Anda di halaman 1dari 13

STATUS PSIKIATRI

Oleh : Holly Diany 08711102 / 12712158

Pembimbing : dr. Hj. Anisa Renang, M.Sc., Sp.Kj

Pendidikan Klinik Ilmu Penyakit Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. RM. Soedjarwadi Klaten 2013 1

I.

Identitas Pasien Nama Usia Jenis Kelamin Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat Status Tanggal masuk Tanggal Pemeriksaan No.RM Tempat Pemeriksaan

: Tn. H : 49 th : Laki-laki : Islam : SLTA : PNS : Dukuh Kuncen RT 004 RW 003 Desa/Kelurahan Delanggu, Kecamatan Delanggu : Menikah : 17 April 2013 : 17 April 2013 : 018625 : UGD, RSJD dr. RM. Soedjarwadi, Klaten

II.

Anamnesis A. Keluhan Utama : Sering mengamuk dan memukul wajahnya sendiri serta membawa senjata tajam ketika tidur. B. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke UGD RSJD dr. RM. Soedjarwadi, Klaten, pukul 18.00 WIB diantar oleh istri dan tetangganya. Menurut Ny. U yang merupakan istri pasien, pasien sering memukul-mukul wajahnya sendiri dengan menggunakan kedua tangannya karena merasa ada makhluk halus yang mengendalikan tubuhnya terutama pada bagian mulutnya. Selain itu, pasien juga sering mengamuk dan membanting-bantingkan barang yang berada didekatnya lalu membuangnya ke sumur yang berada didalam rumah dekat dengan dapur serta bila pasien hendak tidur, pasien selalu membawa senjata tajam berupa arit. Bicaranya pun kacau. Keluhan ini dialami pasien sejak 1 minggu yang lalu. Melihat kejadian tersebut, Ny. U kemudian merasa sedih dan kasihan serta membawa pasien ke UGD RSJD dr. RM. Soedjarwadi, Klaten dibantu oleh Ny. D, yang merupakan tetangga pasien. Menurut Ny. U, bila pasien ditanya kenapa pasien sering memukul-mukul wajahnya sendiri, pasien selalu mengatakan bahwa pasien merasa dirasuki oleh makhluk halus yang berada di tubuhnya. Pasien juga meyakini bahwa makhluk halus tersebut menginginkan nyawanya dan hanya paranormal saja yang bisa mengeluarkan makhluk halus tersebut dari tubuh pasien. Selain itu, menurut pasien, sang paranormal yang diyakininya, telah memberikan air putih yang pasien ambil sendiri dari sumur, kemudian ia simpan air tersebut di dalam botol 2

bekas minuman purple oranges dan ia percaya jika ia meminumnya, makhluk halus yang berada di tubuhnya akan diam dan tidak mengganggunya. Ny. U menyatakan bahwa pasien sebelumnya, belum pernah pergi ke paranormal manapun. Pasien selalu membawa air tersebut dan ia simpan di dalam kantong jaket sweaternya yang sudah tak layak pakai tersebut. Kurang lebih 4 hari yang lalu, pasien mengakui sering dibisiki oleh seseorang yang tidak ada wujudnya. Pasien merasa bahwa yang membisikinya tersebut telah bersemayam didalam tubuhnya dan menyuruh pasien untuk melakukan bunuh diri saja dan loncat ke dalam sumur. Menurut pengakuan Ny. U, memang benar adanya bahwa mereka memiliki satu buah sumur yang berada di dalam rumah dekat dengan dapur. Pasien tidak sempat melakukan aksi bunuh diri tersebut, karena menurut pasien, ia bisa menghalau orang yang telah menyuruhnya untuk melakukan aksi tersebut. Pasien kemudian marah-marah, mengamuk, dan memukul-mukul wajahnya sendiri dengan menggunakan kedua tangannya hingga membanting-bantingkan barang dan membuangnya ke dalam sumur. Ny. U juga mengatakan bahwa selama 1 minggu terakhir ini, pasien selalu membawa senjata tajam berupa arit yang selalu disimpan di dalam bajunya hingga membuat Ny. U takut untuk tidur bersama dengan pasien. Ketika Ny. U menanyakan kepada pasien mengapa ia selalu membawa arit di dalam bajunya, pasien sempat mengatakan ingin membunuh makhluk halus yang bersemayam ditubuhnya. Selain itu juga pasien membawa arit tersebut dikarenakan berkaitan dengan pekerjaan pasien di Dinas PU Pengairan. Hal ini justru makin membuat sang istri jadi tambah ketakutan. Tidur Ny. U pun menjadi tidak nyenyak satu minggu belakangan ini karena ulah sang pasien. Ny. U juga menyatakan bahwa pasien juga tampak sulit tidur serta tampak gelisah. Sebentar-sebentar pasien keluar dari kamar. Ketika ditanya oleh Ny. U mengapa si pasien suka keluar masuk kamar, pasien hanya menjawab bahwa kamar tidur yang ia diami tersebut hawanya terasa panas. Pasien adalah seorang pegawai negeri sipil di Dinas PU Pengairan. Menurut sang istri, masa pensiunannya pun masih terbilang cukup lama, yakni sampai tahun 2020. Walaupun pasien bekerja sebagai PNS di Dinas tersebut, namun pekerjaan yang diberikan oleh kepala dinas setempat kepada si pasien hanya pekerjaan yang ringan saja. Menurut pengakuan sang istri pekerjaan pasien di kantor seperti membersihkan got-got. Sedangkan Ny. U juga bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Pasien menikah dengan Ny. U pada akhir tahun 1999. Pasien menikah dengan Ny. U telah dikaruniai satu orang anak perempuan. Saat ini anak perempuannya bersekolah di salah satu SMP favorit di Klaten. Sekarang sudah kelas II SMP. Menurut Ny. U, pasien sangat menyanyangi anak semata wayangnya tersebut. Bahkan, menurut sang istri, pasien selalu menomor duakan 3

sang istri dibandingkan dengan anaknya. Pasien sangat menuruti dengan apa kata anaknya. Ny. U juga mengatakan bahwa pasien tidak pernah melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga baik kepada istri maupun kepada anak perempuannya tersebut. Sebelum Ny. U menikah dengan pasien, Ny. U memang sudah melihat adanya keanehan yang terdapat dalam diri pasien. Waktu itu menurut Ny. U, pasien suka bingung sendiri. Pasien dengan Ny. U menikah dikarenakan dijodohi oleh tante si pasien. Mengenai keanehan yang Ny. U dapat dari diri pasien tersebut, ternyata sempat Ny.U tanyakan kepada orang tua pasien terutama, Ibu si pasien. Menurut Ibu pasien, pasien memang suka bingung sejak ia tamat SLTA, terutama setelah menjadi pegawai honor di salah satu Dinas di Klaten. Kemudian, Ibu pasien sempat memberikan keyakinan kepada Ny. U bahwa penyakit yang pasien alami tersebut tidak begitu serius dan tidak perlu dipikirkan. Akhirnya, Ny. U pun bersedia untuk menikah dengan pasien. Namun, selang beberapa tahun setelah menikah dengan pasien, Ny. U merasa memang ada yang tidak beres dengan pasien. Terutama pada awal tahun 2007. Pasien sering membenturkan kepalanya ke tembok, mengamuk sendiri, dan bicara kacau. Kemudian, sang istri membawa pasien ke UGD di RSJD dr. RM. Soedjarwadi, Klaten dan kemudian di rawat inap. Ny. U lupa berapa lama pasien di rawat inap di rumah sakit. Kemudian di akhir tahun 2010 pasien dirawat inap lagi karena kambuh dan tidak rutin meminum obat. Melihat hal tersebut, Ny. U pun sempat menanyakan hal ini kepada Ibu pasien, sebenarnya apa yang telah terjadi hingga menyebabkan timbulnya kondisi yang ada pada pasien sampai saat ini. Ternyata, Ibu pasien pun akhirnya buka suara. Menurut pengakuan Ibu pasien, dulu di tahun 1995, pasien bekerja menjadi pegawai honor di salah satu Dinas di Klaten. Waktu itu, yang menjadi pegawai honor di Dinas tersebut bukan hanya pasien saja, saat itu ada 2 orang, yakni Tn. T dan Tn. S. Mereka berdua lulusan sarjana (S1) sedangkan pasien hanya lulusan SLTA. Pasien melamar menjadi pegawai honor tersebut berdasarkan dari rekomendasi paman pasien. Ternyata kedua teman pasien, Tn. T dan Tn. S diterima menjadi pegawai negeri sipil sedangkan si pasien belum diterima sebagai pegawai negeri sipil saat itu. Semenjak saat itu, pasien menganggap Tn. T dan Tn. S sebagai musuhnya. Pasien merasa harusnya dia yang diterima lebih dulu sebagai PNS daripada mereka berdua karena pasien merasa merupakan orang yang direkomendasikan oleh Pamannya yang bertugas di Dinas tersebut. Pasien merasa tidak adil. Jika ada keluarga yang menanyakan kepada pasien kenapa belum diangkat menjadi PNS, pasien mudah tersinggung dan menolak untuk meneruskan perbincangan. Bicara pasien pun menjadi kacau. Pasien menganggap bahwa Tn. T dan Tn. S telah menggunakan ilmu hitam agar diterima menjadi PNS dan mengguna-guna pasien sehingga menyebabkan pasien menjadi kacau sampai saat ini. 4

Ny. U pun mengatakan, selama pasien sakit seperti ini, pasien sangat susah diatur. Berpakaian pun semaunya sendiri. Mandi hanya 1 kali sehari. Dirumah, pasien tinggal bertiga. Bersama dengan sang istri dan anak perempuan semata wayang. Satu minggu ini, jika Ny. U berangkat bekerja dan putrinya pergi ke sekolah, pasien tinggal sendiri dirumah. Pasien tidak pergi bekerja. Namun, ketika pasien ditinggal di rumah sendirian, semua makanan sudah disiapkan oleh sang istri. Pasien dengan tetangga sekitar juga dikenal ramah dan suka menyapa. Namun, selama sakit, pasien menjadi jarang keluar rumah. Pasien hanya di rumah saja dan terkadang sambil menonton televisi. Selain sering mengamuk, pasien juga suka bicara sendiri. Sudah 1 minggu ini, pasien tidak masuk kerja dikarenakan kondisi dan keadaan pasien saat ini. C. Riwayat Penyakit Dahulu Menurut pengakuan Ny. U, pasien sebelumnya pernah mondok di rumah sakit sebanyak 4 kali. Ini yang ke 5 kalinya pasien mondok di rumah sakit. Pertama kali mondok pada tahun 2006 karena pasien sering mengamuk dan pernah mengancam orang lain dengan senjata tajam. Setelah keluar dari rumah sakit, pasien sering kontrol di Poli Jiwa RSJD dr. RM. Soedjarwadi, Klaten dan rutin meminum obat. Mondok kedua pada pertengahan Bulan Maret 2007, karena pasien tampak kambuh dengan gejala bingung, sering marah-marah sendiri, memecah-mecahkan barang rumah tangga, mengamuk, memukul kepalanya dengan balok serta sulit tidur. Ternyata pasien saat itu putus obat 1 bulan lamanya serta tidak kontrol ke Poli Jiwa jika obat habis. Mondok ketiga di tahun 2008, dikarenakan pasien mengamuk dan hendak menerjunkan diri ke sumur. Selain itu, pasien juga tidak mau minum obat yang ia dapat dari poli. Mondok keempat di tahun 2010, pasien sering bicara kacau, tampak gelisah, sulit tidur, merasa ada makhluk halus yang bersemayam di tubuhnya, mengamuk dan marahmarah sendiri. Keadaan pasien ketika keluar dari rumah sakit saat itu adalah membaik. Sekarang pasien jarang kontrol ke Poli Jiwa RSJD dr. RM. Soedjarwadi, Klaten. Menurut Ny. U, sudah 2 bulan terakhir ini pasien putus obat. Hal ini dikarenakan pasien tidak mau minum obat. Ny. U juga tidak memperhatikan apakah obat yang diberikan kepada pasien sebelum ia tinggal bekerja selalu diminumnya atau mungkin dibuangnya. Riwayat pasien memiliki penyakit tekanan darah tinggi atau kencing manis, riwayat trauma/kejang sebelumnya pun disangkal. D. Riwayat Kehidupan Pribadi - Riwayat Prenatal Tidak didapatkan informasi mengenai saat pasien dalam kandungan dan melahirkan. 5

Riwayat masa kanak-kanak awal (sampai usia 3 tahun) Tidak didapatkan informasi yang jelas mengenai pasien minum ASI sampai usia berapa dan adanya gangguan pertumbuhan dan perkembangan pasien pada masa kanak-kanak awal. Pasien tidak tahu menahu apakah dulu pernah kejang atau tidak semasa ia waktu kecil. Pertumbuhan dan perkembangan baik, seperti anak sebayanya. Riwayat masa kanak-kanak pertengahan (3 11 tahun) Pasien dikenal sebagai pribadi yang baik dalam keluarga dan di lingkungan rumah. Pasien banyak memiliki teman bermain serta rajin masuk sekolah. Prestasi di sekolah biasa-biasa saja, pertumbuhan dan perkembangan baik seperti anak sebayanya. Masa Kanak-kanak akhir (dari pubertas sampai remaja) Riwayat sekolah : Pasien melanjutkan sekolah sampai tamat SLTA, prestasi biasa saja. Pasien tidak pernah tinggal kelas. Hubungan dengan teman sebaya baik, pasien dikenal sebagai pribadi yang senang bergaul. Namun sayangnya, pasien tidak melanjutkan pendidikannya ke universitas karena berkaitan dengan masalah biaya dalam melanjutkan pendidikan. Dengan menggunakan ijazah SLTA pasien ingin bekerja untuk membantu kedua orang tuanya. Pasien kemudian mendaftarkan diri menjadi pegawai honor di Dinas PU Pengairan, Klaten. Perkembangan kognitif dan motorik : Pasien bisa membaca serta menulis dengan baik. Pasien sangat menyukai olahraga bulutangkis. Problem emosi atau fisik khusus masa remaja : Tidak pernah mengalami mimpi buruk secara berulang-ulang, pasien tidak ada fobia terhadap suatu benda/hal tertentu, tidak ada riwayat penggunaan obat-obatan. Pasien merokok sejak SLTP kelas II. Namun, saat ini pasien sudah jarang merokok. Pasien suka minum kopi namun tidak pernah minum minuman yang beralkohol. Riwayat psikoseksual : Tidak ada kelainan psikoseksual, pasien terhadap lawan jenis cenderung biasa saja. Menurut Ny. U, pasien cenderung agresif. Pertumbuhan alat kelamin sekunder normal (tidak ada kelainan). Menurut Ny. U, tidak ada problem seksual pada pasien tersebut.

E. Riwayat Masa Dewasa a. Pekerjaan : Pasien saat ini bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Dinas PU Pengairan dan hingga sampai saat ini masih aktif bekerja di Dinas tersebut. Namun 6

b.

c. d.

e.

satu minggu ini, pasien sudah tidak masuk bekerja dikarenakan kondisi dan keadaan pasien saat ini. Pernikahan : Pasien menikah pada akhir tahun 1999 dan memiliki 1 orang anak perempuan yang sekarang bersekolah di salah satu SMP favorit di Klaten, kelas II SLTP. Keluarga pasien termasuk keluarga yang harmonis. Pasien juga tidak pernah melakukan tindak kekerasan terhadap sang istri maupun anak perempuannya tersebut. Pendidikan : Pendidikan terakhir pasien adalah SLTA Agama : Pasien tidak rutin melaksanakan sholat 5 waktu dan mengaji serta kurang aktif mengikuti kegiatan seperti pengajian di lingkungan rumah pasien. Hukum : Pasien tidak pernah bertindak melanggar hukum.

F. Riwayat Keluarga Pasien merupakan anak pertama dari 1 dari 6 bersaudara dan memiliki 1 orang anak.

Keterangan: = Laki-laki, normal = Perempuan, normal

= Laki-laki, meninggal = Perempuan, meninggal = Laki-laki, gangguan jiwa = Perempuan, gangguan jiwa

G. Situasi sekarang Pasien tinggal bersama istri dan anak perempuannya, biaya hidup lebih banyak ditanggung oleh penghasilan pasien dan istrinya karena keduanya bekerja sebagai PNS. Tidak ada pekerjaan sambilan. Setiap Ny. U pergi bekerja dan sang anak pergi ke sekolah, pasien tinggal sendiri di rumah selama sakit ini. Makanan sudah disediakan oleh sang Istri. Kadang sang Istri baru pulang kerumah jam 15.00 WIB sore hari. Dengan mondoknya pasien di rumah sakit, otomatis pasien cuti sejenak dari pekerjaannya sebagai PNS di Dinas PU Pengairan. Perekonomian pasien tergolong ekonomi menengah kebawah. Saat ini pasien tampak gelisah dan ingin menjalani pengobatan dan mondok di Rumah Sakit. H. Persepsi ( Tanggapan) Menurut pasien, ia datang ke UGD RSJD dr. RM. Soedjarwadi, Klaten, diantar oleh istrinya, ingin berobat agar cepat sembuh dari gejala-gejala yang ia alami saat ini. Bahkan pasien ingin mondok saja di rumah sakit. Pasien merasa bahwa ada makhluk halus yang masuk dan bersemayam ditubuhnya. Makhluk halus itulah yang mengendalikannya, sehingga ia sering memukul-mukul terutama wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya. Bahkan 4 hari yang lalu, pasien juga merasa dibisiki oleh makhluk halus tersebut dan menyuruh pasien untuk melakukan aksi bunuh diri saja dan loncat ke dalam sumur. Menurut pasien, ia bisa menghalau makhluk halus yang telah menyuruhnya untuk melakukan aksi tersebut. Ia kemudian marah-marah, mengamuk, dan memukulmukul wajahnya sendiri dengan menggunakan kedua tangannya hingga membanting-bantingkan barang dan membuangnya ke dalam sumur agar makhluk halus tersebut berhenti menyuruhnya untuk melakukan aksi bunuh diri tersebut. Pasien membawa senjata tajam ketika tidur. Menurutnya, ia membawa senjata tajam tersebut agar ia bisa membunuh makhluk halus tersebut. Ia juga merasa bahwa kamar yang ia diami bersama istrinya tersebut hawanya terasa panas, ia juga meyakini bahwa hal tersebut ia rasakan karena pengaruh kekuatan makhluk halus yang berada di dalam tubuhnya. Menurut pasien, sang paranormal yang diyakininya, telah memberikan air putih yang pasien ambil sendiri dari sumur, 8

kemudian ia simpan air tersebut di dalam botol bekas minuman purple oranges dan ia percaya jika ia meminumnya, makhluk halus yang berada di tubuhnya akan diam dan tidak akan mengganggunya. Pasien mengetahui bahwa ia saat ini sedang berada di RSJD dr. RM. Soedjarwadi, Klaten. Pasien sadar bahwa dirinya sakit dan perlu melakukan pengobatan tetapi menurutnya apa yang telah terjadi kepadanya tersebut dikarenakan adanya makhluk halus yang ada di dalam tubuhnya. III. Status Psikiatri a. Deskripsi umum Penampilan : 49 tahun, wajah agak lonjong, sesuai umur, berperawakan tinggi dan agak kurus, berkulit hitam, rawat diri jelek, tampak gelisah, menggunakan baju atasan lengan pendek warna kuning dan dilapisi sweater warna biru yang robek di bagian lengan kiri dan celana kain berwarna abu-abu serta tanpa menggunakan alas kaki, kesan kurang rapi. Kesadaran : Kuantitatif : Compos mentis E5V5M6 Kualitatif : Berubah Perilaku dan aktifitas psikomotor : Hiperaktif Pembicaraan : Spontan. Cepat. Menjawab sesuai dengan pertanyaan. Intonasi, artikulasi, volume cukup Sikap terhadap pemeriksa : Kooperatif Perhatian : Mudah ditarik mudah dicantum b. Alam Perasaan 1. Mood : Meningkat euphorik 2. Afek : Labil 3. Keserasian : Inappropiate c. Gangguan persepsi 1. Halusinasi (+) ditemukan adanya halusinasi auditorik pada pasien. Pasien merasa 4 hari ini ada yang membisikinya untuk melakukan bunuh diri, yakni berupa lompat kedalam sumur yang berada di dalam rumahnya, didekat dapur. Pasien meyakini bahwa bisikan tersebut berasal dari makhluk halus yang berada di dalam dirinya. Menurutnya, hanya seorang paranormal saja yang bisa mengeluarkan makhluk halus tersebut dari dalam tubuhnya. 2. Depersonalisasi dan derealisasi tidak ditemukan d. Proses Pikir 1. Arus pikiran : a. Produktivitas : Pasien berbicara spontan dan logorrhea b. Kontinuitas pikiran : Inkoheren c. Hendaya berbahasa : tidak terdapat hendaya berbahasa.

2. Isi Pikiran : a. Preokupasi : xenophobia, gagasan bunuh diri dan ingin membunuh. b. Gangguan pikiran: Waham kendali pikir Pasien merasa bahwa ada makhluk halus yang mengendalikan tubuhnya terutama pada bagian mulutnya satu minggu belakangan ini. Selain itu, pasien juga ingin membunuh makhluk halus yang bersemayam ditubuhnya sehingga tiap hendak tidur, pasien selalu membawa senjata tajam berupa arit yang ia simpan di dalam bajunya. Ia juga merasa bahwa kamar yang ia diami bersama istrinya tersebut hawanya terasa panas, ia juga meyakini bahwa hal tersebut ia rasakan karena pengaruh kekuatan makhluk halus yang berada di dalam tubuhnya. Waham magic mistik Menurut pasien, sang paranormal yang diyakininya, telah memberikan air putih yang pasien ambil sendiri dari sumur, kemudian ia simpan air tersebut di dalam botol bekas minuman purple oranges dan ia percaya jika ia meminumnya, makhluk halus yang berada di tubuhnya akan diam dan tidak mengganggunya. Padahal menurut sang istri, pasien tidak pernah pergi ke paranormal manapun. Waham curiga Pasien meyakini bahwa makhluk halus tersebut menginginkan nyawanya. e. Fungsi Intelektual 1. Taraf pendidikan Pendidikan terakhir pasien adalah SLTA, pasien bisa membaca dan bisa berhitung. 2. Daya Konsentrasi Baik, pasien dapat menjawab pertanyaan dengan spontan. 3. Orientasi Waktu : Jelek, pasien tidak dapat menyebutkan hari pemeriksaan dengan benar serta tidak dapat menyebutkan tanggal dan bulan pemeriksaan dengan benar. Tempat: Baik, pasien tahu bahwa dirinya berada di UGD, RSJD Soedjarwadi, Klaten Orang : Baik, pasien mengetahui siapa pemeriksa, pasien mengenal orangorang yang ada di sekitarnya dan mengetahui peran masing-masing orang tersebut. f. Pengendalian Impuls : Baik, pasien dapat mengendalikan keinginan untuk marah. g. Daya Nilai sosial dan realitas: Baik h. Hubungan Jiwa : Sulit i. Tilikan : Baik, Derajat III (Pasien sadar dirinya sakit dan butuh pengobatan) j. Taraf dapat dipercaya : Dapat dipercaya 10

IV.

Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan umum : Kesadaran : Compos mentis 2. Vital sign : TD :130/90 mmHg , N : 80x/menit, RR : 21x/m, T : 36,9oC 3. Sistem Cerebrospinal : dalam batas normal Sistem Cardiovascular : dalam batas normal Sistem Respirasi : dalam batas normal Sistem Gastrointestinal : dalam batas normal Sistem Urogenital : dalam batas normal Sistem Muskuloskeletal : dalam batas normal Resume Anamnesis Seorang laki-laki berusia 49 tahun datang diantar oleh istri dan tetangganya karena pasien sering memukul-mukul wajahnya sendiri dengan menggunakan kedua tangannya karena merasa ada makhluk halus yang mengendalikan tubuhnya terutama pada bagian mulutnya. Selain itu, pasien juga sering mengamuk dan membantingbantingkan barang yang berada didekatnya lalu membuangnya ke sumur yang berada didalam rumah dekat dengan dapur serta bila pasien hendak tidur, pasien selalu membawa senjata tajam berupa arit dan disimpannya di dalam bajunya. Bicaranya pun kacau. Keluhan ini dialami pasien sejak 1 minggu yang lalu. Kurang lebih 4 hari yang lalu, pasien juga merasa dibisiki oleh makhluk halus tersebut dan menyuruh pasien untuk melakukan aksi bunuh diri saja dan loncat ke dalam sumur. Pasien sudah masuk RSJ 5 kali. Tidak rutin kontrol dan minum obat. Menurut istri pasien, belakangan ini pasien sudah putus obat 2 bulan lamanya. Dari pemeriksaan psikiatri didapatkan, adanya perubahan kesadaran secara kualitatif, afek euforik dan inappropriate, pembicaraan logorrhea serta inkoherensi. Selain itu juga terdapat waham kendali pikir, waham magic mistik serta waham curiga dan tilikan baik derajat III pada pasien tersebut. Taraf informasi yang diberikan adalah dapat dipercaya. Diagnosis Multiaksial Diagnosis Axis 1 : F20.0. Skizofrenia Paranoid Berdasarkan autoanamnesis dan alloanamnesis didapatkan gejala klinis yang bermakna berupa sering memukul-mukul wajahnya sendiri dengan menggunakan kedua tangannya karena merasa ada makhluk halus yang mengendalikan tubuhnya terutama pada bagian mulutnya. Selain itu, pasien juga sering mengamuk dan membanting-bantingkan barang yang berada didekatnya lalu membuangnya ke sumur yang berada didalam rumah dekat dengan dapur serta bila pasien hendak tidur, pasien selalu membawa senjata tajam berupa arit dan ingin membunuh makhluk halus yang bersemayam ditubuhnya. Selain itu, 4 hari yang lalu, pasien mengakui sering dibisiki oleh seseorang yang tidak ada wujudnya. Pasien merasa bahwa yang 11

V.

VI.

membisikinya tersebut menyuruh pasien untuk melakukan bunuh diri saja dan loncat ke dalam sumur. Keluhan ini sudah dialami satu minggu ini. Riwayat mondok di RSJD sebanyak 4 kali dengan keluhan sering mengamuk dan membanting-banting barang serta membenturkan kepalanya ke tembok. Ini sudah yang ke 5 kalinya pasien mondok di rumah sakit. Riwayat putus obat sudah 2 bulan ini, jarang kontrol dan tidak rutin minum obat. Hal ini tentu saja menimbulkan disabilitas dalam kehidupannya sehari-hari sehingga digolongkan dalam gangguan jiwa. Pada pasien tidak didapatkan adanya hendaya dalam menilai realita. Namun terdapat gangguan persepsi (terdapat halusinasi auditorik) dan gangguan isi pikir berupa waham kendali pikir, yaitu pasien merasa bahwa ada makhluk halus yang mengendalikan tubuhnya terutama pada bagian mulutnya satu minggu belakangan ini. Selain itu, pasien juga ingin membunuh makhluk halus yang bersemayam ditubuhnya. Menurut pasien, sang paranormal yang diyakininya, telah memberikan air putih yang pasien ambil sendiri dari sumur, kemudian ia simpan air tersebut di dalam botol bekas minuman purple oranges dan ia percaya jika ia meminumnya, makhluk halus yang berada di tubuhnya akan diam dan tidak mengganggunya. Padahal menurut sang istri, pasien tidak pernah pergi ke paranormal manapun. Serta adanya waham curiga, yaitu pasien juga meyakini bahwa makhluk halus tersebut menginginkan nyawanya. Sehingga pasien tersebut dimasukkan dalam gangguan jiwa psikotik. Pada pasien tidak ditemukan kelainan organik sehingga digolongkan gangguan psikotik non-organik (fungsional). Adanya halusinasi auditorik dan waham sehingga digolongkan kedalam skizofrenia. Gejala yang menonjol dari pasien adalah halusinasi auditorik disertai waham kendali pikir dan waham curiga sehingga digolongkan skizofrenia paranoid (F20.0). Diagnosis aksis II : F.60 Gangguan Kepribadian Paranoid Pada pasien tersebut terdapat kriteria gangguan kepribadian paranoid, yakni, pasien tersebut memiliki kepekaan berlebihan terhadap kegagalan dan penolakan, memiliki perasaan bermusuhan dan ngotot tentang hak pribadi tanpa memperhatikan situasi yang ada (actual situation), pasien juga ada kecenderungan untuk merasa bahwa dirinya penting secara berlebihan yang bermanifestasi dalam sikap yang selalu merujuk ke diri sendiri (self referential attitude). Selain itu juga ada kecenderungan untuk tetap menyimpan dendam misalnya menolak untuk memaafkan suatu penghinaan dan luka hati/masalah kecil. Diagnosis aksis III : Belum ditemukan diagnosis Diagnosis aksis IV : Masalah pekerjaan dan berkaitan dengan lingkungan sosial Diagnosis aksis V : GAF SCALE 60-51. Gejala sedang (moderate) dan disabilitas sedang.

12

VII.

Terapi Medikamentosa Inj. Haloperidol 5 mg I.V. Dapat diulang setiap 30 menit (maksimal 20 mg/hari)

VIII. Faktor yang memperberat dan memperingan a. Faktor yang memperberat i. Putus obat 2 bulan lamanya ii. Status sosial b. Faktor yang memperingan i. Dukungan keluarga ii. Kepatuhan dan respon terapi : (+) : (+)

: (+) : (+)

IX.

Prognosis Ad sanam Ad fungsionam Ad vitam

: Dubia et bonam : Dubia et bonam : Dubia et bonam

Pembimbing,

dr. Hj. Anisa Renang , M,Sc., Sp.Kj.

13