Anda di halaman 1dari 5

60

Jurnal JIBEKA Volume 7, No 3 Agustus 2013: 60-64

Road Map International Financial Reporting Standard (IFRS) dan Implementasinya di Indonesia
Vergiana Aprilicia Alumni Universitas Ma Chung Malang ABSTRAK International Financial Reporting Standard (IFRS) merupakan sebuah standar keuangan yang saat ini sedang menjadi bahan perbincangan di Indonesia. Pada tahun 2012 akan menjadi saat bagi para pelaku bisnis untuk mulai menerapkan semua standar pada IFRS. Road map (perjalanan) masuknya IFRS ini akan membuat investor asing dengan mudah menanamkan modal ke perusahaan-perusahaan di Indonesia. IFRS mempermudah para investor membaca laporan keuangan dari perusahaan di Indonesia karena ada kesamaan standar dengan yang digunakan di berbagai negara lainnya. Membutuhkan kesiapan dari semua pelaku bisnis mulai dari infrastrukutur dan pemberian penyuluhan dan pelatihan dari pemerintah. Kata kunci: IFRS, Road map ABSTRACT International Financial Reporting Standard (IFRS) is a financial standard that is currently the subject of conversation in Indonesia. In the year 2012 will be a time for businesses to start implementing all the standards in IFRS. Road map the inclusion of IFRS will make foreign investors to easily invest in Indonesian companies. IFRS easier for investors to read the financial statements of companies in Indonesia because there are similarities with the standards used in other countries. Requires readiness of all businesses ranging from infrastrukutur and providing counseling and training of government. Keyword: International Financial Reporting Standard (IFRS), road map PENDAHULUAN Pada zaman globalisasi seperti sekarang ini perubahan dalam hal ekonomi sangat dibutuhkan. Globalisasi memungkinkan perusahaan melakukan listing di berbagai pasar modal di dunia. Sedangkan pasar modal memerlukan laporan keuangan sebagai sumber informasi. Dalam dunia bisnis, pelaporan keuangan merupakan sebuah hal yang wajib untuk dilakukan oleh para pelaku bisnis. Pelaporan keuangan memiliki peranan yang sangat besar dan penting. Perusahaan-perusahaan di Indonesia telah banyak membuat laporan keuangan. Namun dari awal kemunculannya hingga saat ini, Indonesia telah berapa kali mengalami pergantian standar. Beragamnya aturan mengenai laporan keuangan menimbulkan kesulitan dan biaya bagi perusahaan yang melakukan listing. Apabila terjadi perbedaan dalam hal standar keuangan yang dipakai di berbagai negara. Sehingga perlu adanya kesepakatan untuk menentukan standar seperti apa yang akan digunakan oleh negara-negara di dunia ini. Pada awalnya Indonesia mengadopsi sistem pelaporan keuangan United States Generally Accepted Accounting Principles (US GAAP) yang mengikuti sistem pelaporan keuangan dari Amerika. Tetapi pada akhirakhir ini, Indonesia mulai mengikuti trend dunia yang menggunakan standar keuangan International Financial Reporting Standars (IFRS). IFRS sendiri digunakan di banyak bagian dunia, termasuk Uni Eropa, Hong Kong, Australia, Malaysia, Pakistan, negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC), Rusia, Afrika Selatan, Singapura, dan Turki. Lebih dari 113 negara di seluruh dunia, termasuk seluruh Eropa, saat ini membutuhkan pelaporan berdasarkan IFRS. Sekitar 85 negara membutuhkan IFRS pelaporan untuk semua perusahaan domestik yang terdaftar. Sedangkan di Indonesia sendiri baru akan diadopsi mulai tahun 2012 mendatang. IFRS menjadi trend topic yang hangat bagi para akuntan dan top manajemen pada perusahaan perusahaan yang sebagian besar sudah terjun di Bursa Efek global dan juga para Auditor yang akan melakukan pemeriksaan pada perusahaan yang sudah menerapkan IFRS tersebut. Sebelum membahas lebih lanjut tentang bentuk laporan IFRS dan konsep dasar apa yang yang melandasi IFRS, tentu kita akan bertanya kenapa di Indonesia harus melakukan konvergensi IFRS? Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentu tidak lepas dari kepentingan global yaitu agar dapat meningkatkan daya informasi dari laporan keuangan perusahaan-perusahaan di Indonesia dan bila perusahaan melakukan suatu bisnis dengan negara lain, perusahaan tersebut tidak harus bersusah payah dalam menyeterakan standar akuntansi keuangan. Menurut Menkeu Sri Mulyani, 2012 konvergensi akuntansi Indonesia ke IFRS perlu didukung agar Indonesia mendapatkan pengakuan maksimal dari komunitas internasional yang sudah lama menganut standar ini. Penerapan IFRS ini sendiri secara internasional dilakukan sebagai upaya untuk memperkuat arsitektur keuangan global dan mencari solusi jangka panjang terhadap kurangnya transparasi informasi keuangan. Pengertian IFRS

Road Map International Financial Reporting Standard (IFRS) dan implementasinya..

61

IFRS adalah standar, interpretasi dan kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan (dengan tidak adanya standar atau interpretasi) yang diadopsi oleh dewan standar akuntansi internasional. Di sisi lain IFRS adalah suatu upaya untuk memperkuat arsitektur keuangan global dan mencari solusi jangka panjang terhadap kurangnya transparansi keuangan (Dewangga, 2010). Tujuan IFRS a. Transparansi bagi para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang periode yang disajikan b. Menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan IFRS c. Dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para pengguna. Manfaat IFRS a. Pasar modal menjadi global dan modal investasi dapat bergerak di seluruh dunia tanpa hambatan berarti. Standar pelaporan keuangan berkualitas tinggi yang digunakan secara konsisten di seluruh dunia dan akan memperbaiki efisiensi alokasi lokal. b. Investor dapat membuat keputusan yang lebih baik c. Perusahaan-perusahaan dapat memperbaiki proses pengambilan keputusan mengenai merger dan akuisisi d. Gagasan terbaik yang timbul dari aktivitas pembuatan standar dapat disebarkan dalam mengembangkan standar global yang berkualitas tinggi. Perkembangan Standar Akuntansi di Indonesia Pada periode 1973-1984, Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) telah membentuk Komite Prinsip-prinsip Akuntansi Indonesia untuk menetapkan standar-standar akuntansi, yang kemudian dikenal dengan Prinsip-prinsip Akuntansi Indonesia (PAI). Pada periode 1984-1994, komite PAI melakukan revisi secara mendasar PAI 1973 dan kemudian menerbitkan Prinsip Akuntansi Indonesia 1984 (PAI 1984). Menjelang akhir 1994, Komite standar akuntansi memulai suatu revisi besar atas prinsip-prinsip akuntansi Indonesia dengan mengumumkan pernyataan-pernyataan standar akuntansi tambahan dan menerbitkan interpretasi atas standar tersebut. Revisi tersebut menghasilkan 35 pernyataan standar akuntansi keuangan, yang sebagian besar harmonis dengan IAS yang dikeluarkan oleh International Accounting Standards Board (IASB). Pada periode 1994-2004, ada perubahan Kiblat dari US GAAP ke IFRS, hal ini ditunjukkan sejak tahun 1994, telah menjadi kebijakan dari Komite Standar Akuntansi Keuangan untuk menggunakan International Accounting Standards (IAS) sebagai dasar untuk membangun standar akuntansi keuangan Indonesia. Pada tahun 1995, IAI melakukan revisi besar untuk menerapkan standar-standar akuntansi baru, yang kebanyakan konsisten dengan beberapa standar diadopsi dari US GAAP dan lainnya dibuat sendiri. Pada periode 2006-2008, merupakan konvergensi IFRS Tahap 1, Sejak tahun 1995 sampai tahun 2010, buku Standar Akuntansi Keuangan (SAK) terus direvisi secara berkesinambungan, baik berupa penyempurnaan maupun penambahan standar baru. Proses revisi dilakukan sebanyak enam kali yakni pada tanggal 1 Oktober 1995, 1 Juni 1999, 1 April 2002, 1 Oktober 2004, 1 Juni 2006, 1 September 2007, dan versi 1 Juli 2009. Pada tahun 2006 dalam kongres IAI di Jakarta ditetapkan bahwa konvergensi penuh IFRS akan diselesaikan pada tahun 2008. Target ketika itu adalah taat penuh dengan semua standar IFRS pada tahun 2008. Namun dalam perjalanannya ternyata tidak mudah. Sampai akhir tahun 2008 jumlah IFRS yang diadopsi baru mencapai 10 standar IFRS dari total 33 standar. Perjalanan IFRS dan Peraturan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Tabel 1 Perjalanan IFRS dan PSAK Tahun IFRS PSAK 1966 Pembentukan Internasional Study Group 1967 Accounting International Study Group berdiri 1973 International Accounting Penerapan US GAAP (US Standards Committee GAAP ada sejak tahun terbentuk, tercipta IAS (IAS 1965) hingga 1984 1-41) 1984-1994 Update US GAAP

62

Jurnal JIBEKA Volume 7, No 3 Agustus 2013: 60-64

1994- sekarang 2001

IASB mengadopsi seluruh IAS dan melanjutkan pengembangan, serta persiapan IFRS Peluncuran IFRS 1 -

Penerapan IAS (penerbitan PSAK) -

2003 2008-2010

Melakukan konvergensi IFRS

Road Map 20082010 (tahap adopsi) 2011 (tahap persiapan akhir) 2012 (implementasi)

: PSAK ke IFRS, infrastruktur, dan evaluasi akhir. : Infrastruktur dan penerapan bertahap. : Penerapan SAK berbasis IFRS dan evaluasi dampak penerapan.

PEMBAHASAN Saat ini dunia sedang memasuki masa globalisasi, di mana semua hal dari setiap dunia bisa masuk ke Indonesia contohnya investor. Masuknya investor ke Indonesia akan berdampak positif terhadap perekonomian Indonesia. Sedangkan dalam hal ekonomi harus ada standar dalam hal pelaporan keuangan yang menjadi dasar bagi keberlanjutan sebuah investasi. Indonesia adalah negara berkembang yang mau tidak mau harus mengikuti pola keseragaman yang akan berlangsung pada tahun 2012. Sebenarnya Indonesia belum siap dengan kondisi yang belum stabil ini, dengan minimnya SDM yang ada di Indonesia serta minimnya keinginan dari setiap individu untuk mau berubah. Namun keadaan memaksa bangsa ini harus menerapkan IFRS pada setiap perusahaan yang lebih ingin berkembang mengingat sistem ini akan menjadi sistem yang diterapkan oleh dunia. Pada awalnya Indonesia menetapkan Prinsip-prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) yang digunakan sebagai standar untuk pelaporan keuangan. Lalu seiring berkembangnya waktu, Indonesia mulai melakukan revisi terhadap Prinsip-prinsip Akuntansi Indonesia itu dan hasil dari revisi itu selaras dengan International Accounting Standards (IAS). Pada tahun 2006-2008 merupakan adalah tahap awal masuknya IFRS di Indonesia. Pada tahun-tahun itu digunakan untuk melakukan revisi dari standar akuntansi yang lama mulai dari penyempurnaan ataupun penambahan standar-standar baru. Pada tahun-tahun itu juga Indonesia mulai melakukan konvergensi terhadap standar-standar yang ada pada IFRS. Banyak kesulitan yang harus dihadapi, pada akhir tahun 2008 saja baru 10 dari 33 standar yang bisa diterapkan. Pada tahun 2008-2010 merupakan tahun yang menjadi tahun adopsi bagi Indonesia, mulai dari persiapan infrastruktur, dan melakukan evaluasi terhadap standar yang sudah ditetapkan. Sedangkan pada tahun 2011 merupakan tahun yang bisa disebut tahun persiapan akhir. Pada tahun itu persiapan infrastruktur lebih ditingkatkan, dan mulai melakukan penerapan bertahap. Tahun 2012 nanti akan menjadi tahun yang sangat berat bagi semua pelaku bisnis karena pada tahun itu akan diterapkan sepenuhnya IFRS di Indonesia. Masuknya IFRS di Indonesia akan berdampak positif bagi perkembangan ekonomi Indonesia, karena Indonesia sudah mau mengikuti negara lain yang terlebih dahulu menggunakan IFRS. Masuknya IFRS akan berdampak bagi investor asing yang akan masuk ke Indonesia karena ada standar yang sama sehingga memudahkan bagi semua pelaku bisnis. Setiap masuknya hal baru pasti akan ada pro dan kontra, butuh kesiapan dari semua orang yang akan mengikuti setiap proses berjalannya hal baru itu. Sama seperti masuknya IFRS ke Indonesia pasti membutuhkan banyak persiapan dan kemauan dari setiap pelaku bisnis, tetapi ada hal positif yang didapat dengan masuknya IFRS ini karena investor asing akan semakin senang untuk menanamkan modalnya di indonesia. Indonesia adalah negara berkembang yang memiliki banyak perusahaan. Hal ini memberikan keuntungan bagi investor asing yang akan menanamkan modal. Contoh yang paling nyata dirasakan adalah jika ada investor asing yang ada di Singapore akan menanamkan modal di salah satu perusahaan yang ada di Indonesia, maka sang investor tidak akan merasa kesulitan dalam membaca laporan keuangan yang telah dibuat oleh perusahaan. Bahasa laporan yang sama antar dunia ini akan mempermudah sang investor. Sebelumnya Indonesia berkiblat pada laporan keuangan yang dibuat oleh Belanda sampai pada masa 70an berpindah pada kiblat laporan keuangan yang digunakan oleh negara Amerika. Akhir-akhir ini Indonesia menggunakan laporan keuangan yang didasarkan pada laporan keuangan yang ada di negara-negara Eropa. Pada saat IFRS diperkenalkan kondisi Indonesia tidak dapat langsung menggunakannya karena SDM yang ada tidak banyak, khususnya bagi dunia pendidikan. Bahkan di kota Malang, Jawa Timur hanya ada 30 universitas yang siap

Road Map International Financial Reporting Standard (IFRS) dan implementasinya..

63

mengajarkan IFRS. Hal ini lah yang menyebabkan keraguan masyarakat dan pelaku bisnis di Indonesia akan keberhasilan IFRS. Melihat keadaan yang ada tersebut, IFRS dipercaya tidak dapat terlaksana secara menyeluruh pada tahun 2012. Namun dengan adanya IFRS ini, para investor asing yang semakin mudah membaca laporan keuangan akan semakin mudah menanamkan modal. Dengan demikian maka lama kelamaan akan menjadi bom waktu bagi negara sendiri, karena semakin banyak perusahaan yang dimiliki oleh negara asing. Dampak Pengadopsian IFRS terhadap Profesi Akuntansi Fleksibilitas dalam standar IFRS yang bersifat principles-based akan berdampak pada tipe dan jumlah skill professional yang seharusnya dimiliki oleh akuntan dan auditor. Pengadopsian IFRS mensyaratkan akuntan maupun auditor untuk memiliki pemahaman mengenai kerangka konseptual informasi keuangan agar dapat mengaplikasikan secara tepat dalam pembuatan keputusan. Pengadopsian IFRS mensyaratkan akuntan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kejadian maupun transaksi bisnis dan ekonomi perusahaan secara fundamental sebelum membuat judgment. Selain keahlian teknis, akuntan juga perlu memahami implikasi etis dan legal dalam implementasi standar (Carmona & Trombetta, 2008). Pengadopsian IFRS juga menciptakan pasar yang luas bagi jasa audit. Berbagai estimasi yang dibuat oleh manajemen perlu dinilai kelayakannya oleh auditor sehingga auditor juga dituntut memiliki kemampuan menginterpretasi tujuan dari suatu standar. Penerapan standar akuntansi yang sama di seluruh dunia juga akan mengurangi masalah-masalah terkait daya banding (comparability) dalam pelaporan keuangan. Yang paling diuntungkan sudah jelas, investor dan kreditor trans-nasional serta badan-badan internasional. Dampak konvergensi IFRS terhadap bisnis a. Akses ke pendanaan internasional akan lebih terbuka karena laporan keuangan akan lebih mudah dikomunikasikan ke investor global. b. Relevansi laporan keuangan akan meningkat karena lebih banyak menggunakan nilai wajar. c. Kinerja keuangan (laporan laba rugi) akan lebih fluktuatif apabila harga-harga fluktuatif. d. Smoothing income menjadi semakin sulit dengan penggunakan balance sheet approach dan fair value e. Principle-based standards mungkin menyebabkan keterbandingan laporan keuangan sedikit menurun yakni bila penggunaan professional judgment ditumpangi dengan kepentingan untuk mengatur laba (earning management) 6. Penggunaan off balance sheet semakin terbatas. Dampak Pengadopsian IFRS bagi Investor Pengadopsian IFRS dapat menyebabkan laporan keuangan menjadi lebih transparan bagi para investor, namun hal ini hanya berlaku bagi para investor yang paham akan neraca. Sebaliknya, penerapan IFRS ini dapat menimbulkan dampak negatif berupa miss leading bagi investor yang tidak mengerti prinsip akuntansi karena seluruh kejadian di perusahaan dimasukkan dalam laporan keuangan. Misalnya saja, dalam hal laba. Seperti ada beberapa akun yang letaknya berbeda, maka bukannya tidak mungkin jika hal tersebut dapat menyebabkan laba ada yang menjadi kelebihan saji dan pada akhirnya akan menyebabkan kekeliruan perkiraan. Hal ini tentu akan berdampak pada kinerja perusahaan, misalnya salah mengalokasikan asetnya untuk melakukan investasi. Selain itu, beberapa hal juga menjadi sorotan para pemilik usaha atas perubahan IFRS ini, misalnya bagian pendapatan komprehensif (dari kegiatan insidental) yang selama ini dimasukkan dalam laporan perubahan ekuitas sedangkan berdasarkan IFRS, bagian pendapatan komprehensif tersebut dimasukkan ke dalam laporan laba rugi komprehensif . Walaupun hal ini akan membingungkan pembagian dividen ke pemegang saham, hal ini terlihat lebih terbuka karena menunjukkan keuntungan atau kerugian yang sebenarnya ditanggung perusahaan. Memang pada kenyataanya pelaporan dengan cara ini masih memiliki banyak kelemahan, misalnya tidak benar-benar mengetahui keuntungan atau kerugian operasional perusahaan, namun hal ini masih dapat diantisipasi meskipun agak merepotkan, misalnya dengan membuat laporan internal operasional perusahaan tersebut. Banyak perusahaan yang terus melakukan penyesuaian terhadap perubahan IFRS ini. Mungkin pada tahuntahun pertama, hal ini akan menjadi hal yang sulit namun berikutnya pasti akan menjadi lebih mudah. Selain itu, publikasi mengenai perubahan ini juga sangat dibutuhkan agar masyarakat pun mengerti. Kesimpulan Indonesia adalah sebuah negara berkembang yang mau tidak mau harus mengikuti pola keseragaman yang akan berlangsung, pada tahun 2012. Sebenarnya Indonesia belum siap dengan kondisi yang belum stabil ini, dengan minimnya SDM yang ada di Indonesia serta minimnya universitas yang mengadopsi IFRS untuk diterapkan di Universitasnya. Namun keadaan memaksa bangsa ini harus menerapkan IFRS pada setiap perusahaan yang lebih ingin berkembang mengingat sistem ini akan menjadi sistem yang diterapkan oleh dunia. Selama masa konvergensi IFRS, bangsa Indonesia harus memperdalam pengetahuan mengenai perihalperihal IFRS baik para pelaku bisnis, akuntan, dan akademisi karena insan-insan inilah yang akan membawa

64

Jurnal JIBEKA Volume 7, No 3 Agustus 2013: 60-64

pengaruh terhadap keberadaan IFRS di Indonesia. Dengan adanya IFRS ini para tenaga kerja profesional yang tidak siap akan tersaingi oleh tenaga kerja asing yang telah lebih dulu memperdalam IFRS. Hal ini akan menimbulkan adanya high cost yang akan dihadapi oleh perusahaan-perusahaan saat melakukan recruitment terhadap tenaga kerja asing. Dengan adanya IFRS, para universitas yang sudah menyusun sistem pengajaran dan kurikulum harus lebih memperdalam pengajaran tentang IFRS ini, agar lulusan-lulusan itu nantinya siap menghadapi tantangan pekerjaan. Bangsa ini harus mengubah sudut pandang mereka terhadap hal-hal baru dari yang dulunya selalu berpendapat negatif menjadi kritis terhadap hal-hal yang baru. Saran Selama masa konvergensi ini, kami menyarankan beberapa hal agar bangsa Indonesia siap menerapkan IFRS pada tahun 2012, yaitu: a. Universitas di Indonesia (Fakultas Ekonomi dan Bisnis khususnya) harus memulai untuk berani mengajarkan IFRS kepada mahasiswa. Mengingat bahwa IFRS direncanakan akan diterapkan pada tahun 2012. b. Masyarakat Indonesia (para tenaga profesinal, pelaku bisnis, tenaga pendidik) tidak boleh langsung berprasangka buruk atau negatif terhadap penggunaan standar baru IFRS. c. Tenaga professional harus segera mempelajari IFRS agar para pelaku bisnis dalam negeri tidak repot dalam mencari dan mempekerjakan tenaga kerja dari bangsa Indonesia sendiri. d. Pelaku Bisnis harus siap dan menguasai IFRS. Hal ini agar kita tidak dibodohi pihak lain. Harus selangkah lebih maju daripada para pesaing kita. e. Pihak pemerintah mau memberi sarana untuk perubahan sistem akuntansi, dapat berupa pemberian beasiswa untuk menguasai IFRS di negeri lain. Akuntan maupun auditor dalam rangka penggunaan IFRS harus memiliki pemahaman mengenai kerangka konseptual informasi keuangan agar dapat mengaplikasikan secara tepat dalam pembuatan keputusan. Selain auditor dan akuntan masyarakat luas dan semua pihak yang berkepentingan dengan laporan keuangan hendaknya mulai belajar dan berusaha untuk memahami secara mendalam IFRS karena penggunaan IFRS adalah hal yang merupakan kewajiban hampir di semua Negara di dunia. Dengan mengerti dan melaksanakan IFRS akan dapat mempermudah transaksi secara global. DAFTAR PUSTAKA 1. Carmona, S., and Trombetta, M, (2008), On the global acceptance of IAS/IFRS accounting standards: the logic and implications of the principles-based system. Journal of Accounting and Public Policy (27), pp. 455461. 2. Dewangga, Richard,dkk. 2010. Implementasi IFRS Pada Aktiva Tetap. http://www.scribd.com/doc/49835698/IMPLEMENTASI-IFRS1 (accesed 12 Desember 2011). 3. Mirza A. A., Orrel M., Holt G. 2008. Wiley IFRS: Practical Implementation Guide and Workbook. Second Edition. New Jersey: John Wiley & Sons, INC. 4. Stephanus S. D., Suganda R. T. 2011. Laporan Perjalanan Dinas, International Training of Trainers International Financial Reporting Standard (IFRS) dan Penyusunan Kamus Akuntansi Indonesia. Malang. 5. Zamzami, Faiz. n.d Perkembangan Konvergensi International Financial Reporting Standards (IFRS) di Indonesia. http://www.sai.ugm.ac.id/site/images/pdf/ifrs.pdf. (accesed 12 September 2011). 6. Camfferman, K and Zeff, S. A. 2006. Financial Reporting and Global Capital Markets. A History of the International Accounting Standards Committee 19732000.