Anda di halaman 1dari 24

Agung Hartanto/07120100084 | 1

Kata Pengantar

Pertama tama saya panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas rahmat dan izin-Nya saya dapat menyelesaikan referat ini. Referat berjudul Pemeriksaan
Urologi ini disusun guna memenuhi tugas ujian mayor kepaniteraan klinik Ilmu Bedah di
Rumah Sakit Angkatan Laut Marinir Cilandak. Saya sebagai penyusun mengucapkan
terimakasih yang sebesar-besarnya kepada dr. Isdiyanto Sp.U yang telah membimbing
penyusun dalam mengerjakan referat ini, serta kepada seluruh dokter yang telah membimbing
penyusun selama di kepaniteraan klinik Ilmu Bedah di Rumah Sakit Angkatan Laut Marinir
Cilandak.
Dan juga ucapan terima kasih kepada teman-teman seperjuangan di kepaniteraan ini,
serta kepada semua pihak yang telah memberi dukungan dan bantuan kepada penyusun.
Dengan penuh kesadaran dari penyusun, meskipun telah berupaya semaksimal mungkin
untuk menyelesaikan referat ini, namun masih terdapat kelemahan dan kekurangan. Oleh
karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat penyusun harapkan. Akhir kata,
penyusun mengharapkan semoga referat ini dapat berguna dan memberikan manfaat bagi kita
semua.
Agung Hartanto/07120100084 | 2

Daftar Isi
Kata Pengantar ........................................................................................................................ 1
Pendahuluan ............................................................................................................................. 3
I. Anatomi ................................................................................................................... 4
II. Anamnesis dan riwayat penyakit........................................................................10
III. Pemeriksaan Fisik ................................................................................................ 17
IV. Daftar pustaka......................................................................................................24

Agung Hartanto/07120100084 | 3

PENDAHULUAN

Untuk menegakkan kelainan kelainan urologi, dapat dilakukan pemeriksaan
pemeriksaan dasar dengan seksama dan sisrtematis mulai dari
Pemeriksaan subjektif yaitu mencermati keluhan yang disampaikan oleh pasien
yang digali melalui anamnesis yang sistematis.
Pemeriksaan objektif yaitu melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien untuk
mencari data data yang objektif mengenai keadaan pasien.
Pemeriksaan penunjang yaitu melakukan pemeriksaan pemeriksaan laboratorium,
radiologi atau imaging (pencitraan), uroflowmetri, atau urodinamika, elektromiografi,
endourologi, dan laparaskopi.



















Agung Hartanto/07120100084 | 4

I. Anatomi

GINJAL
Ginjal adalah sepasang organ saluran kemih yang terletak di rongga
retroperitonial bagian atas, berbentuk mirip kacang dengan sisi cekung menghadap ke
medial. Pada hilus terdapat pembuluh darah, sistem limfatik, sistem saraf dan ureter
meninggalkan ginjal. Secara anatomis ginjal terbagi menjadi 2 bagian yaitu korteks
dan medula ginjal. Di dalam korteks terdapat berjuta-juta nefron, sedangkan di dalam
medula banyak terdapat duktuli ginjal. Nefron adalah unit fungsional terkecil dari
ginjal yang terdiri atas tubulus kontortus proksimalis, tubulus kontortus distalis dan
duktus kolegentes. Urin yang terbentuk di dalam nefron akan disalurkan melalui
piramida ke sistem pelivaklises ginjal untuk kemudian disalurkan ke dalam ureter.
Sistem pelvikalises ginjal terdiri atas kalis minor, infundibulum, kalis major dan
pielum/pelvis renalis.
Fungsi ginjal, selain membuang sisa-sisa metabolisme tubuh melaljui urine,
ginjal berfungsi juga dalam (1) mengontrol sekresi hormon-hormon aldosteron dan
ADH (anti diuretic hormone) dalam mengatur jumlah cairan tubuh, (2) mengatur
metabolisme ion kalsium dan vitamin D, (3) menghasilkan beberapa hormon, antara
lain eritropoetin yang berperan dalam pembentukan sel darah merah, renin yang
berperan dalam mengatur tekanan darah, serta hormone prostaglandin.












Agung Hartanto/07120100084 | 5

Biasanya ada satu arteri renalis, cabang dari aorta yang masuk ke hilum ginjal
antara pelvis yang normalnya berada di posterior dan vena renalis. Ini bisa bercabang
sebelum memasuki ginjal dan dua atau lebih arteri yang terpisah bisa dilihat. Arteri
renalis dibagi menjadi cabang posterior dan anterior. Cabang posterior memperdarahi
area mid segmen di posterior. Cabang anterior memperdarahi pole atas dan bawah
serta bagian anterior. Arteri renalis adalah end arteri.

URETER
Ureter adalah organ yang berbentuk tabung kecil yang berfungsi mengalirkan urine
dari pielum ginjal ke dalam buli-buli. Jika terjadi sumbatan pada aliran urine, terjadi
kontraksi otot polos yang berlebihian yang bertujuan untuk mendorong/mengeluarkan
sumbatan itu dari saluran kemih. Kontraksi itu dirasakan sebagai nyeri kolik yang
datang secara berkala, sesuai dengan irama peristaltik ureter. Sepanjang perjalanan
ureter dari pielum menuju buli-buli, secara anatomis terdapat beberapa tempat yang
ukuran diameternya relatif lebih sempit daripada di tempat lain, sehingga batu atau
benda-benda lain yang berasal dari gunjal seringkali tersangkut di tempat itu.
Penyempitan tersebut adalah (1) perbatasan antara pelvis renalis dan ureter, atau
pelvi-ureter junction, (2) tempat ureter menyilang arteri iliaka di rongga pelvis, dan
(3) pada saat ureter masuk ke buli-buli.

BULI-BULI
Buli-buli adalah organ berongga yang terdiri atas 3 lapis otot detrusor yang saling
beranyaman. Secara anatomik bentuk buli-buli terdiri atas 3 permukaan, yaitu (1)
permukaan superior yang berbatasan dengan rongga peritonium, (2) dua permukaan
inferiolateral, dan (3) permukaan posterior. Permukaan superior merupakan lokus
minoris (daerah terlemah) dinding buli-buli. Buli-buli berfungsi menampung urine
dari ureter dan kemudian mengeluarkan melalui uretra dalam mekanisme miksi
(berkemih). Kapasitas buli-buli dalam menampung urin pada orang dewasa kurang
lebih adalah 300-450 ml, sedangkan kapasitas buli-buli pada anak menurut
formula dari Koff adalah:



Kapasitas buli-buli = {Umur (tahun) + 2} x 30
Agung Hartanto/07120100084 | 6

Pada saat kosong, buli-buli terletak di belakang simfisis pubis dan pada saat penuh
berada di atas simfisis sehingga dapat dipalplasi dan diperkusi.














URETRA
Uretra merupakan tabung yang menyalurkan urine ke laur dari buli buli
melalui proses miksi, dan secara anatomis dibagi menjadi uretra posterior dan uretra
anterior. Panjang uretra pada wanita kurang lebih 3-5 cm, sedangkan pada pria
kurang lebih 23-25 cm. Perbedaan panjang inilah yang menyebabkan hambatan
pengeluaran urine lebih sering terjadi pada pria. Uretra posterior pria terdiri atas
uretra pars prostatika, yaitu bagian uretra yang dilingkupi oleh kelenjar prostat, dan
uretra pars membranacea. Uretra anterior adalah bagian uretra yang dibungkus oleh
korpus spngiosum penis, dan terdiri atas (1) pars bulbosa, (2) pars pendularis, (3)
fossa navikularis, dan (4) meatus uretra eksterna. Di dalam lumen anterior terdapat
beberapa muara kelenjar yang berfungsi dalam proses reproduksi.
Panjang uretra wanita kurang lebih 4 cm dengan diameter 8 mm, dan berada di
bawah simfisis pubis dan bermuara di sebelah anterior vagina. Di dalam uretra
bermuara kelenjar periuretra, di antaranya kelenjar skene.
Agung Hartanto/07120100084 | 7



PROSTAT
Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior buli-buli, di
depan rektum dan membungkus uretra posterior. Prostat berbentuk sebagai buah
kemiri dengan ukuran 4x3x2,5 cm dan beratnya kurang lebih 20 gram. Prostat
menghasilkan suatu cairan yang meruapakn salah satu komponen dari cairan ejakulat.
Cairan ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan bermuara di uretra posterior dan
dikeluarkan berasama cairan semen lain saat ejakulasi. Jika kelenjar ini mengalami
Agung Hartanto/07120100084 | 8

hiperplasia jinak atau berubah menjadi kanker ganas, dapat mengobstruksi uretra
posterior dan mengakibatkan terjadinya obstruksi saluran kemih.

TESTIS
Testis adalah organ genetalia pria yang terletak dalam skrotum. Ukuran pada
orang dewasa adalah 4x3x2,5 cm, dengan volume 15-25 ml berbentuk ovoid. Di
luar tunika albuginea terdapat tunika vaginalis yang terdiri atas lapisan viseralis dan
parietalis serta tunika dartos. Secara histopatologis, testis terdiri atas 250 lobuli dan
tiap lobulus terdiri atas tubuli seminiferi. Testis mendapatkan darah dari beberapa
cabang arteri, yaitu (1) arteri spermatika interna yang merupakan cabang dari aorta,
(2) arteri deferensialis cabang dari arteri vesikalis inferior, dan (3) arteri kremastika
yang merupakan arteri epigastrika.

EPIDIDIMIS
Epididimis adalah organ yang berbentuk seperti sosis terdiri atas kaput, korpus
dan kauda epididimis. Kauda epididimis terhubung dengan testis melalui duktus
eferentes. Vaskularisasi epididimis berasal dari arteri testikularis dan arteri
deferensialis. Di sebelah kaudal, epididimis berhubungan dengan vasa deferens.

VAS DEFERENS
Vas deferens adalah organ berbentuk tabung kecil dan panjangnya 30-35 cm,
bermula dari kauda epididimis dan berakhir pada duktus ejakulatorius di uretra
posterior. Dalam perjalanannya menuju duktus ejakulatorius, duktus deferens dibagi
menjadi beberapa bagian, yaitu (1) pars tunika vaginalis, (2) pars skrotalis, (3) pars
inguinalis, (4) pars pelvikum dan (5) pars ampularis. Duktus ini terdiri atas otot polos
yang mendapatkan persarafan dari sistem simpatik sehingga dapat berkontraksi untuk
menyalurkan sperma dari epididimis ke uretra posterior.

VESIKULA SEMINALIS
Vesikula seminalis terletak di dasar buli buli dan disebelah kranial dari
kelenjar. Panjangnya kurang lebih 6 cm berbentuk sakula-sakula. Vesikula smeinlais
menghasilkan cairan yang merupakan bagian dari semen.


Agung Hartanto/07120100084 | 9

PENIS
Penis terdiri atas 3 buah korpora berbentuk silindris, yaitu 2 buah korpora
kavernosa yang saling berpasangan dan sebuah korpus spongiosum yang berada di
sebelah ventralnya. Korpus spongiosum membungkus uretra mulai dari
diafragma urogenitalis dan dis sebelah distal dilapisi oleh otot bulbo-kavernosis.
Korpus spongiosum ini berakhir pada sebelah distal sebagai glans penis. Korpus
kavernosa dibungkus oleh jaringan fibroelastik tunika albuginea menjadi satu
kesatuan, sedangkan di sebelah proksimal terpisah menjadi duda sebagai krura penis.
Di dalam setiap korpus yang terbungkus tunika albugenia terdapat jaringan erektil
yang berupa jaringan kavernus. Jaringan ini terdiri atas sinusoid atau rongga lakuna
yang dilapisi oleh endotelium dan otot polos kavernosis, dan dapat mnampung darah
yang cukup banyak sehingga terjadi ketegangan batang penis. Ketiga korpora itu
dibungkus oleh fasia Buck dan lebih superfisial lagi oleh fasia Colles atau fasia
Dartos.




















Agung Hartanto/07120100084 | 10


II. ANAMNESIS DAN RIWAYAT PENYAKIT

Anamnesis yang sistematik mencakup (1) keluhan utama pasien, (2) riwayat
penyakit lain yang pernah dideritanya maupun pernah diderita keluarganya, dan (3)
riwayat penyakit yang diderita saat ini. Pasien datang ke dokter mungkin dengan
keluhan (1) sistemik yang merupakan penyulit dari kelainan urologi, seperti malaise,
pucat, uremia yang merupakan gejala gagal ginjal, atau demam akibat infeksi, dan (2)
lokal, seperti nyeri, keluhan miksi, disfungsi seksual, atau infertilitas.


Nyeri
Nyeri yang disebabkan oleh kelainan yang terdapat pada organ urogenitalia
dirasakan sebagai nyeri lokal (nyeri yang dirasakan di sekitar organ tersebut) atau
berupa referred pain (nyeri yang dirasakan jauh dari tempat organ yang sakit).
Inflamasi akut pada organ padat traktus urogenitalia seringkali dirasakan sangat nyeri,
hal ini disebabkan karena regangan kapsul yang melingkupi organ tersebut. Maka dari
itu, pielonefritis, prostatitis, maupun epididimitis akut dirasakan sangat nyeri, berbeda
dengan organ berongga sperti buli-buli atau uretra, dirasakan sebagai kurang
nyaman/discomfort.

Nyeri Ginjal
Nyeri ginjal terjadi akibat regangan kapsul ginjal. Regangan kapsul ini dapat
terjadi pada pielonefritis akut yang menimbulkan edema, pada obstruksi saluran
kemih yang menjadi penyebab hidronefritis, atau pada tumor ginjal.
Nyeri ginjal yang tipikal dirasakan tumpul dan nyeri konstan di costovertebra
angle. Biasanya nyeri ini menyebar ke area subcosta menuju ke umbilikus atau
kuadran abdomen bawah. Penyebab biasanya akut pyelonefritis dan akut obstruksi
ureter. Perlu ditekankan bahwa kebanyakan penyakit ginjal biasanya tidak nyeri
karena progresinya sangat lambat sehingga distensi kapsul yang mendadak tidak
terjadi.



Agung Hartanto/07120100084 | 11



























Nyeri Ureter
Nyeri kolik terjadi pada spasmus otot polos ureter karena gerakan
peristaltik yang terhambat oleh batu, bekuan darah atau corpus alienum lain. Nyeri
ini sangat sakit, namun hilang timbul bergantung dari gerakan perilstaltik ureter.
Nyeri tersebut dapat dirasakan pertama-tama di daerah sudut kosto-vertebra,
kemudian menjalar ke dinding depan abdomen, ke regio inguinal hingga ke daerah
kemaluan. Sering nyeri ini diikuti keluhan pada sistem pencernaan, seperti mual dan
Agung Hartanto/07120100084 | 12

muntah. Berat nyeri disebabkan oleh hiperperistaltis dan spasm otot polos dalam
upaya untuk menyingkirkan benda asing atau mengatasi obstruksi.
Nyeri ureter biasanya karena stimulasi oleh obstruksi yang akut. Ada nyeri
punggung dari distensi kapsul renal dikombinasikan dengan nyeri kolik berat (karena
pelvis renal dan oto ureter spasme) yang menjalar dari CVA turun menuju kuadran
bawah abdomen. Pada pria bisa dirasakan di kandung kemih, skrotum atau testis.
Pada wanita bisa referred pain ke vulva.
Posisi dari batu ureter bisa dinilai dari riwayat sakit dan lokasi referred pain.
Jika terletak di bagian atas ureter maka nyeri akan menjalar ke testis karena inervasi
dari organ ini sama dengan ginjal dan ureter bagian atas (T11-T12). Jika pada bagian
tengah ureter kanan referred pain ke titik mcburney, jika ureter tengah kiri bisa
menyerupai divertikulitis atau penyakit dari kolon decenden atau sigmoid (T12-L1).
Bagian bawah ureter ketika batu mendekati kandung kemih inflamsi dan edema dari
orifisium ureter terjadi dan gejala seperti iritabilitas vesika urinaria positif (frekuensi
dan urgensi)


Nyeri Vesika
Nyeri vesika dirasakan pada daerah suprasimfisis. Nyeri terjadi akibat
overdistensi vesika urinaria yang mengalami retensi urin atau terdapatnya inflamasi
pada buli buli. Nyeri muncul apabila buli-buli terisi penuh dan nyeri akan berkurang
pada saat selesai miksi. Stranguria adalah keadaan dimana pasien merasakan nyeri
sangat hebat seperti ditusuk-tusuk pada akhir miksi dan kadang disertai hematuria.
Penyebab tersering nyeri pada vesika adalah infeksi. Nyeri biasanya tidak
dirasakan diatas vesika dan referred pain ke distal uretra

Nyeri Prostat
Nyeri prostat disebabkan karena inflamasi yang mengakibatkan edema
kelenjar postat dan distensi kapsul prostat. Lokasi nyeri sulit ditentukan, namun
umunya diaraskan pada abdomen bawah, inguinal, perineal atau rektum (S2-S4), atau
lumbosakral. Nyeri prostat ini sering diikuti keluhan miksi seperti frekuensi, disuria
dan bahkan retensi urine.

Nyeri testis/epididimis
Agung Hartanto/07120100084 | 13

Nyeri dirasakan pada kantong skrotum dapat berupa nyeri primer (yakni
berasal dari kelainan organ di kantong skrotum) atau referred pain (berasal dari organ
di luar skrotum) seperti hernia inguinalis dan batu ureter bagian atas. Nyeri akut
primer dapat disebabkan oleh infeksi, trauma, toriso testis atau torsio apendiks testis,
epididimitis/orkitis akut, atau trauma pada testis. Inflamasi akut pada testis atau
epididimis menyebabkan pergangan pada kapsulnya dan sangat nyeri. Nyeri testis
sering dirasakan pada daerah abdomen, sehingga sering dianggap disebabkan kelainan
organ abdominal. Blunt pain disekitar testis dapat disebabkan varikokel, hidrokel,
maupun tumor testis.
Infeksi akut epididimis adalah satu-satunya penyakit yang nyeri pada organ
ini. Nyeri mulai di skrotum dan bisa melibatkan testis sebelahnya karena adanya
reaksi inflamasi.

Nyeri penis
Nyeri yang dirasakan pada penis yang sedang flaccid (tidak ereksi) biasanya
merupakan refered pain dari inflamasi pada mukosa buli buli atau ueretra, terutama
pada meatus uretra eksternum. Nyeri pada ujung penis dapat disebabkan parafimosis
atau keradangan pada prepusium atau glans penis. Sedangkan nyeri yang terasa pada
saat ereksi mungkin disebabkan oleh penyakit Peyronie atau priapismus (ereksi terus
menerus tanpa diikuti ereksi glans).

Keluhan miksi
Keluhan yang dirasakan oleh pasien pada saat miksi meliputi keluhan iritasi,
obstruksi, inkontinensia dan enuresis. Keluhan iritasi meliputi urgensi, poakisuria atau
drekuensi, nokturia dan disuria; sedangkan keluhan obstruksi meluiputi hesitansi,
harus mengejan saat miksi, pancaran urine melemah, intermitensi dan menentes serta
masih terasa ada sisa urine sehabis miksi. Keluhan iritasi dan obstruksi dikenal
sebagai lower urinary tract syndrome.

Gejala iritasi
Urgensi adalah rasa sangat ingin kencing hingga terasa sakit, merupakan
akibat hiperiritabilitas dan hiperaktivitas buli-buli sehingga inflamasi, terdapat benda
asing di dalam buli-buli, adanya obstruksi intravesika atau karena kelainan buli-buli
nerogenik.
Agung Hartanto/07120100084 | 14

Frekuensi, atau polaksuria, adalah frekuensi berkemih yang lebih dari normal
(keluhan ini paling sering ditemukan pada pasien urologi). Hal ini dapat disebabkan
karena produksi urine yang berlebihan atau karena kapasitas buli buli yang menurun
karena lapisan mukosa, submukas dan muskularisnya inflamasi, penyebabnya karena
pertama nyeri akibat mal-stretching dari blader dan kedua kehilangan compliancee
karena hasil dari edema.
Nokturia adalah polakisuria yang terjadi pada malam hari. Nokturia mungkin
menjadi gejala penyakit renal karena terkait dengan penurunan fungsi parenkim ginjal
dengan hilangnya kekuatan untuk mengkonsentrasikan urine. Pada malam hari,
produksi urin meningkat pada pasien-pasien gagal jantung kongestif dan odem perifer
karena berada pada posisi supinasi. Pada pasien usia tua juga dapat ditemukan
produksi urine pada malam hari meningkat karena kegagalan ginjal melakukan
konsenstrasi urine.
Disuria adalah nyeri urinasi terkait dengan inflamsi akut dari blader, uretra
atau prostat. Nyeri dideskripsikan sebagai rasa panas saat berkemih dan bisanya
berlokasi di distal uretra. Nyeri ada saat berkemih dan hilang saat berkemih selesi.

Gejala Obstruksi
Normalnya, relaksasi sfingter uretra eksternum akan diikuti pengeluaran urin.
Apabila terdapat obstruksi infravesika, awal keluarnya urine menjadi lebih lama dan
sering pasien harus mengejan untuk memulai miksi. Setelah urine keluar, seringkali
pancarannya lemah dan tidak jauh, bahkan urine jatuh dekat kaki pasien. Di
pertengahan miksi seringkali miksi berhenti dan kemudian memancar lagi (disebut
dengan intermiten), dan miksi diakhiri dengan perasaan masih terasa ada sisa urine di
dalam buli buli dengan masih keluar tetesan urine (terminal dribbling). Apabila buli-
buli tidak mampu lagi mengosongkan isinya, akan terasa nyeri pada daerah
suprapubik dan diikuti dengan keinginan miksi yang sakit (urgensi). Lama kelamaan,
buli-buli isinya makin penuh hingga keluar urin yang menetes tanpa disadari yang
dikenal sebagai inkontinensia paradoksa. Obstruksi uretra karena striktura uretra
anterior biasanya ditandai dengan pancaran kecil, deras, bercabang dan kadang
berputar putar.

Inkontinensia urine
Agung Hartanto/07120100084 | 15

Inkontinensia urine adalah ketidak mampuan seseorang untuk menahan urine
yang keluar dari buli buli, baik disadari ataupun tidak disadari. Terdapat beberapa
macam inkontinensia urine, yaitu inkontinensia true atau continuous (urine selalu
keluar), inkontinensia stress (Tekanan abdomen meningkat), inkontinensia urge (ada
keinginan untuk kencing) dan inkontinensia paradoksa (Buli-buli penuh).

Hematuria
Hematuria adalah didapatkannya darah atau sel darah merah di dalam urine.
Hal ini perlu dibedakan dengan bloody urethral discharge, yaitu adanya perdarahan
per uretram yang keluar tanpa proses miksi. Porsi hematuria perlu diperhatikan
apakah terjadi pada awal miksi (hematuria inisial), seluruh proses miksi (hematuria
total) atau akhir miksi (hematuria terminal). Hematuria dapat disebabkan oleh
berbagai kelainan pada saluran kemih, mulai dari infeksi hingga keganasan.
Inisial hematuria menandakan adanya lesi uretra anterior (uretritis, striktur).
Terminal hematuria biasanya muncul dari uretra posterior, leher vesika atau trigone.
Total hematuria sumbernya di atau atas level dari blader.

Pneumaturia
Pneumaturia adalah berkemih yang tercampur dengan udara, dapat terjadi
karena adanya fistula antara buli-buli dengan usus, atau terdapat proses fermentasi
glukosa menjadi gas karbondioksida di dalam urine, seperti pada pasien diabetes
mellitus.

Hematospermia
Hematospermia atau hemospermia adlah adanya darah di dalam ejakulat, biasa
ditemukan pada pasien usia ubertas dan paling banyak pada usia 30-40 tahun. Kurang
lebih 85-90% mengeluhkan hematospermia berulang. Hematospermia paling sering
disebabkan oleh kelainan pada prostat dan vesikula seminalis. Paling banyak
hematospermia tidak diketahui penyebabnya dan dapat sembuh sendiri.
Hematospermia sekunder dapat disebabkan oleh paska biopsi prostat, adanya ingeksi
vesikula seminalis atau prostat, atau oleh karsinoma prostat.

Cloudy urine
Agung Hartanto/07120100084 | 16

Cloudy urine adalah urine bewarna keruh dan berbau busuk akibat adanya
infeksi saluran kemih.




Keluhan pada skrotum dan isinya
Keluhan pada daerah ini yang menyebabkan pasien datang berobat ke dokter
adalah, pembesaran buah akar, varikokel, atau kriptorkismus. Pembesaran skrotum
dapat disebabkan tumor testis, hidrokel, spermatokel, hematokel atau hernia skrotalis.

Keluhan disfungsi seksual
Termasuk disfungsi seksual adalah penurunan libido, kekuatan ereksi
menurun, disfungsi ereksi, ejakulasi retrograd (air mani tidak keluar pada saat
ejakulasi ), tidak pernah merasakan orgasmus atau ejakulasi dini.



















Agung Hartanto/07120100084 | 17






III. PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik pasien meliputi pemeriksaan: keadaan umum dan
pemeriksaan urologi.
Seringkali kelainan kelainan di bidang urologi memberikan manifestasi
penyakit umum (sistemik), atau tidak jarang pasien urologi kebetulan menderita
penyakit lain. Adanya hipertensi mungkin merupakan tanda dari kelainan ginjal,
edema tungkai satu sisi mungkin akibat obstruksi pembuluh vena tungkai karena
penekanan tumor buli buli, dan ginekomastia mungkin ada hubungan dengan
karsinoma testis. Hal itu diatas mengharuskan untuk memeriksa keadaan umu pasien
secara menyeluruh.
Sedang pada pemeriksaan urologi perlu diperhatikan setiap organ mulai dari
pemeriksaan ginjal, buli buli, genitalia eksterna, dan pemeriksaan neurologi.

Pemeriksaan ginjal
Adanya pembesaran pada daerah pinggang atau abdomen sebelah atas harus
diperhatikan pada saat melakukan inspeksi di daerah ini. Pembesaran itu mungkin
disebabkan oleh karena hidronefrosis atau tumor di daerah retroperitoneum.
Palpasi ginjal dilakukan secara bimanual yaitu dengan memakai dua tangan.
Tangan kiri diletakkan di sudut kosto vertebra untuk mengangkat ginjal keatas
sedangkan tangan kanan meraba ginjal dari depan.
Agung Hartanto/07120100084 | 18

Perkusi atau pemeriksaan ketok ginjal dilakukan dengan memberikan ketokan
pada sudut kostoverterbra (yaitu sudut yang dibentuk oleh kostae terakhir dengan
tulang verterbrae). Adanya pembesaran ginjal karena hidronefrosis atau tumor ginjal
akan teraba pada palpasidan terasa nyeri pada perkusi.
Transiluminasi dapat memberikan pembuktian secara cepat pada anak anak
dibawah satu tahun, yang dilakukan pada supra pubik atau masa dipanggul. Cahaya
dapat digunakan pada sudut abdomen. Cahaya yang paling baik dilakukan adalah
sumber cahaya yang redup. Dibutuhkan ruang yang gelap. Pada kandung kemih yang
menggembung atau masa yang kistik dapat ditransiluminasi dan tetapi masa yang
pada tidak, masa dipanggul boleh di coba dengan menggunakan cahaya dari posterior
( belakang, panggul ).
Auskultasi pada daerah costovertebra dan kuadran atas abdomen dapat
menimbulkan bunyi bruit sistolik, dimana hal ini dihubungkan dengan adanya
stenosis ( penyempitan ) atau aneurisma ( Pelebaran ) dari arteri renal. Bruit di atas
arteri femoralis dapat menemukan adanya hubungan dengan syndrom Leriche yang
dapat disebabkan oleh impoten.









Agung Hartanto/07120100084 | 19



Pemeriksaan buli buli
Pada pemeriksaan buli buli diperhatikan adanya benjolan/massa atau
jaringan parut bekas irisan/operasi di suprasimpisis. Massa di daerah suprasimpisis
mungkin merupakan tumor ganas buli buli atau karena buli buli yang terisi penuh
dari suatu retensi urine. Dengan perkusi dapat ditentukan batas atas buli buli.
Palpasi dengan menggunakan dua tangan ( abdominarektal atau abdominal
vagina ) dapat membuktikan luas dari tumor vesika. Kesuksesan dalam penangananya
seharusnya dikerjakan dibawah pengaruh anestesia.

Pemeriksaan genitalia eksterna
Inspeksi pada genitalia eksterna diperhatikan kemungkinan adanya kelainan
pada penis/uretra antara lain: mikropenis, makropenis, hipospadia, kordae, epispadia,
stenosis pada meatus uretra eksterna, fimosis/parafimosis, fistel uretro kutan, dan
ulkus/tumor penis. Striktura uretra anterior yang berat menyebabkan fibrosis korpus
spongiosum yang teraba pada palpasi di sebelah ventral penis berupa jaringan keras
yang dikenal dengan spongiofibosis. Selain itu pada penyakit Peyrone terba jaringan
keras pada korpus kavernosum penis.

Pemeriksaan skrotum dan isinya
Perhatikan apakah ada pembesaran pada skrotum, perasaan nyeri pada saat
diraba, atau ada hipoplasia kulit skrotum yang sering dijumpai pada kriptokismus.
Untuk membedakan antara masa padat dan masa kistus yang terdapat pada isi
skrotum, dilakukan pemeriksaan transuliminasi pada isi skrotum. Pemeriksaan
Agung Hartanto/07120100084 | 20

transiluminasi dilakukan pada tempat yang gelap dan menyinari skrotum dengan
cahaya terang. Jika isi skrotum tampak menerawang berarti berisi cairan kistus dan
dikatakan sebagai transuliminasi positif atau diafanoskopi positif.


Pemeriksaan testis
Pemeriksaan testis adalah dengan melakukan palpasi dengan jari dari kedua
tangan. Area yang keras di testis harus dianggap sebagai tumor maligna sampai
terbukti bukan. Pemeriksaan transiluminasi dari masa skrotum harus dilakukan secara
rutin. Tumor biasanya mempunyai sensasi licin tapi bisa juga nodular dan testis
terlihat seperti berat abnormal. Testis yang digantikan oleh tumor atau gumma yang
rusak tidak sensitif terhadap tekanan dan sensasi sakit tidak ada.
Testis juga bisa absen dari skrotum dan kelainan ini mungkin transien (retraksi
testis secara fisiologik) atau cryptorchidism. Palpasi di daerah inguinal bisa
mengungkap adanya testis.

Pemeriksaan Vagina
Inspeksi dilihat vestibula dari vagina dan klitoris serta labia mayora. Pada
inspeksi meatus urinaria dilihat apakah adanya kemerahan dan nyeri. Lalu
pemeriksaan dilanjutkan dengan palpasi. Palpasi pada uretra, dasar dari blader dan
bagian bawah uretra apakah ada nyeri. Indurasi dari uretra atau area trigonal atau
ditemukan adanya masa mungkin jadi penunjuk adanya tumor.

Colok dubur (rectal Toucher)
Agung Hartanto/07120100084 | 21

Pemeriksaan colok dubur adalah memasukkan jari telunjuk yang sudah diberi
pelicin ke dalam lubang dubur. Pemeriksaan ini menimbulkan rasa sakit dan
menyebabkan kontraksi sfingter ani sehingga dapat menyulitkan pemeriksaan. Karena
itu perlu dijelaskan kepada pasien tentang pemeriksaan yang akan dilakukan supaya
pasien dapat bekerja sama.














Pada pemeriksaan colok dubur dinilai :
1. Tonus spingter ani
Kelemahan dari tonus spingter ani menandakan perubahan yang sama di
spingter urin dan detrusor dan kemungkinan penyakit neurogenik.
2. Mukosa rektum
Agung Hartanto/07120100084 | 22

Palpasi seluruh rektum. Kelainan yang bisa ditemukan adalah stenosis,
hemoroid interna, fistula rektal, polip dan ca rekti
3. Menilai keadaan prostat
-. Ukuran rata-rata prostat adalah 4 cm, adanya pembesaran kelenjar
menyebabkan sulkus lateralis menjadi lebih dalam median furro hilang.
Prostat bisa dalam ukuran normal dan konsistensi yang normal pada pasien
dengan retensi urin akut atau keluhan berkemih obstruktif yang berat. Pada
hiperplasia prostat beratnya gejala dan sisa dari residu urin lebih signifikan
dibanding ukuran kelenjar di palpasi.
-. Konsistensi, nomalnya konsistensi dari kelenjar mirip dengan otot tenar
yang berkontraksi dan agak kenyal. Konsistensi bisa menjadi lembek (karena
kurangnya hubungan intercourse atau infeksi kronik dengan terganggunya
aliran), indurasi (karena infeksi kronik dengan atau tanpa kalkulus), atau keras
seperti batu (karena karsinoma lanjut). Biasanya nodul yang disebabkan oleh
infeksi lebih meninggi dari permukaan kelenjar. Ditepinya indurasi biasanya
menghilang menjadi konsistensi normal dari jaringan sekitar. Sedangkan
nodul karena kanker prostat biasnya tidak meninggi dari permukaan tapi
konsistensinya keras dan mempunyai tepi yang tajam.
-. Mobilitas, pada karsinoma lanjut tidak ada mobilitas karena adanya ekstensi
lokal melalui kapsul.
4. Vesikula seminalis
Vesikula seminalis berlokasi dibawah dasar dari blader dan menyatu dari
bawah keatas. Normalnya vesikula seminalis tidak teraba, jika teraba indurasi
kemungkinan adanya infeksi kronis (TB atau sistomiasis) atau terkait dengan
Agung Hartanto/07120100084 | 23

karsinoma lanjut dari prostat. Masa kistik sangat jarang teraba tapi bisa
mempersentasikan kista dari duktus mullerian atau utrikula.
5. Penilaian reflek bulbokavernosus dilakukan dengan cara merasakan adanya
refleks jepitan pada spingter ani pada jari akibat rangsangan sakit yang kita
berikan pada glans penis atau klitoris.
Pada wanita yang sudah berkeluarga selain pemeriksaan colok dubur, perlu
juga dilakukan colok vagina guna melihat kemungkinan adanya kelainan di
dalam alat kelamin wanita, antara lain: masa di serviks, darah di vagina atau
masa di buli buli.

Lymph node
Inguinal dan sub inguinal lymph node. Padahal lesi inflamasi di kulit dari
penis dari skrotum atau vulva KGB inguinal dan sub inguinal terlibat. Tumor maligna
(skuamosa karsinoma) yang melibatkan penis, gland penis, kulit skrotum atau uretra
distal juga metastasis ke KGB inguinal dan sub inguinal.
Lymph node lainnya. Tumor blader dan prostat biasanya bermetastasis ke
KGB illiaca interna, illiaca eksterna dan pre aortic. Masa pada abdomen atas dekat
dengan garis tengah pada laki-laki muda bisa dipikirkan metastasis kanker testis.
Agung Hartanto/07120100084 | 24

IV. DAFTAR PUSTAKA

1. Smiths General Urology, 17th Ed., Tanagho EA, McAninch JW (eds.), Lange
Medical Books / McGraw-Hill, 2008.

2. (Campbells Urology, 10th Ed., Walsh PC, Retik AB, Vaughan ED, Wein AJ I (eds.),
WB Saunders Co., 2011.)