Anda di halaman 1dari 11

Penerapan PSAK 68: Pengukuran Nilai Wajar

25-11-2013 16:18

Pada rapat pleno Dewan Standar Akuntansi Keuangan tanggal 22


Nopember 2013, DSAK IAI memutuskan untuk menunda pengesahan
PSAK 68: Pengukuran Nilai Wajar. Dasar pertimbangan penundaan adalah
perlunya melakukan amandemen terlebih dahulu atas PSAK dan ISAK
yang terkena dampak pemberlakuan standar akuntansi nilai wajar ini,
sebelum PSAK 68 disahkan.
DSAK IAI memutuskan bahwa PSAK 68 tetap akan berlaku efektif 1
Januari 2015, sebagaimana telah ditetapkan di ED PSAK 68 yang telah
diterbitkan pada pertengahan tahun 2013 ini. Dalam menunggu proses
amandemen atas PSAK dan ISAK yang terkena dampak perubahan,
diharapkan publik dapat mempelajari PSAK 68 dari konsep yang telah
disampaikan di ED PSAK 68, yang sepenuhnya mengadopsi konsep IFRS
13: Fair Value Measurement.
Sebagai dampak dari penundaan ini, pengesahan PSAK 65: Laporan
Keuangan Konsolidasian, PSAK 66: Pengaturan Bersama, PSAK
67:Pengungkapan Kepentingan Dalam Entitas Lain, revisi PSAK
1: Penyajian Laporan Keuangan, PSAK 4: Laporan Keuangan Tersendiri,
PSAK 15:Investasi pada Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama dan PSAK
24:Imbalan Kerja ditunda hingga PSAK 68 disahkan.

Artikel ini dimuat dalam majalah Akuntan Indonesia edisi Januari


2014.
Di bulan terakhir tahun 2013, DSAK-IAI mengesahkan beberapa exposure draft menjadi
PSAK baru yang akan mulai berlaku 1 januari 2015. Salah satu PSAK yang disahkan
pada 19 Desember lalu adalah PSAK 68 Pengukuran Nilai Wajar yang merupakan
adopsi dari IFRS 13. Indonesia hanya memiliki waktu satu tahun untuk bersiap-siap
dalam menerapkan PSAK ini. Siapkan para akuntan dan penilai di Indonesia? Terlebih
siapkan Indonesia untuk menghadapi standar yang selalu bergerak secara dinamis
seperti IFRS 13 ini?

IFRS 13: Standar Yang Dinamis


IFRS 13 termasuk salah satu standar IFRS yang pergerakannya cukup dinamis. Standar
ini disahkan oleh IASB pada bulan May 2011 untuk berlaku 1 Januari 2013. Di banyak
negara, standar ini sudah digunakan sejak awal tahun 2013 seperti di Philippines dan

Australia. Baru setahun berlaku, saat ini IASB sedang mempertimbangkan melakukan
amandemen untuk unit of accountinstrument keuangan yang merupakan investasi di
perusahaan

anak, joint

venture dan

perusahaan

asosiasi. Exposure

draft dari

amandemen ini diharapkan keluar pada triwulan pertama 2014.


Salah satu riset yang sedang dilakukan oleh IASB sejak tahun 2013 tentang discount
rates juga berpotensi akan berdampak pada IFRS 13 selain juga berdampak ke standar
IFRS lainnya. IASB juga sudah memberikan signal bahwa mereka akan melakukan postimplementation review (PIR) atas IFRS 13 ini yang akan mulai pada tahun 2015 nanti.
Kegiatan PIR memang bisa dilakukan setelah minimum dua tahun masa efektif suatu
standar. Saat ini misalnya IASB sedang melakukan PIR untuk IFRS 3 Business
Combination yang efektif sejak 2008.
Mengingat IFRS 13 masih sangat baru, PIR yang dilakukan hanya berselang dua tahun
dapat memberikan signal bahwa penerapan standar ini banyak mengalami tantangan di
lapangan sehingga perlu disempurnakan.

Intinya, masyarakat Indonesia


harus
bersiap-siap
atas
dinamisme IFRS 13 yang akan
berubah. Mengingat DSAK-IAI
bertekad
untuk
menjaga
kesenjangan dengan IFRS
berselang hanya satu tahun,
maka di masa depan PSAK 68

juga akan bergerak dinamis


sesuai dengan pergerakan
IFRS 13.
Definisi Nilai Wajar PSAK 68 PSAK 68 adalah mesin hitung bagaimana mengukur suatu
aset dan liabilitas bila PSAK lain mensyaratkan atau mengijinkan penggunaan nilai
wajar. Misalnya PSAK 13 Properti Investasi mengijinkan penggunaan nilai wajar atau
PSAK 16 mengijinkan model revaluasi, maka bagaimana cara mengukur nilai wajar,
pengguna membuka PSAK 68 ini. PSAK 68 memuat: 1. Definisi nilai wajar 2. Kerangka
pengukuran nilai wajar 3. Pengungkapan mengenai pengukuran nilai wajar Definisi nilai
wajar di standar-standar IFRS terkadang memiliki perbedaan, namun dengan terbitnya
PSAK 68 ini maka definisi nilai wajar menjadi lebih tajam. (lihat gambar 1)

Definisi Nilai Wajar sesuai dengan PSAK 16 Aset Tetap


Jumlah suatu aset dipertukarkan antara pihak-pihak yang berkeinginan dan memiliki
pengetahuan memadai dalam suatu transaksi yang wajar

Definisi Nilai Wajar Sesuai dengan PSAK 68


Harga

yang akan

diterima untuk

menjual

suatu

aset

atau

harga

yang akan

dibayar untuk mengalihkan suatu liabilitas dalam transaksi teratur antarapelaku


pasar pada tanggal pengukuran
Dalam definisi nilai wajar yang baru, secara tegas disebutkan bahwa yang digunakan
adalah harga keluaran (exit price) dan bukan harga transaksi atau harga masukan (entry
price) walaupun kebanyakan harga transaksi juga merupakan harga keluaran. Harga
transaksi dianggap sebagai harga keluaran kecuali:
1.

Transaksi terjadi di pasar yang berbeda

2.

Transaksi untuk unit akun yang berbeda

3.

Penjual dalam kondisi keterpaksaan

4.

Transaksi antara pihak yang berelasi

Transaksi di Pasar Apa, Oleh Siapa dan yang Bagaimana?

PSAK 68 mementingkan harga yang terjadi antara pelaku pasar, yang perlu diperhatikan
adalah pasar yang seperti apa? Pelaku pasar yang seperti apa? Dan bagaimana
memilih harga yang terjadi di pasar karena bisa saja ada berbagai macam harga
transaksi yang terjadi.
Pasar dijelaskan dalam PSAK 68 sebagai pasar utama dan pasar yang paling
menguntungkan. Dalam kenyataannya menentukan pasar ini tidak mudah. Produk
pertanian misalnya, pasar utama mangga arum manis bisa jadi di Probolinggo sebagai
sentra pusat pertanian mangga, namun pasar mangga yang paling menguntungkan bisa
saja di Jakarta karena marginnya lebih tinggi. Pengguna harus mempertimbangkan
biaya-biaya transportasi juga untuk menggunakan pasar yang paling menguntungkan.
Pelaku pasar yang dimaksud adalah market participants dan bukan transaksi antara dua
belah pihak. Harga yang terjadi antara dua belah pihak bisa saja lebih murah (mungkin
karena pihak berelasi), namun harga yang terjadi antara pelaku pasarlah yang dianggap
sebagai nilai wajar walaupun harganya berbeda dengan harga transaksi.
PSAK 68 juga menekankan bila banyak harga di pasar maka yang dipakai adalah harga
yang mencerminkan penggunaan tertinggi dan terbaik. Ketua DSAK dalam kegiatan PPL
acara HUT IAI di Surabaya desember lalu memberikan contoh mengenai pengukuran
nilai tanah dan gedung. Bila kita berniat membeli tanah untuk tujuan membangun
gudang, namun di lokasi dimana tanah tersebut biasanya untuk membangun apartemen,
maka harga yang dipakai adalah harga bila tanah tersebut dipakai untuk membangun
apartemen karena harganya akan lebih mahal.

Bagaimana bila harga pasar tidak tersedia?

Tidak semua aset memiliki harga pasar yang aktif. Bagaimana bila aset tersebut tidak
memiliki pasar aktif namun tetap harus diukur sesuai dengan nilai wajar? Apa yang
harus dilakukan?
Harga pasar aktif (quoted market price) adalah nilai wajar terbaik menurut PSAK 68,
yakni memenuhi hirarki tertinggi (level 1). Namun bila pasar aktif tidak tersedia, maka

hirarki nilai wajar PSAK 68 mengijinkan turun ke pengukuran level 2 atau bahkan ke
level 3 (yang terendah). Level 2 menggunakan harga input berupa harga transaksi aset
serupa yang mirip, atau harga kuotasian aset identik di pasar yang tidak aktif, atau harga
input lainnya yang masih bisa diobservasi.
Sedangkan pengukuran nilai wajar level 3 menggunakan harga input yang tidak lagi bisa
diobservasi. Level 3 ini yang biasanya menggunakan teknik-teknik penilaian seperti
misalnya dengan discounted cash flow dengan menggunakan arus kas proyeksi dari
aset yang diukur selama umur ekonomis aset. Pengukuran dengan level 3 ini tentunya
lebih subjektif daripada level 1 dan level 2 karena banyak asumsi dalam pengukurannya.
Dengan demikian maka pengungkapan yang disyaratkan juga lebih banyak bila
perusahaan menggunakan pengukuran level 3.
Bila perusahaan menggunakan teknik penilaian nilai wajar level 3, nilai input dan
asumsi-asumsi yang digunakan harus diungkapkan secara lebih rinci. Perusahaan juga
harus menjelaskan langkah-langkah proses penilaian yang dilakukan dengan nilai input
tersebut. Analisis sensitivitas juga harus dibuat oleh perusahaan dalam pengungkapan.
Diskusi narasi tentang analisis sensitivitas tentang perubahan nilai masukan tak
terobservasi (Unobservable inputs) termasuk hubungan antar nilai-nilai masukan
tersebut yang dapat mempengaruhi pengukuran.

Tantangan Indonesia
Perusahaan di Indonesia dalam mengukur nilai wajar aset sering memanfaatkan jasa
penilai. Kesiapan profesi penilai menjadi penting untuk mendukung penerapan PSAK ini.
DSAK-IAI juga melakukan diskusi dengan PPAJP dan MAPPI selama setahun terakhir
agar Standar Penilaian Indonesia juga direvisi mengikuti perubahan PSAK 68 khususnya
SPI 201 : Standar Penilaian Pelaporan Keuangan.
Konsep highest and best use model bisa menjadi tantangan tersendiri karena biasanya
penilai properti misalnya mengukur properti sesuai dengan niat dan tujuannya, untuk
kasus gudang di atas maka penilai menggunakan harga-harga gudang sebagai
pembanding. IAI sudah mulai mensosialisasikan IFRS 13 ini sejak tahun 2012 seperti
misalnya memberikan training dan seminar tentang nilai wajar, salah satunya dalam
kegiatan acara HUT IAI Desember 2012 dan 2013. Artikel tentang IFRS 13 juga pernah
dimuat dalam Majalah Akuntan Indonesia edisi Januari /Februari 2013 dengan judul
Sukarnya Menakar Nilai Wajar. Namun mengingat banyaknya akuntan dan penilai yang
tersebar di seluruh Indonesia dan bukan hanya berpusat di kota besar maka sosialisasi

dan persiapan kepada profesi akuntan dan penilai harus segera diintensifkan selama
tahun 2014.
Keputusan sudah diambil oleh DSAK-IAI untuk mengesahkan PSAK 68 dan akan
berlaku 1 Januari 2015, mari kita bersiap diri.
*) Ersa Tri Wahyuni adalah penasihat teknis IAI dan dosen akuntansi Universitas
Padjadjaran Bandung yang saat ini sedang menempuh program doktor di Manchester
Business School, University of Manchester, Inggris. Tulisan lainnya bisadiakses
di http://etw-accountant.com atau ikuti diskusi dengan Ersa di Twitter @ErsaTriWahyuni
TAGS: DSAK-IAI, IFRS 13, NILAI WAJAR, PSAK 68
BY ERSA IN ARTICLES IN BAHASA, IFRS TECHNICAL ON 28 JANUARY, 2014.

Principle Based versus Rule


Based
MY POST

Tuntutan Pelaporan Keuangan Semakin Kompleks : Tantangan Masa Depan Akuntan

Tiga Topik Akuntansi Dibahas oleh Negara2 Berkembang : Laporan EEG Meeting.

Akuntansi sebagai Infrastruktur Pembangunan : Peran Pemerintah Sebagai Akselerator

IFRS Outlook 2015

Amortisasi Goodwill : Akankah di adopsi kembali oleh IASB?

Seorang sahabat bertanya kepada saya untuk menjelaskan apa sebenarnya yang
dimaksud dengan principle based dalam IFRS dan bedanya dengan rule based yang
dianut oleh US GAAP. Saya mengernyitkan dahi karena bahasan ini sudah sering sekali
dibahas dalam kegiatan-kegiatan seminar dan kuliah umum tentang IFRS terutama pada

tahun 2009-2010. Ketika saya membongkar koleksi tulisan-tulisan saya terdahulu,


ternyata saya belum pernah menuliskan isu penting ini secara detil.
Banyak orang yang sudah mendengar bahwa salah satu karakter penting dalam IFRS
adalah principle based dan ini yang menjadi pembeda IFRS dengan US GAAP. Namun
bagaimana sebenarnya standar akuntansi yangprinciple based itu? Apakah US GAAP
yg katanya rule based bisa dikatakan tidak memiliki prinsip?
Sulit untuk menarik garis sejarah kapan istilah principle based digunakan para penggiat
IFRS, namun istilah ini menurut beberapa akuntan senior yang pernah saya ajak diskusi
tidak pernah muncul di era 80 dan 90 an. Sehingga dugaan saya istilah ini muncul barubaru saja seiring dengan difusi IFRS ke seluruh dunia. Kata principle based kemudian
menjadi nilai jual IFRS dan seakan-akan menjadi sesuatu yang lebih baik daripada rule
based.

Principle based vs rule based: analogi resep


kue donat
Apakah principle based itu? Sering dibicarakan tapi jarang diilustrasikan dengan terang.
Tidak ada definisi yang jelas di dalam IFRS itu sendiri tentangprinciple based. Dalam
berbagai kesempatan seminar saya sering mengilustrasikan principle based vs rule
based dengan resep kue donat. Kabetulan donat adalah salah satu kue kesukaan anakanak saya yang saya hapal resepnya. Standar akuntansi bisa disamakan dengan resep
kue donat, hanya saja produk akhirnya adalah laporan keuangan, bukan kue bundar
dengan lubang ditengah yang legit.
Suatu resep kue donat yang rule based akan sangat detil menjelaskan bagaimana kue
donat ini dibuat. Ukuran-ukurannya sangat jelas, semisal terigu satu kilogram
menggunakan empat kuning telur, susu 100 ml dan ragi instant 7 gr. Semua ukuran dan
cara membuatnya detil, sampai berapa lama kue tersebut digoreng dengan suhu
berapa, misalnya digoreng selama 5 menit bolak balik dengan minyak panas bersuhu
180 derajat.

Dengan resep yang sangat detil tersebut, dalam praktiknya kemudian orang bisa
bertanya, nah kalau saya gak mau pakai telor gimana? Kalau saya mengganti susu
dengan santan, apakah masih bisa kue tersebut dibilang donat? Sehingga mungkin saja
kemudian berkembang aneka kue yang rasa dan bentuknya mirip donat tapi tidak bisa
dikatakan donat karena pembuatannya tidak memenuhi kaidah resep donat tadi.
Misalnya saja ada yang berusaha mengganti bahan penunjangnya (semisal susu diganti
santan) kemudian menyebut donat nya sebagai sebuah kue baru dan tidak mau
menyebutnya sebagai donat dengan dalih kan kalau donat resepnya pakai susu, saya
pakai santan lho, jadinya ini bukan donat dong.
Resep kue yang principle based akan berbeda. Resep kue donat principle based akan
membuat definisi cukup luas tentang apa yang dimaksud dengan donat. Mungkin
didefinisikan sebagai kue serupa roti berbasis terigu yang biasanya memiliki lubang
ditengah, biasanya digoreng dan berasa manis. Resepnya pun tidak terlalu detil,
misalnya untuk satu kilo terigu, cairan yg digunakan secukupnya sampai adonan bisa
dipulung. Cairan ini bisa menggunakan susu, air atau santan. Juga untuk proses
pematangan tidak detil melainkan donat digoreng dampai matang keemasan
Dengan resep kue yang principle based ini maka kategori donat lebih menitikberatkan
pada substansinya. Akibatnya mungkin akan banyak variasi donat di pasaran dengan
resep yang sedikit berbeda-beda. Bila anda tiba-tiba menemukan sebuah kue yang mirip
donat, sebutlah kue cincin ala betawi yang juga rasanya manis dan digoreng. Penganut
resep principle based akan lebih mudah memutuskan bahwa ia bukan donat karena
ketika dicicipi kue cincin tidak berstektur seperti roti karena dibuat dari tepung beras,
tanpa perlu melihat resep kuenya. Sebaliknya bila ada kue yang substansinya adalah
donat tapi disebut bukan donat karena tidak berlubang misalnya, penganut principle
based tetap memandang kue itu sebagai donat karena persyaratan lubang ditengah
dalam definisi tidak wajib, kan definisinya bilang biasanya memiliki lubang di tengah,
jadi yang tidak memiliki lubangpun masih bias diketagorikan donat bila substansinya
sama. Duh jadi tiba-tiba ingin makan donat dan secangkir kopi ya? He he he

Standar Principle based dalam Praktik


Dalam kegiatan kuliah umum atau seminar yang saya berikan, saya sering
mencontohkan perbedaan principle based vs rule based dengan standar sewa dan
konsolidasi. Dalam standar sewa ala rule based, yang juga dianut oleh PSAK 30 kita

sebelum mengadopsi IFRS, pemisahan antara sewa operasi dan sewa pembiayaan
sangat tegas dan detil. Suatu sewa masuk kategori sewa pembiayaan bila memenuhi
beberapa syarat, misalnya masa sewa melingkupi minimal 75% dari total umur ekonomis
barang sewaan.
Karena batasan yang jelas ini, maka mereka yang ingin mengkategorikan sewa sebagai
sewa operasi untuk menghindari pengakuan liabilitas sewa di neraca bisa mengakali
kontrak sewa menjadi 74% dari umur ekonomis barang sewaan. Dengan demikian
mengkategorikan sewa ini sebagai sewa operasi tidaklah salah karena tidak
bertentangan dengan standar akuntansi.
Dalam standar sewa yang principle based, batas 75% tidak disebutkan tapi yang
ditekankan adalah substansi sewa. Sewa diketagorikan sebagai sewa pembiayaan bila
manfaat dan risiko dari barang sewaan secara substansial berpindah ke penyewa. Masa
sewa bisa menjadi salah satu indikasi, tapi tidak ada garis batas jelas 75% melainkan
menggunakan penjelasan masa sewa adalah untuk sebagaian besar umur ekonomis
aset, dengan demikian yang memiliki umur sewa 74% bisa dipastikan bahwa bisa
dikategorikan sebagai sewa pembiayaan.
Perbedaan standar sewa ini menjadi salah satu perbedaan utama IFRS dan US GAAP
sehingga kedua dewan standar ini membuat kerjasama dalam pembuatan standar sewa
yang baru. Saat ini pembahasan tentang leasing masih hangat diperdebatkan karena
kedua dewan standar belum bersepakat dalam beberapa hal.
Salah satu contoh principle based vs rule based adalah standar tentang konsolidasi.
IFRS menekankan pada definisi pengendalian. Bila ada pengendalian (walaupun
kepemilikannya dibawah 50% dari total saham) maka harus dikonsolidasi (de facto
control). Sedangkan standar akuntansi rule based akan menekankan pada voting
rights sehingga sulit bila memiliki kepemilikan dibawah 50% untuk mengkonsolidasi anak
perusahaan karena tidak memiliki voting rights mayoritas.
Standar berbasis prinsip lainnya yang dikembangkan oleh IASB bersama dengan FASB
adalah standar tentang pendapatan. Dalam joint project ini, langkah-langkah pengakuan
pendapatan diatur dalam lima tahapan berurutan. Dihaprapkan dengan prinsip ini maka
pengakuan pendapatan dapat memiliki prinsip yang sama dalam setiap industri,
terutama di US GAAP karena banyak sekali pengaturan tentang pengakuan pendapatan
yg berbeda-beda tiap industry.

Dampak Principle Based kepada akuntan


Banyak yang salah kaprah bahwa US GAAP adalah standar rule basedsehingga tidak
memiliki prinsip. US GAAP juga memiliki kerangka konseptual, bahkan banyak yg
berpendapat kualitas kerangka konseptual US GAAP lebih baik daripada IASB. Banyak
faktor yang membuat perkembangan standar akuntansi US GAAP yang menjadi detil
dan rumit seperti sekarang ini. US GAAP dikembangkan lebih dari 50 tahun dengan
pendekatan bottom-upsesuai dengan kebutuhan dan permintaan pengguna standar.
Sehingga standar US GAAP memang makin lama semakin rumit karena perkembangan
transaksi dan kompleksitas bisnis yang semakin berkembang.
Ada juga yang berpendapat standar IFRS nantinya akan semakin rumit dan detil seiring
dengan banyak permintaan dari pengguna standar untuk klarifikasi dan petunjuk
penggunaan. Sekarang sudah mulai banyak keluhan bahwa IFRIC (IFRS Interpretation
Committee) bekerja terlalu lamban dalam menjawab kebingungan para pengguna
standar IFRS.
Standar yang berbasis prinsip menuntuk pertimbangan professional para pengguna
standar. Menilik contoh resep donat di atas, mereka yang belum pernah membuat donat
sebelumnya, tentunya akan lebih mudah untuk menggunakan resep kue donat yang
detil,

terperinci

dan

jelas

langkah-langkahnya.

Di

lain

pihak

standar

yang

bersifat principle based lebih mudah dipelajari dan dipahami karena lebih ringkas dan
tidak rumit. Namun ketika terjadi banyak variasi praktik dalam bisnis, akuntan harus
percaya diri dalam mengiterpretasikan standar yang principle based tersebut.
Permasalahannya adalah, pertimbangan professional (professional judgement) sangat
sulit dipelajari di bangku kuliah formal. Pendidikan akuntansi keuangan level sarjana,
bukan hanya di Indonesia tapi juga di banyak negara, menekankan pada
pengajaran rule based. Laporan keuangan dihasilkan setelah melalui langkah-langkah
tertentu. Akibatnya ketika para akuntan terjun ke lapangan, mereka gamang dalam
membuat pertimbangan profesional. Mengasah pertimbangan professional akuntan
biasanya dicapai melalui praktik kerja atau melalui studi kasus, namun studi kasus yang
baik di rumpun keilmuan akuntansi juga susah didapatkan karena biasanya studi kasus
lebih banyak di rumpun ilmu manajemen seperti marketing atau manajemen strategi.

Profesi akuntan di Indonesia memasuki babak baru dengan disahkannya PMK No


25/2014 tentang akuntan beregister. Akuntan professional dituntut patuh terhadap etika
profesi dan juga memiliki pertimbangan professional yang kuat. Adalah tantangan besar
para penyusun kurikulum dan materi pendidikan Chartered Accountant Indonesia untuk
membangun kompetensi ini. Studi kasus-studi kasus yang membutuhkan pertimbangan
profesional harus diperbanyak untuk meningkatkan kualitas pendidikan profesi akuntan
di Indonesia. Jangan sampai nanti akuntan mudah galau ketika melihat donat.
eehh melihat permasalahan akuntansi.
Manchester, 26 February 2014