Anda di halaman 1dari 10

Tugas mandiri

PARASETAMOL (ASETAMINOFEN)

Disusun Guna Memenuhi Sebagian Syarat
Mengikuti Ujian Farmasi Kedokteran




Oleh
Ida Bagus Deny Prayudi
I1A008029

Pembimbing




BAGIAN FARMAKOLOGI & TERAPI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2012
BAB II
ISI

A. Struktur Kimia
Kata asetaminofen dan parasetamol berasal dari singkatan nama kimia
bahan tersebut, terdapat dua versi nama kimianya versi Amerika yaitu N-asetil-
para-aminofenol asetominofen. Sedangkan versi Inggris yaitu para-asetil-amino-
fenol parasetamol. Asetaminofen di Indonesia lebih dikenal dengan nama
parasetamol, dan tersedia dalam bentuk obat bebas (obat yang dapat dibeli tanpa
resep dokter).
Parasetamol adalah derivat para-amino-fenol. Parasetamol merupakan
metabolit fenasetin dengan efek antipiretik yang sama dan telah digunakan sejak
tahun 1893. Efek antipiretik ditimbulkan oleh gugus aminobenzen. Parasetamol
memilki sebuah cincin benzena, tersubsitusi oleh satu gugus hidroksil dan atom
nitrogen dari gugus amida pada posisi para. Senyawa ini dapat disintesis dari
senyawa asal fenol yang dinitrasikan menggunakan asam sulfat dan natrium nitrat.
Parasetamol dapat pula terbentuk apabila senyawa 4-aminofenol direaksikan
dengan senyawa asetat anhidrat. Berat molekul parasetamol adalah 151.17
dengan rumus kimianya C
8
H
9
NO
2.
Struktur kimia parasetamol dapat dilihat dari
Gambar 1 dan 2.



Gambar 1. Struktur kimia parasetamol

Gambar 2. Struktur kimia parasetamol 3dimensi
B. Indikasi
Di Indonesia, penggunaan parasetamol yaitu sebagai analgesik dan
antipiretik, telah menggantikan penggunaan salisilat. Sebagai analgesik,
parasetamol sebaiknya tidak diberikan terlalu lama karena kemungkinan
menimbulkan nefropati analgesik (kerusakan pada ginjal). Jika dosis terapi tidak
memberi manfaat, biasanya dosis lebih besar tidak menolong. Penggunaannya
untuk meredakan demam tidak seluas penggunaannya sebagai analgesik.
C. Farmakodinamika
Meskipun mekanisme kerja parasetamol secara pasti masih harus diteliti
lebih lanjut, tetapi telah diketahui bahwa parasetamol bekerja dengan cara
memblokade sintesis prostaglandin di hipotalamus melalui inhibisi
siklooksigenase-3 (COX-3), yang merupakan varian dari COX-1 yang terutama
ditemukan di otak dan sumsum tulang belakang. Reaksi sentral ini menghasilkan
suatu efek antipiretik dan analgetik.
Parasetamol juga mengurangi hiperalgesia melalui mediasi substansi P dan
mengurangi generasi nitrit oksida di tulang belakang yang disebabkan oleh
substansi P atau N-nitrosodimetilamin. Parasetamol secara tidak langsung juga
mengaktifasi reseptor dari cannabinoid-1.
Terlepas dari bagaimana mekanismenya, hasil klinis primer yang
dihasilkan dari penggunaan parasetamol adalah peningkatan dari toleransi nyeri
melalui suatu efek dari sistem saraf pusat. Potensi analgesik dari parasetamol
relatif rendah dan bergantung kepada dosis (....). Parasetamol tidak efek sebagai
suatu anti inflamasi karena tidak menghambat sintesis prostaglandin di luar dari
sistem saraf pusat.
Efek analgesik parasetamol serupa dengan salisilat yaitu menghilangkan
atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Parasetamol merupakan
penghambat biosintesis prostaglandin yang lemah. Efek iritasi, erosi dan
perdarahan lambung tidak terlihat pada kedua obat ini, demikian juga gangguan
pernafasan dan keseimbangan asam basa.

Gambar 3. Mekanisme Kerja Paracetamol
D. Farmakokinetika
Parasetamol diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna.
Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu jam dan massa paruh
plasma antara 1-3 jam. Obat ini tersebar keseluruh cairan tubuh. Dalam plasma
25% parasetamol terikat protein plasma. Metabolisme parasetamol terjadi di hati,
dimana obat ini dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati. Sebagian asetaminofen
(80%) dikonjugasikan dengan asam glukoronat dan sebagian kecil lainnya dengan
dengan asam sulfat, selain itu kedua obat ini dapat mengalami hidroksilasi.
Metabolit hasil hidroksilasi ini dapat menimbulkan methemoglobinemia
dan hemolisis eritrosit. Metabolit utamanya meliputi senyawa sulfat yang tidak
aktif dan konjugat glukoronida yang dikeluarkan lewat ginjal. Hanya sedikit
jumlah parasetamol yang bertanggungjawab terhadap efek toksik (racun) yang
diakibatkan oleh metabolit NAPQI (N-asetil-p-benzo-kuinon imina). Bila pasien
mengkonsumsi parasetamol pada dosis normal, metabolit toksik NAPQI ini segera
didetoksifikasi menjadi konjugat yang tidak toksik dan segera dikeluarkan melalui
ginjal. Namun apabila pasien mengkonsumsi parasetamol pada dosis tinggi,
konsentrasi metabolit beracun ini menjadi jenuh sehingga menyebabkan
kerusakan hati. Metabolisme parasetamol data dilihat di Gambar 3. Obat ini
diekskresi melalui ginjal, sebagian kecil sebagai parasetamol (3%) dan sebagian
besar dalam bentuk terkonjugasi.
.E. Efek samping
Efek samping parasetamol yang jarang terjadi seperti reaksi alergi berupa
eritem atau urtikaria dan gejala yang lebih berat berupa demam dan lesi pada
mukosa. Sedangkan efek samping yang sering terjadi antara lain reaksi
hipersensitivitas dan kelainan darah.


Gambar 3. Metabolisme Parasetamol
Pada penggunaan kronis dari 3-4 gram sehari dapat terjadi kerusakan hati,.
Akibat dosis toksis yang paling serius adalah nekrosis hati, nekrosis tubuli renalis
serta koma hipoglikemik dapat juga terjadi. Nekrosis hati ini dapat terjadi pada
dosis di atas 6 gram. Hepatotoksisitas dapat terjadi pada pemberian dosis tunggal
10-15 gram (200-250 mg /kgBB) parasetamol. Gejala pada hari pertama
keracunan akut parasetamol belum mencerminkan bahaya yang mengancam.
Anoreksi, mual dan muntah serta sakit perut terjadi dalam 24 jam pertama dan
dapat berlangsung selama seminggu atau lebih. Gangguan hepar dapat terjadi
pada hari kedua, dengan gejala peningkatan serum transaminase, laktat
dehidrogenase, kadar bilirubin serum serta pemanjangan masa protombin.
Aktivitas alkali fosfatase dan kadar albumin serum tetap normal. Kerusakan hati
dapat mengakibatkan ensefalopati, koma dan kematian. Kerusakan hati yang tidak
berat pulih dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan.
Masa paruh parasetamol pada hari pertama keracunan merupakan petunjuk
beratnya keracunan. Masa paruh lebih dari 4 jam merupakan petunjuk akan
terjadinya nekrosis hati dan masa paruh lebih dari 12 jam meramalkan akan
terjadinya koma hepatik. Penentuan kadar parasetamol sesaat kurang peka untuk
meramalkan terjadinya kerusakan hati.kerusakan ini tidak hanya disebabkan oleh
parasetamol, tetapi juga oleh radikal bebas., metabolit yang sangat reaktif yang
berkaitan dengan konvalen dengan makromolekul vital sel hati. Karena itu
hepatotoksisitas parasetamol meningkat pada penderita yang juga mendapatkan
barbiturate, antikonvulsi lain atau pada alkoholik yang kronis. Kerusakan yang
timbul berupa nekrosis sentriobularis. Keracunan akut ini biasanya diobati secara
simptomatik dan suprotif, tetapi pemberian senyawa sulfhidril tampaknya dapat
bermanfaat, yaitu dengan memperbaiki cadangan glutation hati. Cuci lambung
dan pemberian zat-zat penawar seperti asam amino N-asetilsistein atau metionin
cukup efektif bila diberikan per oral 24 jam setelah minum dosis toksik
parasetamol (sebaiknya 8-10 jam setelah intoksikasi).
Interaksi Obat
Apabila digunakan bersama rifampin dapat mengurangi efek analgetik
asetaminofen, sedangkan apabila digunakan bersama-sama dengan salah satu obat
seperti barbiturat, karbamazepin, hidantoin, dan isoniazid dapat meningkatkan
hepatotoksik asetaminofen.
Bentuk sedian dan dosis obat
Sediaan dalam bentuk tablet dan kapsul adalah 325mg, 500mg, 650mg.
dalam eliksir adalah 120, 160, 325mg/5ml, 500mg/15ml. Dalam bentuk larutan
adalah 100mg/ml, 120mg/2,5ml, dan supposituria adalah 120mg, 125mg, 325mg,
600mg, 650mg.
Dosis parasetamol oral untuk dewasa adalah 2-3 x 0,5-1 gram perhari
(dosis maksimal 4 gram), untuk anak-anak dosisnya adalah 4-6 x 10mg/kgBB
perhari. Sedangkan dosis parasetamol rektal adalah 20mg/kgBB/kali, untuk
dewasa 4 x 0,5-1 gram. Anak-anak usia 3-12 bulan: 2-3 x 120mg, usia 1-4 tahun:
2-3 x 240mg, usia 4-6:4 x 240mg dan usia 7-12 tahun 2-3 x 0,5mg.
DAFTAR PUSTAKA
1. Anonymous. Farmakologi Dan Terapi edisi 4. Jakarta: 2003.FKUI.
2. Tan HJ, Kirana R. Obat-obat Penting, khasiat, penggunaan dan efek
sampingnya. Edisi kelima. Jakarta:2002.

3. Daly FF, Fountain JS, Murray L, Graudins A, Buckley NA (March 2008).
"Guidelines for the management of paracetamol poisoning in Australia and
New Zealandexplanation and elaboration. A consensus statement from
clinical toxicologists consulting to the Australasian poisons information
centres". Med. J. Aust. 188 (5): 296301. PMID 18312195.

4. Khashab M, Tector AJ, Kwo PY (March 2007). "Epidemiology of acute liver
failure". Curr Gastroenterol Rep 9 (1): 6673. doi:10.1007/s11894-008-0023-x.
PMID 17335680.

5. Hawkins LC, Edwards JN,PI (2007). "Impact of restricting paracetamol pack
sizes on paracetamol poisoning in the United Kingdom: a review of the
literature". Drug Saf 30 (6): 46579. doi:10.2165/00002018-200730060-00002.
PMID 17536874.

6. Larson AM, Polson J, Fontana RJ, et al. (2005). "Acetaminophen-induced
acute liver failure: results of a United States multicenter, prospective study".
Hepatology 42 (6): 136472. doi:10.1002/hep.20948. PMID 16317692.

7. Bertolini A, Ferrari A, Ottani A, Guerzoni S, Tacchi R, Leone S (2006).
"Paracetamol: new vistas of an old drug". CNS drug reviews 12 (34): 25075.
doi:10.1111/j.1527-3458.2006.00250.x. PMID 17227290.

8. Bergman K, Mller L, Teigen SW (February 1996). "The genotoxicity and
carcinogenicity of paracetamol: a regulatory (re)view". Mutat Res 349 (2):
26388. doi:10.1016/0027-5107(95)00185-9. PMID 8600357.

9. Bradley, N (September 1996). "BMJ should use "paracetamol" instead of
"acetaminophen" in its index". BMJ 313 (7058): 689.

10. Lester D, Greenberg LA, Carroll RP (1947). "The metabolic fate of acetanilid
and other aniline derivatives: II. Major metabolites of acetanilid appearing in
the blood". J. Pharmacol. Exp. Ther. 90: 6875.