Anda di halaman 1dari 8

2

AgroinovasI

Waspadailah Keberadaan Itik dalam Penyebaran Virus Flu Burung atau AI


elama ini mungkin kita sudah sering mendengar berita tentang kasus penyakit flu burung, baik yang dilaporkan pada unggas maupun manusia yang tersebar hampir di seluruh dunia. Dalam istilah ilmiah, penyakit flu burung ini diistilahkan dengan Avian Influenza (AI). Penyakit flu burung atau Avian Influenza (AI) secara perhitungan ekonomi dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi pelaku dunia perunggasan. Di samping itu, penyakit ini juga sangat membahayakan kesehatan manusia dan bahkan dapat menyebabkan kematian pada manusia. Awal terjadinya wabah penyakit flu burung di Indonesia dimulai pada pertengahan tahun 2003 di mana dari beberapa laporan yang ada melaporkan bahwa unggas yang terserang penyakit flu burung akan memperlihatkan tandatanda penyakit seperti pial dan jengger membengkak dan kebiruan (sianosis), muka bengkak dan keluar cairan dari hidung dan mulut, bercak-bercak merah (ptekhi) subkutan pada kaki dan telapak kaki, leher menekuk (tortikolis), diare atau mencret dan kematian yang sangat tinggi. Selama dalam kurun waktu beberapa tahun berikutnya, kebanyakan kasus penyakit flu burung yang dilaporkan pada unggas di lapangan mengalami perubahan tanda-tanda penyakit yang ditimbulkannya di mana unggas yang terkena penyakit flu burung ini akan tiba-tiba mengalami kematian tanpa memperlihatkan tanda-tanda penyakit seperti yang disebutkan di atas terlebih dahulu. Sebagaimana yang terlihat pada gambar di bawah ini di mana ayam yang terinfeksi virus AI terlihat lemah, lesu dan biasanya tiba-tiba langsung

Sumber : Koleksi pribadi

Edisi 19-25 September 2012 No.3474 Tahun XLIII

Badan Litbang Pertanian

AgroinovasI

mati keesokan harinya. Untuk penyakit flu burung pada manusia di Indonesia, pertama kali dilaporkan kejadiannya di Kabupaten Tangerang pada tahun 2005. Kasus flu burung pada manusia di Indonesia itu sendiri sampai dengan akhir tahun 2011 sudah berkembang menjadi sebanyak 150 orang yang meninggal dari 182 orang yang positif terinfeksi flu burung (H5N1). Biasanya penyakit flu burung ini akan mengganggu saluran pernafasan manusia yang ditandai dengan demam, sakit kepala, nyeri otot (mialgia), batuk, lesi, kebengkakan (coryza), sakit tenggorokan dan batuk. Penyakit flu burung ini disebabkan virus influenza yang menurut klasifikasinya termasuk dalam famili Orthomyxoviridae. Virus ini adalah virus RNA, berpolaritas negatif, mempunyai amplop (envelope) dan genomnya bersegmen. Segmen-segmen dari virus ini terdiri dari protein Polymerase component 2 (PB2), Polymerase component 1(PB1) dan Polymerase component (PA) yang mengkodekan Polymerase, Hemaglutinin (HA), Nucleocapsid (NP), Neuraminidase (NA), Matrix Protein 1 (M1), Matrix Protein 2(M2), Non Structural Protein 1 (NS1) dan Non Structural Protein 2 (N2). Dalam kemampuannya menimbulkan penyakit pada unggas, virus ini dibedakan menjadi Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) dan Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI) sedangkan berdasarkan genetik dan antigenik, virus ini dibedakan menjadi tipe A, B dan C. Virus yang menyebabkan penyakit flu burung yang terjadi selama ini termasuk virus Influenza tipe A. Virus influenza A dapat menyerang berbagai jenis unggas, mamalia dan manusia. Virus influenza tipe A dibedakan menjadi beberapa subtipe berdasarkan kombinasi 2 antigen permukaan utama yaitu Hemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA). Sampai saat ini, sudah ada 16 subtipe HA dan 9 subtipe NA yang telah diidentifikasi yang memungkinkan berpeluang berkembang menjadi 144 kombinasi subtipe. Virus AI subtipe H5N1 ini dianggap sebagai agen penyakit penyebab terhadap terjadinya pandemik atau wabah influenza pada manusia akhir-akhir ini. Keberadaan unggas air liar Anseriformes (itik, entok dan angsa) dan Charadriiformes (burung camar (laut), burung laut, burung liar) yang tersebar luas di seluruh dunia diduga sebagai inang perantara alami (reservoir) virus influenza A yang paling heterogen. Unggas air liar adalah inang perantara alami yang unik untuk virus AI dikarenakan semua subtipe H dan N virus AI dapat ditemukan dalam tubuh unggas air. Semua subtipe virus AI berkembangbiak dalam jumlah besar di dalam saluran pencernaan unggas air dan unggas air yang mengandung semua subtipe virus AI ini biasanya tanpa memperlihatkan gejala sakit seperti yang ditunjukkan oleh unggas lain yang terserang penyakit flu burung. Keragaman subtipe virus AI pada unggas air semakin menguatkan dugaan kita selama ini bahwa unggas air mempunyai peranan yang sangat penting dalam penularan virus AI ke manusia. Itik adalah salah satu dari kelompok unggas air yang peka terhadap serangan penyakit flu burung. Dari laporan penelitian yang telah dilakukan, berbagai jenis
Badan Litbang Pertanian Edisi 19-25 September 2012 No.3474 Tahun XLIII

AgroinovasI

itik (Anas crecca, Anas cyanoptera, Anas discors, Anas acuta, dan Anas discors) yang tinggal di Texas telah ditemukan beberapa subtipe hemaglutinin yaitu H2, H7, H8 dan H1. Apabila kita kembali lihat keberadaan itik yang tersebar luas di dunia dan itik yang mempunyai perilaku berpindah-pindah tempat dan berpergian dalam jarak yang sangat jauh di mana ini memberikan peluang yang sangat besar terhadap itik sebagai pembawa penyakit (carrier) flu burung dari satu daerah ke daerah yang lain. Selain itu, kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat tertentu dalam menggembalakan itik secara bebas atau liar dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya terutama pada saat musim panen tiba dimungkinkan sebagai faktor yang berperan terhadap penyebaran virus flu burung (HPAI H5N1) ke lingkungan sekitar. Para peternak atau petani itik yang ada di Indonesia juga masih banyak yang melakukan kebiasaan menggembalakan itik secara berpindah dari satu sawah ke sawah lainnya pada musim panen tiba. Itik ini biasanya secara

Sumber : Koleksi pribadi


Edisi 19-25 September 2012 No.3474 Tahun XLIII Badan Litbang Pertanian

AgroinovasI

berkelompok dibiarkan bebas atau berkeliaran untuk mencari makan sendiri di sawah yang habis panen. Apabila makanan bagi itik yang tersedia di sawah yang sebelumnya habis maka gerombolan itik tersebut akan berpindah ke sawah lain yang masih menyediakan makanan bagi itik tersebut. Perpindahan itik ini bisa berlangsung dalam beberapa hari dan dalam jarak yang cukup jauh. Kondisi ini sangat mendukung terjadinya penyebaran virus oleh itik yang terserang penyakit flu burung dari satu tempat ke tempat lainnya melalui pengeluaran (shedding) virus dari tubuh itik. Gambar di bawah ini memperlihatkan penggembalaan itik secara liar di sawah-sawah yang ada di Indonesia. Di dalam tubuh itik sendiri virus flu burung yang bersifat LPAI dapat berubah menjadi HPAI. Virus flu burung yang tidak berbahaya atau patogen dalam itik dapat menjadi virus berbahaya melalui proses evolusi atau adaptasi dalam tubuh itik. Biasanya virus flu burung yang sudah mengalami perubahan dalam tubuh itik akan bersifat sangat patogen atau berbahaya pada ayam peliharaan atau peternakan ayam. Melihat kondisi seperti ini, terdapat dugaan bahwa itik mempunyai kemampuan untuk menularkan virus flu burung kepada unggas lain tanpa menderita penyakit yang parah. Tetapi akhir-akhir ini telah ada laporan yang menyatakan bahwa virus flu burung H5N1 dapat menyebabkan penyakit yang parah sampai dengan menimbulkan kematian dalam jumlah tinggi pada itik. Itik yang mengidap penyakit flu burung biasanya bisa disertai dengan tanda-tanda penyakit atau tanpa menderita penyakit. Akan tetapi meskipun tanpa menderita penyakit itik yang terserang penyakit flu burung masih dapat mengeluarkan virus flu burung dalam jumlah yang sangat besar melalui kotoran (feses) dari lubang kloaka maupun cairan dari oropharing. Virus flu burung dalam tubuh itik selama dalam masa infeksi dapat dikeluarkan dari dalam tubuh dalam jumlah besar melalui kotoran selama 7 hari, bahkan mungkin sampai 21 hari. Itik air sangat peka dan mudah terinfeksi oleh virus flu burung melalui perantara makanan dan air yang biasa mereka konsumsi dan yang terkontaminasi virus flu burung. Habitat atau tempat tinggal dan kebiasaan hidup itik yang dekat dengan lingkungan air sangat memungkinkan untuk penularan virus flu burung dari itik ke lingkungan sekitar melalui media air. Air adalah suatu media yang cocok untuk penyebaran virus AI tidak ganas (nonvirulent) dan sebagian virus AI sangat ganas (virulent) di antara spesies unggas yang lain yang berkumpul dalam suatu lahan yang basah (unggas air, burung laut dan burung pantai). Di dalam air yang tergenang, virus ini masih dapat bersifat infektif selama 4 hari pada suhu 22oC dan lebih dari 30 hari pada suhu 0oC. Di samping itu, virus ini juga dapat bertahan dalam masa yang lebih lama lagi jika berada dalam daerah atau lahan dingin. Data survei di Indonesia juga menyebutkan bahwa letupan-letupan kasus flu burung biasanya akan meningkat pada saat musim hujan di mana kita ketahui kelembaban tinggi pada musim hujan menjadi faktor pendukung terhadap perkembang biakan
Badan Litbang Pertanian Edisi 19-25 September 2012 No.3474 Tahun XLIII

AgroinovasI

Sumber : Koleksi pribadi

dan penyebaran virus AI di lingkungan. Salah satu hasil penelitian yang dilakukan Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor juga memperlihatkan bahwa sirkulasi virus AI subtipe H5 pada unggas termasuk unggas air di Jawa Barat, Banten, Jawa Timur sepanjang tahun 2008 sampai 2009 lebih meningkat pada musim hujan daripada musim kemarau. Suhu yang tinggi pada musim kemarau kemungkinan menyebabkan virus flu burung atau AI yang ada di lingkungan menjadi inaktif. Virus AI dapat diinaktifasi pada suhu 560C selama 3 jam atau suhu 600C selama 30 menit, dengan pH <5 atau pH >8. Gambar di bawah ini menunjukkan kebiasaan unggas air yang sering berhubungan dengan lingkungan air menjadi penyebab meningkatnya faktor resiko terhadap penularan virus AI ke lingkungan sekitar. Pada dasarnya, virus flu burung atau AI ini tidak dengan mudah menginfeksi manusia dikarenakan manusia tidak memiliki reseptor (2,3) sialyllactose (NeuAc2,3Gal) untuk penempelan virus flu burung. Meskipun demikian, virus AI dapat ditularkan di antara manusia dan spesies unggas lain sebagaimana yang diperlihatkan oleh virus human reasortant yang menyebabkan wabah influenza pada tahun 1957 dan 1968. Struktur virus Influenza A yang termasuk virus RNA, berantai tunggal (single stranded), dan terdiri dari 8 segmen dengan gen yang berbeda adalah faktor-faktor yang kemungkinan memberikan peluang besar terjadinya pencampuran virus yang berbeda (genetic reassortment) dalam tubuh unggas air. Proses ini juga dapat merubah virus AI menjadi virus yang ganas pada manusia. Kebiasaan masyarakat Indonesia yang pada umumnya bertempat tinggal atau hidup berdampingan dengan unggas peliharaan dan unggas air dalam satu lingkungan tempat tinggalnya memberikan peluang yang sangat besar terjadi pencampuran genetik antara virus influenza manusia dan unggas. Gambar di bawah ini juga menunjukkan bagaimana dekatnya unggas air dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Kasus penularan penyakit dari hewan ke manusia (zoonosis) biasanya terjadi karena adanya kontak langsung yang sering antara manusia dan hewan baik itu
Edisi 19-25 September 2012 No.3474 Tahun XLIII Badan Litbang Pertanian

AgroinovasI

Sumber : Koleksi pribadi


Badan Litbang Pertanian Edisi 19-25 September 2012 No.3474 Tahun XLIII

AgroinovasI

hewan peliharaan maupun domestik serta adanya peningkatan jumlah perdagangan hewan liar di dunia akhir-akhir ini. Hal lain yang perlu lebih diwaspadai lagi adalah ketika penularan penyakit zoonosis yang bersifat ganas sudah terjadi dari manusia ke manusia. Meskipun demikian, penularan langsung dari hewan ke manusia untuk beberapa penyakit zoonosis seperti Avian Influenza atau flu burung juga sangat penting untuk diwaspadai dan diperlukan suatu upaya pengendalian penyebaran virus AI dengan cara memutus mata rantai penyebaran virus tersebut sehingga wabah penyakit yang diakibatkannya dapat diminimalkan. FAO bersama dengan WHO telah bekerjasama dalam perencanaan upaya pengendalian dan pemberantasan wabah flu burung atau AI HPAI yang terjadi di dunia akhir-akhir ini. Program Pemerintah Indonesia dalam upaya-upaya untuk mengendalikan penyebaran dan pemberantasan virus AI yang sudah ada sebaiknya harus diterapkan di lapangan secara nyata dalam rangka upaya untuk memotong mata rantai penyebaran virus AI dari unggas. Sebagaimana dengan kebijakan strategi No. 17/Kpts/ PD.640/F/02/04 yang sudah dikeluarkan Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian yang berisi tentang 1). penerapan biosekuriti yang tepat, 2). depopulasi selektif di daerah tertular, 3). vaksinasi, 4). pengendalian lalu lintas unggas, 5). surveilen dan penelusuran, 6). peningkatan kesadaran masyarakat, 7). pengisian kandang kembali, 8). stamping out di daerah tertular baru, 9). monitoring, pelaporan dan evaluasi. Sembilan langkah ini diharapkan mampu mencegah penyebaran penyakit flu burung atau AI lebih lanjut tetapi kondisi yang terjadi tidak seperti yang diharapkan. Sejak penyakit flu burung dilaporkan kejadiannya pada tahun 2003, penyebaran penyakit ini malah semakin meluas hampir ke seluruh wilayah Indonesia. Sampai dengan tahun 2011 saja, hampir semua propinsi di Indonesia tertular flu burung dan hanya Maluku, Papua, Papua Barat dan Maluku Utara. Penyebaran flu burung pada unggas ini lebih ironis lagi ketika data dari Direktorat Jenderal Kesehatan Hewan, Dirjen Peternakan, Kementerian Pertanian menyatakan bahwa penyakit flu burung atau AI telah menjadi endemis di 32 propinsi dan hanya 1 propinsi yang dinyatakan bebas AI yaitu propinsi Maluku Utara. Untuk itu, suatu pengembangan strategi alternatif untuk pencegahan dan pengendalian penyebaran virus AI yang efektif sangat diperlukan. Program pengendalian dan pemberantasan AI memerlukan suatu pendekatan yang komprehensif dan intensif mencakup tindakan pencegahan, pengendalian dan pemberantasan AI pada unggas pekarangan, peternakan unggas komersial, itik dan sepanjang rantai pemasaran unggas serta melibatkan semua pihak. Strategi utama pengendalian AI yang ditetapkan pemerintah melalui Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian pada tahun 2012 ini lebih menitik beratkan pada 1) peraturan perundangan, 2) public awareness, 3) biosekuriti di farm dan rantai pemasaran unggas, 4) depopulasi terbatas di daerah endemis dan stamping out di daerah bebas, 5) surveilans yang meliputi partisipasi,
Edisi 19-25 September 2012 No.3474 Tahun XLIII Badan Litbang Pertanian

AgroinovasI

prevalensi, pembebasan dan monitoring dinamika virus, 6) pengawasan lalu lintas, 7) vaksinasi tertarget di daerah kasus tinggi, 8) restrukturisasi perunggasan. Apabila kita bicara tentang pengendalian flu burung HPAI tidak bisa hanya semata-mata dilakukan melalui pendekatan teknis saja. Selain kendala adanya berbagai otoritas kebijakan yang berbeda dalam menangani kesehatan hewan di tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota serta populasi unggas di Indonesia yang sangat besar, masih banyak faktor lain yang menjadi kendala pengendalian virus AI yang tidak bisa diabaikan begitu saja seperti aspek kesehatan masyarakat, dampak ekonomi, sosial budaya, politik, dan efek psikologis yang ditimbulkan kasus flu burung atau AI sehingga penanggulangan penyakit flu burung atau AI menjadi sangat rumit. Supaya program pengendalian dan pemberantasan penyakit flu burung atau AI ini dapat berjalan sukses sebaiknya perlu ada kerjasama yang baik antara masing-masing instansi yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan manusia. Masyarakat juga diharapkan sadar dengan sendirinya terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh penyakit flu burung dan selalu mendapatkan pembinaan dari dinas yang terkait dengan kesehatan hewan maupun manusia dalam upaya pengendalian dan pemberantasan penyebaran virus AI dari unggas ke manusia. Dyah Ayu Hewajuli, Bbalitvet, Bogor

Badan Litbang Pertanian

Edisi 19-25 September 2012 No.3474 Tahun XLIII