Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


A. Tinjauan Teori
1. Konsep diare
a. Definisi Diare
Diare pada dasarnya adalah buang air besar dengan konsistensi encer
dengan frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari pada anak dan
lebih dari 4 kali sehari pada bayi dengan atau tanpa darah atau lendir
dalam tinja (Suharyono, 1999; FKUI, 1997).

b. Klasifikasi Diare
Klasifikasi diare berdasarkan lama waktu diare terdiri dari diare akut,
diare persisten dan diare kronis menurut Asnil, Noerasid, dan
Suraatmadja (2003) adalah:
1) Diare Akut
Diare akut adalah diare yang terjadi sewaktu-waktu, berlangsung
kurang dari 14 hari, dengan pengeluaran tinja lunak atau cair yang
dapat atau tanpa disertai lendir dan darah.

2) Diare Persisten

Diare persisten adalah diare yang berlangsung 15-30 hari,
merupakan kelanjutan dari diare akut atau peralihan antara diare akut
dan kronik.
3) Diare kronis
Diare kronis adalah diare hilang-timbul, atau berlangsung lama
dengan penyebab non-infeksi, seperti penyakit sensitif terhadap
gluten atau gangguan metabolisme yang menurun. Lama diare
kronik lebih dari 30 hari.

c. Etiologi
Faktor penyebab diare meliputi: (Ngastiyah,2005)
1) Faktor infeksi
a) Infeksi enteral adalah infeksi saluran pencernaan makanan yang
merupakan penyebab utama diare pada anak. Infeksi enteral
meliputi:
i. Infeksi bakteri: Vibrio, E. Coli, Salmonella, Shigella,
Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dan sebagainya.
ii. Infeksi virus: Enterovirus (virus ECHO, Coxsackie,
Poliomyelitis), Adeno-virus, Rotavirus, Astovirus, dan lain-
lain.
iii. Infeksi parasit: cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris,
Strongyloides); protozoa (Entamoeba histolyca, Giardia
lamblia, Trichomonas hominis); jamur (Candida albicans).
b) Infeksi parenteral adalah infeksi di luar alat pencernaan makanan,
seperti: Otitis Media Akut (OMA), tonsilitas/ tosilofaringitis,
bronkopneumonia, ensefalitis, dan sebagainya. Keadaan ini
terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun.
2) Faktor malabsorbsi
a) Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltose,
dan sukrosa); monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa, dan
galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering
adalah intoleransi laktosa.
b) Malabsorbsi lemak
c) Malabsorbsi protein
3) Faktor makanan: makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
4) Faktor psikologis: rasa takut dan cemas (jarang, tetapi dapat terjadi
pada anak yang lebih besar).


d. Penatalaksanaan Diare
1) Perawatan
Menurut Noer (1999), perawatan diare perlu dilakukan secara dini
dan cepat. Pengobatan ini dapat dimulai saat kejadian diare yang
sedang dialami. Adapun hal-hal yang harus dilakukan untuk
perawatan diare, antara lain:
a) Diare cair membutuhkan penggantian cairan dan elektrolit tanpa
melihat etiologinya. Jumlah cairan yang diberi harus sama dengan
jumlah cairan yang telah hilang melalui diare dan atau muntah,
ditambah dengan banyaknya cairan yang hilang melalui keringat,
urin, pernapasan dan ditambah dengan banyaknya cairan yang
hilang melalui tinja dan muntah yang masih terus berlangsung.
Jumlah ini tergantung pada derajat dehidrasi serta berat badan
masing-masing anak atau golongan umur.
b) Makanan harus diteruskan bahkan ditingkatkan selama diare
untuk menghindarkan efek buruk pada status gizi.
c) Antibiotik dan antiparasit tidak boleh digunakan secara rutin.
Tidak ada manfaatnya untuk kebanyakan kasus termasuk diare
berat dan diare dengan panas, kecuali pada: disentri bila tidak
berespon, pikirkan kemungkinan amoebiasis, suspek kolera
dengan dehidrasi berat, diare presisten.
2) Pengobatan
Berdasarkan derajat dehidrasi maka terapi pada penderita diare
dibagi menjadi tiga, yakni rencana pengobatan A, B dan C.
a) Rencana pengobatan A
Digunakan untuk mengatasi diare tanpa dehidrasi, meneruskan
terapi diare di rumah, memberikan terapi awal bila anak terkena
diare lagi. Cairan rumah tangga yang dianjurkan seperti oralit,
makanan cair (sup, air tajin), air matang. Gunakan larutan oralit
untuk anak seperti dijelaskan dalam tabel berikut :
Tabel 2.1
Kebutuhan oralit per kelompok umur

Umur Jumlah oralit yang
diberikan tiap BAB
Jumlah oralit yang disediakan
di rumah
< 12 bulan 50-100 ml 400 ml/hari ( 2 bungkus)
1-4 tahun 100-200 ml 600-800 ml/hari ( 3-4 bungkus)
> 5 tahun 200-300 ml 800-1000 ml/hari (4-5 bungkus)
Sumber: Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit
Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman, 1999



b) Rencana pengobatan B
Digunakan untuk mengatasi diare dengan derajat dehidrasi
ringan dan sedang, dengan cara: dalam 3 jam pertama, berikan
75 ml/KgBB. Berat badan anak tidak diketahui, berikan oralit
paling sedikit sesuai tabel berikut:
Tabel 2.2
Jumlah oralit yang diberikan pada 3 jam pertama

Umur < 1 tahun 1-5 tahun > 5 tahun
Jumlah oralit 300 ml 600 1200
Sumber: Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular
dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman, 1999

Berikan anak yang menginginkan lebih banyak oralit, dorong
juga ibu untuk meneruskan ASI. Bayi kurang dari 6 bulan yang
tidak mendapatkan ASI, berikan juga 100-200 ml air masak.
Setelah 3-4 jam, nilai kembali anak menggunakan bagan
penilaian, kemudian pilih rencana A, B atau C untuk
melanjutkan pengobatan.
c) Rencana pengobatan C
Digunakan untuk mengatasi diare dengan derajat dehidrasi
berat. Pertama-tama berikan cairan intravena, nilai setelah 3
jam. Jika keadaan anak sudah cukup baik maka berikan oralit.
Setelah 1-3 jam berikutnya nilai ulang anak dan memilih
rencana pengobatan yang sesuai.



e. Pencegahan Diare
Pencegahan peredaran bahaya diare sesungguhnya dapat dilakukan
oleh segenap lapisan masyarakat. Kasus kematian bayi akibat terserang
diare dapat dikurangi salah satunya dengan cara pemberian ASI. Diare
juga dapat dicegah dengan cara antara lain membiasakan hidup sehat
sehari-hari. membuang hajat pada tempat yang tidak terjangkau lalat,
mengkonsumsi makanan yang higienis, meningkatkan daya tahan tubuh
melalui peningkatan gizi,dan menjaga kebersihan lingkungan (Simamora,
1996).
Menurut Suharmadi (1995) pencegahan diare pada kondisi
lingkungan rumah dan kesehatan baik masyarakat maupun pribadi antara
lain:
1) Penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan baik
persyaratan kimia, biologi, dan kandungan berbahaya.
2) Pembuangan kotoran yang memenuhi syarat kesehatan yaitu
wadahnya harus kedap air minimal 10 meter jaraknya dari sumber
air.
3) Pengamanan makanan dan minuman dengan cara memasaknya
dengan benar.
4) Kebersihan perorangan, contoh: mencuci tangan sebelum makan,
mandi dua kali sehari, dan lain-lain.
5) Imunisasi campak, karena penyakit campak dapat menyebakan diare
sehingga perlu adanya imunisasi campak.

2. Konsep Lingkungan
a. Pengertian Lingkungan dan sanitasi
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitarnya baik
berupa benda hidup, benda mati, benda nyata ataupun abstrak, termasuk
manusia lain, serta suasana yang terbentuk karena terjadinya interaksi di
antara elemen-elemen di alam tersebut lingkungan itu sangat luas, oleh
karenanya seringkali dikelompokkan untuk mempermudah pemahaman
(Mukono, 2000). Adapun sanitasi lingkungan adalah status kesehatan
suatu lingkungan yang mencakup perumahan, pembuangan kotoran,
penyediaan air bersih dan sebagainya (Notoatmodjo, 2003).
b. Syarat Rumah Sehat
Rumah yang sehat harus mempunyai fasilitas-fasilitas sebagai berikut
(Notoatmodjo 2008):
1) Penyediaan air bersih yang cukup
2) Pembuangan Tinja
3) Pembuangan air limbah (air bekas)
4) Pembuangan sampah
5) Fasilitas dapur ruang berkumpul keluarga
Untuk rumah di pedesaan lebih cocok adanya serambi (serambi muka atau
belakang). Disamping fasilitas-fasilitas tersebut, ada fasilitas lain yang
perlu diadakan tersendiri untuk rumah pedesaan, yakni:
1) Gudang, tempat menyimpan hasil panen. Gudang ini dapat merupakan
bagian dari rumah tempat tinggal tersebut, atau bangunan tersendiri.
2) Kandang ternak. Oleh karena kandang ternak adalah merupakan bagian
hidup dari petani, maka kadang-kadang ternak tersebut ditaruh di dalam
rumah. Hal ini tidak sehat, karena ternak kadang-kadang merupakan
sumber penyakit pula. Maka sebaiknya demi kesehatan, ternak harus
terpisah dari rumah tinggal, atau dibuatkan kandang sendiri
(Notoatmodjo, 2003).

3. Hubungan lingkungan dengan kejadian diare
Menurut Suharyono (2008), sanitasi yang buruk merupakan faktor
yang berpengaruh pada kejadian diare dimana adanya interaksi antara
penyakit, manusia dan faktor lingkungan yang mengakibatkan penyakit perlu
diperhatikan dalam penanggulangan diare. Secara klasik telah dibuktikan pada
berbagai penyelidikan bahwa peranan faktor lingkungan yaitu:


1) Penyediaan air bersih
Sarana air bersih adalah semua sarana yang dipakai sebagai sarana air
bersih bagi pemenuhan rumah yang dipakai sehari-hari. Hal yang perlu
diperhatikan dalam penyediaan air bersih adalah:
a) Jarak antara sumber air bersih dengan sumber pengotoran septictank
tempat pembuangan sampah dan tempat pembuangan air limbah adalah
10 meter.
b) Pada sumur gali kedalaman 3 meter dari pemukiman tanah dibuat kedap
air dan dilengkapi tutup atau bibir sumur.
c) Sumber air diperoleh dari sumur, air sungai, air hujan, air PAM.
d) Sarana yang ada perlu dijaga dan dipelihara kebersihannya.
e) Secara fisik, air yang sehat adalah air yang jernih, tidak berbau, dan
tidak berasa. Air minum seharusnya tidak mengandung kuman patogen
yang dapat membahayakan kesehatan manusia, juga tidak mengandung
zat kimia yang dapat mempengaruhi fungsi tubuh, serta air juga tidak
boleh meninggalkan endapan pada seluruh jaringan distribusi yang
mempunyai tujuan untuk mencegah terjadinya penyakit bawaan air (
Depkes RI, 1999 ).
2) Jamban keluarga
Jamban keluarga adalah salah satu bagian yang dipergunakan untuk
membuang tinja atau kotoran manusia bagi keluarga yang lazim disebut
kakus/ WC. Jamban keluarga bermanfaat untuk mencegah terjadinya
penularan penyakit dan pencemaran dari kotoran manusia. Adapun syarat
jamban sehat adalah tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh
serangga dan tikus, tidak mencemari tanah sekitar, sudah dibersihkan,
aman dipergunakan, dilengkapi dinding dan atap pelindung, cukup
penerangan, lantai kedap air, jamban berbentuk leher angsa, tersedia alat
pembersih jamban, lubang penampung kotoran tertutup (Depkes RI, 1999).
3) Pembuangan sampah
Sampah erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat, karena dari sampah
tersebut akan hidup berbagai mikro organisme penyebab penyakit, dan
juga binatang serangga sebagai pemindah/ penyebar penyakit (vektor).
Oleh sebab itu sampah harus dikelola dengan baik sampai sekecil mungkin
tidak mengganggu atau mengancam kesehatan masyarakat. Notoatmodjo
(2007) menyebutkan bahwa yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan
sampah adalah:
a) Tersedianya tempat pembuangan sampah di lingkungan rumah yang
terbuat dari tong.
b) Jarak pembuangan sampah dengan rumah adalah 5 meter.
c) Dengan cara pengumpulan dan pengangkutan sampah serta
pemusnahan dan pengolahan sampah.


4) Saluran pembuangan Limbah
Saluran pembuangan air limbah adalah suatu bangunan yang digunakan
untuk membuang air dari kamar mandi, tempat cuci, dapur, dan lain-lain
bukan dari jamban, dengan persyaratan: bentuk saluran pembuangan air
limbah: tertutup atau terbuka, kelancaran air limbah, tidak menimbulkan
bau dan karakteristik air limbah (Depkes RI, 1999).
5) Lingkungan fisik rumah
Karakteristik rumah yang dapat mencegah terjadinya diare dapat diukur
berdasarkan tingkat kesejahteraan keluarganya. Pada keluarga pra
sejahtera, keluarga haruslah mempunyai rumah yang sebagian besar
berlantai bukan dari tanah. Pada keluarga sejahtera I setiap anggota
keluarga haruslah mempunyai ruang kamar yang luasnya 8 m
2
, semua
anggota keluarga sehat dalam tiga bulan terakhir sehingga dapat
melaksanakan fungsi mereka masing-masing (Sudiharto, 2007).
Lingkungan fisik rumah dapat dilihat dari kebersihan lingkungan rumah,
alat rumah tangga, perabot, dan alat makan minum (Anonim, 2009).
Rumah yang sehat juga memerlukan cahaya yang cukup, tidak
kurang dan tidak terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang masuk ke dalam
rumah, terutama cahaya matahari di samping kurang nyaman, juga
merupakan media atau tempat yang baik untuk hidup dan berkembangnya
bibit-bibit penyakit. Fungsi jendela di samping sebagai ventilasi juga
sebagai jalan masuk cahaya. Jendela memegang peran penting untuk
membantu masuknya cahaya matahari ke dalam rumah. Dengan membuat
jendela, sebaiknya memperhitungkan sinar matahari dapat langsung masuk
ke dalam ruangan. Maka sebaiknya jendela itu harus di tengah-tengah
tinggi dinding agar sinar matahari lama menyinari lantai (Anonim, 2009).

B. Kerangka Teori
Berdasarkan uraian dalam tinjauan pustaka maka dapat disusun sebuah kerangka
teori. Kerangka teori dalam penelitian ini terlihat dalam skema 2.1
Skema 2.1:
Kerangka Teori Penelitian







DIARE
Penyebab Diare:
1. Infeksi pencernaan
2. Malabsorbsi makanan
3. Makanan tercemar,beracun
4. Psikologis (stress, cemas)
5. Sanitasi lingkungan tidak
adekuat
a. Penyediaan air bersih/
air minum
b. Jamban keluarga
c. Pembuangan sampah
d. Pembuangan air limbah
e. Lingkungan Fisik
Rumah


Sumber : Ngastiyah (2005), Suharyono (2003), Notoatmodjo (2007),
Friedman (1998), dan Depkes RI (1999)


C. Kerangka Konsep
Variabel Bebas Variabel Terikat


Kejadian diare Kondisi Lingkungan Rumah





Variabel perancu
1. Infeksi pencernaan
2. Malabsorbsi makanan
3. Makanan yang dikonsumsi
4. Psikologis

D. Variabel Penelitian
1. Variabel Bebas
Merupakan variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya
variabel terikat. Jadi variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi
(Sugiyono, 2003). Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah kondisi
lingkungan rumah yang meliputi:
a. Penyediaan air bersih/ air minum
b. Jamban keluarga
c. Pembuangan sampah
d. Pembuangan air limbah
e. Lingkungan Fisik Rumah

2. Variabel Terikat
Merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena
adanya variabel bebas (Sugiyono, 2003). Dalam penelitian ini variabel
terikatnya adalah kejadian diare pada balita.
3. Variabel Perancu
Variabel perancu (confounding) adalah variabel yang nilainya ikut tergantung
baik secara langsung maupun tidak langsung (Nursalam, 2003). Dalam
penelitian ini, variabel perancunya adalah infeksi pencernaan, malabsorbsi
makanan, makanan yang dikonsumsi, psikologis. Variabel ini tidak diteliti
dalam penelitian ini, namun perlu diperhatikan dan dikendalikan karena dapat
mempengaruhi hasil penelitian.

E. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini terdiri dari hipotesis mayor dan minor.
1. Hipotesis mayor dalam penelitian ini adalah Ada hubungan antara kondisi
lingkungan rumah terhadap kejadian diare pada balita di Wilayah Kelurahan
Rowosari Kecamatan Tembalang Kota Semarang.
2. Hipotesis minor dalam penelitian ini adalah:
a Ada hubungan antara kondisi penyediaan air bersih di lingkungan rumah
tempat tinggal dengan kejadian diare pada balita di Wilayah Kelurahan
Rowosari Kecamatan Tembalang Kota Semarang.
b Ada hubungan kondisi pembuangan sampah di lingkungan rumah tempat
tinggal dengan kejadian diare pada balita di Wilayah Kelurahan Rowosari
Kecamatan Tembalang Kota Semarang.
c Ada hubungan antara kondisi jamban keluarga di lingkungan rumah
tempat tinggal dengan kejadian diare pada balita di Wilayah Kelurahan
Rowosari Kecamatan Tembalang Kota Semarang.
d Ada hubungan antara kondisi pembuangan air limbah di lingkungan
rumah tempat tinggal dengan kejadian diare pada balita di Wilayah
Kelurahan Rowosari Kecamatan Tembalang Kota Semarang.
e Ada hubungan antara lingkungan fisik rumah tempat tinggal dengan
kejadian diare pada balita di Wilayah Kelurahan Rowosari Kecamatan
Tembalang Kota Semarang.