemudian akan mengalami stroke dalam 3,5 bulan setelah serangan pertama, dan sekitar 1/3 akan terkena stroke dalam lima tahun setelah serangan pertama. Risiko TIA untuk terkena stroke 35-60% dalam waktu lima tahun. 5) Obesitas Obesitas berhubungan erat dengan hipertensi, dislipidemia, dan diabetes melitus. Obesitas meningkatkan risiko stroke sebesar 15%. Obesitas dapat meningkatkan hipertensi, jantung, diabetes dan aterosklerosis yang semuanya akan meningkatkan kemungkinan terkena serangan stroke. 6) Hiperkolesterolemia Kondisi ini secara langsung dan tidak langsung meningkatkan faktor risiko, tingginya kolesterol dapat merusak dinding pembuluh darah dan juga menyebabkan penyakit jantung koroner. Kolesterol yang tinggi terutama Low Density Lipoprotein (LDL) akan membentuk plak di dalam pembuluh darah dan dapat menyumbat pembuluh darah baik di jantung maupun di otak. Kadar kolesterol total > 200 mg/dl meningkatkan risiko stroke 1,31-2,9 kali.

7) Merokok Berdasarkan penelitian Siregar F (2002) di RSUP Haji Adam Malik Medan dengan desain case control, kebiasaan merokok meningkatkan risiko terkena stroke sebesar 4 kali. Merokok menyebabkan penyempitan dan pengerasan arteri di seluruh tubuh (termasuk yang ada di otak dan jantung), sehingga merokok mendorong terjadinya aterosklerosis, mengurangi aliran darah, dan menyebabkan darah mudah menggumpal. 8) Alkohol Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat mengganggu

metabolisme tubuh, sehingga terjadi dislipidemia, diabetes melitus, mempengaruhi berat badan dan tekanan darah, dapat merusak sel-sel saraf tepi, saraf otak dan lainlain. Semua ini mempermudah terjadinya stroke. Konsumsi alcohol berlebihan meningkatkan risiko terkena stroke 2-3 kali. 9) Stres Hampir setiap orang pernah mengalami depresi. stres. Jika dapat Stres depresi memicu

psiokososial berat,

dapat

menyebabkan atau

berkombinasi dengan faktor risiko lain (misalnya, aterosklerosis penyakit jantung hipertensi) terjadinya stroke. Depresi meningkatkan risiko terkena stroke sebesar 2 kali. 10) Penyalahgunaan Obat Pada orang-orang yang menggunakan narkoba terutama jenis suntikan akan mempermudah terjadinya stroke, akibat dari infeksi dan kerusakan dinding pembuluh darah otak. Di samping itu, zat narkoba itu sendiri akan mempengaruhi metabolisme tubuh, sehingga mudah terserang stroke. Hasil pengumpulan data dari rumah sakit Jakarta tahun 2001 yang

menangani

narkoba,

didapatkan

bahwa

lebih

dari

50%

pengguna narkoba dengan suntikan berisiko terkena stroke. 6. Manifestasi klinis Gejala-gejala umum yang patut diwaspadai 1. Tulisan tiba-tiba menjadi

jelek dan tidak karuan 2. Tangan sering kali tidak

menuruti perintah 3. Benda dengan yang di pegang terlepas

sendirinya

tanpa disadari 4. Sering gagal memasukkan

kancing baju 5. Kalu makan selalu

berceceran 6. Tanpa disadari, alas kaki

sering terlepas saat berjalan 7. Tidak terampil mengenakan alas kaki, harus dibantu dengan tangan 8. Rasa kebal atau tebal pada wajah tanpa sesisi diikuti dengan dengan atau rasa

kebas pada anggota gerak pada sisi yang sama 9. Jika membuka mata, merasa pusing dan berputar yang

sering muntah

disertai

mual

dan

Gejala-gejala khusus Kehilangan Motorik Hemiplegia, hemiparesis Paralisis flaksid dan kehilangan atau penurunan reflex tendon profunda (gambaran klinis awal) Kehilangan komunikasi Disartria Disfagia atau afasia Apraksia

Gangguan Perseptual Homonimus hemia nopia (kehilangan setengah dari lapang pandang) Gangguan dalam hubungan visual-spasial (seringkali terlihat pada pasien dengan hemiplegia kiri) Kehilangan sensori: Sedikit kerusakan pada sentuhan atau lebu buruk dengan kehilagan propriosepsi, kesulitan dalam mengatur stimuli visual, taktil, dan auditori. Kerusakan Aktivitas Mental dan Efek Psikologis Kerusakan lobus frontal: kapasitas belajar, memori, atau fungsi intelektual kortikal yang lebih tinggi mungkin mengalami kerusakan. Disfungsi tersebut mungkin tercermin dalam rentang

perhatian terbatas, kesulitan dalam komprehensi, cepat lupa, dan kurang motivasi. Depresi, kerjasama. Disfungsi Kandung Kemih Inkontinesa urinarius transien Inkontinesa urinarius persisten atau retensi urine (mungkin simptomatik dari kerusakan otak bilateral) Inkontinensia urinarius dan defekasi berkelanjutan (dapat masalah-masalah psikologis lainnya: kelabilan

emosional, bermusuhan, frustasi, menarik diri, dan kurang

mencerminkan kerusakan neurologis defekatif) Gejala Stroke Non Hemoragik a. Gejala akibat penyumbatan arteri karotis interna. 1) Buta mendadak (amaurosis fugaks) 2) Ketidakmampuan untuk berbicara atau mengerti bahasa lisan (disfasia) bila gangguan terletak pada sisi dominan. 3) Kelumpuhan pada sisi tubuh yang berlawanan ( hemiparesis kontralateral) dan dapat disertai sindrom Horner pada sisi sumbatan. b. Gejala akibat penyumbatan arteri serebri anterior. 1) Hemiparesis kontralateral dengan kelumpuhan tungkai lebih menonjol. 2) Gangguan mental 3) Gangguan sensibilitas pada tungkai yang lumpuh. 4) Ketidakmampuan dalam mengendalikan buang air.

5) Bisa terjadi kejang-kejang. c. Gejala akibat penyumbatan arteri serebri media. 1) Bila sumbatan di pangkal arteri, terjadi kelumpuhan yang lebih ringan. Bila tidak di pangkal maka lengan lebih menonjol. 2) Gangguan saraf perasa pada satu sisi tubuh. 3) Hilangnya kemampuan dalam berbahasa (aphasia). d. Gejala akibat penyumbatan sistem vertebrobasilar. 1) Kelumpuhan di satu sampai keempat ekstremitas. 2) Meningkatnya refleks tendon. 3) Gangguan dalam koordinasi gerakan tubuh. 4) Gejala-gejala sereblum seperti gemetar pada tangan

(tremor), kepala berputar (vertigo). 5) Ketidakmampuan untuk menelan (disfagia). 6) Gangguan motoris pada lidah, mulut, rahang dan pita suara sehingga pasien sulit bicara (disatria). 7) Kehilangan kesadaran kesadaran secara sepintas (sinkop), penurunan pusing,

lengkap

(strupor),

koma,

gangguan daya ingat, kehilangan daya ingat terhadap lingkungan (disorientasi). 8) Gangguan penglihatan, sepert penglihatan ganda (diplopia), gerakan arah bola mata yang tidak dikehendaki (nistagmus), penurunan kelopak mata (ptosis), kurangnya daya gerak mata, kebutaan setengah lapang pandang pada belahan kanan atau kiri kedua mata (hemianopia homonim). 9) Gangguan pendengaran.

10) Rasa kaku di wajah, mulut atau lidah. e. Gejala akibat penyumbatan arteri serebri posterior 1) Koma 2) Hemiparesis kontra lateral. 3) Ketidakmampuan membaca (aleksia). 4) Kelumpuhan saraf kranialis ketiga. f. Gejala akibat gangguan fungsi luhur 1) Aphasia yaitu hilangnya kemampuan dalam berbahasa. 2) Alexia adalah hilangnya kemampuan membaca karena kerusakan otak. 3) Agraphia adalah hilangnya kemampuan menulis akibat adanya kerusakan otak. 4) Acalculia adalah hilangnya kemampuan berhitung dan

mengenal angka setelah terjadinya kerusakan otak. 5) Right-Left Disorientation & Agnosia jari (Body Image) adalah sejumlah tingkat kemampuan yang sangat kompleks, seperti penamaan, melakukan gerakan yang sesuai dengan perintah atau menirukan gerakan-gerakan tertentu. 6) Hemi spatial neglect (Viso spatial agnosia) adalah hilangnya kemampuan melaksanakan bermacam perintah yang berhubungan dengan ruang. 7) Syndrome Lobus Frontal, ini berhubungan dengan tingkah laku akibat kerusakan pada kortex motor dan premotor dari hemisphere 8) Amnesia adalah gangguan mengingat

9) Dementia adalah hilangnya fungsi intelektual Gejala Stroke Hemoragik a. Gejala Perdarahan Intraserebral (PIS) Gejala yang sering djumpai pada perdarahan intraserebral adalah: nyeri kepala berat, mual, muntah dan adanya darah di rongga subarakhnoid b. Gejala Perdarahan Subarakhnoid (PSA) Pada penderita PSA dijumpai gejala: nyeri kepala yang hebat, nyeri di leher dan punggung, mual, muntah, fotofobia. c. Gejala Perdarahan Subdural Pada penderita perdarahan subdural akan dijumpai gejala: nyeri kepala, tajam penglihatan mundur akibat edema papil yang terjadi, tanda-tanda defisit neurologic. 7. Pemeriksaan Diagnostik Berikut adalah pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa stroke : Anamnesa Tujuan dilakukannya anamnesa tergantung pada waktu terkena stroke. Bila 3-6 jam setelah terkena stroke, maka anamnesa bertujuan untuk menegakkan diagnosa stroke, patologis dan tingkat keparahannya. Sedangkan bila sudah lebih dari 6 jam, maka tujuan dilakukannya anamnesa adalah untuk meminimalkan terjadinya stroke berulang dan komplikasi stroke. Informasi yang harus didapatkan saat anamnesa antara lain : 1. Karakteristik tanda gejala - Modalitas mana yang terlibat (motorik,sensorik, visual) - Daerah anatomi mana yang terlibat - Bagaimana kualitasnya

2. Bagaimana neurologis

kecepatan

onset

dan

perjalanan

gejala

- Kapan kejadiannya - Mendadak atau tidak - Apakah gejala tersebut terlokalisir atau menyebar, hilang timbul atau progresif 3. Apakah ada pemicu sebelum timbulnya gejala 4. Bagaimana gaya hidupnya (merokok, makan makanan yang tinggi kalori dan kolesterol, kurang aktifitas, konsumsi alkohol) 5. Apakah ada riwayat penyakit terdahulu atau riwayat penyakit keluarga yang relevan - Apakah ada riwayat TIA atau stroke sebelumnya - Apakah ada riwayat hipertensi, DM, hiperkolesterolemia, infark miokard Pemeriksaan neurologis 1. Pemeriksaan fungsi visual - Pemeriksaan lapang pandang dan tes konfrontasi - Pemeriksaan pupil dan refleks cahaya 2. Fungsi faring dan lingual - Dengan mendengarkan dan mengevaluasi cara bicara dan memeriksa mulut 3. Fungsi motorik Memeriksa gerakan pronator, kekuatan, tonus, kekuatan gerak jari tangan dan kaki. 4. Fungsi sensoris Memeriksa kemampuan pasien untuk mendeteksi sensoris dengan jarum, rabaan , vibrasi, dan posisi. 5. Fungsi cerebelum Melihat cara berjalan pasien dan disdiadokokinesis 6. Ataksia pada tungkai Meminta pasien menyentuh jari kaki pasien ke tangan pemeriksa. Pemeriksaan laboratorium :

Pungsi lumbal : Menunjukkan adanya tekanan normal dan biasanya ada thrombosis, emboli serebral, dan TIA (Transient Ischaemia Attack) atau serangan iskemia otak sepintas. Tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukkan adanya hemoragik subarakhnoid atau perdarahan intra kranial. Kadar protein total meningkat pada kasus thrombosis sehubungan dengan adanya proses inflamasi. Pemeriksaan likuor merah biasanya dijumpai normal pada perdarahan yang masif, sedangkan perdarahan yang kecil biasanya warna likuor masih

Pemerksaan darah rutin Pemeriksaan kimia darah : pada stroke akut dapat terjadi hiperglikemia. Gula darah dapat mencapai 250 mg di dalam serum dan kemudian berangsur-angsur turun kembali

Pemeriksaan darah lengkap : untuk mencari kelainan pada daerah itu sendiri

Pencitraan : 1. Diagnostik CVS yang cepat sangat penting untuk

meminimalkan kerusakan. CT Scan adalah metode pilihan untuk pengkajian tanda akut CVS. CT Scan sangat sensitive terhadap hemoragi, suatu pertimbangan penting karena ada perbedaan vital pada terapi stroke iskemik dan stroke hemoragik. CT Scan juga mudah diakses, bahkan pada rumah sakit kecil atau rumah sakit pedesaan. 2. Sebagian besar alat MRI walaupun bahkan lebih sensitive daripada CT Scan dalam mengidentifikasi kerusakan otak awal akibat stroke, lebih lambat daripada CT sehingga jarang

digunakan dalam situasi kedaruratan. Akan tetapi. Setelah CT Scan awal, MRI direkomendasikan untuk menentukan lokasi kerusakan yang tepat dan memantau lesi. 3. Pemeriksaan Angiografi, untuk mengetahuo apakah

pembuluh darah yang mengalami kerusakan dapat dioperasi atau diterapi dengan metode lainnya. 4. Ultrasonofrafi (USG), untuk mengetahu stroke yang

diakibatkan stenotis kaotis interna, arteri serebralis media, maupun arteri basiler. 8. Penatalaksanaan Secara umum, penatalaksanaan pada pasien stroke adalah : 1. Posisi kepala dan badan atas 20-30 derajat, posisi miring jika muntah dan boleh dimulai mobilisasi bertahap jika hemodinamika stabil. 2. Bebaskan jalan nafas dan pertahankan ventilasi yang adekuat, bila perlu diberikan ogsigen sesuai kebutuhan 3. Tanda-tanda vital diusahakan stabil 4. Bed rest 5. Koreksi adanya hiperglikemia atau hipoglikemia 6. Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit. 7. Kandung kemih yang penuh dikosongkan, bila perlu lakukan kateterisasi. 8. Pemberian cairan intravena berupa kristaloid atau koloid dan hindari penggunaan glukosa murni atau cairan hipotonik. 9. Nutrisi per oral hanya diberikan jika fungsi menelan baik. Jika kesadaran menurun atau ada gangguan menelan sebaiknya dipasang NGT.

Pengelolaan berdasarkan penyebabnya a. Stroke iskemik - Memperbaiki aliran darah ke otak (reperfusi) : Pemberian obat trombolisis missal rt-PA (recombinan tissue plasminogen activator) atau dengan cara memperbaiki hemorheologi seperti obat pentoxifillin yang yang mengurangi viskositas darah - Prevensi terjadinya trombosis (antikoagualsi) : pengobatan yang tersedia yaitu anti koagulan dan anti agregasi trombosit. - Proteksi neuronal/sitoproteksi, obat-obatan yang biasanya digunakan antara lain : CDP-Choline : memperbaiki membran sel dengan cara menambah sintesa phospatidylcholine, menghambat terbentuknya radikal bebas dan juga menaikkan sintesis asetilkolin suatu neurotransmiter untuk fungsi kognitif. Piracetam membrane. Statin : stabilisasi atherosklerosis sehingga mengurangi pelepasan plaque tromboemboli Cerebrolisin, suatu protein otak bebas lemak dengan khasiat anti calpain, penghambat caspase dan sebagai neurotropik b. Stroke Hemoragik Pengelolaan konservatif Perdarahan Intra SerebralPemberian anti perdarahan Pengelolaan konservatif Perdarahan Sub Arahnoid diperkirakan memperbaiki integritas sel,

memperbaiki fluiditas membran dan menormalkan fungsi

Bed rest total selama 3 minggu dengan suasana yang tenang, pada pasien yang sadar, penggunaan morphin Vasospasme terjadi pada 30% pasien, dapat diberikan Calcium Channel Blockers - Pengelolaan operatif 1) Usia Lebih 70 th tidak ada tindakan operasi 60 70 th pertimbangan operasi lebih ketat Kurang 60 th operasi dapat dilakukan lebih aman 2) Tingkat kesadaran Koma/sopor tak dioperasi Sadar/somnolen tak dioperasi kecuali kesadaran atau keadaan neurologiknya menurun Perdarahan serebelum : operasi kadang hasilnya

memuaskan walaupun kesadarannya koma 3) Topis lesi Hematoma Lobar (kortical dan Subcortical) Bila TIK tak meninggi tak dioperasi Bila TIK meninggi disertai tanda tanda herniasi (klinis menurun) operasi Perdarahan putamen Bila hematoma kecil atau sedang tak dioperasi

Bila hematoma lebih dari 3 cm tak dioperasi, kecuali kesadaran atau defisit neurologiknya memburuk Perdarahan talamus Pada umumnya tak dioperasi, hanya ditujukan pada hidrocepalusnya akibat perdarahan dengan VP shunt bila memungkinkan. Perdarahan serebelum Bila perdarahannya lebih dari 3 cm dalam minggu pertama maka operasi Bila hematom kecil tapi disertai tanda tanda penekanan batang otak operasi c. Pencegahan serangan ulang Obat-obat anti platelet aggregasi Obat-obat untuk perbaikan fungsi jantung dari ahlinya Faktor resiko dikurangi seminimal mungkin d. Rehabilitasi : Memperbaiki fungsi motorik Mencegah kontraktur sendi Agar penderita dapat mandiri Rehabilitasi sosial perlu dilakukan juga karena penderita biasanya jatuh dalam keadaan depresi. 9. Asuhan keperawatan 1. Pengkajian a) Biodata klien

Nama Umur Jenis kelamin Alamat

: mbah parno : 65 tahun : laki-laki :-

Status pernikahan : cerai Pekerjaan : pekerja pabrik bangunan

b) Status kesehatan saat ini Keluhan utama : tidak bisa menggerakkan

tangan dan kakinya yang sebelah kanan. Lama keluhan Kualitas keluhan Faktor pencetus Faktor pemberat Diagnosa medis :: rokok dan kopi : : stroke :-

c) Riwayat kesehatan saat ini Klien mengeluh tidak bisa menggerakkan tangan dan kaki yang sebelah kanan

d) Riwayat kesehatan dulu e) Riwayat keluarga -

f) Pengkajian fisik Kaji keadaan umum, BB, dan TTV

g) Pemeriksaan head to toe h) Pemeriksaan penunjang 2. Analisa data

Ds/Do

Etiologi resiko

Masalah (rokok, Resiko kopi) ketidakefektifan perfusi jaringan otak

Ds : tangan dan Faktor kaki bisa Do: kanan tidak alcohol,

digerakkan Arterosklerosis, hiperkoagulasi, artesis Thrombosis serebral Pembuluh darah oklusi iskemik jaringan otak edema dan kongesti jaringan sekitar stroke Defisit neurologis Infark serebral

Ds : tangan dan Faktor kaki kanan bisa digerakkan Do : -

resiko

(rokok, Gangguan

mobilitas

tidak alcohol, kopi) Katup fisik jantung rusak, miokard, infark, endocarditis fibrilasi,

Penyumbatan pembuluh darah otak oleh bekuan darah, lemak dan udara

Emboli

serebral

stroke

Defisit

neurologis Kehilangan kontrol Hemiplagi hemiparesis Kelemahan fisik Ds : tangan dan Faktor kaki bisa Do : kanan resiko (rokok, Defisit perawatan diri volunter dan

tidak alcohol, kopi) Katup infark, endocarditis fibrilasi,

digerakkan jantung rusak, miokard,

Penyumbatan pembuluh darah otak oleh bekuan darah, lemak dan udara Emboli serebral

stroke

Defisit

neurologis Kehilangan kontrol Hemiplagi hemiparesis Kelemahan fisik volunter dan

gangguan mobilitas fisik

3. Diagnosa keperawatan Gangguan mobilitas fisik Defisit perawatan diri Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak

4. Intervensi

N o 1

Diagnosa

Tujuan + KH

Intervensi

Rasional

Gangguan mobilitas fisik

Tujuan

mobilitas 1. kemampuan fungsional

Kaji 1. otot, pemilihan

untuk

kembali normal KH 1. :

membantu

Klasifikasi dengan intervensi

Mempertahankan skala 0-4

posisi dan fungsi tubuh 2. Mempertahankan otot dan Rubah 2 2. menurunkan posisi resiko iskemia jam, jaringan injury supinasi, ) pada 3. Meminimalkan 3. Mulai ROM. untuk 4. Mencegah bahu atropi otot,

kekuatan serta bagian lain.

fungsi area yang sakit 2. kompensasi tiap tubuh yang (

sidelying terutama

3. Menunjukan perilaku aktivitas yang lebih baik misalnya berjalan.

bagian yang sakit

Aktif/pasif semua ekstremitas 4.

abduksi

Tempatkan dan fleksi siku bantal di bawah aksila sampai 5. Mencegah lengan bawah

terjadinya rotasi eksternal

5.

Pertahankan pinggul dengan 6. membantu

kaki pada posisi netral trochanter 6. Bantu

memelihara ekstremitas posisi

pasien pada

duduk jika tanda- fungsional tanda vital stabil, kecuali stroke haemorhagic pada 7. mengoptimalka n bagian yang sehat 7. ajarkan klien melatih dan

untuk membantu kemandirian melatih sisi yang klien sakit ektremitas sehat. 8. terbaik 8. dengan therapi untuk aktif, dan pasien. 2 Defisit perawatan diri Tujuan : 1. kemampuan tingkat Kaji 1. Membantu kolaborasi ahli fisik, latihan latihan ambulasi klien 2. mencari untuk dengan yang

intervensi

dengan alat bantu

dan dalam mengantisipasi

KH 1. sesuai seprti

: ADL terpenuhi klien mampu aktifitas kemampuan

penurunan dalam dan skala 0-4 untuk merencanakan pertemuan kebutuhan individual. melakukan ADL.

melakukan

makan,minum,toileting , jalan, dsb. 2. klien 2. untuk

mampu 2. Hindari apa mencegah memposisikan dirinya. yang tidak dapat frustasi dan dilakukan pasien harga diri klien. dan perlu. 3. kemmampuan komunikasi untuk Bak 4. klien melatih Kaji 3. membantu bak klien bantu bila

kemandirian 4. kesempatan untuk diri kombinasi garpu, menolong seperti pisau sikat Beri

menggunakan

dengan pegangan panjang, ekstensi untuk ke berpijak kursi pada lantai atau toilet, untuk mandi.

5.

.Konsul

ke 5.

Untuk

dokter okupasi

therapi mengembangk an therapi dan melelngkapi kebutuhan khusus. 3.

Resiko ketidakefektifan otak

Tujuan

: jaringan

resiko 1.

kaji

faktor 1. menentukan intervensi yang yang tepat situasi 2. vital mencegah

ketidakefektifan terkontrol KH :

penyebab otak gangguan berhubungan dengan klien 2. sign Monitor

perfusi jaringan perfusi

1.Mempertahankan/me ningkatkan kesadaran, dan fungsi sensorik 2. Menunjukan tingkat kognitif, motorik

komplikasi sedini mungkin 3. otak mengontrol

kenormalan

kestabilan tanda-tanda vital dan tidak adanya peningkatan TIK. 3.

3. Evaluasi pupil, amati ketajaman reaksi ukuran, dan menjaga terhadap 4.

Menunjukan cahaya 4. Pertahankan di yang batasai dan

kestabilan dan kenyamanan klien

berkurangnya kerusakan/defisit.

istirahat lingkungan tenang, pengunjung

tempat tidur, beri

aktivitas

sesuai

dengan indikasi. 5. kolaborasi

dalam pemberian antikoagulan seperti, sodium, warfarin heparin,

5. meningkatkan aliran darah ke otak.

antiplatelets agen atau dypridamole (kontraindikasi pada penderita hipertensi).

BAB III RINGKASAN Stroke adalah sindrom atau sekumpulan gejala klinis yang terjadi dan berkembang dengan cepat akibat gangguan fungsi otak fokal maupun global

Klasifikasi stroke berdasarkan patologisnya, terdiri dari stroke iskemik dan stroke hemoragik.

Klasifikasi stroke berdasarkan waktunya, terdiri dari TIA, stroke involusi, stroke komplit.

Kasus stroke baru terjadi pada 100 sampai 300 orang per 100.000 penduduk per tahun. Stroke merupakan pembunuh nomor tiga setelah penyakit jantung dan kanker, namun merupakan penyebab kecacatan nomor satu.

Faktor risiko stroke dapat dibagi menjadi dua, yaitu factor yang dapat diubah, dan factor yang tidak dapat diubah. Faktor yang tidak dapat diubah diantaranya: usia, jenis kelamin, ras, hereditas. Faktor yang dapat diubah diantaranya: DM, hipertensi, penyakit jantung dan obesitas.

Manifestasi umumnya adalah tulisan tiba-tiba menjadi jelek dan tidak karuan, tangan sering kali tidak menuruti perintah, benda yang di pegang dengan sendirinya terlepas tanpa disadari, sering gagal memasukkan kancing baju, kalau makan selalu berceceran, dan sebagainya.

Pemeriksaan yang dilakukan terdiri dari anamnesa, pemeriksaan laboratorium, dan pencitraan.

Penatalaksanaan umum diantaranya posisi kepala dan badan atas 20-30 derajat, posisi miring jika muntah dan boleh dimulai mobilisasi bertahap jika hemodinamika stabil, bebaskan jalan nafas dan pertahankan ventilasi yang adekuat, bila perlu diberikan oksigen sesuai kebutuhan, tanda-tanda vital diusahakan stabil dan bed rest

Referensi Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC

Pinzon, Rizaldy. 2010. Awas Stroke. Yogyakarta: Penerbit ANDI Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem Saraf. Jakarta : Salemba Medika Batticaca, Fransisca B. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Pernafasan. Jakarta : Salemba Medika Herdman, Heather. 2012. Nanda Nursing Diagnosis. Jakarta : EGC Dochterman, Joanne Mc Closkey. 2008. Nursing Intervention Classification. USA : Mosby Moorhead, Sue. 2008. Nursing Outcome Classification. USA : Mosby Price, Sylvia dkk. 2012. Pathofisiology : Konsep Klinis dan ProsesProses Penyakit. Jakarta: EGC Wardoyo, AB. 2009. Stroke. Jogjakarta : Universitas Pembangunan Nasional Miciga, Adam. 2009. Stroke Iskemik. www.unimus.ac.id Sutrisno. 2009. Stroke. www.usu.ac.id Brashers, Valentina L. 2008. Aplikasi Klinis Patofisiologi Jakarta : EGC Dewanto, George,dkk. 2009. Diagnosis dan Tata Laksana Penyakit Saraf. Jakarta : EGC Ginsberg, Lionel. 2008. Lecture Notes Neurologi. Jakarta : Erlangga Medical Series Mahendra, B, dkk. 2005. Atasi Stroke dengan Tanaman Obat. Jakarta : Penerbit Swadaya Sutrisno, Alfred. 2007. Stroke ?? You must Know Before You Get It !. Jakarta : GM