Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK I

PERCOBAAN V
PEMBUATAN GARAM KOMPLEKS TETRA AMIN TEMBAGA (II) SULFAT
MONOHIDRAT Cu (NH3)4 H2O DAN GARAM RANGKAP AMONIUM
TEMBAGA (II) SULFAT HEKSAHIDRAT Cu (SO4)2 (NH4)2 6 H2O

OLEH
NAMA

: EKA SAFUTRA

STAMBUK

: F1C1 10 069

KELOMPOK

: V (LIMA)

ASISTEN

: LD. MUH. ARSYAD

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011

PEMBUATAN GARAM KOMPLEKS TETRA AMIN TEMBAGA (II) SULFAT


MONOHIDRAT Cu (NH3)4 H2O DAN GARAM RANGKAP AMONIUM
TEMBAGA (II) SULFAT HEKSAHIDRAT Cu (SO4)2 (NH4)2 6 H2O

A.

Tujuan
Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk memberikan gambaran bagaimana cara

membuat garam kompleks Tetra Amin Tembaga (II) Sulfat Monohidrat dan garam
rangkap Amonium Tembaga (II) Sulfat Heksahidrat.

B.

Landasan Teori
Dalam artian luas senyawa kompleks adalah senyawa yang terbentuk karena

penggabungan 2 atau lebih senyawa yang masing-masing dapat berdiri sendiri, misalnya
dalam proses penggabungan seperti berikut :
A +

AB

Senyawa AB dapat dianggap sebagai senyawa kompleks kendatipun hampir semua hasil
reaksi kimia dapat dianggap sebagai senyawa kompleks namun yang penting untuk
pemeriksaan kimia adalah senyawa kompleks koordinasi. Ikatan kovalen antara ion
logam pusat dengan ligan membedakan senyawa kompleks koordinasi sebagai golongan
tersendiri senyawa kimia yang mempunyai susunan dan bangun tertentu. Pada beberapa
senyawa komplek itu ikatan kimia tersebut begitu kuat sehingga senyawa kompleks
dapat dipisahkan sebagai senyawa kimia tertentu. Pada beberapa senyawa kompleks
koordinasi lainnya ikatan antara ion senyawa-senyawa kompleks seperti itu bisa terurai
namun kesetimbangannya dapat berpindah kearah kompleks mula-mula (Rivai, 1995).

Reaksi yang terbentuk kompleks dapat dianggap sebagai reaksi asam basa Lewis
dengan ligan bekerja sebagai basa dengan memberikan sepasang elektron kepada kation
yang merupakan suatu asam. Ikatan yang terbentuk antara atom logam pusat dan ligan
sering kovalen, tetapi dalam beberapa keadaan interaksi dapat merupakan gaya penarik
coulomb. Beberapa kompleks mengadakan reaksi subsitusi dengan sangat cepat., dan
kompleks demikian dikatakan stabil. Beberapa kompleks mengadakan reaksi subsitusi
hanya dengan sangat perlahan dan dikatakan tidak labil atau inert. Hampir semua
kompleks yang terbentuk dari kobalt dan krom pada keadaan oksidasi +3 adalah inert,
sedang hampir kebanyakan kompleks yang lain dari deret pertama logam transisi adalah
labil. Molekul atau ion yang bertindak sebagai ligan biasanya mempunyai atom
elektronegatif , misalnya nitrogen, oksigen, atau salah satu dari halogen. Ligan yang
hanya mempunyai sepasang elektron tak dipakai bersama, misalnya NH 3, dikatakan
unidentat. Ligan yang mempunyai dua gugus yang mampu membentuk dua ikatan
dengan atom sentral dikatakan bidentat (Underwood, 1981).
Ion kompleks dapat berupa kation atau anion seperti ion [Ag (NH3)3+] dan Fe
(CN)62-. Ion kompleks terdiri dari ion logam yang dikelilingi sejumlah ligan yang dapat
berupa molekul atau ion yang mempunyai pasngan electron bebas. Karena pada
umumnya ion logam pada ion kompleks mempunyai orbital d yang masih kosong , maka
ikatan yang terjadi antara ion logam dan ligan adalah ikatan kovalen koordinasi. Pada
awalnya G.N. Lewis dan N.V. Slagwick menggunakan pengertian nomor atom efektif
untuk menjelaskan ikatan pada ion kompleks, yang kemudian dilanjutkan dengan teori
koordinasi yang dikemukakan oleh Alfred Werner. Dengan berkembangnya teori
mengenal atom dan ditemukannya sifat-sifat ion kompleks seperti bentuk geometri.,

warna, kestabilan dan sifat magnet dapat dijelaskan melalui pendekatan yang
menggunakan teori ikatan valensi, teori orbital molekul dengan teori medan magnet
(Syarifuddin, 1994).
Orang yang pertama berjaya memberikan asas kepada pemahaman struktur
senyawa kompleks ialah Alferd Werner, seorang professor Kimia di Zurich yang telah
memenangi hadiah nobel pada tahun. Pada usia 26 tahun (1893) Warner telah
manyatakan tiga postulat mengenai senyawa kompleks, yaitu :
(i)

Logam mempunyai dua jenis valensi :


a) Valensi primer (yang sama dengan keadaan pengoksidaan) dan
b) Valensi sekunder (yang sama dengan nomor koordinatan)

(ii)

Setiap unsure memenuhi keperluan dua valensi ini

(iii)

Valensi sekunder diarahkan kepada kedudukan tetap dalam ruang


Beberapa kompleks yang telah ditemui pada masa itu mempunyai nomor

koordinat enam dan ini menimbulkan soalan bagaimanakah enam ligan ini dapat disusun
pada ruang sekeliling atom pusat. (Baba dan Othman, 2005)
Garam rangkap adalah garam yang dalam kisi kristalnya mengandung dua kation
yang berbeda dengan proporsi tertentu. Garam rangkap biasanya lebih mudah
membentuk kristal besar dibandingkan dengan garam-garam tunggal penyusunnya.
Contoh kristal garam rangkap adalah garam Mohr. Kombinasi antara ammonium besi
(II)

sulfat,

ammonium

cobalt

(II)

sulfat

dan

ammonium

nikel

sulfat.

Ketiga garam diatas memiliki ion ammonium dan sulfat, tapi dengan atom pusat yang
berbeda.

Garam kompleks merupakan kebalikan dari garam rangkap, di mana terbentuk


kombinasi dari beberapa garam yang memiliki atom pusat yang sama namun dengan sisa
ion yang berbeda. Misalnya ammonium besi (II) sulfat dan kalium besi (II) nitrat
(www.Southeast Asia Pte.com)
Tembaga membentuk banyak senyawaan dimana jarak Cu-Cu cukup pendek
untuk mencirikan interaksi M-M secara tepat, namun tidak ada kasus dengan ikatan
sebenarnya. Contoh khusus adalah karboksilat berjembatan dan kompleks yang
berhubungan 1,3-triazinato. Meskipun dalam kasus lain karboksilat dengan struktur yang
sama terdapat M-M yang tertentu, ini tidak demikian untuk Cu. Meskipun demikian,
terdapat kopling lemah dan elektron tidak berpasangan, salah ion Cu2+ menaikan
keadaan dasar singlet dengan keadaan triplet yang terletak hanya beberapa kJ mol-1
diatasnya. Keadaan yang belakang dengan demikian ditempati pada suatu normal dan
semuanya paramagnetik (Cotton, 1982).
Jika garam mengandung garam amonium (atau larutan ini sangat asam dan
amonia yang dipakai untuk menetralkannya sangat banyak), pengendapan tak terjadi
sama sekali , tetapi warna biru langsung terbentuk. Reaksi ini adalah khas untuk ion
tembaga (II) dengan adanya nikel(Vogel, 1985)

C. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu :
a. . Alat
-

Erlenmeyer 50 ml

Spatula

Gelas kimia 150 ml 2 buah

Botol semprot

Batang pengaduk

Pemanas listrik

Pipet ukur 10 ml

Timbangan analitik

b. Bahan
-

Amonnia 5 ml 20%

Tembaga (II) sulfat

Aquades

Etanol

CuSO4 .5H2O

Es batu

D.

Prosedur Kerja
1. Pembuatan garam rangkap

2,495 gram CuSO4 .5H2O


- ditambahkan ammonium sulfat 1,32 g
- ditambah H2O 10 ml
- dipanaskan
Larutan garam
- dibiarkan semalam
- didinginkan dengan es batu
- didekantasi
- disaring
Kristal
- di catat mol deaktan dan mol kristal
- dihitung % rendemen
Rendemen sebesar 68,0630 %

2. Pembuatan garam kompleks


Larutan amonia
- ditambah 2,495 gram CuSO4 .5H2O
- diaduk tinggal kristal larut
- ditambah 8 ml etil alkohol
- didiamkan semalam
- diaduk pelan-pelan
- dipisahkan dan didekantasi
- disaring
- dicuci dengan 3,5 ml NH4 : etil alkohol
- dicuci dengan 5ml etil alkohol
- dikeringkan
- ditimbang
- dihitung rendamennya

rendamen = 72,0122 %

E. Hasil Pengamatan
a. Pembuatan garam rangkap CuSO4 ( NH4) 2 SO4 .6 H2O
- Berat CuSO4 .5H2O

= 1,249 gram

- Bentuk kristal

= monoklin

- Warna kristal

= biru muda

- Berat kristal

= 2,5310 gram

- Berat ( NH4) 2 SO4

= 0,66 gram

% Rendemen kristal
Reaksi : CuSO4 .5H2O + ( NH4) 2 SO4 + H2O

1,249 gram
Berat
= 249,5 gram / mol = 0,005 mol CuSO4 .
Mr

Mol CuSO4 .5H2O =

5H2O

CuSO4( NH4) 2 SO4 .6 H2O

Mol (NH4)2SO4

Berat
=
Mr

0,66 gram
132 gram / mol

= 0,005 mol

(NH4)2SO4
Mol kristal CuSO4(NH4)2 SO4. 6H2O mol CuSO4.5H2O mol (NH4)2 SO4
= 0,01 mol CuSO4 (NH4)2 SO4.6H2O
Berat CuSO4(NH4)2 SO4.6H2O teoritis = 0,005 mol CuSO4 (NH4)2.6H2O x
399,5 g/mol
= 1,9975 gram CuSO4 (NH4)2.6H2O
% Rendemen

Berat kristal sec ara praktek


Berat kristal teoritik
2,5310 g

= 1,9975 g x 100 % = 126,7 %

x 100 %

b. Pembuatan garam kompleks Cu(NH3)4 SO4. H2O


Berat CuSO4.5H2O

1,249 gram

Bentuk kristal

= tetrahedral

Warna kristal

Berat Kristal

= 2,0837 gram

Biru tua

Mol kristal .?
Reaksi :
NH3 + H2O

NH4OH

4 NH4OH + CuSO4.5H2O

Cu (NH3)4 SO4.H2O + 8 H2O

3,75 gram

Mol CuSO4.5H2O = 375 gram / mol = 0,01 mol CuSO4.5H2O


Mol Cu (NH3)4 SO4.H2O Mol CuSO4.5H2O
Massa Cu(NH3)2(SO4)H2O = (mol x Mr) Cu(NH3)4(SO4)H2O
= 0,01 mol x 246 gram/mol
= 2,46 gram

% rendamen =

Berat eksperimen CuSO4 ( NH 3 ) 4 H 2 O


x 100 %
Berat teoritis CuSO4 ( NH 3 ) 4 H 2 O

1,7715 gram
x 100 %
2,46 gram
= 72,0111 %
=

F. Pembahasan
Kompleks terbentuk dari suatu reaksi ion logam, yaitu kation dengan suatu
anion atau molekul netral. Ion logam di dalam kompleks disebut atom pusat dan
kelompok yang terikat pada atom pusat disebut ligan. Jumlah ikatan terbentuk oleh atom
logam pusat disebut bilangan koordinasi dari logam.
Reaksi yang membentuk kompleks dapat dianggap sebagai reaksi asam basa
Lewis dengan ligan bekerja sebagai basa dengan memberikan sepasang electron kepada
kation yang merupakan suatu asam. Ikatan yang terbentuk antara ataom logam pusat
dengan ligan sering kovalen, tetapi dalam beberapa keadaan interaksi dapat merupakan
gaya penarik coulomb. Beberapa kompleks mengadakan reaksi subtitusi dengan sangat
cepat, dan kompleks demikian dikatakan labil
Dalam setiap kasus tembaga (ion Cu2+) jika membentuk senyawa kompleks,
maka kompleks tembaga mempunyai bilangan koordinasi enam, dimana empat ligan
bertetangga dalam bidang segi empat membentuk struktur oktahedral.
Pada percobaan ini terhadap pembuatan garam rangkap amonium tembaga (II)
sulfat heksahedrat. Garam rangkap adalah suatu garam yang terbentuk atas 2 senyawa
yang berbeda. Dalam percobaan ini Cu(SO4)4 5H2O direaksikan dengan (NH4)2 SO4.
Cu(SO4)4 5H2O digunakan dalam percobaan ini karena Cu(SO4)4 5H2O merupakan garam
rangkap sedangkan (NH4)2 SO4 dapat larut pada garam rangkap.
Pada pembuatan garam rangkap ini, larutan yang terbentuk dipanaskan dengan
tujuan agar larutan tersebut mudah bereaksi serta untuk mempertahankan air yang ada
dalam larutan campuran. Sedangkan untuk proses pendinginan pada temperatur kamar
dilakukan agar larutan campuran tersebut dapat dengan mudah membentuk kristal.

Kristal yang ada disimpan semalam supaya dapat diperoleh kristal yang lebih banyak
lagi. Dan dari hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh berat kristal secara
eksperimen sebesar 1,05 gram, dan dari data yang ada didapatkan persen rendamen
Cu(SO4)2(NH4)26H2O sebesar 68,0630 %. Adapun reaksi yang terjadi yaitu sebagai
berikut :
CuSO4 5 H2O + (NH4)2 SO4 + H2O Cu(SO4)2(NH4)26H2O
Selanjutnya, dilakukan pengamatan terhadap pembuatan garam kompleks tetra
main tembaga (II) sulfat monohidrat, dimana yang terbentuk adalah suatu garam
kompleks, yaitu suatu garam yang terbentuk karena adanya ion kompleks. Dalam
perlakuan ini larutan amonia direaksikan dengan CUSO45H2O, larutan amonia
digunakan karena amonia merupakan zat pengompleks, ion tembaga berfungsi sebagai
atom pusat dan air, sulfat berfungsi sebagai ligan. Dari hasil yang diperoleh larutan yang
direaksikan ternyata membentuk larutan yang berwarna biru tua. Warna yang terbentuk
merupakan hasil oksidasi dari larutan amonia yang berwarna biru. Sedangkan untuk
penambahan etil alkohol berfungsi sebagai zat penghambat terjadinya reaksi antara
komponen-komponen pereaksi.

Larutan yang ada disimpan semalam agar dapat

diperoleh kristal, namun dari hasil pengamatan ternyata tidak terdapat kristal. Hal
kemungkinan disebabkan oleh bahan yang digunakan rusak atau kemungkinan
disebabkan karena kesalahan dari praktikan dalam melakukan percobaan. Dan dari hasil
tersebut diperoleh mol amoniak 11 M sebesar 0,0286 mol, sehingga dengan perhitungan
stoikiometri diperoleh berat Kristal Cu(NH 3)4 SO4. H2O 1,7715 gram dan rendamen
sebesar 72,0122 %.

G. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang diperoleh dari percobaan ini adalah pembentukan
garam kompleks dapat dilakukan dengan mereaksikan CUSO45H2O (terusi) yang
bertindak sebagai logam dan amoniak pekat bertindak sebagai ligan. Rendamen yang
diperoleh pada pembentukan garam kompleks sebesar 34,59 %. Sedangkan
pembentukan garam rangkap dilakukan dengan mereaksikan Cu(SO4)4 5H2O (terusi)
bertindak sebagai ligan dan amonium sulfat sebagai ligan rangkap.

DAFTAR PUSTAKA

Baba, Ibrahim dan Othman, Abdul Hamid. 2005. Kimia Koordinatan, Diakses tanggal
24 Septemeber 2008
Cotton, Wilkinson, 1994. Kimia Anorganik Dasar I. Universitas Indonesia. Jakarta.
Rivai, Harrizul, 1995. Asas-Asas Pemeriksaan Kimia. Universitas Indonesia. Jakarta.
Syarifuddin, Nuraini, 1994. Ikatan Kimia. Universitas Indonesia. Jakarta.
Vogel, 1995, Analisis Anorganik Kualitatif Makro Dan Semi Mikro. PT Kalman Media
Pustaka. Jakarta.
www.Southeast Asia Pte.com, diakses tanggal 24 September 2008.