Anda di halaman 1dari 19

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi ISPA
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut. Istilah ini
diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI).
Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut.
5
Infeksi
adalah masuk dan berkembangbiaknya agent infeksi pada jaringan tubuh manusia
yang berakibat terjadinya kerusakan sel atau jaringan yang patologis.
16
Saluran
pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya
seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Infeksi akut adalah infeksi
yang berlangsung sampai dengan 14 hari.
Dengan demikian ISPA adalah infeksi saluran pernafasan yang dapat
berlangsung sampai 14 hari, dimana secara klinis tanda dan gejala akut akibat infeksi
terjadi di setiap bagian saluran pernafasan tidak lebih dari 14 hari.
5
Menurut Alsagaff dkk, ISPA adalah radang akut saluran pernafasan atas
maupun bawah yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus maupun riketsia, tanpa
atau disertai radang parenkim paru.
17

2.2. Klasifikasi ISPA
18
2.2.1. Klasifikasi Berdasarkan Lokasi Anatomi
a. Infeksi Saluran Pernafasan atas Akut (ISPaA)
Infeksi yang menyerang hidung sampai bagian faring, seperti pilek, sinusitis,
otitis media (infeksi pada telinga tengah), dan faringitis (infeksi pada tenggorokan).
Universitas Sumatera Utara
b. Infeksi Saluran Pernafasan bawah Akut (ISPbA)
Infeksi yang menyerang mulai dari bagian epiglotis atau laring sampai dengan
alveoli, dinamakan sesuai dengan organ saluran nafas, seperti epiglotitis, laringitis,
laringotrakeitis, bronkitis, bronkiolitis, dan pneumonia.

Gambar 2.2.1. Anatomi Saluran Pernafasan Berdasarkan Lokasi Anatomi
18

2.2.2. Klasifikasi ISPA Pada Batita
19
a. Pneumonia sangat berat: batuk atau kesulitan bernafas yang disertai dengan
sianosis sentral, tidak dapat minum, adanya penarikan dinding dada, anak kejang
dan sulit dibangunkan.
b. Pneumonia berat: batuk atau kesulitan bernafas dan penarikan dinding dada, tetapi
tidak disertai sianosis sentral dan dapat minum.
Universitas Sumatera Utara
c. Pneumonia: batuk (atau kesulitan bernafas) dan pernafasan cepat tanpa penarikan
dinding dada. Pernafasan cepat adalah 40 kali per menit atau lebih pada usia 12
bulan hingga 5 tahun.
d. Bukan pneumonia (batuk pilek biasa): batuk (atau kesulitan bernafas) tanpa
pernafasan cepat atau penarikan dinding dada.

2.3. Etiologi ISPA
Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri
penyebab ISPA misalnya dari genus Streptococcus, Haemophylus, Stafilococcus,
Pneumococcus, Bordetella, dan Corynebakterium.
5
Virus penyebab ISPA antara lain grup Mixovirus (virus influenza,
parainfluenza, respiratory syncytial virus), Enterovirus (Coxsackie virus, echovirus),
Adenovirus, Rhinovirus, Herpesvirus, Sitomegalovirus, virus Epstein-Barr.
Jamur penyebab ISPA antara lain Aspergillus sp, Candidia albicans,
Blastomyces dermatitidis, Histoplasma capsulatum, Coccidioides immitis,
Cryptococcus neoformans.
20
Selain itu juga ISPA dapat disebabkan oleh karena inspirasi asap kendaraan
bermotor, Bahan Bakar Minyak/BBM biasanya minyak tanah dan, cairan amonium
pada saat lahir.
21




Universitas Sumatera Utara
2.4. Gejala ISPA
19
Penyakit ISPA pada anak dapat menimbulkan bermacam-macam tanda dan
gejala seperti batuk, kesulitan bernafas, sakit tenggorokan, pilek, sakit telinga dan
demam.

2.4.1. Gejala dari ISPA Ringan
Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu
atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:
a. Batuk
b. Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misalnya pada
waktu berbicara atau menangis)
c. Pilek, yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung
d. Panas atau demam, suhu badan lebih dari 37
0
C
2.4.2. Gejala dari ISPA Sedang
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala dari
ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:
a. Pernafasan cepat (fast breathing) sesuai umur yaitu : untuk kelompok umur
kurang dari 2 bulan frekuensi nafas 60 kali per menit atau lebih dan kelompok
umur 2 bulan - <5 tahun : frekuensi nafas 50 kali atau lebih untuk umur 2 - <12
bulan dan 40 kali per menit atau lebih pada umur 12 bulan - <5 tahun
b. Suhu lebih dari 39
0
C (diukur dengan termometer)
c. Tenggorokan berwarna merah
d. Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak
e. Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga
Universitas Sumatera Utara
f. Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur)
2.4.3 Gejala dari ISPA Berat
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejala-gejala
ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:
a. Bibir atau kulit membiru
b. Anak tidak sadar atau kesadaran menurun
c. Pernafasan berbunyi seperti orang mengorok dan anak tampak gelisah
d. Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernafas
e. Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba
f. Tenggorokan berwarna merah

2.5. Cara Penularan Penyakit ISPA
5,22

Penularan penyakit ISPA dapat terjadi melalui udara yang telah tercemar,
bibit penyakit masuk kedalam tubuh melalui pernafasan, oleh karena itu maka
penyakit ISPA ini termasuk golongan Air Borne Disease.
Penularan melalui udara dimaksudkan adalah cara penularan yang terjadi
tanpa kontak dengan penderita maupun dengan benda terkontaminasi. Sebagian besar
penularan melalui udara dapat pula menular melalui kontak langsung, namun tidak
jarang penyakit yang sebagian besar penularannya adalah karena menghisap udara
yang mengandung unsur penyebab atau mikroorganisme penyebab.
Adanya bibit penyakit di udara umumnya berbentuk aerosol yakni suatu
suspensi yang melayang di udara, dapat seluruhnya berupa bibit penyakit atau hanya
Universitas Sumatera Utara
sebagian daripadanya. Adapun bentuk aerosol dari penyebab penyakit tersebut ada
dua, yakni droplet nuclei dan dust.
Droplet nuclei adalah partikel yang sangat kecil sebagai sisa droplet yang
mengering. Pembentukannya dapat melalui berbagai cara, antara lain dengan melalui
evaporasi droplet yang dibatukkan atau yang dibersinkan ke udara. Droplet nuclei
juga dapat terbentuk dari aerolisasi materi-materi penyebab infeksi di dalam
laboratorium. Karena ukurannya yang sangat kecil, bentuk ini dapat tetap berada di
udara untuk waktu yang cukup lama dan dapat diisap pada waktu bernafas dan masuk
ke alat pernafasan.
Dust adalah bentuk partikel dengan berbagai ukuran sebagai hasil dari
resuspensi partikel yang menempel di lantai, di tempat tidur serta yang tertiup angin
bersama debu lantai/tanah.

2.6. Epidemiologi Penyakit ISPA
Epidemiologi penyakit ISPA yaitu mempelajari frekuensi, distribusi penyakit
ISPA serta faktor-faktor (determinan) yang mempengaruhinya.
2.6.1. Distribusi dan Frekuensi Penyakit ISPA
ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak-anak. Daya tahan
tubuh anak berbeda dengan orang dewasa karena sistem pertahanan tubuhnya belum
kuat. Apabila di dalam satu rumah seluruh anggota keluarga terkena pilek, anak-anak
akan lebih mudah tertular. Dengan kondisi tubuh anak yang masih lemah, proses
penyebaran penyakit pun menjadi lebih cepat.
18
Dalam setahun seorang anak rata-rata
bisa mengalami 3 - 6 kali penyakit ISPA.
11
Universitas Sumatera Utara
Di Indonesia, ISPA menempati urutan pertama penyebeb kematian pada
kelompok bayi dan balita. Berdasarkan data Survei Kesehatan Nasional 2001
menunjukkan bahwa proporsi ISPA sebagai penyebab kematian bayi adalah 27,6%
sedangkan proporsi ISPA sebagai penyebab kematian anak balita 22,8%.
23

Hasil survei Program P2 ISPA di 12 propinsi di Indonesia (Sumatera Utara,
Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan,
Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Nusa
Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat) pada tahun 1993 diketahui bahwa jumlah
angka kesakitan tertinggi karena ISPA, yaitu 2,9 per 1000 balita. Selama kurun waktu
2000-2002, jumlah kasus ISPA terlihat berflutuasi. Pada tahun 2000 terdapat 479.283
kasus (30,1%), tahun 2001 menjadi 620.147 kasus (22,6%) dan pada tahun 2002
menjadi 532.742 kasus (22,1%).
24
2.6.2. Determinan Penyakit ISPA
a. Faktor Agent (Bibit Penyakit)
Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia.
5
ISPA
juga dapat disebabkan oleh karena jamur
19
dan inspirasi asap kendaraan bermotor,
Bahan Bakar Minyak/BBM biasanya minyak tanah, dan cairan amonium pada saat
lahir.
21

b. Faktor Host (Pejamu)
b.1. Umur
Umur mempunyai pengaruh yang cukup besar untuk terjadinya ISPA. Oleh
sebab itu kejadian ISPA pada bayi dan anak balita akan lebih tinggi jika
dibandingkan dengan orang dewasa. Kejadian ISPA pada bayi dan balita akan
Universitas Sumatera Utara
memberikan gambaran klinik yang lebih besar dan jelek, hal ini disebabkan karena
ISPA pada bayi dan balita umumnya merupakan kejadian infeksi pertama serta belum
terbentuknya secara optimal proses kekebalan secara alamiah. Sedangkan orang
dewasa sudah banyak terjadi kekebalan alamiah yang lebih optimal akibat
pengalaman infeksi yang terjadi sebelumnya.
17
Data SKRT tahun 1991 sampai 2002 menunjukkan kelompok umur dengan
prevalensi kematian ISPA tertinggi di Indonesia ada pada kelompok umur bayi dan
balita yaitu tahun 1991 umur 12 - 23 bulan (9,8%), tahun 1994 umur 6 - 35 bulan
(10%), tahun 1997 umur 6 - 11 bulan (10%), tahun 2002 umur 6 - 23 tahun (8%).
23

Berdasarkan hasil penelitian Mairusnita pada balita yang Berobat ke Badan
Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah (BPKRSUD) Kota Langsa Tahun
2006, didapatkan bahwa proporsi balita penderita ISPA terbesar pada kelompok umur
2 - 59 bulan yaitu 86,4% sementara kelompok umur dibawah 2 bulan yaitu 13,6%.
25
b.2. Jenis Kelamin
Berdasarkan Pedoman Rencana Kerja Jangka Menengah Nasional
Penanggulangan Pneumonia Balita Tahun 2005 - 2009 menunjukkan bahwa anak
laki-laki memiliki risiko lebih tinggi daripada anak perempuan untuk terkena ISPA.
26
Berdasarkan hasil penelitian Taisir di Kabupaten Aceh Selatan tahun 2005,
menunjukkan bahwa proporsi ISPA berdasarkan jenis kelamin pada balita laki-laki
(43,3%) lebih tinggi dari pada proporsi ISPA pada balita perempuan (33,7%), tetapi
secara statistik, tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan
kejadian ISPA pada balita di kelurahan Lhok Bengkuang.
27

Universitas Sumatera Utara
b.3. Status Gizi
Keadaan gizi yang buruk muncul sebagai faktor risiko yang penting untuk
terjadinya ISPA. Beberapa penelitian telah membuktikan tentang adanya hubungan
antara gizi buruk dan infeksi paru, sehingga anak-anak yang bergizi buruk sering
mendapat pneumonia.
Batita dengan gizi kurang akan lebih mudah terserang ISPA dibandingkan
dengan balita dengan gizi normal karena faktor daya tahan tubuh yang kurang. Dalam
keadaan gizi yang baik, tubuh mempunyai cukup kemampuan untuk mempertahankan
diri terhadap infeksi. J ika keadaan gizi menjadi buruk maka reaksi kekebalan tubuh
akan menurun yang berarti kemampuan tubuh mempertahankan diri terhadap
serangan infeksi menjadi menurun. Penyakit infeksi sendiri akan menyebabkan balita
tidak mempunyai nafsu makan dan mengakibatkan kekurangan gizi. Pada keadaan
gizi kurang, balita lebih mudah terserang ISPA lebih berat bahkan serangannya lebih
lama.
28

Hasil penelitian Sirait di Kelurahan Mangga Kecamatan Medan Tuntungan
tahun 2010 dengan desain cross sectional menunjukkan bahwa ada hubungan antara
status gizi dengan kejadian ISPaA pada anak balita dengan nilai p = 0,017. Hasil
Ratio Prevalens kejadian ISPaA pada anak balita dengan status gizi kurang dibanding
dengan anak balita dengan ststus gizi baik adalah 1,438 (95% CI: 1,134-1,827).
Artinya balita yang mempunyai status gizi kurang merupakan faktor risiko terjadinya
ISPaA.
29


Universitas Sumatera Utara
b.4. Berat Bayi Lahir
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) ditetapkan sebagai suatu berat lahir yang
kurang 2.500 gram.
30
Berat bayi lahir menentukan pertumbuhan dan perkembangan
fisik dan mental pada masa balita. Bayi dengan berat lahir rendah (BBLR)
mempunyai risiko kematian yang lebih besar dibandingkan dengan bayi berat lahir
normal, terutama pada bulan-bulan pertama kelahiran karena pembentukan zat anti
kekebalan kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi, terutama
pneumonia dan sakit saluran pernafasan lainnya.
28
Bayi dengan BBLR sering mengalami gangguan pernafasan. Hal ini
disebabkan oleh pertumbuhan dan pengembangan paru yang belum sempurna dan
otot pernafasan yang masih lemah.
30

Berdasarkan hasil penelitian Sadono, dkk di Kabupaten Blora Provinsi Jawa
Tengah tahun 2005 menunjukkan proporsi bayi BBLR yang mengalami ISPA
(64,3%) lebih tinggi dari pada proporsi BBLR yang tidak mengalami ISPA (35,7%).
Hasil statistik diperoleh bahwa ada hubungan yang bermakna antara kejadian ISPA
dengan BBLR dengan nilai p = 0,009. Hasil Ratio Prevalens kejadian ISPA pada
BBLR dibanding dengan BBLN adalah 2,5 (95% CI: 1,238-5,012). Artinya BBLR
merupakan faktor risiko terjadinya ISPA.
31
b.5. Status ASI Eksklusif
Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan bayi yang paling sempurna, bersih
dan sehat serta praktis karena mudah diberikan setiap saat. ASI dapat mencukupi
kebutuhan gizi bayi untuk tumbuh kembang dengan normal sampai berusia 6 bulan.
Universitas Sumatera Utara
ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja kepada bayi sampai umur 6 bulan tanpa
mamberikan makanan/cairan lain.
32
Pada waktu lahir sampai berusia beberapa bulan bayi belum dapat membentuk
kekebalan sendiri secara sempurna. ASI mampu memberikan perlindungan terhadap
infeksi dan alergi serta merangsang perkembangan sistem kekebalan bayi itu sendiri.
Dengan adanya zat anti infeksi pada ASI maka bayi dengan ASI eksklusif akan
terlindungi dari berbagai macam infeksi, baik yang disebabkan oleh bakteri, virus,
jamur atau parasit.
33
Keunggulan lainnya, ASI mengandung gizi yang cukup lengkap dan
komposisinya disesuaikan dengan sistem pencernaan bayi sehingga zat gizi cepat
terserap. Berbeda dengan susu formula atau makanan tambahan yang diberikan secara
dini pada bayi. Susu formula sangat susah diserap usus bayi sehingga dapat
menyebabkan susah buang air besar pada bayi. Proses pembuatan susu formula yang
tidak steril menyebabkan bayi rentan terkena diare. Hal ini akan menjadi pemicu
terjadinya kurang gizi pada anak dan akibat dari kurang gizi anak lebih mudah
terserang penyakit infeksi.
32
Hasil penelitian Harianja di Kelurahan Kemenangan Tani Kecamatan Medan
Tuntungan tahun 2010 dengan desain cross sectional menunjukkan ada hubungan
antara status ASI Eksklusif dengan kejadian ISPaA pada anak balita dengan nilai
p = 0,000. Hasil Ratio Prevalens kejadian ISPaA pada anak balita yang tidak
mendapatkan ASI Eksklusif dibanding dengan anak balita yang mendapatkan ASI
Eksklusif adalah 2,698 (95% CI: 1,328-5,478). Artinya tidak mendapatkan ASI
Eksklusif merupakan faktor risiko terjadinya ISPaA.
34
Universitas Sumatera Utara
b.6. Status Imunisasi
Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Anak yang
diimunisasi berarti diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Dalam
imunologi, kuman atau racun kuman (toksin) disebut antigen. Imunisasi merupakan
upaya pemberian kekebalan tubuh yang terbentuk melalui vaksinasi.
Imunisasi bermafaat untuk mencegah beberapa jenis penyakit infeksi seperti
polio, TBC, difteri, pertusis, tetanus dan hepatitis B. Bahkan imunisasi juga dapat
mencegah kematian dari akibat penyakit-penyakit tersebut. Sebagian besar kasus
ISPA merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, penyakit yang
tergolong ISPA yang dapat dicegah dengan imunisasi adalah difteri dan batuk rejan.
35
Sebagian besar kematian ISPA berasal dari jenis ISPA yang berkembang dari
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti difteri, pertusis dan campak,
maka peningkatan cakupan imunisasi akan berperan dalam upaya pemberantasan
ISPA. Untuk mengurangi faktor yang meningkatkan mortalitas ISPA, diupayakan
imunisasi lengkap. Cara yang terbukti paling efektif saat ini adalah dengan pemberian
imunisasi Campak dan DPT.
28
Hasil penelitian Sadono, dkk di Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah tahun
2005 dengan desain cross sectional diperoleh bahwa ada hubungan yang bermakna
antara status imunisasi dengan kejadian ISPA pada bayi dengan nilai p = 0,027 dan
Ratio Prevalens 1,8 (95% CI: 1,068-3,168). Artinya bayi dengan status imunisasi
tidak lengkap merupakan faktor risiko terjadinya ISPA.
31


Universitas Sumatera Utara
c. Faktor Lingkungan (Environment)
c.1. Ventilasi
Faktor lingkungan rumah seperti ventilasi juga berperan dalam penularan
ISPA, dimana ventilasi dapat memelihara kondisi udara yang sehat bagi manusia.
5

Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah menjaga
agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan
oksigen yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya
ventilasi akan menyebabkan kurangnya oksigen di dalam rumah yang berarti kadar
karbon dioksida yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat.
36
Sirkulasi
udara dalam rumah akan baik dan mendapatkan suhu yang optimum harus
mempunyai ventilasi minimal 10% dari luas lantai.
37

Berdasarkan hasil penelitian Sulistyowati di Kabupaten Trenggalek tahun
2010 didapatkan bahwa proporsi anak balita penderita pneumonia yang memiliki
ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan sebesar 57,8%. Hasil uji
statistik diperoleh bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian
pneumonia dengan ventilasi (p = 0,042). Nilai OR 1,9 (95% CI: 1,0-3,4), artinya
anak balita kemungkinan menderita pneumonia 1,9 kali pada balita yang memiliki
ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan.
38
c.2. Kepadatan Hunian Ruang Tidur
Berdasarkan KepMenkes RI No. 829 tahun 1999 tentang kesehatan
perumahan menetapkan bahwa luas ruang tidur minimal 8 m
2
dan tidak dianjurkan
digunakan lebih dari dua orang tidur, kecuali anak dibawah umur 5 tahun.
37

Bangunan yang sempit dan tidak sesuai dengan jumlah penghuninya akan
Universitas Sumatera Utara
mempunyai dampak kurangnya oksigen didalam ruangan sehingga daya tahan
penghuninya menurun, kemudian cepat timbulnya penyakit saluran pernafasan seperti
ISPA.
39
Kepadatan di dalam kamar terutama kamar balita yang tidak sesuai dengan
standar akan meningkatkan suhu ruangan yang disebabkan oleh pengeluaran panas
badan yang akan meningkatkan kelembaban akibat uap air dari pemanasan tersebut.
Dengan demikian, semakin banyak jumlah penghuni ruangan tidur maka semakin
cepat udara ruangan mengalami pencemaran gas atau bakteri. Dengan banyaknya
penghuni, maka kadar oksigen dalam ruangan menurun dan diikuti oleh peningkatan
karbon dioksida dan dampak peningkatan karbon dioksida dalam ruangan adalah
penurunan kualitas udara dalam ruangan.
37
Hasil penelitian Gulo di Kelurahan Ilir Gunung Sitoli Kabupaten Nias tahun
2009 menunjukkan proporsi balita yang tinggal di rumah yang kepadatan hunian
rumahnya tergolong padat menderita ISPA sebesar 88,9%. Hasil uji statistik
diperoleh bahwa ada hubungan yang bermakna antara kapadatan hunian rumah
dengan kejadian ISPA pada balita dengan nilai p = 0,037. Nilai Ratio Prevalens
kejadian ISPA pada balita yang tinggal di rumah yang kepadatan hunian rumahnya
tergolong padat dibanding dengan balita yang tinggal di rumah yang kepadatan
hunian rumahnya tergolong tidak padat adalah 1,189. Artinya hunian rumah yang
tergolong padat merupakan faktor risiko terjadinya ISPA.
40
c.3. Pemakaian Anti Nyamuk
Penggunaan anti nyamuk sebagai alat untuk menghindari gigitan nyamuk
dapat menurunkan kualitas udara dalam ruangan sehingga menyebabkan gangguan
Universitas Sumatera Utara
saluran pernafasan karena menghasilkan asap dan bau tidak sedap. Adanya
pencemaran udara di lingkungan rumah akan merusak mekanisme pertahanan paru-
paru sehingga mempermudah timbulnya gangguan pernafasan.
41
Berdasarkan hasil penelitian Naria, dkk di wilayah kerja Puskesmas
Tuntungan tahun 2008 menunjukkan proporsi balita yang menggunakan obat nyamuk
menderita ISPA sebanyak 48 orang (73,8%) sedangakan balita yang tidak menderita
ISPA sebanyak 17 orang (27,2%). Hasil uji Chi Square diperoleh bahwa ada
hubungan yang bermakna antara penggunaan obat nyamuk dengan kejadian ISPA
pada balita dengan nilai p = 0,010. Hasil Ratio Prevalens kejadian ISPA pada balita
yang menggunakan obat nyamuk dibanding dengan balita yang tidak menggunakan
obat nyamuk adalah 1,8. Artinya penggunaan obat nyamuk merupakan faktor risiko
terjadinya ISPA.
42
c.4. Keberadaan Perokok
Paparan asap rokok merupakan penyebab signifikan masalah kesehatan
seperti pernafasan akut infeksi (ISPA) pada anak.
43
Satu batang rokok dibakar maka
akan mengeluarkan sekitar 4000 bahan kimia seperti nikotin, gas carbon monoksida,
nitrogen oksida, hidrogen cianida, amonia, acrolein, acetilen, benzoldehide,
urethane, methanol, conmarin, 4-ethyl cathecol, ortcresor peryline dan lainnya.
5
Hasil penelitian Harianja di Kelurahan Kemenangan Tani Kecamatan Medan
Tuntungan tahun 2010 dengan desain cross sectional menunjukkan ada hubungan
antara keberadaan anggota keluarga yang merokok dengan kejadian ISPaA pada anak
balita dengan nilai p = 0,001. Hasil Ratio Prevalens kejadian ISPaA pada anak balita
yang memiliki anggota keluarga perokok dibanding dengan anak balita yang tidak
Universitas Sumatera Utara
memiliki anggota keluarga perokok adalah 3,211 (95% CI: 1,154-8,932). Artinya
keberadaan anggota keluarga perokok merupakan faktor risiko terjadinya ISPaA.
34
Berdasarkan hasil penelitian Mukono di Puskesmas Pati I tahun 2006 dengan
desain case control, berdasarkan analisis bivariat hubungan keberadaan anggota
keluarga yang merokok dengan kejadian ISPA pada balita diperoleh nilai p = 0,000
dan OR 4,63 (95% CI: 2,04-10,52). Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara
keberadaan anggota keluarga yang merokok dengan kejadian ISPA pada balita. OR
4,63 artinya anak balita yang tinggal di rumah dengan anggota keluarga yang
merokok kemungkinan untuk menderita ISPA 4,65 kali dibandingkan balita yang
tinggal di rumah dengan anggota keluarga yang tidak merokok.
44
c.5. Bahan Bakar Untuk Memasak
Pencemaran udara di dalam rumah banyak terjadi di negara-negara
berkembang. Diperkirakan setengah dari rumah tangga di dunia memasak dengan
bahan bakar yang belum diproses seperti kayu, sisa tanaman dan batubara sehingga
akan melepaskan emisi sisa pembakaran di dalam ruangan tersebut.
44
Pembakaran
pada kegiatan rumah tangga dapat menghasilkan bahan pencemar antara lain asap,
debu, grid (pasir halus) dan gas (CO dan NO).
5
Tingkat polusi yang dihasilkan bahan bakar menggunakan kayu jauh lebih
tinggi dibandingkan bahan bakar menggunakan gas. Sejumlah penelitian
menunjukkan paparan polusi dalam ruangan meningkatkan risiko kejadian ISPA pada
anak-anak.
45
Berdasarkan hasil penelitian Naria, dkk di wilayah kerja Puskesmas
Tuntungan tahun 2008 menunjukkan proporsi balita yang tinggal di rumah yang
Universitas Sumatera Utara
menggunakan bahan bakar kayu menderita ISPA sebanyak 39 orang (81,25%),
sedangkan yang tidak menderita ISPA sebanyak 9 orang (19,75%). Hasil uji Chi
Square diperoleh bahwa ada hubungan yang bermakna antara bahan bakar dengan
kejadian ISPA pada balita dengan nilai p = 0,001. Nilai Ratio Prevalens kejadian
ISPA pada balita yang menggunakan bahan bakar kayu dibanding dengan balita yang
menggunakan bahan bakar minyak/gas adalah 1,715. Artinya penggunaan bahan
bakar kayu merupakan faktor risiko terjadinya ISPA.
42

2.7. Pencegahan Penyakit ISPA
2.7.1. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)
Ditujukan pada orang sehat dengan usaha peningkatan derajat kesehatan (health
promotion) dan pencegahan khusus (specific protection) terhadap penyakit tertentu.
22
Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan dalam pencegahan primer yaitu:


a. Penyuluhan, dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan ini diharapkan
dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal-hal yang dapat
meningkatkan faktor risiko penyakit ISPA. Kegiatan penyuluhan ini dapat
berupa penyuluhan penyakit ISPA, penyuluhan ASI Eksklusif, penyuluhan
imunisasi, penyuluhan gizi seimbang pada ibu dan anak, penyuluhan kesehatan
lingkungan rumah, penyuluhan bahaya rokok.
b. Imunisasi, yang merupakan strategi spesifik untuk dapat mengurangi angka
kesakitan (insiden) pneumonia.
c. Usaha di bidang gizi yaitu untuk mengurangi malnutrisi, defisiensi vitamin A.
d. Program KIA yang menangani kesehatan ibu dan bayi berat lahir rendah.
Universitas Sumatera Utara
e. Program Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP) yang menangani masalah
polusi di dalam maupun di luar rumah.
45

2.7.2. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)
Upaya penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya pengobatan sedini
mungkin. Upaya pengobatan yang dilakukan untuk kelompok umur 2 bulan - <5
tahun dibedakan atas klasifikasi ISPA yaitu :
a. Pneumonia Sangat Berat: rawat di rumah sakit, berikan oksigen, terapi antibiotik
dengan memberikan kloramfenikol secara intramuskular setiap 6 jam. Apabila
pada anak terjadi perbaikan (biasanya setelah 3 - 5 hari), pemberiannya diubah
menjadi kloramfenikol oral, obati demam, obati mengi, perawatan suportif, hati-
hati dengan pemberian terapi cairan, nilai ulang dua kali sehari.
b. Pneumonia Berat: rawat di rumah sakit, berikan oksigen, terapi antibiotik dengan
memberikan benzilpenesilin secara intramuskular setiap 6 jam paling sedikit
selama 3 hari, obati demam, obati mengi, perawatan suportif, hati-hati pada
pemberian terapi cairan, nilai ulang setiap hari.
c. Pneumonia: obati di rumah, terapi antibiotik dengan memberikan kotrimoksasol,
ampisilin, amoksilin oral, atau suntikan penisilin prokain intramuskular per hari,
nasihati ibu untuk memberikan perawatan di rumah, obati demam, obati mengi,
nilai ulang setelah 2 hari.
d. Bukan Pneumonia (batuk atau pilek): obati di rumah, terapi antibiotik sebaiknya
tidak diberikan, terapi spesifik lain (untuk batuk dan pilek), obati demam,
nasihati ibu untuk memberikan perawatan di rumah.
Universitas Sumatera Utara
e. Pneumonia Persisten: rawat (tetap opname), terapi antibiotik dengan memberikan
kotrimoksasol dosis tinggi untuk mengobati kemungkinan adanya infeksi
pneumokistik, perawatan suportif, penilaian ulang.
19
2.7.3. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)
Tingkat pencegahan ini ditujukan kepada balita penderita ISPA agar tidak
bertambah parah dan mengakibatkan kematian.
a. Pneumonia Sangat Berat: jika anak semakin memburuk setelah pemberian kloram
fenikol selama 48 jam, periksa adanya komplikasi dan ganti dengan kloksasilin
ditambah gentamisin jika diduga suatu pneumonia stafilokokus.
b. Pneumonia Berat: jika anak tidak membaik setelah pemberian benzilpenisilin
dalam 48 jam atau kondisinya memburuk setelah pemberian benzilpenisilin
kemudian periksa adanya komplikasi dan ganti dengan kloramfenikol. J ika anak
masih menunjukkan tanda pneumonia setelah 10 hari pengobatan antibiotik maka
cari penyebab pneumonia persistensi.
c. Pneumonia: Coba untuk melihat kembali anak setelah 2 hari dan periksa adanya
tanda-tanda perbaikan (pernafasan lebih lambat, demam berkurang, nafsu makan
membaik. Nilai kembali dan kemudian putuskan jika anak dapat minum, terdapat
penarikan dinding dada atau tanda penyakit sangat berat maka lakukan kegiatan
ini yaitu rawat, obati sebagai pneumonia berat atau pneumonia sangat berat. J ika
anak tidak membaik sama sekali tetapi tidak terdapat tanda pneumonia berat atau
tanda lain penyakit sangat berat, maka ganti antibiotik dan pantau secara ketat.
18



Universitas Sumatera Utara