Anda di halaman 1dari 0

56

BAB IV
ANALISA TENTANG FUNGSI ILMU KEDOKTERAN FORENSIK
DALAM MEMBANTU PENYIDIKAN TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN
DISERTAI MUTILASI.

A. Kendala Penyidik Dalam Pembunuhan Mutilasi
Dalam hal ini tugas kepolisian harus sigap mengungkap siapa pelakunya,
tim kepolisan dengan sigap membentuk suatu pemecahan kasus dimulai dari
penyelidikan dan penyidikan. Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik
untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana
guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang
diatur dalam UU (pasal 1 butir 5 KUHAP). Setelah tahap itu telah dilalui maka
tim penyidik mulai mengembangkan motif didalam kasus tersebut. Yang
dimaksud penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan
menurut cara yang diatur dalam UU untuk mencari serta mengumpulkan bukti
yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi guna
menemukan tersangkanya (pasal 1 butir 2 KUHAP).
Hambatan-hambatan yang dialami penyidik pada saat mendapat laporan
tentang suatu tindak kejahatan mutilasi sering kali kerap terjadi, hal ini
dikarenakan tubuh dari korban sudah tidak utuh lagi, dikarenakan mutiliasi, tidak
ada identitas, dan untuk pembuktian jenis kelaminpun kerap sulit. Untuk
menanggulangi masalah tersebut tim penyidik meminta bantuan kepada tim
forensik atau staf ahli kedoteran untuk menentukan jenis kelamin beserta waktu
terjadinya pembunuhan.
Faktor-faktor terhambatnya tim penyidik dikaranakan:
1. Bagian tubuh yang tidak utuh lagi;
2. Tidak ada identitas korban;
3. Tidak ada saudara atau rekan yang melapor kehilangan salah satu anggota
keluarga;
4. Penemuan jenajah bukan pada tempat atau lingkungan tempat tinggal
korban;
57


5. Pemeriksaan saksi;
6. Mayat yang sudah membusuk / sudah menjadi tulang belulang;
7. Faktor penyebab kematian;
8. Motif pelaku.

B. Ilmu Kedokteran Forensik Dalam Membantu Penyidik Tindak Pidana
Mutilasi
Dalam penyidikan suatu tindak kriminal merupakan suatu keharusan
menerapkan pembuktian dan pemeriksaan bukti fisik secara ilmiah. Penjatuhan
sanksi dalam hukum pidana diwajibkan untuk memenuhi syarat tertentu yaitu
menyangkut kepada hukum pidana materiil dan formil
44

Sehingga diharapkan tujuan dari hukum acara pidana, yang menjadi
landasan proses peradilan pidana, dapat tercapai yaitu mencari kebenaran materiil.
Tujuan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kehakiman No.M.01.PW.07.03
tahun 1983 yaitu:
untuk mencari dan mendapatkan atau setidak-tidaknya mendekati
kebanaran materiil, ialah kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari sutau
perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum acara pidana secara jujur
dan tepat dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang dapat didakwakan
melakukan suatu pelanggaran hukum, dan selanjutnya meminta pemeriksaan dan
putusan dari pengadilan guna menemukan apakah terbukti bahwa suatu tindak
pidana telah dilakukan dan apakah orang yang didakwa itu dapat
dipersalahkan.
Adanya pembuktian ilmiah diharapkan polisi, jaksa, dan hakim
tidaklah mengandalkan pengakuan dari tersangka atau saksi hidup dalam
penyidikan dan menyelesaikan suatu perkara. Karena saksi hidup dapat berbohong
atau disuruh berbohong, maka dengan hanya berdasarkan keterangan saksi
dimaksud, tidak dapat dijamin tercapainya tujuan penegakan kebenaran dalam
proses perkara pidana dimaksud.

44
AndiHamzah,HukumPidanaIndonesia,SinarGrafika,Jakarta,2000,hal18
57


Dalam perkembangannya bidang kedokteran forensik tidak hanya
berhadapan dengan mayat (atau bedah mayat), tetapi juga berhubungan dengan
orang hidup. Dalam hal ini peran kedokteran forensik meliputi:
1. melakukan otopsi medikolegal dalam pemeriksaan menyenai sebab-
sebab kematian, apakah mati wajar atau tidak wajar, penyidikan ini
juga bertujuan untuk mencari peristiwa apa sebenarnya yang telah
terjadi,
2. identifikasi mayat,
3. meneliti waktu kapan kematian itu berlansung time of death
4. penyidikan pada tidak kekerasan seperti kekerasan seksual, kekerasan
terhadap anak dibawah umur, kekerasan dalam rumah tangga,
5. pelayanan penelusuran keturunan,
6. di negara maju kedokteran forensik juga menspesialisasikan dirinya
pada bidang kecelakaan lalu lintas akibat pengaruh obat-obatan
driving under drugs influence.
Perdanakusuma (1984) mengelompokkan ilmu forensik berdasarkan
peranannya dalam menyelesaikan kasus-kasus kriminal ke dalam tiga kelompok,
yaitu:
Ilmu-ilmu forensik yang menangani tindak kriminal sebagai masalah
hukum. Dalam kelompok ini termasuk hukum pidana dan hukum acara pidana.
Kejahatan sebagai masalah hukum adalah aspek pertama dari tindak kriminal itu
sendiri, karenakejahatan merupakan perbuatan-perbuatan yang melanggar
hukum
45
.
Ilmu-Ilmu forensik yang menangani tindak kriminal sebagai masalah
teknis. Kejahatan dipandang sebagai masalah teknis, karena kejahatan dari segi
wujud perbuatannya maupun alat yang digunakannya memerlukan penanganan
secara teknis dengan menggunakan bantuan diluar ilmu hukum pidana maupun
acara pidana.
Dalam kelompok ini termasuk ilmu kriminalistik, kedokteran forensik,
kimia forensik, fisika forensik, toksikologi forensik, serologi/biologi molekuler

45
http://www.scribd.com/doc/56433751/PengantarMenujuIlmuForensikFromWww
NaiksonComPengantarMenujuIlmuForensik
58


forensik, odontology forensik, dan entomogoli forensik. Pada umumnya suatu
laboratorium kriminalistik mencangkup bidang ilmu kedokteran forensik, kimia
forensik dan ilmu fisika forensik. Bidang kimia forensik mencakup juga analisa
racun (toksikologi forensik), sedangkan ilmu fisika forensik mempunyai cabang
yang amat luas termasuk: balistik forensik, ilmu sidik jari, fotografi forensik.
Pertanyaan peristiwa apa yang terjadi adalah mencari jenis kejahatan yang
terjadi, misalnya pembunuhan atau bunuh diri. Dengan bantuan ilmu kedokteran
forensik atau bidang ilmu lainnya, dapat disimpulkan penyebabnya adalah bunuh
diri. Oleh sebab itu penyidik tidak perlu melakukan penyidikan selanjutnya guna
mencari siapa pelaku dari peristiwa tersebut, karena kematian diakibatkan oleh
perbuatannya sendiri.
Ilmu-ilmu forensik yang menangani tindak kriminal sebagai masalah
manusia. Dalam kelompok ini termasuk kriminologi, psikologi forensik, dan
psikiatri/neurologi forensik. Kejahatan sebagai masalah manusia, karena pelaku
dan objek penghukuman dari tindak kriminal tersebut adalah manusia. Dalam
melakukan perbuatannya, manusia tidak terlepas dari unsur jasmani (raga) dan
jiwa. Disamping itu, kodrat manusia sebagai mahluk sosial, yang hidup di tengah-
tengah masyarakat.
Oleh karena itu perbuatan yang dilakukan juga dipengaruhi oleh faktor
internal (dorongan dari dalam dirinya sendiri) dan faktor eksternal (dipengaruhi
oleh lingkungannya).
Atas asas keadilan, dalam pemutusan sanksi dari tindak pidana, perlu
ditelusuri faktor-faktor yang menjadi sebab seseorang itu melakukan kejahatan.
Untuk itu perlu diteliti berbagai aspek yang menyangkut kehidupannya, seperti
faktor kejiwaan, keluarga, dan faktor lingkungan masyarakatnya. Seseorang
melakukan tindak kriminal mungkin didorong oleh latar belakang kejiwaannya,
atau karena keadaan ekonomi keluarganya, ataupun karena pengaruh dari keadaan
sosial masyarakatnya.
Dalam hal ini peran serta kriminolog, psikolog forensik, dan psikiater
forensik mempunyai peran penting dalam menyelesaikan kasus kejahatan.
Berdasarkan klasifikasi diatas peran ilmu forensik dalam menyelesaikan masalah /
kasus-kasus kriminal lebih banyak pada penanganan kejahatan dari masalah teknis
59


dan manusia. Sehingga pada umumnya laboratorium forensik dimanfaatkan untuk
kepentingan peradilan, khususnya perkara pidana.
Dalam sistem peradilan pidana yang berlaku di Indonesia, peradilan
perkara pidana diawali oleh penyidikan yang dilakukan oleh penyidik tunggal
(lebih tepatnya penyidik umum) yang dilakukan oleh kepolisian (Polri), dalam
khasus-khasus khusus (tindak kejahatan ekonomi dan pelanggaran Hak Asasi
Manusia) pihak kejaksaan dapat melakukan penyidikan.
Upaya penyidikan dilakukan setelah suatu peristiwa atau kejadian
dianggap peristiwa hukum, yaitu peristiwa atau kejadian yang dapat mengganggu
kedamaian hidup antar pribadi. Lingkup antar pribadi khususnya antara seseorang
(memikul kepentingan pribadi) dihadapkan dengan masyarakat atau negara yang
memikul suatu kepentingan umum. Penyelasaian kasus-kasus kriminal diperlukan
pembuktian peristiwa kasus yang terjadi sampai membuktikan pelaku yang
terlibat dalam tindak kriminal tersebut.
Pembuktian dari suatu perkara pidana adalah upaya untuk membuktikan
bahwa benar telah terjadi tindak pidana yang diperkarakan dan bahwa si
terdakwalah pelaku tindak pidana tersebut. Pembuktian dilakukan dengan
mengajukan alat bukti yang sah ke depan persidangan. Guna mendapatkan atau
setidak-tidaknya mendekati kebenaraan materiil, dalam pembuktian (penyidikan
dan pemeriksaan bukti fisik) harus dilakukan pembuktian secara ilmiah. Alat
bukti yang sah adalah alat bukti yang sesuai dengan hukum, yaitu memenuhi
prisip admissibility (dapat diterima) sebagaimana diatur oleh perundang-
undangan yang berlaku.

C. Hubungan Polisi Dengan Dokter Ahli Forensik Dalam Melakukan
Penyidikan.
Identifikasi forensik merupakan salah satu upaya membantu penyidik
menentukan identitas seseorang yang identitasnya tidak diketahui baik dalam
kasus pidana maupun kasus perdata.
Dalam proses penyidikan dapat berjalan dengan lancar maka penyidik dan
dokter ahli forensik perlu bekerjasama dan perlu mengetahui bagaimana cara
penanganan yang seharusnya bila mereka diharuskan melakukan pemeriksaan di
60


tempat kejadian perkara. Proses kerjasama tersebut dapat dilakukan antara lain
dengan
46
:
a. bilamana pihak penyidik mendapatkan sesuatu laporan bahwa telah
terjadi suatu tindak pidana pada suatu tempat yang menyangkut nyawa
manusia telah terjadi, maka pihak penyidik dapat meminta bantuan
dari dokter untuk melakukan pemeriksaan di TKP tersebut.
b. Dokter tersebut harus selalu mengingatkan untuk tidak melakukan
tindakan-tindakan yang dapat mrngubah, mengganggu atau merusak
keadaan di tempat kejadian perkara, walaupun sebagai kelanjutan dari
pemeriksaan itu dokter harus mengumpulkan bukti
c. Sebelum dokter memulai dan melakukan pemeriksaan maka terlebih
dahulu aparat keamanan haruslah menjaga keamanan di lokasi
kejadian dan dijaga keaslian TKP tersebut.
Namun sebelum dokter dating ke TKP maka ada beberapa hal yang perlu
dicatat mengingat akan pentingnya hal lain:
47

a. Siapa yang meminta datang ke TKP dan bagaimana pemintaan tersebut
sampai ke tangan dokter, dimana TKP serta saat permintaan diajukan
b. Dokter haruslah meminta informasi secara global tentang kasusnya
dengan demikian dokter dapat melakukan persiapan seperlunya
c. Dokter wajib mengingat moto to touch as little as possible and to
displace nothing
d. Di TKP dokter harus membuat foto dan sketsa yang mana yang harus
disampaikan dengan baik oleh karena ada kemungkinan ia
akandiajukan sebagai saksi di pengadilan.
e. Pembuatan foto atau sketsa itu harus memenuhi standart sehingga
kedua belah pihak yaitu dokter dan penyidik tidak akan memberikan
penafsiran yang berbeda atas objek yang sama.


46
AbdulMunimIdries,PedomanIlmuKedeokteranforensik,BinarupaAksara,Jakarta,
1997,hal286
47
Ibid,hal288
61


Pemeriksaan dalam kasus mutilasi bertujuan untuk menentukan apakah
potongan tersebut berasal dari manusia atau binatang. Bila berasal dari manusia,
ditentukan pula apakah potongan-potongan tersebut berasal dari satu tubuh.
Pemeriksaan meliputi penentuan jenis kelamin, ras, umur, tinggi badan
dan keterangan lain seperti cacat tubuh, penyakit yang pernah diderita, status
sosial ekonomi, kebiasaan-kebiasaan tertentu, sebab dan mekanisme kematian
serta cara dan saat dilakukan pemotongan tubuh apakah sebelum atau setelah
meninggal.
Untuk memastikan bahwa potongan tubuh berasal dari manusia dapat
digunakan beberapa pemeriksaan seperti pemeriksaan secara makroskopik,
mikroskopik, pemeriksaan serologi berupa reaksi antigen-antibodi (reaksi
presipitin), serta dengan pemeriksaan DNA.
Penentuan jenis kelamin dilakukan dengan pemeriksaan makroskopik,
antropologi, dengan pemeriksaan mikroskopik (pemeriksaan kromatin seks wanita
seperti drum stick pada leukosit dan Barr body pada sel atau pemeriksaan y
fluorescein body pada sel), serta pemeriksaan DNA.
Upaya identifikasi pada kerangka bertujuan untuk membuktikan bahwa
kerangka tersebut adalah kerangka manusia, ras, jenis kelamin, perkiraan umur,
tinggi badan, parturitas (riwayat persalinan), ciri-ciri khusus, deformitas, dan bila
memungkinkan dapat dilakukan superimposisi serta rekonstruksi wajah. Dicari
pula tanda kekerasan pada tulang. Perkiraan saat kematian dilakukan dengan
memperhatikan keadaan kekeringan tulang.
Bila terdapat dugaan berasal dari seseorang tertentu, maka dilakukan
identifikasi dengan membandingkan data-data hasil pemeriksaan dengan data-data
antemortem. Bila terdapat tulang tengkorak yang utuh dan terdapat foto terakhir
wajah orang tersebut semasa hidup, maka dapat dilakukan metode superimposisi,
yaitu dengan menumpukkan foto Rontgen tulang tengkorak di atas foto wajah
yang dibuat berukuran sama dan diambil dari sudut pemotretan yang sama.
Dengan demikian dapat dicari adanya titik-titik persamaan. Pada keadaan
tersebut dapat pula dilakukan pencetakan tengkorak tersebut lalu dilakukan
rekonstruksi wajah dan kepala pada cetakan tengkorak tersebut dengan
menggunakan materi lilin atau gips sehingga dibentuk rekaan wajah korban.
62


Rekaan wajah tersebut kemudian ditunjukkan kepada tersangka keluarga korban
untuk dikenali.
Pemeriksaan antropologi dilakukan untuk memperkirakan apakah
kerangka adalah kerangka manusia atau bukan. Jika dengan pemeriksaan tersebut
masih diragukan, misalnya jika yang ditemukan hanya sepotong tulang saja, maka
perlu dilakukan pemeriksaan serologi (reaksi presipitin), histologi (jumlah dan
diameter kanal-kanal Havers), dan bahkan dengan pemeriksaan DNA.
Penentuan ras dilakukan dengan pemeriksaan antropologi pada tengkorak,
gigi geligi, dan tulang panggul atau tulang lainnya. Tonjolan pipi dan gigi
insisivus atas pertama yang berbentuk seperti sekop serta adanya torus palatinus
yang menonjol memberi petunjuk ke arah ras Mongoloid.
Jenis kelamin ditentukan berdasarkan pemeriksaan tulang panggul, tulang
tengkorak, serta luka-luka lainnya. Pada hampir semua tulang dapat dijumpai
adanya perbedaan bentuk dan ukuran antara pria dan wanita (dimorfisme seksual).
Perkiraan umur dapat pula diperiksa melalui pemeriksaan gigi dilakukan
dengan melihat pertumbuhan dan perkembangan gigi (intrauterin, gigi susu 6
bulan-3 tahun, masa statis gigi susu 3-6 tahun, geligi campuran 6-12 tahun).
Tinggi badan seseorang dapat diperkirakan dari panjang tulang-tulang atau
bagianbagian tubuh tertentu dengan menggunakan faktor multiplikasi, rasio atau
proporsi, serta rumus yang menghubungkan antara panjang bagian tersebut
terhadap tinggi badan. Tulang yang diukur dalam keadaan kering biasanya lebih
pendek 2 mm dari tulang yang segar, sehingga dalam menghitung tinggi badan
perlu diperhatikan.
Dari hasil pemeriksaan tim timbulah surat ketrangan hasil pemeriksaan
tersebut. Masalah visum adalah masalah utama yang menghubungkan dokter
dengan kalangan penyidik atau kelangan peradilan, maka pemahaman mengenai
masalah ini harus dikuasai dengan baik, tidak saja untuk kalangan dokter tetapi
juga untuk penyidik, penuntut umum, pembela dan hakim pengadilan.




63


D. Peran Ilmu Kedokteran Forensik dalam Putusan Nomor 511/ Pid.B/
2009/ PN.TNG
Berdasarkan kasus yang penulis dapat dari pengadilan negeri Tangerang,
dimana penulis menganalisa dokter sebagai saksi ahli, baik melalui surat Visum
Et Repertum atau pun dokter yang menjadi sebagai saksi ahli.
Didalam kasus pembunuhan mutilasi yang dilakukan oleh terdakwa Sri Rumiyati
als. Temi Als. Yati Binti Parmoto dengan korban suaminya sendiri yang bernama
Hendra, dimana pada tanggal 29 September 2008, telah terjadi pertengkaran
antara terdakwa dengan korban. Akibat pertengakaran tersebut dan rasa sakit hati
yang diterima terdakwa, akibat rasa sakit tersebut terdakwa membunuh korban
dengan cara menghantam batu ke kepala korban sebanyak tiga kali. Setelah
memastikan korban tidak bernyawa lagi, terdakwa membuang barang bukti batu
kali ke tempat semula yaitu sekitar rumahnya. Dikarena takut diketahui orang dan
terinspirasi oleh pembunuhan yang dilakukan oleh Ryan, akhirnya terdakwa
melakukan mutilasi korban.
Dan berdasarkan surat dari Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan
medikolegal Fakultas Kedokteran UI Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo No.
1315/SK-II/IX/2008 tertanggal 29 September 2008 yang ditandatangani oleh Prof
Budi Sampurna, SpF, SH. SpKP, dokter spesialis forensik pada fakultas
kedokteran UI telah melakukan pemeriksaan atas jenjah yang bernama : Anonim
dan berjenis kelamin laki-laki. Dimana hasil pemeriksaan yaitu potongan tubuh
manusia laki-laki yang terdiri atas 13 bagian dengan tepi rata dengan rincian
sebagai berikut:
a. Satu bagaian jaringan belakang tubuh
b. Satu bagian jaringan dada kanan
c. Satu bagian jaringan leher sampai dada kiri
d. Satu bagian jaringan perut kanan bawah
e. Satu bagian jaringan perut bawah tengah sampai kemaluan
f. Satu bagian jaringan perut bagian kiri sampai punggung kiri
g. Satu bagian jaringan paha kiri
h. Satu bagian jaringan kulit
i. Satu bagian jaringan selaput dinding perut
64


j. Satu bagian lengan atas kiri, pada sisi luar terdapat tato bergambar wajah
macan berwarna hitam dan hijau berukuran tujuh senti meter kali lima
senti meter.
k. Satu bagian lengan bawah kanan
l. Satu pasang kaki kanan dan kiri
Kesimpulan dari pemeriksaan potongan tubuh manusia laki-laki yang
terdiri dari 13 jaringan tubuh ini ditemukan luka-luka dengan tepi rata yang
diakibatkan kekerasan benda tajam, pemeriksaan selanjutnya menunggu hasil
histopatologi.
Berdasarkan surat keterangan dari pusat kedokteran dan kesehatan Polri
bidang kedokteran kepolisian No: R/08021B/DNA/X/2008 tertanggal 31 Oktober
2008 yang ditangani oleh ketua Tim Pemeriksa DNA, Drs. Putut T. Widodo,
DFM, M.Si berkesimpulan : Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA, membuktikan
bahwa sangat Kuat Mr. X adalah ayah biologis dari Kristian Wijaya.
Berdasarkan Berita Acara pemeriksaan laboratoris kriminallistik No.
Lab:1896/KBF/2008 Tertanggal 5 Nopember 2008 yang ditandatangani oleh
pemeriksa H. yulianto, B.Sc.Dpl.T Dra Endang, S.M, Apt.M.Biomed, I. Made
Wiranatha, S.Si dan irfan Rofik, S.Si serta mengetahu kepala pusat laboratorium
Forensik Drs. M. Ruslan Riza dengan kesimpulan dari hasil pemeriksaan barang
bukti secara laboratories kriminalitik tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut:
barang bukti berupa 1 usapan dilantai dan 1 buah kerikan pada tembok tersebut
adalah benar terdapat darah manusia dan mempunyai golongan darah yang sama
dengan Krsitian Wijaya bergolongan darah B.
Selanjutnya berdasarkan berita acara surat keterangan Ahli pemeriksaan
DNA bidang kedokteran kepolisan pusat kedokteran dan kesehtaan Polri nNo:
R/0821 C/ DNA/X/2008/Biddokol Tanggal 24 Nopember 2008 yang
ditandantangani oelh ketua Tim pemeriksa Drs. Putut T. Widodo , DFM, M.Si.
dengan kesimpulan berdasarkan analisa dan hasil perhitungan pemeriksaan DNA,
maka dapat disimpulkan bahwa sampel bercak yang diambil dari rumah kontrakan
H. Jamhari Kmapung teriti RT.04/04 Desa Karet Kecamatan Sepatan Tangerang,
adalah identik dengan korban mutilasi 13 potongan di jalan. Raya Bekasi Km. 18
Rt19/11 yaitu ayah biologis dari Kristian Wijaya.
65


KUHAP pasal 133 ayat 2: permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud
dalam ayat 1 dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan
tegas untuk pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
Dari hasil pemeriksaan ahli forensik diatas sesuai dengan pasal 133 ayat 2 yang
digunakan sebagai barang bukti di dalam persidangan. Pasal ini menghilangkan
keragu-raguan, siapa sesungguhnya yang menentukan apakah mayat harus
dibedah atau tidak perlu menjadi jelas, yaitu oleh penyidik. Pasal ini akan
mengatasi masalah dalam menghadapi keluarga korban yang keberatan dilakukan
autopsi, di mana penyidik masih berdalih terserah kepada dokter mau di autopsi
atau tidak.
Apabila ada pihak keluarga yang menghalang-halngi pemeriksaan maka pihak
penyidik dapat menetapkan pasala 222 KUHP yang menyatan barang siapa
mencegah atau menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan forensik
diancam denga pidana 1 bulan
Tata cara pemeriksaan mayat / tubuh manusia di atur dalam pasal 133 KUHP
yang menyebutkan bahwa :
1. Untuk kepentingan pengadilan seorang korban berwenang mengajukan
permintaan keterangan ahli baik dari dokter kehakiman atau dokter lain.
2. Permintaan keterangan ahli itu di ajukan dengan surat dan isinya di
sebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka, mayat atau badan mayat.
3. Mayat yang di kirim ke pada ahli kedokteran kehakiman harus di
perlakukan dengan cara penuh rasa hormat dan di beri lebel yang memuat
identitas mayat. Dengan di beri cap jabatan di bagian lain tubuh mayat.
Sebetulnya semua mayat harus di bedah, untuk menentukan sebab kematian,
pemeriksaan luar di perlukan jika kelak perkaranya tidak di teruska ke
pengadilan negri. Mengenai hal ini ada intruksi Kapolri No. Pol. INSE /
20/IX/75 tentang tata cara mengajukan permohonan/ pencabutan visum Et
Repertum .