Anda di halaman 1dari 6

1.

Gambaran Umum
Paper ini menjelaskan tentang penelitian secara eksperimen mengenai beton bertulang khususnya
pada balok-T yang diperkuat pada bagian gesernya menggunakan pengikat luar yaitu Carbon
Fiber-Reinforced Polymer (CFRP). Tujuan dari penelitian ini adalah:
Untuk mengetahui kemampuan geser, termasuk mode kegagalan balok yang diperkuat
dengan CFRP.
Menganalisa perilaku CFRP, tulangan utama, tulangan sengkang,
Untuk memverifikasi standar peraturan ACI 440.2T-02 (ACI Committee 440 2002), CSA
S806-02 (Canadian Standards Association 2002), dan fib TG9.3 (2001)
Dengan variasi parameter sebagai berikut:
Rasio CFRP (jumlah layer CFRP)
Rasio tulangan geser (jarak spasi)
Rasio panjang geser terhadap tinggi balok (efek tinggi balok)
2. BENDA UJI
Eksperimen dilakukan dengan 22 kali pada 11 balok-T skala penuh. Benda uji berupa balok-T
bentang 4520 mm, lebar sayap 508 mm, total tinggi 406 m, tebal badan 152 mm, dan tebal sayap
102 mm. tulangan longitudinal terdiri dari empat buah tulangan diameter 25 mm (dipasang
dalam 2 lapis) dan enam buah tulangan berdiameter 10 mm pada sisi atas sayap. Material
komposit CFRP dipasang secara menerus pada daerah yang diuji dengan bentuk-U bagian badan.
Keterangan :
S0 : menandakan benda uji tidak diberi tulangan sengkang
S1 : benda uji diberi tulangan sengkang dengan jarak s = d/2
S2 : benda uji diberi tulangan sengkang dengan jarak s = d/4
0L : tanpa CFRP
0,5L : setengah lapis CFRP
1L : 1 lapis CFRP
2L : 2 lapis CFRP
Tabel Sifat dan Proporsi Campuran Beton
3. Set Up pengujian
3.1 Pembebanan
Balok diuji lentur dalam tiga beban terpusat dengan jenis tumpuan sendi dan rol. Jenis
pembebanan ini dipilih karena memungkinkan dua tes yang akan dilakukan pada tiap benda uji .
Dua tahap pengujian yang dilakukan sebagai berikut:
1) Pembebanan dilakukan pada daerah salah satu ujung balok, jarak pembebanan adalah
sebesar a = 1,5d dari tumpuan terdekat , pola ini diberi label DB
2) Pembebanan dilakukan pada daerah ujung balok lainnya, dengan jarak pembebanan a =
3d dari tumpuan terdekat, pola ini diberi label SB
3.2 Instrumentasi
Displacement vertikal diukur pada posisi tepat dibawah beban bekerja dan pada tengah bentang
menggunakan linier displacement sensor. Dipasang juga pada tiap sisi tegak lurus tumpuan untuk
mengontrol apabila terjadi efek pergeseran yang tidak diinginkan.
Strain gauges ditemmpelkan pada tulangan transversal untuk mengukur deformasi sengkang
akibat perbedaan level pembebanan dan untuk memonitor kelelehannya. Deformasi yang dialami
oleh CFRP yang melilit balok diukur menggunakan displacement sensor yang disebut crack
gauges. Alat ukur ini dipasang secara vertikal pada sisi lateral sepanjang sumbu longitudinal
seperti strain gauges yang dipasang pada tulangan sengkang.
Strain gauges juga dipasang parallel pada tulangan memanjang (longitudinal), beton dan CFRP
pada bagian tarik.
3.3 Pengujian dan perekaman
Beban yang diterapkan menggunakan MTS hydraulic jack berkapasitas 500 kN. Semua tes
dilakukan dengan sistem displacement control kecepatan 2 mm/menit.
4. HASIL ANALISIS
Secara umum hasil analisis menjelaskan tentang :
Beban ketika pecah untuk mendapatkan kapasitas akibat penambahan CFRP
Hubungan beban lendutan untuk memperoleh kekakuan akibat penambahan CFRP
Pola retak dan mode kegagalan.
Data strain akan digunakan untuk mempelajari respon tulangan transversal dan CFRP sebagai
parameter.
4.1 Respon secara keseluruhan
Hasil menunjukkan bahwa kontribusi CFRP dalam menahan geser adalah sebesar 62% untuk
benda uji DB tanpa tulangan transversal, sedangkan untuk SB adalah sebesar 50%. Kontribusi
CFRP akan menurun hingga 15% jika menggunakan tulangan transversal pada rata-rata benda uji
DB, sedangkan untuk benda uji SB tidak ada hasil yang diperoleh.
Dari hasil uji juga diperoleh bahwa penambahan tebal CFRP (0L, 0,5L, 1L, 2L) tidak
menyebabkan penambahan pada kekuatan geser.
4.2 Respon defleksi
Gambar diatas menunjukkan bahwa benda uji DB memiliki kekakuan lebih tinggi tetapi lebih
getas
4.3 Mode kegagalan dan Pola Retak
Seluruh benda uji mengalami kegagalan geser, kecuali pada SB-S2 yang mengalami kegagalan
lentur. Pada benda uji DB tanpa CFRP retak terjadi pada gaya lintang sebesar 80 kN. Retak
diawali dari bagian tumpuan ke titik pembebanan yang membentuk sudut rata-rata 36.
Sedangkan untuk benda uji SB tanpa CFRP pola retak tergantung pada jarak tulangan sengkang
yang digunakan.
Pada benda uji yang diperkuat dengan CFRP secara menerus, proses penyebaran retak tidak
dapat diamati selama pengujian berlangsung, tetapi bisa diamati di akhir tahap pembebanan
dimana crack akan tiba tiba muncul pada sisi tekan. Kemudian untuk mengamati pola retaknya
CFRP yang melilit harus dikupas dengan hati-hati.
4.4 Analisis regangan
Grafik diatas menunjukkan hubungan antara gaya geser dengan strain yang terjadi pada CFRP.
Dari gambar tersebut dapat dipahami bahwa pada awal pembebanan, CFRP belum ikut
berkontribusi dalam menahan kapasitas beban. Pada tahap kedua, CFRP baru mulai meregang
pada beban sekitar 105 kN untuk benda uji DB dan 85 kN untuk benda uji SB. Strain pada CFRP
terus bertambah sampai pada ambang tertentu, tergantung pada ketebalan CFRP. Semakin tebal
CFRP, semakin rendah ambang batasnya. Pada tahap ketiga, regangan yang terjadi pada CFRP
mulai berkurang secara drastis yang disebabkan lokal debonding. Sedangkan strain yang terjadi
pada tulangan sengkang baru ikut berkontribusi ketika terjadi retak diagonal pertama.
4.5 Perbandingan hasil eksperimen dengan persamaan desain geser
Hasil yang didapat dari persamaan prediksi kekuatan geser ACI 440.2R-02 dan CSA-S806-02
untuk 0,5L dan 1L lebih besar dari hasil eksperimen. Perbedaan ini menjadi terlihat sangat
kontras ketika dilakukan perbandingan antara hasil prediksi dan eksperimen untuk benda uji 1L
dan 2L. Ini mengindikasikan bahwa persamaan belum memperhitungkan efek dari
ketebalan/kekakuan FRP. Hal ini terbukti ketika jumlah layer CFRP dua kali lipat maka hasil
prediksi yang didapat hasilnya sangat tinggi dan berbeda jauh dengan hasil eksperimen.