Anda di halaman 1dari 10

Ramadhan memang telah pergi, ramadhan telah berlalu karena sekarang kita berjumpa dengan

bulan syawal yang dimana tanggal 1 dan tanggal 2nya adalah hari kemenangan kita, hari raya
idul fitri.
Ramadhan adalah sebuah fenomena, betapa ramadhan begitu dicintai oleh segelintir orang dan
diinginkan setiap tahun adalah ramadhan saja, namun tidak sedikit banyak yang mengharapkan
ramadhan itu berlalu begitu cepat naudzubillah mindzalik
Sapakah orang-orang yang mengharapkan agar Ramadhan tidak cepat berlalu? tentu saja akhi
ukhti, orang-orang yang beriman yang sangat tahu betapa mulianya bulan ini, betapa banyaknya
nikmat, kebaikan dan karunia Allah yang disebarkan selama bulan puasa ini.
Sapakah orang-orang yang mengharapkan ramadhan cepat pergi? ya orang-orang yang
memaknai ramadhan cuman puasa dari makanan minuman saja dan merasa tersiksa karena harus
menahan untuk tidak makan dan minum selama siang hari..
Anda tergolong dari golongan yang mana? cuman anda yang bisa menjawabnya ....
Semangat ramadhan ini hendaknya harus tetap ada sekalipun ramadhan telah berlalu...
Ramadhan dan amaliyah-amaliyahnya harus tetap berlangsung secara rutin sekalipun ramadhan
mungkin telah jauh pergi..
Karena kita tidak tahu apakah akan masih bisa menjumpai ramadhan lagi tahun yang akan datang
atau tidak..wa allahu alam.

Hari ini kaum muslimin merayakan hari kemenangan yang fitri, hari kemenangan yang harus kita syukuri
dengan cara menjaga dan semakin memantapkan serta mengokohkan keimanan kita, bahwa janji Allah
untuk menolong dan memenangkan kaum muslimin adalah sebuah keniscayaan.
Diantara makna kemenangan yang bisa kita tangkap dari hari yang penuh kebahagiaan ini adalah
:
1. Kemenangan iman atas kekufuran
Kenapa keimanan itu pasti menang?karena, keimanan adalah kehidupan,sementara kekufuran
adalah sebuah kematian. Keimanan adalah kehidupan hati seorang yang mendapatkan pancaran
nur Robbani yang menerangi kehidupan, sehingga seorang muslim mengetahui tujuan hidupnya,
makna kehidupan, mengetahui halal dan haram, dan itu semuanya merupakan suatu dinamika
kehidupan yang memberikan energi yang besar dalam mengarungi hidup ini, sehingga dia bisa
kontinyu, produktif, dan selalu mempunyai energi yang besar untuk membangun masyarakat dan
negaranya. Berbeda dengan watak kekufuran yang selalu menyeret manusia kepada kehancuran,
tindakan anarkis, dan mandul dalam memproduksi kebaikan,
Wahai orang-orang yang berimana!Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia
menyerukan kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa
sesungguhnya Allah membatasi anatara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah
kamu akan dikumpulkanQS:8:24
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah
2. Kemenangan akhirat atas dunia
Pada dasarnya, islam adalah agama dunia dan akhirat tetapi lembaga shiyam (puasa) dimana
didalamnya kita di training oleh Allah untuk menjadi orang-orang yang bertakwa memberikan
pelajaran yang sangat berharga,bahwa akaum muslimin mampu atas izin Allah untuk
membangun obsesi dan cita-cita terbesarnya yaitu memprioritaskan kebahagiaan ukhrowi yang
abadi daripada terjebak ke dalam kesenangan duniawi yang sementara. Dan itu nampak jelas
dalam ibadah ramadhan selama satu bulan dimana kaum muslimin bisa menahan diri bukan
hanya dari sesuatu yang diharamkan oleh Allah dan yang syubhat tapi juga mampu
meninggalkan sesuatu yang mubah. Kemenangan obsesi akhirat yang abadi atas dunia yang
sementara juga bermakna kemenangan luasnya nikmat ukhrowi terhadap sempitnya dunia juga
mengandung arti kemenangan kenyamanan yang abadi atas suasana dunia yang letih dan
melelahkan. Dan bisa bermakna kemenangan yang hakiki atas sesuatu yang semu dan menipu.
Oleh karena itu Allah menegur kaum muslimin yang terjebak dalam kungkungan kesenangan
duniawi dan berat untuk bangkit berjuang di jalan Allah.
Wahai orang-orang yang beriman!mengapa apabila dikatakan kepadamu Berangkatlah
(untuk berperang) di jalan Allah kamu merasa berat dan tinggal di tempatmu?apakah kamu
lebih menyenangi kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat?padahal kenikmatan hidup
di dunia ini ( dibandingkan dengan kehidupan)di akhirat hanyalah sedikitQS:9:38
3. Kemenangan kesungguhan dan keseriusan atas kemalasan.
Gelora kemenangan di hari yang fitri ini mengingatkan kita semua bahwa madrasah ramadhan
mentarbiyah kaum muslimin untuk mampu menglahkan seluruh bentuk kemalasan yaitu
kemalasan dalam memperbaiki diri dilihat dari dimensi akidah, pemikiran, mentalitas, moralitas,
dan ibadahnya kepada Allah Azza wa Jalla. Dan madrasah ramadhan mampu mengantarkan
kaum muslimin untuk menyingkirkan kemalasan yang merintangi dirinya dari upaya
pembentukan rumah tangga islami yang diterjemahkan ke dalam wujud seorang bapak yang
soleh, ibu yang solehah, dan anak-anak yang soleh. Mereka semuanya itu merupkan
pengejawantahan dari Qurrotu Ayun dalam setiap doa yang dikumandangkan oleh setiap
keluaraga yang surgawi, sebagaimana firman Allah :
Dan orang-orang yang berkata, ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami pasangan
kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi
orang-orang yang bertakwaQS:25:74
Nuansa rumah tangga yang surgawi ini nampak jelas didalam bulan ramadhan dimana bapak,
ibu, anal-anak dan anggota keluarga lainnya berlomba-lomba dalam beribadah kepada Allah
melalui sholat berjaamah, tilawah Quran, semangat berinfaq, mendalami ilmu-ilmu agama dan
kebaikan-kebaikan yang laiknnya, sehingga bulan ramadhan sebagai bulan ibadah bukan sekedar
wacana dan slogan tetapi benar-benar sebuah kurikulum kehidupan yang diamalkan oleh setiap
keluarga muslim.
4. Kemenangan kesabaran dan pengendalian diri
Hari raya idul fitri adalah hari dimana kaum muslimin merayakn kemenangan kesabaran dan
pengendalian diri dari seluruh yang diharmkan, bentuk-bentuk syubhat, al-lahwu dan al-laghwu,
bahkan kemenangan dalam menghindari dari memperbanyak perbuatan mubah, sebab kaum
muslimin yang jujur dalam keislaman dan keimanannya mereka harus produktif dalam mencetak
amal-amal soleh dan seluruh kebijakan-kebijakan yang dianjurkan oleh islam sehingga mereka
tidak punya cukup waktu untuk melakukan perbuatan yang sekedar mubah hukumnya, sebab
kewajiban dan tugas-tugas agama itu lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Oleh karena itu
patut untuk merenungi ungkapan Umar bin Khattab radhiallahu anhu
Kami adalah masyarakat yang meninggalkan sembilan persepuluh yang halal (mubah) karena
kami khawatir terjatuh ke dalam yang haram
Dari sini terlihat jelas bahwa generasi terbaik sepanjang masa selalu produktif dalam mencetak
kebajikan-kebajikan dan waktunya tidak terbunuh oleh cengkraman perbuatan yang mubah
apalagi yang syubhat dan haram. Kemenangan kesabaran dan pengendalian diri tidak sekedar
berimplikasi duniawi tetapi juga mencakup dimensi ukhrowi dimana pahala orang yang sabar
tidak bisa dihitung.
Hanyaorang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa
batasQS:39:10
5. Kemenangan kepedulian sosial
Hari raya idul fitri hendaknya dijadikan oleh segenap kaum muslimin agar selalu menjaga asset
dan modul yang sangat mahal yaitu sebuah kemenangan yang berkaitan dengan kepedulian
sosial. Selama bulan ramadhan kaum muslimin di training oleh Allah untuk selalu peduli
terhadap dinamika sosialnya, hal itu terlihat jelas dalam aktifitas kebersamaannya seperti: sholat
berjamaah baik yang fardhu,tarawih,dan witir,ifthor jamai (buka bersama), waktu sahur,
mendengarkan ceramah-ceramah agama, pengumpulan zakat shodaqoh dan infaq, dan aktifitas
lainnya.
Kebersamaan ini tidak boleh berhenti hanya dibulan ramadhan saja tetapi kebersamaan dalam
amal islami menuntut adanya kesinambungan dan kontinyuitas terpadu, sehingga kaum muslimin
dalam ibadah dan perjuangannya terutama menghadapi kedzoliman, kemaksiatan, dan musuh-
musuh Allah lebih mendapatkan barakah dari Allah swt, karena Al-barokah maaljamaah (
keberkahan itu selalu menyertai kebersamaan) kepedulian social ini akan tetap eksis dengan :
a. Wihdah ( persatuan)
Persatuan dan kesatuan yang melahirkan kepedulian social meliputi kesatuan niat yaitu semata-
mata karena Allah swt dan kesatuan muntholak (titik tolak), kesatuan Ghoyah (tujuan), dan
kesatuan dan persatuan untuk senantiasa bermusabaqah dalam kebajikan yang didalamnya
terdapat khidmah ijtimaiyyah ( melayani masyarakat) yang merupakan kata kunci dari setiap
pemimpin sepanjang masa. Dimana kita mengimani dan memahami bahw aumat islam harus
menjadi umat yang terbaik termasuk memempin dan melayani.
Kamu (umat islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu)
menyuruh (berbuat) yang maruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.
Sekiranya ahli kitab beriman tentulah itu lebih bagi mereka. Diantara mereka ada yang
beriman, namun kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasikQS:3:110
b. Muqowamah ( perjuangan/perlawanan )
Kepedulian social akan selalu eksis di dalam diri kaum muslimin dan agenda perjuangannya
ketika kaum muslimin selalu membangun dan memelihara semangat perlawanannya dalam
memerangi seluruh bentuk kemaksiatan, kedzoliman, ketidakadilan, keterbelakangan dalam
setiap dimensi kehidupan, dan juga dalam menghadapi konspirasi global yang selalu dilancarkan
oleh musuh-musuh islam,Allah berfirman:
Dan demikianlah untuk setiap nabi kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan
manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang
indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuahanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan
melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama apa (kebohongan) yang mereka
adakanQS:6:112
Terakhir, melalui mimbar ini marilah kita berjanji untuk senantiasa menjaga
kemenangan-kemenangan yang telah dianugerahkan oleh Allah swt, sebab kemenangan
itu anugerah Allah yang wajib kita syukuru bersama.
Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya
aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikamat-Ku maka pasti
azabku sangat beratQS:14:7
Ibnu Sirin berkata tentang sulitnya mengendalikan jiwa, Aku tidak pernah mempunyai urusan
yang lebih pelik ketimbang urusan jiwa. Hasan Bashari berkata, Binatang binal tidak lebih
membutuhkan tali kekang ketimbang jiwamu.
Kemenangan melawan hawa nafsu ini adalah inti kemenangan, inilah kemenangan terbesar,
kemenangan utama yang akan melahirkan kemenangan-kemenangan lain dalam semua kancah
kehidupan dunia yang kita arungi. Kita membutuhkan kemenangan seperti ini untuk
memenangkan semua pertarungan yang kita hadapi dalam hidup ini. Betapa banyak perangkat-
perangkat meteri kemenangan dikuasai oleh seseorang, kelompok, dan bangsa. Namun ternyata
mereka harus menelan kekalahan dengan sederet perangkat materi itu. Mereka memiliki ilmu
dan teknologi, senjata, perlengkapan, dan sarana lainnya, namun itu semua tidak berdaya di
hadapan seseorang, kelompok, atau bangsa yang memiliki ketangguhan jiwa, kekuatan mental,
dan kematangan pribadi.
Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak
dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah: 249).
Selama sebulan penuh kita berada dalam bulan suci, bulan penuh keberkahan dan nilai. Bulan
yang mengantarkan kita kepada suasana batin yang sangat indah. Bulan yang sarat dengan nilai-
nilai pendidikan bagi kita kaum Muslimin. Bulan Ramadhan melatih kita untuk memberi
perhatian kepada waktu, di mana banyak manusia yang tidak bisa menghargai dan
memanfaatkan waktunya. Ramadhan melatih kita untuk selalu rindu kepada waktu-waktu shalat,
yang barangkali di luar Ramadhan kita sering mengabaikan waktu-waktu shalat. Adzan
berkumandang di samping kanan kiri telinga kita, namun kita tetap dengan segala kesibukan kita,
tak tergerak bibir kita untuk menjawabnya apa lagi untuk memenuhi panggilan itu
Dan kita membiarkan suara Muadzin itu memantul di tembok rumah dan kantor kita, lalu pergi
bersama angin lalu.
Sedangkan pada bulan Ramadhan ini kita selalu menunggu suara adzan, minimal adzan Maghrib,
kita tempel di rumah kita bahkan kita hapal jadwal Imsakiyyah
Mudah-mudahan selepas Ramadhan ini rasa rindu kepada waktu shalat selalu kita pelihara.
Waktu adalah kehidupan. Barangsiapa menyia-nyiakan waktunya berarti ia menyiakan-nyiakan
hidupnya.
Ada survei tahun 1980 bahwa Jepang adalah negara pertama yang paling produktif dan evektif
dalam menggunakan waktu, disusul Amerika dan Israel. Subhanallah, ternyata negara-negara itu
kini menguasai dunia. Sebagai seorang muslim, mestinya kita menjadi orang yang paling disiplin
dengan waktu kita. Al-Quran yang kita baca di bulan Ramadhan mengisyaratkan pentingnya
waktu bagi kehidupan. Bahkan pada banyak ayat Allah bersumpah dengan waktu.
Maka jika kita ingin menjadi manusia yang terhormat di antara manusia lain dan bermartabat di
sisi Allah, hendaknya kita isi waktu kita dengan hal-hal yang produktif, baik untuk kepentingan
dunia atau akhirat kita.
Ramadhan juga melatih kita untuk memakmurkan tempat-tempat ibadah; masjid, mushalla, dan
surau. Gegap gempita kita mendatangi rumah-rumah Allah ini, kita kerahkan anak istri kita
untuk meramaikan tempat suci ini. Hingga ketika menyaksikan pemandangan indah ini
seseorang sempat berkhayal, Andai Ramadhan datang dua belas kali setahun. Begitu indah
pemandangan ini, suara pujian dan doa bersahut-sahutan dari pengeras suara di antara masjid-
masjid. Alam serasa hanyut dalam tasbih dan istighfar.
Suasana ini perlu kita pertahankan selepas Ramadhan ini, kita perlu mengerahkan keluarga kita
untuk memakmurkan masjid-masjid Allah. Sehingga kita layak mendapatkan janji Allah, bahwa,
Ada tujuh golongan manusia yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya di hari dimana tidak ada
naungan selian naungan Allah.dan seseorang yang hatinya terikat dengan masjid.
Ramadhan juga melatih kita untuk lebih mementingkan ketaatan kepada Allah dengan
mengorbankan tenaga dan kepentingan kita, saat-saat kita masih lelah bekerja seharian, setelah
sepanjang siang kita bertahan dengan rasa lapar dan dahaga, saat kita mestinya beristirahat dari
kepenatan, namun, justru kita ruku dan sujud dalam shalat tarawih atau qiyamu Ramadhan
dengan satu harapan, mudah-mudahan kita mendapatkan keridhaan Allah, itulah satu-satunya
yang paling berharga dalam hidup kita selaku Muslim.
Semangat ini juga mestinya kita jaga setelah Ramadhan, kita perlu mempersembahkan apa yang
kita miliki ini untuk meraih keridhaan Allah. Sejatinya, apa yang kita miliki saat ini hanya
amanah dari Allah Taala, apakah kita dapat menunaikannya atau tidak. Hendaknya keridhaan
Allah itu menjadi tujuan kita, tidak ada desah nafas, mulut bergerak, tangan berayun, dan kaki
melangkah kecuali kita harus mengirinya dengan satu pertanyaan, Apakah dengan apa yang
saya ucapkan dan saya lakukan ini saya akan mendapatkan ridha Allah. Hingga dengan
demikian serasilah apa yang sering kita ikrarkan,
Ramadhan juga melatih kita untuk mempunyai rasa solidaritas sesama manusia, dengan rasa
lapar dan dahaga kita teringat akan nasib sebagian dari saudara-saudara kita yang kurang
beruntung di dalam hidup ini, mereka setiap harinya dirongrong rasa lapar dan dahaga. Apalagi,
rasa kemanusiaan semacam ini nyaris mulai sirna dewasa ini. Saat budaya hedonisme mulai
menjangkiti manusia modern, dimana mereka hanya disibukkan oleh urusan pribadi, nafsi-nafsi,
urusanku urusanku sendiri, silahkan urus urusanmu sendiri. Hal ini diakibatkan karena orientasi
hidup manusia modern yang hanya memandang materi sebagai satu-satunya tujuan. Bahkan,
terkadang untuk memenuhi ambisi kebendaannya seseorang rela menghalalkan segala cara.
Solidaritas semacam ini perlu kita pelihara dan kita aplikasikan dalam hubungan dengan sesama
manusia dengan melakukan shiyam-shiyam sunnah, di mana Islam telah mensyariatkannya.
Manusia modern perlu melakukan puasa untuk melatih kepekaan sosialnya, para pejabat perlu
melakukan puasa sunnah untuk merasakan derita yang dialami sebagian besar bangsa ini.
Sehingga, muncullah kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada masyarakat miskin. Atau,
minimal dapat menurunkan gaya hidup kelas tinggi mereka di tengah bangsa yang menangis ini.
Kita menyambut adanya itikad baik dari pemimpin negeri ini untuk membudayakan hidup
sederhana. Alangkah indahnya jika ajakan hidup sederhana ini diterapkan oleh semua pihak,
terutama para pejabat, menteri, anggota dewan, dirjen-dirjen dan lain sebagainya. Ini akan
menggurangi anggaran negara dan dapat dialokasikan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.
Bangsa ini masih terpuruk, rakyat masih menderita. Kemiskinan menjadi pemandangan utama di
setiap sudut kota dan pelosok desa. Tidaklah pantas memamerkan kemewahan di hadapan
mereka. Apalagi menggunakan fasilitas negara.
Zuhud, adalah sikap yang diajarkan Islam kepada kita dalam hidup ini. Az-Zuhri ditanya tentang
makna zuhud dan dia menjawab, Zuhud bukanlah pakaian yang kumal dan badan yang dekil.
Zuhud adalah memalingkan diri dari syahwat dunia. Orang mukmin boleh kaya dan berjaya,
namun yang ada di hatinya hanyalah Allah semata. Letakkan harta di tanganmu dan jangan
letakkan di hatimu. Demikian nasihat ulama.
Sungguh banyak pelatihan yang diberikan oleh Diklat Ramadhan kepada kita, itulah barangkali
di antara hikmah disyariatkannya shiyam selama sebulan agar sebelas bulan sisanya kita lalu
dengan menerapkan nilai-nilai Ramadhan. Agar suasana spiritual yang dilatih selama sebulan ini
menjadi energi kita dalam mengarungi sebelas bulan berikutnya. Agar predikat takwa itu benar-
benar terjaga dalam diri kita. Sebab ketakwaan itulah bekal hidup dan modal kita untuk
menghadapi pengadilan Allah Azza wa Jalla.


Dan berbekallah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah
kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.


Sesungguhnya sebaik-baik kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu
Demikianlah Ramadhan telah memberikan banyak perubahan dalam diri kita. Mulai dari sikap,
perilaku, dan paradigma dalam memandang hidup dan kehidupan ini. Mestinya ini semua
menjadi bekal kita untuk melakukan perubahan-perubahan di masa depan, perubahan yang
mengantarkan hidup kita ke arah yang lebih baik. Sebagai pribadi maupun bangsa.
Sungguh kehidupan yang kita lalui masih sulit, beban yang kita pikul semakin berat. Baik
sebagai pribadi atau sebagai bangsa, kita sekarang belum juga bisa berkelit dari krisis multi
dimensi yang cukup pelik. Pekerjaan kian sulit dicari, harga-harga masih membumbung tinggi,
angka pengangguran masih tinggi, bencana alam, kejahatan meraja-lela. Demi sesuap nasi, nilai-
nilai yang semestinya dijunjung dan dijaga tidak diindahkan lagi. Bahkan, nyawa yang begitu
mahal dan berharga oleh semua agama dan ideologi, kini menjadi taruhan yang sangat murah.
Dari layar TV dan media cetak kita sering menyaksikan peristiwa pembunuhan yang sungguh
mendirikan bulu kuduk kita; seorang anak membantai ayahnya, suami mencincang istrinya,
tetangga menghabisi tetangganya, saudara menggorok saudaranya, yang rata-rata motifnya sama,
ekonomi.
Tidak ada bekal terbaik untuk menghadapi kondisi sulit ini selain ketakwaan. Barangkali semua
orang sepakat bahwa kita semua harus bangkit untuk mengatasi semua kesulitan yang melanda
kita dan bangsa kita dewasa ini. Untuk itu di hari yang fitri ini, di tengah kita merayakan
kemenangan besar ini. Di mana kita baru saja selesai melakukan pelatihan selama sebulan penuh,
di mana nuansa kesucian tengah kita rasakan saat ini, sehingga pikiran dan hati kita tengah
mengalami pencerahan karena nilai-nilai ketakwaan. Marilah kita menatap hari esok dengan
semangat berubah ke arah yang lebih baik dan penuh optimisme, dan memang seorang Mukmin,
seorang Muttaqi, seorang yang bertakwa pantang kehilangan asa dalam kondisi apapun.
Optimisme adalah harga mati jika kita ingin bangkit mengatasi berbagai kesulitan ini.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu
Ada beberapa variabel untuk membangun optimisme dalam diri kita.
Pertama, Husnudzan kepada Allah.
Husnudzan atau berprasangka baik kepada Allah ini harus kita kokohkan dalam diri kita. Kita
sepakat bahwa tidak ada satu peristiwa yang terjadi selain dengan izin dan kehendak Allah,
termasuk ujian dan kesulitan yang tengah kita hadapi. Dan seorang Mukmin selalu menghadapi
semua ketentuan Allah itu dengan prasangka baik. Ia mempunyai prinsip bahwa apa yang
menimpanya, itulah yang terbaik baginya menurut Allah. Oleh karena itu ia tidak menggerutu
kepada Penciptanya, ia tidak memberontak karena keputusan Tuhannya, dan ia selalu menatap
semua ujian itu dengan senyum. Ia yakin akan mendapatkan dua keuntungan dari ujian itu:
1. Diangkat dan dihapuskannya kesalahan dan dosa-dosanya
2. Dan tinggikan derajatnya di sisi Allah Azza wa Jalla


Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barangsiapa bersabar ia
mendapat (pahala) kesabarannya, dan barangsiapa gundah gulana, ia (tersiksa) karena
kegundahannya.


Sungguh mengherankan urusan seorang Mukmin, semua urusannya berakibat baik baginya, dan
itu tidak terjadi kepada selain orang-orang Mukmin, jika mendapatkan kebaikan ia bersyukur dan
itu baik baginya. Dan jika mendapat bencana ia bersabar dan itu baik pula baginya. (Muslim)
Husnudzan harus kita pelihara dalam diri kita. Allah tidak menghendaki dari hamba-Nya selain
kebaikan, kalau tidak di dunia, di akhirat. Jangan sampai kita celaka di dunia dan di akhirat
akibat prasangka buruk kita kepada Allah. Naudzu billah, tsumma naudzu billah.
Kedua, Tidak putus berdoa.
Doa merupakan senjata orang beriman, berdoa merupakan ibadah dan enggan berdoa merupakan
kesombongan kepada Allah Azza wa Jalla.
Sebagai bangsa, kita ini mestinya sudah hancur berantakan, mestinya negara yang bernama
Indonesia ini gulung tikar. Krisis ekonami yang berkepanjangan, krisis kepercayaan, moral, bom
meledak di mana-mana, pemerintahan yang lemah, tekanan bahkan konspirasi untuk
menghancurkan bangsa kita begitu kuat. Pertikaian dan peemusuhan antar suku, entis, dan antar
agama, pertumbuhan ekonomi yang kian memburuk, hutang negara yang kian membumbung
tinggi. Mestinya, semua itu cukup membuat kita, sebagai bangsa ambruk terkapar akan tetapi
kenyataannya tidak, apapun keadaannya, kita masih bisa berdiri tegak. Barangkali pihak-pihak
yang menginginkan kehancuran negeri ini tak habis pikir, mengapa hingga saat ini kita masih
bisa bertahan. Kita yakin seyakin-yakinya, itulah berkat doa yang dipanjatkan setiap muslim di
negeri ini, bahkan di seluruh dunia, itu semua berkat ratusan juta pasang tangan yang selalu
ditengadahkan ke langit, memohon kepada yang Maha Kuat dan Maha Perkasa, agar negeri ini
dijauhkan dari kehancuran
Ketiga, meneladani para nabi dan rasul.
Mereka adalah kekasih-kekasih Allah dan itu kita sepakat. Namun ujian Allah timpakan kepada
mereka begitu dahsyat dan tak terperikan. Bahkan di antara mereka ada yang mendapatkan gelar
Uluz Azmi karena keberhasilan mereka dalam mengarungi ujian berat. Dan mereka tidak pernah
berputus asa kepada Allah Taala.
Adalah nabiyullah Zakaria yang selalu merindukan anak, namun hingga di usianya yang mulai
senja, si buah hati yang diidamkannya belum kunjung datang. Akan tetapi hal itu tidak
membuatnya berputus asa dan kehilangan optimisme. Dengarkanlah Al-Quran menuturkan,
(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya,
Zakariya, yaitu tatkala ia berdo`a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: Ya
Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku
belum pernah kecewa dalam berdo`a kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku
khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka
anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi
sebahagian keluarga Ya`qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai.(Maryam:
2-6)
Orang yang sudah tua renta, istrinya mandullalu mengharapkan mempunyai anak? Rasanya
mustahil itu terjadi, rasanya harapannya akan tinggal harapan. Akan tetapi kekasih Allah tidak
menyandarkan harapannya kepada sebab-sebab manusiawi, karena sebab-sebab itu merupakan
kehendak Allah, Allah mampu menciptakan dari yang tiada menjadi ada. Apalagi dari yang
sudah ada, walau usia renta dan istri mandul. Akhirnya Allah mendengar doanya dan melihat
ketegarannya.


Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang
anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang
serupa dengan dia. (Maryam: 7).
Itu pula yang dialami Ibrahim, Khalilullah.
Tidak ada yang mustahil bagi Allah, jika kita tetap berusaha dan berdoa.
Pada perang Khandaq, saat sepuluh ribu pasukan sekutu yang terdiri dari suku Quraisy dan
kabilah-kabilah Arab lainnya mengepung Madinah. Sementara Rasulullah hanya didukung dua
ribu pasukan dengan parit yang mengelilingi sebagian sisi kota. Sementara itu orang-orang
Yahudi Quraidzah yang terikat perjanjian dengan kaum Muslimin untuk melindungi wilayah
perbatasan kota Madinah, ternyata mereka membatalkan perjanjian dan bergabung dengan
pasukan sekutu. Dan dengarlah sikap Rasulullah menghadapi kondisi genting ini,


Allahu Akbar, bergembiralah wahai sekalian kaum Muslimin dengan kemenangan dari Allah
dan pertolongan-Nya.
Dan ternyata Allah memperhatikan optimisme hamba terbaik-Nya, dua ribu pasukan Muslim
dapat mengalahkan sepuluh ribu pasukan sekutu plus orang-orang Yahudi Bani Quraidzah.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu
Keempat, beramal dan bertawakkal.
Sebab Allah tidak menurunkan emas dari langit. Singsingkan lengan baju. Kita gunakan seluruh
potensi yang Allah karuniakan kepada kita


Dan katakanlah: Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mumin
akan melihat pekerjaanmu itu, dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui
akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian apa yang telah kamu
kerjakan. (At-Taubah:105).
Sebab tidak ada yang mengubah kita selain kita sendiri

(11)
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di
belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah
keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat
menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Ar-Radu: 11)