Anda di halaman 1dari 2

Ujian Bagi Demokrasi

Demokrasi sekarang ini, oleh banyak negara modern, bukan saja diyakini sebagai sebuah
bentuk pemerintahan yang baik dan cocok bagi peradaban modern, tetapi semakin
digandrungi dan diperjuangkan untuk dikembangkan secara maksimal. Dan meskipun
demokrasi diakui merupakan suatu tata-pemerintahan yang tidak sempurna dalam sebuah
negara, tetapi kata para pendukungnya, demokrasilah yang paling dapat diharapkan untuk
menghadirkan keadilan, ketertiban dan kesejahteraan.
Dan bagi Indonesia sekarang ini, demokrasi bukan saja diyakini sebagai suatu
tata-pemerintahan yang baik, tetapi sudah benar-benar diperlukan? Seperti kata Reinhold
Neibur: Man’s capacity for justice makes democracy possible, but man’s inclination to in
justice make democracy necessary (Kemampuan manusia untuk merasakan keadilan
memungkinkan demokrasi, tetapi kecenderungan manusia ke arah ketidakadilan
membuat demokrasi perlu).

Demokrasi pasca-Indonesia
Dalam prakteknya, kehidupan demokrasi kita sudah digalakkan sejak negara ini
didirikan dalam bentuk republik yang bercita-cita membangun sebuah masa depan
negara yang adil, makmur dan sejahtera. Meski perkembangan praksis demokrasi di
negeri ini masih cukup jauh dari harapan, baik pada tataran substansif maupun pada
tataran formaslistik, namun ia terus diperjuangkan untuk bisa mencapai perkembangan
yang maskimal.
Pada tataran formal-historis pemilu yang dikatakan cukup demokratis, tetapi
sebenarnya belum juga menemukan sosoknya. Itu dapat dilihat sejak pemilu 1955 di era
pemerintahan Soekarno. Pada era pemerintahan presiden pertama ini, pemilu dijalankan
oleh berbagai aliran politik. Feith dan Castle (1970) menyimpulkan ada lima aliran
politik yang bekerja dalam ruang demokrasi yang berkembang cukup baik, yaitu (1)
Nasionalisme-yang tercermin ada pada Partai Nasional Indonesia (PNI), (2) Sosialisme-
terlihat pada Partai Sosialis Indonesia (PSI), (3) Komunisme-pada Partai Komunis
Indonesia (PKI), (4) Islam- pada Masyumi, dan (5) Tradisionalisme Jawa- diwakili
Nahdlatul Ulama (NU).
Sayangnya, keberhasilan demokrasi yang cukup baik itu berakhir dengan cukup
tragis ketika Konstituante, soal pemilu tidak berhasil merumuskan konstitusi negara, yang
kemudian mencuatkan kondisi politik yang tidak bersahabat, seperti percobaan kudeta
yang dipimpin Nasution dkk., Pada 17 Oktober 1952. Efeknya adalah lahirnya Dekrit
Presiden yang dikeluarkan Soekarno 5 Juli 1959. Dan DPR hasil pemilu 1955 pun
dibubarkan, termasuk Masyumi yang dituduh berada di balik gerakan PRRI/Permesta.
Samuel Huntington, kemudian menyebut dalam bukunya The Third Wave of Democracy,
sebagai sebuah langkah mundur demokratisasi karena lahirnya diktatorianisme Soekarno.
Di era Orde Baru, praksis demokrasi politik formal, yang di era Orde Lama
dilaksanakan dengan sistem multipartai, dijelmakan menjadi Golkar, Partai Demokrasi
Indonesia (PDI), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kehidupan politik di awal
Orde Baru yang dikatakan cukup baik lewat pemilu dengan partisipasi rakyat yang cukup
tinggi dengan jargon pemilu langsung, umum, bebas dan rahasia, tetapi sebenarnya
hanyalah formalistik belaka demi menjustifikasi proses politik yang tidak dimonopoli
Golkar, tentara dan birokrasi. Partisipasi rakyat dalam pemilu pun bukan karena bebas –
genuine will dalam istilah Schumpeter (1947), tetapi karena rekayasa (manufactued will)
yang sistemik.
Dan di era reformasi ini, oleh banyak kalangan dikatakan sebagai sebuah era
lahirnya kehidupan politik yang demokratis. dengan pelaksanaan pemilu yang
demokratis. Gairah demokrasi yang menjanjikan dapat tergambar dari pelaksanaan
pemilu dengan tingkat partisipasi rakyat yang cukup tinggi. Tetapi, apa yang terlihat di
era Abdurrahman Wahid adalah tidak terbangunnya konsensus oleh partai-partai politik,
sehingga berakibat pada jatuhnya kekuasaan Wahid dan digantikan oleh Megawati
Soekarnoputri.
Lalu, bagaimana dengan nasib demokrasi Indonesia di era Susilo Bambang
Yudhoyono? Pemilu di tahun 2004 dan 2009, memang dinilai oleh banyak kalangan
sebagai pemilu yang demokratis. Dunia internasional pun menilai Indonesia sebagai
negara yang paling demokratis nomor 3 di dunia setelah Amerika Serikat dan India.
Persoalannya, pemilu 2009 yang meskipun dimenangi pasangan Yudhoyono dengan
kemenangan yang cukup meyakinkan, tetapi masih menyimpan sejumlah masalah hukum
dan masalah-masalah lainnya yang menyangkut kejujuran dan tanggung jawab dalam
membangun dan mengelola demokrasi.
Persoalan-persoalan itulah yang kini oleh pasangan Megawati-Prabowo dan JK-
Wiranto, disebut sebagai kecurangan sistematis dan digugat ke Mahkamah Konstitusi,
seperti masalah daftar pemilih tetap (DPT), penutupan 63.000 tempat pemungutan suara
(TPS), sosialisasi KPU yang tidak netral dan penggelembungan jumlah suara pemilih.

Demokrasi dalam ujian


Apa pun hasil dari proses hukum yang ditempuh Mega-Prabowo dan JK-Wiranto,
yang jelas, demokrasi kita kini telah memasuki babak baru dalam sejarah perpolitikan
Indonesia dan akan menjadi ujian tersendiri. Apakah gugatan ini akan semakin
mematangkan proses dan kehidupan demokrasi, atau akan berujung pada kemunduran
demokrasi. Ini tentu tergantung pada bandul demokrasi yang akan terus mengayun
mengikuti dinamika pertentangan dan konsensus yang terjadi.
Dan tantangan yang paling penting dari demokrasi adalah pada praksis kehidupan
demokrasi itu sendiri, an sich. Apakah demokrasi akan benar-benar digerakkan dan
diarahkan kepada kemampuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat? Pertanyaan ini
harus dijawab “ya” sebab salah satu ikhtiar demokrasi, sekaligus menjadi etika politik
tertinggi adalah bukan digelorakan untuk mengejar dan memperebutkan kekuasaan,
melainkan pada pencapaian kesejahteraan rakyat.
Jika tidak, pemilu hanya dinilai dengan gegap gempita antusiasme, tetapi akan
berakhir pada “tragika” sosial dalam bahasa kekerasan, korupsi dan pengabaian hak-hak
piblik. Maka, pesta demokrasi pemilu yang menelan begitu banyak biaya dan energi,
akan berakhir dengan kesia-siaan.

Penulis, Direktur Social Development Center