Anda di halaman 1dari 7

Pelaksanaan kemitraan antara petani jagung di Desa Sangiang dengan PT.

Tanjung Mulya hingga saat ini masih berjalan baik, hal ini dikarenakan masing-masing pihak masih saling percaya dan memegang prinsip untuk saling menguatkan. Perusahaan yang berkewajiban untuk menghormati dan memenuhi hak para petani tetap membeli jagung dengan harga yang setara/tidak kurang dari harga pasar. Sama halnya dengan petani yang berkewajiban untuk menghormati dan memenuhi hak perusahaan sebagai mitra dalam usahataninya, petani akan menjual hasil produksinya kepada PT. Tanjung Mulya sesuai kesepakatan, maka permasalahan tersebut dipecahkan bersama-sama secara musyawarah sehingga tidak ada salah satu pihak yang merasa dirugikan. Dengan kata lain untuk memelihara keberlangsungan hubungan kemitraan antara kedua belah pihak maka dibutuhkan kejujuran, keterbukan, dan rasa saling percaya satu sama lain.

3.4 Biaya Produksi, Penerimaan, Pendapatan dan Keuntungan Usahatani Jagung Berdasarkan Pola Kemitraan Dan Non Kemitraan 3.4.1 Biaya Produksi Biaya produksi dalam usahatani adalah besarnya pengorbanan yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. Pada dasarnya para petani didalam kegiatannya selalu menghitung besarnya pengorbanan yang dikeluarkan dan membandingkannya dengan penerimaan yang diperolehnya meskipun tidak tertulis (Mubyarto,1993). Perhitungan ini merupakan titik tolak bagi keputusan selanjutnya apakah usahatani tersebut perlu dilanjutkan dan diperluas atau didistribusikan dengan kegiatan lain.

Biaya produksi usahatani jagung pada pola kemitraan dan non kemitraan adalah biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam proses produksi selama satu musim tanam yang diukur dalam rupiah per musim tanam. Biaya produksi ini terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. 1. Biaya tetap Biaya tetap didefinisikan sebagai biaya yang sifatnya tidak dipengaruhi oleh besarnya produksi. Biaya tetap yang dikeluarkan dalam usahatani jagung pipilan varietas hibrida pioneer 12 di Desa Sangiang meliputi sewa lahan, pajak tanah, biaya penyusutan alat dan transportasi. Biaya tetap yang digunakan petani berdasarkan kemitraan adalah Rp 4.313.083,- sedangkan biaya tetap yang digunakan petani berdasarkan non kemitraan adalah Rp 1.719.792,-. 2. Biaya variabel Biaya variabel didefinisikan sebagai biaya yang sifatnya berubah-ubah sesuai dengan besarnya produksi. Biaya variabel yang dikeluarkan dalam usahatani jagung pipilan varietas pioneer 12 terdiri dari benih, pupuk dan tenaga kerja. Jumlah keseluruhan nilai biaya variabel yang dikeluarkan oleh petani mitra di Desa Sangiang adalah sebesar Rp 384.095.750 sedangkan nilai yang dikeluarkan oleh petani non mitra adalah sebesar Rp 127.377.641,-. Biaya usahatani merupakan serangkaian dari seluruh biaya yang dikeluarkan dari usahatani jagung yang dilakukan. Komponen-komponen biaya variabel dan biaya tetap yang dikeluarkan dari seluruh rangkaian kegiatan usahatani yang dikelola dapat dilihat pada Tabel 3.12.

Tabel 3.12 Rata-rata Penggunaan Sarana Produksi Usahatani Jagung Berdasarkan Pola Kemitraan Dan Non Kemitraan. No. Uraian Kemitraan Non Anjuran Kemitraan 1. Benih (Kg) 30 31 15 2. Pupuk Urea (Kg) 295 314 200 SP 36 (Kg) 69 66 300 Pestisida (Kg) 0,29 0,26 12 3. Pupuk Organik (Kg) 1285 1291 500 Sumber; Data Primer Desa Sangiang 2013 Berdasarkan tabel 3.12 diatas, (hasil penelitian) petani menggunakan benih jagung per hektarnya yaitu antara kilogram 30 sampai 31 kilogram dengan daya tumbuh benih diatas 75 %. Benih jagung ditanam sebanyak 1 biji/lubang. Menurut anjuran benih jagung untuk 1 hektar sebanyak 15 kg. Tanaman jagung dapat ditanam pada lahan sawah bekas tanaman padi sawah ataupun pada lahan tegalan. Sebaiknya tidak menggunakan lahan bekas tanaman satu famili untuk menekan atau memutuskan siklus hama dan penyakit. Waktu pengolahan tanah yang terbaik minimum satu minggu sebelum tanam. Tanah dibajak atau dicangkul sebanyak 2 kali dengan kedalaman 15 20 cm, gulma dan sisa tanaman dibenamkan. Jagung tumbuh dengan baik pada curah hujan 250 500 milimeter selama pertumbuhan air tidak begitu tinggi dibanding dengan waktu berbunga, yang membutuhkan air banyak, pada masa berbunga ini waktu hujan yang pendek diselingi dengan sinar matahari jauh lebih baik dari pada hujan terus menerus. 1. Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman Jagung

Waktu yang paling baik untuk menanaman jagung adalah pada awal musim hujan yaitu pada Bulan September atau Bulan Oktober. Dapat pula ditanam pada musim kemarau asalkan keadaan airnya mencukupi. Petani melakukan penanaman pada pagi hari atau sore hari untuk menghindari penguapan yang terlalu tinggi. Setiap lubang yang telah ditugal sedalam 5 cm ditanami 1 biji/lubang benih jagung dengan jarak tanam 70 X 25 cm. Penyiraman dapat dilakukan sekali dalam 15 hari. Tanaman jagung membutuhkan banyak air semasa pembungaan dan pembuahan. Penyulaman dilakukan pada umur tanaman 1 minggu setelah tanam. Penyiangan kesatu segera dilakukan setelah rumput tumbuh dengan pengerjaan tanah secara dangkal, penyiangan kedua dilakukan setelah tanaman setinggi lutut atau umur 3 4 minggu sekaligus dilakukan pembumbunan barisan tanaman jagung. Pemupukan yang dilaksanakan oleh petani responden per hektarnya berdasarkan tabel yang ada di lampiran bervariasi seperti diantaranya penggunaan pupuk urea antara 295 kg (pola kemitraan) dan 314 kg (pola non kemitraan) sedangkan dosis anjuran 200 kg. Hal ini dikarenakan petani itu akan puas apabila melihat tanamannya hijau.. Waktu pemberian pupuk menurut anjuran dilaksanakan 3 kali yaitu pelaksanaan pupuk dasar dengan rata-rata pemberian adalah Phoska 100 kg/hektar dan Insektisida G 12 kg/ha, susulan pertama 15 hari setelah tanam Phonska100 kg/ha, Urea 100 kg/ha susulan kedua 35 setelah tanam Phonska 100 kg/hektar dan Urea 100 kg/hektar. Sumber (PT. Petro Kimia Gresik). 2. Perlindungan Tanaman

Perlindungan pada tanaman jagung diutamakan terhadap gangguan hama dan penyakit. Prinsip perlindungan tanaman dengan menggunakan teknologi PHT (Pengendalian Hama Terpadu). Pemberantasan gulma dilakukan dari mulai rumput tersebut mulai tumbuh dilakukan secara mekanis 2 kali yaitu pada umur tanaman 2 minggu dan 3 minggu. 3. Panen dan Pasca Panen Dalam keadaan baik jagung dapat dipanen hasilnya pada umur 90-100 hari. Pelaksanaan panen dan pasca panen dilakukan oleh petani sendiri yang dibantu oleh tenaga kerja luar keluarga. Tanda-tanda bahwa jagung siap panen adalah kelobotnya berwarna coklat muda kering serta bijinya mengkilat, ada tanda hitam (black layer) pada pangkal biji dan bila biji ditekan biji sudah padat. Bila panen dilakukan terlalu awal atau tongkol belum mencapai matang, akan memberikan hasil panen dengan persentase butir muda tinggi sehingga kualitas biji dan daya simpannya menjadi rendah. Satu atau dua minggu sebelum panen biasanya dilakukan pemangkasan batang atau tanaman. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat kematangan biji dan matangnya merata. Hal penting yang harus diperhatikan bahwa pemanenan harus dilakukan dalam keadaan cuaca yang cerah. Pengeringan tongkol dilakukan dengan cara dijemur dibawah sinar matahari dan alas penjemuran umumnya menggunakan anyaman bamboo (gribig) atau terpal. Lama pengeringan memakan waktu 3-5 hari, tergantung keadaan sinar matahari.

Pemipilan dilakukan apabila tongkol sudah kering betul sehingga pemipilan dapat lebih mudah dilakukan serta mengurangi resiko kerusakan. Cara menguji kering pipil adalah dengan mendengarkan bunyi kresek antar biji jagung, bunyi kresek yang nyaring menandakan tingkat kadar air yang ideal yaitu 17-18 %. Pemipilan jagung di Desa Sangiang dilakukan dengan menggunakan mesin pemipil jagung. Petani yang akan memipil jagung hasil produksinya biasanya memborongkan dengan ongkos pemipilan Rp. 70,- per kg. setelah jagung dipipil lalu dimasukan kedalam karung untuk dipasarkan atau disimpan di gudang. Sedangkan tanaman jagung telah siap dipanen dengan pola non kemitraan pada umur 70 85 hari setelah tanam dalam bentuk jagung segar untuk di jadikan jagung rebus atau jagung bakar dan daunnya dijadikan sebagai bahan hijauan makanan ternak terutama untuk ternak sapi potong yang banyak dimiliki oleh petani responden. 4. Pemasaran Sistem pemasaran yang dilakukan petani mitra di Desa Sangiang tidak sulit dilakukan. Hal ini dikarenakan petani yang tergabung dalam Koperasi Mitra Saluyu telah bermitra dengan perusahaan pakan ternak PT. Tanjung Mulya dari Kabupaten Tasikmalaya yang datang langsung ke lokasi untuk membeli hasil produksi jagung dari petani. Sedangkan petani non mitra umumnya menjual hasil tanaman kepada pedagang pengumpul atau tengkulak yang selalu siap menampung hasil panen

petani. Selama ini petani tidak pernah merasa kesulitan untuk menjual hasil panennya, begitu pula dengan pedagang pengumpul. Kemudahan-kemudahan tersebut disebabkan karena tersedianya sarana dan prasarana transportasi yang memadai, jalan aspal yang cukup baik, dan adanya sarana angkutan yang setiap saat dapat mengangkut hasil produksi tersebut agar secepatnya sampai ke konsumen.