Anda di halaman 1dari 14

Langkah Awal menganalisa Konten Media Penyiaran

Komisioner KPI Daerah Jambi

Yoyo Sunaryo,SH

Pelatihan SDM Relawan KPI Daerah Jambi Angkatan I 2014 12 April 2014, Ceria Hotel Jambi

Kebanyakan aktifitas menonton berawal dari sebuah kebutuhan akan informasi yang kemudian berpola dan menjadi semacam ritual keseharian. Aktivitas menonton televisi adalah suatu proses yang rumit, terjadi dalam praktik domestik, yang hanya dapat dipahami dalam konteks kehidupan sehari-hari. Kini,

Aktivitas menonton bukanlah sekedar tindakan-tindakan yang dilihat dari derajat keaktifan atau kepasifan audiens di depan layar televisi, melainkan bersifat kaya dimensi.

inisiatif warga untuk kerja pemantauan tayangan televisi di Indonesia

Cakupan kerjanya turut meliputi aktivitas pendidikan melek media dan advokasi yang bertujuan
Remotivi

Mengembangkan tingkatkemelekmediaan masyarakat, menumbuhkan, mengelola, dan merawat sikap kritis masyarakat terhadap televisi

mendorong profesionalisme pekerja televisi untuk menghasilkan tayangan yang bermutu, sehat, dan mendidik.

Siaran Berita Sinetron Variety Quis Film Infotainment Sport Majalah Udara/Feature

Teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory) merupakan penamaan baru dari Teori Belajar Sosial (Social Learning Theory) yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Penamaan baru dengan nama Teori Kognitif Sosial ini

dilakukan pada tahun 1970-an

dan 1980-an.

http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_Kognitif_Sosialmedia di level individu.

Ide pokok dari pemikiran Bandura (Bandura, 1962) juga merupakan pengembangan dari ide Miller dan Dollard tentang belajar meniru (imitative learning). Pada beberapa publikasinya, Bandura telah mengelaborasi proses belajar sosial dengan faktor-faktor kognitif dan behavioral yang memengaruhi seseorang dalam proses belajar sosial. Teori ini sangat berperan dalam mempelajari efek dari isi media massa pada khalayak
http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_Kognitif_Sos ialmedia di level individu.

Sudah jelas bahwa konsep utama dari teori kognitif sosial adalah pengertian tentang obvervational learning atau proses belajar dengan mengamati. Jika ada seorang "model" di dalam lingkungan seorang individu, misalnya saja teman atau anggota keluarga di

dalam lingkungan internal, atau di lingkungan


publik seperti para tokoh publik di bidang berita dan hiburan,).

proses belajar dari individu ini akan terjadi melalui cara memperhatikan model tersebut. Terkadang perilaku seseorang bisa timbul hanya karena proses modeling. Modeling atau peniruan merupakan "the direct, mechanical reproduction of behavior, reproduksi perilaku yang langsung dan mekanis(Baran & Davis, 2000: 184

Dampak terbesar dari teori kognitif sosial adalah dalam penelitian tentang kekerasan dalam media (media violence). Gunter (1994) melakukan tinjauan atas riset tentang dampak dari kekerasan yang ditampilkan di media pada anak-anak dan orang dewasa, dan ia menyimpulkan bahwa terdapat bukti-bukti campuran yang kuat yang menghubungkan efek dari penggambaran kekerasan melalui media pada perilaku, sikap dan kognisi dari penonton. Teori kognisi sosial, yang amat menekankan efek pada perilaku, mengatakan bahwa penggamabaran kekerasan itu memicu baik peningkatan maupun penurunan dalam perilaku kekerasan, tergantung pada perilaku yang mendapatkan imabalan maupun hukuman, dan juga tergantung pada sejauh mana penonton mengidentifikasi diri mereka pada model kekerasan dalam media.

Tentu saja, riset awal Bandura (1962) dan Berkowitz (1964) mendukung hubungan mendasar antara menonton perilaku kekerasan dan pemodelan perilaku dalam interaksi. Bagaimanapun, riset terakhir telah menambahkan kompleksitas untuk persamaan ini, dengan alasan bahwa isuisu seperti kecenderungan perilaku agresif yang sudah ada, proses kognitif media, realita yang digambarkan mediam dan bahkan diet bisa memengaruhi sejauh mana seseorang "belajar" tentang kekerasan dari media. (Miller,2005: 254)