Anda di halaman 1dari 18

MUDAH TIDAKNYA PENEMBUSAN MEMBRAN BIOLOGIS LIPOFIL - HIROFOB HIDROFIL LIPOFOB

Sifat Hidrofilik Kuat (makin kekanan Sedang makin menurun) Ikatan tak jenuh Lipofilik

Gugus -OSO2ONa, -COONa, -SO2Na, -OSO2H -OH, -SH, -O-, =C=O, -CHO, -NO2, -NH2, -NHR, -NR2, -CN, -CNS, -COOH, -COOR, -OPO3H2, -OS2O2H -C=CH, -CH=CH2 Rantai hidrokarbon alifatik, alkil, aril, hidrokarbon polisiklik

Anda tentu sering mendengar tentang antibiotika bahkan pernah menggunakannya, tapi mungkin tidak banyak yang diketahui tentang antibiotika. Ya, mengenal obat yang kita minum adalah sangat penting, supaya obat bisa menjadi penyembuh, bukannya musuh. Antibiotika adalah obat yang dapat membunuh kuman yang masuk ke tubuh kita. Kuman bisa masuk ke tubuh kita dengan berbagai cara, bisa melalui luka yang terbuka, lewat pernafasan, atau lewat makanan, dll., dan kita dikatakan mengalami infeksi. Gejala-gejala infeksi antara lain adalah demam, sakit, dan tempat yang terinfeksi mengalami bengkak/radang dan warnanya memerah. Untuk mengobati infeksi, yang terpenting adalah membunuh kuman yang masuk, yaitu dengan antibiotika. Sebenarnya jika kuman telah terbasmi, maka gejala-gejala tadi juga akan menghilang dengan sendirinya. Tapi seringkali gejala-gejala tersebut cukup mengganggu, sehingga dokter kerap meresepkan obat lain yang tujuannya mengurangi gejala, misalnya obat turun panas untuk demamnya dan atau analgetika untuk mengurangi rasa sakit Jangka waktu penggunaan obat antibiotika biasanya selama 3 7 hari, tergantung macam infeksi dan keparahannya. Dokter biasanya akan meresepkan untuk jangka waktu tersebut. Yang perlu diingat dalam penggunaan antibiotika adalah harus digunakan sampai habis, sesuai dengan kuur atau jangka waktu yang diharuskan. Mengapa ? Karena jika tidak habis sesuai dengan aturannya, maka bisa jadi kuman-kuman yang terbunuh baru kuman-kuman yang lemah, sedangkan yang kuat masih hidup. Kuman-kuman yang kuat tetap tinggal dan menjadi resisten terhadap antibiotika, dan tentu saja penyakit bisa jadi kambuh lagi, dan mungkin dibutuhkan antibiotika lain yang lebih kuat (dan seringkali lebih mahal). Jadi, meskipun baru digunakan sehari tapi gejala sudah hilang, antibiotika tetap harus dihabiskan. Sedangkan obat-obat untuk menghilangkan gejala, cukup digunakan jika perlu saja. Jika panas sudah turun, atau rasa sakit sudah hilang, obat-obat penurun panas dan analgetika tidak perlu diminum lagi.

Ada bermacam-macam antibiotika, dari generasi lama sampai generasi terbaru. Beberapa antibiotika generasi lama antara lain adalah golongan sulfa, penisilin (ampisilin, amoksisilin), tetrasiklin, eritromisin, kloramfenikol dan sefalosporin). Sedangkan generasi baru adalah golongan kuinolon seperti siprofloksasin, ofloksasin; golongan sepalosporin generasi ketiga seperti sefuroksim, sefaleksin, dll. Mungkin anda tidak perlu mengingat nama-nama ini, karena antibiotika umumnya diperoleh dengan resep dokter. Tapi sebaiknya Anda mengetahui apakah obat yang Anda minum itu termasuk antibiotika atau tidak. Hal ini bisa ditanyakan pada dokter atau apoteker di apotek. Selain masalah cara penggunaannya yang harus habis, Anda perlu mengamati apakah Anda termasuk yang alergi terhadap antibiotika atau tidak, terutama jika baru pertama kali menggunakan. Ada beberapa antibiotika yang dapat memicu reaksi alergi pada orang-orang tertentu yang hipersensitif. Yang paling sering adalah golongan sulfa dan penisilin. Reaksi alergi ini bisa berupa gatal-gatal, bengkak, bahkan bisa sampai pingsan. Jika Anda punya riwayat alergi terhadap penisilin atau sulfa, sampaikan ke dokter yang memeriksa Anda sehingga dokter dapat memilihkan antibiotika yang paling tepat untuk Anda. 222 Antibiotik adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang dihasilkan oleh mikroorganisme bakteri ataupun jamur. Pada dasarnya tujuan utama penggunaan antibiotik untuk meniadakan infeksi, namun semakin luasnya penggunaan antibiotik sekarang ini justru semakin meluas pula timbulnya infeksi baru akibat penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Penggolongan Antibiotik berdasarkan mekanisme kerjanya : Inhibitor sintesis dinding sel bakteri, mencakup golongan Penicillin, Polypeptide dan Cephalosporin Inhibitor transkripsi dan replikasi, mencakup golongan Quinolone, Inhibitor sintesis protein, mencakup banyak jenis antibiotik, terutama dari golongan Macrolide, Aminoglycoside, dan Tetracycline Inhibitor fungsi membran sel, misalnya ionomycin, valinomycin; Inhibitor fungsi sel lainnya, seperti golongan sulfa atau sulfonamida, Antimetabolit, misalnya azaserine. Penggolongan Antibiotik berdasarkan struktur kimia : Aminoglikosida Diantaranya amikasin, dibekasin, gentamisin, kanamisin, neomisin, netilmisin, paromomisin, sisomisin, streptomisin, tobramisin. Beta-Laktam Diantaranya golongan karbapenem (ertapenem, imipenem, meropenem), golongan sefalosporin (sefaleksin, sefazolin, sefuroksim, sefadroksil, seftazidim), golongan beta-laktam monosiklik, dan golongan penisilin (penisilin, amoksisilin). Glikopeptida Diantaranya vankomisin, teikoplanin, ramoplanin dan dekaplanin.

Polipeptida Diantaranya golongan makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritromisin, roksitromisin), golongan ketolida (telitromisin), golongan tetrasiklin (doksisiklin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin). Polimiksin Diantaranya polimiksin dan kolistin. Kinolon (fluorokinolon) Diantaranya asam nalidiksat, siprofloksasin, ofloksasin, norfloksasin, levofloksasin, dan trovafloksasin. Streptogramin Diantaranya pristinamycin, virginiamycin, mikamycin, dan kinupristin-dalfopristin. Oksazolidinon Diantaranya linezolid dan AZD2563. Sulfonamida Diantaranya kotrimoksazol dan trimetoprim. Antibiotika lain yang penting, seperti kloramfenikol, klindamisin dan asam fusidat. Penggolongan Antibiotik berdasarkan daya kerjanya : Bakterisid : Antibiotika yang bakterisid secara aktif membasmi kuman. Termasuk dalam golongan ini adalah penisilin, sefalosporin, aminoglikosida (dosis besar), kotrimoksazol , polipeptida, rifampisin, isoniazid dll. Bakteriostatik : Antibiotika bakteriostatik bekerja dengan mencegah atau menghambat pertumbuhan kuman, TIDAK MEMBUNUHNYA, sehingga pembasmian kuman sangat tergantung pada daya tahan tubuh. Termasuk dalam golongan ini adalah sulfonamida, tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin, trimetropim, linkomisin, makrolida, klindamisin, asam paraaminosalisilat, dll. Manfaat dari pembagian ini dalam pemilihan antibiotika mungkin hanya terbatas, yakni pada kasus pembawa kuman (carrier), pada pasien-pasien dengan kondisi yang sangat lemah (debilitated) atau pada kasus-kasus dengan depresi imunologik tidak boleh memakai antibiotika bakteriostatik, tetapi harus bakterisid. Penggolongan antibiotik berdasarkan spektrum kerjanya : Spektrum luas (aktivitas luas) : Antibiotik yang bersifat aktif bekerja terhadap banyak jenis mikroba yaitu bakteri gram positif dan gram negative. Contoh antibiotik dalam kelompok ini adalah sulfonamid, ampisilin, sefalosforin, kloramfenikol, tetrasiklin, dan rifampisin. Spektrum sempit (aktivitas sempit) : Antibiotik yang bersifat aktif bekerja hanya terhadap beberapa jenis mikroba saja, bakteri gram positif atau gram negative saja. Contohnya eritromisin, klindamisin, kanamisin, hanya bekerja

terhadap mikroba gram-positif. Sedang streptomisin, gentamisin, hanya bekerja terhadap kuman gram-negatif. Penggolongan antibiotik berdasarkan penyakitnya : Golongan Penisilin Dihasilkan oleh fungi Penicillinum chrysognum. Aktif terutama pada bakteri gram (+) dan beberapa gram (-). Obat golongan ini digunakan untuk mengobati infeksi pada saluran napas bagian atas (hidung dan tenggorokan) seperti sakit tenggorokan, untuk infeksi telinga, bronchitis kronik, pneumonia, saluran kemih (kandung kemih dan ginjal). Contoh obat yang termasuk dalam golongan ini antara lain : Ampisilin dan Amoksisilin. Untuk meningkatkan ketahanan thp b-laktamase : penambahan senyawa untuk memblokir & menginaktivasi b-laktamase. Misalnya Amoksisilin + asam klavulanat, Ampisilin + sulbaktam, Piperasilin + tazobaktam. Efek samping : reaksi alergi, syok anafilaksis, kematian,Gangguan lambung & usus. Pada dosis amat tinggi dapat menimbulkan reaksi nefrotoksik dan neurotoksik. Aman bagi wanita hamil & menyusui Golongan Sefalosporin Dihasilkan oleh jamur Cephalosporium acremonium. Spektrum kerjanya luas meliputi bakteri gram positif dan negatif. Obat golongan ini barkaitan dengan penisilin dan digunakan untuk mengobati infeksi saluran pernafasan bagian atas (hidung dan tenggorokan) seperti sakit tenggorokan, pneumonia, infeksi telinga, kulit dan jaringan lunak, tulang, dan saluran kemih (kandung kemih dan ginjal). contoh obat yang termasuk dalam golongan ini antara lain : Sefradin, Sefaklor, Sefadroksil, Sefaleksin, E.coli, Klebsiella dan Proteus. Penggolongan sefalosporin berdasarkan aktivitas & resistensinya terhadap b-laktamase: Generasi I : aktif pada bakteri gram positif. Pada umumnya tidak tahan pada b laktamase. Misalnya sefalotin, sefazolin, sefradin, sefaleksin, sefadroksil. Digunakan secara oral pada infeksi saluran kemih ringan, infeksi saluran pernafasan yang tidak serius Generasi II : lebih aktif terhadap kuman gram negatif. Lebih kuat terhadap blaktamase. Misalnya sefaklor, sefamandol, sefmetazol,sefuroksim Generasi III : lebih aktif terhadap bakteri gram negatif , meliputi Pseudomonas aeruginosa dan bacteroides. Misalnya sefoperazone, sefotaksim, seftizoksim, sefotiam, sefiksim.Digunakan secara parenteral,pilihan pertama untuk sifilis Generasi IV : Sangat resisten terhadap laktamase. Misalnya sefpirome dan sefepim Golongan Lincosamides Dihasilkan oleh Streptomyces lincolnensis dan bersifat bakteriostatis. Obat golongan ini dicadangkan untuk mengobati infeksi berbahaya pada pasien yang alergi terhadap penisilin atau pada kasus yang tidak sesuai diobati dengan penisilin. Spektrum kerjanya lebih sempit dari

makrolida, terutama terhadap gram positif dan anaerob. Penggunaannya aktif terhadap Propionibacter acnes sehingga digunakan secara topikal pada acne. Contoh obatnya yaitu Clindamycin (klindamisin) dan Linkomycin (linkomisin). Golongan Tetracycline Diperoleh dari Streptomyces aureofaciens & Streptomyces rimosus. Obat golongan ini digunakan untuk mengobati infeksi jenis yang sama seperti yang diobati penisilin dan juga untuk infeksi lainnya seperti kolera, demam berbintik Rocky Mountain, syanker, konjungtivitis mata, dan amubiasis intestinal. Dokter ahli kulit menggunakannya pula untuk mengobati beberapa jenis jerawat. Adapun contoh obatnya yaitu : Tetrasiklin, Klortetrasiklin, Oksitetrasiklin, doksisiklin dan minosiklin. Khasiatnya bersifat bakteriostatik , pada pemberian iv dapat dicapai kadar plasma yang bersifat bakterisid lemah.Mekanisme kerjanya mengganggu sintesis protein kuman Spektrum kerjanya luas kecuali thp Psudomonas & Proteus. Juga aktif terhadap Chlamydia trachomatis (penyebab penyakit mata), leptospirae, beberapa protozoa. Penggunaannya yaitu infeksi saluran nafas, paruparu, saluran kemih, kulit dan mata. Namun dibatasi karena resistensinya dan efek sampingnya selama kehamilan & pada anak kecil. Golongan Kloramfenikol Bersifat bakteriostatik terhadap Enterobacter & S. aureus berdasarkan perintangan sintesis polipeptida kuman. Bersifat bakterisid terhadap S. pneumoniae, N. meningitidis & H. influenza. Obat golongan ini digunakan untuk mengobati infeksi yang berbahaya yang tidak efektif bila diobati dengan antibiotik yang kurang efektif. Penggunaannya secara oral, sejak thn 1970-an dilarang di negara barat karena menyebabkan anemia aplastis. Sehingga hanya dianjurkan pada infeksi tifus (salmonella typhi) dan meningitis (khusus akibat H. influenzae). Juga digunakan sebagai salep 3% tetes/salep mata 0,25-1%. Contoh obatnya adalah Kloramfenikol, Turunannya yaitu tiamfenikol. Golongan Makrolida Bersifat bakteriostatik. Mekanisme kerjanya yaitu pengikatan reversibel pada ribosom kuman, sehingga mengganggu sintesis protein. Penggunaannya merupakan pilihan pertama pada infeksi paru-paru. Digunakan untuk mengobati infeksi saluran nafas bagian atas seperti infeksi tenggorokan dan infeksi telinga, infeksi saluran nafas bagian bawah seperti pneumonia, untuk infeksi kulit dan jaringan lunak, untuk sifilis, dan efektif untuk penyakit legionnaire (penyakit yang ditularkan oleh serdadu sewaan). Sering pula digunakan untuk pasien yang alergi terhadap penisilin.Contoh obatnya : eritromisin, klaritromisin, roxitromisin, azitromisin, diritromisin serta spiramisin. Golongan Kuinolon Berkhasiat bakterisid pada fase pertumbuhan kuman, dgn menghambat enzim DNA gyrase bakteri sehingga menghambat sintesa DNA. Digunakan untuk mengobati sinusitis akut, infeksi saluran pernafasan bagian bawah serta pneumonia nosokomial, infeksi kulit dan jaringan kulit, infeksi tulang sendi, infeksi saluran kencing, Cystitis uncomplicated akut, prostates bacterial

kronik, infeksi intra abdominal complicated, demam tifoid, penyakit menular seksual, serta efektif untuk mengobati Anthrax inhalational. Penggolongan : Generasi I : asam nalidiksat dan pipemidat digunakan pada ISK tanpa komplikasi Generasi II : senyawa fluorkuinolon misal siprofloksasin, norfloksasin, pefloksasin,ofloksasin. Spektrum kerja lebih luas, dan dapat digunakan untuk infeksi sistemik lain. Zat-zat long acting : misal sparfloksasin, trovafloksasin dan grepafloksasin.Spektrum kerja sangat luas dan meliputi gram positif. Aminoglikosida Dihasilkan oleh fungi Streptomyces & micromonospora.Mekanisme kerjanya : bakterisid, berpenetrasi pada dinding bakteri dan mengikatkan diri pada ribosom dalam sel. Contoh obatnya : streptomisin, kanamisin, gentamisin, amikasin, neomisin Penggunaan Aminoglikosida Streptomisin & kanamisin injeksi pada TBC juga pada endocarditis,Gentamisin, amikasin bersama dengan penisilin pada infeksi dengan Pseudomonas,Gentamisin, tobramisin, neomisin juga sering diberikan secara topikal sebagai salep atau tetes mata/telinga,Efek samping : kerusakan pada organ pendengar dan keseimbangan serta nefrotoksik. Monobaktam Dihasilkan oleh Chromobacterium violaceum Bersifat bakterisid, dengan mekanisme yang sama dengan gol. b-laktam lainnya.Bekerja khusus pada kuman gram negatif aerob misal Pseudomonas, H.influenza yang resisten terhadap penisilinase Contoh : aztreonam Sulfonamide Merupakan antibiotika spektrum luas terhadap bakteri gram positrif dan negatif. Bersifat bakteriostatik. Mekanisme kerja : mencegah sintesis asam folat dalam bakteri yang dibutuhkan oleh bakteri untuk membentuk DNA dan RNA bakteri.Kombinasi sulfonamida : trisulfa (sulfadiazin, sulfamerazin dan sulfamezatin dengan perbandingan sama),Kotrimoksazol (sulfametoksazol + trimetoprim dengan perbandingan 5:1),Sulfadoksin + pirimetamin. Penggunaan: Infeksi saluran kemih : kotrimoksazol Infeksi mata : sulfasetamid Radang usus : sulfasalazin Malaria tropikana : fansidar. Mencegah infeksi pada luka bakar : silver sulfadiazine. Tifus : kotrimoksazol. Radang paru-paru pada pasien AIDS : kotrimoxazol Sebaiknya tidak digunakan pada kehamilan teruama trimeseter akhir : icterus, hiperbilirubinemia

Vankomisin Dihasikan oleh Streptomyces orientalis.Bersifat bakterisid thp kuman gram positif aerob dan anaerob.Merupakan antibiotik terakhir jika obat-obat lain tidak ampuh lagi Penggunaan Antibiotik kombinasi : Pada infeksi campuran, misalnya kombinasi obat-obat antikuman dan antifungi atau, dua antibiotik dengan spektrum sempit (gram positif + gram negatif) untuk memperluas aktifitas terapi : Basitrasin dan polimiksin dalam sediaan topikal. Untuk memperoleh potensial, misalnya sulfametoksazol dengan trimetoprim (= kotrimoksazol) dan sefsulodin dengan gentamisin pada infeksi pseudomonas. Multi drug therapy (AZT + 3TC + ritonavir ) terhadap AIDS juga menghasilkan efek sangat baik. Untuk mengatasi resistensi, misalnya Amoksisilin + asam klavulanat yang menginaktivir enzim penisilinase. Untuk menghambat resistensi, khususnya pada infeksi menahun seperti tuberkulosa (rifampisin + INH + pirazinamida ) dan kusta (dapson + klofazimin dan /atau rifampisin). Untuk mengurangi toksisitas, misalnya trisulfa dan sitostatika, karena dosis masing-masing komponen dapat dikurangi.
33

Antibiotika adalah senyawa kimia yang dibuat untuk melawan bibit penyakit, khususnya kuman. Ada beragam jenis kuman, ada kuman besar , kecil dengan sifat yang beragam pula. Kuman cenderung bersarang di organ tertentu di tubuh yang ditumpanginya. Ada yang suka di otak, paru-paru, usus, saraf, ginjal, lambung, kulit, atau tenggorok. Di organ tempat bersarangnya itu kuman tertentu menimbulkan infeksi. Kuman tipus menimbulkan penyakit tipus di usus, kuman TBC di paru-paru, selain bisa juga di tulang, ginjal, otak, dan kulit. Kuman lepra di saraf dan kulit, kuman difteria di tenggorokan, tetanus di saraf, dan banyak lagi Awalnya ditemukan jenis antibiotika penisilin, lalu sulfa yang digunakan untuk mengobati semua penyakit infeksi. Sekarang, sudah berpuluh-puluh jenis antibiotika ditemukan baik dari rumpun yang sama maupun dari jenis yang lebih baru. Setiap antibiotika memiliki kemampuannya sendiri melawan kuman. Itu sebab setiap rumpun kuman memiliki penangkalnya masing-masing yang spesifik. Namun, kebanyakan antibiotika bersifat serba mempan atau broadspectrum. Artinya, semua kuman dapat dibasminya. Selain itu ada pula jenis antibiotika yang spesifik hanya untuk kuman tertentu saja. Misalnya antibiotika untuk kuman TBC (mycobacterium tuberculosis), untuk lepra atau kusta (mycobaterium leprae), atau untuk tipus (salmonella tyhphi). Antibiotika digunakan jika ada infeksi oleh kuman. Infeksi terjadi jika kuman memasuki tubuh. Kuman memasuki tubuh melalui pintu masuknya sendiri-sendiri. Ada yang lewat

mulut bersama makanan dan minuman, lewat udara napas memasuki paru-paru, lewat luka renik di kulit, melalui hubungan kelamin atau masuk melalui aliran darah, lalu kuman menuju organ yang disukainya untuk bersarang. Gejala umum tubuh terinfeksi biasanya disertai suhu badan meninggi, demam, nyeri kepala, dan nyeri. Infeksi di kulit menimbulkan reaksi merah meradang, bengkak, panas, dan nyeri. Contohnya bisul. Di usus bergejala mulas, mencret. Di saluran napas, batuk, nyeri tenggorok atau sesak napas. Di otak, nyeri kepala. Di ginjal banyak berkemih, kencing merah atau seperti susu. Namun, gejala suhu tubuh meninggi, demam, nyeri kepala dan nyeri bisa juga bukan disebabkan kuman, melainkan infeksi virus atau parasit. Penyakit yang disebabkan bukan oleh kuman tidak mempan diobati dengan antibiotika. Untuk virus diberi antivirus dan untuk parasit diberi antinya, seperti anti malaria, anti jamur, dan anti cacing. Jika infeksi oleh jenis kuman yang spesifik biasanya dokter langsung memberikan antibiotika yang sesuai dengan kuman penyebabnya. Misal bisul di kulit, tetanus, difteria, tipus, atau infeksi mata merah. Untuk infeksi yang meragukan diperlukan pemeriksaan khusus untuk memastikan jenis kuman penyebabnya. Caranya dengan melakukan pembiakan (kultur) kuman. Bahan biakannya diambil dari darah atau air liur, dahak, urine, tinja, cairan otak, nanah kemaluan, atau kerokan kulit. Dengan biakan kuman, selain menemukan jenis kumannya dapat langsung diperiksa pula jenis antibiotika yang cocok untuk menumpasnya (tes resistensi). Dengan demikian, pengobatan infeksinya lebih tepat. Jika tidak dilakukan tes resistensi bisa jadi antibiotika yang dianggap mampu sudah tidak mempan, sebab kumannya sudah kebal. Pemakaian antibiotika di negara sedang berkembang sering tidak terkontrol dan cenderung serampangan. Antibiotika yang dibeli bebas, ketidaktahuan pemakaian dan tidak dipakai sampai tuntas menimbulkan generasi kuman yang menjadi kebal (resisten) terhadap antibiotika yang digunakan secara tidak tepat dan serampangan itu. Semakin sering dan banyak disalahgunakan suatu antibiotika, semakin cepat menimbulkan kekebalan kuman. Pemakaian antibiotika golongan erythromycine yang paling banyak dan luas dipakai di dasawarsa 80-an, semakin banyak melahirkan generasi kuman yang kebal terhadapnya. Lalu, dibuat generasi baru dari rumpun yang sama. Setiap beberapa tahun, lahir jenis generasi antibiotika baru untuk membasmi jenis kuman yang sudah kebal. Tentu, dengan harga yang lebih mahal. Seperti obat umumnya, antibiotika juga punya efek samping. Ada yang berefek buruk terhadap ginjal, hati, ada pula yang mengganggu keseimbangan tubuh. Pasien dengan gangguan hati tidak boleh diberikan antibiotika yang efek sampingnya merusak hati, sekalipun ampuh membasmi kuman yang sedang pasien idap.

Namun, jika suatu antibiotika tidak ada penggantinya, antibiotika tetap dipakai, dengan catatan, bahaya efek samping pada seorang pasien memerlukan monitoring oleh dokter, jika dipakai untuk jangka waktu yang lama. Antibiotika untuk TBC yang diminum sedikitnya 6 bulan perlu pemeriksaan fungsi hati secara berkala agar jika sudah merusak hati, obat dipertimbangkan untuk diganti. Pemakaian antibiotika yang terlalu sering tidak dianjurkan. Sering dijumpai sedikit batuk pilek, langsung minum antibiotika. Padahal belum tentu batuk pilek disebabkan oleh kuman. Awalnya oleh virus. Jika kondisi badan kuat, penyakit virus umumnya sembuh sendiri. Yang perlu dilakukan pada penyakit yang disebabkan oleh virus adalah memperkuat daya tahan tubuh dengan cukup makan, istirahat, dan makanan bergizi. Pemberian antibiotika pada batuk pilek yang disebabkan oleh virus hanya merupakan penghamburan dan merugikan badan, sebab memikul efek samping antibiotika yang sebetulnya tak perlu terjadi. Kasus batuk pilek virus yang sudah lama, yang biasanya sudah ditunggangi oleh kuman, baru membutuhkan antibiotika untuk membasmi kumannya, bukan untuk virus flunya. Tanda batuk pilek membutuhkan antibiotika adalah dengan melihat ingusnya. Yang tadinya encer bening sudah berubah menjadi kental berwarna kuning-hijau. Selama ingusnya masih encer bening, antibiotika tak diperlukan. Minum antibiotika kelewat sering juga mengganggu keseimbangan flora usus. Kita tahu, dalam usus normal tumbuh kuman yang membantu pencernaan dan pembentukan vitamin K. Selain itu, di bagian-bagian tertentu tubuh kita juga hidup kuman-kuman jinak yang hidup berdampingan dengan damai dengan tubuh kita. Di kemaluan wanita, i kulit, i mulut dan di bagian tubuh ada kuman yang tidak mengganggu namun bermanfaat (simbiosis). Terlalu sering minum antibiotika berarti membunuh seluruh kuman jinak yang bermanfaat bagi tubuh. Jika populasi kuman jinak yang bermanfat bagi tubuh terbasmi, keseimbangan mikroorganisme tubuh bisa terganggu, sehingga jamur yang tadinya takut oleh kuman-kuman yang ada di tubuh kita berkesempatan lebih mudah menyerang. Banyak orang yang setelah minum antibiotika yang kelewat lama, kemudian terserang penyakit jamur. Bisa jamur di kulit, usus, seriawan di mulut, atau di mana saja. Keputihan sebab jamur pada wanita, antara lain lantaran vagina kelewat bersih oleh antisepsis yang membunuh kuman bermanfaat di sekitar vagina. Lama pemakaian antibiotika bervariasi, tergantung jenis infeksi dan kuman penyebabnya. Paling sedikit 4-5 hari. Namun, jika infeksinya masih belum tuntas, antibiotika perlu dilanjutkan sampai keluhan dan gejalanya hilang. Pada tipus, perlu beberapa minggu. Demikian pula pada difteria, tetanus. Pling lama pada TBC yang memakan waktu berbulan-bulan. Termasuk pada kusta.

Pada infeksi tertentu, setelah pemakaian antibiotika perlu dilakukan pemeriksaan biakan kuman ulang untuk memastikan apakah kuman sudah terbasmi tuntas. Infeksi saluran kemih, setelah selesai satu kir antibiotika dan keluhan gejalanya sudah tiada, biakan kuman dilakukan untuk melihat apa di ginjal masih tersisa kuman. Jika masih tersisa kuman dan antibiotikanya tidak dilanjutkan, penyakit infeksinya akan kambuh lagi. Termasuk pada infeksi gigi. Sakit gigi biasanya disebabkan adanya kuman yang memasuki gusi dan tulang rahang melalui gigi yang bolong atau keropos. Dalam keadaan demikian, gusi membengkak dan gigi nyeri. Antibiotika diberikan sampai keluhan nyeri gigi hilang. Jika antibiotika hanya diminum sehari-dua, kuman di dalam gusi belum mati semua, sehingga infeksi gusi dan sakit gigi akan kambuh lagi. Antibiotika tidak mempan karena dua hal. Yang paling sering, kuman penyebab penyakitnya sudah kebal terhadap antibiotika tersebut. Untuk itu perlu dicari antibiotika jenis lain yang lebih sensitif. Biasanya perlu dilakukan tes resistensi mencari jenis antibiotika yang tepat. Yang kedua karena tidak dilakukan tes resistensi dulu dan langsung diberikan antibiotika secara acak, sehingga kemungkinan pilihan antibiotikanya tidak tepat untuk jenis kuman penyebab penyakitnya. Antibiotikanya memang tidak mempan terhadap kuman penyebabnya. Kita mengenal ada kuman jenis gram-negatif. Untuk itu perlu antibiotika untuk jenis kuman itu. Jika diberikan antibiotika untuk jenis kuman gram-positif, tentu tidak akan mempan, sebab antibiotikanya salah sasaran. Atau bisa oleh karena infeksinya bukan disebabkan oleh kuman, melainkan oleh virus atau parasit. Jamur kulit tak mempan diberi salep atau krim antibiotika. Kalau dengan antibiotika klasik (golongan penicillin) masih mempan namun untuk infeksi ringan saja (flu) seringkali diberikan antibiotika generasi mutakhir. Selain jauh lebih mahal, tubuh pun memikul efek samping yang lebih berat. Semakin ampuh antibiotika, biasanya semakin keras pula efek sampingnya. Kalau bisa, jangan lekaslekas memakai antibiotika. Tubuh kita memiliki perangkat antibodi. Setiap bibit penyakit, apa pun jenisnya, yang masuk ke dalam tubuh, akan dibasmi oleh sistem kekebalan tubuh sendiri. Tubuh baru menyerah kalah jika bibit penyakitnya sangat ganas, jumlahnya banyak dan daya tahan tubuh sedang lemah. Tidak setiap kali dimasuki bibit penyakit, tubuh akan jatuh sakit. Jika kekebalan tubuh prima, bibit penyakit yang sudah memasuki tubuh akan gagal menginfeksi. Infeksi umumnya baru terjadi jika tubuh sedang lemah. Adakalanya sehabis minum atau disuntik antibiotika bisa pingsan. Orang-orang tertentu yang berbakat alergi umumnya tidak tahan terhadap antibiotika golongan penisilin baik yang diminum maupun yang disuntikkan. Beberapa menit sampai beberapa jam sesudahnya muncul reaksi alergi. Rasa tebal dan gatal di bibir, pusing, mual, muntah,

lalu pingsan. Jika ringan hanya gatal-gatal mirip biduran. Reaksi hebat bisa menimbulkan reaksi kulit melepuh, berbisul-bisul. Bagi yang berbakat alergi, perlu dites dulu sebelum mendapat suntikan antibiotika golongan penisilin. Jika positif, jangan diberikan. Jika pernah ada riwayat gatal sehabis minum atau disuntik antibiotika, buatlah catatan, agar lain kali dapat mengingatkan dokter kalau tidak tahan antibitioka tersebut. Sekarang reaksi alergi terhadap antibiotika sudah jarang terjadi, sebab tersedia banyak pilihan antibiotika yang lebih unggul dari penisilin tanpa risiko alergi. Selain dalam bentuk obat minum (oral), ada juga dalam bentuk suntikan (parenteral), salep, krim, supositoria (dimasukkan ke liang dubur atau vagina); lotion, dan tetes. Infeksi kulit memakai salep atau krim antibiotika, infeksi mata merah memakai tetes atau salep mata, infeksi telinga tengah memakai tetes kuping antibiotika, keputihan kuman dipakai antibiotika berbentuk peluru yang dimasukkan ke dalam vagina (bagi yang sudah menikah, tidak buat yang masih gadis). Antibiotika streptomycine, garamycine, hanya dalam bentuk suntikan, tidak tersedia dalam bentuk tablet atau kapsul. Sebaliknya, kebanyakan antibiotika yang diminum belum tentu ada dalam bentuk suntikannya. Tapi, ada juga antibiotika baik dalam bentuk suntikan maupun yang diminum. Membubuhi serbuk antibiotika pada lubang gigi yang sakit seperti kebiasaan sementara orang atau pada luka, tidak terlalu tepat. Efek penembusan antibiotika ke jaringan gusi yang terinfeksi tidak sebaik jika diminum, atau bisa menyerap optimal seperti antibiotika yang sudah dalam bentuk salep atau krim jika untuk dipakai pada kulit. * Fahmi Isya, mahasiswa farmasi tingkat akhir/dari berbagai sumber Health Journal

Emulsi

Merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak bercampur ( air dan minyak ). Cairan yang satu terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain. Disperse ini tidak stabil, bila butir-butir ini bergabung akan membentuk dua laoisan air dan minyak yang terpisah. Untuk mencegah terjadinya pemisahan, digunakan zat pengemulsi ( emulgator ) Semua emulgator membentuk film ( lapisan ) di sekeliling butir-butir tetesan yang terdispersi. Fungsinya untuk mencegah terpisahnya cairan terdispersi dari mediumnya. Dalam farmasi : emulsa untuk pemakaian dalam emulsi minyak ikan dan paraffin. Lini menia adalah bentuk emulsi untuk pemakaian luar ( obat gosok )

- FASE EMULSI ADA DUA FASE : fase hidrofil ( air ) dan fase hidrofob ( minyak / lemak ) o Fase hidrofil terdispersi dalam fase hidrofob emulsi a/m ( air dalam minyak ) o Fase hidrofob terdispersi dalam fase hidrofil emulsi m/a ( minyak dalam air ) - Teori emulsifikasi berdasarkan zat pengemulsi o Teori tegangan permukaan Jika tegangan batas antar permukaan diturunkan maka pembentukan emulsi jadi lebih mudah. Emulgator terakumulasi pada batas antar permukaan minyak/air, lalu tegangan batas antar permukaan turun, pengemulsian terjadi, molekul emulgator terabsorbsi pada batas antar permukaan sehingga gugus hidrofil mengarah ke fase air dan gugus hidrofob kea rah minyak, zat pengemulsi membentuk lapisan monomolekuler dan mengurangi tegangan permukaan. o Koloid hidrofilik Membentuk suatu lapisan multimolekular di sekitar tetesan terdispersi dari minyak dalam suatu emulsi o Partikel-partikel padat yang terbagi halus (emulgator) yang diabsorbsi pada batas antar muka dua fase cair yang tidak bercampur dan membentuk suatu lapisan partikel di sekitar bola-bola terdisper - Factor yang umum untuk ketiga golongan zat pengemulsi adalah pembentukan suatu lapisan monomolekuler / multimolekuler / partikel - Emulgator untuk sediaan obat o Emulgator anion aktif ( emulgator ionic ) dan kation aktif Contoh : asam sabun dan senyawa sejenis sabun sabun alkali ( natrium palmitat, natrium stearat ) Aktiitas oermukaan dapat naik dengan memasukkan gugus hidrofil lain seperti natrium oleum risino digunakan sebagai emulgator emulsi m/a o Sabun logam logam bervalensi lebih dari satu Contoh : calcium palmitat, aluminium stearat Digunakan untuk emulsi a/m o Sabun anilin Contoh : TEA Digunakan untuk emulsi m/a ( cream : obat luar ) - B. senyawa tersulfatasi o Contoh : Natrium lauril Sulfa, natrium setil sulfat, natrium stearil sulfat digunakan dalam salep liminenta dan cream. - C. senyawa tersulfonasi o Natrium setil sulfonat ( emulgator M/A ) - D. Garam dari asam empedu o Contoh : Natrium glukokolat ( emulgator M/A ) - E. saponin o Mempunyai aktivitas batas permukaan yang tinggi ( tidak semua saponin adalah anion aktif ) - F. Gom arab o Campuran dari garam Ca, Mg, K dari asam poliabarat senyawa koloid emulgator M/A, senyawa oksidase dan peroksidase yang terkandung dalam gom arab dapat merusak zat yang mudah teroksidase.

I.
-

EMULGATOR
Terdisosiasi dalam larutan air

Contoh : alkonium bromida, benzalkonium bromida, setilpriridium klorida, setrimiti (garam bromida) bisa juga digunakan untuk pengawet tetes telinga sebagai ion adalah Cl- dan BrMempunyai aktivitas batas antar permukaan Mempunyai sifat desinfektan kuat dalam kondisi pH 9 juga sebagai pengawet Emulgator m/a Keuntungan : dengan ion Ca2+, Mg2+ tidak menurun Kerugian : tidak dapat digunakan dengan sabun lain karena perbedaan muatan yang ada, dapat menyebabkan terjadinya penghambatan aktivitas kerjanya.

II.

EMULGATOR BUKAN IONIK (NON-IONIK)


- Berbeda dengan emulgator ionic - Tidak terionisasi dalam air - Bereaksi netral - Sedikit dipengaruhi oleh elektorlit - Aktivitasnya relative tidak tergantung pada suhu - Contoh : ester mirisil, asam palmitat, dan seroat bebas - Emulgator a/m o Alkohol lemak tinggi dan alkohol steril Contoh : setil alkohol (alkohol lemak tinggi), stearil alkohol (rantai lurus) Umumnya hanya digunakan sebagai stabilisator o Alkohol lemak tinggi rantai bercabang Contoh : fealan ( emulgator a/m ) Alkohol lemak tinggi valensi dua sebagai emulgator lebih kuat daripada valensi Saturday o Alkohol sterin (sterol) Contoh : kolesterol Emulgator a/m

III.

EMULGATOR PARSIAL ASAM LEMAK DARI ALKOHOL BERVALENSI BANYAK


Glikol = efek emulgator rendah Glikol bereaksi dengan asam lemak tinggi stabilisator etilen monostearat OH CH2 O Co (CH2)16 CH3 Glisero + asam lemak tinggi efek lebih kuat Yang dipengaruhi oleh : panjang rantai asam lemak. Asam lemak jenuh daya kerjanya lebih lemah dari yang tidak jenuh. Contoh : Gliserol mono stearat; gliserol mono oleat

EMULGATOR PARSIAL ASAM LEMAK DARI SORBITAN


Ester asam lemak tinggi dengan alkohol bervalensi banyak, sorbitol membentuk cincin tertutup dengan struktur tetrahidropiran dan tetrahidrofuran dengan membebaskan H2O dikenal dengan sorbitan. Bila berikatan dengan asam biurat, palmitat, stearat, dan oleat dikenal dengan span

NAMA DAGANG
Span 20 Span 40 Span 60 Span 65 Span 80 Sebagai emulgator a/m

INDENTITAS KIMIA
Sorbitan mono laurat Sorbitan mono palmitat Sorbitan mono stearat Sorbitan tri stearat Sorbitan monooleat

HARGA HLB
8,6 6,7 4,7 2,1 4,3

IV.

Emulgator parsial asam lemak dari polioksi etilen sorbitan karakter lipofil dari span bertanggung jawab pembentuk a/m
Bila gugus hidroksil bebas dari ester sorbitan di esterifiaksi dengan polietilenglikol emulgator tipe m/a

Ester parsial asam lemak dari polioksi etilen sorbitan yang dikenal dengan nama tween 20, tween 21, T40, T60, T61, T65, T80, T85 Seperti span, tween dibedakan berdasarkan jenis dan jumlah asam lemak yang menyusunnya. V. EMULGATOR AMFOTER - Protein o Contoh : putih telur, kuning telur, gelatin, casein. o Dalam larutan alkali bersifat sebagai emulgator anionic o dalam larutan asam sebagai emulgator kationik o umumnya digunakan pada emulsi m/a. o bergumpal pada iso-elektrik ( pH 4,5 5) - Lesitin o Dari telur dan kacang kedelai o Berdasarkan karakteristik nya dapat digunakan pada emulsi m/a dan a/m o Faktor yang menentukan adalah perbandingan fase Fase air lebih banyak emulsi m/a Sebaliknya jika jumlahnya diubah dapat menyebabkan perubahan dapat menjadi a/m o Penggunaan umumnya dalam injeksi o Kerugian : stabilitas emulsi terbatas; lecithin terhidrolisa dalam air Emulgator tidak larut Serbuk yang menyelimuti bola-bola kecil emulsi menghindari penggabungan

VI. a.

b. Contoh : bentonit, serbuk karbon, aluminum hidroksida, dan magnesium hidroksida c. Bisa dibasahi oleh fase lipofil/hidrofil Contoh-contoh emulsi : 1. R/ ol. Ricini 10 Gom arab m.f emuls 100

q.s

2.

R/ m. ikan Gom arab q.s m.f emuls 100 3. R/ ol. Oliv Gom arab m.f emuls 100 4. R/ Parraf liq Gom arab q.s m.f emuls 10

10

10 q.s 20

Untuk resep: 1. 2. 3. 4.
3

Gom arab = 1/3 * 10g /8 * 10g * 10g Sama banyak dengan paraffin liquid

Cara pembuatan : Dalam mortir dengan dasar yang kasar dan kering dicampur dengan minyak ditambah Gom arab sampai homogeny. Tambahkan sekaligus air sejumlah satu setengah kali berat gom arab, aduk sampai diperoleh campuran kental berwarna putih, dan pada pengadukan terdengar suara yang spesifik. Cairan putih ( corpus emulsi ) kemudian diencerkan dengan air sedikit demi sedikit sambil diaduk. Bila jumlah sedikit (minyak) di bawah 10% gom arab, digunakan 2,5% berat total larutan ( berat relative ) Emulsi dengan benzylis benzoas R/ trietanolamin Acid stearic Benzylis benzoas Aqua ad us ext

1 4 45 150

asam stearat dilelehkan di atas waterbath, TEA dilarutkan dalam air panas, campur dalam mortir hangat, aduk sampai terbentuk massa seperti cream. Setelah jadi basis krim, benzylis benzoas dengan aqua ditambahkan bergantian. ( suhu kurang lebih 70 derajat celcius ) emulsa dengan bahan lain R/ bals peruv Glycerin Tannin PGA Aqua mf s.u.e 4 40 3 q.s 45

PGA = 2x berat bals peruv 2x4g = 8g Cara pembuatan : Buat emulsi dengan semua PGA (c.emulsi) Tambahkan gliserin, encerkan dengan air sebagian Tannin larutkan dalam air Campur semuanya sampai homogen R/ bals peruv 5 Ol. Ricini 24 Sir. Simplex 10 PGA q.s m.f emuls 150 s.ohc II

1. 2. 3. 4.

PGA = bals peruv 1x + 1/3 x berat ol. Ricini = 5+8 = 13g Cara pembuatan : 1. Buat c.emuls ol.ricini dengan semua PGA

2. 3. 4.

Tambahakan sedikit bals peruv Tambahkan sir. Simplex Encerkan larutan tambahkan air sedikit sedikit sambil diaduk homogen NO 1. Penggolongan Penicillin Nama Generic Benzatin Penisilin G Nama paten Prokain, Penisilin G, Penadur LA Fenocin, Ospen, Ven Pee Meixam ,Ikaclox, Orbenin Alclomex, Floxapen Dexypen, Kalpicilin, Bimapen Abdimox, Alphamox, amobiotik Bacacil Amocomb, Ancla,Augmentin Pivamex Timentin Ledercil Kedacilin Capabiotic, Ceclor, Cloracef Alxil, Bidicef, Biodroxil Cefspan, Ceptik, Comsporin Cefzil Modivid Clacef, Claforan, Clatax Cefrom Ceftum, Fortum Cedax Broadcef, Elpicef, Rochephin Anbacim, Cefurox, Cethixim Cefabiotic, Ospexin, Pralexin Dardokef, Dofacef Ceficin, Dynacef, Velocef Cefacidal Banan Azactam Tienam Meronem Bimatra, Camicyclin, Combicyclin Ledermycin Dotur, Doxin, Dumoxin Minocin Teramycyn Alostil, Amikin Ethigent, Garabiotic, Garamycin Kanamycin Meiji Almocyn Netromycin C Dartobcin, Tobryne Alphathrocin, Bannthrocin, Camitrocin

2.

3.

Phenoxymethyl Penicilline Kloksalisin Flucloxacillin Ampicilin Amoksisilin Bakampisilin Co Amoksiklav Pivampisilin Tikarsilin Piperasilin Sulbenisilin Sefalosporin Cefaclor Cefadroxil Sefiksim Sefrozil Sefodizim Cefotaxime Sefpirom Ceftazidime Seftibutem Ceftriaxone Sefuroxime Cephalexin Sefamandol Cephradin Cefazolin Sefpodoksim Antibiotik Betalaktam Aztreonam lain Imipenem Meropenem Tetrasiklin Tetrasiklin Dimeklosiklin Hidroklorida Doxycycline Minosiklin Oxytetracycline Amikasin Gentamisin Kanamycin Neomisin Sulfat Netilmisin Tobramisin Erytromisin

4.

Aminoglikosida

5.

Makrolid

6.

Kuinolon

Azitromisin Klaritromisin Roksitromisin Spiramisin Asam Nalidiksat Asam Pipemidat Ofloksasin Norfloksasin Ciprofloksasin Pefloksasin Fleroksasin Sparfloksasin Levofloksasin Trimetoprim Cotrimoksazol Sulfadiazin Sulfadimidin Sulfasalazin Kloramfenikol Tiamfenikol Klindamisin Linkomisin Vankomisin Spektinomisin Kolistin

Aztrin, Mezatrin, Zifin Abbotic, Clambiotic, Claros Anbiolid, Ixor, Makrodex Hypermisin, Osmysin, Rovadin Negram, Urineg Impresial, Urinter, Urixin Akilen,Betaflox, Danoflox Amanita, Lexinor, Nopratik Baquinor, Bernoflox, Bidiprox Peflacine Quinodis Zagam Cravit, Reskuin Tobyprim, Trisoprim Abatrim, Bactoprim,Bactricid Sulcolon Camicetine, Chloramex, Colme Biothicol, Comthycol, Corsafen Albiotin, Ancrocid, Cindala Biolincom, Lincobiotic, Lincocin Ladervan Trobicin Colistine

7.

Sulfonamide dan Trimetropim

8.

Antibiotik Lain