Anda di halaman 1dari 35

1

Kasus 3
Waspada Dini
Seorang petani 46 tahun datang kepuskesmas dengan keluhan adanya luka
pada lengan kanan atas yang terasa gatal dan disertai bengkak pada daerah axila.
Pada pemeriksaan didapatkan luka berbentuk bulat, dengan diameter 2-3 cm tepi
reguler dan meninggi, bewarna hitam, sekitar lesi terdapat pembengkakan tetapi
tanpa nanah dan tidak nyeri. Sebelum mengalami luka tersebut, pasien menerima
beberapa sapi titipan dari temannya yang dimaksudkan untuk dijual menjelang
hari raya idul adha, bedasarkan hal itu kepala puskemas segera melaporkan
kepada dinas kesehatan agar waspada.

STEP 1
1. Lesi : Diskontinuitas jaringan patologis atau tromatis dan hilangnya
fungsi suatu bagian.
2. Luka : Rusaknya suatu kesatuan atau komponen jaringan dimana secara
spesifik terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang.
3. Gatal : Sensasi yang secara insting memerlukan atau dorongan untuk
melakukan penggarukan.
4. Nanah : cairan hasil proses peradangan yang terbukti dari leukosit, debris
seluler dan cairan plasma yang kaya protein.

STEP 2
1. Penyakit yang berhubungan dengan kasus tersebut ?
2. Penyebab dan patogenesis penyakit tersebut ?
3. Mekanisme dan gejala penyakit tersebut ?
4. Cara menegakkan diagnosis ?
5. Penatalaksanan ?
6. Mengapa harus waspada pada kasus tersebut ?
7. Apa hubungan sapi dengan keluhan pasien ?



2

STEP 3
1. Termasuk penyakit zoonosis karena kontak dengan hewan
Bakteri : Brucellasis, Bacilus antraxis, Salmonela typii
Virus : Flu burung, Flu babi
Parasit : Filariasis
Jamur : Kurap
Infeksi langsung kontak langsung
Infeksi tidak langsung memerlukan vektor dan perantara
Pada kasus ini bisa terjadi infeksi langsung maupun tidak langsung
Hewan Reservoar
Gejala : Gatal, bengkak, luka pada lengan kanan didaerah axila, luka
berbentuk bulat dengan diameter 2-3 cm. Tepi reguler meninggi bewarna
merah kecoklatan bagian tengah bewarna hitam tanpa nanah dan nyeri.
Bacillus anthraxis : tidak ada nanah
Leptospirosis : biasanya menyerang petani
Gejala klinis : nyeri otot pada gastronemius, kepala pusing bagian
frontal
Bracellosis anthraxis ada 3 yaitu :
Bracellosis kronis : Panas
Bracellosis sub akut : Demam intermiten
Bracellosis akut : Serak, anoreksia, antalgia dan gejala
neuropklerosis
Fatciohopatica : Tidak ada gangguan hati
Tanea saginata : Lemas, gangguan pencernaan

2. Bacillus anthraxis
Gram (+) dapat membuat spora pembentukan spora aerob. Bisa
bertahan hidup pada produk hewan seperti kulit.
Epidemiologi : enzikari eropa, amerika utara. Bayak terjadi di
afrika, asia, australia. Pertama kali di siberia.
Bentuk spora oval 4. Terletak sentral dan para sentral
Masuk bisa melalui luka
3

3. Patogenesis
Cutaneus : 1-7 hari, spora masuk kulit berubah vegetatif
Inhalasi : 1-5 hari, spora masuk ke alveoli fagositosis oleh
makrofag KGB oedem
GI : 2-5 hari, oedem nekrosis, pendarahan usus,
limfadenopati
3 toksin : prolatif antigen menempel di reseptor, edema
faktor, letal faktor
4. Anamnesis
Riwayat pekerjaan
Lingkungan : apakah ada ternah yang mati?
Kontak dengan hewan
Ada nyeri atau tidak
Dalam waktu dekat ini apa pernah makan daging
Apakah ada di daerah anda yang mengalami sakit seperti ini
Keluhan menyertai
Gangguan pernapasan
Vital sign
Suhu
Tekanan darah
Frekuensi nadi
Frekuensi pernapasan
Pemeriksaan fisik
Inspeksi : luka, oedem, nanah, kemerahan, hitam ditengah
Palpasi : nyeri tekan, pembesaran KGB, abdomen
Perkusi : paru-paru suara redup , timpani di seluruh
permukaan abdomen
Auskultasi : paru-paru suara vesikuler, abdomen suara bising
usus


4

Pemeriksaan penunjang
Serologi
Elisa
Foto thorax
Kultur jaringan

5. Penatalaksanaan
Ciprofloxacin
Penisilin G
Rimfampisin
Tetrasiklin
Klorampenikal
Streptomisin
Pencegahan
Jika sedang luka hindari kontang dengan hewan
Menggunakan pelingdung ketika berternak
Vaksinasi antrax pada hewan ternak
Sterilisasi
Mengubur hewan yang terinfeksi
Laporkan ke puskesmas

6. Ditakutkan menyebar luas karena spora dapat hidup diluar. Juga cara
penyebarannya yang sangat mudah.
7. Ada hubungan, karena bacillus anthraxis menghasilkan spora yang bisa
hidup di tanah, kulit dan bulu.







5

STEP 4





















STEP 5
1. Penyakit zoonosis ?
2. Penyebab dan patogenesis penyakit tersebut ?
3. Mekanisme dari gejala penyakit tersebut ?
4. Cara menegakkan diagnosis ?
5. Penatalaksanan ?
6. Mengapa harus waspada pada kasus tersebut ?
7. Epidemiologi dari penyakit zoonosis di Indonesia ?
8. Penyakit zoonosis di Indonesia ?
STEP 6 : Belajar Mandiri
zoonosis
Agen
Reservoar
Penatalaksanaan
Gejala
Patogenesis
Bakteri
Virus
Jamur
Parasit
Manusia
Hewan : sapi mamalia dll
Cutaneus
Inhalasi
GI
Gatal
Bengkak
Promotif
Kuratif
Preventif
rehabilitasi
Diagnosis
Anamnesis
Vital sign
Pemeriksaan
fisik
Pemeriksaan
penunjang
6

STEP 7 :
1) Penyakit Zoonosis
Setiap penyakit atau infeksi yang secara alami ditularkan dari hewan
vertebrata ke manusia dan sebaliknya digolongkan sebagai zoonosis sesuai
dengan publikasi PAHO "Zoonosis dan penyakit menular umum untuk
manusia dan hewan". Lebih dari 200 zoonosis telah dijelaskan dan mereka
telah dikenal selama berabad-abad. Mereka disebabkan oleh semua jenis agen:
bakteri, parasit, jamur, virus dan agen tidak konvensional.
Beberapa contoh zoonosis, diklasifikasikan sesuai dengan jenis agen
penyebab yaitu :
Bakteri : salmonellosis,campylobacterosis , brucellosis,shigella,tularaemi
Parasit : toksoplasma,trichelloris,termatodosis,hydatidosis
Virus : ebola,rabies,flu burung,flu babi.
Jamur : dermatophytoses,sporotrihosis
Inkonvesional : spongioform encophalopatho

Bakteri
Setiap tahun jutaan orang mendapatkan sakit karena foodborne
zoonosis seperti Salmonellosis dan Campylobacteriosis yang menyebabkan
demam, diare, sakit perut, malaise dan mual.Zoonosis bakteri lainnya adalah
antraks, brucellosis, infeksi oleh verotoxigenic Escherichia coli ,
leptospirosis, wabah, demam Q, shigellosis dan tularaemia.
Parasit
Sistiserkosis / taeniasis disebabkan oleh parasit yang menginfeksi babi
dan dapat menyebabkan kejang, sakit kepala dan gejala lainnya pada
manusia. Di Amerika Latin misalnya, 100 dari 100 000 penduduk menderita
penyakit ini (estimasi). Zoonosis parasit lainnya adalah trematodosis,
echinococcosis / hydatidosis, toksoplasmosis dan trichinellosis
Virus
Rabies adalah penyakit karnivora dan kelelawar terutama menular
kepada manusia oleh gigitan. Hampir semua orang yang terinfeksi oleh
hewan rabies akan mati jika tidak diobati. Sebuah jumlah yang diperkirakan
7

dari 55 000 orang, terutama anak-anak, meninggal karena penyakit ini di
dunia setiap tahun. Anjing bertanggung jawab atas sebagian besar kematian
manusia.Zoonosis virus lainnya adalah flu burung, Krimea-Kongo demam
berdarah, Ebola dan demam Rift Valley.
Jamur
Dermatophytoses adalah mycoses dangkal yang dapat diperoleh dari
hewan yang terinfeksi dan mempengaruhi kulit, rambut dan kuku manusia,
menyebabkan gatal-gatal, kemerahan, scaling dan rambut rontok. Lain
infeksi mikotik yang dapat zoonosis adalah sporotrichosis.
Inkonvensional agen
Agen dari Bovine Spongiform Encephalopathy dianggap penyebab
varian Creutzfeldt-Jakob Penyakit (vCJD) yang merupakan penyakit saraf
degeneratif yang berbeda dari CJD, di hadir pasti mematikan pada manusia.
Encephalopathies spongiform menular (TSEs) adalah keluarga dari
penyakit manusia dan hewan ditandai dengan degenerasi spons dari otak
dengan tanda-tanda neurologis yang parah dan fatal dan gejala.
Pada hewan, scrapie adalah penyakit yang umum pada domba dan
kambing. Mink dan Amerika Utara rusa dan rusa bagal dapat kontrak
TSEs. Bovine spongiform encephalopathy (BSE) juga TSE suatu, yang
mempengaruhi sejumlah spesies (sapi, manusia, kucing, beberapa jenis
hewan di 300 pengaturan).
BSE adalah, menular neuro-degeneratif otak penyakit fatal
ternak. Penyakit ini memiliki masa inkubasi panjang 4-5 tahun dan itu fatal
bagi ternak dalam beberapa minggu atau bulan dari onset. Sifat agen BSE
masih diperdebatkan.
Bukti kuat yang tersedia saat ini mendukung teori bahwa agen
sebagian besar terdiri, jika tidak seluruhnya, dari protein mereplikasi diri,
disebut sebagai prion. Hal ini ditularkan melalui konsumsi daging BSE-
terkontaminasi dan suplemen tepung tulang dalam pakan ternak.



8

Varian Creutzfeldt-Jakob
Pada manusia, yang spongiform encephalopathy yang paling umum
menular (TSE) disebut Creutzfeldt-Jakob (CJD). CJD jarang dengan
kejadian di seluruh dunia dari 1 kasus per juta. Manusia yang
mengembangkan penyakit ini perlahan-lahan akan kehilangan kemampuan
untuk berpikir dan bergerak dengan benar dan akan menderita kehilangan
memori dan kerusakan otak progresif sampai mereka tidak bisa lagi melihat,
berbicara atau makan sendiri.
Pertama kali dijelaskan pada tahun 1996, Varian CJD (vCJD) mirip
dengan CJD karena juga merupakan TSE, namun ada perbedaan
mencolok. Pertama, orang-orang muda yang terpengaruh, dengan usia rata-
rata kematian di bawah 30 tahun.Kedua, penyakit ini memiliki durasi yang
relatif lama sakit. Akhirnya, hal ini sangat terkait dengan eksposur, mungkin
melalui makanan, untuk BSE. TSEs manusia lainnya belum dikaitkan
dengan paparan makanan.
Rute penularan vCJD belum sepenuhnya terbukti, tapi secara umum
diterima bahwa itu ditularkan melalui paparan makanan yang tercemar oleh
BSE.

Zoonosis masih merupakan ancaman yang signifikan kesehatan
masyarakat, namun banyak dari mereka yang diabaikan, yaitu mereka tidak
diprioritaskan oleh sistem kesehatan di tingkat nasional dan
internasional. Mereka mempengaruhi ratusan ribu orang terutama di negara-
negara berkembang, meskipun sebagian besar dari mereka dapat dicegah.
Penyakit-penyakit yang termasuk ke dalam penyakit zoonosis yaitu :
1. ANTHRAX
Penyebab : bakteri Bacillus anthracis
Resevoar : Sapi, kambing, domba, babi dan burung onta.
Gejala : Demam tinggi, nafsu makan hilang, gemetaran, bengkak-
bengkak, keluar darah dari lubang-lubang alami (telinga, hidung, mulut,
anus dan kemaluan ) kemudian diikuti kematian. Organ limpa
membengkak dan berwarna gelap.
9

Penularan : melalui makanan (mulut), pernafasan dan kontak kulit.
2. BRUCELLOSIS
Penyebab : bakteri Brucella abortus
Resevoar : Sapi, kambing.
Gejala : demam, berkeringat ,batuk ,sesak nafas ,turun berat badan,
sakit Kepala ,artalgia mialgia
Penularan : melalui saluran makanan, kelamin, selaput lendir dan luka
oleh air kencing, air ketuban, susu dan daging hewan penderita.
3. LEPTOSPIROSIS.
Penyebab : bakteri Leptospira sp
Resevoar :Sapi, anjing, kerbau, babi, tikus.
Gejala : demam, nafsu makan turun, sesak nafas, loyo, selaput lendir
kekuningan (icterus), air kencing lebih pekat dan berwarna kuning.
Ginjal membengkak dan berwarna gelap.
Penularan : makanan dan minuman (daging, organ ginjal dan susu )
yang tercemar bakteri leptospira. Juga oleh air kencing hewan penderita
,atau genangan air yang tercemar air kencing penderita , lewat selaput
lendir dan luka.
4. SALMONELLOSIS
Penyebab : bakteri Salmonella sp.
Resevoar: sapi, domba, kambing, babi, ayam.
Gejala : diare disertai lendir, kadang berdarah.
Penularan : Daging, telur dan susu merupakan sumber penularan. Juga
kotoran penderita yang mencemari makanan, minuman dan alat-alat.
5. TUBERCULOSIS
Penyebab : bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Resevoar: sapi, babi, kuda, domba, kambing, kera, anjing dan kucing.
Gejala : gangguan pernafasan,batuk darah,demam,badan kurus.
Penularan : lewat saluran pencernaan dan pernfasan oleh percikan batuk
hewan penderrita.


10

6. ORF
Penyebab : virus parapox
Resevoar : kambing dan domba
Gejala : peradangan pada kulit, kemudian melepuh dan terbentuk
keropeng. Bagian yang sering dijumpai adanya keropeng yaitu kulit
yang jarang ditumbuhi bulu misalnya sekitar mulut, mata, alat kelamin
dan ambing.
Penularan : kontak langsung dengan bahan-bahan yang mengandung
virus tersebut.
7. SISTISERKOSIS
Penyebab : cacing pita Taenia saginata
Resevoar : Sapi & kerbau.
Penularan : makanan yang tercemar telur cacing pita dari kotoran
manusia penderita (cacing pita dewasa hanya hidup di saluran
pencernaan manusia).
Gejala : tidak menunjukkan gejala nyata. Terdapat gelembung-
gelembung seperti butiran beras pada beberapa bagian daging atau
organ dalam.
8. TOXOPLASMOSIS
Penyebab : protozoa bersel tunggal Toxoplasma gondii
Resevoar : Sapi, kambing, domba, kerbau, babi, unggas, anjing, kucing.
Gejala : Tidak ada gejala yang nyata. Apabila kista berada di otak akan
menunjukkan gejala epilepsi. Kista yang berada di retina maka
penderita akan mengalami kebutaan.
Penularan : melalui salauran pencernaan lewat makanan (daging, buah ,
sayuran ), minuman, tangan dan alat yang tercemar telur toxoplasma
maupun kistanya. Toxoplasma hanya berkembang biak didalam seluran
pencernaan kucing penderita.
9. SCABIES
Penyebab : parasit Sarcoptes scabiei
Resevoar : sapi, kerbau, kambing, domba, babi, anjing, kucing dan
kelinci.
11

Gejala : peradangan dan gatal-gatal pada kulit sekitar mulut, mata,
telinga, kaki dan ekor, diikuti kerontokan bulu dan penyebaran ke
bagian kulit lainnya.
Penularan : kontak langsung dengan penderita.
10. RING WORM
Penyebab : cendawan Trichophyton dan Microsporum.
Reservoar : Sapi, kambing, domba, unggas, anjing, kucing, kuda.
Gejala : bercak-bercak merah, bernanah, bulu rontok terutama kulit
bagian muka, leher dan punggung.
Penularan : kontak langsung.
11. Flu Burung (Avian Influenza)
Penyebab : H5N1
Resevoar : manusia
Gejala : demam, gangguan pernafasan,nyeri otot
Penularan : kontak dengan hewan yang sakit udara secret
12. Flu Babi
Penyebab : H1N1
Resevoar : manusia
Gejala: demam ,sesak nafas,nyeri tenggorokan,batuk,pilek
Penularan : doplet bersin percikan kontak dengan babi yang terinfeksi
13. Rabies
Penyebab lisa virus
Reservoar : anjing kelelawar
Gejala:
Stadium promodomal : demam menggigil, batuk,nyeri
menelan,gatal disekitar bekas gigitan mialgia, sakit kepala
Stadium neurogi akut hidrofoloin fotopobia
Stadium koma



12

2) Penyebab dan Patogenesis Penyakit Anthraks
Etiologi
B.anthracis adalah basil Gram positif, non-motil, dan bisa membentuk
spora(sporulasi). Spora ini tidak terbentuk di jaringan hidup, tetapi di
lingkungan yang aerobik akanmuncul dan bertahan bertahun tahun di tanah
yang tahan temperatur tinggi, kekeringan; juga tahan pada bahan dari
binatang atau pada industri bahan dari binatang. Kuman ini tumbuh subur
pada media biasa pada suhu 35-37 derajat C.Koloni bersifat lengket dan dapat
membentuk stalagmite-like form bila disentuh dan diangkat. Di bawah
mikroskop kuman tampak membentuk rantai panjang, paralel menyerupai
gerbong barang(boxcar appearance). Spora (xerobic endospore) berbentuk
oval dan terletak sentral atau parasentral tetapi tidak mennjadikan basil
merabengkak. Dari lesi yangbaru,rantai basil akan tampak petidek atau
tunggal dan terdiri 2 atau 3 basil yang berkapsu! dengan ujimgnya
membulat.
B.anthracis bisa dibedakan dari spesies Bacillus yang saprofit dengan
melihat morfologi koloni dan pewarnaan antibodi fluoresen dan virulensinya
pada kelinci, marmot dan tikus dimana inokulasi pada binatang tersebut
akan menyebabkan kematian dalam 1-3 hari.

Patogenesis
Spora akan masuk melului kulit,saluran napas atau saluran cerna ,
didalam makrofag akan bertahan hidup.
Yang menentukan virulensi B.anthracis adalah 3 eksotoksin (plasrnid
pXOl) yaitu protective antigen (PA), edema factor (EF) dan lethal factor (LF);
dan yang disebut antiphagocytic polydighdamic acid capsule (plasmid
pX02). Strain yang hanya mempunyai salah satu saja dari kedua plasmid pXO
1 dan pX02 bersifat tidak virulen. Tidak satupun dari 3 eksotoksin di atas bisa
menyebabkan efek biologis pada binatang percobaan bila diberikan sendiri-
sendiri.PA mempunyai efek mengikat reseptorpermukaan sel, sehingga bisa
digunakan oleh EF dan LF untuk masuk ke sitoplasma.
13

Kombinasi PA dan EF akan menyebabkan edema lokal dan menghambat
fungsi PMN, sedangkan kombinasi PA dan LF akan menyebabkan syok dan
kematian cepat, bisa dalam waktu 60 menit. Antibiotik akan melenyapkan
kuman antraks, tetapi toksin yang telah diproduksi kuman akan tetap
berfungsi melanjutkan proses penyakit sampai toksin tersebut dimetabolisir.
Pada cutaneous anthrax, spora kuman tersebut akan masuk melalui
kulit yang luka atau melalui luka yang disebabkan serat dari binatang
terinfeksi. Di jaringan subkutan spora tersebut akan berubah menjadi
bentuk vegetatif, bermultiplikasi dan mengeluarkan eksotoksin dan material
kapsul antifagositik (plasmid pX02).Akan terjadi edema dan nekrosis
jaringan.
Selanjutnya kuman akan difagosit oleh makrofag dan menyebar ke
kelenjar getah bening setempat, di mana disini toksin akan menyebabkan
perdarahan, edema dan nekrosis (lirnpadenitis).Terakhir basil terasebut
akan masuk peredaran darah dan menyebabkan pneumonia, meningitis
dan sepsis. Pada inhalation Antraks (lebih jarang terjadi dibanding tipe
Iainnya) terjadi inhalasi spora (aerosol dengan ukuran partikel kurang dari 5
um) dimana spora akan sampai di alveoli, difagosit oleh makrofag dan
selanjutnya dibawa ke kelenjar getah bening mediastinum. Spora yang ditanah
akan menggumpal dan akan susah menjadi aerosol, sehingga tidak
menyebabkan inhalation antraks.
Di sini terjadi germination, berkembang biak dan pembentukan
toksin, sehingga terjadi limfadenitis dan mediatinitis yang hemoragis.
Kapiler para bisa terkena yang menyebabkan trombosis dan gagal napas.
Juga bisa terjadi efusi pleura. Pneumonia terjadi oleh karena infeksi sekunder
bukan primer oleh basil antraks. Dari paru basil bisa masuk ke aliran darah
menyebabkan bakterimia, yang bisa masif. Meningitis.hemorrbagis bisa
terjadi pada keadaan ini. Penyebab kematian dari inhalation anthrax ini
adalah gagal napas, syok dan edema paru.
Bila spora masuk melalui mulut setelah makan daging terkontaminasi
yang mentah atau kurang masak maka akan terjadi yang disebut
oropharyngeal atau intestinal anthrax.Pada. oropharyngeal Anthrax ini
14

terjadi pembengkakan farynx, dan bisa juga menyebabkan obstruksi trakea
atau limfadenopati servikal dengan edema .Pada intestinal Antraks terjadi
edema, nekrosis dan perdarahan mukosa usus besar dan kecil, limfadenopati
mesenterika, asites hemoragis dan sepsis.

3) Mekanisme dari gejala penyakit tersebut
Bacillus anthrax masuk melalui proses inhalation, cutaneus, intestial
Masuk ke dalam tubuh di bawa oleh makrofag mengalami germinasi di
dalam makrofag Masuk ke pembuluh darah sehingga menyebabkan
bakterimia Menuju sel target dan menyebabkan sel target tersebut
nekrosis Protective antigen berikatan dengan reseptor pada sel
Molekul protective antigen dipecah menjadi p63 dan p20 oleh protein furin
P63 membentuk heptamer formation Berikatan dengan letal factor dan
edema factor Endositosis Edema factor release sehingga
menyebabkan edema Berikatan dengan molekul ATP cAMP dan
P1, P2 letal factor release lalu berikatan dengan MAPKs dan
menyebabkan sel tersebut nekrosis.

4) Menegakkan Diagnosis Penyakit Anthraks
Penegakan Diagnosa
Riwayat pekerjaan atau kontak dengan binatang yang terinfeksi atau
bahan berasal dari binatang tersebut penting dalam anamnesa. Gambaran klinik
dari tipe antraks yang khas juga akan berguna dalam penegakan diagnosis.
Cutaneous anthrax dibedakan dari karbunkel oleh stafilokokus dari adanya
rasa nyeri dan gambaran khas Antraks kulit di atas. Inhalation Antraks sering
tidak terdiagnosa awal, sehingga riwayat paparan dan gambaran radiologi paru
di atas sangat penting.
Laboratorium memberikan hasil lekosit yang normal atau sedikit
meningkat dengan PMN yang dominan. Cairan pleura atau likuor serebrospinal
memperlihatkan gambaran haemoragis, dengan relatif sedikit sel darah putih.
Pemeriksaan gram dan kultur (dengan media standar) dari lesi kulit, apus
15

tenggorok, cairan pleura, asites, likuor serebrospinal dan darah akan
memperlihatkan kuman gram positif dengan gambaran khas anthrax.
Kultur dari lubang hidung tidak bernilai diagnostik, hanya untuk
epidemiologik. Pemeriksaan serologik indirect haemaglutin, ELISA. FA
(fluorescent antibody). Kenaikan titer 4 kali akan lebih bernilai. Pemeriksaan
lainnya adalah PCR, biopsi jaringan dengan pewarnaan imunohistokemikal.
Pemeriksaan radiologi sangat penting pada inhalation anthrax, dimana akan
didapatkan gambaran mediastinum yang melebar.
Pemeriksaan atau pengujian spesimen di laboratorium adalah untuk
meneguhkan diagnosa yang dibuat berdasarkan gejala klinis. Pengujian yang
dilakukan pada dasarnya merupakan deteksi agen penyakit dan deteksi
antibodi . Pengiriman spesimen dari suatu tempat ke laboratorium pemeriksaan
juga perlu diperhatikan karena dapat mempunyai resiko penyebaran agen
penyakit. Untuk itu, WHO (1998) juga telah merekomendasikan tentang cara
pengamanan, pengemasan, pelabelan dan dokumentasi sehubungan dengan
pengiriman barang-barang infeksius.
Metode isolasi dan identifikasi dilakukan untuk menentukan agen
penyebab telah direkomendasikan WHO (1998) dan Central for Disease
Control and Prevention (CDC, 2002) . Metode ini dilakukan dengan berbagai
teknik tergantung jenis spesimen, yaitu : (1) spesimen yang masih baru dan
hewan atau manusia tanpa pengawet, (2) spesimen yang masih baru dan hewan
atau manusia dengan pengawet, dan (3) spesimen yang sudah lama, karkas
yang sudah membusuk, material yang sudah diproses atau dan lingkungan
(termasuk tanah).
Untuk sampel yang masih baru, hal yang biasa dilakukan adalah dengan
melihat adanya kapsul maupun bentuk kuman dengan pewarnaan polychrome
methylene blue (M fahdeyan 's reaction) . Bakteri berbentuk batang berantai
dengan ujung siku berwarna biro dengan kapsul berwama merah muda. B.
anthracis yang virulen dapat diinduksi untuk memproduksi kapsul dengan
menumbuhkan kuman tersebut pada media agar bikarbonat 0,7%. diinkubasi
37C dengan kandungan CO
2
5-20%. B. anthracis dapat tumbuh pada media
agar darah setelah diinkubasikan 37 C selama 16 - 24 jam. Koloni B.
16

anthracis berwarna putih keabu-abuan, tepi tidak rata dan beraturan (medusa
head), kasar, suram, non hemolitik, non motil dan konsistensi hat. Pada media
broth, koloni B. anthracis seperti kapas, dengan media tampak bening . Uji lisis
gamma phage maupun kepekaan terhadap penicillin tapat dijadikan sebagai uji
konfirmasi dalam identifikasi.
Untuk sampel yang sudah lama, sudah busuk, yang sudah diproses atau
sampel tanah, sampel terlebih dahulu harus dipanaskan pads 65C selama 15
menit untuk kemudian ditanam pads media agar darah atau agar yang
mengandung polymyxin, lysoryme, EDTA, thallous acetat (PLET), dan
diinkubasikan 37C selama 16 - 48 jam.
Anthraxin merupakan antigen antraks yang diinaktivasi dan dimurnikan
dan banyak digunakan dalam mengevaluasi vaksinasi dan studi retrospektif
pada hewan dan manusia. Teknik ini diaplikasikan dengan cara menyuntikkan
0,1 ml Anthraxin secara intradermal dan diamati dalam waktu 48 jam . Adanya
pembengkakan dan kemerahan kulit menunjukkan reaksi positif.
Teknik PCR mulai digunakan secara luas untuk mendeteksi adanya gen
faktor virulensi (kapsul dan toksin PA). Jadi dalam hal ini dapat dipastikan
suatu isolat adalah virulen atau tidak . Metode ini relatif cepat dengan
sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi.
Teknik DFA juga dilaporkan mempunyai sensitivitas dan spesifisitas
yang tinggi . Uji ini dapat mendeteksi B. anthracis dalam waktu beberapa jam
saja dan dapat membedakan B. anthracis dari Bacillus spp. lainnya . Uji ini
mendeteksi 2 komponen dari B. anthracis, yaitu kapsul dan dindingnya . Uji ini
menggunakan antibodi yang dilabel dengan Fluorescence lsothiocyanate
(FITC). Teknik DFA yang mampu mendeteksi 2 komponen B. anthracis ini
dilaporkan sensitif, spesifik dan merupakan uji konfirmatif yang cepat dan
sangat berguna untuk mendeteksi B. anthracis secara langsung dari spesimen
lapangan.
Deteksi antigen yang lebih sensitif dan spesifik adalah dengan teknik
immunochromatographic assay. Teknik ini menggunakan antibodi monoklonal
anti-PA yang dilekatkan pada membran nitroselulosa dan dapat mendeteksi
adanya PA dalam sampel dengan jumlah yang sangat kecil yaitu 25 ng/ml.
17

Enzyme linked immuno-sorbent assay (ELISA) digunakan untuk
mendeteksi adanya antibodi yang ada dalam sampel serum dan banyak
digunakan untuk evaluasi vaksinasi, studi epidemiologi pada manusia, hewan
ternak maupun hewan liar. Jika uji ini digunakan untuk diagnosa harus juga
dilakukan pemeriksaan laboratorium yang lain.

Tabel : Pemeriksaan pada penyakit antraks
Prosedur pemeriksaan Keterangan
Isolasi dan identifikasi

Mikroskopik
Polychrom methvlene blue
Visualisasi kapsul



B. anthracis mempunyai bentuk batang
berantai wama biru dengan ujung siku-siku
dengan kapsul berwama merah muda

B. anthracis mempunyai bentuk koloni kasar,
liat, warna abu-abu . non hemolisis, non motil
dan membentuk spora

Kultur
Morfologi koloni
Hemolisis
Motilitas
Sporulasi
Lisis gamma-phage
Sensitifitas terhadap penisilin


Koloni B. Anthracis akan lisis jika ditetesi
gamma-phage, pada umumnya B. anthracis
sensitif terhadap penisilin


Deteksi antibodi
Uji Serologi : ELISA
antibodi




Uji ELISA untuk deteksi antibodi anti-PA
yang ada dalam sampel serum . Jarang
digunakan untuk diagnosis
Untuk deteksi antigen B. anthracis .

Deteksi antigen Pada uji ascoli terbentuk cincin putih diantara
18

Uji ascoli
Direct Flourescence Assay
(DFA)
Immunochromatoghrafic
assay
serum dan ekstrak sampel. Uji DFA untuk
deteksi dinding sel dan kapsul (berwarna
hijau jika dilihat di bawah
mikroskopfourescence). Pada uji
immunochromatografic assay akan ada dua
garis coklat pada kertas netroselulosa
Polvmerase Chain Reaction
(PCR)
Untuk konfirmasi virulensi, adanya dua pita
yaitu PA (pXOI) dan kapsul (pXO2)

Hipersensitivity test
(Anthraxin)
Suntikan intradermal 0,1 ml Anthraxin,
diamati 48 jam pasca suntikan, adanya
pembengkakan dan kemerahan pada kulit
menunjukkan positif

5) Penatalaksanaan
a. Promotif
Promotif merupakan suatu tindakan yang lebih memberikan
informasi informasi sebagai edukasi mengenai kesehatan, termasuk
masalah penyakit, sehingga keluarga mengetahui bahaya-bahaya dari suatu
penyakit dan bagaimana cara menghindari dan mengatasinya termasuk
tindakan preventifnya yang bertujuan untuk meningkatkan taraf kesehatan
anggota keluarga.Tindakan promotif yang dapat dilakukan adalah :
- Menjelaskan tentang penyakit anthrax yaitu penyakit seperti apa,
terutama mengenai apa penyebabnya, apa akibatnya, bagaimana cara
mengobati dan pencegahannya.
- Edukasi kepada keluarga pasien mengenai masalah-masalah yang
dapat memunculkan penyakit-penyakit tersebut dan bagaimana cara
mengatasinya.
- Melakukan penyuluhan kepada keluarga di lingkungan sekitarnya
mengenai pola hidup yang sehat agar terhindar dari penyakit anthrax.



19

b. Preventif
Tindakan preventif merupakan tindakan atau program yang
dilakukan untuk mencegah agar tidak terjadi penyakit. Berbagai tindakan
preventif yang bisa dilakukan seperti melakukan pengawasan faktor risiko
dan penyakit yang memiliki kecenderungan menjadi wabah. Pada penyakit
antraks tindakan preventif yang dianjurkan :
1. Meningkatkan pengetahuan ekologi dan epidemiologi untuk
mendeteksi penyakit dan memonitor program pengawasan anthrax.
2. Meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan kepedulian masyarakat
teradap penyakit anthrax.
3. Mengoptimalkan risk management dan risk communication hasil risk
analysis importasi (lalu lintas) ternak dan produk hasil hewan.
4. Mengintensifkan koordinasi pengawasan antara dinas dengan stake
holders terkait.
c. Kuratif
Tindakan kuratif adalah mengobati suatu penyakit dan komplikasi.
Pemberian antibiotik intravena direkomendasikan pada kasus antraks
inhalasi, gastrointestinal dan meningitis. Pemberian antibiotik topikal tidak
dianjurkan pada antraks kulit. Antraks kulit dengan gejala sistemik, edema
luas, atau lesi di kepala dan leher juga membutuhkan antibiotik intravena.
Walaupun sudah ditangani secara dini dan adekuat, prognosis antraks
inhalasi, gastrointestinal, dan meningeal tetap buruk.
Anthrak alami resisten terhadap antibiotik yang sering dipergunakan
pada penanganan sepsis seperti sefalosporin dengan spektrum yang
diperluas tetapi hampir sebagian besar kuman sensitif terhadap penisilin,
doksisiklin, siprofloksasin, kloramfenikol, vankomisin, sefazolin,
klindamisin, rifampisin, imipenem, aminoglikosida, sefazolin, tetrasiklin,
linezolid, dan makrolid. Bagi penderita yang alergi terhadap penisilin
maka kloramfenikol, eritromisin, tetrasikilin, atau siprofloksasin dapat
diberikan.
Pada antraks kulit dan intestinal yang bukan karena bioterorisme,
maka pemberian antibiotik harus tetap dilanjutkan hingga paling tidak 14
20

hari setelah gejala reda. Oleh karena antraks inhalasi secara cepat dapat
memburuk, maka pemberian antibiotik sedini mungkin sangat perlu.
Keterlambatan pemberian antibiotik sangat mengurangi angka
kemungkinan hidup. Oleh karena pemeriksaan mikrobiologis yang cepat
masih sulit dilakukan maka setiap orang yang memiliki risiko tinggi
terkena antraks harus segera diberikan antibiotik sambil menunggu hasil
pemeriksaan laboratorium. Sampai saat ini belum ada studi klinis
terkontrol mengenai pengobatan antraks inhalasi. Untuk kasus antraks
inhalasi Food and Drug Administration (FDA) menganjurkan penisilin,
doksisiklin, dan siprofloksasin sebagai antibiotik pilihan.
Setelah serangan antraks yang terjadi pada tahun 2001 di AS dan
berdasarkan uji kepekaan yang dilakukan, CDC menganjurkan kombinasi
2-3 antibiotik untuk pengobatan antraks inhalasi. Pemberian dua atau lebih
antibiotik intravena dikatakan sangat bermanfaat meningkatkan angka
harapan hidup. Mengingat kemungkinan rekayasa kuman pada antraks
inhalasi akibat serangan bioterorisme (kuman menjadi resisten terhadap
satu atau lebih antibiotik) juga menjadi salah satu alasan pemberian
kombinasi antibiotik ini.
Pada binatang percobaan pemberian antibiotik pada infeksi antraks
dapat menekan respon kekebalan. Walaupun seseorang yang menderita
antraks inhalasi tetap hidup setelah pemberian antibiotik, mengingat proses
germinasi spora dapat tertunda, maka kemungkinan kambuh dapat terjadi.
Oleh karena itu bagi penderita antraks inhalasi atau seseorang yang
terpapar dengan spora antraks secara inhalasi, para ahli menganjurkan
pemberian antibiotik harus dilanjutkan paling tidak hingga 60 hari (bila
keadaan klinis telah stabil dan penderita telah dapat makan dan minum
dengan baik maka pemberian antibiotik dapat diganti menjadi oral).
d. Rehabilitatif
Tindakan rehabilitatif adalah program untuk meminimalisasi dampak
suatu penyakit. Pada kasus di skenario dapat dikatakan tindakan
rehabilitatif yang penting adalah untuk mencegah komplikasi dari penyakit
tersebut, tindakan yang dapat diberikan adalah :
21

1. Lapor ke dinas peternakan setempat kalau ada hewan yang sakit
dengan gejala antraks
2. Tidak dibolehkan menyembelih hewan sakit antraks
3. Hewan hanya boleh disembelih di rumah potong
4. Jika hewan dipotong diluar rumah potong harus mendapat izin lebih
dulu dari dinas peternakan setempat.
5. Tidak diperbolehkan mengkonsumsi daging yang berasal dari hewan
yang sakit antraks
6. Laporkan ke dinas kesehatan apabila menjumpai penderita atau
tersangka antraks
7. Bila ada penderita dengan gejala-gejala antraks segera berobat ke
puskesmas atau rumah sakit terdekat
8. Hewan yang peka terhadap antraks seperti sapi, kerbau, domba,
kambing, kuda, secara rutin harus divaksinasi Antraks
9. Dianjurkan untuk tidak memandikan tubuh orang yang meninggal
karena Antraks
10. Dilarang membuat atau memproduksi barang-barang yang berasal
dari hewan seperti kerajinan dari tanduk, kulit, bulu, tulang yang
berasal dari hewan sakit/mati karena penyakit Antraks.

6) Mengapa Harus Waspada Terhadap Penyakit Tersebut
Kita harus waspada dikarenakan spora dari bakteri antraks dapat bertahan
hidup lama dan ditularkan melalui 3 cara yaitu terkena kulit, terhirup dan
termakan. Spora bakteri ini susah di musnahkan sehingga akan mudah dan cpat
di tularkan. Reservoar penyakt ini yaitu sapi yng merupakan hewan yang
mempunyai peranan besar dalam nilai kehidupan manusia baik pangan maupun
industri.





22

7) Epidemiologi Penyakit Zoonosis di Indonesia
1. Rencana Strategis Pengendalian Zoonosis 2012-2017
Strategi Pengendalian Zoonosis 2012-2017 mengacu pada Perpres
No. 30 tahun 2011 terdiri dari delapan strategi, antara lain : (1)
Mengutamakan prinsip pencegahan penularan kepada manusia dengan
meningkatkan upaya pcngendalian zoonosis pada sumber penularan; (2)
Penguatan koordinasi lintas sektor dalam rangka membangun sistem
pengendalian zoonosis, sinkronisasi, pembinaan, pengawasan,
pemantauan, dan evaluasi pelaksanaan kebijakan, strategi dan program;
(3) Perencanaan terpadu dan percepatan pengendalian melalui
surveilans, pengidentifikasian, pencegahan, tatalaksana kasus dan
pembatasan penularan, penanggulangan Kejadian Luar Biasa/wabah
dan pandemic serta pemusnahan sumber zoonosis pada hewan apabila
diperlukan; (4) Penguatan perlindungan wilayah yang masih bebas
terhadap penularan zoonosis baru; (5) Peningkatan upaya perlindungan
masyarakat dari ancaman penularan zoonosis; (6) Penguatan kapasitas
sumber daya yang meliputi sumber daya manusia, logistik, pedoman
pelaksanaan, prosedur teknis pengendalian, kelembagaan dan anggaran
pengendalian zoonosis; (7) Penguatan penelitian dan pengembangan
zoonosis; dan (8) Pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan
dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan
organisasi profesi, serta pihak-pihak lain.
Strategi Nasional Pengendalian Zoonosis terpadu 2012-1017
merupakan Rencana Strategi pengendalian zoonosis terpadu yang disusun
sebagai bahan acuan dasar lintas sektor, lintas program dan masyarakat
dalam pengendalian zoonosis, baik di tingkat pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah. Strategi dalam pengendalian zoonosis tersebut,
mencakup :




23

a. Mengutamakan prinsip pencegahan penularan kepada
manusia dengan meningkatkan upaya pengendalian zoonosis pada
sumber penularan
Sasaran :
Mengurangi kasus zoonosis pada hewan
Mengurangi daerah endemis zoonosis (pembebasan wilayah)
secara bertahap
Mengurangi transmisi dari hewan ke manusia

Sasaran tersebut akan dicapai melalui berbagai kegiatan pokok sebagai
berikut:
Kegiatan pokok :
1. Komunikasi, Informasi dan Edukasi penanggulangan wabah
2. Sosialisasi program pencegahan dan penanggulangan Zoonosis
di lingkungan
3. Penyusunan pedoman pengendalian dan pemberantasan
zoonosis yang terintegrasi, termasuk pada satwa liar
4. Penyusunan Peraturan Perundangan tentang Pengendalian
Zoonosis

b. Penguatan koordinasi lintas sektor dalam rangka
membangun system pengendalian zoonosis, sinkronisasi,
pembinaan, pengawasan, pemantauan, dan evaluasi pelaksanaan
kebijakan, strategi dan program
Sasaran :
Tercapainya sinkronisasi kebijakan dan sinergisasi
pelaksanaan program pengendalian zoonosis.




24

Sasaran tersebut akan dicapai melalui berbagai kegiatan pokok
sebagai berikut:
Kegiatan pokok:
1. Koordinasi Tim Pelaksana Komisi Nasional Pengendalian
Zoonosis
2. Koordinasi lintas sektoral terkait dalam pengendalian zoonosis
3. Koordinasi Perencanaan dan laporan nasional pengendalian
zoonosis secara lintas sektor
4. Koordinasi penguatan penelitian dan pengembangan zoonosis
secara multi disiplin
5. Koordinasi pengendalian wabah zoonosis
6. kerjasama dan jejaring pegendalian zoonosis berbasis
pengendalian wildlife crime
7. Penyusunan kajian dalam rangka mendukung kebijakan
pengendalian zoonosis terpadu
8. Koordinasi perlindungan dan pembebasan wilayah endemis
9. koordinasi penguatan kapasitas sumberdaya dan perlindungan
masyarakat
c. Perencanaan terpadu dan percepatan pengendalian
Sasaran :
Terwujudnya sistem pengendalian zoonosis terpadu

Sasaran tersebut akan dicapai melalui berbagai kegiatan pokok
sebagai berikut:
Kegiatan pokok :
1. Koordinasi Perencanaan Pengendalian Zoonosis
2. Investigasi wabah/kasus Zoonosis
3. Program Monitoring dan Surveilans Terpadu
4. Penyusunan/ Sosialisasi NSPK
5. Penyusunan Sistem Kewaspadaan dini
6. Pengelolaan Komunikasi Publik
7. Penyusunan perencanaan pencegahan,pengcndalian dan
25

penanggulangan zoonosis

d. Penguatan perlindungan wilayah yang masih bebas terhadap
penularan zoonosis baru
Sasaran :
Terlindunginya daerah bebas dari ancaman zoonosis

Sasaran tersebut akan dicapai melalui berbagai kegiatan pokok sebagai
berikut:
Kegiatan pokok :
1. Penyusunan/Penyempurnaan dan Terpimplentasi Kebijakan Kcsiagaan
Dini Pencegahan Penyebaran Zoonosis
2. Penyusunan regulasi tentang perlindungan wilayah bebas zoonosis di
daerah
3. Pembinaan, pengawasan, dan pemantauan terkait pengendatian
zoonosis
4. Koordinasi dan Komunikasi dalam rangka pencegahan dan
penanggulangan masuk dankeluarnya PHEIC (akibat penyakit
zoonosis)
5. Peningkatan kemampuan SDM
6. Peningkatan perlindungan kawasan konservasi
7. Pengawasan alat angkut bermuatan yang datang dari daerah
wabah/endemis penyakitzoonosis

e. Peningkatan upaya perlindungan masyarakat dari ancaman
penularan zoonosis
Sasaran :
Tersedianya layanan kesehatan bagi masyarakat dalam
penanganan zoonosis
Tercapainya pernngkatan pengetahuan dan kewaspadaan
masyarakat terhadap bahaya zoonosis.

26


Sasaran tersebut akan dicapai melalui berbagai kegiatan pokok
sebagai berikut:
1. Pembentukan zoonosis center
2. Penyusiman regulasi di daerah tentang pemeliharaan
hewan penular zoonosis di lingkungan masyarakat
3. Monitoring kewaspadaan dini
4. Pencegahan dan Penanggulangan KLB / Wabah
5. Peningkatan pelakasanaan pemberdayaan Masyarakat dan
Promosi Kesehatan berkaitan dengan Zoonosis
6. Pcnyediaan Vaksin, Serum dan Obat zoonosis
7. Penyediaan panduan daiam kewaspadaan timbulnya zoonosis
8. Penyediaan ASat Pclindung Diri (APD)
9. Peningkatan Public awareness terkait pencegahan penularan
zoonosis

f. Penguatan kapasitas sumber daya yang meliputi sumber daya
manusia, logistik, pedoman pelaksanaan, prosedur teknis
pengendali an, kel embagaan dan anggaran pengendalian
zoonosis
Sasaran :
Tersedianya kapasitas sumber daya pengendalian zoonosis
lintas sektor yang efektif dan efisien.

Sasaran tersebut akan dicapai melalui berbagai kegiatan pokok
sebagai berikut:
Kegiatan pokok :
1. Penyediaan Alat dan Bahan Diagnosa Cepat (Real Time)
terhadap Agen Penyebab Zoonosis
2. Peningkatan kapasitas SDM yang cukup dan kompeten dalam
penanganan zoonosis
3. Pembentukkan tim relawan masyarakat peduli zoonosis
27

4. Peningkatan kapasitas manajemen pengendalian zoonosis
5. Akreditasi dan penunjukan laboratorium referensi zoonosis
6. Simulasi Pencegahan dan penanganan kasus zoonosis

g. Penguatan penelitian dan pengembangan zoonosis
Sasaran :
Tersedianya hasil penelitian untuk mendukung pengendalian dan
penanggulangan zoonosis .

Sasaran tersebut akan dicapai melalui berbagai kegiatan pokok
sebagai berikut:
Kegiatan pokok :
1. Pelaksanaan Surveillance Influenza Like Ilness dan SARS
(Severe Acute Respiratory Infection)
2. Pembentukan pusat kajian pengendalian zoonosis dan jejaring
lintas disiplin ilmu
3. Pembentukan dan pengembangan WHO CC influenza on animal
and human interface
4. Penelitian tentang pengendalian zoonosis
5. Pengembangan vaksin H5N1 dengan pendekatan agent
6. Pelaksanaan Studi Kebijakan KLB berbasis laboratorium
7. Pengembangan model penanggulangan penyakit zoonosis
8. Pengembangan kit diagnostik zoonosis
9. Pembentukan jejaring laboratorium dan sistem informasi
zoonosis terpadu antara kesehatan dan kesehatan hewan baik
di dalam dan di luar negeri, termasuk pada satwa dan ikan




28

h. Pemberdayaan masyarakaf dengan melibatkan dunia usaha,
perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan organisasi
profesi, serta pihak-pihak Sain.
Sasaran :
Terciptanya kesadaran dan partisipasi masyarakat melalui
partisipasi aktif dalam mendukung upaya pengendalian zoonosis.

Kegiatan pokok :
1. Program Pemberdayaan masyarakat di bidang Kesehatan
2. Penyusunan strategi komunikasi penyakit zoonosis yang terpadu
3. Peningkatan peran organisasi profesi dalam percepatan
pengendalian zoonosis di semua sektor
4. Pefibatan masyarakat dalam pengidentifikasian dan pelaporan
zoonosis
5. Penyusunan strategi kompensasi yang bersumber swasta

2. Keterkaitan Antar Strategi dalam Pengendalian Zoonosis
Strategi pengendalian zoonosis difokuskan pada pencegalian
penularan pada manusia melalui upaya pengendalian pada sumber
penularan untuk membebaskan daerah dan perlindungan daerah bebas
serta manusia dari risiko tertular zoonosis. Fokus strategi tersebut
didukung oleh upaya pemberantasan, surveilans terpadu, peningkatan
kapasitas sumber daya, penguatan litbang, KTE serta monitoring dan
evaluasi, Keberlangsungan dan efektifitas pelaksanaan rencana strategi
nasiona! tersebut perlu didukung oleh penguatan peraturan di tingkat
pemerintah pusat hingga pemerintah daerah.

29



3. Upaya Terpadu dalam Pengendalian Zoonosis
Pengendalian zoonosis yang terpadu melibatkan banyak sektor
dalam pencapaiannya. Sektor-sektor terkait pengendalian zoonosis
memiliki peran masing-masing yang dapat besinergi satu sama lain
berdasarkan strategi nasional yang terdapat pada Perpres No.30 Tahun
2011. Dengan upaya sinergi antar masing-masing sektor diharapkan
mampu membuat keterpaduan dalam strategi nasional pengendalian
zoonosis. Bentuk strategi tcrpadu secara lintas sektor tersebut dapat
dilihat pada tabel.
30



9) Penyakit zoonosis di Indonesia
Sejumlah penyakit zoonosis yang masuk ke dalam daftar penyakit hewan
menular strategis di Indonesia yaitu rabies, anthrax, avian influenza,
salmonellosis dan brucellosis. Penyakit zoonosis yang penting lainnya dan
perlu mendapatkan perhatian adalah schistosomiasis, cysticercosis/taeniasis,
tuberculosis, leptospirosis, toxoplasmosis, Japanese encephalitis streptococosis
/ staphylococosis, dan clostridium (tetanus).
Penyakit zoonosis yang berkaitan dengan keamanan pangan (food borne
disease) di Indonesia adalah camphylobacteriosis, salmonellosis, shigella,
yersinia, verocyto toxigenic Escherichia coli (VTEC), dan listeriosis. Penyakit
zoonosis eksotik untuk Indonesia adalah bovine spongiform encephalopathy
(BSE), Nipah/Hendra virus, ebola, dan rift valley fever (RVF).
31

Kebijakan pengendalian dan pemberantasan penyakit zoonosis
Ada 4 (empat) subsistem yang sangat penting dalam perannya sebagai
pendukung dari sistem kesehatan hewan nasional (siskeswannas) terutama
dalam kaitannya dengan pengendalian dan pemberantasan penyakit zoonosis
yaitu:
1. Sistem surveilans dan monitoring nasional terhadap penyakit zoonosis
pada ternak dan satwa liar.
2. Sistem kewaspadaan dini dan darurat penyakit (early warning system
and emergency preparedness).
3. Sistem informasi kesehatan hewan (Sikhnas).
4. Sistem kesehatan masyarakat veteriner (Siskesmavet).

Beberapa kegiatan surveilans yang dilaksanakan sebagai salah satu
strategi pendukung dalam penanggulangan penyakit zoonosis di
Indonesia adalah :
1. Surveilans anthrax (monitoring pre & pasca vaksinasi).
2. Surveilans rabies (monitoring pre & pasca vaksinasi).
3. Surveilans avian influenza (deteksi dini, penentuan subtipe, monitoring
pasca vaksinasi, epidemiologi molekuler, sentinel dan
kompartemen/zona bebas).
4. Surveilans brucellosis (penentuan prevalensi/zoning, pemotongan
reaktor, monitoring vaksinasi).
5. Surveilans salmonellosis (monitoring pullorum dan enteritidis di
peternakan pembibitan unggas/petelur).
6. Surveilans BSE (pengambilan sampel otak dari Rumah Pemotongan
Hewan atau hewan yang menunjukkan gejalasyaraf).

Kebijakan pengendalian penyakit anthrax didasarkan pada azas
perwilayahan (zoning). Bagi daerah bebas anthrax, dilaksanakan pengawasan
ketat pemasukan ternak ke daerah tersebut. Bagi daerah endemik anthrax,
dilaksanakan vaksinasi ternak secara rutin dan mencakup seluruh populasi
32

hewan rentan. Bagi ternak tersangka sakit, dilakukan penyuntikan antibiotika
dan 2 minggu kemudian disusul dengan vaksinasi anthrax.
Begitu juga kebijakan pengendalian dan pemberantasan rabies didasarkan
pada azas perwilayahan. Bagi daerah bebas rabies, dilaksanakan pengawasan
ketat pemasukan hewan penular rabies (HPR) ke daerah tersebut dan rencana
kesiagaan darurat penyakit (disease emergency preparedness plan). Bagi
daerah endemik rabies, dilaksanakan vaksinasi HPR secara rutin mencakup
seluruh populasi HPR dan eliminasi/depopulasi HPR liar dan yang tidak
berpemilik.
Kebijakan pengendalian dan pemberantasan avian influenza (AI)
dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk juga perwilayahan. Bagi daerah
bebas AI, dilaksanakan pengawasan ketat pemasukan unggas dan limbah
peternakan unggas ke daerah tersebut. Bagi daerah endemik AI, dilaksanakan
biosekuriti, vaksinasi unggas secara reguler mencakup seluruh populasi unggas
rentan, dan depopulasi (pemusnahan unggas sekandang dengan yang tertular).
Sedangkan bagi daerah tertular baru, dilaksanakan stamping-out peternakan
tertular dengan radius 1 km.
Kebijakan pengendalian dan pemberantasan brucellosis didasarkan
kepada tingkat prevalensi penyakit suatu wilayah. Bagi daerah dengan
prevalensi kurang dari 2% dilaksanakan metoda test and slaughter atau
pemotongan ternak reaktor (hasil uji positif CFT) dengan pemberian
kompensasi. Bagi daerah dengan prevalensi diatas 2% dilaksanakan vaksinasi
semua populasi sapi dan kerbau. Pengawasan lalu lintas ternak dengan
persyaratan uji negatif CFT yang dilaksanakan pertama kali di lokasi asal dan
kedua kali di lokasi penerima dengan masa berlaku 1 (satu) tahun.
Kebijakan pengendalian salmonellosis didasarkan kepada pelaksanaan uji
pullorum dan enteritidis, terutama wajib pada perusahaan pembibitan unggas
dan peternakan ayam ras petelur (layer). Operasional pengujian dilakukan
bekerjasama dengan negara mitra dagang (seperti Singapura) terutama dalam
pelaksanaan uji pullorum dan enteritidis pada peternakan ekspor (export farm)
dalam rangka akreditasi dan sertifikasi bebas salmonellosis.

33

Kebijakan pencegahan BSE dilakukan dengan berbagai macam cara
terutama untuk tetap mempertahankan status Indonesia bebas BSE berdasarkan
Keputusan Menteri Pertanian Nomor 367/Kpts/TN.530/12/2002 tentang
Pernyataan Negara Indonesia Bebas BSE. Sejumlah ketentuan ditetapkan untuk
mencegah penyakit eksotik ini muncul di Indonesia seperti kebijakan
pembatasan impor dari negara yang tertular BSE berdasarkan Keputusan
Menteri Pertanian Nomor 445/Kpts/TN.540/7/2002 tentang Pelarangan
Pemasukan Ternak Ruminansia dan Produknya dari Negara Tertular Penyakit
BSE (sedang direvisi mengikuti standar OIE yang baru).
Kebijakan pelarangan penggunaan tepung daging, tepung tulang, tepung
darah, tepung tulang dan daging dan bahan lainnya asal ruminansia sebagai
pakan ternak ruminansia berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor
471/Kpts/TN.530/7/2002. Untuk membuat langkah guna mengantisipasi
masuknya penyakit ini, maka dilakukan sosialisasi dan distribusi informasi
kesiagaan darurat penyakit dan penerapan analisa risiko BSE terhadap setiap
aplikasi impor hewan dan produk hewan terutama dari negara-negara tertular
BSE.
Hal ini masih ditambah dengan penetapan kewajiban laporan setiap 3
(tiga) bulan bagi perusahaan pakan tentang realisasi pemasukan dan
distribusi/penggunaan bahan baku pakan asal hewan ruminansia. Disamping itu
ditetapkan pula penetapan kewajiban bagi perusahaan pakan untuk setiap tahun
membuat surat pernyataan tentang tanggung jawab.

Agenda Kedepan
Untuk memberdayakan pemerintah dan masyarakat Indonesia dalam
mengantisipasi munculnya emerging dan re-emerging zoonoses, maka perlu
ditetapkan sejumlah agenda ke depan untuk memperkuat kapasitas dan strategi
kemitraan antara pemerintah dan swasta. Strategi tersebut antara lain dengan
melakukan penelitian terintegrasi yang lebih intensif antara kesehatan manusia
dan kesehatan hewan, pendirian pusat penelitian penyakit zoonosis, surveilans
yang terstruktur pada hewan domestik, satwa liar, dan manusia, pembentukan
tim respon kesehatan dan kesehatan hewan, pembangunan infrastruktur,
34

pembangunan tenaga kerja, dan peningkatan koordinasi dan penguatan fokus
bagi kelembagaan yang terkait dengan penanganan masalah penyakit zoonosis.






























35

DAFTAR PUSTAKA

Sudoyo, A. W. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3 Edisi 4 . Jakarta.
Interna Publishing.
Widoyono. 2011. Penyakit Tropis. Jakarta. Erlangga.
Soedarmo, S. 2010. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Infeksi dan Penyakit Tropis.
Jakarta. Balai Penerbit FKUI.
Behrman, Kliegman, Arvin. 1996. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. EGC.
(WHO 2012) Zoonosis dan kesehatan masyarakat veteriner (VPH)
http://www.who.int/zoonoses/en/
(WHO 2012) Varian Creutzfeldt-Jakob
http://www.who.int/zoonoses/diseases/variantcjd/en/index.html
(WHO 2012) Bovine spongiform encephalopathy (BSE)
http://www.who.int/zoonoses/diseases/bse/en/index.html