Anda di halaman 1dari 15

1

1. KERANGKA KONSEPTUAL
Kerangka dasar ini merumuskan konsep yang mendasari penyusunan dan penyajian laporan
keuangan bagi para pemakai eksternal. Tujuan kerangka dasar ini adalah untuk digunakan sebagai
acuan bagi:
1. komite penyusun standar akuntansi keuangan, dalam pelaksanaan tugasnya;
2. penyusun laporan keuangan, untuk menanggulangi masalah akuntansi yang belum diatur dalam
standar akuntansi keuangan;
3. auditor, dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan disusun sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum; dan
4. para pemakai laporan keuangan, dalam menafsirkan informasi yang disajikan dalam
laporan keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan.
Kerangka dasar ini membahas laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose
financial statements, yang selanjutnya hanya disebut "laporan keuangan"), termasuk laporan keuangan
konsolidasi. Laporan keuangan disusun dan disajikan sekurang-kurangnya setahun sekali untuk
memenuhi kebutuhan sejumlah besar pemakai. Beberapa di antara pemakai ini memerlukan dan
berhak untuk memperoleh informasi tambahan di samping yang tercakup dalam laporan keuangan.
Namun demikian, banyak pemakai sangat tergantung pada laporan keuangan sebagai sumber utama
informasi keuangan dan karena itu laporan keuangan tersebut seharusnya disusun dan disajikan
dengan mempertimbangkan kebutuhan mereka. Laporan keuangan dengan tujuan khusus seperti
prospektus, dan perhitungan yang dilakukan untuk tujuan perpajakan tidak termasuk dalam kerangka
dasar ini.
Kerangka dasar ini berlaku untuk laporan keuangan untuk semua jenis perusahaan komersial,
baik sektor publik maupun sektor swasta. Perusahaan pelapor adalah perusahaan yang laporan
keuangannya digunakan oleh pemakai yang mengandalkan laporan keuangan tersebut sebagai
sumber utama informasi keuangan perusahaan.
Struktur kerangka konseptual sama dengan struktur teori akuntansi yang didasarkan pada
proses penalaran logis. Yang dapat digambarkan dalam bentuk hierarki yang memiliki beberapa
tingkatan sebagai beikut:


2

1. Pada tingkatan teori tertinggi (Level 1)
Dalam kerangka konseptual menyatakan ruang lingkup dan tujuan pelaporan keuangan
2. Pada tingkatan selanjutnya (Level 2)
Mendefinisikan dan mengidentifikasikan karakterisitik kualitatif dari informasi keuangan dalam
elemen laporan keuangan
3. Pada tingkat operasional yang lebih rendah (Level 3)
Berkaitan dengan prinsip-prinsip dan peraturan-peraturan tentang pengukuran dan elemen
laporan keuangan


3

Kerangka konseptual memiliki manfaat yang sangat besar bagi pemakainnya. Manfaat dari
kerangka konseptual antara lain adalah untuk membangun dan menghubungkan badan pembuat konsep
dengan tujuannya, menyediakan kerangka kerja untuk memecahkan masalah-masalah praktis baru yang
muncul (masalah yang belum ada standarnya), meningkatkan pemahaman dan keyakinan pemakai
laporan keuangan tentang pelaporan keuangan, dan menaikkan daya banding laporan keuangan antar
perusahaan.

LAPORAN KEUANGAN
Laporan keuangan merupakan informasi keuangan yang disusun dan disajikan sekurang-
kurangnya setahun sekali untuk memenuhi kebutuhan sejumlah besar pemakai. Laporan keuangan juga
digunakan sebagai sumber utama informasi keuangan dank arena itu laporan keuangan tersebut
seharusnya disusun dan disajikan dengan mempertimbangkan kebutuhan para pemakai.
Laporan keuangan merupakan salah satu proses dari pelaporan keuangan, dimana laporan
keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan
(yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana),
catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.
Perusahan pelapor adalah perusahaan yang laporan keuangannya digunakan oleh pemakai yang
mengandalkan laporan keuangan tersebut sebagai sumber utama informasi keuangan perusahaan.

TUJUAN LAPORAN KEUANGAN
Tujuan dari laporan keuangan yakni menyediakan informasi yang berhubungan dengan posisi
keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang dapat bermanfaat begi
pengguna laporan tersebut sebagai pengambilan keputusan di masa yang akan datang. Laporan keuangan
juga memperlihatkan bagaimana pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang telah
dipercayakan kepada mereka sehingga mereka dapat membuat keputusan ekonomi.
Pemakai dan Kebutuhan Informasi Laporan keuangan digunakan oleh pemakai yang berbeda-
beda yang disebut dengan stakeholder, meliputi investor, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan
kreditor usaha, pelaggan, pemerintah serta lembaga-lembaganya, dan masyarakat. Beberapa
kepentingannya, meliputi :


4


1. Investor
Informasi keuangan digunakan untuk membantu mereka menentukan apakah harus membeli, menahan
atau menjual investasi tersebut. Perusahaan juga tertarik pada informasi yang memungkinkan mereka
untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar dividen
2. Karyawan
Informasi keuangan digunakan untuk melihat stabilitas dan profitabilitas perusahaan, serta untuk menilai
kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, manfaat pensiun, dan kesempatan kerja.
3. Pemberi Pinjaman
Tertarik pada informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah pinjaman
serta bunganya dapat dibayar saat jatuh tempo.
4. Pemasok dan kreditor lainnya
Tertarik pada informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang
terhutang akan dibayar saat jatuh tempo. Kreditor usaha berkepentingan pada perusahaan dalam
tenggang waktu yang lebih pendek daripada pemberi pinjaman kecuali kalau sebagai pelanggan utama
meraka tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan.
5. Pelanggan
Berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan hidup perusahaan, terutama apabila mereka
terlibat dalam perjanjian jangka panjang dengan, atau tergantung pada perusahaan.
6. Pemerintah
Berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan karena itu berkepentingan dengan aktivitas
perusahaan dan untuk mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan kebijakan pajak dan sebagai dasar
untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya.
7. Masyarakat
Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan menyediakan informasi kecenderungan (trend)
dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan serta rangkaian aktivitasnya.

ASUMSI DASAR
1. Kelangsungan Usaha (Going Concern)
Dalam menyusun laporan keuangan, manajemen membuat penilaian tentang kemampuan
entitas untuk mempertahankan kelangsungan usaha. Entitas menyusun laporan keuangan berdasarkan
5

asumsi kelangsungan usaha, kecuali manajemen bertujuan untuk melikuidasi entitas atau
menghentikan perdagangan, atau tidak mempunyai alternatif lainnya yang realistis selain
melakukannya.
Jika manajemen menyadari (dalam membuat penilaiannya) mengenai adanya ketidakpastian
yang material sehubungan dengan peristiwa atau kondisi yang dapat menimbulkan keraguan yang
signifikan tentang kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan usaha, maka entitas
mengungkapkan ketidakpastian tersebut. Jika entitas menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan
asumsi kelangsungan usaha, maka entitas mengungkapkan fakta tersebut, bersama dengan dasar
yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan dan alasan mengapa entitas tidak
dipertimbangkan sebagai entitas yang dapat menggunakan asumsi kelangsungan usaha. Jika selama
ini entitas menghasilkan laba dan mempunyai akses ke sumber pembiayaan, maka dapat disimpulkan
bahwa asumsi kelangsungan usaha telah sesuai tanpa melalui analisis rinci.

Dasar Akrual (Accrual Basis)
Entitas menyusun laporan keuangan atas dasar akrual, kecuali laporan arus kas. Ketika akuntansi berbasis
akrual digunakan, entitas mengakui pos-pos sebagai aset, laibilitas, ekuitas, pendapatan dan beban
(unsur-unsur laporan keuangan) ketika pos-pos tersebut memenuhi definisi dan kriteria pengakuan untuk
unsure unsur tersebut dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan.

KARAKTERISTIK KUALITATIF LAPORAN KEUANGAN
Karakteristik kualitatif dari informasi keuangan mengidentifikasi jenis-jenis informasi yang paling berguna
bagi investor yang ada dan calon investor, pemberi pinjaman maupun kreditur lainnya untuk membuat
keputusan mengenai entitas pelaporan berdasarkan pada laporan keuangan yang telah disajikan.
Informasi keuangan akan berguna bagi investor yang ada dan calon investor, pemberi pinjaman maupun
kreditur lainnya maka informasi tersebut harus relevan dan disajikan dengan jujur.

Pengguna dari informasi akuntansi
Setiap pembuat keputusan menilai informasi apa yang berguna dan penilaian tersebut dipengaruhi oleh
faktor seperti keputusan yang akan dibuat, metode pembuatan keputusan yang akan digunakan, informasi
yang telah diperoleh dari sumber lainnya, dan kapasitas dari pembuat keputusan.

6

Kriteria Pervasif: Manfaat > Biaya
Biaya adalah kendala pervasif dari informasi yang dapat disediakan oleh laporan keuangan. Pelaporan
informasi keuangan memerlukan biaya sehingga penting untuk memastikan bahwa biaya yang dikeluarkan
sebanding dengan manfaat dari pelaporan informasi tersebut.

Kualitas Fundamental
Karakteristik kualitatif fundamental adalah relevan dan penyajian yang jujur. Informasi keuangan akan
berguna bagi investor yang ada dan calon investor, pemberi pinjaman maupun kreditur lainnya maka
informasi tersebut harus relevan dan disajikan dengan jujur.

Relevan
Informasi keuangan yang relevan adalah informasi yang mampu untuk membuat perbedaan dalam
keputusan yang dibuat oleh pengguna informasi keuangan. Informasi mungkin akan mampu untuk
membuat perbedaan dalam sebuah keputusan sekalipun beberapa pengguna memilih untuk tidak
mengambil manfaat dari informasi tersebut atau telah mengetahui informasi tersebut dari sumber informasi
lainnya. Informasi keuangan akan mampu untuk membuat perbedaan dalam sebuah keputusan jika
informasi tersebut memiliki nilai prediktif dan confirmatory value. Nilai prediktif dan confirmatory
value saling berkaitan. Informasi yang memiliki nilai prediktif seringkali juga memiliki confirmatory value.

Nilai prediktif. Informasi keuangan memiliki nilai prediktif jika informasi tersebut dapat digunakan sebagai
suatu input dalam proses yang dilakukan oleh pengguna informasi untuk memprediksi hasil di masa depan.

Confirmatory value. Informasi keuangan memiliki confirmatory value jika informasi tersebut memberikan
umpan balik (mengonfirmasi atau mengubah) terhadap evaluasi sebelumnya.

Penyajian yang Jujur (Faithfull Representation)
Laporan keuangan menyajikan fenomena ekonomi dalam huruf dan angka. Untuk menjadi berguna, maka
informasi keuangan tidak hanya harus menyajikan fenomena yang relevan tetapi juga harus menyajikan
fenomena tersebut dengan jujur. Agar informasi keuangan tersebut dikatakan disajikan dengan jujur maka
informasi tersebut harus lengkap, netral, dan bebas dari kesalahan.

7

Lengkap. Sebuah penggambaran yang lengkap mencakup seluruh informasi yang berguna bagi pengguna
informasi untuk memahami fenomena yang digambarkan, termasuk juga semua penjelasan dan
deskripsinya.

Netral. Sebuah penggambaran yang netral adalah tanpa bias dalam pemilihan atau penyajian informasi
keuangan. Penggambaran yang netral tidak diarahkan atau dimanipulasikan untuk meningkatkan
probabilitas bahwa informasi keuangan akan diterima dengan baik oleh pengguna.

Bebas dari kesalahan. Penyajian yang jujur tidak berarti akurat dalam segala aspek. Bebas dari
kesalahan berarti bahwa tidak terdapat kesalahan atau penghilangan dalam penggambaran fenomena dan
proses yang digunakan untuk menghasilkan informasi yang dilaporkan telah dipilih dan diaplikasikan tanpa
kesalahan dalam prosesnya.

Kualitas Ideal
Komparabilitas, verifiabilitas, ketepatwaktuan, dan dapat dipahami adalah karakteristik kualitatif yang
meningkatkan kegunaan informasi yang relevan dan disajikan dengan jujur. Karakteristik kualitatif ini juga
membantu untuk menentukan dua cara yang akan digunakan untuk menggambarkan fenomena jiak kedua
cara tersebut sama-sama relevan dan disajikan dengan jujur.

Komparabilitas
Keputusan pengguna melibatkan pemilihan alternatif baik itu untuk membeli atau mempertahankan suatu
investasi, atau berinvestasi pada satu entitas pelaporan atau pada entitas pelaporan lainnya.
Konsekuensinya, informasi mengenai sebuah entitas pelaporan akan lebih berguna jika informasi tersebut
dapat dibandingkan dengan informasi yang sama dari entitas lainnya dan dengan informasi yang sama
mengenai entitas yang sama untuk periode atau tanggal lainnya. Komparabilitas adalah karakteristik
kualitatif yang memungkinkan pengguna untuk mengidentifikasi dan memahami kesamaan dalam dan
perbedaan antara item-item. Komparabilitas tidak berkaitan dengan satu item, perbandingan setidaknya
memerlukan dua item. Konsistensi mengacu pada penggunaan metode yang sama untuk item yang sama,
dari satu periode ke periode berikutnya dalam suatu entitas pelaporan atau dalam satu periode diantara
entitas yang berbeda. komparabilitas adalah tujuan sedangkan konsistensi membantu untuk mencapai
komparabilitas tersebut.
8


Verifiabilitas
Verifiabilitas membantu memastikan pengguna bahwa informasi menyajikan dengan jujur fenomena
ekonomi yang seharusnya disajikan. Verifiabilitas berarti bahwa pengguna informasi yang independen dan
berpengetahuan yang berbeda dapat mencapai suatu konsensus bahwa penggambaran tertentu adalah
penyajian yang jujur.

Ketepatwaktuan (Timeliness)
Ketepatwaktuan berarti bahwa informasi tersedia bagi pembuat keputusan pada waktu yang tepat untuk
mampu mempengaruhi keputusan mereka. Secara umum, semakin lama umur suatu informasi maka
informasi tersebut akan menjadi kurang berguna.

Dapat Dipahami
Pengklasifikasian, pengkarakteristikan, dan penyajian informasi dengan jelas dan tepat membuat informasi
tersebut menjadi dapat dipahami. Beberapa fenomena memiliki kerumitan bawaan dan tidak dapat dengan
mudah untuk dipahami. Pengecualian informasi tersebut dalam laporan keuangan mungkin menjadikan
informasi keuangan lebih mudah untuk dipahami tetapi laporan tersebut tidak lengkap dan mungkin akan
menyesatkan. Oleh karena itu, laporan keuangan dipersiapkan bagi pengguna yang memiliki pengetahuan
memadai mengenai aktivitas bisnis dan ekonomi dan mampu untuk menganalisa dan mereview informasi
tersebut.

Batasan Pengakuan
Materialitas
Informasi dikatakan material jika penghilangan atau salah saji informasi tersebut dapat mempengaruhi
keputusan pengguna yang mendasarkan keputusannya pada informasi keuangan tersebut.

9



UNSUR LAPORAN KEUANGAN
Posisi Keuangan
1. Aktiva, merupakan manfaat ekonomi yang diharapkan oleh perusahaan sebagai hasil dari
transaksi kejadian-kejadian masa lalu.
2. Kewajiban, merupakan utang perusahaan yang ditimbulkan dari peristiwa atau transaksi masa lalu.
3. Aktiva Bersih, merupakan nilai residu atas aktiva perusahaan setelah dikurang dengan kewajiban.
10

Kinerja (Laba Rugi)
2. Penghasilan, merupakan penambahan atau pemasukan aktiva atau penurunan kewajiban yang
menyebabkan kenaikan ekuitas yang berasal dari operasi utama perusahaan dan bukan berasal
dari pemilik.
2. Beban, merupakan penurunan aktiva atau penambahan kewajiban yang menyebabkan penurunan
ekuitas yang berasal dari operasi utama perusahaan dan bukan dari pembagian kepada
penanaman modal.
PRINSIP DASAR
a. Historical Cost (Biaya Historis)
Aktiva dicatat sebesar pengeluaran kas atau setara dengan kas yang dibayar atau sebesar nilai wajar
dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aktiva tersebut pada saat perolehan.dan kewajiban
dicatat sebesar jumlah yang diterima sebagai penukar dari kewajiban.
b. Current Cost (Biaya Kini)
Aktiva dinilai dalam jumlah kas atau setara dengan kas yang seharusnya dibayar bila aktiva yang sama
atau setara aktiva diperoleh sekarang. Kewajiban dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang
tidak didiskontokan yang mungkin akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban sekarang.
c. Realisable / Settlement Value (Nilai Realisasi / Penyelesaian)
Aktiva dinyatakan dalam jumlah kas atau setara dengan kas yang dapat diperoleh sekarang dengan
menjual aktiva dalam pelepasan normal dan kewajiban dinyatakan sebesar nilai penyelesaian; yaitu,
jumlah kas atau setara dengan kas yang tidak didiskontokan yang diharapkan akan dibayarkan untuk
memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal.
d. Fair Value
Jumlah nilai dimana aset dapat ditukarkan antara pihak-pihak yang berpengetahuan dan bersedia
dalam arms length transaction. IASB telah mengambil langkah yang memberikan perusahaan pilihan
untuk menggunakan nilai wajar sebagai dasar untuk pengukuran aset keuangan dan kewajiban
keuangan.
e. Revenue recognition
Pendapatan harus diakui apabila kemungkinan besar bahwa manfaat ekonomi masa depan akan
mengalir ke perusahaan dan pengukuran dapat dilakukan secara andal.

11

f. Expense recognition
Pengeluaran atau penggunaan aset atau menimbulkan kewajiban (atau kombinasi dari keduanya)
selama periode sebagai akibat dari penyerahan atau produksi barang dan / atau memberikan jasa.

2. MANAJEMEN LABA
Perbedaan yang sangat tipis antara manajemen laba dengan fraud membuat batasan dan
defenisi dari manajemen laba itu sendiri menjadi tidak jelas. Pihak yang concern dengan hal ini
mencoba mendefenisikannya, baik dari pemahaman positif dan negatif. Ada pihak yang
mendefenisikan manajemen laba sebagai kecurangan yang dilakukan seorang manajer untuk
mengelabui orang lain, sedangkan pihak lain mendefenisikannya sebagai aktivitas yang wajar yang
dilakukan manajer dalam menyusun laporan keuangan.
Secara umum manajemen laba didefenisikan sebagai upaya manajer perusahaan untuk
mengintervensi atau mempengaruhi informasi-informasi dalam laporan keuangan dengan tujuan untuk
mengelabui stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi yang sebenarnya. Istilah intervensi
dan mengelabui inilah yang kemudian diartikan sebagai kecurangan dalam hal praktek manajemen
laba. Sementara pihak lain tetap menganggap aktivitas manajerial ini bukan sebagai kecurangan.
Alasannya adalah intervensi itu dilakukan masih dalam kerangka standar akuntansi, yaitu masih
menggunakan metode dan prosedur akuntansi yang diterima dan diakui secara umum. Hal ini
menunjukkan bahwa manajemen laba berada dalam daerah abu-abu (grey area) antara aktivitas yang
diijinkan prinsip akuntansi dan kecurangan. Apalagi pada dasarnya manajemen laba sulit untuk
diobservasi oleh pemakai laporan keuangan.
Manajemen laba didefenisikan sebagai upaya manajer perusahaan untuk mengintervensi atau
mempengaruhi informasi-informasi dalam laporan keuangan dengan tujuan untuk mengelabui
stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi yang sebenarnya. Manajemen laba merupakan
sesuatu yang diperbolehkan sepanjang dilakukan sesuai dengan metode dan prosedur akuntansi yang
diperbolehkan. Sementara apabila ada manajer melakukan manajemen laba dengan sesuatu yang
melanggar metode dan prosedur akuntansi, maka hal yang demikian dapat dikategorikan sebagai
fraud. Pola manajemen laba dibagi 4, yaitu:
Taking a bath: pola ini dapat ditemukan saat terjadinya reorganisasi. Jika perusahaan harus
melaporkan adanya rugi, maka sekalian saja perusahaan melaporkan adanya rugi yang sangat
besar. Konsekuensinya adalah penghapusan asset, menyediakan untuk biaya di masa depan dan
12

secara umum pembersihan. Karena accruals reversal, maka ini akan meningkatkan kemungkinan
adanya profit di masa yang akan datang. Efeknya, pencatatan penghapusan yang besar bisa
menggaransi adanya laba di masa depan.
Income minimization: biasanya pola ini dilakukan pada masa-masa laba yang didapat sedang
tinggi. Pola ini mencakup penghapusan capital assets dan intangibles, biaya periklanan, biaya
R&D, biaya eksplorasi pada sektor migas dan lain-lain.
Income maximization: berdasarkan positive accounting theory (PTA), manajer bisa terlibat dalam
menaikkan pemasukan dengan tujuan bonus. Perusahaan yang melanggar debt covenant juga
biasanya menaikkan laba mereka.
Income smoothing: dari perspektif yang berlawanan, manajer menghindari resiko dengan cara
memilih alternatif bonus yang tidak terlalu bervariasi. Akibatnya, manajer meratakan laba supaya
mendapatkan bonus yang terus-menerus.
MOTIVASI MANAJEMEN LABA
Ada berbagai motivasi yang mendorong dilakukannya manajemen laba yang termasuk dalam Positive
Accounting Theory (PAT) atau teori akunting positif yang mengemukakan tiga hipotesis motif dilakukannya
manajemen laba, yaitu bonus plan, debt covenant, political cost hypothesis. Teori akunting positif berkaitan
dengan memprediksi tindakan yang dilakukan manajer perusahaan dalam merespon standar-standar
akunting baru. PAT tidak berarti pilihan kebijakan akuntansi satu perusahaan harus terbatas namun malah
memberikan banyak pilihan. Selain ketiga hipotesis tersebut terdapat juga beberapa motivasi lain
melakukan manajemen laba:
a. Hipotesis program bonus (the bonus plan hypothesis)
Hipotesis ini dipilih karena manajer ingin melaporkan laba yang akan datang menjadi laba periode ini.
Motivasi manajer yang menerapkan hipotesis ini biasanya mengharapkan bonus yang tinggi.Jika
bonus mereka bergantung pada laba yang dilaporkan maka mereka bisa melaporkan laba bersih yang
setinggi-tingginya. Tentu saja sesuai dengan proses akrual ini juga berarti laba yang akan datang
menjadi makin kecil.
b. Hipotesis perjanjian hutang (the debt covenant hypothesis)
Semakin dekat suatu perusahaan dalam melanggar perjanjian utang maka semakin mungkin manajer
perusahaan untuk menggeser laba yang akan datang menjadi laba di periode ini. Alasannya adalah
peningkatan laba bersih yang dilaporkan akan mengurangi terjadinya keteledoran teknis. Perjanjian
utang banyak mengandung covenants yang mana harus dipatuhi oleh peminjam selama masa
13

perjanjian.Semakin tinggi rasio hutang/ekuitas suatu perusahaan yang ekuivalen dengan semakin
dekatnya perusahaan terhadap kendala-kendala dalam perjanjian hutang dan semakin besar
probabilitas pelanggaran perjanjian, semakin mungkin manajer untuk menggunakan metode-metode
akuntansi yang meningkatkan income.
c. Hipotesis biaya politik (the political cost hypothesis)
Motivasi regulasi politik merupakan motivasi manajemen dalam mensiasati berbagai regulasi
pemerintah.Perusahaan yang terbukti menjalankan praktik pelanggaran terhadap regulasi anti trust dan
anti monopoli, manajernya melakukan manipulasi laba dengan menurunkan laba yang
dilaporkan.Perusahaan juga melakukan manajemen laba dengan tujuan untuk mempengaruhi
keputusan pengadilan terhadap perusahaan yang mengalami damage award.Selain itu, PPh juga
merupakan motivasi dalam manajemen laba. Pemilihan metode akuntansi dalam pelaporan laba akan
memberikan hasil yang berbeda terhadap laba yang dipakai sebagai dasar perhitungan pajak.
d. Motivasi pajak (taxation motivation)
Salah satu insentif yang dapat memicu manajer untuk melakukan rekayasa labaadalah untuk
meminimalkan pajak atau total pajak yang harus dibayarkan perusahaan.
e. Pergantian CEO (retirement of executive officer)
Banyak motivasi yang muncul saat terjadi pergantian CEO. Salah satunya adalah pemaksimalan laba
untuk meningkatkan bonus pada saat CEO mendekati masa pensiun.
f. IPO (initial public offering)
Perusahaan yang baru pertama kali menawarkan harga pasar, sehingga terdapatmasalah
bagaimana menetapkan nilai saham yang ditawarkan. Oleh karena itu, informasilaba bersih dapat
digunakan sebagai sinyal kepada calon investor tentang nilai.
Manajemen mengemukakan beberapa tujuan dilakukannya earnings management, diantaranya
adalah untuk memenuhi masing-masing tujuan dan kepentingan dalam rangka menjalankan kegiatan
bisnisnya, yaitu:
1. Manajemen laba dapat meningkatkan kepercayaan pemegang saham terhadap manajer.
Manajemen laba berhubungan erat dengan tingkat perolehan laba atau prestasi usaha suatu
organisasi, hal ini karena tingkat keuntungan atau laba dikaitka n dengan prestasi manajemen dan
juga besar kecilnya bonus yang akan diterima oleh manajer.
2. Manajemen laba dapat memperbaiki hubungan dengan pihak kreditor. Perusahaan yang terancam
default yaitu tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran utang pada waktunya, perusahaan
14

berusaha menghindarinya dengan membuat kebijakan yang dapat meningkatkan pendapatan
maupun laba. Dengan demikian akan memberi posisi bargaining yang relatif baik dalam negoisasi
atau penjadwalan ulang utang antara pihak kreditor dengan perusahaan.
3. Manajemen laba dapat menarik investor untuk menanamkan modalnya terutama pada perusahaan
go publik pada saat IPO.
3. KONSEKUENSI EKONOMIS LAPORAN KEUANGAN
Konsekuensi ekonomi adalah konsep yang menyatakan bahwa walaupun bertentangangan
dengan implikasi teori pasar modal efisien pilihan kebijakan akuntansi dapat mempengaruhi nilai suatu
perusahaan. Hal ini berarti kebijakan akuntansi dan perubahan kebijakan akuntansi tersebut
merupakan suatu permasalahan, terutama bagi manajemen. Hal ini dikarenakan akan mengakibatkan
manager mengubah hasil operasi perusahaan yang sesungguhnya.
Konsekuensi ekonomis muncul karena perusahaan melakukan kontrak seperti kompensasi
eksekutif dan kontrak utang. Adanya kontrak tersebut memberikan motivasi kepada manajemen untuk
melakukan pemilihan kebijakan akuntansi yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan yang
sesungguhnya. Oleh karena itu, kebijakan akuntansi yang digunakan dapat merupakan sumber
informasi yang penting bagi investor. Manajer dapat menggunakan sumber informasi berupa pilihan
kebijakan akuntansi sebagai signal tentang informasi perusahaan. Konsekuensi ekonomi diperlukan
untuk mengetahui respon pasar atas perubahan kebijakan akuntansi walaupun perubahan tersebut
tidak mempengaruhi secara langsung terhadap arus kas perusahaan.
Pelaporan keuangan memiliki beberapa konsekuensi ekonomis (economic consequences of
financial reporting) yakni:
1. Informasi keuangan dapat mempengaruhi distribusi kekayaan diantara investor. Investor yang
memperoleh informasi lebih banyak (mempekerjakan analis sekuritas) mungkin mampu
meningkatkan kekayaan mereka daripada investor yang kurang informasi.
2. Informasi keuangan dapat mempengaruhi tingkatan risiko yang diterima perusahaan. Fokus pada
jangka pendek, memiliki risiko lebih kecil, tetapi mungkin mengandung efek-efek jangka panjang
yang merugikan (long-term detrimental effects).
3. Informasi keuangan dapat mempengaruhi tingkat formasi modal dalam ekonomi dan menghasilkan
realokasi kekayaan antara konsumsi dan investasi dalam ekonomi.
4. Informasi keuangan dapat mempengaruhi bagaimana investasi dialokasikan dalam perusahaan.
15

DAFTAR PUSTAKA