Anda di halaman 1dari 6

Akademia Vol. 21 No.

1 Edisi Januari 2017 Dian: Akuntansi Inflasi Dalam Menilai Relevansi Laporan

AKUNTANSI INFLASI DALAM MENILAI RELEVANSI LAPORAN


KEUANGAN SUATU PERUSAHAAN
Dian Inda Sari, SE. Ak. MM
Dosen Akademi Maritim Belawan, Medan - Indonesia
NIDN. 0111117501
Email: s_dian@lycos.com

Abstract

Indonesia is a country that embrace an open economy that bring Indonesia to the inflation problem year by year,
while accounting process in Indonesia are generally adopted historical cost. This concept works with stable
monetary unit, this was not familiar with any changes such as the effects of inflation. All transactions that occur
are recorded on the basis of historical value or values obtained during transaction and bring dilemma to the
relevance of the company's financial statements. For investors and stock trader an additional report like
General Price Level Accounting is needed to determine its resistance to face the competition and monetary
unpredictable. This concept states that the true value of Rupiah (IDR) is determined by the goods or services
commonly called purchasing power. In times of inflation or deflation, the quantity of goods / services can be
obtained by changing the nominal value of money constantly, which means that the purchasing power of IDR is
changed. With these additional reports, the purpose of accounting report can be fulfilled, as a competent
reference to make the right decision.

Keywords: Accounting, inflation, accounting report, General Price Level Accounting

PENDAHULUAN laporan keuangan disajikan berdasarkan nilai


Indonesia adalah salah satu negara histories (Historical Cost) yang mengasumsikan
berkembang. Masalah umum yang sering dihadapi bahwa harga-harga (unit moneter) adalah stabil.
negara berkembang adalah tingginya tingkat inflasi. Akuntansi konvensional tidak mengakui adanya
Sejak krisis moneter tahun 1998, harga-harga di perubahan tingkat harga umum maupun perubahan
pasaran cenderung naik. Tahun 2007 saja tingkat tingkat harga khusus. Sebagai konsekuensinya, jika
inflasi di Indonesia adalah 6,59 persen. Hal ini bisa terjadi perubahan daya beli seperti pada periode
diartikan bahwa aktiva yang dimiliki harganya akan inflasi, maka laporan keuangan jika kita kembali
berkurang sebesar 6.59 persen sedangkan kepada penjelasan di paragraph sebelumnya secara
pendapatan dinilai terlalu tinggi sebesar angka yang ekonomis tidaklah relevan.
sama. Untuk mengatasi hal ini akuntansi inflasi
Pada saat ini pasar modal menjadi menjadi suatu pedoman yang dapat diandalkan
primadona yang dipilih investor untuk dalam menganalisa laporan keuangan suatu
meninvestasikan modalnya. Namun untuk perusahaan. Dalam paper ini akunansi inflasi yang
menginvestasikan modal dalam saham tidak dibahas adalah General Price Level Accounting
semudah membalik telapak tangan. Investor harus (GPLA).
mengetahui kemampulabaan perusahaan yang akan
dibeli sahamnya. Bagaimana ketahanan suatu
perusahaan dalam menghadapi persaingan dan LANDASAN TEORITIS
moneter yang sulit diprediksi. Informasi mengenai A. Inflasi
suatu perusahaan yang menjual sahamnya di pasar Banyak study mengenai inflasi di negara-
modal dapat diketahui melalui laporan negara berkembang, menunjukan bahwa inflasi
keuangannya. bukan semata-mata merupakan fenomena moneter,
Laporan keuangan merupakan informasi tetapi juga merupakan fenomena struktural atau
yang penting bagi pengguna laporan keuangan cost push inflation. Hal ini disebabkan karena
dalam rangka menilai kinerja keuangan perusahaan struktur ekonomi negara-negara berkembang pada
secara keseluruhan. umumnya yang masih bercorak agraris. Sehingga,
Informasi laporan keuangan dianggap goncangan ekonomi yang bersumber dari dalam
memiliki nilai kualitas informasi jika memenuhi negeri, misalnya gagal panen (akibat faktor
dua unsur yaitu dapat diandalkan (reliable) dan eksternal pergantian musim yang terlalu cepat,
bencana alam, dan sebagainya), atau hal-hal yang
relevance bagi pengguna laporan keuangan.
memiliki kaitan dengan hubungan luar negeri,
Uniknya pencatatan Akuntansi Indonesia misalnya memburuknya term of trade; utang luar
menganut system akuntasi konvesional dimana

Diterbitkan Kopertis Wilayah - I 5


Akademia Vol. 21 No. 1 Edisi Januari 2017 Dian: Akuntansi Inflasi Dalam Menilai Relevansi Laporan

negeri; dan kurs valuta asing, dapat menimbulkan 2. Nilai historis yang berdasarkan data obyektif
fluktuasi harga di pasar domestik. dapat dipercaya, dapat diaudit dan lebih sulit
Fenomena struktural yang disebabkan oleh untuk memanipulasi bila dibandingkan dengan
kesenjangan atau kendala struktural dalam nilai yang lain seperti current cost ataupun
perekonomian di negara berkembang, sering replecement cost.
disebut dengan structural bottlenecks. Strucktural 3. Karena telah disepakati berlakunya prinsip
bottleneck terutama terjadi dalam tiga hal, yaitu : akuntansi pada penggunaan nilai historis
1. Supply dari sektor pertanian (pangan) tidak memudahkan untuk melakukan perbandingan
elastis. Hal ini dikarenakan pengelolaan dan baik antara industri maupun antar waktu untuk
pengerjaan sektor pertanian yang masih suatu industri.
menggunakan metode dan teknologi yang Kelemahan penggunaan nilai historis
sederhana, sehingga seringkali terjadi supply dari antara lain:
sektor pertanian domestik tidak mampu 1. Adanya pembebanan biaya yang terlalu kecil
mengimbangi pertumbuhan permintaannya. karena pendapatan untuk suatu hal tertentu
2. Cadangan valuta asing yang terbatas (kecil) pada saat tertentu akan dibebani biaya yang
akibat dari pendapatan ekspor yang lebih kecil didasarkan pada suatu nilai uang yang telah
daripada pembiayaan impor. Keterbatasan ditetapkan beberapa periode yang lalu pada
cadangan valuta asing ini menyebabkan saat pencatatan terjadinya biaya tersebut.
kemampuan untuk mengimpor barang-barang baik 2. Nilai aktiva yang dicatat dalam neraca akan
bahan baku; input antara; maupun barang modal mempunyai nilai yang lebih rendah apabila
yang sangat dibutuhkan untuk pembangunan sektor dibandingkan dengan perkembangan harga
industri menjadi terbatas pula. Belum lagi ditambah daya beli uang terakhir. Di samping itu juga
dengan adanya demonstration effect yang dapat terjadi perubahan-perubahan kurs yang cepat
menyebabkan perubahan pola konsumsi atas aktiva dan pasiva dalam valuta asing yang
masyarakat. Akibat dari lambatnya laju dikuasai perusahaan sehingga mengalami
pembangunan sektor industri, seringkali kesulitan dalam perhitungan selisih kurs yang
menyebabkan laju pertumbuhan supply barang tepat
tidak dapat mengimbangi laju pertumbuhan 3. Alokasi biaya untuk depresiasi, amortisasi akan
permintaan. dibebankan terlalu kecil dan mengakibatkan
3. Pengeluaran pemerintah terbatas. Hal ini laba dihitung terlalu besar.
disebabkan oleh sektor penerimaan rutin yang 4. Laba/rugi yang terjadi yang dihasilkan oleh
terbatas, yang tidak cukup untuk membiayai perhitungan laba/rugi yang didasarkan pada
pembangunan, akibatnya timbul defisit anggaran asumsi adanya stable monetary unit tersebut
belanja, sehingga seringkali menyebabkan tidaklah riil apabila diukur dengan
dibutuhkannya pinjaman dari luar negeri ataupun perkembangan daya beli uang yang sedang
mungkin pada umumnya dibiayai dengan berlangsung.
pencetakan uang (printing of money). 5. Adanya stable monetary unit. Perusahaan tidak
Dengan adanya structural bottlenecks ini, akan memperahankan real capital-nya dan ada
dapat memperparah inflasi di Negara berkembang kecenderungan terjadinya kanibalisme terhadap
dalam jangka panjang, oleh karenanya fenomena modal sehubungan dengan pembayaran pajak
inflasi di Negara-negara yang sedang berkembang perseroan dan pembangian laba yang lebih
kadangkala menjadi suatu fenomena jangka besar daripada semestinya.
panjang, yang tidak dapat diselesaikan dalam 6. Menyalahi mathematical principle karena
jangka waktu yang pendek. berbagai himpunan yang tidak sama
dijumlahkan menjadi satu.
B. Historical Cost 7. Di samping hal-hal di atas akan timbul
Sudah dibahas pada pendahuluan bahwa kesulitan-kesulitan bagi manajemen
dunia usaha pada umumnya selalu mendasarkan perusahaan apabila harus mendasarkan pada
diri pada historical cost yaitu asumsi adanya stable laporan akuntansi yang disusun atas dasar
monetary unit yang mengakibatkan semua transaksi asumsi
yang terjadi dicatat atas dasar nilai historis atau
nilai yang didapat saat terjadi transaksi. Di sisi lain C. General Price Level Accounting (GPLA)
disadari pula bahwa stable monetary unit tersebut Di Indonesia, General Price Level
pada kenyataannya tidak ada, apalagi pada Negara accounting dikenal sebagai Akuntansi tingkat harga
yang menganut ekonomi terbuka seperti Indonesia.. umum menyatakan bahwa nilai sesungguhnya dari
Penggunaan nilai historis dalam akuntansi Rupiah (disingkat Rp) ditentukan oleh barang atau
finansial disebabkan karena beberapa alasan: jasa yang dapat diperoleh, yang biasa disebut daya
1. Relevan dalam pembuatan keputusan ekonomi. beli. Dalam masa inflasi ataupun deflasi, jumlah
Bagi manajer dalam membuat keputusan masa barang/jasa yang dapat diperoleh berubah dengan
depan diperlukan data transaksi masa lalu. nilai uang nominal yang konstan, yang berarti

Diterbitkan Kopertis Wilayah - I 6


Akademia Vol. 21 No. 1 Edisi Januari 2017 Dian: Akuntansi Inflasi Dalam Menilai Relevansi Laporan

bahwa daya beli Rupiah berubah. Akuntansi tingkat mencerminkan purchasing power dari aset dan
harga umum akan mengadakan penyajian kembali klaim dalam mata uang tertentu pada akhir
komponen-komponen laporan keuangan ke dalam periode.
Rupiah pada tingkat daya beli yang sama, namun 2. Conventional historical-cost accounting tidak
sama sekali tidak mengubah prinsip-prinsip mengukur pendapatan (income) dengan
akuntansi yang digunakan dalam akuntansi sewajarnya sebagai hasil matching Rupiah
berdasarkan nilai histories. dalam laporan laba rugi. Beban-beban yang
Penyesuaian atas besaran keuangan untuk telah terjadi pada periode sebelumnya
inflasi guna mencerminkan nilai harga umum atau dikontrakan dengan pendapatan-pendapatan
tingkat harga umum dan penggunaan nilai yang yang umumnya dicerminkan dalam nilai
telah disesuaikan tersebut dalam akuntansi. Rupiah tertentu pada saat ini. General price-
Perubahan tingkat harga umum dapat dihitung atau level accounting menyediakan konsep
diukur dengan indeks harga. Indeks harga yang matching pendapatan dan beban yang lebih
biasa digunakan adalah indeks harga konsumen, baik karena menggunakan nilai uang konstan
yaitu suatu indeks yang menyajikan perubahan (common value).
periodic dalam biaya kelompok barang-barang 3. General price-level accounting relatif mudah
terpilih yang dibeli konsumen yang digunakan diterapkan. Hanya sekedar mengganti “nilai
sebagai ukuran inflasi. lama” dengan “nilai saat ini”. General price-
Penyusunan berdasarkan nilai historis level accounting mencerminkan konsep
disesuaikan menjadi berdasarkan tingkat harga terakhir dari Prinsip Akuntansi Umum
umum dapat dilakukan dengan mengkonversikan (General Accepted Accounting Principles).
nilai historis dengan factor konversi menjadi Sebagai akibatnya, dirasa relatif lebih obyektif
tingkat harga umum, dengan rumusan sebagai dan dapat diuji kebenarannya. Karakteristik
berikut: tersebut yang menyebabkan general price-level
accounting lebih dapat diterima dibanyak
perusahaan dibanding current-value
Faktor konversi =
accounting.
4. General price-level accounting menyediakan
Dalam penyusunan berdasarkan tingkat informasi yang relevan bagi manajemen dalam
harga umum perlu diperhatikan pos-pos yang akan evaluasi dan penggunaannya. Jadi laba dan
terpengaruh dengan adanya penurunan daya beli rugi berdasarkan tingkat harga umum
Rupiah, yaitu: dihasilkan dari penanganan item-item moneter
1. Monetery assets, seperti kas ditangan, surat- yang merefleksikan respon manajemen
surat berharga, dan pos-pos piutang dan lain- terhadap inflasi. Pada akhirnya, general price-
lain yang sifatnya sebagai dormant account level accounting menyajikan pengaruh inflasi
akan mengalami pengaruh penurunan daya beli secara umum terhadap laba dan menyediakan
secara berarti karena rekening-rekening hasil investasi (rate of returns) yang lebih
tersebut tidak dapat lagi dinilai (di-appraisal) realistis. Relevansi lebih berkepentingan
2. Non monetary assets secara riil tidak dengan masa sekarang dan masa mendatang,
mengalami pengaruh penurunan daya beli, karena itu informasi yang didasarkan pada nilai
tetapi dari sudut akuntansi merupakan pos yang historis dianggap kurang relevan untuk tujuan
terkena pengaruh penurunan harga beli. Akan pengambilan keputusan khususnya dalam
tetapi hal tersebut tidak menjadi masalah yang kondisi ekonomi yang cenderung mengalami
serius karena rekening-rekenig tersebut dapat inflasi.
dinilai. Disisi lain, penolakan terhadap general
3. Assets dalam bentuk valuta asing tidak price-level accounting didasarkan pada beberapa
dipengaruhi oleh penurunan daya beli Rupiah argumentasi berikut ini:
karena dapat dinilai dengan kurs yang terakhir. 1. Kebanyakan studi empiris mengindikasikan
Kontroversi yang berkaitan dengan bahwa relevansi dari informasi tingkat harga
kerelevanan GPLA telah dan masih berlangsung umum juga lemah atau dengan kata lain tidak
hingga saat ini. Sejumlah argumentasi yang dapat diterima. Penelitian-penelitian
mendukung telah dikembangkan (Richard & Myrtle selanjutnya diharapkan lebih dapat
1995): memberikan jaminan sebelum adanya
1. Laporan keuangan yang tidak disesuaikan kesimpulan yang dapat dicapai sehubungan
dengan tingkat harga umum atau dengan kata dengan tingkat relevansi informasi tingkat
lain disajikan berdasarkan nilai historis tidak harga umum dan kemampuan untuk
mencerminkan perubahan kemampuan atau mengintepretasikan hal tersebut secara penuh.
daya beli (purchasing power ) dari bermacam- 2. Tingkat harga umum merubah rekening hanya
macam aset dan klaim dalam perusahaan. untuk perubahan dalam tingkat harga secara
Sedangkan laporan yang disajikan berdasarkan umum dan tidak merubah rekening ke dalam
tingkat harga umum menyajikan data yang

Diterbitkan Kopertis Wilayah - I 7


Akademia Vol. 21 No. 1 Edisi Januari 2017 Dian: Akuntansi Inflasi Dalam Menilai Relevansi Laporan

tingkat harga tertentu. Jadi, penanganan laba Dalam GPLA, akun-akun dalam laporan
dan rugi untuk aset-aset non-moneter tidak keuangan historis dikelompokkan menjadi pos
diakui dan para pengguna data yang moneter dan pos non moneter , kemudian
disesuaikan pada tingkat harga umum mungkin diperlakukan sesuai dengan karakteristiknya. Akun
mempercayai bahwa perubahan nilai-nilai telah moneter tidak terpengaruh perubahan harga,
berkorespondensi dengan nilai-nilai saat ini. sehingga telah mencerminkan tingkat harga umum
3. Pengaruh atau akibat adanya inflasi akan yang berlaku. Pemilikan akun-akun moneter akan
berbeda dalam berbagai perusahaan. menimbulkan keuntungan atau kerugian daya beli.
Perusahaaan-perusahaan yang intensif modal Sebaliknya, akun non moneter terpengaruh
akan lebih dipengaruhi oleh inflasi dibanding perubahan harga, nilainya tidak mencerminkan
dengan perusahaan-perusahaan yang dipenuhi tingkat harga umum yang berlaku, sehingga harus
dengan aset-aset jangka pendek. disesuaikan dengan suatu faktor konversi yang
4. Biaya-biaya diimplementasikan lebih besar mencerminkan tingkat harga umum yang berlaku
dari nilai pokoknya dalam general price-level berupa indeks harga konsumen.
accounting dibanding benefitnya. Kas dan Piutang Dagang tidak perlu
Beberapa peraturan yang dikeluarkan oleh disesuaikan dengan perubahan daya beli, tetapi
Financial Accounting Standard Board (FASB) di pada laporan keuangan yang diperbandingkan perlu
USA juga masih tidak memberikan kepastian ada kesamaan daya beli. Penyesuaian ini dilakukan
mengenai perlu tidaknya penggunaan general dengan cara sebagai berikut:
price-level accounting, diantaranya:
1. Statement no.33 yang mengharuskan beberapa Angka Indek pada
perusahaan tertentu untuk menyajikan tahun1
informasi tambahan dengan menggunakan X Kas/Piutang Dagang
general price-level accounting dan current cost Angka Indeks pada
Tahun Dasar 0
accounting.
2. Statement no.89 menyatakan bahwa informasi
tambahan dengan general price-level Persediaan dikonversikan dengan cara sebagai
accounting dan current cost accounting berikut:
sebaiknya disajikan tetapi tidak diharuskan
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Angka Indek pada
di Indonesia bahwa informasi tambahan antara lain tahun ini
X Harga Perolehan Persediaan
mengenai pengungkapan pengaruh perubahan harga Angka Indeks Saat
bersifat tidak mengikat. Perolehan

Besarnya harga perolehan persediaan


PEMBAHASAN
tergantung dengan metode yang digunakan (FIFO,
Laporan keuangan (financial statetment)
yang selama ini kita kenal adalah laporan yang LIFO, Rata-rata, dan lain-lain) dan penggunaan
Lebih mengedepankan unsur keandalan metode tersebut harus konsisten.
(reliabilitas) dari pada relevansinya. Oleh karena Pembayaran di muka (prepayment)
itu, salah satu prinsip penyusunan laporan keuangan disajikan dalam laporan keuangan sesuai dengan
digunakan adalah perubahan daya beli saat dilakukan pembayaran.
biaya historis (historical cost accounting). Artinya,
Nilai konversinya adalah:
laporan keuangan disusun berdasarkan harga
perolehannya (historical cost). Konsep ini
Angka Indek pada
mengabaikan adanya inflasi yang nyata-nyata Tahun ini
terjadi pada setiap negara. Inflasi akan X Pembayaran Dimuka
mempengaruhi nilai Angka Indeks saat
dari setiap angka yang tersaji dalam laporan Pembayaran
keuangan yang membuat informasi yang
terkandung dalam laporan keuangan menjadi
terdistorsi. Investasi disajikan dalam laporan
Seperti yang dibahas sebelumnya GPLA keuangan sesuai dengan perubahan daya beli saat
satu konsep akuntansi inflasi yang merubah satuan investasi terjadi. Penyajiannya adalah sebesar:
pengukuran, tetapi tetap mempertahankan model
pelaporan atas dasar historical cost. Tujuan
Angka Indek pada
pendekatan ini adalah untuk mempertahankan nilai
tahun ini
modal menurut harganya yang tetap dengan ukuran
X Nilai Investasi
indeks harga.
Angka Indek saat
Investasi Terjadi

Diterbitkan Kopertis Wilayah - I 8


Akademia Vol. 21 No. 1 Edisi Januari 2017 Dian: Akuntansi Inflasi Dalam Menilai Relevansi Laporan

Aktiva Tetap dalam laporan keuangan Dari hasil analisis tersebut selanjutnya
disajikan sesuai dengan perubahan daya beli saat dilakukan analisa. Elemen laporan keuangan
aktiva tersebut dimiliki. Besarnya nilai konversi dikatakan relevan > 16 unit dan interpretatif bila
adalah: selisih elemen yang telah disusun berdasarkan
dollar konstan dibagi dengan selisih unit sama
Angka Indek pada dengan indeks harga konsumen. Apabila prosentase
tahun ini elemen-elemen dalam laporan keuangan yang
X Harga Perolehan sesuai dengan NOD attribute dan COG attribute >
Aktiva Tetap 50%, maka laporan keuangan tersebut dapat
Angka Indek saat dikatakan interpretatif dan relevan.
Aktiva Dimiliki
KESIMPULAN
Hutang Lancar tidak perlu dinilai kembali Kesimpulan yang dapat diambil adalah
karena sudah secara langsung mengikuti perubahan bahwa pada masa inflasi, laporan keuangan GPLA
daya beli kecuali apabila ingin diperbandingkan lebih informatif dibanding historical cost, namun
dengan laporan keuangan lainnya. material atau tidaknya perbedaan yang ditimbulkan
Kontrak pemeliharaan/langganan GPLA tergantung pengaruhnya terhadap
(advances on maintenance contracts) diukur perusahaan tersebut, sehingga GPLA bukan
dengan nilai konversi sebesar: dimaksudkan untuk mengganti laporan keuangan
historical cost, tetapi hanya sebagai supplement
Angka Indeks pada tahun ini report untuk digunakan sebagai informasi tambahan
dalam pengambilan keputusan bagi pihak-pihak
Angka Indek selama Masa Pemeliharaan yang membutuhkan informasi laporan keuangan
sehingga tujuan dari pelaporan akuntansi terpenuhi.
Hal ini didasari oleh pernyataan Standar Akuntansi
Hutang Jangka Panjang tidak perlu dinilai Keuangan di Indonesia bahwa informasi tambahan
kembali karena sudah secara langsung mengikuti antara lain mengenai pengungkapan pengaruh
perubahan daya beli kecuali apabila ingin perubahan harga bersifat tidak mengikat.
diperbandingkan dengan laporan keuangan lainnya.
Pajak yang Ditangguhkan (differed income DAFTAR PUSTAKA
taxes) dilaporkan dalam neraca sebesar jumlah Adwin S. Atmadja (1999), Inflasi Di Indonesia:
akumulasi dari penghematan pajak (tax savings) Sumber-Sumber Penyebab Dan
dan disajikan dalam laporan keuangan setelah Pengendaliannya, Jurnal Akuntansi dan
disesuaikan dengan perubahan daya beli sebesar Keuangan Vol. 1, No. 1, Mei 1999 : 54-67,
nilai yang akan dibayar, sehingga Pajak yang Universitas Kristen Petra, Jakarta.
Ditangguhkan tidak perlu lagi disesuaikan dengan
perubahan daya beli. Boediono (1997), Seri Sinopsis Pengantar Ilmu
Modal Saham Preferen dapat digolongkan Ekonomi No: 2 ; Ekonomi Makro, edisi
sebagai elemen moneter dan elemen non moneter keempat; Yogyakarta, BPFE.
tergantung keadaannya. Modal Saham Biasa diukur
dengan selisih antara Total Aktiva yang telah David Sukardi Kodrat (2006), Studi Banding
disesuaikan dengan perubahan daya beli dengan Penyusunan Laporan Keuangan dengan
Total Hutang yang telah disesuaikan dengan Metode Historical Cost Accounting dan
perubahan daya beli ditambah modal saham General Price Level Accounting pada Masa
preferen. Inflasi, Jurnal Akuntansi Dan Keuangan,
Pendapatan dan biaya dapat Vol. 8, No. 2, November 2006: 78-91,
diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu Universitas Kristen Petra, Jakarta.
elemen moneter dan elemen non moneter. Sifat dari
rekening-rekening tersebut menjadi dasar dalam Nadia Hilwina (2007), General Price Level
pengklasifikasiannya. Laporan keuangan yang telah Accounting Sebagai Supplement Report
disusun dengan metode General Price Level Pada Laporan Keuangan Konvensional
Accounting dibandingkan dengan laporan keuangan Untuk Informasi Tambahan Dalam
yang disusun dengan Historical Cost Accounting. Pengambilan Keputusan Studi Kasus Pada
Kedua laporan keuangan dianalisis dengan PT. Semen Gresik (Persero) Tbk., Skripsi,
menggunakan NOD (Number of Dollar ) attribute Universitas Airlangga, Surabaya.
untuk mengetahui bahwa laporan keuangan tersebut
interpretative dan dianalisis dengan COG Pwee Leng (2002), Analisis Terhadap Perlunya
(Command Over Good) attribute untuk mengetahui Penyesuaian Laporan Keuangan Historis
bahwa laporan keuangan tersebut relevan. (Conventional Accounting) Menjadi
Berdasarkan Tingkat Harga Umum (General

Diterbitkan Kopertis Wilayah - I 9


Akademia Vol. 21 No. 1 Edisi Januari 2017 Dian: Akuntansi Inflasi Dalam Menilai Relevansi Laporan

Price Level Accounting), Jurnal Akuntansi &


Keuangan Vol. 4, No. 2, Nopember 2002:
141 - 155, Universitas Kristen Petra, Jakarta.

Schroeder, Richard G. and Clark, Myrtle. (1995),


Accounting Theory: Text & Reading, New
York: John Willy & Sons.

Suwandi (2006), Analisis Kandungan Informasi


Laporan Keuangan Berkaitan Adanya
Inflasi: Studi Empiris Pada Perusahaan Yang
Terdaftar di Bursa Efek Jakarta, Thesis,
Universitas Lampung, Lampung.

Diterbitkan Kopertis Wilayah - I 10