Anda di halaman 1dari 24

Kelompok H Probolinggo: 1.I Pt. Bhayu Wiratma, S. Ked 2.Marini Ayu Purnama, S. Ked 3.Ni luh Pt.

Paramitha I, S. Ked 4.A.A. Made Berastia A.S, S. Ked 5.Diah Eka Wiyani, S. Ked 6.Gede Bagus Subha J.G, S. Ked 7.I Gst. A. N. Rai Jayawiguna, S. Ked

1.1 Identitas
Nama : Ny. U Umur : 35 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Kebangsaan : Indonesia Agama : Islam Pekerjaan : Perawat Status : Menikah Alamat : Jln. Dukuh Jerawat VII/ 6Surabaya Tanggal pemeriksaan : 17Januari 2014

1.2 Anamnesis
Keluhan Utama :

Gigi berlubang Riwayat penyakit sekarang : Lubang dengan tambalan yang lepas, pasien memakai tambalan kurang lebih 1 tahun yang lalu dan lepas sudah 6 bulan yang lalu.Tidak nyeri, tidak keluar darah, tidak ngilu, saat makan makanan panas dan dingin juga tidak sakit.

Riwayat penyakit dahulu : Pasien melakukan pencabutan gigi 1 tahun yang lalu karena goyang, Riwayat dm (-), Riwayat HT (-) Riwayat pengobatan :

Pasien tidak pernah minum obat jika sakit gigi Riwayat alergi :

Pasien tidak mempunyai riwayat alergi obat/makanan Riwayat kebiasaan : Tidak merokok

Pemeriksaan fisik
Status Generalis
Keadaan Umum

: Baik Kesadaran : Compos mentis Tanda-tanda vital : Nadi : 68 x/menit Tekanan Darah : 120/80 mmHg Pernafasan : 22 x/menit Suhu : 36,5 C Ekstra oral : Baik

Intra oral
Intra oral Debris Dental deposit Calculus Pigmentasi keradangan Ra.Kn + + + Ra.M + Ra.kr + Rb.kn + + + Rb.M + + + Rb.Kr + + +

Keadaan ginggiva

Perdarahan Necrose interdental

+ -

Retraksi

Keadaan gigi

Gambaran
Rontgenologis Keterangan Lain lain :

: : : Sisa akar pada 35,36,45

Diagnosa
Pulpitis reversible pada gigi 13,17,18,24,25,27,28,33,34,37,38,43,46,47,48 2. Gingivitis marginalis kronis pada Ra.Kn, Rb.Kn, Rb.M, Rb.Kr
1. 3.
4. Maloklusi (edge to edge)

Etiologi
Caries media pada gigi 18 Caries superficialis pada gigi 13,17,24,25,27,28,33,34,37,38,43,46,47,48 2. Calculus pada Ra.Kn, Rb.Kn, Rb.M, Rb.Kr
1.
3. 4. Malposisi pada gigi 13,22,23,25,26,31,38,41,43,44

Terapi
Pro filling pada gigi13,17,18,24,25,27,28,33,34,37,38,43,46,47,48 2. Pro Scalling pada Ra.Kn, Rb.Kn, Rb.M, Rb.Kr
1.
3. 4. Pro orthodonsia

DEFINISI
Maloklusi adalah bentuk hubungan rahang atas dan bawah yang

menyimpang dari bentuk standar yang diterima sebagai bentuk yang normal, maloklusi dapat disebabkan karena tidak ada keseimbangan dentofasial.
Faktor-faktor yang mempengaruhi malokusi adalah keturunan,

lingkungan, pertumbuhan dan perkembangan, etnik, fungsional, patologi.

JENIS MALOKLUSI

1. Protrusi Protrusi adalah gigi yang posisinya maju ke depan. Protrusi dapat disebabkan oleh faktor keturunan, kebiasaan jelek seperti menghisap jari dan menghisap bibir bawah, mendorong lidah ke depan, kebiasaan menelan yang salah serta bernafas melalui mulut. 2. Intrusi dan Ekstrusi Intrusi adalah pergerakan gigi menjauhi bidang oklusal. Pergerakan intrusi membutuhkan kontrol kekuatan yang baik. Ekstrusi adalah pergerakan gigi mendekati bidang oklusal. 3. Crossbite Crossbite adalah suatu keadaan jika rahang dalam keadaan relasi sentrik terdapat kelainan-kelainan dalam arah transversal dari gigi geligi maksila terhadap gigi geligi mandibula yang dapat mengenai seluruh atau setengah rahang, sekelompok gigi, atau satu gigi saja.

Berdasarkan lokasinya crossbite dibagi dua yaitu: a. Crossbite anterior Suatu keadaan rahang dalam relasi sentrik, namun terdapat satu atau beberapa gigi anterior maksila yang posisinya terletak di sebelah lingual dari gigi anterior mandibula. b. Crossbite posterior Hubungan bukolingual yang abnormal dari satu atau beberapa gigi posterior mandibula. 4. Deep bite Deep bite adalah suatu keadaan dimana jarak menutupnya bagian insisal insisivus maksila terhadap insisal insisivus mandibula dalam arah vertikal melebihi 2-3 mm. Pada kasus deep bite, gigi posterior sering linguoversi atau miring ke mesial dan insisivus madibula sering berjejal, linguo versi, dan supra oklusi. 5. Open bite Open bite adalah keadaan adanya ruangan oklusal atau insisal dari gigi saat rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan oklusi sentrik. Macam-macam open bite menurut lokasinya adalah :

a. Anterior open bite Klas I Angle anterior open bite terjadi karena rahang atas yang sempit, gigi depan inklinasi ke depan, dan gigi posterior supra oklusi, sedangkan klas II Angle divisi I disebabkan karena kebiasaan buruk atau keturunan. b. Posterior open bite pada regio premolar dan molar c. Kombinasi anterior dan posterior (total open bite) terdapat baik di anterior, posterior, dapat unilateral atau bilateral.

6. Crowded Crowded adalah keadaan berjejalnya gigi di luar susunan yang normal. Penyebab crowded adalah lengkung basal yang terlalu kecil daripada lengkung koronal. Lengkung basal adalah lengkung pada prossesus alveolaris tempat dari apeks gigi itu tertanam, lengkung koronal adalah lengkungan yang paling lebar dari mahkota gigi atau jumlah mesiodistal yang paling besar dari mahkota gigi geligi. Derajat keparahan gigi crowded: a. Crowded ringan Terdapat gigi-gigi yang sedikit berjejal, sering pada gigi depan mandibula,dianggap suatu variasi yang normal, dan dianggap tidak memerlukan perawatan. b. Crowded berat Terdapat gigi-gigi yang sangat berjejal sehingga dapat menimbulkan hygiene oral yang jelek .

7. Diastema Diastema adalah suatu keadaan adanya ruang di antara gigi geligi yang seharusnya berkontak. Diastema ada 2 macam, yaitu : a. Lokal, jika terdapat diantara 2 atau 3 gigi, dapat disebabkan karena dens supernumerary, frenulum labii yang abnormal, gigi yang tidak ada, kebiasaan jelek, dan persistensi. b. Umum, jika terdapat pada sebagian besar gigi, dapat disebabkan oleh faktor keturunan, lidah yang besar dan oklusi gigi yang traumatis.

ETIOLOGI
Etiologi maloklusi dibagi atas dua golongan yaitu faktor luar atau

faktor umum dan faktor dalam atau faktor lokal. Faktor luar yaitu herediter, kelainan kongenital, perkembangan atau pertumbuhan yang salah pada masa prenatal dan posnatal, malnutrisi, kebiasaan jelek, sikap tubuh, trauma, dan penyakit-penyakit dan keadaan metabolik yang menyebabkan adanya predisposisi ke arah maloklusi seperti ketidakseimbangan kelenjar endokrin, gangguan metabolis, penyakit-penyakit infeksi.15 Faktor dalam adalah anomali jumlah gigi seperti adanya gigi berlebihan (dens supernumeralis) atau tidak adanya gigi (anodontis), anomali ukuran gigi, anomali bentuk gigi, frenulum labii yang abnormal, kehilangan dini gigi desidui, persistensi gigi desidui, jalan erupsi abnormal, ankylosis dan karies gigi.15

AKIBAT MALOKLUSI
Maloklusi dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pada

pengunyahan, bicara, serta estetik. Beberapa kasus maloklusi pada anak remaja sangat berpengaruh terhadap psikologis dan perkembangan sosial. Maloklusi dapat mempengaruhi kejelasan bicara seseorang. Apabila ciri maloklusinya berupa disto oklusi akan terjadi hambatan mengucapkan huruf p dan b. Apabila ciri maloklusinya berupa mesio oklusi akan terjadi hambatan mengucapkan huruf s, z, t, dan n.6

Menurut Bruggeman anomali dental yang mengakibatkan gangguan

bicara adalah 18 1. Ruang antar gigi (spaces) yaitu terjadi kelainan bunyi saat mengucapkan semua huruf terutama s, sh, z, zh kecuali huruf n dan y. 2. Lebar lengkung yaitu terjadi kelainan saat mengucapkan huruf s, z, th. 3. Open bite yaitu terjadi kelainan bunyi saat mengucapkan huruf s, sh, z, zh, th, dan kadang-kadang pada huruf t dan d. 4. Derajat protrusi yaitu terjadi kelainan bunyi saat mengucapkan huruf s,sh,z,zh. 5. Pada gigi yang rotasi kelainan bunyi yang terjadi sama dengan kelainan pada ruang antar gigi.

NEED dan Demand

INDEKS MALOKLUSI
Indeks Maloklusi yang dapat digunakan seperti :

- TPI (Treatment Priority Index) - HMA (Handicapping Malocclusion Assestment Index) - IOTN (Index of Orthodontic Treatment Need) Untuk melihat peningkatan estetis dapat digunakan: - DAI (Dental Aesthetic Index) - SCAN (Standardized Continuum of Aesthetic Need Index) IOTN merupakan suatu teknik yang sangat berguna untuk orang yang berminat dalam penelitian dibidang kesehatan gigi masyarakat dan epidemiologi maloklusi, tetapi teknik ini lebih sering digunakan spesialis. Pasien dengan IOTN yang rendah akan memperlihatkan perubahan yang besar walaupun telah diberikan perawatan yang terbaik. Kebutuhan terhadap perawatan ortodonti dapat dibedakan menjadi kebutuhan terhadap kesehatan gigi (dental health) serta kebutuhan terhadap estetik (aesthetic need).