Anda di halaman 1dari 9

STUDI BIOLOGI Epilachna septima PADA TANAMAN

PARIA (Momordica charantia L.)



Azwana*)

dan Ahsol Hasyim**)



*) Staf Pengajar Kopertis Wil.I Dpk. Fakultas Pertanian Universitas Medan Area-Medan
**) Staf Peneliti pada Balai Penelitian Tanaman Buah, Solok-Sumatera Utara


ABSTRAK

Studi biologi Epilachna septima pada tanaman paria (Momordica charantia L.) E.
septima merupakan salah satu serangga yang menjadi hama utama pada
tanaman famili Solanaceae dengan tingkat kerugian 10 35%. Penelitian ini
dilakukan pada bulan Februari sampai Mei 2002 di Kebun Penelitian dan
Laboratorium Taksonomi Hewan Fakultas MIPA Universitas Andalas Padang,
dengan menggunakan teknik survey dan sensus rutin. Penelitian bertujuan untuk
membuat tabel kehidupan (life table) dari E. septima sehingga diketahui faktor-
faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan populasinya di laboratorium
dan lapangan. Hal ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
usaha pengendaliannya. Dari hasil penelitian diperoleh jumlah telur di
laboratorium sangat besar jika dibandingkan dengan di lapangan (61,67 52,40
berbanding 50,21 18,62) dengan lama stadia 4 8 hari dan 3 7 hari. Lama
stadia larva dan pupa di laboratorium juga lebih lama dibandingkan dengan di
lapangan (larva: 22 28 hari dan 17 19 hari; pupa: 4 5 hari dan 3 4 hari)
dengan sex ratio 1:1. Faktor makanan merupakan faktor utama yang
mempengaruhi perkembangan populasinya di laboratorium, di lapangan faktor
tersebut ditambah dengan faktor fisis dan biotis.

PENDAHULUAN

Serangga adalah makhluk yang sangat
berhasil, walau banyak faktor-faktor
yang mempengaruhi kehidupannya.
Oleh karena serangga memiliki daya
adaptasi dan plastisitas genetik yang
tinggi sehingga serangga dapat hidup
dan bertahan di berbagai ekosistem.
Keberadaannya di alam, ada yang
bersifat menguntungkan bagi manusia
(menghasilkan madu sutera, sherlac,
membantu peryerbukan/ sebagai
polinator dan berperan sebagai musuh
alami), ada pula yang merugikan
(berperan sebagai hama tanaman)
(Gullan and Cranston, 1994; Untung,
1993).

Kehidupan dan perkembangan
serangga dipengaruhi oleh faktor
dalam (intrinsic factor) dan faktor
luar/lingkungan (enviromental factor).
Kedua faktor tersebut bekerja bersama-
sama dan membentuk variasi corak
lingkungan hidup yang luas di alam.
Faktor intrinsik berupa keadaan fisiologi
dan struktur organ tubuhnya. Faktor
lingkungan yaitu faktor di luar tubuh
serangga itu secara langsung/tidak
mempengaruhinya. Faktor ini dibagi lagi
menjadi: faktor fisis (meliputi iklim,
cuaca, suhu, kelembaban dan lain-
lain); faktor biotis (meliputi parasit,
predator dan patogen dan faktor
makanan (beraktian dengan kuantitas
JURNAL PENELITIAN BIDANG ILMU PERTANIAN Volume 2, Nomor 2, Agustus 2004

15
dan kualitas). Kesemuanya
mempengaruhi proses-proses
metabolisme, keadaan fisiologis, tingkah
laku dan perkembangan serangga. Hal
ini menyebabkan kepadatan populasi
serangga bersifat dinamis. Bila kondisi
sesuai, populasi serangga berkembang
pesat, dan sebaliknya jika faktor
lingkungan tidak cocok maka serangga
akan pindah ketempat lain atau mati
(Sunjaya,1970; Horn,1988; Gullan and
Cranston,1994; Price,1975; Nurdin,1992).

Untuk mengetahui faktor-faktor yang
sangat mempengaruhi perkembangan
suatu populasi serangga tertentu di
alam dapat diketahui dengan
membuat tabel kehidupan (life table)
dari serangga tersebut. Dari tabel
kehidupan tersebut kita dapat
mengetahui berbagai faktor mortalitas
(abiotik dan biotik) yang mempengaruhi
perkembangan populasi serangga dan
pada stadia mana faktor tersebut
mempengaruhinya (Untung,1993;
Nurdin, 1992; Varley, Gradwell and
Hassel, 1973).

Serangga sebagai herbivor berdasarkan
jenis makanan dapat dibedakan atas
monofag (yang hanya memakan 1
spesies tanaman), oligofag (memakan
beberapa jenis tanaman yang termasuk
1 golongan taxonomi) dan polyfag
(memakan banyak jenis tanaman dari
berbagai golongan taxonomi).
Serangga yang monofag biasanya
disebut serangga yang spesialis,
sedangkan yang polyfag disebut
generalis (Gullan and Cranston, 1994;
Untung, 1993; Horn, 1988).

Epilachna septima termasuk serangga
yang monofag, karena hanya
memakan daun tanaman paria
(Momordica charantia) dan tanaman
famili Solanaceae, sehingga daunnya
berlubang dan tinggal tulang daunnya
saja, dengan kerugian berkisar 10-35%
(Katakura, Nakano, Abbas, Nakamura,
2001; Kalshoven, 1981)

Pengetahuan faktor-faktor yang
mempengaruhi aktivitas dan
perkembangan populasinya baik di
laboratorium dan di lapangan sangat
perlu diketahui untuk mengendalikan
populasinya sehingga tidak merugikan
secara ekonomis. Untuk itu diperlukan
pengamatan yang rutin dan penuh
ketelitian.

Paria (Momordica charantina)
merupakan sayuran yang mengandung
nilai gizi yang cukup bagi manusia.
Kandungan mineral dan vitamin dalam
100 g buah (75% bagian yang dapat
dimakan) terdiri dari Kalsium (45 mg),
fosfor (64 mg), besi (1,4 mg), aktivitas
retinol (54 mcg), thiamin (0.08 mg),
asam askorbat (52 mg), kalori (34 kal),
air (91G), protein (1,1g), lemak (0,3 g),
karbohidrat (6,8 g) Lakitan, 1995). Oleh
karena kandungan gizinya yang cukup
tinggi, maka keberadaan Epilachna
septima pada tanaman paria
menimbulkan kerugian secara ekonomis
(Lakitan, 1995)

E. septima termasuk dalam phylum
Arthrophoda, famili Coccinellidae,
subfamili Epilachninae. Epilachninae
terdiri dari kumbang coccinellidae yang
fitofag. Epilachna adalah genus yang
terpenting dari famili ini. Dari genus ini
ada yang bersifat sebagai predator
aphid dan ada pula yang fitofag
(Kalshoven, 1981; Gullan and Cranston,
1994)

E. septima, kumbang dengan
metamorfosanya sempurna
(holometebola) yang terdiri dari telur,
larva, pupa dan imago yang berupa
kumbang. Siklus hidup kelompok ini
sedikit bervariasi kecuali dalam hal
pemilihan tanaman inang. Epilachna ini
dapat hidup pada daerah-daerah
dengan ketinggian rendah sampai
JURNAL PENELITIAN BIDANG ILMU PERTANIAN Volume 2, Nomor 2, Agustus 2004 16
tinggi (0 1100 m dpl.) tergantung dari
keberadaan tanaman inangnya
(Nakano, Nakamura, Abbas, 2001;
Gullan and Cranston, 1994; Kalshoven
1981). Serangga dewasa E. septima
berupa kumbang kecil, berbentuk bulat
cembung, berwarna kuning dengan
bintik-bintik hitam pada elytra-nya.
Kepalanya tidak berbintik. Pronotum-
nya berbintik 2 6 buah. Pada elytra-nya
biasanya terdapat 14 bintik atau lebih
sehingga di tubuhnya terdapat 28 bintik,
tetapi sering kali bintik e,f,g dan h tidak
ada (non-persisten). Bentuk bintik/spot
yang persisten bentuknya membulat
dan lebih besar dari pada bintik yang
non- persisten (Katakura et al., 2001;
Dieke, 1947; Kalshoven, 1981). Aktif dan
mempunyai kemampuan terbang untuk
menyebar yang besar adalah E.
septima dan E. pusillanima (Nakano et
al., 2001). Abdomennya datar dan
terdiri dari 7 segmen. Untuk
membedakannya hanya dilihat dari
alat genetalianya, pada betina
terdapat celah pada ujung abdomen
yang membedakannya dengan
kumbang jantan (Dieke, 1974). Ukuran
tubuh betina 7 7.7 mm dan jantan 6.5
7.2 mm (Katakura et al., 2001)

Telur berbentuk bulat lonjong (ellips),
berwarna kuning, tersusun berkelompok,
terdapat di permukaan bawah daun
dengan panjang telur 1,4 mm. J umlah
telur /kelompok berkisar dari 7 108 butir
dengan rata-rata 49,6 butir (Kalshoven,
1981; Abbas and Nakamura, 1985).
J umlah telur yang diletakkan
/betina/hari oleh Epilachna yang
sebagai hama lebih banyak dari pada
Epilachna yang tidak sebagai hama
(Nakano et al., 2001).

Larva dan imago E. septima memiliki
tempat hidup dan makanan yang
sama, keduanya menyebabkan
rusaknya daun, sehingga tinggal
mesofilnya dengan pola yang khas dan
bahkan tinggal tulang daun saja.
Larvanya berwarna kuning dengan
rambut-rambut halus berwarna hitam
menutupi seluruh permukaan tubuhnya.
Fase ini terdiri dari 4 instar (Abbas and
Nakamura, 1985; Kalshoven, 1981).

Pupa Epilachna terlihat berkelompok
atau satu-satu pada bagian bawah
permukaan daun bekas serangannya.
Panjang pupa 6 mm dan ujung
abdomennya seringkali ditutupi oleh
eksuvium larva. Bentuk pupa segi empat
dan agak membulat, berwarna kuning
terang (Kalshoven, 1981; Dieke, 1947).

Bagi E. septima faktor makanan
merupakan faktor yang utama
disamping faktor biotis dan fisis yang
akan mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan. Ketersediaan makanan
merupakan faktor yang sangat
mempengaruhi populasi suatu
organisme dan dapat menjadi faktor
pembatas (limiting factor) terutama jika
kepadatan populasi sangat besar
(crowded) (Horn; 1988; Sunjaya, 1970).
Populasi Epilachna rendah di awal
musim hujan oleh karena di musim
kemarau serangga kekurangan
makanan. Saat musim hujan dimana
makanan cukup tersedia, maka
populasinya akan meningkat dan
serangan yang ditimbulkannya cukup
serius (Kalshoven, 1981). Faktor biotis
dalam hal ini parasit, predator dan
patogen juga berperan mengontrol
populasi E. septima di alam. Menurut
Abbas and Nakamura (1985), musuh
alami utama E. septima di Sumatera
Barat adalah Tetrastichus sp. B
menyebabkan 41,4 64,21% telur
terparasit. Parasitoid Tetrastichus sp. C
dan Pediobius foveolatus memparasit
larva instar 4 sebanyak 1,2 19,4%.
Parasitoid ini juga memparasit pupa
dengan mortalitas 24,6 59,1%. Parasit
dan kekurangan makanan karena
padatnya populasi merupakan faktor
utama penyebab mortalitas dari telur
sampai dewasa yang keluar dari pupa
JURNAL PENELITIAN BIDANG ILMU PERTANIAN Volume 2, Nomor 2, Agustus 2004

17
dan berkisar 89,4 99, 54%. Menurut
Kalshoven (1981), parasitoid Tetrastichus
sp. (famili Eulophidae) memarasit telur
lebih dari 70%, sedangkan Pediobius
dapat memarasit larva dan pupa lebih
dari 30% sampai 55%. Telur dan pupa
yang terparasit mula-mula berbecak
hitam, dan kemudian bertambah gelap
warnanya.

BAHAN DAN METODA
Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian
ini dilaksanakan di Laboratorium
Taksonomi Hewan dan Kebun Penelitian
J urusan Biologi Fakultas MIPA Universitas
Andalas Padang. Penelitian ini
dilaksanakan dari bulan Februari sampai
Mei 2002.

Bahan dan Alat. Bahan yang
dipergunakan adalah: larva dan imago
E. septima, bibit paria (Momordica
charantia), tanah dan pupuk kandang.
Alat-alat yang digunakan adalah
loupe, plastic cup transparan diameter
10 cm dengan tinggi 4,3 cm, gunting,
kertas label, ajir, spidol, polibag
berdiameter 30 cm, kapas, kuas dan
alat tulis.

Metode Penelitian. Penelitian ini
dilakukan di laboratorium dan di
lapangan, menggunakan teknik survey
dan sensus rutin. Pengamatan dilakukan
dengan instensif sehingga diperoleh
data berkala (time series) yaitu data
yang dikumpulkan dari waktu ke waktu
untuk melihat perkembangan populasi
Epilachna selama periode penelitian.
Data yang diperoleh diolah dengan
statistik sederhana sehingga diperoleh
rata-rata dan standar deviasinya.

Pelaksanaan Penelitian. Persiapan
Makanan E. septima. Polibag diisi
dengan tanah dan pupuk kandang.
Bibit paria yang diperoleh dari petani
ditanamkan ke dalam polibag masing-
masing 2 biji. Setelah tumbuh tanaman
diberi ajir dan diletakkan di kebun
belakang J urusan Biologi Fakultas MIPA
Universitas Andalas.
Persiapan serangga E. septima. Pupa
diambil dari lahan petani yang tidak
menggunakan insektisida. Pupa tersebut
ditempatkan dalam kotak plastik
transparan dan diberi kapas lembab
untuk menjaga agar kelembaban di
dalam kotak sama dengan yang ada di
lapangan. Pupa dipelihara sampai
menjadi imago dan dicatat saat imago
keluar dari pupa.

Pengujian siklus hidup. Lima pasang
kumbang di pelihara di laboratorium
dan ditempatkan setiap pasangnya di
dalam sebuah kotak plastik transparan
yang telah berisi daun paria dan kapas
lembab. Setiap hari diamati kelompok
telur dan jumlahnya, dan dipisahkan
dari induknya serta diberi label. Telur-
telur ini dipelihara hingga menetas
menjadi larva, pupa dan imago. Setiap
hari kotak dibersihkan dan makanan
diganti, ujung daun sebagai sumber
makanan diberi kapas lembab agar
tetap segar.

Pada saat yang sama dilepaskan
sepasang kumbang ke tanaman paria
yang sudah tersedia. Sebelum dilepas
kedua kumbang diberi tanda pada
elitra bagian kanan untuk jantan dan
bagian kiri untuk betina dengan
menggunakan spidol serangga
(capture and recapture methode).
Setiap 3 hari sekali diamati kelompok
dan jumlah telur yang diletakkannya
serta diberi label pada kelompok telur
tersebut.

Pengamatan Penelitian
Pengamatan laboratorium.
Pengamatan di laboratorium dilakukan
setiap hari, sejak ke 5 pasangan
kumbang ditempatkan di kotak plastik
trasparan. Pengamatan meliputi jumlah
telur per kelompok, jumlah telur yang
menetas menjadi larva, jumlah larva
yang menjadi pupa, jumlah imago yang
keluar dari pupa dan jumlah
jantan/betina yang keluar dari pupa
serta lamanya masing-masing stadia.

Pengamatan di lapangan. Sepasang
kumbang yang diinvestasikan ke
JURNAL PENELITIAN BIDANG ILMU PERTANIAN Volume 2, Nomor 2, Agustus 2004 18
JURNAL PENELITIAN BIDANG ILMU PERTANIAN Volume 2, Nomor 2, Agustus 2004

19
lapangan, diamati setiap 3 hari sekali.
Pengamatan meliputi jumlah telur per
kelompok, jumlah larva, jumlah pupa
dan jumlah dewasa yang keluar dari
pupa. Pengamatan terhadap kelompok
telur dan pupa diberi label, kumbang /
imago yang keluar dari pupa dihitung
dan diberi tanda dengan spidol pada
elytranya. Untuk kumbang jantan diberi
tanda pada bagian kanan, sedangkan
untuk betina di elytra bagian kiri. Selain
itu juga diamati mortalitas larva dan
pupa oleh parasit atau faktor lain.

Kumbang yang telah diberi tanda
kemudian dilepas lagi. Pada
pengamatan berikutnya diamati,
apakah yang telah ditandai itu masih
terdapat dilapangan atau tidak
(dihitung dan dicatat nomor kumbang
tersebut). Kumbang yang baru keluar
dari pupa diberi nomor/tanda sesuai
dengan nomor setelah penandaan
yang sebelumnya (metoda capture
an recapture). d
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pengamatan di laboratorium dan
lapangan terlihat kumbang E. septima
memiliki bintik sebanyak 28 yang
berwarna hitam, kumbang berwarna
kuning orange. Ukuran tubuh jantan
lebih besar dari betina.
Hasil pengamatan 5 pasang kumbang
di laboratorium dan sepasang di
lapangan diperoleh data life table
(table kehidupan) seperti pada tabel 1.
Dari tabel 1 terlihat bahwa jumlah
telur/kelompok telur di laboratorium
kisarannya lebih besar daripada yang di
lapangan. J umlah telur per kelompok
(butir) yang diletakkan bervariasi
jumlahnya, rata-rata di laboratorium
sebanyak 61.67 52.40 (12 105)
sedangkan di lapangan 50,21 18.62 (7-
85).
Tabel-1: Siklus hidup E. septima pada tanaman paria (Momordica charantia) di
laboratorium dan lapangan

Parameter Laboratorium Lapangan
Ulangan 5 1
J umlah telur/ kel. (butir) 61.6752,40 (12 105)
a
50.2118.62 (7 85)
Lamanya stadia telur(hari) 6.20 2.05 (4 8) 4.88 1.73 (3 7)
Mortalitas telur (%) 90.97 46.48
Lama stadia larva (hari) 24.25 21.49 (22 28) 19.45 20.23 (17 19)
Mortalitas larva (%) 25 11.25
Lamanya stadia pupa
(hari)
4.200.50 (4-5) 3.800.45 (3 4)
Mortalitas pupa (%) 12 18.17
Periode pre reproduksi
(hari)
6.20 0.8 (5 7) 6
Periode Reproduksi (hari) 12.00 8.03 (10 22) 17
Periode Postreproduksi
(hari)
4.80 1.78 (3 7) 4
a
rata-rata hitung +standart deviasi (batas bawah batas atas)
Hal ini kemungkinan di laboratorium
makanan cukup tersedia dan tidak
adanya tekanan dari faktor fisis dan
biotis seperti curah hujan, parasit,
predator dan patogen, sehingga
menyebabkan keadaan fisiologis dari
telur serangga tidak terganggu.
Sementara itu di lapangan oleh karena
adanya pencucian oleh curah hujan
sehingga menyebabkan kelompok telur
yang teramati menjadi lebih sedikit tidak
sebanyak seperti saat diletakkan oleh
induk kumbang. Hal ini sesuai dengan
dikemukan oleh Sunjaya, 1970; Untung,
1993, bahwa faktor fisik terutama
kelembaban, suhu, cahaya matahari,
hujan (faktor fisis) dan musuh alami
(faktor biotis) serta faktor makanan
mempengaruhi perkembangan populasi
dan bahkan dapat menjadi faktor
pembatas.
Mortalitas telur di lapangan hanya
berkisar 46.48 % yang disebabkan parasit
14.78%, predator 0.73% dan tidak
diketahui (unknown) 25,26%. Telur yang
terparasit terlihat berbintik hitam
kemudian seluruh permukaan telur
menjadi hitam. Di laboratorium, 90.97%
hal ini disebabkan saat pemeliharaan
telur diserang oleh semut sehingga
exsuvinya juga tidak terlihat sama sekali
di kotak pemeliharaan. Telur E. septima
diletakkan berkelompok di bawah
permukaan daun, berwarna kuning,
berbentuk lonjong (ellips).

Distribusi frekwensi jumlah telur/kelompok
E septima di laboratorium dan lapangan
paling banyak berada pada 30 40 butir
per kelompok seperti terlihat pada
gambar 1.

Frekwensi jumlah telur / kelompok E. septima di
laboratorium
F
r
e
k
w
e
n
s
i

F
r
e
k
w
e
n
s
i

Frekwensi jumlah telur / kelompok E. septima di
lapangan

6 -
5 -
4 -
3 -
2 -
1 -
0
1 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190




6 -
5 -
4 -
3 -
2 -
1 -
0 -
1 10 20 30 40 50 60 70 80 90


Gambar 1. Distribusi frekwensi kelompok telur E septima dan rata-rata jumlah telur per
kelompok di laboratorium dan di lapangan
Lamanya stadia larva (hari) di
laboratorium berkisar antara 22 28 hari
dengan rata-rata 24.25 2.49 sedangkan
hasil penelitian Abbas and Nakamura
(1985), rata-ratanya adalah 22,5 hari.
Besarnya rata-rata yang diperoleh saat
praktikum kemungkinan karena jadwal
pengamatan yang dilakukan 3 hari sekali
sehingga kemungkinan saat
pengamatan sebenarnya larva telah





J umlah telur / kelompok (butir )





J umlah telur / kelompok (butir)
JURNAL PENELITIAN BIDANG ILMU PERTANIAN Volume 2, Nomor 2, Agustus 2004 20
berumur beberapa hari. Fase larva dan
imago merupakan fase yang sangat
aktif makan sehingga kerusakan yang
ditimbulkannya menjadi serius, daun
tinggal mesofilnya dan seringkali daun
tinggal tulangnya saja.

Larva E septima berwarna kuning
dengan seluruh permukaan tubuhnya
ditutupi oleh rambut-rambut yang
berwarna putih dengan ujung hitam.
Larva yang akan menjadi pupa (instar
terakhir / ke 4) tubuhnya membungkuk,
berkilat dan tidak aktif.

Mortalitas larva di laboratorium
mencapai 25%, hal ini karena
penggunaan tempat yang terlalu kecil
atau tidak sesuai dengan yang
diinginkan oleh E. septima (tempat
terlalu lembab atau ruangan tempat
hidupnya yang terlalu sempit). Di
lapangan mortalitasnya hanya 11.25%
dan larva yang terparasit tidak ada di
lapangan.

J umlah larva yang menjadi pupa di
laboratorium 60% dengan lama stadia
pupa = 4,20 0,50 (4 5). Sedangkan
jumlah larva yang menjadi pupa di
lapangan = 426/480 x 100% = 88.75%
dengan lama stadia pupa rata-rata
berkisar 3.8 0.45 (3 4). Bentuk pupa E
septima bersegi empat tetapi agak
bulat, cembung dengan warna kuning
terang dan di bagian dorsalnya
terdapat bintik-bintik hitam. Seluruh
permukaan tubuh pupa tertutup oleh
rambut-rambut. Di lapangan pupa yang
terparasit cukup banyak terlihat, yang
ditandai dengan berubahnya warna
pupa dari kuning menjadi coklat.
Rata-rata persentase pupa yang
terparasit 11.92 5.98 (5.6 18.4)
sedangkan mortalitas pupa
keseluruhannya baik yang terparasit
atau hilang di makan predator dan
sebagainya 18.17%

Lamanya stadia dari telur ke imago yang
keluar dari pupa yang diperoleh Abbas
and Nakamura (1985) adalah 22.5 hari,
sedang yang diperoleh saat penelitian
(di lapangan) adalah 20 hari (telur
pertama diletakkan imago tgl 8 April
2002 dan imago yang terbentuk
pertama kali tgl 27 April 2002). Adanya
perbedaan ini kemungkinan saat
pengamatan fase peletakan telur atau
terbentuknya imago telah lewat 1 atau 2
hari.

Morfologi tiap stadia E. septima dan gejala serangannya pada tanaman paria
(Momordica charantia L.) dapat dilihat pada gambar berikut ini.


Telur larva


Gejala serangan


Imago Pupa

Gambar 2. Morfologi tiap stadia E.septima dan gejala serangannya.
Hasil pengamatan sex ratio dari imago yang keluar dari pupa (yang ada di
lapangan) dengan menggunakan metoda penandaan diperoleh hasil sebagai
berikut:

JURNAL PENELITIAN BIDANG ILMU PERTANIAN Volume 2, Nomor 2, Agustus 2004

21
Tabel 2. Total jumlah dan betina yang ditandai setiap periode pengamatan
Periode / tanggal J antan Betina Total
I / 1 Mei 2002 18 18 36
II / 4 Mei 2002 7 10 17
III / 7 Mei 2002 9 7 16
Total 34 35 69

Dari tabel 2 terlihat bahwa sex ratio (:
) hampir mendekati 1: 1 hal ini sesuai
dengan hasil yang diperoleh Abbas and
Nakamura (1985) bahwa sex ratio dari
sp. C yang memakan Momordica
charantia adalah 1:1.

Pengamatan terhadap faktor-faktor
yang mempengaruhi perkembangan E.
septima di laboratorium dan lapangan,
terlihat peranan faktor makanan,fisik dan
parasit/predator secara berurutan
berperan penting dalam perkembangan
populasinya. Saat pengamatan di
lapangan terlihat adanya parasitoid dan
predator dari E. septima yaitu belalang
dan adanya tabuhan (wasp) dan
datangnya polinator Trigona sp.

Oleh karena E. septima monofag dan
disekitar lapangan tidak ada tanaman
paria maka kurangnya jumlah makanan
(daun paria) dengan populasi yang
cukup padat, mengakibatkan larva dan
imago E. septima tidak hanya memakan
daun paria tetapi juga memakan
buahnya. Dalam hal ini makanan
menjadi faktor pembatas bagi
perkembangan populasi E. septima di
lapangan sesuai dengan pendapat
Horn. 1988; Untung, 1993; Sunjaya, 1981,
bahwa faktor makanan jika populasi
berdesakan (crowded) akan dapat
menjadi faktor pembatas
perkembangan populasi serangga.







KESIMPULAN

1. Epilachna septima bersifat monofag
dengan tanaman inangnya
Momordica charantia.
2. Kumbang meletakkan telurnya
berkelompok dibawah permukaan
daun dengan rata-rata tiap
kelompok 61.76 52.40 butir dengan
lamanya stadia telur berkisar 6.2 2.-
05 hari (di laboratorium). Sedangkan
di lapangan rata-rata tiap
kelompoknya 50.21 18.62 butir dan
lamanya stadia telur 4.88 1.73 hari
3. Lamanya stadia larva E. septima di
laboratorium 24.25 2.49 hari di
lapangan 19.45 20.23 hari
4. Rata-rata lamanya stadia pupa di
lapangan 3.8 0.45 hari dengan
mortalitas rata-rata berkisar 18.17
28.29 %
5. Sex ratio E. septima 1: 1
6. Periode pre reproduksi E. septima di
laboratorium dan lapangan hampir
sama berturut-turut yaitu 6.2 0.8
hari dan 6 hari; periode reproduksi
12 8.03 hari dan 17 hari serta
periode post reproduksi 4.8 1.78 hari
dan 4 hari.
7. Mortalitas E. septima di laboratorium
dan di lapangan sangat
dipengaruhi oleh faktor makanan
(kualitas dan kuantitas) diikuti factor
fisik (seperti lembaban, suhu, curah
hujan), dan faktor biotis (parasit,
predator dan patogen).

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, I. And K, Nakamura. 1985 Adult
Population Parameters and Life
Table of An Epilachnine beetle
(Coleoptera;Coccinellidae) Feeding
on Bitter Cucumber in Sumatera.
Researches on Population Ecology.
Vo. 27(2): 313 324.
JURNAL PENELITIAN BIDANG ILMU PERTANIAN Volume 2, Nomor 2, Agustus 2004 22
Dieke, G.H. 1974. Ladybeetles of The
Genus Epilachna (Sens. Lat). In Asia,
Europe and Australia Published by
The Smithsoniaan Institution.
Washington. 183 pp.

Gullan, P. J . and P.S. Cranston. 1994. The
Insect An Outline of Entomology.
Chapman and Hall. London. 491 pp

Horn, D.J . 1988. Ecological Approach to
Pest management. The Guilford
Press. New York. London. 288 pp.

Kalshoven, L.G. E. 1981. Pest of Crops in
Indonesia. Revised by P. A. van der
Laan. P.T. Ichtiar Baru Van Hoeve.
J akarta. 701 hal.

Katakura, H., S. Nakano, I. Abbas and K.
Nakamura, 2001. Epilachnine
Ladybird Beetles (Coleoptera;
Coccinellidae) of Sumatera and
J ava. Tropic. Vol 10(3):369 377.

Lakitan, B. 1995. Hortikultura, Teori,
Budidaya dan Pasca Panen. P.T.
Raja Grafindo Perkasa, J akarta. 219
hal.

Nakano, S.,K.Nakamura and I. Abbas.
2001. Survivorship and Fertility
Scedules of A Non Pest
Phytophagus Lady Beetle, Epilachna
Phyto (Coleoptera, Coccinellidae)
Under Laboratory Condition. Tropic.
Vol. 10 (3): 369 377.

Nurdin, 1992. Ekologi Serangga. Fakultas
Biologi. Universitas Andalas Padang.

Price, P.W. 1975. Insect Ecology. Awiley
Interscience Publication. J hon Wiley
and Sons. New York. 514 pp

Sunjaya, P.I. 1970. Dasar-dasar ekologi
Serangga. Bagian Ilmu Hama
Tanaman. Institut Pertanian Bogor.
Bogor.

Untung, K. 1993. Pengantar Pengelolaan
Hama Terpadu. Gajah Mada
University Press.. Yogyakarta. 273 hal.

Varley, G.C., G.R. Gradwell and M.P.
Hassel. 1973. Insect Population
Ecology. Blackwell Scientific
Publication. Oxpord London. 212
pp.



































JURNAL PENELITIAN BIDANG ILMU PERTANIAN Volume 2, Nomor 2, Agustus 2004

23