Anda di halaman 1dari 3

Ratna Haidining Tyas 1 [Type the document title]

Kawanan Elektronik (The Electronic Herd) dalam Kesenjangan Digital (Digital Divide) Thomas Friedman memberikan analogi mengenai dampak dari munculnya globalisasi terhadap arus kapital di dunia menjadi seperti kawanan elektronik (electronic herd). Sebelum membahas lebih lanjut mengenai bagaimana kawanan elektronik ini bekerja, Friedman terlebih dahulu menjelaskan bahwa globalisasi sekarang ini bukan sebuah pilihan, namun merupakan sebuah kenyataan dimana segala entitas yang ada didunia ini mau tidak mau harus terkena dampak dari globalisasi itu sendiri (Friedman 2000, p. 112). Friedman kemudian menjelaskan bahwa hanya terdapat sebuah pasar global saja dalam hal pasar saham dan obligasi. Pasar global inilah yang kemudian dianalogikan oleh Friedman sebagai suatu kawanan elektronik dimana dalam kawanan elektronik terdapat berbagai objek pemasaran seperti obligasi, saham, perdagangan mata uang, investasi multinasional yang kesemuanya dihubungkan atau disatukan melalui adanya layar dan jaringan sebagai representasi dari globalisasi itu sendiri. Kawanan elektronik muncul sebagai akibat dari adanya globalisasi pasca Perang Dingin yang kemudian semakin mengaburkan batas-batas kenegaraan sehingga arus kapital menjadi lebih deras mengalir ke berbagai penjuru dunia melalui perkembangan teknologi dan informasi yang semakin pesat. Kawanan elektronik memiliki beberapa aturan didalam proses kerjanya dimana dalam kawanan elektronik harus ada konsistensi dalam melakukan perdagangan atau melakukan arus perpindahan objek tersebut diatas, bahwasannya Friedman menyebutkan, ketika suatu negara misalnya melakukan overborrowing atau overbuilding atau dengan kata lain tidak konsisten dan keluar dari batas sewajarnya, maka negara tersebut telah melanggar aturan dalam kumpulan elektrnik dan akan mendapatkan sangsi, dimana sangsi tersebut merupakan sangsi yang diberikan oleh system yang sedang berjalan, yaitu kawanan elektronik. Friedman menyajikan sebuah contoh kasus tentang pelanggaran yang dilakukan oleh Malaysia terhadap system kawanan elektronik ini ketika Malaysia memutuskan untuk melakukan pembangunan yang kesannnya agak memaksa karena tidak terlalu dibutuhkan yaitu pembangunan dua menara tertinggi di negara tersebut. Pasca dilakukan pembangunan menara tersebut, bahkan menara tersebut pada mulanya tidak digunakan hamper lebih dari separo bagiannya. Ini berarti bahwa Malaysia sebenarnya tidak terlalu membutuhkan adanya menara tersebut, namun overbuilding yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia kemudian membuat negara ini menerima sangsi dari system

Ratna Haidining Tyas 2 [Type the document title]

yang ada yang secara otomatis berjalan. Selama hampir 26 tahun, nilai mata uang Malaysia anjlok dan indeks KLCI jatuh hingga menyentuh angka 48% pada tahun 1997 (ibid). Selain itu, pemerintahan yang baik (good government) dan manajemen perekonomian yang benar juga menjadi aturan main didalam kawanan elektronik. Friedman menganalogikan kawanan elektronik seperti listrik bertekanan tinggi didalam suatu rumah, bilamana dalam keadaan yang normal dan sesuai kebutuhan, listrik tersebut akan menjadi sumber energy yang diperlukan baik penerangan maupun memenuhi kebutuhan lainnya didalam rumah, sebaliknya, ketika listrik tersebut dialirkan dengan tekanan yang berlebihan maka akan terjadi konslet yang akan membakar rumah tersebut bahkan akan memanggang penghuninya. Friedman mengkategorikan kawanan elektronik menjadi dua analogi yaitu kawanan ternak bertanduk pendek (short-horn cattle) dan kawanan ternak bertanduk panjang (long-horn cattle). Short-horn cattle adalah istilah untuk kondisi dimana manusia diseluruh dunia dapat masuk dalam pasar saham global dan melakukan jual-beli baik saham, oblogasi dan mata uang dalam jangka waktu yang relatif pendek. Yang terlibat dalam kelompok ini biasanya adalah pedagang mata uang atau broker, reksa dana dan pensiun utama, hedge fund, perusahaan asuransi, perdagangan perbankan dan investor individu. Sementara long-horn cattle merupakan kelompok dalam pasar global yang pada prosesnya memakan waktu yang cukup lama. Actor yang terlibat dalam kelompok ini misalnya perusahaan multinasional dimana akan dibutuhkan komitmen waktu yang cukup lama dalam melakukan investasi pada suatu negara tertentu. Selain kawanan elektronik, Friedman juga menyuguhkan konsep tentang supermarket dimana supermarket merupakan tempat untuk melakukan jual-beli dalam ranah global, seperti misalnya supermarket dan megamarket yang ada di Tokyo, Hongkong dan Shanghai. Dalam sistem globalisasi sekarang ini, kawanan elektronik dan supermarket merupakan actor yang penting, jika sebelum Perang Dingin system yang ada adalah balance of power antar negara, saat ini balance of power yang terjadi adalah antara negara dengan kawanan elektronik dan dengan supermarket. Dalam globalisasi, adanya kawanan elektronik kemudian semakin membuat nyata adanya ukuran, kecepatan dan heterogenitas kapital dalam sistem. Menurut Friedman, adanya kawanan elektronik sebagai implikasi dari globalisasi ini kemudian semakin menghilangkan digital divide atau inequality dalam digitalisasi atau penerimaan teknologi dan informasi yang kemudian berperan dalam mempermudah arus kapital atau perekonomian antara

Ratna Haidining Tyas 3 [Type the document title]

negara maju dengan negara berkembang atau kurang berkembang, sebagaimana ia menyatakan bahwa; poor countries with large investment needs, are no longer hamstrung by a lack of capital (ibid, p.115) Namun, kawanan elektronik ini juga kemudian menjadi sangat sensitif dan akhirnya berbahaya bilamana aktor yang terlibat didalamnya tidak mematuhi aturan-aturan yang berlaku sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya atau bilamana aktor yang terlibat tidak dapat menerima kemajuan teknologi dan informasi yang begitu drastisnya. Selain itu, fluktuasi dan kecepatan arus kapital juga dianggap berbahaya karena dapat menjadi boomerang bagi negara yang bersangkutan. Jika merujuk pada penjelasan Friedman, maka sistem globalisasi yang menciptakan kawanan elektronik ini merupakan tatanan baru dalam perkembangan informasi dan teknologi seperti sekarang ini, dimana arus kapital kemudian dapat dengan mudah mengalir ke segala penjuru dunia dalam waktu yang cepat. Penulis berpendapat bahwa konsepsi Friedman mengenai kesenjangan digital yang akhirnya akan berimplikasi pada kesenjangan kapital yang dapat diatasi oleh adanya kawanan elektronik disisi lain justru akan semakin menciptakan kesenjangan atau digital divide itu sendiri, dimana untuk negara-negara yang belum mampu menerima derasnya arus globalisasi akan justru semakin tertinggal dan jika-pun arus investasi yang masuk cukup besar, namun negara tersebut justru akan menjadi tempat eksploitasi investor-investor asing yang memiliki kepentingan berbasis kapitalisme, dimana kecenderungan kontrol dari pemerintah negara-negara kurang berkembang yang kurang baik akan memperburuk keadaan, sebagaimana dijelaskan oleh Friedman sendiri bahwa good government merupakan prasyarat dari keterlibatan suatu actor dalam kawanan elektronik. Referensi: Friedman, Thomas L., 2000, Electronic Herd, dalam The Lexus and The Olive Tree: Understanding Globalization, New York, Anchor Books, p. 112-142