Anda di halaman 1dari 20

1

BERKAS PASIEN
A. Identitas Pasien
Nama : Ny. U
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 61 tahun
Status : Menikah
Alamat : Rawasari Timur RT 04/RW 02
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SD
Agama : Islam
No.Rekam medis : 3910/14
Puskesmas : Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih
Tanggal berobat : 14 Juli 2014

B. Anamnesa
Alloanamnesa yang dilakukan pada tanggal:
1. Keluhan Utama
BAK bercampur darah

2. Keluhan Tambahan
BAK sering tetapi sedikit-sedikit, demam, dan nyeri perut bagian bawah.

3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih dengan
keluhan BAK bercampur darah. Keluhan ini dirasakan sejak 3 hari
sebelum berobat ke Puskesmas. Darah yang keluar biasanya berwarna
kemerahan dan bercampur dengan air seni. Darah tidak menggumpal.
Keluhan ini dirasakan hilang timbul, tidak setiap kali BAK bercampur
dengan darah. Pasien sudah tidak mengalami menstrulasi sejak 10 tahun
yang lalu. Keluar nanah saat BAK tidak ada. Tidak ada pasir atau batu
yang keluar pada saat BAK. Pasien mengatakan bahwa selama satu
minggu ini ia menjadi lebih sering BAK, dalam satu hari dapat mencapai
2

lebih dari 20 kali, terutama pada malam hari. Walaupun pasien sering
BAK, namun air seni yang dikeluarkan sangatlah sedikit, bahkan
terkadang hanya menetes saja sehingga pasien merasa lampias saat BAK.
Pasien juga mengeluh demam sejak 5 hari yang lalu. Demam
dirasakan naik turun. Demam tidak disertai dengan menggigil. Selain itu,
pasien juga mengeluh nyeri pada perut bagian bawah. Nyeri yang
dirasakan tidak menjalar ke bagian tubuh lain. Keluhan ini dirasakan
hilang timbul, terutama sesaat setelah pasien BAK. Nyeri tersebut dapat
berlangsung sekitar dua sampai lima menit. Adanya nyeri pada pinggang
serta nyeri saat BAK disangkal pasien. Pasien mengaku nafsu makannya
menurun.
Selama 2 minggu terakhir, pasien mengaku sulit untuk menahan
BAK, sehingga pasien sering mengompol. Pasien sudah berusaha menahan
BAK, namun air seninya tetap saja keluar. Jika pasien mengompol, pasien
tidak segera berganti celana dalam atau membersihkan sisa BAK. Hal
tersebut dikarenakan pasien sibuk membersihkan rumah.
Pasien mengaku sudah minum obat penurun demam sebelumnya.
Obat tersebut dibeli pasien di warung. Obat tersebut berupa tablet
berwarna putih dimimun 3 x sehari. Namun, dikarenakan penyakitnya
tidak kunjung sembuh, akhirnya pasien berobat ke Puskesmas Kecamatan
Cempaka Putih diantar oleh suaminya.

4. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya.
Riwayat penyakit jantung ada yaitu pada ibu kandung pasien. Riwayat
penyakit ginjal tidak ada. Riwayat penyakit hati tidak ada. Riwayat
penyakit kencing manis tidak ada.

5. Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama
dengan pasien.

3



6. Riwayat Sosial Ekonomi :
Biaya hidup pasien dan anggota keluarga diperoleh dari penghasilan
suaminya yang bekerja sebagai pedagang serta anak keempat dan kelima
pasien yang bekerja sebagai karyawan swasta. Jumlah penghasilan mereka
sekitar Rp. 1.500.000 Rp.2.000.000 per bulan. Jumlah tersebut cukup
untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dengan lauk seadanya.
Sedangkan sebagian sisanya disisihkan untuk kebutuhan rumah tangga
lainnya seperti menabung, biaya berobat ke dokter, dan lain-lain.

7. Riwayat Kebiasaan
Pasien mengatakan bahwa ia memiliki kebiasaan minum teh sebanyak tiga
sampai empat gelas per hari. Pasien jarang sekali minum air putih. Dalam
satu hari ia hanya minum air putih sebanyak dua atau tiga gelas saja.
pasien mengaku sulit untuk menahan BAK, sehingga pasien sering
mengompol. Pasien sudah berusaha menahan BAK, namun air seninya
tetap saja keluar. Jika pasien mengompol, pasien tidak segera berganti
celana dalam atau membersihkan sisa BAK. Hal tersebut dikarenakan
pasien sibuk membersihkan rumah. pasien sehari-hari bekerja sebagai ibu
rumah tangga. Pekerjaan rumah tangga dilakukan tanpa bantuan anak
pasien karena anak pasien sibuk bekerja.
Pasien biasa membilas sisa BAK dan BAB dari arah depan ke
belakang. Setelah membilas sisa BAK dan BAB, pasien tidak
mengeringkan organ intimnya sebelum menggunakan celana dalam.
Pasien biasa menggunakan celana dalam 2x dalam satu hari. Pakaian
dalam dicuci dengan menggunakan sabun deterjen dan air yang berasal
dari sumur bor. Jamban pasien digunakan bersama-sama dengan anggota
keluarga yang lain. Jamban biasanya dibersihkan 3 hari sekali.



4


C. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik tanggal 14 Juli 2014:
1. Keadaan Umum : tampak sakit sedang

2. Vital Sign
- Tekanan darah : 110/70
- Nadi : 76 x/menit
- Respirasi : 20 x/menit
- Suhu : 38
0
C

3. Status Generalis
- Berat badan : 58 kg
- Tinggi badan : 160 cm
- IMT : 58 kg/(1,60 m)
2

= 22,65 kg/m
2
(gizi normal)
4. Status Lokalis
- Kepala : bentuk oval, simetris
- Rambut : hitam beruban, tumbuh lebat, tidak mudah dicabut
- Mata : konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-)
pupil bulat, isokor
- Hidung : septum tidak deviasi, tidak ada sekret
- Telinga : nyeri tekan tragus (-), serumen (-), membran timpani
intak (+)
- Mulut : bibir tidak sianosis, lidah tidak kotor, tonsil T
1
-T
1

- Leher : pembesaran KGB dan tiroid (-), trakea di tengah
- Paru-paru
Inspeksi : pergerakan dinding dada simetris kanan dan kiri
Palpasi : fremitus taktil dan vokal simetris kanan dan kiri
Perkusi : sonor seluruh lapang paru, peranjakan paru-hati (+)
Auskultasi : vesikuler kanan dan kiri, rhonki (-), wheezing (-)

5


- Jantung
Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : iktus kordis teraba di ICS V linea midklavikula sinistra
Perkusi
Batas jantung kanan : ICS V linea sternalis dextra
Batas jantung kiri : ICS V linea midklavikula sinistra
Batas pinggang jantung : ICS III linea parasternalis sinistra
Auskultasi : bunyi jantung I dan II normal, murmur (-), gallop (-)

- Abdomen
Inspeksi : simetris, datar, kelainan kulit (-), pelebaran vena (-)
Auskultasi : bising usus normal, bising aorta abdominalis terdengar
Palpasi : nyeri tekan suprapubik (+), nyeri lepas (+), nyeri ketuk (-)
hepatomegali (-), spleenomegali (-)
Perkusi : timpani di semua lapang abdomen, nyeri ketuk (-)
- Genitalia : tidak diperiksa
- Ekstrimitas : akral hangat, edema (-), sianosis (-)




D. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan urinalisa tanggal 14 Juli 2014:
- Warna urin : keruh
- Darah : +2
- Protein : +2
- Sendimen leukosit : penuh (tidak terhitung)
- Sendimen eritrosit : 25 50
- Epitel : +4


6


BERKAS KELUARGA
A. Profil Keluarga
1. Karakteristik Keluarga
a. Identitas Kepala Keluarga
Nama : Tn. D
Usia : 63 Tahun
b. Identitas Istri
Nama : Ny. U
Usia : 61 tahun
c. Identitas Anak Pertama
Nama : Tn. J
Usia : 40 tahun
d. Identitas Anak Kedua
Nama :Ny. B
Usia : 36 tahun
e. Identitas Anak Ketiga
Nama : Ny. E
Usia : 33 tahun
f. Identitas Anak Keempat
Nama : Tn. R
Usia : 28 tahun
g. Identitas Anak Kelima
Nama : Nn. N
Usia : 23 tahun







7


2. Struktur Komposisi Keluarga
Tabel 1. Anggota Keluarga yang Tinggal serumah
No Nama Status
keluarga
Gender Usia Pendidika
n
Pekerjaan Penghasilan
1. Tn. D Kepala
keluarga
L 63 th SMP Pedagang
gorengan
Rp.1.000.000/
bulan
2. Ny. U Istri P 61 th SD IRT -
3. Tn. R Anak ke-4 P 28 th SMA Karyawan Rp.1.500.000/
bulan
4. Nn. N Anak ke-5 P 23 th SMA Karyawan Rp.1.750.000/
bulan

Tn. D dan Ny. U mempunyai lima anak. Dua orang di antara mereka
tinggal bersama Tn. D dan Ny. N, sedangkan tiga orang lainnya tidak tinggal
bersama mereka karena sudah berkeluarga. Anak pertama Tn. D dan Ny. N,
bernama Tn. J (40 tahun), ia sudah menikah dan tinggal di rumah keluarga
istrinya yang terletak tidak jauh dari rumah Ny. N. Tn. J memilki tiga orang anak,
dua orang anak laki-laki dan satu orang anak perempuan. Anak kedua dan ketiga
Tn. D dan Ny. N, bernama Ny. B (36 tahun) dan Ny. E (33 tahun) tinggal diluar
kota bersama suaminya. Ny. B memiliki dua orang anak perempuan dan Ny. E
memilki dua orang anak, satu anak laki-laki dan satu anak perempuan.










8

3. Penilaian Status Sosial dan Kesejahteraan Hidup
a. Lingkungan Tempat Tinggal

Tabel 2. Lingkungan Tempat Tinggal
Status kepemilikan rumah: milik sendiri
Daerah perumahan: padat
Karakteristik Rumah dan Lingkungan Kesimpulan
Luas rumah: 9 x 6 m
2
Rumah dengan total penghuni
empat orang, memiliki
ventilasi dan penerangan
cukup baik, terdapat jamban
keluarga, ketersediaan air
bersih dan tempat
pembuangan sampah yang
cukup memadai. Lokasi
tempat tinggal pasien berada
di lingkungan komplek
perumahan padat bersih dan
ramai.

Jumlah penghuni dalam satu rumah: 4 orang
Luas halaman rumah: teras 2 x 1 m
2

Bertingkat/tidak bertingkat: tidak bertingkat
Lantai rumah terbuat dari: lantai
Dinding rumah terbuat dari: tembok
Jamban keluarga: ada
Tempat bermain: tidak ada
Penerangan listrik: 900 watt
Air bersih: ada (PAM)
Tempat pembuangan sampah: ada



b. Kepemilikan Barang-Barang Berharga
Ny. U memiliki beberapa barang elektronik di rumahnya antara lain
yaitu, satu buah televisi berwarna yang terlatak di ruang tamu, satu
buah kipas angin yang terletak di kamar tidur Ny. U, satu buah
dispenser serta satu buah kompor gas yang terletak di dapur. Selain itu,
Ny. U juga memiliki dua buah sepeda motor yang biasa digunakan
suaminya dan anaknya untuk bekerja.


9

c. Denah rumah

6 m
3. Penilaian Perilaku Kesehatan Keluarga
a. Tempat Berobat : Puskesmas Kecamatan
b. Asuransi/Jaminan Kesehatan : Kartu BPJS

4. Sarana Pelayanan Kesehatan (Puskesmas)
Tabel 3. Pelayanan Kesehatan
Faktor Keterangan Kesimpulan
Cara mencapai pusat
pelayanan kesehatan
Motor Pasien berobat ke puskesmas dengan
motor dari rumahnya, sekitar 15 menit.
Tarif berobat gratis. Untuk kualitas
pelayanan kesehatan dikatakan cukup
memuaskan.
Tarif pelayanan
kesehatan
Gratis
Kualitas pelayanan
kesehatan
Cukup
memuaskan

4. Pola Konsumsi Makanan Keluarga
a. Kebiasaan Makan
Kamar
tidur
anak
9 m
10

Keluarga Ny. U makan sebanyak dua sampai tiga kali sehari.
Biasanya mereka makan pada siang dan malam hari. Sedangkan pagi
harinya, mereka tidak membiasakan diri untuk sarapan pagi, hanya
sesekali waktu saja mereka menyempatkan diri untuk sarapan pagi.
Makanan yang dimakan oleh keluarga Ny. U dimasak sendiri oleh
Ny. U. Namun tidak semua anggota keluarga dapat ikut makan
bersama, terutama makan siang, karena sebagian dari mereka masih
beraktivitas di luar rumah.
Keluarga Ny. U biasa makan di ruang makan. Mereka juga selalu
membiasakan diri untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan
serta merapikan dan membersihkan peralatan makan mereka setelah
selesai makan.

b. Penerapan Pola Gizi Seimbang
Keluarga Ny. U belum dapat memenuhi pola gizi seimbang. Hal ini
dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang gizi seimbang dan
keterbatasan biaya untuk memenuhi gizi seimbang. Adapun menu
makanan sehari-hari yang sering dimasak oleh Ny. U antara lain nasi,
sayur-sayuran seperti bayam dan kangkung, tahu, tempe, telur, dan ikan
seperti ikan bilis, ikan kuek. Sedangkan menu lainnya seperti daging
dan buah-buahan jarang sekali dikonsumsi.
Pola makan pasien tiga hari terakhir ialah :
- Tanggal 11 Juli 2014
Pagi : teh manis, nasi, ikan goreng
Siang : Nasi, ikan goreng, tempe
Sore : Nasi, tempe, telur
- Tanggal 12 Juli 2014
Pagi : teh manis, nasi, telur
Siang : Nasi, tahu, ikan goreng, sayur
Malam : Nasi, tahu, ikan goreng
- Tanggal 13 Juli 2014
Pagi : teh manis, bubur ayam
11

Siang : nasi, ayam, sayur
Malam : nasi, telur

5. Pola Dukungan Keluarga
a. Faktor Pendukung Terselesaikannya Masalah dalam Keluarga
Suami Ny. U senantiasa memberikan dukungan kepada
Ny. U agar dapat sembuh dari penyakitnya dengan cara:
1. mengantar Ny. U berobat ke puskesmas jika sakit.
2. mengingatkan Ny. U untuk minum obat dari dokter secara rutin.
3. mengingatkan Ny. U untuk segera kontrol ke puskesmas jika
obat habis.
4. mengingatkan Ny. U agar lebih banyak mengkonsumsi air putih
dan mengurangi konsumsi teh
5. mengingatkan Ny. U untuk menjaga kebersihan organ intim dan
sering mengganti celana dalam jika mengompol
6. membantu melayani keperluan Ny. U selama sakit


b. Faktor Penghambat Terselesaikannya Masalah dalam Keluarga
Adapun faktor-faktor yang menghambat dalam kesembuhan Ny. U
antara lain:
1. Anak-anak pasien kurang memberikan perhatian terhadap
penyakit pasien karena sibuk dengan urusan pekerjaan dan
keluarga masing-masing.
2. Kurangnya pengetahuan keluarga tentang penyakit yang diderita
oleh Ny. U sehingga mereka tidak dapat mencegah faktor-faktor
yang dapat memperburuk penyakit.



12

3. Kurangnya kesadaran anggota keluarga untuk hidup sehat,
seperti tidak membiasakan diri untuk berolah raga, sarapan pagi,
dan makan dengan makanan yang bergizi seimbang.


B. Genogram
1. Bentuk Keluarga
Bentuk keluarga ini adalah nuclear family (keluarga inti) dimana terdiri
dari suami (Tn. D), istri (Ny. U), anak keempat (Tn. R) dan anak kelima
(Nn. N) yang tinggal dalam satu rumah.


2. Tahapan Siklus Keluarga
Menurut Duvall (1977) dikutip dalam Friedman (1998), keluarga Tn. D
berada pada tahapan siklus keluarga yang ke tujuh, yaitu keluarga orang
tua usia pertengahan (middle-anged family).


3. Family map



















Tn. M Ny. T
Tn. J, 40
Ny. U, 61
Tn. D, 63
Tn. R, 28 Ny. E,33
Ny. B. 36
Nn. N, 263
13

Keterangan gambar:
: pasien perempuan
: laki-laki
: perempuan
: garis perkawinan
: garis keturunan
: : dalam satu rumah

Tn. M dan Ny. T merupakan orang tua kandung dari Ny. U. Tn. M
meninggal pada saat usia 70 tahun karena tidak mau makan. Sedangkan
Ny. T meninggal pada saat usia 75 tahun karena penyakit jantung.


C. Identifikasi Permasalahan yang Didapat dalam Keluarga
Ada beberapa permasalahan yang dapat ditemukan pada keluarga ini yaitu:
1. Masalah dalam organisasi keluarga :
Pasien adalah seorang istri yang bekerja sebagai ibu rumah tangga.sehari-
hari pasien membersihkan rumahnya sendiri tanpa bantuan dari orang lain.
Suami pasien adalah seorang pedagang gorengan dan menjadi tulang
punggung keluarga. Kedua anak yang tinggal dirumah, yang masing-
masing berusia 28 tahun dan 23 tahun juga memberikan sedikit
penghasilannya sebagai tambahan pendapatan keluarga. Anak pasien
kurang memperhatikan Ny. U karena sibuk dengan pekerjaan dan keluarga
masing-masing. Suami pasien memiliki peran yang sangat penting dalam
menemani pasien berobat, mengingatkan agar pasien banyak minum air
putih, mengurangi minum teh, dan sering mengganti celana dalam ketika
mengompol.
2. Masalah dalam fungsi biologis :
Faktor usia menyebabkan penurunan fungsi tubuh, termasuk fungsi
perkemihan, sehingga pasien sering sulit menahan BAK dan kebiasaan
pasien tidak berganti celana dalam ketika basah juga yang menunjang
faktor resiko terjadinya infeksi saluran kemih.



14


3. Masalah dalam fungsi psikologis:
Pasien dan suami pasien adalah sepasang suami istri yang sudah lansia.
Pasien menderita penyakit infeksi saluran kemih sedangkan suami pasien
dalam keadaan sehat. Pasangan suami istri ini saling mendukung satu sama
lain tetapi dukungan dari anak-anak mereka kurang karena sibuk dengan
pekerjaan dan keluarga masing-masing.

4. Masalah dalam fungsi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan:
Perekonomian keluarga bergantung dari penghasilan suami pasien dan
uang kiriman anak pasien untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya
berobat. Penghasilannya diakui cukup untuk memenuhi kebutuhan
keluarganya bila pasien dan istri melakukan penghematan. Untuk biaya
kesehatan, pasien telah memiliki Kartu BPJS dari program kesehatan
Pemerintah. Dengan begitu pasien dapat berobat gratis.

5. Masalah lingkungan :
Lingkungan tempat tinggal pasien merupakan lingkungan cukup padat
penduduk dengan letak rumah yang berdekatan satu sama lainnya.
Kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal tergolong cukup bersih.
Terdapat selokan yang masih mengalir dengan baik di sekitar tempat
tinggal dan tempat sampah yang diangkut petugas kebesihan sehari-
harinya..
6. Masalah perilaku kesehatan :
Ny. U jarang mengkonsumsi air putih dan lebih seirng minum teh. Ny. U
tidak segera membersihkan sisa BAK dan tidak segera mengganti celana
dalam jika basah terkena air seni. Apabila sakit, pasien dan keluarga
biasanya akan minum obat warung terlabih dahulu. Bila tidak ada
perbaikan, pasien pergi berobat ke puskesmas.



15

D. Diagnosis Holistik
1. Aspek Personal
Pasien datang berobat ke puskesmas dengan keinginan sendiri karena
merasa sakitnya bertambah berat. Pasien memiliki harapan untuk dapat
sembuh dari penyakitnya. Pasien memiliki kekhawatiran akan
mengkonsumsi obat dalam jangka waktu yang lama sehingga akan
menambah penyakit akibat efek samping obat. Pasien juga
mengkhawatirkan kesehatan suaminya. Pasien khawatir jika suaminya
terlalu lelah dalam menemani pasien berobat dan bekerja mencari nafkah.

2. Aspek Klinik
Berdasarkan hasil anamnesa yaitu BAK berwarna keruh, BAK sedikit-
sedikit tetapi sering, nyeri pada suprapubik, nyeri sesaat setelah BAK dan
pada pemeriksaan fisik ditemukaan nyeri tekan pada suprapubik serta dan
pemeriksaan penunjang yaiu pemeriksaan urinalisa ditemukan hematuria,
leukosuria, dan ditemukan sel epitel pada urin, dapat disimpulkan sebagai
berikut:
- Diagnosis Kerja : Infeksi Saluran Kemih
- Diagnosis Banding : Batu Saluran kemih
Diagnosis banding batu saluran kemih dapat disingkirkan dari tidak
adanya keluhan BAK berpasir dan tidak ditemukan nyeri ketok CVA.

3. Aspek Risiko Internal
Penyakit infeksi saluran kemih (ISK) dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor internal antara lain jenis kelamin, usia, daya tahan tubuh dan
kebiasaan pasien. ISK memang lebih sering dialami oleh wanita dari pada
pria. Hal ini dikarenakan adanya perbedaaan anatomi antara uretra pria dan
wanita. Wanita mempunyai uretra yang lebih pendek dari pada laki-laki
dan terletak lebih dekat dengan anus sehingga lebih mudah terinfeksi oleh
bakteri. Pada seorang yang berusia lanjut akan mengalami penurunan
kemampuan untuk melawan agen penyebab infeksi, hal ini disebabkan oleh
disfungsi sistem imunitas. Selain penurunan status imunitas, bertambahnya
16

usia seseorang, khususnya perempuan, akan berdampak pada penurunan
kadar hormon esterogen ( menepouse). Penurunan esterogen menyebabkan
perubahan pH vagina menjadi lebih basa sehingga kuman cepat
berkembang biak karena perlindungan terhadap mukosa vagina berkurang.
Pada seorang lanjut usia juga terdapat penurunan fungsi tubuh, termasuk
fungsi sistem perkemihan sehingga pada orang lanjut sia sering sulit
menahan BAK dan mengompol. Jika sisa BAK tidak segera dibersihkan
akan mempermudah perkembangbiakan kuman. Selain usia, kebiasaan
pasien juga dapat mempengaruhi terjadinya ISK, seperti kebiasaan kurang
minum air putih, seperti yang dilakukan oleh Ny. U. Sedangkan kurang
minum air putih dapat menghambat pengeluaran air seni, dan itu berarti
menghambat pengeluaran kuman yang terdapat di dalam air seni tersebut.

4. Aspek Psikososial Keluarga
Di dalam keluarga terdapat faktor-faktor yang dapat menghambat dan
mendukung kesembuhan pasien. Di antara faktor-faktor yang dapat
menghambat kesembuhan pasien yaitu, kurangnya dukungan dari anak
pasien terhadap penyakit pasien, kurangnya pengetahuan keluarga tentang
penyakit yang diderita pasien, serta kurangnya kesadaran keluarga untuk
hidup sehat. Sedangkan faktor pendukung kesehatan pasien yang berasal
dari keluarga ialah adanya dukungan dari suami pasien dengan menjaga
pola makan pasien, membantu mengubah kebiasaan pasien dan menemani
pasien berobat. Pasien juga memiliki biaya pengobatan yang gratis dari
BPJS.

5. Aspek Fungsional
Secara aspek fungsional, pasien berada pada tingkat dua dimana ada sedikit
kesulitan dalam melakukan kegiatan sehari-hari.



17

E. Rencana Pelaksanaan
Aspek Kegiatan Sasaran Waktu Hasil yang diharapkan
Aspek
Personal
1. Menjelaskan kepada pasien bahwa setiap
penyakit itu ada obatnya dan bisa
disembuhkan dengan izin Allah. Manusia
hanya bisa berusaha, salah satunya dengan
cara berobat ke dokter, terus bersabar dan
berdoa kepada Allah untuk kesembuhan
penyakitnya.
2. Menjelaskan kepada pasien bahwa
kesembuhan penyakit juga dapat
dipengaruhi oleh adanya keyakinan dalam
diri pasien sendiri. Jika pasien memiliki
keyakinan dan semangat untuk sembuh,
maka penyakit tersebut akan lebih mudah
untuk disembuhkan.




Pasien Pada saat
kunjungan
ke rumah
(satu kali)
1. Pasien mau segera berobat jika sakit
2. pasien menjadi optimis bahwa
penyakitnya dapat disembuhkan.
18

Aspek Kegiatan Sasaran Waktu Hasil yang diharapkan
Aspek Klinik 1. Menjelaskan kepada pasien tentang
penyakit yang dideritanya yakni infeksi
saluran kemih (definisi, penyebab, gejala.)
2. Menjelaskan kepada pasien tentang aturan
minum obat sebagai berikut:
a. Ciprofloxacin 2 x 250 mg tablet selama
7 hari
b. Paracetamol 3 x 500 mg tablet (jika
demam atau nyeri)
3. Menjelaskan kepada pasien untuk berlatih
senam kegel yang berfungsi untuk
memperkuat fungsi otot perkemihan
Pasien Pada saat
kunjungan
ke
puskesmas
(satu kali)
1. Pasien dapat memahami dengan baik
tentang penyakit yang sedang
dideritanya sehingga di kemudian
hari ia dapat mengupayakan
pencegahan untuk penyakitnya
tersebut.
2. Pasien dapat minum obat dengan
teratur dan kontrol kembali ke
puskesmas jika obat habis.
3. Pasien dapat melaksanakan senam
kegel sehingga dapat mengurangi
faktor resiko penyakitnya
Aspek Risiko
Internal
Menjelaskan kepada pasien bahwa salah satu
penyebab dari penyakit yang dideritanya adalah
akibat dari kebiasaan hidupnya yang kurang
sehat, seperti tidak membiasakan diri untuk
minum air putih, membiasakan diri untuk
ssering berganti celana dalam jika basah,

Pasien Pada saat
kunjungan
ke
puskesmas
(satu kali)
Pasien dapat meninggalkan kebiasaan-
kebiasaan hidup yang kurang sehat yang
dapat menyebabkan timbulnya penyakit,
sehingga penyakit yang dideritanya saat
ini tidak bertambah buruk ataupun
kambuh lagi di kemudian hari.
19

Aspek Kegiatan Sasaran Waktu Hasil yang diharapkan
Aspek
Psikososial
Keluarga
c. Menjelaskan kepada pasien dan
keluarganya tentang penyakit yang diderita
pasien (definisi, penyebab, gejala, dan
terapinya).
d. Menjelaskan kepada pasien dan
keluarganya tentang perilaku hidup sehat.
e. Menganjurkan anak-anak pasien agar lebih
memberikan dukungan dan perhatian
kepada pasien.

Pasien
dan
keluraga
Pada saat
kunjungan
ke rumah
(satu kali)
1. Pasien dan keluarganya dapat
memahami dengan baik tentang
penyakit yang sedang diderita
pasien sehingga di kemudian hari
mereka dapat mengupayakan
pencegahan untuk penyakit tersebut.
2. Anak pasien lebih memperhatikan
dan memberikan dukungan kepada
pasien.
3. Pasien dan keluarganya dapat
berperilaku hidup sehat dengan
membiasakan sarapan pagi, makan
makanan bergizi
Aspek
Fungsional
Menyarankan kepada pasien untuk melakuakan
aktivitas jasmani setelah sembuh dengan
berolahraga yang ringan-ringan saja seperti
jalan sehat atau senam.
Pasien Pada saat
kunjungan
ke rumah
(satu kali)
Kondisi tubuh pasien menjadi lebih sehat
dan bugar serta kualitas hidupnya
meningkat.


20

F. Prognosis
1. Ad vitam : ad bonam
2. Ad sanasionam : dubia
3. Ad fungsionam : ad bonam