Anda di halaman 1dari 9

1

A. Pendahuluan
Rukun haji ialah sesuatu yang harus dikerjakan, dan haji tidak sah tanpa
rukun tersebut. Rukun tidak dapat diganti dengan dam (denda), yaitu
meyembelih binatang. Wajib haji ialah sesuatu yang harus dikerjakan, dan haji
tetap sah bila wajib haji itu tidak dilaksanakan dan boleh diganti dengan dam
(menyembelih binatang).
Bagi setiap haji, baik haji tamattu, qiran, atau ifrad diwajibkan melempar
jumrah di Mina. Jumlah jumrah tersebut sebanyak sepuluh. Pertama pada hari
raya, yang dinamakan Jumratull Aqabah adalah amalan haji pertama yang
dilakukan di Mina pada tanggal 10 Dzulhijjah. Mengenai waktu melempar
jumrah aqabah terdapat perbedaan pendapat yaitu yang pertama melontar
Jumrah Sesudah Terbit Matahari dan yang kedua melontar Jumrah Sebelum
Terbit Fajar. Mengenai mabit (bermalam) di Mina tempat melontar jumrah ada
dua pendapat yaitu: pendapat Imam Malik, Imam Ibnu Hambali, dan Imam
Syafii, mabit di Mina pada hari-hari Tasyriq hukumnya wajib sedangkan
pendapat Imam Abu Hanafiyah dan pendapat lain dari Imam Syafii mabit di
Mina hukumnya sunat.

B. Pembahasan
Perkataan wajib dan rukun, biasanya mempunyai pengertian yang sama.
Namun dalam ibadah haji ada perbedaan pengertian. Rukun ialah sesuatu yang
harus dikerjakan dan haji tidak sah, tanpa rukun tersebut. Rukun tidak dapat
diganti dengan dam (denda), yaitu meyembelih binatang. Wajib ialah sesuatu
yang harus dikerjakan, dan haji tetap sah bila wajib haji itu tidak dilaksanakan
dan boleh diganti dengan dam (menyembelih binatang).1


1 M. Ali Hasan, Perbandingan Mazhab Fiqh, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2000,
hlm. 119
2

Melempar jumrah adalah salah satu wajib haji, yaitu melempar jumrah
aqabah dan melempar tiga jumrah.

1. Macam-Macam Jumroh
a. Melempar (Melontar) Jumrah Aqabah
Melempar jumrah aqabah dilaksanakan pada hari raya haji, 10 Dzulhijjah,
sebagaimana sabda Rasulullah:
Dari Jabir katanya: Saya melihat Nabi SAW, melempar jumrah dari atas
kendaraan beliau pada hari raya, lalu beliau bersabda: Hendaklah kamu turuti
cara ibadah sebagaimana yang saya kerjakan ini, karena sesungguhnya saya tidak
mengetahui, apakah saya akan dapat mengerjakan haji lagi sesudah (haji) ini.
(HR. Ahmad, Muslim dan Nasai).
Jumrah aqabah disebut juga dengan jumrah al-kubra. Kemudian mengenai
waktu melempar jumrah aqabah terdapat perbedaan pendapat.
1. Melontar Jumrah Sesudah Terbit Matahari
Imam Abu Hanifah, Malik, Sufyan, dan Imam Ahmad, berpendapat,
melontar jumrah aqabah dilaksanakan sesudah terbit matahari. Bahkan Imam
Malik menegaskan, bahwa ada orang yang melontar jumrah sebelum fajar, harus
mengulangi kembali.2 Hambali dan Imamiyah berpendapat tidak boleh melempar
jumrah aqabah sebelum terbit fajar tanpa ada udzur, ia harus mengulangi lagi.
Tetapi mereka boleh untuk mendahulukannya bila ada udzur, seperti tidak
mampu (kembali sakit dan takut).3
Mereka berpengangan kepada hadits Ibnu Abbbas, Rasulullah bersabda:
Janganlah kamu melontar jumrah sehingga terbit dahulu matahari. (HR.
Lima orang ahli hadits).

2 Ibid, hlm. 120
3 Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqh Lima Mazhab, Jakarta : PT Lentera Basritama, 2002,
hlm. 274
3

Telah ijma ulama, disunatkan melontar jumrah mulai dari terbit matahari
sampai zawal (lewat tengah hari). Sekiranya ada orang yang melontar jumrah
sebelum terbenam matahari, dianggap telah memadai. Namun Imam Malik
mengatakan disunatkan membayar dam (menyembelih kambing).
Sekiranya ada orang yang melontar jumrah sesudah malam hari, atau
keesokan harinya terdapat perbedaan pendapat:
a. Imam Malik mengatakan harus membayar dam.
b. Imam Abu Hanifah mengatakan, bila orang itu melontar jumrah pada malam
harinya, tidak usah membayar dam dan bila melontar jumrah pada keesokan
harinya harus membayar dam.
c. Imam Syafii, Abu Yusuf dan Muhammad (sahabat dan murid Abu Hanifah)
mengatakan, tidak usah membayar dam, walaupun melontar jumrah pada
malam harinya. Mereka beralasan, bahwa Nabi memberi kelonggaran
(rukhshah) bagi pengembala unta. Sekiranya ada kesulitan tentu dapat
dibenarkan.4
2. Melontar Jumrah Sebelum Terbit Fajar
Syafiiyah dan Hanabilah berpendapat,bahwa melontar jumrah sesudah
tengah malam menjelang hari raya dan lebih afdal sesudah terbit matahari.
Mereka beralasan, bahwa Nabi pernah menyuruh Ummu Salamah melontar
jumrah aqabah sebelum terbit fajar. Demikian juga Asma pernah melakukan
pelontaran jumrah aqabah sebelum terbit fajar.5
Imam Thabari mengatakan, Imam Syafii berpegang kepada hadits Ummu
Salamah dan Asma yang membolehkan melontar jumrah aqabah pada malam
hari menjelang hari raya, kemudian lasung ke Mekah untuk melakukan thawaf
ifadhah (rukun haji).6


4 M. Ali Hasan, Op.Cit, hlm. 121
5 Ibid.hlm, 121
6 Ibid, hlm. 121-122
4

b. Melempar Tiga Jumrah
Melempar tiga jumrah dilaksanakan setiap hari pada hari tasyriq (11, 12 dan
13 Dzulhijjah) sesudah zawal (tergelincir matahari), sebagaimana hadits Ibnu
Abbas.
Rasulullah melontar jumrah sesudah matahari tergelincir. (HR. Ahmad, Ibnu
Majah, dan Tirmidzi).
Dengan demikian tidak boleh melepar jumrah sebelum zawal. Sesudah
zawal dimulai melontar jumrah sampai menjelang matahari terbenam. Sekiranya
melontar pada malam harinya, mesti diqadha menurut Malikiyah, karena keluar
dari waktu yang ditetapkan. Sedangkan menurut Hanafiyah, bila melontar pada
malam harinya dan sebelum terbit fajar, dibolehkan dan tidak usah membayar
dam. Hanabilah berpendapat, tidak boleh melontar jumrah kecuali pada siang
hari sesudah zawal. Syafiiyah berpendapat, waktu melontar dimulai dari zawal
sampai terbenam matahari.7
Imamiyah juga berpendapat waktu melempar jumrah tersebut mulai dari
terbitnya matahari sampai terbenamnya. Kalau ia lupa ia harus melaksanakan
besoknya. Kalau lupa lagi, ia harus melaksanakannya pada hari kedua belas. Dan
kalaupun tidak ingat juga, maka ia harus melaksanakannya pada hari ketiga
belas. Dan apabila lupa selamanya sampai keluar dari Mekkah, maka ia harus
melaksanakannya pada tahun yang akan datang, baik dilakukannya sendiri, atau
diwakilkan pada orang lain.8
3. Cara Melontar Jumrah
a. Melontar jumrah yang dilakukan secara jama(jama takhir)
Adapun cara melontarnya adalah, jika seseorang tidak melontar pada
hari pertama, dapat dilakukan pada hari kedua atau ketiga. Caranya mulai dari
jumrah Ula, Wustha dan Aqabah secara sempurna sebagai lontaran untuk hari
pertama. kemudian mulai lagi dari jumrah Ula, Wustha dan Aqabah untuk

7 Ibid, hlm. 122-123
8 Muhammad Jawad Mughniyah, Op. Cit, hlm, 275
5

lontaran hari kedua. Demikian pula jika lontaran dijamak sampai hari ketiga. Jika
pada hari Nahar belum sempat melontar jumrah Aqabah, maka melontarnya
didahulukan sebelum melontar jumrah yang lain.
b. Tertunda melempar jumrah Aqabah
Waktu melontar jumrah aqabah pada tanggal 10 dzulhijah boleh diakhiri
sampai tengah malam hari atau keesokan harinya tanggal 11 dzulhijah. Batas
akhir melontar jumrah aqabah pada hari tasyri terakhir.9

2. Hukum Mabit (Bermalam) di Mina
Mengenai mabit (bermalam) di Mina tempat melontar jumrah ada dua
pendapat yaitu:
1. Pendapat Imam Malik, Imam Ibnu Hambali, dan Imam Syafii, mabit di
Mina pada hari-hari tasyriq hukumnya wajib, kecuali karena udzur syari.
Apabila sama sekali tidak mabit pada hari-hari tasyriq (11,12, dan 13 Dzulhijjah)
wajib membayar dam seekor kambing.
Apabila meninggalkan mabit satu malam maka wajib membayar fidyah 1
mud (3/4 liter beras atau semacamnya), dan apabila meninggalkan mabit 2
malam (bagi yang nafar sani), maka fidyahnya2 mud.
2. Pendapat Imam Abu Hanafiyah dan pendapat lain dari Imam Syafii
mabit di Mina hukumnya sunat. Apabila sama sekali tidak mabit di Mina pada
hari-hari tasyriq disunatkan membayar dam seekor kambing dan apabila hanya
sebagian saja maka di sunatkan membayar fidyah.10

3. Syarat-syarat Melempar Jumrah
Melempar beberapa jumrah mempunyai syarat-syarat sebagai berikut:
a. Niat, Imamiyah mengaharuskannya.

9 Prof. Dr. H.said agil husin al-munawar, MA dan drs. H. Abdul halim, Ma, Fikih Haji
Menuntun Jamaah Haji Mencapai Haji Mabrur, ciputat press: Jakarta selatan 2003.hlm.135-145
10 M. Ali Hasan, Op.Cit, hlm. 124-125
6

b. Lemparan itu harus dengan tujuh batu, secara sepakat.
c. Lemaparan itu harus dengan batu secara satu-satu. Dan tidak boleh dua-
dua, atau juga sekaligus, menurut sepakat semua ulama.
d. Batu yang dilempar itu harus sampai ke Jumrah, yakni mencapai
sasarannya, secara sepakat.
e. Sampainya batu harus dilakukan (dengan cara) dilempar. Maka tidak cukup
hanya dengan jatuh, menurut Imamiyah, Syafii. Tetapi menurut Hambali
dan Hanafi boleh.
f. Yang dilempar itu harus batu. Maka tidak cukup dengan garam, besi,
kuningan, bambu, dan tembikar, menurut semua ulama mazhab selain Abu
Hanifah. Ia berpendapat: Setiap sesuatu yang sejenis dari tanah dibolehkan,
baik tembikar, lumpur maupun batu.
g. Batu-batu yang dilempar itu adalah batu-batu yang belum pernah dipakai
untuk melempar, hal ini dijelaskan oleh Hambali, tetapi tidak disyaratkan
suci dalam melempar, namun bila suci itu lebih utama.11
Imamiyah, batu yang akan dilempar itu disunnahkan batu yang sebesar ujung
jari, dan warnanya adalah khirsy, tidak hitam, tidak putih, dan tidal merah.
Mazhab yang lain disunnahkan sebesar biji kacang.
Imamiyah, bagi orang yang haji disunnahkan untuk mengerjakan semua
perbuatan-perbuatan haji itu dengan menghadap kiblat, kecuali pada jumrah
aqabah pada hari raya. Disunnahkan pula batu bundar karena Nabi SAW
melempar dengan batu bundar. Mazhab lain, bahkan disunnahkan menghadap
kiblat dalam semua keadaan.12
Bila dalam nafar awal, kerikil nyang dilempar berjumlah 49 butir, maka
jumlah takbir yang dibaca sama dengan jumlah tersebut. Bagi nafar tsani yang
menghabiskan kerikil 70 butir, maka jumlah takbir yang dibaca pun
sama.mengenai teks takbir yang dibaca setidaknya ada tiga riwayat, yaitu:

11 Muhammad Jawad Mughniyah, Op. Cit, hlm. 275-276
12 Ibid. hlm. 276
7


Artinya : Allah Maha Besar, untuk kerelaan Ar-Rahman dan laknat serta
kutuk bagi syaitan


Artinya : Allah maha besar, ya allah jadikanlah haji ini haji yang mabrur
disertai pengampunan dosa.

Artinya : dengan nama Allah, Allah Maha Besar terkutuklah syaitan ridhalah
terhadap Ar- Rahman. Ya Allah jadikanlah haji kami haji yang mabrur dan Sai
yang diterima.13

C. Kesimpulan
Melempar jumrah adalah salah satu wajib haji, yaitu melempar jumrah
aqabah dan melempar tiga jumrah. Melempar jumrah aqabah dilaksanakan pada
hari raya haji, 10 Dzulhijjah. Kemudian mengenai waktu melempar jumrah
aqabah terdapat perbedaan pendapat. Melontar Jumrah Sesudah Terbit Matahari
: Imam Abu Hanifah, Malik, Sufyan, dan Imam Ahmad, berpendapat, melontar
jumrah aqabah dilaksanakan sesudah terbit matahari.Hambali dan Imamiyah
berpendapat tidak boleh melempar jumrah aqabah sebelum terbit fajar tanpa ada
udzur.
Melontar jumrah sesudah malam hari, atau keesokan harinya terdapat
perbedaan pendapat : Imam Malik mengatakan harus membayar dam, Imam
Abu Hanifah mengatakan, bila orang itu melontar jumrah pada malam harinya,
tidak usah membayar dam dan bila melontar jumrah pada keesokan harinya harus
membayar dam, Imam Syafii, Abu Yusuf dan Muhammad (sahabat dan murid
Abu Hanifah) mengatakan, tidak usah membayar dam.

13 M. Ali Hasan, Op.Cit, hlm.124
8

Melontar Jumrah Sebelum Terbit Fajar : Syafiiyah dan Hanabilah
berpendapat,bahwa melontar jumrah sesudah tengah malam menjelang hari raya
dan lebih afdal sesudah terbit matahari.
Melempar tiga jumrah dilaksanakan setiap hari pada hari tasyriq (11, 12 dan
13 Dzulhijjah) sesudah zawal (tergelincir matahari). Melontar pada malam
harinya, mesti diqadha menurut Malikiyah. Sedangkan menurut Hanafiyah, bila
melontar pada malam harinya dan sebelum terbit fajar dibolehkan. Hanabilah
berpendapat, tidak boleh melontar jumrah kecuali pada siang hari sesudah zawal.
Syafiiyah berpendapat, waktu melontar dimulai dari zawal sampai terbenam
matahari. Imamiyah juga berpendapat waktu melempar jumrah tersebut mulai
dari terbitnya matahari sampai terbenamnya.
Mengenai mabit di Mina tempat melontar jumrah ada dua pendapat yaitu:
Pendapat Imam Malik, Imam Ibnu Hambali, dan Imam Syafii, mabit di Mina
pada hari-hari tasyriq hukumnya wajib. Pendapat Imam Abu Hanafiyah dan
pendapat lain dari Imam Syafii mabit di Mina hukumnya sunat.
Melempar jumrah mempunyai syarat-syarat sebagai berikut: Niat, Imamiyah
mengaharuskannya, sampainya batu harus dilakukan (dengan cara) dilempar
menurut Imamiyah, Syafii. Tetapi menurut Hambali dan Hanafi boleh. Menurut
semua ulama mazhab selain Abu Hanifah. Ia berpendapat: Setiap sesuatu yang
sejenis dari tanah dibolehkan, baik tembikar, lumpur maupun batu. Batu-batu
yang dilempar belum pernah dipakai untuk melempar, hal ini dijelaskan oleh
Hambali.
Imamiyah, batu yang akan dilempar itu disunnahkan batu yang sebesar ujung
jari, dan warnanya adalah khirsy. Mazhab yang lain disunnahkan sebesar biji
kacang. Imamiyah, bagi orang yang haji disunnahkan untuk mengerjakan semua
perbuatan-perbuatan haji itu dengan menghadap kiblat.



9

DAFTAR PUSTAKA

Hasan, M, A, Perbandingan Mazhab Fiqh, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada,
2000.

Mughniyah, M, J, Fiqh Lima Mazhab, Jakarta : PT Lentera Basritama, 2002.

Prof. Dr. H.Said Agil Husin Al-Munawar, MA dan drs. H. Abdul Halim, Ma,
Fikih Haji Menuntun Jamaah Haji Mencapai Haji Mabrur, Jakarta :
Ciputat Press, 2003.